
Aku memerhatikan dan menyimak semua ucapan dan sikapnya. Selesai shalat Maghrib, aku melihat dia mencium tangan Zulfi dengan cara yang menurutku tak biasa.
Ia memegang eratΒ tanganΒ Zulfi, kemudian menghidu tangan itu sambil menundukkan kepalanya. Lalu mencium punggung tanganΒ Zulfi menggunakan hidung dan bibirnya dengan penuh takdzim.
Selanjutnya, mengecup dan menghidu telapak tangan Zulfi sebanyak tiga kali. Lantas Zulfi mencium puncak kepala Hanin dan keningnya. Aku termangu melihat pemandangan itu.
Iri? Entahlah.
...πππ...
Pemandangan di satai taichanpun tak kalah menarik, wanita itu benar-benar menjaga pandangannya dari bersitatap dengan lawan jenis. Saat melintas di hadapan orang lain, ia membungkuk sopan dan berkata ....
"Mohon maaf, permisi."
Kesantunannya tak diragukan, ia juga menebar senyum pada ibu-ibu atau para wanita. Bahkan mengobrol akrab dengan pengamen cilik jalanan.
Cara ia makanpun tak luput dari pantauanku. Dia begitu menyusukuri dan menghargai makanan. Dia tak menyisakan bekas di piringnya. Lanjut menjilat ujung jemari tangannya.
Selain itu, dia juga sibuk sendiri mendekatkan minuman ke hadapanku dan Zulfi. Bahkan sempat bertanya padaku ....
"Pak Dhimas mau minuman apa? Apa nasinya mau ditambah?"
Tadi, dia juga membantu Zulfi memisahkan kulit ayam dan dagingnya. Zulfi memang tidak suka kulit ayam. Seusai makan, ia meminta izin pada Zulfi untuk membeli nasi dan ayam.
"Untuk apa sayang?" tanya Zulfi.
"Untuk kucing Pak. Tadi, di perjalanan, aku melihat kucing liar."
Ya ampun, wanita ini benar-benar langka.
...πππ...
Benar saja, di perjalanan, saat melihat kucing liar, ia memintaku menepikan mobil.
Dia memberi makan kucing-kucing tersebut sambil mengelusnya. Saat Zulfi turun dari mobil, aku juga ikut turun.
Kami bertiga akhirnya bercengkrama dengan kucing liar. Lagi, aku mencuri pandang. Wanita ini membawa aura positif.
Apa dia melakukan ini karena ingin mendapat nilai plus dari Zulfi? Bisa saja 'kan dia pura-pura baik untuk menarik simpati keluarga Antasena? Tapi, melihat bagaimana Sesilia menyukainya, kupikir, wanita ini memang tulus.
Setelah kembali ke dalam mobil, ia kembali meminta izin pada Zulfi untuk meminjam ponsel. Sepertinya, akan melanjutkan membaca terjemaahan. Dia tak menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak penting.
"Hoam," dia menguap, menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Rebahan di sini sayang." Zulfi merangkul bahunya.
"Hmm, kalau Bapak pegal bilang ya."
"Tidak akan merasa pegal sayang. Tidur saja, kalau sudah sampai, nanti aku bangunkan."
Zul mengusap bahunya, lalu mengecup keningnya. Aku menghelas napas. Inginnya tak mengintip. Tapi ... aku penasaran.
...πππ...
Padahal, om Aksa baru dijadwalkan pulang besok pagi, tapi awak media sudah ada yang datang.
Suasana di halaman rumah om Aksa tampak ramai. Mobilku terparkir di depan gerbang. Sedang menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke sana. Wanita itu masih tidur. Zulfi belum membangunkannya.
"Zul, ada baiknya kalau kita menghindari media. Bagaimana kalau kamu membawanya ke tempat lain?"
"Tak perlu mengaturku Dhimas. Aku bisa memilih jalan hidupku sendiri. Aku lelah terus bersembunyi dari pernikahan ini. Aku justru ingin memberitahu dunia kalau aku memilikinya."
"Tapi kamu harus memikirkan perasaan dan kenyamanan dia. Apa dia nyaman jika tiba-tiba jadi buah bibir? Selain itu, sebagian keluarga besar pasti sudah tahu kalau kamu poligami. Setelah kejadian tadi, aku yakin Gendis atau tante Yuze pasti sudah menjelaskannya. Masalahnya adalah Anggraita. Kalau perlu, kamu bicara empat mata sama dia agar merahasiakan skandal kamu."
"Skandal kamu bilang?! Ini bukan skandal, Dhimas!" sentaknya hingga Dainipun terbangun
"Maaf sayang, kaget ya?" Zulfi sadar telah membangunkan istrinya secara tak sengaja.
"Tak masalah, Pak. Ya ampun, sudah sampai ya?" Sambil merapikan jilbabnya.
"Pak Direktur!" Seorang pekerja menghampiri mobilku dan mengetuk kaca.
"Ada apa?" Aku membuka kaca.
"Pak Dhimas, saya harus bicara dengan Pak Direktur."
"Ada apa 'sih?" Zulfi melongokan kepalanya.
"Pak, kata bu Yuze, Bu Daini harus segera disembunyikan. Ada media yang sudah mengetahui identitas Bu Daini," terangnya.
"Apa?!"
Aku dan Zulfi terkejut. Saat kulirik, wanita itupun tampak gelisah.
"Ya, Pak. Media meminta konfirmasi. Mereka datang ke sini untuk mengkormasi masalah itu, bukan untuk menyambut kedatangan pak Aksa," tambahnya.
"Kurang ajar! Ini pasti ulah Anggraita!" dugaku.
Padahal, aku sudah berusaha agar tak peduli dengan masalah mereka.
"Sebentar, aku hubungi mama dulu." Zulfi berusaha menghubungi tante Yuze.
"Kok tak diangkat 'sih?!"
__ADS_1
Dia terlihat kesal. Akupun mencoba menghubungi Gendis.
"Dhimas, kamu antar Zul dan Daini pergi dari sini ya. Sesilia biar aku yang jaga. Cepat!" seru Gendis.
Lalu panggilan terputus sebelum aku mengatakan apapun.
"Tapi, Ma." Zul sedang melakukan panggilan dengan tante Yuze.
"Pak Dhimas, Pak Direktur, cepat! Sepertinya wartawan akan ke sini," ucap penjaga sambil menunjuk ke kerumunan wartawan yang menyadari keberadaan Zulfi.
"Sial!" Zulfi memutus panggilan dengan tante Yuze.
"Apa itu Pak Direktur?"
"Istri mudanya kayaknya ada di sana juga!"
"Pak Direktur!"
Para wartawan berlarian ke luar gerbang untuk mencapai mobilku. Mereka juga menyalakan kameranya.
Daini?
Wanita cantik itu gemetar, ia menutupi wajahnya dengan jilbab. Dia pasti ketakutan.
"Tenang sayang, ada aku." Zulfi mendekapnya.
"Huks." Dia menangis.
"Dhimas, cepat pergi!"
Zulfi gusar setelah mendengar tangisannya. Akupun demikian. Raut kesedihan dan ketakutannya membekas di dalam ingatanku.
"Sulit Zul! Mobilku terjebak mobil lain!" keluhku. Mataku beredar mencari celah untuk pergi sebelum wartawan itu datang.
Terlambat.
Mereka sudah mengerumuni mobilku. Bahkan ada yang membidikkan kamera melalui kaca mobil.
"Pak Zul, kami ingin bicara."
"Ya Pak, buka pintunya Pak!"
"Kami butuh penjelasan Bapak!"
Mereka terus merangsek. Zulfi bergeming, ia menelusupkan kepala wanita itu di dadanya.
"Kenapa Bapak lebih memilih daun muda?"
Mereka seolah melupakan etika jurnalistik. Padahal sudah dihalau oleh petugas keamanan yang menjaga rumah om Aksa dan petugas keamanan komplek. Tapi tetap bersikukuh.
Terjadilah aksi dorong-mendorong, tarik-menarik, dan sikut-menyikut antara petugas keamanan dan awak media.
"Apa wanita yang di dalam mobil itu si pelakor?"
"Hey, kamu! Kalau kamu bukan pelakor, cepat berikan keterangan pada kami!"
Ada juga mulut wartawan yang tak makan bangku sekolah. Mereka asal tuduh. Walau aku belum tahu duduk perkaranya. Tapi, aku tak mau menghakimi dia sebagai pelakor.
"Tahan-tahan!"
"Hey! Jangan main kasar 'dong!" Suasana jadi kacau-balau.
'Tiiin.'
Aku menyalakan klakson agar mobil di depanku begeser. Sekalian saja aku tabrak sedikit agar pemiliknya menyadari.
'Bruk.' Aku menabraknya.
"Bagaimana kalau mereka datang ke Bandung, Pak?"
"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja."
"Huks, aku tak masalah difitnah. Tapi ... aku tak mau keluargaku jadi kambing hitam gara-gara msalah ini," lirihnya.
"Ssshhh ..., sabar ya sayang. Aku akan mencari jalan keluarnya."
"Pak, apa aku temui wartawan saja? Apa boleh?" pintanya.
Aku simpati, aku kasihan pada wanita itu.
"Tidak sayang. Aku tidak ridho wajah kamu terekspos. Untuk sementara waktu, kita menghindar dulu ya."
"Sampai kapan, Pak? Huuks ...."
"Begini saja, kamu tetap di dalam mobil bersama Dhimas. Aku yang keluar. Aku akan menjelaskan pada mereka."
"Tidak Pak, kalau Bapak keluar, aku juga ikut."
"Zul, kamu harus mematangkan rencana dulu. Barulah melakukan preskon. Jangan bertindak seorang diri Zul. Libatkan polisi, pengacara dan keluarga besar juga. Akupun siap membantu," tawarku.
"Bagaimana menurut kamu sayang?"
"Kalau aku tak boleh menemui wartawan, berarti ... terserah Bapak saja."
__ADS_1
'Priiit.' Terdengar suara peluit.
Ada polisi. Syukurlah, mereka pasti ditelepon oleh salah satu keluargaku.
"Bubar!" teriak polisi. Merekapun bubar sambil bergumaman kesal.
Zulfi akhirnya sepakat pulang ke apartemen.
Untuk pertama kalinya, aku jadi sopir pribadi. Demi apa coba. Apa demi mencuri pandang pada wanita itu? Ini gila 'sih. Tapi, faktanya memang demikian.
...πππ...
Dia takut ketinggian," jelas Zulfi.
Sekarang, kami sedang berada di dalam lift menuju unit. Dia membelakangi kaca. Lalu ponsel Zulfi berbunyi.
"Ya Wi, ada apa?"
"...."
"Wi, Mas tak bisa pulang sekarang. Kondisi di rumah sedang genting. Ada wartawan juga. Lagi pula, malam ini adalah jadwalnya aku bersama Hanin."
"...."
"Astaghfirullah, baik aku ikuti kemauan kamu, tapi pulangnya agak malam." Sambil menutup panggilan dengan wajah gusar.
"Kalau memang jadwalnya bersma Daini, ya kamu harus tegas Zul," protesku.
"Sudahlah Dhimas! Kamu tak tahu apa-apa. Jangan ikut campur!" sentaknya.
...πππ...
Setibanya di unit, Daini masih sempat menghidangkan kue dan membuatkan teh manis untuk aku dan Zul. Walaupun sedang dalam masalah, namun ia tetap tersenyum saat mempersilahkan aku dan Zul untuk menikmati minuman dan kue tersebut.
"Sayang, aku harus pergi. Aku tak bisa lama-lama di sini. Kami harus segera berunding untuk mengatasi prasangka wartawan. Kemungkinan akan preskon malam ini juga."
"Ma-maaf, semua ini gara-gara aku." Ia menunduk seraya mengusap airmatanya.
"Sayang, jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Ini takdir. Kamu sendiri yang sering mengingatkanku kalau masalah ini adalah takdir yang harus dihadapi, ya 'kan?" Zul menangkup pipinya. Aku hanya diam dan menyimak.
Andai saja tak melanggar norma, ingin sekali aku meminta izin pada Zulfi untuk menemaninya. Astaghfirullah, apa yang kupikirkan 'sih? Aku menjambak rambutku sendiri.
"Dhimas kamu ke parkiran duluan ya, nanti aku menyusul," usirnya.
"Ya."
Akupun berlalu setelah sejenak menatapnya. Dia sepertinya tak bahagia hidup bersama Zulfi.
Kenapa dia mau mengorbankan diri dan memilih terjebak di kehidupan rumah tangga yang rumit ini? Kenapa harus merebut ranjang wanita lain? Apa jangan-jangan ....
Dia terpaksa berbagi ranjang?
Di dalam lift, aku melamun. Lucunya, wajah dan sosok wanita itu terus memenuhi imajinasiku.
...πππ...
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Benar kamu tak masalah ditinggal sendiri?"
"Ya, Pak. Aku akan berdoa semoga Bapak dan keluarga bisa mengatasi masalah ini."
"Pulang dari rumah mama, aku akan menemui Dewi. Kemungkinan tak bisa menginap di sini."
"Tak apa-apa, Pak," lirihku.
"Kuat ya sayang. Aku yakin masalah ini akan segera berlalu." Aku mengangguk lemah.
"Pak, tolong usahakan agar wartawan itu tak mengganggu keluargaku. Kumohon," ratapku.
"Akan aku usahakan sayang, tapi ... kamu juga harus ikhlas karena siap atau tidak siap, nama kamu pasti akan terseret."
"InsyaaAllah, aku ikhlas," jawabku.
Sebelum pergi, dia menciumi bibirku beberapa kali. Lalu mencium perutku, kemudian memelukku lama. Aku berusaha keras agar tak menangis lagi.
'Ning-nong.'
Beberapa saat setelah pak Zulfikar pergi, bel unit berbunyi. Aku kaget.
Siapa ya?
Segera mendekat untuk melihatnya. Perlahan mengintip. Ada dua orang wanita dan seorang pria. Semuanya memakai masker. Aku tak mengenal mereka.
Buka?
Jangan?
Aku ragu membukanya karena jantungku tiba-tiba berdegup cepat.
Yaa Rabb, apa yang harus kulakukan?
...~Tbc~...
__ADS_1