Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Belum Memaafkan


__ADS_3

Akhirnya, acara makan bersamapun telah berakhir tanpa kendala. Sekarang, akan tiba pada inti permasalahan. Kami telah kembali ke ruang tamu. Pak Komjen tampak serius. Pak Sabil menunduk. Bundanya memegang tangan pak Sabil. Tak mau kalah, ibukupun memegang tanganku. Syukurlah, kulihat bapak tetap tenang. Bagaimana denganku? Aku berdebar-debar.


"Sebelum Listi datang, sebenarnya, Pak Komjen sudah berbicara banyak sama Bapak dan Ibu," jelas bapak.


Itu artinya bapak dan ibu sudah tahu identitas pak Komjen. 'Kok bisa mereka tenang-tenang saja? Pasti ada yang tidak beres.


"Pak Komjen sudah menjelaskan semuanya," lanjut bapak.


Menjelaskan apa ya kira-kira? Aku masih belum bicara sepatah katapun.


"Aa, cepat bicara," tegas pak Komjen.


"Ba-baik Ayah. Be-begini Tia, aku sudah menceritakan kesalahanku pada Bapak dan Ibu. Ayah dan bundaku juga sudah tahu semuanya. Seperti yang kukatakan, kami datang ke sini untuk meminta maaf. Aku bersyukur karena Bapak dan Ibu sudah memaafkanku. Tapi, aku belum mendapatkan kata maaf itu dari kamu."


Sejenak, aku tertegun. Seperti apa pak Sabil menjelaskan kesalahannya pada ibu dan bapakku? Lalu, seperti apa dia menjelaskan kesalahannya pada ayah dan bundanya? Apa yang dia katakan? Apakah dia mengarang cerita? Melebih-lebihkan? Atau justru menyembunyikan fakta yang sebenarnya?


Rasaya, aku ingin mengkonfimasi semua itu. Tapi, mendengar penjelasan pak Sabil tentang ancaman pembunuhan itu. Aku jadi ragu. Aku juga merasa takut saat melihat wajah pak Komjen.


"Bagaimana, apa Listi mau memaafkan anak saya?" tanya pak Komjen. Aku masih terdiam.


"Terserah Listi mau memaafkan atau tidak. Tapi, saya mohon dengan sangat agar Listi mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Saya juga bersedia membayar denda sesuai dengan nilai kerugian yang dialami sama Listi," tutur pak Komjen sambil menatapku.


"Atau, kalau memang Listi mau bersikukuh melaporkan A Abil, saya juga memohon dengan sangat agar Listi mau menunda laporan itu sampai kasus viral yang saat ini sedang terjadi di tubuh Polri mereda," pungkasnya.


Wajahnya berubah sendu. Pak Sabil menunduk. Bundanya tampak memalingkan wajah dengan mata berkaca-kaca. Seperti tengah menahan tangisan. Bapak dan ibu saling menatap. Lalu, mereka menatapku. Aku merenung. Hingga saat ini masih merasa bingung dan dilema.


"Tolong jangan melaporkan A Abil. A Abil sudah cukup mendapat banyak tekanan. Bunda mohon." Secara tiba-tiba, bundanya berpindah tempat duduk dan memegang tanganku


"I-Ibu, a-aku ---."


"Saya, bundanya Abil minta maaf yang sebesar-besarnya atas nama Iptu Sabil Sabilulungan. Huuu," bundanya malah menangis dan memelukku. Aku benar-benar bingung.


"Bun, jangan begitu," kata pak Komjen.


"Bu-Bunda, Aa yang salah."


Pak Sabil menarik bahu bundanya. Bapak dan ibuku tak berkomentar. Mungkin, sedang memberikan kesempatan terhadapku untuk mengemukakan pendapat dan keputusan.


Pak Komjen kemudian menarik bundanya agar menangis di dalam dekapannya. Melihat kondisi ini, aku yakin ada hal lain yang saat ini tengah dihadapi oleh mereka. Selain ancaman pembunuhan itu, pasti ada hal lainnya. Saat kulirik, pak Sabilpun menunduk sambil memainkan ujung bajunya. Lantas, rasa iba itu muncul begitu saja. Aku tidak tega melihatnya. Apa lagi melihat tangisan seorang ibu.


"Abil adalah anak kami satu-satunya. Maafkan kami yang tidak bisa mendidik Abil dengan baik. Abil bersikap lancang seperti itu pasti karena terlalu dimanjakan," bundanya lanjut becerita.


"Aa memang keterlaluan. Ayah bingung ini disebut sebagai apa. Disebut kenakalan remaja bukan. A Abil 'kan sudah dewasa." Sambil menjewer telinga pak Sabil.


"Maaf Ayah. Aku baru kali ini melakukannya. Dan aku seperti itu karena mencintai Listi."


Apa?! Dia berani jujur. Respon ibu dan bapakpun biasa saja. Sebelumnya, pria itu pasti sudah mengatakannya pada ibu dan bapakku.


"Ba-baik. A-aku tidak akan membawa kasus ini ke jalur hukum."


"Listi yakin? Terima kasih ya." Pak Komjen langsung tersenyum sambil menghela napas lega.


"Apa itu artinya kamu sudah memaafkanku?" tanya pak Sabil.


"Belum," tegasku. Enak saja langsung dimaafkan! Aku harus meminta denda secara pribadi.


"Terima kasih banyak karena tidak melaporkan A Abil. Saya terharu. Oiya, kenapa Listi menolak A Abil? Saya sebenarnya sedih setelah tahu A Abil ditolak. Padahal, saya percaya diri dengan anak saya. Perasaanmah da A Abil teh gagah tur (dan) ganteng," puji bundanya.


"Memang ganteng 'kok, Bu. Sayang, kenapa kamu menolaknya? Ibu dan Bapak juga setuju-setuju saja 'kok kalau kamu menjalin tali kasih sama Pak Polisi. Enggak kebayang kalau Ibu punya mantu Pak Polisi. Pasti bangga. Hehehe." Ibuku malah terkekeh.


"Cinta itu tidak bisa dipaksakan Bu," tolakku.


"Ya sudah, A Abil jangan memaksakan diri. Sebenarnya, dulu juga Bunda sempat menolak Ayah. Tapi karena Ayah pantang menyerah, akhirnya berhasil juga mempersunting Bunda kamu," terang pak Komjen.


"Aa juga mau kayak Ayah. Akan berusaha supaya Tia jatuh cinta," katanya dengan percaya diri.

__ADS_1


"Bagus, begitu dong. Buat agar hanya kamu seorang yang bisa memiliki Listi," tambah pak Komjen.


"Siap, Jenderal!" sahutnya sambil melakukan gerakan hormat bendera. Aku malu sekali. Tiba-tiba jadi kikuk. Akhirnya tertunduk.


"Permisi," panggil seseorang dari luar.


"Itu ajudan saya. Mohon maaf, apa Pak Haikal mengizinkan ajudan saya masuk?"


"Silahkan Pak," jawab bapak.


"Masuk," seru pak Komjen. Lalu dua orang polisi datang. Suasana jadi tegang karena mereka tampak serius.


"Lapor Pak Komjen, ada mobil mencurigakan yang terpantau CCTV mendatangi rumah Pak Komjen beberapa kali. Saya sudah lapor sama Komandan. Kata Komandan, malam ini pak Komjen dan keluarga jangan pulang ke rumah dulu."


"Astaghfirullah. Yah, Bunda takut." Aku, ibu dan bapak hanya bisa menyimak.


"Biar Aa saja yang pulang ke rumah. Ayah dan Bunda cari hotel saja."


"Enggak bisa. Bunda tidak tenang kalau Aa sendirian. Walau ada ajudan, Bunda tetap tidak tenang."


"Ya sudah, Aa juga ikut sama Ayah dan Bunda. Sebentar lagi Maghrib. Kita harus cepat-cepat check-in." Ekspresi pak Komjen tetap tenang.


"Bagaimana kalau menginap di sini saja? Ada dua kamar tamu yang layak huni. Itu juga kalau Ibu dan Bapak berkenan." Ajakan ibuku membuatku terkejut. Bundanya pak Sabil dan pak Komjen saling menatap.


"Aa setuju. Yuk kita menginap di sini saja." Aku semakin terkejut begitu mendengar ucapan pak Sabil.


"Ayah juga setuju. Ayah rasa, di sini lebih aman daripada di hotel."


"Baik, Bunda juga setuju."


Di tampak sumringah.


"Aku keluar dulu. Mau masukin mobil ke garasi."


Suasana kekeluargaan ini membuatku kurang nyaman. Apa bapak dan ibu berbuat baik karena mereka berpangkat? Aku bergegas pergi. Dan raut wajah ini tak bisa menyembunyikan ketidaksenangan.


"Mau apa lagi?!" ketusku.


"Mau bantu kamu masukan mobil ke garasi." Sambil merebut kunci mobil dari tanganku.


"Aku bisa sendiri, Pak!"


"Ya, tapi akunya tidak bisa membiarkan kamu sendiri." Sekarang, posisi kami sudah di pekarangan.


"Issh!" Akhirnya membiarkan dia memasuki mobilku. Lalu ajudan pak Komjen bertugas memarkirkan.


"Ini kuncinya." Dia mengembalikan kunci mobil.


"Kenapa harus menginap di rumahku, 'sih?! Rumahku tidak sebagus rumah Anda. Kamar tamuku tidak nyaman!"


"Selama ada kamu, aku yakin pasti nyaman."


"Jangan merayuku ya! Ingat! Aku belum memaafkan Pak Sabil! Aku mau minta ganti rugi!"


"Ganti rugi? Aku sepakat. Oiya, terima kasih karena tidak melaporkanku. Boleh aku mencium tanganmu sebagai ucapan terima kasih?" Hendak meraih tanganku.


"Tidak mau!" Lanjut berjalan cepat ke warung depan.


"Mau ke mana lagi?"


"Pak Sabil! Berhenti menguntitku! Aku mau ke warung depan! Bayar makanan!" Jadi keceplosan.


"Ikut," katanya. Mengejarku.


"Ish! Tidak perlu!"

__ADS_1


"Apa kamu mau bayar makanan yang tadi kami makan? Saat menyelidiki rumah kamu, aku pernah makan di warung Sunda yang di ujung jalan itu. Rasanya sangat mirip dengan masakan ibumu."


"Sstt," aku spontan berjinjit untuk membekap mulutnya.


"Jangan kencang-kencang. Jangan membocorkan rahasia ini pada orang tua Anda! Ibuku bisa malu kalau ketahuan itu masakan pesanan!" tandasku.


"Pak Sabil!" Aku cepat-cepat menarik tanganku. Sebab, dia malah mengecup telapak tanganku.


"Akhirnya, aku punya kesempatan mencium tangan kamu. Rahasia aman. Yuk kita ke sana. Biar aku saja yang bayar."


"Tidak perlu! Dan tak perlu menggandeng tanganku!"


"Seperti kata ayah, aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki kamu. Terkecuali aku."


"Jangan mengkhayal! Sudah kubilang aku tidak tertarik sama polisi!"


"Aku yakin bisa mendapatkan kamu. Aku juga sudah mendapat restu dari kedua orang tua kita. Tinggal menunggu kamu." Sambil terus menguntit.


"Terserah!" teriakku.


.


Setibanya di sana. Warung yang dimaksud sudah tutup. Jadi, kami kembali lagi.


"Tia," panggilnya.


"Apa?!"


"Tia," memanggil lagi.


"Apa 'sih?!" Membalikan badan.


"Kamu memakai sendal bundaku. Apa tidak sadar?"


"A-apa?!" Segera mengecek dan ternyata benar.


"Itu pertanda kalau kita berjodoh."


"Listi."


Tiba-tiba, seseorang memanggilku dari dalam mobil yang datang dari arah berlawanan. Aku terkejut saat menolehnya.


"A-Akmal?" Dia bersama seorang wanita. Apa itu pacar barunya?


Tanpa sadar, aku meraih tangan pak Sabil dan menggandengnya. Dan pak Sabil seolah memahami perasaanku.


"Yuk baby," ajaknya. Kata baby membuatku mual dan geli.


"Listi! Kamu sudah pacaran sama polisi itu?!" teriak Akmal.


"Kami tidak pacaran, tapi akan segera menikah," sahut pak Sabil sambil tersenyum sinis. Aku melotot mendengar ucapan pak Sabil.


"Apa?! Sudah kuduga kamu sengaja berteman dengan Daini untuk mendapat keuntungan!" tuduh Akmal.


'Bruuum.' Langsung tancap gas. Padahal, aku belum sempat memakinya.


"Akmal! Awas kamu ya!" teriakku sambil mengurai tangan pak Sabil.


"Ada aku. Lupakan pria sombong itu!" tegasnya.


"Huuu." Sial! Aku malah menangis karena sakit hati dengan ucapan Akmal.


"Sshh, sudah. Jangan nangis. Bersamaku, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis."


Dia mengusap lembut airmataku. Lalu ajudan pak Komjen menyusul kami agar cepat kembali ke rumah. Kami berjalan beriringan, dan tangan ini, entah kenapa tak melakukan penolakan saat dia menggenggamnya. Tangannya terasa hangat. Itu yang kurasakan saat ini.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2