Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Bisakah Aku Menghapus Jejakmu?


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Harusnya, aku tak menangisi kepergian pak Zul dan bu Dewi. Harusnya, aku tahu diri kalau bu Dewipun memiliki hak atas pak Zulfikar. Aku mengusap air mata sambil kembali melihat-lihat pakaian yang disediakan bu Yuze.


Baju yang disediakannya telah disesuaikan dengan seleraku. Seolah-olah bu Yuze tahu pakaian jenis apa yang sering kugunakan. Bedanya, yang ini bermerk. Bukan baju diskonan yang sering kubeli di online shop.


Ingin rasanya aku keluar dari kamar ini untuk menemui ummi dan abah. Tapi, aku tak berani. Aku lantas merapikan pakaian yang kubawa dari Bandung. Lalu kembali merenung.


Benar, aku 'kan bisa menghubungi dokter Rahmi. Kenapa baru terpikirkan? Kuraih ponsel untuk menghubunginya. Di dering kedua langsung diangkat.


"Dok, bisa ke kamarku?"


"Ada apa, Neng? Tak ada keluhan, kan?"


"Tidak ada, Dok. Hanya ingin ditemani, aku butuh teman bicara," jawabku, jujur. Akhir-akhir ini aku sering merasa jika diriku lebih sensitif dari biasanya.


"Baik, saya ke sana," katanya.


Sembari menunggu, aku merebahkan tubuhku di kasur berukuran king size ini. Lalu menatap langit-langit kamar. Anganku melayang-layang.


Pak Zulfikar dan bu Dewi sedang apa, ya?


Pikiran tak patut ini memenuhi isi kepalaku. Terkadang, aku masih tak percaya jika diri ini ternyata telah menjadi bagian dari sebuah kata kontroversial yang terkenal istilah POLIGAMI.


Sebenarnya, walaupun tanpa izin bu Dewi, jika hanya sebatas nikah siri, poligami tetap bisa dilakukan. Asalkan, pak Zulfikar kompeten dan adil terhadap anak serta semua istrinya. Hal itulah yang hingga saat ini masih mengganggu pikiranku. Aku merasa, dalam hal ini, pihak laki-laki seperti di atas angin. Sementara wanita, lagi-lagi menjadi pihak yang dirugikan dan tersakiti.


Andai malam itu tak pernah terjadi, mungkin ... aku tidak akan berada di rumah ini.


Berada di posisiku begitu sulit. Kenapa? Sebab aku berada di pihak istri muda yang notabene selalu tersudutkan, disalahkan, bahkan dicap sebagai pelakor. Padahal, ada fakta lain yang terjadi di balik pernikahan ini.


Mungkin, orang di luaran sana akan bertanya pada bu Dewi ....


"Bagaimana Anda bisa ridho dipoligami?"


Padahal, walaupun aku beperan sebagai madunya. Aku juga tetap membutuhkan jawaban dari pertanyaan itu.


Sungguh, saat aku melihat secara langsung bagaimana bu Dewi memeluk dan mencium pak Zulfikar, hati ini tak bisa dibohongi. Ya, aku tahu bu Dewi adalah istrinya. Tapi, aku tetap merasakan ada aliran darah panas yang mengalir di dadaku.


Rasa cemburu itu tetap ada. Hal inilah yang membuatku selalu merasa bersalah terhadap bu Dewi. Jika aku juga merasakan sesakit dan secemburu ini, bu Dewipun sama. Dia pasti sangat terluka dan kecewa.


"Huft ...."


Aku menghela napas. Aku ingin menguapkan segenap rasa yang membebani dada ini, tapi ... sulit.


Bagaimana agar aku ridha dipoligami?


Ini memang bukan pekerjaan yang gampang. Tidak semua istri bisa menerimanya dengan ridho, termasuk aku ataupun bu Dewi. Apa lagi sangat sedikit di antara pelaku poligami yang menunjukkan contoh yang positif. Kecuali, mereka yang betul-betul melakukannya karena Allah, dengan mengindahkan cara-cara yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


Lantas, poligami yang dilakukan pak Zulfikar termasuk ke kategori yang mana?


Hingga saat ini, aku masih meragukan jawaban tepatnya.


Aku hanya tahu jika kesuksesan keluarga yang berpoligami sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat pemahaman serta ketaatan masing-masing anggota keluarga yaitu suami dan istri-istrinya terhadap ajaran Islam.


Menurutku, kurangnya pemahaman dan pengamalan pada ajaran Islam, bisa menjadi sumber pemicu dalam keretakan mahligai rumah tangga.


Namun, jika kehidupan poligami dilandaskan kepada pemahaman yang benar serta komitmen untuk melaksanakannya sesuat dengan syariat, aku yakin insyaaAllah akan muncul saling pengertian, saling kasih sayang, dan saling membantu di antara suami dan istri-istrinya.


Melihat penampilan bu Dewi yang saat ini telah berhijab, aku tiba-tiba memiliki ekspektasi lebih dari pernikahan ini. Bagiku, penampilan bu Dewi seolah menjadi tanda-tanda jika pernikahan ini ke depannya akan menjadi lebih baik dan bisa berjalan sesuai syariat.


"Assalamu'alaikuum." Suara dokter Rahmi.


"Wa'alaikumussalaam. Masuk, Dok," jawabku sambil membuka pintu.


"Wah, nyaman sekali kamarnya." Dokter Rahmi menggulirkan pandangan ke setiap sudut kamar.


"Dok, ummi dan abahku ada di mana?" Aku menanyakan keberadaan mereka.


"Sepertinya sedang pada istirahat, Neng. Oiya, ada flek darah lagi tidak?"


"Tidak ada, Dok. Tapi aku jadi sensitif. Jadi sering merasa sedih," terangku.


"Tak masalah, kok. Wanita hamil memang akan lebih sensitif terhadap lingkungannya. Sering merasa sedih dan sering menangis karena tingkat hormonal di tubuhnya sedang meningkat dan berubah-ubah," jelas dokter Rahmi.


"Asalkan, perubahan jangan sampai membuat stres berat dan mengganggu tumbuh kembang janin," tambahnya.


"Permisi."


Dari luar kamar ada panggilan. Dokter Rahmi beranjak membuka pintu. Ternyata, ada seorang wanita muda yang sepertinya adalah asisten rumah tangga. Aku menyimpulkan seperti itu karena busananya sama dengan ibu-ibu yang dipanggil pak Zulfikar sebagai bu Juju.


"Ada apa?" tanya dokter Rahmi.


"Bu Daini dan Dokter disuruh makan," katanya sambil sesekali memperhatikanku.


"Oh, baik. Terima kasih, nanti saya dan Neng Daini ke sana."


Lalu wanita itu berlalu sambil mengernyitkan alisnya. Entah apa yang dia pikirkan. Pekerja di rumah ini tentunya tidak tahu-menahu tentang masalah yang terjadi antara aku dan pak Zulfikar. Aku jadi khawatir jika mereka akan menuduhku sebagai pelakor yang tak punya malu.


Ketakutanku kian bertambah saat aku teringat akan berita itu. Berita itu jelas menyudutkanku. Lamunanku buyar saat dokter Rahmi menuntun tanganku menuju ruang makan.


"Jangan melamun 'dong, cantik. Neng Daini harus kuat dan tabah demi kebaikan si kembar, janji?" katanya. Lalu mengaitkan jari tangannya ke jari tanganku.


"Tidak, aku tidak melamun," sangkalku.


Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, mataku tak henti melihat-lihat. Cat interiornya perpaduan antara warna emas, putih, dan warna silver. Netraku terpukau dan terpaku saat melihat lampu hias yang terbuat dari kristal. Lampu itu berbentuk piramid.


Aku menengadahkan kepala untuk menikmati keindahannya. Lampu itu begitu besar dan panjang. Tergantung megah nan mewah dari langit-langit lantai tiga. Menjuntai, gemerlap, dan berkilauan.


Aku juga terpukau dengan desain tangga yang berbentuk spiral. Lantai tangga full marmer, sangat mengkilap. Ada karpet mewah khas Timur Tengah yang terpasang di pertengahan tangga tersebut.


"Bagus ya, Neng," kata dokter Rahmi.


"Muhun, sae pisan (ya, bagus sekali)," sahutku.


Lalu, dada ini terhentak. Aku melihat pak Zulfikar dan bu Dewi menuruni anak tangga. Mereka dari lantai tiga.


"Hanin," sapa pak Zulfikar.


Ia tersenyum saat melihatku. Padahal, saat ini tangannya sedang memegang tangan bu Dewi. Menyadari keberadaanku, bu Dewi lantas bergelayut manja di lengan pak Zulfikar.

__ADS_1


"Baru lihat lampu bagus ya?" celetuk bu Dewi saat posisinya dekat denganku.


"Ya," jawabku singkat.


"Wi, harus ya bertanya seperti itu?" protes pak Zulfikar sambil mengurai tangan bu Dewi.


"Hahaha, kok Mas yang sewot, sih? Si Daininya juga biasa-biasa saja, tuh." Bu Dewi cemberut, lalu merangkul kembali tangan pak Zulfikar.


"Neng, yuk!" ajak dokter Rahmi. Ia menarik kembali tanganku. Dokter Rahmi seolah memahami perasaanku.


"Dokter Rahmi, jangan cepat-cepat!" teriak pak Zulfikar hingga aku dan dokter Rahmi menghentikan langkah.


"Kamu tahu 'kan kalau istriku sedang hamil?! Kok bisa kamu mengajaknya berjalan secepat itu! Jangan diulangi lagi!" ketusnya. Lalu mendekati dan mengelus perutku.


"Kalian tidak apa-apa 'kan?" katanya.


"Ishh, kamu berlebihan tahu, Mas. Si Daini baik-baik saja. Tak perlu terlalu dimanja." Bu Dewi kembali protes.


Aku menghela napas. Jujur, baru beberapa jam di rumah ini, aku sudah merasa tak kerasan. Kalau saja bukan karena pak Zulfikar, aku juga tak mau memaksakan diri tinggal di sini.


"Neng Daini? Wah, bajunya cocok sekali. Itu Papa lho yang pilihkan."


Dari arah lain, pak Aksa muncul dan langsung mengomentari busanaku. Bu Dewi kembali cemberut. Lalu ia menarik tangan pak Zulfikar.


"Cepat yuk, Mas. Aku sudah lapar," katanya.


"Ba-baik," pak Zulfikar pergi setelah ia melemparkan senyumnya kepadaku.


"Baju ini pilihan Bapak? Emm ... maksudku pilihan Papa?"


Walaupun merasa canggung, aku memberanikan diri untuk berbicara dengan pak Aksa. Lalu bu Yuzepun datang dari arah lain. Rumah ini memang terdiri dari banyak ruangan yang didesain dengan tema berbeda.


"Kamu sudah istirahat, kan?" Bu Yuze menatapku.


"Su-sudah, Bu."


"Camilan yang di dalam kulkas, apa sudah dimakan?"


"Belum, Bu."


"Lho, kenapa? Saya menyediakan itu semua untuk kamu, kenapa belum dicicipi?" Wajahnya tampak kesal.


"Ma-maaf, Bu. Belum sempat. Nanti akan kucoba." Aku menunduk sambil memainkan jemariku.


"Sabar 'dong, Ma. Daini 'kan baru datang, ya wajar 'lah kalau belum sempat mencicipi," bela pak Aksa.


"Ya sudah, yuk kita makan!" ajak bu Yuze dengan ekspresi ketusnya. Walaupun ketus, tapi cukup perhatian.


...***...


"Ummi, Abah."


Di ruang makan sudah ada ummi dan abah, dan pak Ihsan.


"Sini duduk dekat Ummi," ajak ummi.


"Duduk di sini saja, dekat aku," ajak bu Dewi.


"Apa mau duduk dekat Papa," pak Aksapun mengajakku. Ya ampun, perkara duduk saja rumit sekali. Aku jadi bingung mau duduk di mana.


"Sok atuh, bagaimana Neng Daini saja mau duduk di mana juga ya. Kasihan itu kayak kebingungan bumil kita." Sampai-sampai pak Ihsanpun berkomentar.


"Maaf terlambat," tiba-tiba datang kak Gendis.


"Aku mau duduk bareng bumil cantik. Lho 'kok masih berdiri Neng?" tanyanya.


"Aku menunggu Kak Gendis," kataku.


Lalu duduk sembarang di kursi kosong yang ada di dekatku. Kak Gendis duduk di sampingku. Sayangnya, posisiku tepat berhadapan dengan pak Zulfikar. Aku baru menyadarinya setelah duduk. Tapi, ya sudahlah.


"Silahkan Bapak dari Bandung pimpin doa," ucap pak Aksa.


Abah memimpin doa. Kita khusyuk menundukkan kepala, termasuk bu Dewi. Lalu acara makanpun dimulai. Berjalan begitu saja dengan kakunya. Tak ada obrolan, dan ada kalimat apapun. Saat tak sengaja meluruskan pandangan, pak Zulfikar sedang tengah menatapku. Aku segera menunduk.


Saat kulirik lagi, pak Zulfikar sedang menyuapi bu Dewi. Mereka mesra sekali. Melihat pemandangan ini, aku merasa seolah tak pernah bermesraan dengannya. Aku merasa tersisihkan dan tak dianggap. Makanan yang tadi terasa nikmat, sekarang jadi sulit ditelan. Lalu dorongan itu datang, aku ingin buang air kecil di saat seperti ini.


"Kak Gendis, a-aku mau p i p i s dulu," bisikku pada kak Gendis.


"Zul, Daini mau p i p i s 'tuh, kamu antar gih," kata kak Gendis.


Sontak aku terkejut. Tak menyangka jika kak Gendis akan segamblang itu mengatakan kalau aku mau buang air kecil di hadapan semua orang yang padahal sedang menyantap makanan. Aku jadi malu, wajahku terasa panas.


"Baik, yuk sayang." Pak Zulfikar sigap, langsung berdiri.


"Hahaha, kok mirip sekali ya, Dai? Dulu, waktu Mama hamil muda sama Zul juga begitu, suka mau buang air kecil saat lagi makan. Apa lagi 'kan bayi kamu kembar, otomatis tekanan pada kandung kemihnya lebih kuat," sela bu Yuze.


"Apa?! Dia hamil anak kembar?!" Bu Dewi terkesiap. Rupanya, dia baru tahu.


"Aku pergi ke kamar mandi sendiri saja, tak perlu diantar," kataku. Segera mengalihkan keterkejutan bu Dewi agar tak berdampak pada keributan di meja makan.


"Aku kenyang!" Bu Dewi pergi, sebelum aku pergi.


"Dewi, tunggu." Pak Zulfikar mengejarnya.


"Neng Daini, saya yang antar."


Dokter Rahmi menawarkan diri. Aku mengangguk. Ummi dan abah tak mengatakan apapun. Mereka hanya menatapku. Pak Aksa dan bu Yuze menghela napas.


Aku berjalan cepat menuju kamarku.


"Neng-neng, jangan cepat-cepat. Nanti saya dimarahi lagi sama pak Direktur. Padahal dekat ruang makan ada kamar mandi juga," kata dokter Rahmi.


"Sudah tanggung ke sini, Dok," jawabku.


Dan di depan kamar, aku dan dokter Rahmi saling berpandangan sebab pintu kamar sudah terbuka. Siapa yang masuk? Pikirku. Aku bergegas masuk, dokter Rahmi menyusul. Di dalam kamar aku mematung, begitu terkejut dengan apa yang tengah kulihat saat ini.


"Kenapa kamu selalu beruntung Daini?! Kamu tak seharusnya mendapatkan semua itu!" teriak bu Dewi.


"Wi, tenang. Jangan seprti ini!" Pak Zulfikar memeluk bu Dewi yang saat ini tengah mengacak-acak pakaianku.

__ADS_1


"Aku tak tenang Mas! Kok bisa 'sih dia hamil kembar? Kenapa dia beruntung?! Aku tak terima!"


"Wi, bibinya Mas 'kan punya anak kembar juga. Ponakam Mas juga ada yang kembar, ya wajar kalau Hanin juga bisa hamil anak kembar." Pak Zulfikar dan bu Dewi sepertinya belum menyadari keberadaanku dan dokter Rahmi.


"Neng, ayo kita pergi dari sini," ajak dokter Rahmi dengan suara berbisik. Aku patuh.


"Tangisan yang berlebihan, pertengkaran, kegaduhan, kata-kata kotor serta caci-maki, tidak baik untuk perkembangan janin. Saat ini, bayi Neng Daini memang belum bisa mendengarnya. Tapi alangkah baiknya kalau dari sekarang Neng harus sudah menghindar dari hal-hal yang saya sebutkan tadi," tambahnya saat kami sudah menjauh dari kamar.


"Baik, terima kasih, Dok."


Setelah buang air kecil, aku kembali ke ruang makan dan melanjutkan makanku. Selesai makan, aku diajak kak Gendis untuk bermain di kamarnya. Aku pergi ke kamar kak Gendis bersama dokter Rahmi.


...***...


Di kamar kak Gendis yang berada di lantai dua, aku hampir pingsan. Bayangkan, di dalam kamarnya ada kolam renang. Ini kamar apa villa? Dokter Rahmipun terpukau sampai geleng-geleng kepala dan berdecak kagum.


"Hahaha, hanya kolam renang kecil, kok. Tak perlu takjub berlebihan," kata kak Gendis.


"Kita berenang, yuk!" ajak dokter Rahmi.


"Setuju," sahut kak Gendis. Aku diam saja karena sadar diri tak bisa berenang.


"Ibu hamil juga berenang ya. Sehat tahu, Neng," kata dokter Rahmi.


"Aku tak ikut."


"Lho, kenapa?" Kak Gendis menatapku.


"Aku tak bisa berenang."


"Ya ampun, tak apa-apa, nanti aku ajari pelan-pelan, mau ya adik ipar cantik. Hehehe, aku punya banyak baju renang yang super seksi," katanya.


"Wah, asyik-asyik joss," dokter Rahmi malah antusias.


"Neng Daini mau gak pakai baju renangku? Pasti seksi sekali, hahaha," kak Gendis tergelak.


"Maaf, aku tak mau, Kak."


"Ya kali kamu ajak Daini, ya gak bakal mau 'lah," sela dokter Rahmi.


"Memangnya aurat? Nggak, kan?" tanya kak Gendis.


"Aurat wanita terhadap wanita lain adalah seperti aurat laki-laki di hadapan laki-laki lain. Meski sama-sama di hadapan wanita, bukan berarti seorang wanita bebas membuka auratnya. Artinya, tidak diperbolehkan bagi laki-laki melihat aurat laki-laki dan wanita melihat aurat wanita. Tidak boleh pula seorang laki-laki dengan laki-laki lain dalam satu selimut dan wanita dengan wanita lain dalam satu selimut," jelasku.


Dokter Rahmi dan kak Gendis menyimak sambil menganggukkan kepala.


"Ada juga yang mengatakan jika batas aurat wanita di hadapan wanita lain cukup antara pusar hingga lutut karena asumsi awal syahwat tidak akan muncul di antara sesama wanita. Namun, karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah keji berupa tindakan penyuka sesama jenis, maka wanita muslimah diwajibkan menutup seluruh auratnya, seperti halnya di ia berada di hadapan pria yang bukan muhrimnya."


"Oh, begitu ya." Dokter Rahmi manggut-manggut.


"Tapi, batas aurat seorang muslimah di depan wanita non-muslim berbeda dengan wanita muslimah," lanjutku.


"Menarik, kok bisa beda 'sih? Kan sama-sama wanita juga?" tanya kak Gendis sambil mengajakku untuk duduk di sofa yang menghadap ke kolam renang.


"Karena sebagian ulama berpendapat jika seorang wanita muslimah harus berhijab selayaknya di depan laki-laki nonmuhrim saat berada di hadapan wanita non-muslim. Wanita non-muslim tidak termasuk kalangan yang dibolehkan melihat perhiasan seorang wanita muslimah. Maka, hukum di hadapan wanita non-muslim dihukumi seperti di hadapan lelaki nonmuhrim," terangku.


"Ya, tak jadi berenang 'deh," kata dokter Rahmi.


"Kenapa tak jadi, Dok? Maaf, kalau apa yang kukatakan membuat Kak Gendis dan dokter Rahmi jadi tak nyaman."


"Tidak apa-apa Neng Daini. Salahku memang tak punya baju renang muslimah. Pokoknya, besok aku mau beli baju renang muslimah dan yang tertutup, biar kamu bisa berenang juga."


"Kak Gendis, Dok, maaf ya sepertinya aku harus segera ke kamarku. Ada yang harus aku kerjakan," kataku. Kupikir, jika aku tetap berada di sini, mereka pasti tidak akan berenang. Akan lebih baik kalau aku pergi saja.


"Ya sudah, hati-hati ya Neng Daini, naik lift saja," kata dokter Rahmi.


"Siap," sahutku.


...***...


Kini, malampun tiba. Tadi, selepas shalat Isya, aku sempat bertemu dengan abah dan ummi, serta ikut ngobrol di ruang tamu dengan pak Aksa, bu Yuze dan pak Ihsan.


Tadi, kami membahas hak pernasaban calon anakku. Kata pak Aksa dan bu Yuze, jika bu Dewi tetap tak mengizinkan pernikahanku dan pak Zulfikar disahkan secara hukum, maka pak Aksa akan menyuruh pak Zulfikar untuk mengadopsi anakku. Sehingga secara hukum, anakku akan menjadi anak pak Zulfikar dan bu Dewi.


Mendengar ide itu, aku jelas menolak dengan keras. Abah bahkan hampir emosi, untung saja keburu ditenangkan oleh pak Ihsan. Ummiku tak berkomentar, namun ummi langsung menangis hingga terisak-isak.


"Aku bisa membesarkan anakku sendiri!" teriakku saat itu.


"Neng Daini, rencana Papa ini dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Papa janji tidak akan membatasi pertemuan kamu dan anak-anak kamu. Kamu tetap di rumah ini, mengurus mereka, dan menyusui mereka hingga dua tahun. Ini hanya masalah perwalian saja," jelas pak Aksa.


"Lalu aku dianggap apa, Pak? Aku ibunya, aku yang mengandungnya. Aku lebih memilih jadi ibu tunggal daripada harus memberikan anakku kepada orang lain untuk diadopsi, huuu huuu." Tadi, aku juga menangis di pelukan ummi. Ummi mengelus punggungku.


"Tapi Zulfikar bukan orang lain, Neng. Dia suami kamu, ayah dari anak-anak kamu," kata bu Yuze.


"Aku tetap menolak!" tegasku.


"Saya juga yakin bisa mengurus anak-anaknya Daini walaupun tanpa bantuan dari Pak Aksa. Jujur, rencana itu sangat tidak adil. Kasihan putri saya," kata abah.


"Maaf, saya izin menyela. Neng Daini memang bisa mengajukan diri sebagai orang tua tunggal. Tapi alasannya harus jelas. Mari difahami dulu maknanya. Orang tua tunggal adalah orang tua yang telah menjanda atau menduda entah itu ibu atau bapak. Lalu ibu atau bapak tersebut mengasumsikan tanggung jawab untuk memelihara anak tersebut setelah kematian pasangannya, peceraian, atau kehadiran anak di luar nikah."


"Nah, dalam hal ini, Neng Daini mau memakai alasan yang mana?" tanya pak Ihsan.


"Peceraian, Pak. Aku ingin becerai saja!" teriakku sambil memegang perutku.


"Neng, jangan emosi, mari kita bicarakan lagi. Papa janji kamu tidak akan rugi," rayu pak Aksa.


"Benar, Daini. Kamu mau apa? Saya akan memberikan apapun yang kamu inginkan," bu Yuzepun merayuku.


"Aku ingin jadi orang tua tunggal! Setelah anak ini lahir, aku ingin minta cerai. Huuu ...."


Saat itu, aku berbicara sambil beranjak meninggalkan mereka. Aku berlari ke kamar ini sambil menangis.


"Huuu."


Aku bahkan masih menangis hingga saat ini. Aku membenamkan kepalaku di bawah bantal. Tidak ada jalan lain kecuali memaksa pak Zulfikar untuk menceraikanku. Akan kulupakan semua hal tentang dia dari ingatanku. Aku yakin akan hidup bahagia dengan anak-anakku.


Aku ingin segera mengatakan niatan itu. Tapi ... saat ini, pak Zulfikar sedang bersama bu Dewi. Mereka mungkin sedang bercinta. Aku memegang dadaku. Serasa ada sembilu yang sedang menikam dadaku.


Benar, lebih baik aku melupakan dia daripada harus terluka. Akan kuhapus rasa yang mulai bersemi ini hingga tak berjejak.

__ADS_1


Tapi, apa aku bisa melupakannya?


...~Tbc~...


__ADS_2