Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Mengajukan Kesepakatan


__ADS_3

Setelah pesan suara terkirim, Hanin mendatangiku. Ia berjalan lambat dan terus menunduk.


"Aku mau minta tolong, please dengarkan aku." Aku melambaikan tangan agar ia mendekat.


"Ada apa? Jangan kurang ajar lagi!" ketusnya. Benar-benar tak mau menolehku.


"Maaf, mari lupakan yang tadi. Sekarang, aku mau meminta bantuanmu. Tolong suruh Listi bangun dan berkunjung ke rumahku. Aku curiga dengan kejanggalan hari ini. Ditambah, mobil yang ada di berita ini sangat mirip dengan mobil papaku."


Aku mengirim link berita tersebut pada Hanin. Aku tahu Hanin membukanya. Namun, ia tak berkomentar.


"Masa ya mereka tak memedulikanku? Pasti terjadi sesuatu pada papa atau mamaku. Aku mohon sayang," ratapku. Napasku berkejaran karena menahan gelisah dan kegundahan.


"Baik," jawabnya. Lalu mendekati Listi. Dari bahasa tubuhnya, Hanin juga menunjukkan ketidaknyamanan.


Saat Hanin hendak membangunkan Listi, pak Ikhwan tiba di kamarku. Ia langsung membuka pintu kamar perawatan ditemani suster. Aku dan Hanin terkejut.


"Pak Ikhwan?" sapaku.


"Saya hanya mengantar," jelas suster. Lalu kembali lagi ke nurse station.


"Pak Zulfikar."


Pak Ikhwan langsung memelukku erat. Akupun tak kuasa menahan kepiluan. Aku meneteskan air mata lantaran kesedihan yang tiba-tiba menerjang.


Hanin duduk merenung di sofa. Saat aku masih dipeluk pak Ikhwan, Hanin membangunkan Listi agar pindah ke kamar tamu. Listi bangun dalam keadaan linglung. Lalu berjalan ke kamar tunggu dengan tertatih-tatih. Hanin menahan tubuh Listi yang limbung.


"Ada apa, Pak? Cepat jelaskan. Oiya, a-aku melihat ini."


Segera menujukkan laman berita kecelakaan itu pada pak Ikhwan. Sebelum berbicara, Pak Ikhwan menghela napas. Ia mengusap bahuku dan bicara lirih.


"Sabar," ucapnya.


"A-apa? A-apa benar yang kecelakaan itu ...."


Pak Ikhwan mengangguk pelan. Sekujur tubuhku jadi lemas. Napasku tercekat.


"Ti-tidak mungkin ... ke-kenapa? Kenapa kebetulan sekali? Kejadian itu jaraknya berdekatan dengan kecelakaanku. Siapa yang terluka?" Aku berusaha keras untuk mengendalikan perasaan ini.


"Pak Aksa."


"Papa? Astaghfirullahaladzim. Bagaimana kondisinya, Pak? Apa ada korban lain selain papaku?"


"Tidak ada. Bu Yuze tak jadi mendampingi pak Aksa karena rencananya akan menemani Anda bersama bu Juju. Awalnya, kami sepakat untuk merahasiakan masalah ini dari Bapak, tapi ... dari pihak bu Dewi berpendapat agar Bapak segera mengetahuinya.


"Pihak Dewi? Siapa yang Bapak maksud? Dewikah? Atau mami dan papinya?"


"Semuanya, Pak. Mereka sepakat agar kasus ini segera diketahui Anda. Alasannya, pertama, karena pak Aksa sudah melewati masa kritis. Kedua, bu Dewi ingin segera preskon agar keberadaan wartawan di Rumah Sakit Mitra tak mengganggu pasien lain. Ya, mereka memang terus bekerumun dan menunggu informasi dari kecelakaan ini."


"Ketiga, pihak bu Dewi mengatakan pada bu Yuze untuk mengambil alih kasus ini. Jadi, mereka yang nantinya membuat laporan. Tadinya, saya akan melibatkan pak Sabil. Berhubung bu Yuze sepakat dengan keluarga bu Dewi, saya juga menyepakatinya."


"Ya sudah, kalau memang mamaku sepakat, aku juga tak masalah. Yang penting, kondisi papa sudah membaik."


"Masih belum sadar, Pak. Tapi keadaannya lebih baik daripada sebelumnya. Respon tubuhnya terhadap obat dan alat bantu menunjukkan kemajuan."


Sebenarnya, aku merasa aneh. Kenapa keluarga Dewi ingin terlibat? Apakah ini bentuk simpati? Atau ... ada udang di balik batu? Aku hanya berharap itikadnya baik. Jika kondisi papa seperti itu, dan kondisiku seperti ini, rasanya ... untuk mengungkap kejanggalan pada kepribadian Dewi harus ditunda dulu.


"Doakan agar aku cepat sembuh, Pak. Walaupun keluarga Dewi akan mengurus kasus ini, aku juga tetap ingin terlibat."


"Oiya, tadi saya sudah menceritakan masalah ini pada bu Daini saat kami teleponan. Bu Daini shock, dia langsung menangis."


"Apa?! Ja-jadi ---." Aku terperanjat.


"Ya, Pak. Bu Daini sudah tahu, atas saran keluarga besar Anda, saya menyuruh bu Daini untuk merahasiakan masalah ini."


"Pak ... aku menangis karena ---." Aku jadi teringat saat Hanin menangis dan seperti menyembunyikan sesuatu.


Jangan-jangan .... Batinku menduga-duga.


"Kenapa, Pak?" Pak Ikhwan keheranan.


Aku merenung, aku menduga jika Hanin menangis terus-menerus akibat menerima kabar dari pak Ikhwan. Apa mungkin, aku salah sangka pada Hanin?


"Pak Direktur, Anda tidak apa-apa, kan?" Kali ini, pak Ikhwan menepuk bahuku.


"Pak, aku ---."


"Anda kenapa Pak Direktur?"


"Pak Ikhwan, ini masalah serius."


Aku harus segera menjelaskan perkara talak itu pada pak Ikhwan. Walaupun aku sudah mendapat jawaban dari pak Ihsan, tapi alangkah baiknya kalau aku juga meminta pendapat pada pak Ikhwan. Dia pengacara yang sering menangani kasus perceraian. Dia juga pasti memahami masalah ini.


"Apa perlu saya panggilkan suter?"


"Tidak perlu, Pak." Aku menahan tangan pak Ikhwan yang hendak menekan bel emergency.


"Makanya, cepat ceritakan, Pak. Jangan membuat saya khawatir. Selain itu, saya juga tak bisa berlama-lama di sini. Jam dua pagi akan kembali ke Rumah Sakit Mitra karena harus menyusun agenda untuk persiapan preskon," jelasnya.


"Oiya, nanti akan ada dua bodyguard yang bertugas menjaga Anda selama dirawat," tambahnya.


"Pak, begini, emm .... Bagaimana kalau Pak Ikhwan duduk di dekatku? Jangan berdiri Pak."


"Saya berdiri saja Pak Direktur."


"Pak, cepat ambil kursinya. Yang akan aku ceritakan masalahnya pelik dan serius."


"Benarkah?"


Akhirnya, pak Ikhwan menarik salah satu kursi ke dekatku. Lantas mendudukinya dengan wajah serius. Akupun menghela napas, ini ketiga kalinya aku becerita. Sebelumnya, masalah ini sudah aku ceritakan pada pak Ihsan dan Listi.


"Ehm, ehm." Aku berdeham sembari melirik ke arah kamar tunggu. Hanin tak tampak. Mungkin sudah tidur.


"Tapi Pak, tolong jangan salahkan aku, jangan pula menghakimiku." Sebelum menjelaskan, aku memohon terlebih dahulu. Aku yakin pak Ikhwan pasti kaget.


"Tak perlu bertele-tele, Pak."


"Aku ...." Lantas kuceritakan semuanya. Pak Ikhwan menyimak seraya geleng-geleng kepala.


...🍒🍒🍒...


"Bu Daini pasti tersinggung, Pak. Wajar jika dia marah. Sedikit banyaknya dia mengerti agama, pasti tahu jika talak itu tak boleh dipermainkan."


"Aku tak mempermainkannya, Pak. Kata pak Ihsan, talakku tidak sah sebab aku melakukannya karena terpaksa."


"Saya berbeda pendapat dengan kakak saya," ujar pak Ikhwan.


"Apa? Berbeda?" Aku jelas terkejut, kupikir pendapat mereka akan sejalan.


"Ya, walaupun kami sama-sama pengacara dan dilahirkan dari rahim yang sama, tapi pemahaman kami berbeda."


"Ya ampun, terus aku harus bagaimana? Talakku sah begitu? Pak, aku percaya dengan pendapat pak Ihsan, makanya tadi aku memaksa mencium bibir Hanin," jelasku.


"Apa? Menciumnya? Dalam keadaan sakit begini Anda masih nakal."


"Pak, sudah kubilang jangan menyalahkan aku. Ya wajar kalau aku menciumnya. Sebab, aku yakin jika talakku tidak sah. Terus bagaimana dong, Pak?" Aku jadi bingung.


"Kalau Anda meyakini talak itu tak sah. Ya terserah Anda. Toh, kakakku juga memiliki alasan dengan dalil yang kuat. Jangan sampai perbedaan pendapat ini memecah belah kita."


"Ya, Pak. Ke sananya aku mengerti. Tapi bagaimana dengan Hanin? Dia kukuh pada pendirian kalau talakku sah." Aku sampai garuk-garuk kepala karena saat ini, aku jadi merasa ragu.

__ADS_1


"Ya sudah, coba Pak Ikhwan jelaskan alasannya kenapa talakku bisa sah?"


Harapannya, setelah pak Ikhwan menjelaskan, pengetahuanku bertambah dan aku bisa yakin dalam menentukan pilihan dan keputusan untuk langkah selanjutnya.


"Pak, setiap talak yang dijatuhkan suami adalah sah, kecuali talak dari suami yang tertutup akalnya. Tertutup akalnya di sini bisa karena emosi, mabuk, dan hilang akal alias gila."


"Tapi kata pak Ihsan, talakku tidak sah karena di hatiku tidak ada niat untuk menceraikan Hanin."


"Benar, silahkan kalau Anda mau memegang ketentuan itu. Kakak saya tidak salah. Ada dalilnya, kok. Banyak yang meyakini bila seorang suami tidak ada niat untuk menceraikan, maka pernyataan cerai atau talaknya akan dianggap hanya main-main belaka. Jadi, dalam hal ini, tidak terjadi perceraian. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah yang artinya, 'Dan jika mereka berketetapan hati untuk cerai, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' Begitu, Pak."


"Namun saya berprinsip pada hadist Nabi SAW. Yaitu, 'Ada tiga hal yang sungguh-sungguhnya jadi sungguhan, dan main-mainnya pun jadi sungguhan pula. Tiga hal itu adalah nikah, talak, dan rujuk.' Jadi ---."


"Hanin juga berprinsip pada keterangan itu, Pak. Tolong Bapak jelaskan alasannya agar aku lebih faham," selaku.


"Saya setuju dengan keterangan yang empat perkara itu sebab menurut saya, kata talak itu sangat sakral dan bukan untuk dipermainkan. Ya, bisa jadi Pak Zulfikar memang tak ada niat untuk menceraikan. Tapi, apa semua orang mengetahui perasaan Anda? Tidak, kan?"


"Bu Daini bisa jadi sudah terlanjur bersedih dengan keputusan Anda. Walaupun Anda terpaksa dan tak ada niat menceraikan, pada kenyataannya, keputusan Anda tetap saja telah melukai perasaannya."


"Jika setiap candaan tentang talak dianggap tidak sah, akan ada banyak para pria yang sengaja bercanda dengan kata talak. Namun saat dituntut, si pria bisa jadi beralibi dengan kalimat, 'aku tak ada niat untuk menceraikannya.' Bagaimana? Apa Anda faham maksud saya?"


"Emm, faham. Lantas, apa yang harus aku lakukan, Pak? Aku tak mau berpisah dengan Hanin. Aku sangat mencintainya. Aku mau rujuk."


"Tenang, nanti akan saya jelaskan hal lainnya. Saya mau izin shalat Isya dulu."


"Baik, silahkan, Pak." Lalu, pak Ikhwanpun pergi.


...🍒🍒🍒...


Aku merenung, mencoba menelaah penjelasan dari pak Ikhwan maupun pak Ihsan. Perbedaan pendapat pasti akan selalu ada. Tiada guna jika aku terus bergelung dalam kebingungan. Hingga akhirnya, akupun memutuskan untuk sepakat dengan pernyataan pak Ikhwan.


Kemudian aku beristighfar berulang kali guna memohon ampunan atas segenap kesilapanku.


Lumayan lama aku menunggu pak Ikhwan. Berulang kali aku juga menoleh ke kamar tunggu. Berharap agar Hanin keluar. Aku ingin meminta maaf dan mengatakan kepadanya jika aku dan dia sudah satu suara.


Pucuk dicinta ulampun tiba. Hanin keluar. Ia memakai auter dan masker wajah. Cadarnya masih ada padaku.


"Sayang, mau kemana?" tanyaku saat dia melintas.


"Mau beli bubur kacang hijau, lapar," ucapnya sambil mengambil sepatu dari rak.


"Jangan keluar sayang, ini tengah malam. Memangnya kalau pesan online tidak bisa?"


"Aku mau makan di tempat. Ada di depan rumah sakit, kok. Dekat," jawabnya. Lagi, tanpa menoleh.


"Hanin, aku tak izinkan kamu keluar sendirian. Kalau ada orang jahat bagaimana? Kenapa tidak membangunkan Listi? Atau kamu tunggu bodyguardku dulu. Mereka akan ke sini jam dua."


"Anda berlebihan," kilahnya. Lalu beranjak membuka pintu keluar.


"Bu Daini?" Bertepatan dengan itu, pak Ikhwan masuk.


"Pak Ikhwan?" Hanin menunduk. Aku memperhatikan interaksi mereka.


"Ibu mau ke mana? Di luar gerimis," terang pak Ikhwan.


"Mau beli bubur kacang depan rumah sakit."


"Tetap di sini. Saya saja yang membelinya." Tanpa basa-basi lagi, Pak Ikhwan berlalu dan menghiraukan penolakan Hanin.


"Pak tunggu, tak usah." Tapi, pak Ikhwan sudah terlanjur pergi. Hanin menghela napas, ia tak jadi pergi.


"Bisa kita mengobrol?" tanyaku.


"Tidak!" ketusnya.


"Sayang, aku janji tak akan melakukan hal yang seperti tadi lagi."


"Aku tak percaya," jawabnya.


"Baik, tapi ini untuk terakhir kalinya. Setelah pak Ikhwan datang, aku dan kak Listi mau pergi," katanya.


"Sayang, aku sepakat dengan kamu untuk masalah talak. Aku berubah pikiran setelah mendengar penjelasan dari pak Ikhwan."


"Lantas?" tanyanya. Seolah tak peduli dengan apa yang kuutarakan.


"Aku mau rujuk."


"Aku tak mau," jawabnya.


"Sayang, please ... dan maaf untuk ciuman yang tadi. Aku janji akan mengulanginya lagi dan lagi setelah kita rujuk," godaku.


"Apa?! Anda tak tahu diri!" ketusnya. Marahnya lucu. Jadi tambah cantik.


"Hanin, aku tidak akan menyerah untuk meminta maaf. Oiya, aku sudah tahu semuanya. Papaku jadi korban tabrak lari." Kali ini, Hanin tak berkomentar.


"Papaku masih koma, aku tidak ingin membebaninya dengan masalah kita. Jadi, kita harus rujuk. Titik." Aku berdalih dengan sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki korelasi.


"Bapak egois," tuduhnya.


"Ya memang." Aku mengakuinya.


Kemudian pak Ikhwan tiba. Ia membawa kantung plastik berisi beberapa bungkus bubur kacang hijau.


"Mari disantap selagi hangat," katanya.


"Pak, aku saja yang menyiapkannya."


Hanin merebut gelas plastik yang akan disiapkan oleh pak Ikhwan. Mataku menatap tajam. Aku tak suka pak Ikhwan berdekatan dengan Hanin. Hanin milikku.


"Hanin, biarkan Pak Ikhwan saja, kalau tanganmu kepanasan bagaimana? Dan untuk Pak Ikhwan, aku sarankan jangan sering-sering menatap Hanin!" tegasku.


"Baik," jawabnya sambil tersenyum.


"Cepat menikah lagi!" titahku.


"InsyaaAllah," jawabnya.


Hanin cemberut. Mungkin merasa kesal dengan sikapku. Wajar kalau aku risih. Pak Ikhwan 'kan duren, duda keren.


Yang katanya lapar ternyata tak main-main. Bersama pak Ikhwan, Hanin lahap menikmati bubur bubur kacang. Pak Ikhwan menikmatinya sambil menghadap tembok. Ia patuh tak menatap Haninku.


"Pak Direktur ingin rujuk," kata pak Ikhwan setelah acara makan bubur kacang selesai. Hanin terdiam.


"Pak Zulfikar memiliki hak rujuk. Jadi, Bu Daini dan Pak Zulfikar bisa rujuk selagi masih dalam rentang masa iddah. Dan batas masa iddah wanita hamil adalah sampai melahirkan," tambahnya.


"A-aku tahu," jawab Hanin, pelan. Aku menyimak dengan seksama.


"Selama masa iddah, suami adalah orang yang paling berhak menentukan rujuk, Bu Daini sudah tahu?"


"Ya," kata Hanin. Suaranya semakin pelan.


"Berpedoman pada surat Al-Baqarah ayat 228, seluruh ulama sepakat bahwa suami lebih berhak untuk menentukan rujuk setelah perceraian. Jika suami ingin rujuk, maka hubungan keluarga bisa dilangsungkan kembali meskipun istri menolaknya. Artinya, Bu Daini tak bisa menolak."


Keterangan pak Ikhwan membuatku tersenyum dan merasa di atas angin. Hanin menunduk, jemari lentiknya memainkan ujung jilbab. Nah, kan? Kamu kalah sayang. Kamu akan menjadi milikku lagi.


"Sebaliknya, ketika istri menghendaki rujuk, sementara suami tidak menginginkannya, maka rujuk tidak bisa dilakukan. Si istri hanya bisa mengajukan permohonan kepada suami agar bersedia untuk rujuk. Namun, permohonan ini hanya berlaku selama masa iddah," lanjut pak Ikhwan.


"Ya, a-aku tahu."


Ternyata, Hanin sudah mengetahui hak dan posisinya. Pantas saja ia tak memaksa pergi meninggalkanku.

__ADS_1


"Bagaimana cara rujuk dengan istri yang sedang hamil? Bu Daini pasti sudah tahu jawabannya. Bisa dijelaskan?" tanya pak Ikhwan. Aku jadi bersemangat. Ingin segera mendengar jawaban dari Hanin.


"Se-selama istri belum melahirkan, dan talak yang dijatuhkan belum 3 kali, ma-maka ... suami masih berhak untuk rujuk. Caranya, ia hanya perlu membawa dua orang saksi untuk proses rujuk. Kemudian, suami mengatakan kepada istrinya dengan kehadiran dua saksi itu, 'Saya rujuk kamu.' Selesai." Jelasnya. Aku langsung tersenyum lebar.


"Bu Daini benar, saya jadi makin kagum."


"Pak Ikhwan!" sentakku.


"Hahaha, maaf Pak. Baiklah, selanjutnya, izinkan saya untuk berpesan pada Pak Direktur agar bisa menjaga lisan dengan baik. Jangan sampai melontarkan kata-kata cerai lagi."


"Demikian pula untuk Bu Daini. Saya berharap agar Ibu tak memaksa Pak Zulfikar untuk menceraikan Ibu. Masing-masing dari pasangan harus bersemangat untuk membangun keharmonisan keluarga."


"Ta-tapi Pak, pernikahan kami berbeda," lirih Hanin.


"Tidak, saya tidak melihat adanya perbedaan. Bu Daini dan pak Zulfikar sangat serasi. Oiya, saya juga ingin menyampaikan kabar baik untuk Bu Daini dan Pak Zulfikar."


"Kabar baik?" Aku keheranan.


"Ya, Pak. Begini, sekarang, Pak Zulfikar dan Bu Daini tak perlu bingung lagi dengan status si kembar saat mereka terlahir ke dunia. Karena mereka bisa mendapatkan akta kelahiran walaupun tidak ada surat nikah."


"Maksudnya?" Hanin tampak penasaran.


"Asalkan ada bukti surat nikah siri yang ditanda tangan di atas materai, akta kelahiran bisa dikeluarkan oleh kantor catatan sipil. Jadi, Pak Zulfikar tak perlu repot-repot mengurus masalah ini. Kita hanya perlu memikirkan untuk sekolahnya saja. Sebab, saat ini, sekolah biasanya akan meminta KTP orang tua, kartu keluarga, akta kelahiran, dan surat nikah untuk kelengkapan administrasi siswa-siswinya."


"Pak Ikhwan serius?" Aku hampir tak percaya.


"Serius, jadi di masa depan, nasab anak ini seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka tetap memiliki hak yang sama sebagai generasi penerus keluarga Antasena. Jika Anda tidak percaya, boleh langsung menanyakannya ke kantor catatan sipil."


"Alhamdulillahirabbil'alamiin," gumamku.


"Sayang, ayo kita rujuk. Pak Ikhwan, cepat bawakan satu saksi lagi. Aku ingin rujuk malam ini juga."


"Ta-tapi Pak," sela Hanin.


"Aku tak perlu persetujuan kamu sayang." Hanin menghela napas. Mau tidak mau, ia tetap harus patuh terhadap peraturan agama.


"Assalamu'alaikuum," belum juga jam dua malam, bodyguardku tiba bersama bang Radit.


"Wa'alaikumussalaam."


"Bang Radit, kamu akan jadi saksi." Aku tak ingin menunda lagi. Bang Radit melongo.


"Pak Ikhwan cepat jelaskan," pintaku.


Lalu, pak Ikhwanpun mejelaskan duduk perkaranya secara singkat, padat, dan lugas. Bang Radit mengangguk. Ia bersedia menjadi saksi rujuk bersama pak Ikhwan.


Lalu, dengan lantang aku berkata ....


"Daini Hanindiya Putri Sadikin, aku rujuk kamu. Mulai saat ini, kamu adalah istriku."


"Sah," sahut pak Ikhwan dan bang Radit. Hanin masih tertunduk.


...🍒🍒🍒...


Pagi ini, penyangga kakiku sudah dibuka. Lega rasanya karena sudah bisa menggerakan kaki walaupun ruang gerakku sangat terbatas.


Malam ini, alhamdulillaah, aku bisa beristirahat dengan tenang setelah rujuk dengan Hanin dan mendapat kabar dari pak Reza kalau papaku sudah sadar.


Saat ini, Hanin sedang mengelap tubuhku. Aku terlentang pasrah. Tengah menikmati kelembutan telapak tangannya yang sesekali menyentuh kulitku.


Pasca rujuk, Hanin jadi pendiam. Setelah shalat Subuh, Listi pulang. Listi memarahi Hanin setelah tahu kalau aku dan Hanin rujuk kembali.


"Kalian pasangan teraneh *se*dunia," kata Listi pada saat itu.


"Kapan bu Dewi mau ke sini?" tanya Hanin.


"Setelah preskon, dia mau ke sini. Kenapa kamu menanyakannya?"


"Takutnya, bu Dewi mau gantian menjaga Anda."


"Kamu keberatan merawatku?"


"Tidak sama sekali," jawabnya sambil mengancingkan bajuku.


"Ya sudah, begini saja, kalau bu Juju datang, kamu ke apartemen ya. Nanti, bang Radit yang mengantar."


"Emm ... aku tidak mau ke apartemen, Pak."


"Lho, kenapa?"


"Apartemen itu terlalu mewah, aku juga takut ketinggian. Aku kurang nyaman," katanya.


"Kalau di rumah mama, mau?"


"Aku mau kost saja."


"A-apa? Ngekost? Sayang, aku harus memberikan tempat yang layak dan nyaman untuk kamu."


"Aku tidak mau terlihat mencolok, Pak. Aku ingin tinggal di rumah yang sederhana."


"Baik, aku setuju. Tapi, untuk beberapa hari ke depan, kamu tinggal di rumah mama atau di apartemen dulu. Bagaimana?"


"Ya," jawabnya singkat.


"Oiya sayang, sini. Aku mau cium kamu."


"Nanti saja," tolaknya.


"Kapan?"


"Setelah Bapak pulih."


"Ha ---." Bibirku tak lanjut bicara. Dewi tiba.


"Pagi Daini, pagi Mas. Aku membawa sarapan sehat untuk kamu dan Daini," sapanya. Wajahnya sumringah. Aku dan Hanin saling menatap.


"Ada salad buah dan masih banyak lagi."


"Terima kasih," kata Hanin.


"Mas Zul harus makan sehat. Ini ada catatan menunya. Besok, prosedur bayi tabung itu akan segera dilaksanakan."


"Apa?! Wi, kamu tidak serius, kan?"


"Serius 'lah Mas. Aku sudah tanda tangan."


"Tapi, aku belum tanda tangan, Wi." Aku tak mengerti jalan pikirannya.


"Aku sudah tanda tangan punya kamu, Mas." Dengan entengnya Dewi mengatakan kalimat itu.


"Wi, Mas belum siap! Cepat batalkan!"


"Mas, apa susahnya 'sih?! Dokter hanya perlu beberapa tetes s p e r m a kamu. Mudah, kan? Begitu saja 'kok repot."


"Bukan masalah mudah atau susahnya, Wi. Ini masalah kesiapanku. Papaku kecelakaan, aku juga belum pulih. Yang menabrak papaku belum ditemukan. Program bayi tabung itu bukan hal yang urgen. Kita bisa melakukannya bulan depan setelah aku pulih."


"Tidak bisa, Mas. Aku tak bisa menundanya lagi."


"Pak Zulfikar, maaf kalau aku ikut campur. Menurutku, tak ada salahnya kalau Bapak mengikuti keinginan Bu Dewi. Harus ada yang mengalah," sahut Hanin.

__ADS_1


"Baik, Mas bersedia. Tapi kamu harus menyetujui pernikahan aku dan Hanin diresmikan. Bagaimana?"


...~Tbc~...


__ADS_2