Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Kamar Bintang Tujuh


__ADS_3

Zulfikar Saga Antesena


"Sayang bangun. Sudah jadwalnya pumping."


Aku mencubit pelan pipinya. Karena ulahku, ia sepertinya kelelahan sampai-sampai belum sempat memompa ASI.


"Hhm, A-ASI?" Jiwanya belum terkumpul. Aku mengusapnya perlahan agar ia segera menyadarinya.


"Oiya, astaghfirullaah! Aku belum pumping, Mas!" Segera bangun dan panik.


"Hei sayangku. Tenang dong." Aku menahan bahunya.


"Aku tidak bisa, Mas. ASI itu nutrisi terbaik. Aku harus pumping sekarang."


Ia bangun dengan sedikit meringis. Itu pasti karena ulahku. Aku tadi menyerangnya membabi buta, dari berbagai arah dan posisi. Mengingat momen itu, membuatku menginginkannya lagi. Aku tersenyum saat menatapnya yang berjalan pelan menuju kamar mandi. Selimut itu menutupi sebagian tubuhhya.


Namun, punggung dan lekuk tubuhnya yang indah masih terekspos dengan jelas. Aku menelan salivaku. Jujur, itu membangkitkan hasratku. Ingin menyerangnya lagi, tapi aku tahu diri. Hanin harus makan, istirahat dan pumping. Segera menyusulnya ke kamar mandi. Ia terkejut.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Hanya ingin mandi bersama," jelasku.


"Jangan bohong." Ia mengurung tubunya dan mematung di sisi bathup.


"Serius sayang. Ayo cepat naik." Menarik tangannya agar segera naik ke bathup.


"Baik, tapi aku tidak bisa mandi lama-lama, Mas. Soalnya mau pumping," kilahnya.


"Aku mengerti, setelah pumping, kita ke hotel."


"Hotel? Pak, masksudku Mas, aku kangen sama Raja dan Cantik. Aku tidak bisa meninggalkan mereka, Mas."


"Sayang, kita di hotelnya tidak menginap 'kok. Aku juga 'kan rindu sama Raja dan Cantik."


Padahal, kamar yang sudah kusiapkan adalah kamar hotel bintang tujuh. Aku bahkan telah meminta seseorang untuk menghiasnya sedemikian rupa.


"Tapi Mas, ku sudah meninggalkan Raja dan Cantik hampir setengah hari. Kalau tujuan kita ke hotel hanya untuk bersenang-senang seperti tadi, kita bisa melakukannya di rumah. Akan kupastikan Cantik dan Raja tidak mengganggu kita." Baru kali ini ia berubah pikiran dan menolak permintaanku.


"Mas, please ... kita tidak perlu ke hotel ya. Cancel saja," pintanya sambil menciumi leherku. Seketika, aku luluh dan tidak berdaya.


"Baiklah," sahutku.


Lalu sebelum ia menanggapi, aku cepat-cepat memagut bibirnya. Awalnya Hanin terhenyak, namun di detik selanjutnya, ia melakukan balasan atas aksiku.


...⚘️⚘️⚘️...


Listi Anggraeni Mutiara


"Listi, Hanin tidak ingin ke hotel. Jadi, kamu gunakan saja kamarnya untuk kamu dan pak Sabil. Tolong jangan ditolak. Anggap saja itu sebagai hadiah dariku karena kinerja kamu sangat bagus. Jangan membantah. Aku sudah menyiapkan banyak hal di kamar itu. Gunakan sebaik mungkin."


Mata ini membelalak saat membaca pesan dari pak Direktur. Aku sampai menepikan kemudi untuk mengulang membacanya. Lalu menelepon pihak hotel untuk mengkonfirmasi.


"Kamar atas nama pak Zulfikar dan bu Hanin sudah kami siapkan."


Itu yang dikatakan petugas hotel. Aku masih merenung sambil memeluk kemudi. Apa yang harus kulakukan? Sedangkan malam ini, aku sudah berjanji untuk menginap di rumah pak Sabil. Saat ini, aku bahkan sedang dalam perjalanan menuju kantornya. Sengaja pulang lebih cepat agar bisa menjemputnya. Lalu tiba-tiba ada perasaan tidak percaya diri.


Apakah pesanku sudah dipahaminya? Apa dia memercayaiku dan mau bersabar menghadapi sikapku? Apa sikap dinginnya akhir-akhir ini karena mulai tidak menyukaiku. Tidak, aku jangan berasumsi. Kata Daini, dalam menjalin hubungan itu harus terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman dan miskomunikasi.


...⚘️⚘️⚘️...


Tiba di depan kantornya, aku menunggu di seberang jalan. Sudah ada beberapa mobil dan motor yang keluar dari sana. Karena aku yang jemput, pak Sabil mengatakan akan meyimpan mobilnya di kantor. Kemana dia ya? 'Kok belum muncul 'sih? Aku meraih HP untuk menghubunginya.


'Tok-tok.'


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu mobil dan membuatku kaget. Semakin kaget saat mengetahui pelakunya.


"A Abil? 'Kok sudah di sini?" Segera membuka pintu mobil dan menyalaminya.


"Hahaha, ayang kaget ya? Maaf, sebenarnya tadi aku sengaja mengendap-endap di belakang mobil kamu. Maksdnya mau membuat kejutan kecil."


"Ya ampun niat banget. Aku sudah menunggu lumayan lamu tahu."

__ADS_1


"Maaf ayang. Ya sudah, sini kuncinya. Aa saja yang nyetir."


"Jangan, A. Aku saja. Aa duduk manis, oke?" pintaku sambil menautkan alisku karena heran dengan sikap ramahnya. Kemarin-kemarin ia hanya bicara saat ditanya dan cuek.


"Baiklah."


Ia lantas duduk di samping kemudi dan membantuku memakai sabuk pengaman. Rambutnya harum sekali. Padahal pulang kerja, namun penampilan tidak ada yang berubah. Tetap rapi dan segar.


"Bunda sudah masak makanan spesial untuk kita. Bunda kegirangan saat aku memberitahunya kalau kamu akan menginap."


"A Abil, sebenarnya ...." Aku harus memberitahunya tentang pesan dari pak Direktur.


"Kenapa, hmm?" Ia memeluk bahuku, terus menatapku sambil sesekali memainkan ujung rambutku.


"Aku dapat pesan dari pak Direktur." Menyerahkan ponselku kepadanya.


"Hahaha, apa pesan tentang kamar hotel? Aku sudah tahu, 'kok."


"Apa?!" Aku terkejut. Ternyata ia sudah mengetahuinya.


"Terus, ba-gaimana dengan kamarnya?"


"Setelah makan malam sama ayah dan bunda, kita ke sana. Sayang 'kan kalau kamar hotelnya tidak digunakan? Mubazir."


"Setuju," sahutku.


"Besok, baru kita menginap di rumahku. Kamu mau 'kan?"


"Mau."


"Terima kasih ayang. Ia mencium tanganku.


"Aku lagi nyetir, A. Jangan ganggu dulu." Menarik tanganku.


"Siap," katanya. Namun tetap tidak berpaling dari menatapku.


"Kenapa enggak lihat jalanan saja, A? Aku jadi grogi tahu."


"Ya, aku tahu itu wajar. Tapi, lama-lama ditatap akunya jadi malu, A."


"Hahaha, kenapa harus malu? Aku pernah melihatnya."


"Issh, A Abil!" Spontan memukul bahunya.


"Maaf, otakku suka mendadak mesuk kalau lihat ayang. Hahaha," tawanya kian menjadi. Sekalian saja aku injak gas untuk mengerjainya. Eh, ia malah senang saat aku ngebut.


"Bagus, lebih kencang ayang. Jalanannya sedang lenggang, 'kok. Lumayan aman untuk ngebut," katanya. Oh ya ampun, aku lupa kalau dia adalah polisi.


Aku memelankan kemudi saat jalanan mulai ramai. Lalu lintas di sekitarku ramai lancar, dan dia masih saja memandangiku. Haish, bucinnya berlebihan. Pipiku jadi memerah. Tiba-tiba merasa bahagia karena pak Sabil mengagumiku.


...⚘️⚘️⚘️...


"Sayang, apa kabar, Nak? Kamu ke mana saja? Katanya mau gantian nginap di rumahnya?" Bunda berhambur memelukku. Sudah kuduga, ia pasti bertanya prihal aku yang ingkar janji.


"Punten (maaf) Bunda. Mulai hari ini, aku akan memperbaikinya."


Aku mencium tangan bunda. Ayah belum tampak. Kata pak Sabil, ayah ada acara penting, namun sudah berjanji akan pulang untuk makan malam bersama.


"Ada yang bisa aku kerjakan, Bun?"


Beginilah rasanya kalau berada di rumah mertua yang di dalamnya sudah ada asisten. Aku bingung mau mengerjakan apa.


"Hahaha, kamu lucu 'deh. Ya enggak perlu melalukan apapun, Nak. Kamu cepat susul a Abil saja ya."


Malah mendorong pelan bahuku agar mengikuti pak Sabil. Mana aku enggak bawa oleh-oleh lagi. Ya ampun, menantu macam apa aku ini.


"Ba-baik Bunda." Bergegas menyusulnya.


Terakhir menginap di kamar ini adalah dua minggu yang lalu. Saat itu, aku lagi datang bulan.

__ADS_1


"Kalau pak Sabil mau ganti baju, Kak Listi harus inisiatif membantunya membuka bajunya."


Jadi ingat dengan wejangan Daini.


"A Abil, aku bantu ya."


Aku memberanikan diri mendekat dan membantu membuka kemejanya. Pak Sabil mengernyitkan alisnya sambil tersenyum.


"Aku bisa sendiri ayang."


"Tidak masalah, A. Aku mau membantunya, jangan menolak."


Aku berjinjit. Dia memegang pinggangku. Adegan ini teramat manis. Kami saling berpandangan dan menebar senyum. Adegan selanjutnya, ia mencium bibirku.


"Uhm ...." Aku berusaha menolak. Kenapa? Karena pintu kamar belum tertutup. Aku takut ada yang memergoki.


"A-aku tidak bisa berhenti ayang," sekarang sedang menghidu tengkukku.


"A Abil, pintunya masih terbuka."


"Oiya. Tunggu. Aku tutup pintunya dulu ya." Ia berjalan cepat untuk mengunci pintu. Setelahnya, kembali menghujani bibirku dengan kecupan.


"A Abil, sebentar lagi mau Maghrib. Pamali tahu." Aku menahan tangannya yang hendak menelusup ke dalam bajuku.


"Oiya, astaghfirullah. Maaf ayang."


Lucu sekali. Telinganya sampai memerah. Ternyata, sikap dinginnya langsung mencair setelah aku menyatakan sikap akan memperbaiki pernikahan gantung ini.


"Sabar atuh, A. Malu tahu kalau ketahuan bunda atau ayah."


"Ayah dan bunda tahunya Aa sudah tidur sama kamu."


"Oya? 'Kok mereka bisa mengira hal seperti itu? Apa Aa cerita?"


"Enggak ayang. Mereka hanya nanya, 'bagaimana A? Apa sudah berhasil?' Aku jawab 'sudah berhasil.' Begitu ceritanya ayang. Jangan marah ya, aku takut gara-gara masalah ini kamu jadi kesal."


"Tidak A Abil. Sudah kubilang, aku mau memperbaiki semuanya. Aku sudah belajar dari Daini. Kali ini, aku tidak akan mengambil sisi buruk dari pernikahan Daini. Aku akan mengambil sisi baiknya."


"Terima kasih, Tia."


Ia kembali memelukku. Lalu adzan Maghrib berkumandang, kamipun bersiap untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di mushola. Pak Komjen belum datang, kata bunda, akan tiba di rumah ini dalam waktu 30 menit lagi.


"Para sahabat di jaman Nabi sangat menjaga shalat berjamaah. Mereka berusaha keras untuk bisa shalat berjamaah meskipun dalam keadaan sakit dan harus dipapah oleh orang lain. Bahkan, ketika Nabi sakit parah menjelang akhir hayatnya, Beliau berkali-kali pingsan dan berkali-kali meminta air wudhu, Beliau tetap pergi ke masjid untuk shalat berjamaah dengan dipapah oleh dua orang sahabat karena kaki Beliau tidak bisa menapak dengan baik."


Aku sedang mendengarkan tausiyah singkat dari imam mushola yang berada di rumah pak Sabil.


"Beribadahlah kita kepada-Nya, seolah-olah kita sedang berada di hadapan-Nya dan kita melihat-Nya. Anggaplah jika diri kita adalah orang yang akan segera meninggal dunia sehingga kita akan menjadi pribadi yang tidak gembira karena sanjungan, dan tidak bersedih karena cacian. Oiya, seandainya semua orang tahu betapa banyaknya pahala shalat Subuh dan shalat Isya berjamaah, niscaya mereka akan berusaha untuk shalat berjamaah meskipun harus datang ke masjid dalam keadaan merangkak," jelasnya. Lalu mengakhiri tausiyah singkatnya.


...⚘️⚘️⚘️...


"Jadi, kalian tidak menginap di rumah?" tanya pak Komjen. Wajah berwibawanya membuatku tidak berani menatapnya. Kami baru saja menyelesaikan acara makan malam bersama.


"Pak Zulfikar sudah menyiapkan hotel bintang 7 Yah. Rencananya untuk bermalam bersama bu Daini. Karena bu Daini tidak mau, jadi dihadiahkan untuk kita. Ya, 'kan ayang?" Yang menjawab pak Sabil.


"Ya, Ayah," jawabku kaku.


"Hahaha, pak Direktur baik sekali. Kenapa Aa dan Tia enggak berangkat dari sekarang saja? Ayah tahu jiwa muda itu seperti apa." Pak Komjen malah menyuruh cepat-cepat pergi.


"Ayah," bunda mencubit bahu pak Komjen sambil senyum-senyum.


"Ayah memang paling mengerti perasaanku."


"Kok begitu 'sih A. Memangnya Bunda enggak pernah mengerti perasaan Aa?" Bunda cemberut.


"Bunda yang nomor satu."


Pak Sabil segera memeluk bundanya. Disusul pak Komjen yang memeluk keduanya. Lalu pak Sabil melambaikan tangan ke arahku. Awalnya aku tidak mengerti, namun segera memahaminya saat Bunda menarikku ke dalam lingkaran pelukan tersebut.


Aku bahagia, mereka benar-benar telah menerimaku. Akunya saja yang selama ini terlalu banyak berpikir dan berandai-andai yang pada akhirnya menyebabkan aku ketakutan dan merasakan kekhawatiran yang tidak mendasar.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2