
"Jangan lama ya ayang dangdosna (dandannya)."
"Teu kedah menor-menor (tidak perlu berlebihan). Ayang sudah cantik alami."
"Enggalan nya (cepetan ya)."
Dia terus saja mengirim pesan. Anehnya, aku merasa senang saat membacanya. Jadinya, waktu bersiapku semakin lama saja.
"Sudah dong, jangan kirim pesan terus, aku enggak tenang kalau diburu-buru begini."
"Oh, muhun atuh (oke deh). Hapunten nya (maaf ya)."
Ya ampun, bahasa Sundanya mengingatkanku pada Daini. Untungnya aku sering belajar bahasa Sunda dari Daini. Jadinya bisa memahami kata-katanya. Walaupun kurang fasih mengucapkan, aku paham maksudnya.
Selesai juga. Aku memakai blus sebatas betis berwarna hitam dengan corak bunga melati dan daun monstera. Lalu membawa tas selempang berwarna putih. Tidak lupa memakai minyak wangi dan body lotion. Memakai lipstik warna merah muda, maskara, dan lensa mata warna cokelat. Tarik napas dulu sebelum melenggang ke ruang tamu.
...***...
Tiba di ruang tamu langsung menunduk karena jadi pusat perhatian. Bapak dan ibu menatapku sambil tersenyum. Pria itu? Kali ini berakting sok biasa saja. Malam ini, di hadapan ibu dan bapakku dia tampak bijaksana. Sama sekali tidak tersenyum. Hanya melihat penampilanku dengan sekilas.
"Cantik banget anak Ibu, hehehe." Ibu memegang bahuku.
"Siapa dulu dong bapaknya," timpal bapak.
"Ya sudah, takut kemalaman, kalian cepat berangkat ya. Oiya, ini ada oleh-oleh untuk neng Daini. Kue lapis bikinan Ibu. Semoga dia suka ya. Ibu bingung mau kasih apa. Secara, neng Daini sudah punya semuanya. Mau apapun tinggal menjentikkan jari," oceh ibu. Lalu pak Sabil berdiri. Begitupun dengan bapak. Akhirnya, aku dan pak Sabil berpamitan.
"Jangan terlalu malam pulangnya ya, A."
"Baik, Bu."
"Titip anak gadis Bapak."
"Siap, Pak." Sambil melakukan gerakan hormat pada bapak. Lalu aku mengucap salam dan pergi.
"Ssst," katanya.
"Kenapa?" Sambil meliriknya. Ternyata, dia sedang mengulurkan tangannya.
"Mau apa?" Aku pura-pura tidak mengerti.
"Gandengan dong," katanya.
"Enggak mau, bapak sama ibuku masih melihat kita tahu."
"Issh, ayang mah lho. Enggak pengertian." Dia cemberut tapi sambil meraih tanganku dan menggandengku hingga ke depan rumahku.
...***...
"Tadaaa," katanya. Dia merentangkan tangannya pada sebuah mobil mewah yang biasa dipakai oleh artis-artis papan atas.
"Mo-mobil siapa ini?"
Mataku membelalak seketika. Tidak munafik, mata cewek mana 'sih yang tidak menyukai mobil semewah ini?
"Mobil punya Aa atuh ayang."
Dia sudah berani meng'Aa'kan dirinya. Lalu ia menekan remot mobil hingga kedua pintunya terangkat dan menyerupai sayap. Bibirku terbuka.
"Wow," decakku.
Jiwa matrealistis muncul seketika dan meronta. Tak sadar mengelilingi mobil tersebut dan berdecak kagum. Pak Sabil tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Untuk sementara, aku melupakan gengsiku. Untungnya cepat sadar.
"Untuk apa bawa mobil kayak gini? Aku enggak suka."
"Yakin kamu enggak suka?" Sambil menarik tanganku agar segera duduk.
"Yakinlah," tandasku. Jelas, aku tidak menyukai mobil ini karena berbagai alasan. Yaitu, tidak suka karena harganya mahal, dan beban pajaknya yang selangit.
"Padahal mobil ini rencananya mau kuberikan untuk kamu."
"A-apa?!" Sampai menelan saliva saking kagetnya.
"Serius," ucapnya dan mulai melajukan kemudi.
"Kalaupun Pak Sabil serius, aku tidak mau. Titik," tolakku.
"Jangang panggil 'pak' lagi dong ayang. Enggak enak tahu didengarnya. Cukup bu Daini saja yang memanggil 'bapak' sama suaminya."
"Emm ...." Ternyata, kalau sudah berdekatan, jadi mati kutu. Ada apa denganku? Kenapa jadi lemah begini?
"Tia, hei, ngobrol atuh," sambil meraih tanganku.
"Jangan pegang-pegang, dosa tahu." Aku malah bicara seperti itu. Padahal, jelas-jelas tadi pagi kami sudah ....
"Hahaha, jika berpegangan tangan saja sudah dosa, apa lagi yang tadi pagi? Berarti dosa banget ya?" katanya.
"Ya," jawabku pendek. Lalu menarik tanganku dari genggamannya.
"Ya ampun, bagaimana bisa Daini tidak tersentuh sama pria sebelum menikah?" gumamku.
"Bu Daini tersentuh 'kok. Malah ternodai sebelum menikah, tapi caranya sangat unik dan tidak bisa disalahkan. Ada yang begitu ya?" timpalnya sambil tersenyum.
"Ya 'sih. Tergantung amal perbuatan kali Pak, em maksudku, A."
"Apa sulitnya memanggil 'Aa?' Kenapa canggung sekali?" protesnya.
"Aku juga enggak tahu."
"Bersikaplah seperti dulu. Seperti Listi yang kukenal sebelumnya," pintanya.
"Aku merasa biasa-biasa saja 'tuh."
"Beda ayang, sebelum dan sesudah jadian, sikap kamu jadi berbeda."
"Atas dasar apa Anda yakin kalau kita sudah jadian?"
"Atas dasar apa? Emm, dasarnya banyak 'kok. Pertama, ayahku dan pak Haikal sudah sepakat untuk menjodohkan kita. Mak comblangnya ternyata pak Zulfikar. Kedua, aku mencintai kamu. Ketiga, kamu dan keluargamu sangat baik dan ramah. Keempat, aku betah tidur di kamar kamu. Kelima, saat di kantorku, kamu tidak menolakku, kamu sangat patuh, lembut, dan manis." Dia bicara demikian sambil mengusap bibirnya sendiri. Maksudnya apa coba?
Aku hanya menghela napas. Jika dipikir-pikir, memang tidak ada salahnya kalau aku mencoba membuka diri untuk pria lain. 'Toh, Akmal juga sudah tidak bisa kuharapkan lagi. Dia akan menikah. Yang artinya, dia sudah melupakanku.
"Aku bahkan rela jadi pria pelarianmu. Menikahlah denganku, Tia." Dia kembali meraih tanganku, lalu mengecup tanganku berulang kali.
"Apa di dunia ini ada pria yang rela jadi pelarian? Aku tidak percaya," sahutku.
"Ada, Tia. Aku buktinya. Jika pak Zulfikar dan bu Daini saja bisa saling mencintai, kita juga pasti bisa. Awalnya, bu Daini juga membenci pak Zulfikar, 'kan?"
"Walaupun aku sahabat dekatnya, aku tidak pernah tahu isi hatinya Daini."
"Baiklah, kita bahas tentang kita saja. Mau 'kah kamu jadi pendampingku?"
"Kalau aku mengatakan tidak mau? Apa Anda akan kecewa?"
"Tidak. Sebab, kalaupun kamu menolak, kamu akan tetap jadi milikku."
Kenapa bisa dia percaya diri sekali? Aku yakin ini ada hubungannya dengan perjodohan itu. Apa bapak dan pak Komjen sudah membuat kesepakatan? Lalu, kenapa pak Sabil mengatakan jika comblang kami adalah pak Zulfikar? Mungkinkah orang sesibuk pak Zulfikar mau mencampuri urusan seperti ini?
"Bagaimana dengan Ipda LD Monita?" Entah kenapa, aku merasa terganggu dengan Polwan itu.
__ADS_1
"Monit sudah kuanggap sebagai adikku. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Ya, kita memang pernah dekat. Tapi hanya sebatas rekan sejawat. Tidak lebih dari itu."
"Oh," sahutku. Lalu merebahkan kepala di kursi mobil dan memejamkan mataku.
"Ayang ngantuk?" tanyanya. Ia melambatkan laju kemudi.
"Sedikit."
"Sebentar lagi sampai, 'kok."
Ya, memang sebentar lagi. Bangunan rumah sakitnya sudah terlihat.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di parkiran rumah sakit, dia segera turun untuk membukakan pintu mobil. Dia bahkan melindungi kepalaku dari benturan ke badan mobil. Sikapnya manis sekali, dan apa yang dilakukannya malah membuatku teringat pada Akmal.
"Jangan terlalu baik. Akmal juga melakukan hal yang sama dengan yang barusan Anda lakukan."
"Tia," dia memegang bahuku. Aku menunduk.
"Aku tahu kamu masih berharap pada pria itu. Ya, 'kan?"
Dia menengadahkan wajahku hingga menghadap ke wajahnya. Aku lemah, aku menatap pak Sabil dengan bibir gemetar karena menahan tangis. Kenapa bisa aku jadi selemah ini? Kenapaaa? Untungnya, area parkiran ini sedang sepi.
"Tia, jangan menangis lagi."
Dia tiba-tiba mendekapku. Gugurlah sudah pertahananku. Tangisanku pecah di dadanya yang tercium wangi sekali. Semua keraguan kuungkapkan dengan isakan yang memilukan. Ya, aku ragu menerima pak Sabil karena tidak tahan dengan cemoohan dan gunjingan dari publik.
Karena berteman dekat dengan Daini, aku sering dituduh mendukung perselingkuhan. Selain itu, aku juga dituduh jika jabatanku saat ini adalah hasil dari nepotisme. Belum lagi tuduhan sengaja dekat dengan Daini agar bisa mendapatkan dewi fortuna seperti halnya Daini. Akmal bahkan menuduhku telah berselingkuh dengan pak Sabil karena aku gila harta dan jabatan.
"Huuu, A-A Abil ...," lirihku. Masih berada dalam dekapannya.
"Ya, beceritalah, Tia. Jangan sungkan." Sambil mengelus bahuku.
"Ke-kenapa aku selalu ragu untuk menerima Anda? I-itu karena ...."
"Ya, karena apa? Katakan saja."
"Karena aku tidak ingin dituduh memanfaatkan Anda demi uang, kekayaan, dan popularitas. Apa Anda tahu kenapa Akmal memutuskanku?"
"Emm, tidak tahu."
"Itu karena Akmal menuding jika aku telah berselingkuh dengan Anda. Huks, jadi ... apa jadinya kalau kita berpacaran atau menikah? Itu berarti tuduhan Akmal akan dianggap benar," jelasku. Lalu berusaha mengurai dekapannya.
"Tia, lihat aku," bisiknya. Aku menengadah, menatapnya.
"Tia, meski kabar kedekatan hubungan dan pernikahan kita bakal menggemparkan dunia, lalu apa salahnya? Katakan padaku di mana letak kesalahannya? Tidak ada, 'kan?"
"Ya, tapi Akmal pasti menuduhku sebagai wanita munafik. Karena sebelumnya, aku membantah memiliki hubungan dengan Anda. Aku juga pasti akan dituduh sebagai cewek matre sama keluarganya Akmal. Sebab, mereka percaya kalau Akmal memutuskanku karena aku lebih memilih berselingkuh dengan pria yang lebih kaya. Aku ---."
"Hei, Tia, dengarkan aku dulu," selanya. Akupun terdiam.
"Tidak selamanya 'menerima apa adanya' jadi pilihan wanita. Justru ada banyak wanita yang lebih menyukai memilih pria kaya sebagai pendamping hidupnya. Jika boleh jujur, hampir semua wanita pasti menginginkan pria sepertiku." Di saat seperti ini, dia masih bisa narsis.
"Apakah benar wanita yang memilih pria kaya identik dengan matre? Menurutku tidak seperti itu. Sebab, di zaman sekarang yang serba harus dibayar dengan uang, rasanya masuk akal kalau para wanita ingin masa depannya terjamin. Menurutku, wanita seperti itu tidak matre. Melainkan realistis."
"Tapi ---."
"Tapi apa?"
"A-apa A Abil tidak khawatir kalau aku hanya memanfaatkan Anda? Ju-jujur a-aku memang ---."
"Masih berharap sama pria bodoh itu?!" Aku mengangguk.
'Tak.' Di menyentil keningku cukup kuat.
"Ternyata, kamu jauh lebih bodoh dari pada si Akmal," sambil meninggalkanku.
"Enak saja Anda menyebutku bodoh! IPK-ku 3,84 tahu!" teriakku.
"Wanita yang masih berharap sama mantan pacarnya yang mau menikah, julukannya apa lagi kalau bukan wanita bodoh. Padahal, di sampingnya sudah ada pria yang jauh lebih tampan, lebih mapan, dan lebih keren," ocehnya. Lalu berlari.
"Eh, Pak! Em, A Abil tunggu."
"Kejar aku kalau berani." Dia malah berlari semakin kencang.
"Hei, Pak! Jangan lari!" terpaksa mengejarnya.
Dia tetap berlari sambil mengejekku dengan cara mencebikkan bibirnya. Kurang asem! Terpaksa menambah kecepatan agar bisa mengejarnya. 'Kok jadi kayak film Vrindavan ya. Main kejar-kejaran di lorong rumah sakit? Yang benar saja.
...***...
Tunggu, harusnya dia masuk ke dalam lift, 'kan? Tapi 'kok liftnya kosong 'sih? Di area ini juga tidak ada lift lain. Dia ke mana, 'sih? Aku mengedarkan pandangan. Saat ada sekelompok pengunjung yang hendak memasuki lift. Seseorang menarikku ke celah yang terletak di antara lift dan tangga darurat. Celah ini begitu sempit.
"P-Pak ---."
"Ssstt," dia menempelkan telunjuknya di bibirku.
"Ke-kenapa kita kayak maling, 'sih? Kenapa sembunyi di sini?" Sungguh tidak nyaman. Tubuh kami berhimpitan.
"Tadi aku melihat ada atasanku, kayaknya ada kerabatnya yang dirawat di rumah sakit ini juga."
"Kenapa harus sembunyi?"
"Karena tempat ini cocok untuk kita," bisiknya. Kebiasaan! Selalu berbisik sembari mencium telingaku.
"Ma-maksudnya?"
"Maaf ya ayang, sepertinya ... aku memang harus segera menikah." Sekarang dia menangkup pipiku.
"A-Anda mau apa?" Gugup.
"Kenapa untuk menjenguk bu Daini saja kamu harus berdandan secantik ini? Biasa saja bisa, 'kan?" Sambil mengendus leherku.
"Eh, Pak. Emm, A Abil, ja-jangan begini. A-ah, do-dosa tahu, A." Aku mendorong bahunya. Tapi karena tempat ini sempit. Semuanya sia-sia saja.
"Aku tahu ini dosa, tapi aku tidak bisa menahannya, Tia. Aku mau ini lagi, bo-boleh ya?" Dia menelusuri bibirku dengan jemarinya.
"A-apa? A-Anda gila ya? A-aku tidak mau, A Abil!" Memalingkan wajah.
"Sebentar saja ayang, please." Dia memosisikan kepalaku ke posisi semula.
"A-Abil ...."
Saat wajahnya kian mendekat, aku tidak bisa bertahan. Segera memejamkan mata agar wajahnya yang good looking itu tidak mengganggu penglihatanku.
"I wanna kiss your lips," berbisik lagi.
Aku bergidik. Napasnya yang terasa panas membuatku merinding. Bersamaan dengan itu, dia merangkul leherku dengan lembut. Aku tidak berdaya, malah menatapnya dengan tatapan yang seolah tengah meminta dan mengiba. Tidak bisa! Aku tidak bisa menjadi seperti Daini yang alim. Aku tidak bisa menjaga diriku dari zina kecil ini.
Faktanya, aku telah terpedaya oleh bujuk dan rayunya. Aku bahkan membuka mulutku perlahan dan membiarkannya bersenang-senang dengan bibirku. Mengapa hal-hal yang berdosa selalu nikmat saat dilakukan?
Jawabannya sederhana. Yaitu, karena manusia cenderung melanggar apa yang dilarang. Harusnya, aku menanamkan ke dalam diriku jika sesuatu yang berdosa itu akan merugikanku. Baik merugikan di masa kini, maupun di masa mendatang.
Napasku dan napasnya mulai menderu. Dadanya naik-turun. Demikian juga dengan dadaku. Rasanya seperti ingin meledak. Ia mengusap bibirku setelah melakukannya sambil tersenyum.
"Terima kasih," ucapnya.
__ADS_1
Lalu ia menuntun tanganku untuk keluar dari ruangan sempit itu dan bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku diam seribu bahasa, menunduk, dan berdebar-debar. Jika ragaku telah sepasrah itu, apa itu artinya jiwaku sudah menyukainya?
...****...
"Aku mau cek gula darah," katanya saat kami berada di dalam lift.
"Memangnya A-Abil ada penyakit diabetes?" tanyaku. Masih dalam keadaan menunduk.
"Penyakit diabetes 'sih tidak ada. Tapi, 'kan aku baru saja menghisap yang manis-manis." Untungnya, di *l*ift ini hanya ada aku dan dia.
"A-apa? Jangan bahas itu." Aku menjauhinya dan menghadap ke dinding lift. Tapi, dia mendekat lagi dan memelukku dari belakang.
"Tubuhmu enak dipeluk. Tidak terlalu gemuk, juga tidak terlalu kecil."
"Pak Sabil, lepas!"
"Call me A Abil or Aa."
"Iya, A. Lepas! Kalau ada orang bagaimana?"
"Kan tinggal jawab saja kalau kita adalah pengantin baru."
'Ting.'
Sampai. Dia melepasku. Aku menghela napas, dan pipi ini masih terasa panas karena menanggung malu.
"A Abil, tunggu. Aku baru ingat sesuatu."
"Kenapa?"
"Kenapa kita tidak membawa apa-apa? Bukankah harusnya membawa kue lapis buatan ibuku?"
"Ya ampun, aku lupa. Aku juga sudah membeli parsel untuk bu Daini. Ya sudah, ayang tunggu dulu di sini ya. Aa mau balik ke mobil lagi." Dia bergegas. Kembali ke dalam lift.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di kamar Daini. Aku langsung memeluknya. Setelah menyapa Daini, pak Sabil duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Di kamar ini hanya ada Daini dan Ipi. Ipi adalah salah satu ART di rumah pak Aksa. Di depan kamar, ada pak Agus dan pak Budi.
"Kamu baik-baik saja, 'kan Neng?"
"Alhamdulillah, Kak."
Daini sedang ditranfusi darah dan juga terpasang oksigen. Aku tidak menanyakan alasan kenapa dia kabur. Aku hanya bertanya seputar kondisinya dan calon bayi kembarnya.
"Pak Direktur kemana?"
"Sama bu Dewi," jawabnya dengan tenang.
Tidak ada ekspresi kesedihan sedikitpun di wajahnya. Ya ampun, terbuat dari apa hati kamu, neng? Lagi pula, 'kok pak Direktur tega 'sih meninggalkan Daini? Sudah tahu Daini lagi sakit! Ishh! Dasar laki-laki! Dia pasti melampiaskan nafsunya pada bu Dewi karena Daininya sedang sakit.
"Kenapa, Kak?"
"Tidak apa-apa, Neng. Aku hanya sedang kesal sama seseorang." Pak Sabil langsung melirikku. Ia pasti mengira aku kesal terhadapnya.
"Sabar dong, Kak." Daini mengusap bahuku. Padahal, yang harus sabar itu harusnya kamu, 'kan?
"Ya ampun Neng Dai. Kamu mengagumkan tahu," pujiku.
"Aku izin keluar dulu. Mau ngobrol sama pak Agus dan pak Budi," kata pak Sabil.
"Silahkan," sahut Daini. Lalu Ipipun menjauh. Seolah sedang memberi kesempatan padaku dan Daini.
"Apa Kak Listi dan pak Sabil sudah jadian?" Tiba-tiba saja bertanya demikian.
"Kepo 'deh. Ibu hamil dilarang kepo. Oiya Neng, apa dalam Islam perjodohan itu diperbolehkan?"
"Hehehe, Kakak dijodohkan sama pak Sabil ya?"
"Neng, jawab dulu."
"Kak, pada dasarnya, dijodohkan atau perjodohan dalam Islam itu tidak terlarang dalam syariat. Apabila orangtua ingin menjodohkan atau memilihkan jodoh untuk anaknya dan kemudian anaknya menerima dan merasa cocok tentu ini adalah hal yang sangat baik, bukan?"
"Ya," aku mengangguk.
"Yang menjadi masalah utama dalam perjodohan adalah, ketika orang tua memilihkan jodoh untuk anaknya namun anaknya merasa tidak cocok, tapi si anak tetap memaksakan keadaan untuk menerima karena merasa tidak enak atau takut durhaka kepada orangtuanya. 'Nah, perjodohan seperti itu yang tidak baik, Kak."
"Hmm, begitu ya, Neng?"
"Intinya, setiap anak berhak menolak perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya serta boleh memilih jalan hidup dan jodohnya sendiri. Islam itu adil, Kak. Ada sebuah hadist yang artinya seperti ini, 'Perempuan yang telah janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, dan perempuan yang masih perawan diminta izin dari dirinya dan izinnya ialah diamnya.' Begitu Kak," tambahnya.
Jadi, kalau aku diam saja berarti setuju? Aku merenung.
"Singkatnya, perjodohan hanyalah salah satu cara untuk menikahkan dua insan. Ya, orang tua memang dapat menjodohkan anaknya. Tapi hendaknya meminta izin dan persetujuan dari anaknya terlebih dahulu. Tujuannya tentu saja agar pernikahan yang diselenggarakan didasarkan pada keridhaan masing-masing pihak dan bukan karena keterpaksaan."
Aku menyimak dengan seksama sambil menatap wajahnya. Daini yang sedang serius terlihat semakin cantik.
"Sebab, pernikahan yang dibangun atas dasar keterpaksaan, jika terus berlanjut akan mengganggu keharmonisan rumah tangga. Jangan sampai makna pernikahan jadi ternodai akibat perjodohan. Tujuan nikah itu 'kan untuk ibadah, Kak. Bukan untuk mengundang malapetaka. Wallahu a'lam," pungkasnya.
"Terima kasih wejangannya, Neng. Pantas kamu bisa sesabar ini. Level kamu dalam memaknai sebuah pernikahan jauh di atasku."
"Tidak seperti itu, Kak. Aku juga masih harus belajar dan belajar."
"Neng," aku merangkulnya.
Walaupun dia terlihat tegar, dalam batinnya, mungkin saja tengah sedih dan kesepian karena pak Direktur tidak berada di sisinya. Pak Direktur, saat ini bisa jadi sedang enak-enakan sama bu Dewi.
"Huuu."
'Tuh, 'kan? Apa kubilang? Daini pasti sedang sedih. Pak Direktur super tega!
Aku memeluknya erat. Tidak terasa, airmatakupun ikut terjatuh. Tiba-tiba, seseorang menarik Daini. Aku terkejut.
"P-Pak Direktur?"
"Pak Zulfikar?" Dainipun terkejut.
"Bu-bukankah Anda mau menginap?" tanya Daini.
"Yang penting, aku sudah menunaikan kewajibanku. Maaf karena meninggalkanmu," lirihnya.
Pak Zulfikar memeluk Daini. Matanya berkaca-kaca. Aku terdiam. Jarang-jarang melihat pak Direktur dalam keadaan seperti itu. Dan aku galfok sama rambutnya pak Direktur. Rambut pak Direktur terlihat masih basah, telinga kanannya memerah, dan seperti ada bekas cakaran di belakang lehernya. Aku tidak sengaja melihatnya karena posisi pak Direktur membelakangiku.
"Apa Anda baik-baik saja?" Daini memeriksa pak Direktur.
"Jangan mengkhawatirkan aku, sayang. Aku sudah melakukan kewajibanku sesuai dengan permintaan kamu," jawab pak Direktur.
"Terima kasih," Daini tersenyum. Lalu pak Direktur mengecup bibir Daini. Aku menunduk.
"Pak, ada Kak Listi," protes Daini.
"Biarkan saja. Lagi pula, dia dan pak Sabil sudah pernah melakukannya," duga pak Direktur.
"Apa?!" Aku terperanjat. Apa pak Sabil becerita sama pak Direktur? Tidaaak!
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1