
Listi Anggraeni
Semenjak keluarga Antesena melakukan preskon, aku benar-benar dijauhi teman sekantor.
Di kantin, saat aku tiba, mereka langsung menjauh. Saat apel pagipun, karyawan yang berada di dekatku tak pernah sekalipun menyapa. Ada rasa sedih, 'sih. Tapi sedikit, tidak banyak. Sorry yes, aku bukan cewek lemah yang mudah menangis.
Setelah kejadian malam itu, hubunganku dan Akmal benar-benar di ambang kehancuran. Dia sebenarnya sudah meminta maaf, tapi aku belum benar-benar memaafkannya. Aku masih merasa sakit hati. Karena dia adalah orang pertama yang ingin mengembalikan cincin pertunangan. Kedua orang tua kitapun belum tahu kalau hubungan ini nyaris kandas.
Aku bingung harus mulai mengatakannya dari mana. Di satu sisi, aku memang tak mau menyakiti perasaan ibu dan bapak. Mereka sangat menyayangi Akmal.
"Yank, maafkan aku, malam ini kita ketemu ya. Di tempat favorit kamu. Aku sudah memakai kembali cincin tunangan kita. Kamu juga jangan lupa pakai lagi cincinnya ya, yank." Pesan dari Akmal.
"Ya," balasku singkat.
Kupikir, aku bisa mengajukan kesepakatan pada Akmal. Aku akan memaafkan dia dengan syarat, dia tak boleh melarangku berteman dengan Daini.
Di jam kepulangan kantor, aku memilih menyendiri. Aku melewati tangga darurat agar tak bertemu dengan karyawan yang menatapku dengan sinis.
Kebencian mereka terhadapku semakin menjadi karena aku sering dipanggil ke ruangan pak Direktur. Mereka menduga jika aku telah melakukan nepotisme pada pak Direktur dengan cara mengambil keuntungan dari kedekatanku dan Daini.
"Kak, malam ini bisa ke rumah mertuaku, tidak? Aku mau ngobrol. Oiya, Kak. Aku sedang sedih. Sama pak Aksa, aku dilarang tinggal di kontrakan. Beliau sebenarnya sudah memberi izin. Tapi bukan untuk saat ini." Di perjalanan pulang, Daini meneleponku.
"Pak Zulfikar dan bu Yuze bilang, aku harus patuh sama pak Aksa. Kalau aku tidak patuh, mereka khawatir pak Aksa akan sakit lagi. Kemarin saja, saat aku meminta izin ingin berkunjung ke kontrakan untuk mengecek tanamanku. Pak Aksa tak mengizinkanku. Bahkan, pak Aksa langsung tidak mau minum obat. Beliau baru mau minum obat saat aku memutuskan batal pergi ke kontrakan."
"Wah, senangnya. Itu artinya pak Aksa sangat menyayangi kamu, Neng. Selamat ya. Begini saja, masalah tanaman kamu, tak perlu khawatir, sebelum pulang, aku akan mampir ke kontrakan kamu, tinggal disiram doang 'kan, Neng?"
"Kakak mau ke sana? Ya ampun, Kak. Aku jadi tak enak. Merepotkan Kakak, lho."
"Tidak 'dong, Neng. Aku senang membantu kamu. Lagi pula tinggal belok sedikit, 'kok. Enggak jauh juga."
"Ya ampun, terima kasih ya, Kak. Di akhir shalatku, aku selalu berdoa untuk kebaikan Kakak dan keluarga."
"Aamiin, sama-sama, Neng. Oiya, aku enggak bisa ke rumah pak Aksa malam ini, Neng. Akmal mengajak ketemuan lagi. Kayaknya mau minta maaf, 'deh."
Sebelumnya, aku memang sudah cerita pada Daini jika hubunganku dan Akmal sedang bermasalah.
"Oh begitu, tak apa-apa, Kak."
"Paling, aku bisa menemui kamunya besok ya, Neng. Pulang kerja. Boleh?"
"Boleh atuh. Oiya Kak, lusa, bu Dewi akan tinggal di rumah pak Aksa. Jadi, kami akan tinggal satu atap."
"Oya? Baguslah. Tapi, kamu harus hati-hati ya, Neng."
"Ya, Kak. Ya sudah atuh, aku mau mandi dulu. Sebentar lagi pak Zufikar pulang. Aku harus harum mewangi bersemi sepanjang hari, hehehe," candanya.
"Ya 'sih yang sudah punya suami. Sombong benar," ledekku. Panggilan berakhir setelah aku menjawab salamnya.
Lantas, aku berbelok arah untuk mampir ke kontrakan Daini.
...⚘️⚘️⚘️...
Mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku merasa ada orang yang memerhatikan saat mobilku berbelok. Ada seorang pria yang mengintip di balik tiang listrik. Ah, sepertianya aku salah lihat.
Tiba di kontrakan, setelah mengambil kunci dari pemiliknya, aku bergegas. Saat menutup pintu pagar, tiba-tiba ada motor yang berhenti di halaman. Namun, saat aku hendak menghampiri, motor itu pergi dengan cepat. Kepalaku menggeleng, ada perasaan heran, janggal dan merasa tak tenang.
Setelah menyiram tanaman, akupun segera pergi. Lagi, aku merasa ada yang memerhatikan.
Apa aku memiliki indra ke enam? Tidak mungkin! Karena penasaran, aku sengaja menepi untuk memerhatikan area sekitar. Hasilnya, tak ada yang mencurigakan. Akhirnya, kembali melajukan kemudi menuju jalan pulang.
...⚘️⚘️⚘️...
"Aku mau latte," kataku pada bartender saat ia menunjukkan daftar minuman.
Latte adalah minuman kopi paling populer di dunia. Latte terdiri dari espresso dan steamed milk dengan sedikit busa di atasnya. Latte bisa dipesan dalam bentuk dan rasa originalnya, atau dengan tambahan perasa mulai dari vanilla hingga kayu manis.
__ADS_1
Latte juga terkenal dengan latte art-nya. Yakni, seni menggambar bentuk atau pola di atas busa minuman ini. Itulah alasan kenapa aku menyukai latte. Sebelum meminumnya, aku biasanya melamum sambil memandangi latte art-nya.
"Kok bisa? Halah, basi Bro. Kabur ke luar negeri, pura-pura sakit, lagu lama."
Suara itu ....
Mataku langsung melotot. Aku hafal benar tipe suaranya. Itu suara si polisi mesum! Kenapa bisa dia ada di kafe favoritku? Mana tempat duduknya di belakangku lagi. Ya Tuhan, kenapa Jakarta sempit sekali? Dari banyaknya manusia di Jakarta, kenapa harus dia?
Akmal ke mana, lagi? Janjinya jam setengah delapan. Sekarang sudah pukul 19.42 menit, tapi Akmal belum terlihat batang hidungnya. Untuk memastikan pendengaranku tak keliru, akupun mengintip. Memutar kursi dan menutupi wajahku dengan daftar menu.
Benar saja, itu si mesum. Dia memakai baju bebas. Huh, dia lagi nongkrong kali ya? Sekarang memang bukan jam kerja. Di balik jaket yang menutupi ikat pinggangnya, aku yakin di sana ada senjata api. Dasar manusia angkuh! Memangnya harus ya bawa-bawa pistol padahal di luar jam kerja?
Semoga dia tak melihatku.
"Carikan 'dong, Bro. Aku maunya yang sholehah tapi bisa sholehot juga. Aku ke sini tak sengaja. Hahaha, dapat voucher dari teman. Karena kebetulan melintas, mampir, 'deh," katanya. Pasti voucher hasil suap! Issh! Apa kerennya coba?
Oh tidak!
Dia menoleh ke meja tempatku duduk. Aku segera berpaling. Menutup rapat wajahku dengan buku menu. Sial! Semoga dia tak menyadari keberadaanku.
"Sudah dulu ya Bro. Aku melihat ada sesuatu yang mencurigakan," katanya. Yang dia maksud 'mencurigakan' bukan aku, 'kan? OMG, jantungku berdegup.
'Tak, tak.'
Aku malah mendengar alas sepatunya semakin mendekat.
Sial-siaaal!
Dia malah duduk di kursi yang ada di hadapanku. Tepatnya di mejaku. Aku bisa melihat bayangan tubuh tegapnya dari pencerminan cangkir latte.
"Permisi, apa Anda tadi mengintipku? Ada maksud apa ya intip-intip aku?" tanyanya. Entah dia pura-pura tak kenal, atau memang benar-benar tak mengenaliku.
Aku melambaikan tangan. Memberi isyarat yang berarti kalau aku tak mengintipnya. Kalau aku bicara, dia bisa mengenali suaraku.
"Anda aneh sekali, mencurigakan." Dia berdiri, malah mendekatiku.
Tidaaak, sekarang aku tak bisa bersembunyi lagi.
"Apa?! Ini aku!" teriakku. Sambil menghempas daftar menu ke atas meja. Dia terkejut.
"Li-Listrik?" katanya. Matanya mengerjap.
"Senang bisa bertemu dengan kamu lagi, Sablon!" sahutku.
"Apa?! Sablon kamu bilang? Hahaha," malah tertawa.
"Anda yang terlebih dahulu memanggilku Listrik!" hardikku.
"Tapi, Listrik lebih baik daripada Sablon." Dia duduk kembali, sekarang menatapku sambil tersenyum.
"Tolong jangan duduk di sini! Ini mejaku! Sebentar lagi Akmal datang!" usirku.
"Aku tak pernah mengaku kalau ini mejaku. Oh, jadi kalian sudah baikan?"
"Ini enggak ada urusannya dengan Anda! Mau aku baikan atau tidak, ya terserahku!"
"Tak bisa ya kalau bicaranya tak pakai otot?" ledeknya.
Bersamaan dengan itu, seorang pelayan wanita yang membawa baki berisi minuman, melintas di sampingku. Entah apa sebabnya, dia tiba-tiba seperti hilang keseimbangan. Baki yang dipegangnya oleng.
"Awas!" teriak pak Sabil. Dia menarik bahuku hingga tubuhku tersungkur ke pangkuannya
'Prang.'
Baki yang dibawa pelayan wanita itu jatuh ke lantai. Cangkir kaca pecah berhamburan. Minuman tumpah dan tercecer. Pengunjung lain panik, otomatis jadi penonton. Aku masih terpaku, kejadian ini begitu cepat. Andai dia tak menarikku, tubuhku pasti dipenuhi latte, cappucino, macchiato, mocha, ataupun galao.
__ADS_1
"Listi?! Yank! Apa yang kamu lakukan?!"
Teriakan itu mengagetkanku. Bukan hanya aku. Pengunjung yang lainpun turut kaget. Aku segera bangkit dari pangkuannya.
"A-Akmal? A-aku bisa jelaaskan," kataku. Jadi gugup karena jadi tontonan.
"Tenang, Bung. Jangan salah faham ya." Si Sablon, eh maksudku pak Sabil berdiri.
"Aku tak butuh penjelasan kamu!" Akmal emosi. Langsung berlari dan menyerang pak Sabil.
"Bung, Anda salah faham!" Dia menangkis serangan Akmal.
"Kurang ajar kamu ya! Rasakan ini!"
Akmal tambah emosi karena pukulannya gagal. Pengunjung lain mulai beteriak. Akupun demikian.
"Ada yang ribut! Tolong!"
"Akmal! Hentikan!" Aku berusaha melerai. Petugas keamanan berdatangan.
Terlambat.
Akibat dari pak Sabil memegang tanganku agar tak mendekat ke arah Akmal, ia akhirnya tak bisa menghindar dari serangan Akmal.
'PRAK.'
Sebuah botol kaca berisi air mineral mendarat kuat di pelipis pak Sabil.
"AAA!"
Yang beteriak aku dan pengunjung lain. Dia diam saja. Padahal ...pelipis dia berdarah. Dia hanya mengusap pelipisnya dan menatap jemarinya yang memerah.
"Rasakan lu! Beraninya mau merebut cewek gue!" teriak Akmal.
Lalu Akmal dicekal. Kedua tangannya dipegangi oleh petugas keamanan kafe.
"Amankan dia! Cepat!" teriak pak Sabil.
"Baik, Pak."
Petugas keamanan kafe sepertinya tahu kalau dia seorang perwira polisi. Aku mematung, bingung harus melakukan apa. Tanganku gemetar. Serius, aku takut melihat darah. Darah yang tidak aku takuti hanya ada tiga. Darah biru, darah daging, dan darah menstruasi.
"Bawa wanita ini juga!" teriaknya. Menunjukku sambil manahan ujung jemari di pelipisnya yang terluka.
"Siap, Pak."
"Bawa ke mobilku! Jangan dibawa ke pos!" tambahnya.
Apa?! Ke mobilnya? Maksudnya apa coba? Karena merasa bersalah, akupun patuh.
"Tunggu, bukankah wanita itu sahabatnya DH? Mirip sekali. Benar, dia teman istri mudanya pak Zulfikar." Ada seorang pengunjung yang ternyata menyadari identitasku.
"Benarkah?" Yang lain penasaran, mereka menyusulku, dan siap memotret pastinya.
"Bukan, dia buka sahabat DH," tegas pak Sabil.
Ia berusaha menghalau pengunjung yang hendak memotretku. Saat melewati pos keamanan, aku melihat Akmal sedang diinterogasi oleh petugas keamanan dan seorang polisi.
Apa yang harus kulakukan?
"Aarghh!" Setelah berada di dalam mobilnya, aku beteriak sekuat tenaga.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1