Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Pergi ke Bandung


__ADS_3

Aku memeluk tubuhnya dengan sebuah perasaan yang sulit kumengerti. Sampai di detik ini, aku masih bingung akan perasaanku terhadap Dewi. Satu hal yang pasti. Ya, aku menyayangi Dewi.


Aku akan berusaha untuk menjadi menantu kebanggaan untuk Dewi dan keluarganya. Aku menatap wajah Dewi yang terlelap di lenganku. Kuusap pipinya, kukecup keningnya.


Kenapa ada perasaan sedih saat aku menatap wajahnya? Kenapa ada sesuatu yang mengganjal di dada ini?


"Mas," Dewi membuka mata.


Aku tersenyum.


"Kenapa lihat-lihat aku terus? Masih mau ya? Hehehe," godanya.


"Memangnya gak boleh suami lihat istri sendiri?"


"Boleh, dong," jawabnya sambil menangkup pipiku. Gerakan tangan Dewi mulai tak biasa. Mungkin dia menginginkannya lagi.


"Wi, Mas mau siap-siap sekarang." Aku beranjak, aku berusaha mengalihkan kehendak Dewi.


"Ke Bandung? Sepagi ini? Mau sama bang Radit, kan?" Dewi menghela napas. Dari bahasa tubuhnya aku tahu jika Dewi sedikit kecewa.


"Ya, ke Bandung. Mas kan sudah bilang sama kamu. Mas mau nyetir sendiri," kataku sambil meraih handuk.


"Apa?! Serius, Mas? Kok tumbenan, sih? Mas yakin mau bawa mobil sendiri?" Dewi mengejarku ke kamar mandi, lalu memeluk punggungku.


"Mas, kok aku jadi gak tenang ya? Boleh tidak kalau ke Bandungnya ditunda dulu?"


"Wi," aku membalikan badan. Dewi menatapku lekat.


"Mas gak bisa, Wi. Lihat ini, proyeknya sama sekali belum dikunjungi," aku meraih berkas proyek pembangunan yang berada di Bandung. Ya, aku ke sana memang untuk ini juga. Tapi poin utamanya demi memenuhi keinginan Hanin. Istilahnya sambil menyelam minum air.


"Ya deh. Tapi sama bang Radit ya, Mas," bujuknya.


"Nggak cinta, bang Radit di sini saja, dia nanti yang antar jemput kamu. Kamu jangan keseringan bawa mobil sendiri. Tenang saja, Mas bukan anak mama kok. Sedari dulu Mas sudah terbiasa mandiri," jelasku.


"Mas tuh kalau sudah bikin keputusan memang keras kepala ya," katanya.


Dewi membalikan badan dan naik kembali ke tempat tidur. Sepertinya Dewi merajuk. Tapi biarkan sajalah, toh yang akan kulakukan demi Dewi juga. Demi keutuhan rumah tanggaku dan Dewi.


Aku segera mandi dan bersiap. Saat aku menyiapkan perlengkapan, Dewi malah melengos ke kamar mandi dan tak membantuku.


"Wi, kamu marah?" Sejenak aku berdiri, menatapnya.


"Gak Mas, gak marah kok." Sahut Dewi dari dalam kamar mandi.


Jadi, pagi ini aku berangkat ke Bandung, sementara Dewi berangkat ke rumah sahabatnya untuk menjadi guru les putra sahabatnya.


...***...


Mungkin, Hanin sudah berangkat ke Bandung sepanjang perjalanan menuju rumah mama papa aku tak henti melirik kiri kanan. Ya, aku kan sudah tahu jika Hanin ngekost di daerah ini.


.


.


"Mohon doa restunya ya Ma, Pa," aku meraih dan mencium tangan Papa Mama.


"Ya ampun, kamu mau mengecek proyek kan Zul? Bukan mau kawin lagi?" ledek Mama. Aku kaget, walaupun ngasal, tapi ucapan Mama sangat tepat. Papa hanya senyum-senyum.


"Kalau aku nikah lagi memangnya Mama bisa apa?" Sekalian saja aku berguyon untuk mengetahui reaksi Mama.


"Awas saja kalau kamu berani nyakitin Dewi, Mama gak akan nganggap kamu bagian dari anak Mama," tegasnya. Waduh, Mama benar-benar bar-bar.


"Kenapa gak sekalian liburan sama Dewi, Zul? Kalian kan pengantin baru," sela Papa.


"Dewi ada les Pa, di dua tempat lagi," jelasku.


"Oh, ya sudah, hati-hati ya bawa mobilnya jangan melamun," Papa menepuk bahuku.


Ma, Pa, maafkan Zul ya, batinku mengatakan itu saat mencium lama tangan mereka. Setelah mencium tangan Mama Papa batinku sedikit tenang.

__ADS_1


.


.


Saat ini, aku melintasi kembali area kostannya Hanin. Deg, kaget luar biasa. Aku melihat Hanin berdiri di tepi jalan. Sepertinya tengah menunggu taksi atau ojek online.


Oh, jadi ini kostannya?


Yes, aku kegirangan. Tertulis di area pintunya.


'Kost Khusus Wanita.'


"Assalamu'alaikuum, Hanin," sapaku sambil membuka kaca mobil, kebetulan dia ada di sebelah kanan.


"Wa'alaikumussalaam," jawabnya. Ia spontan menoleh dan terkejut.


"Astaghfirullahaladzim, kamu?" Seolah melihat hantu, dia sampai memegang dada dan membulatkan matanya.


"Hanin, kenapa kamu belum pulang? Kamu serius mau gelar janda itu, kan?" Aku langsung menghakimi kucing lucu ini.


Di luar dugaan, Hanin langsung mengabaikanku, berjalan cepat sambil menunduk.


"Hanin, tunggu. Ayo kita pergi bersama," teriakku.


Tapi dia sama sekali tak menoleh lagi.


"Kak, aku di sini," teriaknya pada ojek khusus wanita yang baru saja tiba.


"Terminal Kalideres, Kak," katanya.


"Cepat, ya Kak." Aku masih mendengar suaranya.


Aku tak habis akal. Langsung menguntit. Aku khawatir dia terjatuh. Hanin duduk di motor dengan cara menyamping. Jilbabnya berkibar. Roknya berkali-kali nyaris terlilit roda motot. Aku takut dia terjatuh.


"Ya ampun Hanin," gerutuku.


Bahkan sampai tiba di terminalpun, dia tak menoleh ke belakang. Aku jadi rindu dengan wajah teduhnya.


Saat dia turun dari motor, aku tak bisa menahan diri lagi. Aku keluar dari mobil dan mengejarnya.


"Hanin, kamu jangan keras kepala," aku meraih tangannya. Telapak tangannya terasa dingin dan lembut.


"Pak Zul! Lepaskan! Tolong jangan seperti ini!" Dia menepis tanganku. Tapi tidak kulepaskan. Mana mungkin aku membiarkan dia naik mobil umum dan berdesak-desakan.


"Hanin, aku calon suami kamu. Lebih baik kamu pulang bersamaku daripada berdesakan di dalam bus, ya kan?"


"Pak, tolong ... jangan seperti ini," sekilas, saat kulihat wajahnya, matanya berkaca-kaca.


"Pak, jangan sampai aku beteriak!"


"Maaf Hanin, maaf kalau aku egois." Sebelum dia beteriak, aku cepat-cepat menyeretnya ke dalam mobil.


"Pak, kamu jahat!" Hanin menepis dan menangis. Tapi percuma saja, keputusanku sudah bulat. Aku ingin ke Bandung bersamanya.


Aku mengunci pintu, lalu menepikan mobil. Aku membiarkan Hanin menangis sepuasnya.


"Maaf Hanin, alangkah baiknya kalau kita datang bersama. Di hadapan orang tua kamu, kita harus berakting sudah berpacaran."


"Huuks, di keluargaku tidak ada istilah pacaran, Pak." Jelasnya sambil memalingkan wajah.


"Kupikir kamu sudah berangkat. Mungkin sudah takdir kalau kita akan pergi bersama." Aku mengalihkan pembicaraan.


"Anda memaksaku!" ketusnya.


"Hanin, sebenarnya aku butuh pendamping, emm maksudku penunjuk jalan." Aku mulai melajukan kemudi.


"Bapak bilang sudah tahu alamat rumahku, kan?!"


Nadanya semakin ketus, tapi terlihat kian lucu saja. Aku mengintip ekspresi wajahnya dari spion kiri luar. Saat menutup pintu mobil, aku telah mengatur posisinya.

__ADS_1


"Iya aku tahu, tapi kamu lebih tahu dari aku. Benar, kan?" Aku meliriknya. Hanin masih memalingkan wajah.


"Leher kamu bisa pegal kalau tetap seperti itu."


"Ini leherku, bukan leher Pak Zulfikar. Mau kuapakan juga teserah aku!" bentaknya.


Aku tersenyum. Terbayang lagi lehernya yang jenjang itu.


Leher indahmu akan segera jadi milikku. Eh, apa yang kupikirkan sih? Ingat Zul, pernikahan ini hanya setingan.


Aku menghela napas, sedang berusaha mengingkari pikiranku yang tak patut itu.


"Hanin," panggilku.


"Bisa diam tidak Pak? Aku tidak suka Bapak terus bicara!"


"Aku belum sarapan, bagaimana kalau kita beli bubur ayam dulu?"


"Tidak mau!" tolaknya.


"Hmm, baiklah aku akan menahan rasa lapar ini sampai batas waktu yang tak pasti," guyonku. Kuharap dia sedikit tersenyum. Tapi ... gagal. Bibir merah alaminya tetap mencucu bak kue pasung.


Tak terasa mobil yang kukemudikan telah memasuki tol. Serius, aku semakin kelaparan.


"Hanin, aku makin lapar, kita berhenti di rest area ya."


"Bapak saja yang berhenti, nanti aku naik bus!"


"Hmm, daripada membiarkan kamu naik bus, aku mau tahan lapar saja, pasti bisa kok." Wanita ini benar-benar tak bisa diajak damai. Aku terpaksa melewati rest area begitu saja.


Sekitar dua kilo meter dari rest area, kulihat Hanin membuka tasnya. Aku cuek saja.


"Ini, aku bawa bekal. Kalau Anda suka silahkan makan. Kalau tidak su ---."


"Aku suka," timpalku. Segera merebut kotak itu. Padahal aku belum tahu isinya.


Aku menepikan mobil. Wajahku sepertinya sumringah. Hanin melongo. Mungkin aneh dengan sikapku.


"Yakin Anda suka?" tanyanya, tanpa menoleh.


"Yakin," jawabku cepat.


Tadaaa.


Aku segera membukanya saat mobil telah menepi. Isinya adalah ... nasi kuning, telur ceplok dan oreg tempe. Ada sambalnya juga tapi sedikit.


"Kamu ikhlas memberinya untukku?"


Hanin mengangguk.


"Oke, aku makan ya."


Di dalam kotak bekalnya sudah tersedia sendok. Setelah berdoa dan mencuci tangan dengan handsanitizer, aku langsung 'hap.'


Nyam, nyam.


"Enak, beli di mana?" tanyaku.


"Beli? Aku membuatnya sendiri," jelasnya.


"Sungguh? MasyaaAllah Hanin, ini enak sekali. Jazakallah khair, Hanin." Aku memujinya dan beterima kasih


"Sama-sama," katanya.


Hanin masih teguh pendirian memalingkan wajah. Aku benar-benar tak bisa menatapnya. Wanita ini sangat menjaga pandangannya. Sangat berbeda denganku. Aku berulang kali mencuri pandang.


Tiba-tiba ponselku yang berada di dashboard bedering. Ada panggilan dari Dewi, panggilan vidio.


Aku terkejut.

__ADS_1


Bagaimana ini? Dilema melanda.


...~Tbc~...


__ADS_2