Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Prahara dan Dilema


__ADS_3

Aku baru saja melaksanakan shalat Isya berjamaah di masjid yang berada di kawasan pesantren manhaj salaf bersama bapak dan mang Hendra. Setelah shalat usai, aku mengikuti kajian bersama para santri dan jamaah.


"Istirahat saja, Mas. Soalnya acara kajian ini sampai malam, biasanya sampai jam dua belasan," bisik Mang Hendra.


"Tapi, Mang. Aku gak enak sama bapak mertua. Bapak juga kan masih di sini."


"Mas, justru saya disuruh abah supaya Mas Zul cepat pulang. Kata abah, Mas Zul besok mau ke proyek, kan?"


"Emm, i-iya sih. Tadi aku sempat ngobrolin proyek sama bapak." Akupun beranjak, lalu membungkuk mengikuti apa yang dilakukan para santri saat berdiri dan melewati jamaah.


"Emang gak penasaran gitu Mas Zul sama neng Daini?" bisik Mang Hendra. Ia juga ikut berdiri.


"Ssst, Mang. Jangan keras-keras. Mang Hendra tahu 'kan pernikahanku seperti apa? Aku gak kepikiran ke arah sana Mang," kilahku sambil menepuk bahu Mang Hendra dan meninggalkannya.


Sepanjang perjalanan meninggalkan area pondok, hatiku tak henti berdesir, suasana disini begitu damai. Lantunan dan gumaman ayat suci terdengar di beberapa sudut. Ada juga kerumunan santri yang entah sedang mengobrol atau sedang mengkaji apa, aku tidak faham yang mereka katakan. Yang jelas, mereka berbicara menggunakan bahasa Arab.


.


Setibanya di rumah bapak. Aku merenung di depan pintu. Melihat kucing melintas, aku jadi teringat pada Kebby, kucing anggora milik Dewi.


Dewi ....


Aku menyebut namanya sambil mendudukkan diri di kursi taman. Lalu kutatap langit yang malam ini seolah tak berbintang. Angin malam berhembus mendinginkan hatiku yang sepi. Hari ini aku mematikan ponselku untuk yang pertama kalinya. Dewi pasti panik dan khawatir. Aku juga tidak memberi kabar apapun kepadanya.


Aku tahu ini akan menyakitinya, tapi aku tidak memiliki pilihan lain kecuali melakukan hal ini. Aku tidak sanggup membohonginya jika ponselku aktif dan dia bertanya padaku. Betapa pecundangnya diri ini.


"Maafkan Mas, ya Wi," gumamku.


Jujur, aku menikahi Dewi karena dijodohkan. Papa dan mamaku terlanjur kecewa pada wanita pilihanku setelah dia terbukti menipuku. Mama dan papa sebenarnya tidak mempermasalahkan dengan siapa aku pacaran. Namun setelah aku tertipu, mereka mengekang dan melarangku untuk dekat wanita manapun kecuali wanita pilihan mama atau papa.


Aku menatap kelamnya malam dengan mata berkaca-kaca.


Maafkan aku ya Allah, sebenarnya ... hingga detik ini, aku belum merasakan debaran apapun saat aku bersama dengan Dewi.


Tapi ... aku menyayanginya. Aku menyayangi Dewi karena dia adalah wanita pilihan mama dan papaku. Karena tidak ingin mengecewakan mama papa untuk yang kedua kalinya, akupun menyetujui perjodohan itu dan bersedia menikahi Dewi.


Di balik perjodohan ini, sebenarnya banyak agenda yang tersirat. Papaku dan papanya Dewi adalah kolega bisnis. Jelas sekali jika pernikahanku dan Dewi akan berdampak positif untuk kemajuan perusahaan bagi kedua belah pihak.


Dari awal pertemuan kami, aku yakin Dewi telah mencintaiku. Kupikir seiring berjalannya waktu dan dengan menikahinya, benih-benih cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Tapi ternyata, mungkin butuh waktu lebih lama lagi agar perasaan itu bisa tumbuh dan berkembang.


Dewi, kamu sedang apa? Maafkan Mas ya, Wi. Mas di sini demi mempertanggungjawabkan sebuah kesalahan dan ketidaksengajaan. Setelah Mas siap dengan risikonya, Mas akan jujur ke kamu kalau Mas telah memiliki wanita lain.


"Pak, ini tehnya."


Suara itu membuyarkan lamunanku. Seorang wanita cantik dengan jilbab merahnya menghidangkan secangkir teh padaku seraya menunduk.


"Ha-Hanin? K-kamu belum tidur?"


Aku menatapnya lekat-lekat. Serasa laksana mimpi jika wanita yang sekilas sulit diraih ini telah menjadi istriku.


"Aku menunggu Anda," katanya.


"Kenapa harus menungguku?"


"Bapak tenang saja, aku tidak akan melakukan ini selamanya. Aku seperti ini karena kita berada di rumah abah dan ummi. Setelah pulang dari sini, kita kembali ke posisi semula. Hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan," tegasnya.


"Baiklah," aku lantas menyeruput tehnya. Rasanya nikmat sekali, manisnya pas. Ada aroma madunya.


"Nuhun (terima kasih), raos pisan (enak banget)," ucapku. Sengaja menggunakan bahasa Sunda, penasaran saja dengan responnya. Eh, dia tersenyum. MasyaaAllah, senyumnya itu indah sekali.


"Bisa bahasa Sunda?" tanyanya sambil duduk di kursi yang lain. Letak kami berjauhan.


"Emm, litle-litle i can," candaku. Asyik, dia tersenyum lagi. Kali ini sambil memainkan ujung jilbabnya.


"Tehnya ada aroma madunya," tambahku.


"Memang itu teh hijau sari madu. Oiya, Pak Zulfikar orang Jawa asli?" tanyanya. Tapi yang dia tatap cangkir, bukan aku.


"Aku campuran, papa Jawa, mama Chinese."


"Oh," dia hanya mengatakan 'oh.' Kukira akan mengatakan hal yang lain.


"Kalau kamu?" tanyaku.


"Abah Sunda, ummi Sunda, tapi kakekku keturunan Arab."


"Oh," pantas saja kamu cantik. Di hadapannya, aku juga hanya mengatakan 'oh.'

__ADS_1


"Kalian di sini?" Tiba-tiba Ummi datang.


"Ya, Ummi."


Hanin berdiri dan memeluk umminya. Aku juga berdiri tapi menunduk, hubunganku dan Ummi tidak sebaik dengan abah. Ummi lebih banyak diam dan jarang menyapaku.


"Cepat istirahat, takut ada tetangga yang melihat kalian berdua-duaan. Jangan mengobrol di sini. Ya, kalian memang sudah menikah, tapi 'kan para tetangga tidak tahu," kata Ummi.


Lalu pergi lagi dan tak melirik ke arahku sedikitpun. Tapi biarlah Ummi seperti itu. Aku faham perasaan Ummi. Haninpun beranjak, aku menyusulnya.


"Hanin, a-aku akan tidur di kamar tamu, aku mau mengambil tasku."


"Ya, itu lebih baik," jawab Hanin. Aku buru-buru mengambil tas. Tapi langsung kembali lagi ke kamar Hanin.


"Hanin, pintu kamar tamunya dikunci," keluhku.


"Apa?!" Dia yang hendak membuka jilbabnya terlihat kaget.


"Aku serius. Emm, begini saja, aku tidur di ruang tamu, tapi minta bantal ya, boleh?" tanyaku sambil meletakkan kembali tasku.


"Kalau di ruang tamu nanti ketahuan abah. Ya sudah, tidur di sini saja."


"Di sini?"


"Ya, Pak. Nanti aku yang di sofa, Bapak yang di atas." Setelah mengatakan itu, Hanin ke kamar mandi. Ia membawa pakaian tidurnya.


Aku mengangguk, duduk di sofa dan menunggunya. Lalu Hanin keluar dalam keadaan sudah memakai piyama tidur. Memakai jilbab juga. Tapi jilbabnya simpel. Tidak sebesar dan sepanjang biasanya.


"Bapak naik ke ke sana, aku yang di sofa," titahnya.


"Tidak, aku saja yang di sofa. Kamu yang di atas," tolakku.


"Pak, cepat," desaknya.


"Hanin, ini kamarmu. Kamu yang lebih berhak atas kamarmu," tegasku.


"Pak Zulfikar," dia bersikukuh.


"Baiklah," aku mengalah.


"Baik, terima kasih."


Aku mengambilnya, tapi hanya boxernya saja yang kuambil. Aku harus menghargai inisiatifnya menyiapkan pakaian. Jadi, walaupun aku membawa baju ganti, aku tetap akan memakai baju milik Putra.


"Bajunya?" tanya Hanin.


"Aku jarang tidur memakai baju," jelasku.


"Apa?! Pa-pakai saja, Pak. Di sini banyak nyamuk."


"Nanti saja aku pakainya kalau nyamuknya banyak," Aku segera membuka bajuku. Dia memalingkan wajah, lalu naik ke sofa dan memunggungiku.


Aku merebahkan diri, menatap punggung Hanin dengan perasaan yang sulit kumengerti.


"Maaf, di sini gak ada AC, Pak," katanya.


"Kipas angin juga cukup, kok. Oiya Hanin, aku mau menelepon Dewi, bolehkah?"


"Tidak perlu izin padaku, Pak. Silahkan," katanya.


Aku menyalakan ponsel. Hatiku berdebar. Saat hendak aku hubungi, ponsel Dewi tidak aktif.


Kenapa ya?


Hatiku bertanya, namun aku langsung tahu jawabannya pasti gara-gara aku. Ada empat panggilan tak terjawab, aku lantas membaca pesannya.


"Mas, kenapa HP-nya dimatiin?"


"Mas, aku khawatir kamu kenapa-napa, tolong jangan membuatku tidak tenang, Mas."


"Mas, maaf ya. Bukannya aku berperasangka buruk, tapi ada sahabatku yang tak sengaja melihat Mas menarik tangan seorang wanita berpakaian akhwat ke dalam mobilnya Mas Zul."


"Temanku namanya Reni, rumahnya satu komplek dengan komplek perumahan mama-papa Mas Zul."


"Nanti tolong klarifikasi ya, Mas. Akusih berharap kalau Reni salah lihat."


"Oiya, Mas. Aku sengaja matiin HP supaya kamu tenang. Kalau Mas saja bisa matiin HP tanpa mengabari, kurasa aku juga harus belajar dari Mas cara melakukannya."

__ADS_1


"Mas, aku tidak akan pernah menanyakan apakah Mas sudah mencintaiku atau belum, karena bagiku Mas adalah milikku. Tak peduli bagaimana perasaanmu, aku akan tetap mencintai kamu, Mas."


"Hati-hati nyetirnya ya, Masku. Kalau ngantuk lebih baik istirahat dulu."


Pesan dari Dewi tentang menarik tangan seorang wanita berpakaian akhwat ke dalam mobil membuat jantungku dag dig dug. Wajar jika Reni melihatnya kalau rumah dia satu komplek dengan rumah orang tuaku.


Sepertinya prahara itu akan segera dimulai. Belum juga aku siap untuk jujur pada Dewi, faktanya Dewi telah memergokiku melalui pelantara temannnya. Aku menghela napas, lalu kulirik Hanin yang sepertinya sudah tidur. Posisinya masih memunggungiku.


Aku bangun, rasanya tak tega melihat dia tidur di sofa. Aku mendekat, dan tanpa permisi segera memindahkannya ke tempat tidur. Jilbabnya berantakan, kupikir tidak memakai jilbabpun tak masalah. Toh, dia sudah menjadi istriku.


Kubuka perlahan jilbabnya, dadaku panas. Aku menelan saliva berulang kali. Selain cantik, dia juga seksi. Aku tiba-tiba merasa beruntung karena bisa melihat keindahan ini di saat orang lain tidak bisa melihatnya.


Tak sadar tangan ini menelusuri garis wajah dan bibirnya.


Kenapa kita harus dipertemukan dengan cara seperti ini? Kenapa hatiku selalu berdebar saat melihat wajah kamu?


Hanin ....


Alih-alih berpindah ke sofa, aku malah membaringkan diri di sampingnya. Dia tidur miring ke kanan, tangannya diselipkan di antara bantal dan pipinya. Posisi tidurnya ala sunah Nabi.


Aku menghadap ke arah Hanin, aku menikmati keelokan wajahnya. Keindahan ini sebenarnya bisa aku nikmati, tapi ... aku tidak bisa menyentuhnya karena merasa malu dan tak pantas. Tapi dorongan ini begitu kuat. Jujur, aku ingin kembali menikmati tubuhnya.


"Hanin," panggilku dengan suara lirih.


Dia tak menyahut, tidurnya sangat lelap. Aku mendekatkan kepalaku. Aku menghidu hembusan napasnya.


"Hanin," aku memanggilnya lagi.


Tapi dia tetap terlelap. Aku ingin mengecup kenignya. Namun saat kumendekat, mata Hanin tiba-tiba terjaga. Dia menatapku dan terkejut. Matanya membulat dan mengerjap. Aku terhenyak, segera membelakangi Hanin, memeluk guling sembari memegang dadaku yang berdebar-debar.


Kukira Hanin akan marah karena kelancanganku, tapi ternyata tidak. Dia diam saja, dia juga tidak menyuruhku tidur di sofa.


Aku mengerti pemikiran Hanin, ia yang faham agama tentu tidak akan berani mengusir suaminya sendiri dari tempat tidur. Biar bagaimanapun aku adalah suami sahnya.


Keterhenyakkanku kian menjadi saat aku merasakan jika Hanin menyelimuti tubuhku. Ingin rasanya aku membalikan badan dan memeluknya, tapi ... aku tak berani. Biar kubawa saja desiran perasaan ini ke alam mimpi.


Di saat seperti ini, aku menyadari betapa lemahnya diriku. Aku terjebak di antara dua rasa yang sulit kuuraikan. Aku menyayangi Dewi karena aku sangat mencintai keluargaku dan menghormati keluarga Dewi. Tapi ... bersama dengan Hanin, hatiku merasa hangat dan damai.


Apa aku boleh egois dan memiliki keduanya secara bersamaan?


Ya Rabbi, tolong beri jalan pada hamba-Mu yang lemah ini.


Airmataku menetes perlahan. Lalu aku mendengar isakan di balik punggungku. Ternyata Hanin juga menangis.


"Kenapa menangis?" tanyaku. Namun tetap memunggunginya.


"Pak Zulfikar, tolong lepaskan aku malam ini juga, Pak. Kalaupun pernikahan ini tidak didasari cinta, tapi ... Anda tetaplah suamiku. Itu artinya aku harus tetap berbakti pada Anda."


"Setelah kupikir-pikir, aku tidak mau berpura-pura lagi, Pak. Lebih baik menyakiti perasaan ummi dan abah saat ini juga daripada menyakitinya di masa yang akan datang."


Aku membalikan badan dan memegang bahunya.


"Hanin, aku tidak mau menceraikan kamu."


"Ke-kenapa, Pak? Bukankah kedepannya Anda juga akan menceraikanku?"


"Tidak Hanin, tidak akan!"


"Kenapa?!" desaknya.


"Karena ...." Aku tak kuasa melihat bibir tipisnya yang memerah itu. Fokusku malah ke situ. Jiwa priaku meronta.


"Kena ---." Aku mungkin sudah gila, aku benar-benar membungkam bibirnya dengan bibirku. Napasku menderu, rasa ini membuatku jadi b a j i n g a n.


"Mmm ...."


Hanin berusaha menolak, tapi ... aku tak membiarkannya berkutik. Dengan cara ini, aku berharap agar dia tak sembarangan meminta cerai dan mempermainkan ikatan suci ini. Aku juga mencekal tangannya sembari meraih yang kuinginkan sedari tadi.


Hanin meronta, tapi apa yang dia lakukan justru membuatku semakin menginginkannya.


"Hhh ... Hanin ... kamu adalah istriku, kamu faham maksudku, kan?" tegasku saat wanita cantik ini berusaha kabur dari kungkunganku.


Sambil menangis, dia mengangguk pelan, lalu menjatuhkan kembali tubuhnya ke tempat semula. Wajahnya yang memucat dan ketakutan itu menatapku dengan tatapan mengiba.


Dia sepertinya dilema. Di satu sisi, aku yakin dia tidak ingin melayaniku. Tapi di sisi lain, dia sadar jika aku adalah suaminya.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2