Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tak Terduga


__ADS_3

"Ada apa ini? Tolong jangan membuat suamiku kaget!" tegasku. Tak sadar bicara penuh penekanan sebab khawatir dengan kondisinya pak Zulfikar.


"Kami akan mengatasinya." Dokter memeriksa pak Zulfikar yang masih menatap heran pada kak Gendis.


"Tolong lepaskan aku dulu! Bisa-bisanya kalian memperlakukanku seperti ini! Bu Silfa memfitnahku! Aku bukan orang gila! Mana mungkin aku mencelakai ibu mertua adikku sendiri!" teriak kak Gendis.


"Tolong jelaskan permasalahannya, ada apa?" Kali ini, pak Zulfikar yang bertanya.


"Menurut saksi-saksi, Bu Gendis mendorong bu Silfa hingga terjatuh dari tangga," jelas petugas keamanan.


"Fitnah! Itu fitnah Zul! Bu Silfa sendiri yang menarik bajuku saat kami melewati tangga! Aku hanya memegang tangannya yang menarik bajuku! Aku tak melakukan gerakan apapun kecuali memegang! Bu Silfa jatuh tiba-tiba! Di bawah tangga ada bodyguardnya! Mereka langsung menuduhku! Aku yakin mereka sudah bersekongkol" tutur kak Gendis dengan nada berapi-api.


"Aku menjaminkan diri untuk kakakku. Tolong lepaskan saja. Masalah dengan ibu mertuaku, nanti akan dibahas secara kekeluargaan. Aku juga meminta pada pihak rumah sakit agar merahasiakan kejadian ini."


Petugas keamanan saling menatap.


"Ucapan Pak Zulfikar sangat masuk akal. Lagi pula, kepala keamananpun tadi menyarankan agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja," ucap dokter.


"Tapi, bu Silfanya terluka, Dok. Keningnya berdarah," sela petugas keamanan.


"Aku akan bertanggung jawab," sahut pak Zulfikar.


Akhirnya, setelah mendapat izin dari kepala keamanan rumah sakit, kak Gendispun dibebaskan.


.


.


"Kakak kenapa 'sih? Kok bisa cari masalah dengan mami?" tanya pak Zulfikar setelah tim medis dan petugas keamanan meninggalkan ruangan.


"Penyebabnya istri kamu, Zul. Daini menelepon Kakak dan ---."


"Tak perlu dijelaskan. Aku sudah tahu," sela pak Zulfikar.


"Maksud kamu?" Kak Gendis keheranan. Aku masih menyimak.


"Saat Hanin menelepon Kakak, aku tidak tidur. Aku juga mengetahui sesuatu yang dilakukan Dewi pada Hanin."


"Sesuatu? Memangnya apa yang dilakukan Dewi pada Daini? Cepat jelaskan! Ada apa ini? Aku benar-benar tak mengerti. Tadi, karena aku penasaran, aku memang sengaja ingin menemui petugas keamanan untuk mengecek rekaman CCTV yang ada di kamar ini."


"Kak Gendis, sebenarnya ---."


"Pak," aku menyelanya sambil menggelengkan kepala. Tiba-tiba merasa tak sampai hati kalau pak Zulfikar mengatakannya saat ini juga.


"Kenapa?" Kak Gendis bertanya lagi.


"Aku akan cerita sama Kakak. Tapi nanti ya," jawabku.


"Kenapa harus nanti, Neng?"


"Agar masalah ini tak membebebani Pak Zulfikar."


"Baiklah, untuk sementara waktu, aku setuju." Kak Gendis mengalah. Namun wajahnya jelas sekali menunjukkan ketidaksetujuan.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Nanti yang akan menemani kamu dan Daini, kalau tidak bu Juju, pak Reza ya," tambahnya.


"Bu Juju saja," kata pak Zulfikar.


"Nanti aku atur ulang. Oiya Zul, aku sarankan agar kamu jangan menyembunyikan masalah Dewi terlalu lama. Kamu harus ingat kalau pernikahan kalian dari awal poin utamanya memang untuk kelangsungkan bisnis. Jadi, keputusanmu akan sangat berpengaruh untuk perusahaan kita," tegasnya. Lantas pergi tanpa berpamitan lagi.


.


.


"Pak Zulfikar, kapan Anda sadar jika keberadaanku di sisi Anda hanya akan menjadi benalu?" tanyaku.


"Sampai kapanpun, aku tak mungkin merasa jika kamu adalah benaluku. Yang ada, kamu adalah cintaku," katanya. Bisa-bisanya dia bicara santai seperti itu.


"Pak Zulfikar, tolong jangan menceraikan bu Dewi. Kita kembali ke rencana awal saja ya. Hanya aku yang diceraikan," pintaku.


Awalnya, aku bermaksud tidak ingin ikut campur. Namun, setelah melihat bagaimana bu Dewi bersikap aneh, dan bagaimana kak Gendis mengatakan jika dirinya di fitnah bu Silfa, tiba-tiba muncul perasaan takut di benakku. Aku merasa jika keputusan pak Zulfikar untuk menceraikan bu Dewi, akan berdampak buruk untuk pak Zulfikar dan keluarganya.


Jika kak Gendis tak berbohong, itu artinya, bu Silfa nekad mengambil risiko dengan menjatuhkan dirinya dari tangga rumah sakit hanya demi memfitnah kak Gendis. Jika bu Silfa bisa senekad itu, ke depannya, akan ada kemungkinan jika mereka berani melakukan hal yang lebih nekad dan lebih berbahaya lagi.


"Keputusannku sudah bulat."


"Pak, tolong dipikirkan lagi. Aku khawatir."


"Khawatir? Apa yang kamu khawatirkan, Hanin?"


"Pak, sikap bu Dewi aneh, sikap bu Silfapun bisa dikategorikan aneh. Masa ya beliau berani menjatuhkan diri dari tangga demi memfitnah kak Gendis?"


"Nah, kamu sendiri sudah merasa ada keanehan bukan? Sayang, keanehan itu sudah aku sadari sejak lama. Aku merasa jika Dewi itu plin-plan. Dia sering berubah pikiran secara tiba-tiba. Dewi pernah memintaku untuk tidak menceraikan kamu, lalu dia berubah pikiran lagi dan menyuruh aku menceraikan kamu. Lalu sekarang dia setuju kita tetap menikah asalkan status kamu tetap siri."


"Hanin, sekarang aku sudah punya bukti kuat untuk menggugat surat pernjanjan pranikah itu. Aku akan menghubungi pak Ikhwan dan pak Sabil agar mereka mengecek rekaman CCTV yang dicurigai kak Gendis."


Aku menghela napas. Aku sebenarnya ingin mengatakan kalau aku merasakan ada firasat buruk. Namun aku khawatir ucapanku akan mempeberat kondisi pak Zulfikar dan menghambat masa pemulihannya.


"Pak, izinkan aku mengatakan satu kalimat lagi. Kuharap, kalimat ini dapat dijadikan bahan pertimbangan."


"Silahkan sayang, katakan saja."


"Begini Pak, jika sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan akibat Bapak menceraikan bu Dewi, maka orang yang paling merasa bersalah adalah aku. Aku ingin becerai dan meninggalkan kesan yang baik. Harapanku adalah memutus rantai masalah yang terjadi di antara kita. Bukan malah menambah masalah baru dengan keluarga bu Dewi. Tolong pertimbangkan lagi keputusan itu."


"Tapi Hanin, aku menduga kalau keluarga Dewi sengaja memalsukan rekam medis milik Dewi."


"Untuk masalah rekam medis itu, jikapun Anda mempunyai bukti, pihak bu Dewi pasti memiliki banyak cara untuk mengelak. Satu hal yang pasti adalah, mereka mungkin akan menuduh jika gugatan Anda didasari karena kehadiranku di sisi Anda. Anda beralibi menggunakan rekam medis bu Dewi karena ingin menceraikannya." Walaupun tak yakin, aku terpaksa mengatakan pernyataan itu.


"Jika faktanya seperti itu, memangnya kenapa sayang? Tak salah 'kan kalau aku berjuang untuk mendapatkan kamu?"


"Anda tak salah Pak, tapi ... aku tak mau jika kehadiranku membuat hidup Anda menjadi sulit. Aku hanya ingin agar Anda dan aku bisa hidup tenang dengan memilih jalan hidup masing-masing."


"Hanin ...," lirihnya. Seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan.


"Anda harus beradaptasi agar bisa hidup bahagia bersama bu Dewi dan membahagiakannya. Jika memang benar bu Dewi memiliki masalah medis, sebagai seorang suami, bukankah Anda harus membantunya untuk sembuh? Bukan malah meninggalkannya begitu saja. Maaf jika yang kukatakan adalah hal yang salah. Tapi ... hanya cara ini yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan nama baik Anda dan keluarga Anda."


"Hanin, kamu tidak adil. Kenapa kamu memaksaku untuk menerima Dewi? Sementara yang kucintai adalah kamu."


"Maaf Pak," kataku. Lalu beranjak ke kamar tunggu karena tak sanggup melihat raut kesedihan di wajahnya.


.


.


Di kamar tunggu, aku menangis. Terus berada di sisinya ternyata membuat hati ini terjatuh kian dalam saja. Benar, setelah prosedur operasi telinganya selesai, aku harus segera kembali ke Bandung. Aku harus fokus pada kehamilanku dan mengesampingkan perasaan pribadiku terhadap pak Zulfikar. Prioritasku adalah bayi kembar ini. Titik.


"Kamu pasti BISA, Daini!" seruku.


Bibirku berucap tegas, namun hatiku berkata lemah. Acap kali ingin segera meninggalkannya, semua kenangan bersamanya dan semua hal tentangnya selalu membuatku tak ingin pergi darinya walau hanya sesaat.


"Jangan lemah Daini, kamu harus kuat," gumamku. Mengusap air mata dan kembali mendatanginya.


.

__ADS_1


.


Saat aku kembali, pak Zulfikar tertidur. Entah tidur sungguhan atau hanya sejenak memejamkan matanya. Tapi ... dalam diam dan terpejamnya itu, hatiku berdesir. Kenapa demikian? Sebab di sudut matanya, tergenang sisa-sisa tetesan air mata. Cuping hidungnya memerah, yang berarti ... saat aku ke kamar tunggu, dia juga menangis.


Sepuluh menit berlalu begitu saja. Aku merasa waktu berjalan begitu lambat saat aku dan dia tak melakukan komunikasi apapun. Aku menatapnya lekat. Mungkin, dia memang benar-benar tidur.


Perlahan, aku memegang tangannya.


"Tak perlu memegang tanganku," katanya. Ternyata, dia tidak tidur. Aku menarik tanganku. Sikapnya berubah dingin.


"Anda mau makan sesuatu?" tanyaku. Aku harus terbiasa dengan sikapnya yang seperti ini. Toh, akulah yang menginginkannya.


"Tidak," jawabnya singkat.


Sikap dinginnya berlanjut sampai ke sore hari. Saat menu makan sore tiba, dia menolak kusuapi.


"Aku disuapi bu Juju saja," katanya. Tanpa menatapku.


"Pak, bu Jujunya 'kan belum datang, kalau menunggu bu Juju takut kelamaan. Apa aku harus meminta bantuan suster?" tanyaku.


"Tak perlu," katanya.


"Pak, Anda jangan kekanak-kanakan. Sebentar lagi jadwal minum obat. Anda harus segera makan," bujukku.


"Aku memang kekanak-kanakkan, jadi tak masalah kalaupun aku tak mau makan sekarang."


"Oya? Baiklah, karena Anda tak mau makan, aku juga tak mau makan, sekalian saja kita sama-sama tak makan, betul tidak bayi-bayiku?" tanyaku sambil mengelus perutku. Semoga cara ini berhasil membujuknya.


"Terserah kamu mau makan atau tidak, kalau terjadi apa-apa dengan bayi kita, yang berdosa bukan aku," katanya.


Dia tak mau mengalah. Ya, aku faham. Dia pasti kesal atas sikapku. Atau mungkin, dia sedang belajar untuk berpaling dariku. Bagus, berarti dia ada usaha untuk melupakanku.


Lalu ponselnya bedering. Aku spontan membantu mengambilnya. Kuangkat dan kuletakan di telinga kanannya.


"Maaf, bisa bantu loudspeaker saja? Telinga kananku memang tak apa-apa, tapi suara dari ponsel membuat telinga kiriku berdenging. Aku baru menyadarinya saat menelepon pak Ikhwan," jelasnya.


"Baik." Aku melaksanakan titahnya.


"Assalamu'alaikuum, Pak Zul." Di kontak, tertulis nama pak Sabil.


"Wa'alaikumussalaam, ya Pak Sabil, ada apa?"


"Begini Pak, saya sudah menurunkan tim ke rumah sakit untuk mengecek data CCTV yang Anda maksud. Namum hasilnya nihil, Pak."


"Apa katamu?! Kok bisa?! Kenapa?!"


Ternyata, pak Zulfikar serius dengan ucapannya ingin mengecek rekaman tersebut.


"Pak, jangan marah-marah, khawatir drainase telinganya berdarah lagi," kataku.


"Saat kejadian hingga saat ini, CCTV yang berada di kamar Anda sedang diperbaiki, Pak. Jadi, untuk sementara waktu tidak berfungsi."


"Maksudnya rusak? Sejak kapan rusaknya? Kok bisa pihak rumah sakit tak ada yang memberitahu?"


Syukurlah, setelah aku peringati, nada bicara pak Zulfikar jauh lebih tenang.


"Rusaknya sejak tadi Subuh, Pak. Namun kata IPSRS, pihak keamanan baru melaporkan kerusakan itu setelah Dzuhur sekitar jam 13.00. Untuk mengkonfirmasi masalah kerusakannya sampai sejauh mana, pihak keamanan juga harus menunggu konfirmasi dari bagian IPSRS."


Setahuku, IPSRS adalah singkatan dari Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit. Yaitu, suatu unit fungsional untuk melaksanakan kegiatan teknis instalasi, pemeliharaan dan perbaikan agar fasilitas yang menunjang pelayanan kesehatan di rumah sakit yaitu sarana, prasarana dan alat-alat kesehatan selalu berada dalam keadaan layak.


"Ini terlalu kebetulan! Apa Pak Sabil yakin tak ada konspirasi?!" Nada bicara Pak Zulfikar kembali menggebu-gebu.


"Selama tak ada bukti, kami tak bisa berbuat apa-apa, Pak. Tim saya juga sudah melakukan konfirmasi ke petugas medis yang bekerja di ruangan Anda. Namun mereka mengatakan jika kerusakan CCTV bukanlah tupoksi mereka untuk mengetahuinya. Tugas mereka hanya fokus pada pelayanan kesehatan," terang pak Sabil.


"Benar. *Untuk sementara, h*anya itu yang bisa saya sampaikan. Aku izin menutup teleponnya ya, Pak."


"Silahkan, terima kasih infonya." Panggilan berakhir.


"Kurang ajar! Pasti ada oknum yang disumpal dengan uang!" rutuknya.


"Pak, tak boleh mengumpat," kataku.


"Ini urusanku! Ini bibirku! Terserah aku mau mengumpat ataupun tidak!" katanya. Sekarang sambil memalingkan wajah.


"Pak, aku masih istri Anda. Apa tak apa-apa Anda marah-marah di depan istri yang sedang mengandung?"


"Cukup. Tak perlu menasihatiku. Kalau kamu tak suka dengan apa yang kukatakan, lebih baik kamu pergi saja," usirnya.


Aku kaget dengan kalimatnya. Namun, kenapa gaya marahnya terlihat lucu 'sih? Alih-alih menyulut emosiku, kemarahannya malah membuatku gemas. Jadi ingin menggigit bibir penuhnya yang semakin mengerucut saat mencucu. Eh, kenapa aku malah kepikiran ke arah sana?


"Baik, aku senang dengan sikap Anda yang seperti ini. Jam lima sore, aku janji akan segera pergi dari sini." Sambil beranjak.


"Pergi dari sini? Memangnya kamu mau ke mana?" Wajahnya berubah panik.


"Anda mengusirku, kan? Tadi Anda sendiri yang menyuruhku pergi." Aku melanjutkan langkahku.


"Apa? Hanin, tunggu. Maksudku pergi ke kamar tunggu. Bukan pergi dari sini," katanya. Ternyata, dia belum bisa memaksimalkan aktingnya untuk berpura-pura tak memedulikanku.


"Aku serius mau pergi dari sini, Pak. Apa gunanya aku berada di sini kalau tak melakukan apapun, Anda juga tak mau kusuapi, kan?"


"Kamu sungguhan mau pergi?"


"Ya," jawabku mantap.


"Apa akan tetap pergi kalaupun aku mau disuapi?"


"Emm ...." Aku membalikan. Serius, tak tega juga mendengar suara lirihnya.


"Jangan pergi, aku mau makan," katanya. Aku spontan tersenyum seraya mendekat. Segera mengambil baki makanan dan bersiap menyuapinya.


"Tapi ... setelah ini, kamu juga makan ya." Aku mengangguk dan mulai menyuapinya.


"Bisakah Anda tak menatapku terus-menerus?" protesku.


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Aku tak perlu menjelaskannya. Karena aku jelaskanpun, kamu tak pernah mau mendengarku," jawabnya.


"Oh, begitu ya. Baiklah, silahkan pandangi aku sesuka hati Anda."


"Uhhuk, uhhuk." Dia tiba-tiba batuk. Aku langsung panik. Cepat-cepat memberinya air minum dengan tangan gemetar.


Namun baru saja dia menelan air minumnya, pak Zulfikar tiba-tiba muntah. Aku kaget karena yang dia muntahkan bukan makanan ataupun air. Melainkan darah.


"Pak, a-aku mau panggil dokter! Tunggu!" Saking paniknya, aku sampai melupakan bel. Malah berlari hendak menuju nurse station.


"Sa-sayang, te-tekan bel saja." Dengan susah payah, pak Zulfikar menyadarkanku.


"Oh, iya ya. Maaf Pak, aku lupa." Sambil menekan bel.


Setelah menekan bel, aku baru sadar kalau dia kembali memanggilku 'sayang.' Karena ekspresi dia menunjukkan kesakitan. Akupun spontan memeluknya.

__ADS_1


"Pak, cepat sembuh ya," lirihku.


"Sa-sayang ..., jangan pergi, jangan meninggalkan aku. Tetap bersamaku." Malah membahas hal itu. Padahal, dia baru saja muntah darah.


"Pak jangan bahas itu dulu." Aku mendekapnya erat.


"Kamu tak serius mau pergi, kan? Hanin, tadi ... aku sudah mencoba tak memedulikan kamu. Tapi aku tak bisa, sayang. Walaupun hanya sekedar berpura-pura, faktanya ... aku memang tak bisa melepasmu," lirihnya bersamaan dengan kedatangan dokter dan suster.


Aku melepas dekapanku saat dokter mulai memeriksanya.


"Perdarahannya berasal dari trauma di saluran pernapasan. Ini respon tubuhnya. Seharusnya, darahnya keluar dari hidung, tapi karena Pak Zulfikar tersedak, jadi keluar dari mulut," jekas dokter. Penjelasannya membuatku sedikit tenang.


"Untuk mencegah perdarahan berulang, selama masa observasi, Pak Zulfikar akan kami berikan diit cair dulu ya," tambahnya.


"Baik, Dok."


...🍒🍒🍒...


Senjapun beranjak malam. Aku menutup tirai rumah sakit setelah memandangi lampu jalanan yang mulai dinyalakan hingga menyuguhkan kesan gemerlap sejauh mata memandang. Aku menikmati panorama malam dari balkon rumah sakit dengan kaki gemetar dan keringat dingin.


Lalu kembali ke ruangan sambil memapah diri memegangi dinding.


"Kenapa harus nongkrong di balkon? Bukankah kamu phobia ketinggian?"


"Aaku penasaran, Pak. Mmm, uji nyali," kataku. Lantas mengambil tissue untuk mengelap keringat di pelipisku.


"Kalau kamu sudah shalat Maghrib, nanti hubungi lagi orang rumah ya sayang. Kok bisa bu Juju belum datang? Heran aku," katanya.


Ya, aku juga heran sebab bu Juju ataupun pak Reza tak kunjung tiba. Aku sudah menelepon kak Gendis tapi tak diangkat. Sesuai perintah pak Zulfikar, aku juga menelepon bu Yuze dan pak Aksa, tapi sama halnya dengan kak Gendis, merekapun tak mengangkat panggilanku. Kenapa ya?


"Tak diangkat, Pak," jelasku.


"Coba telepon pak Ikhwan sayang, pakai HP-ku."


"Baik."


Di dering ke tiga, pak Ikhwan mengangkatnya. Setelah aku menjawab salamnya, pak Ikhwan langsung mengatakan kalimat yang membuatku bingung.


"Bu Daini, cepat menjauh dulu. Ada hal penting yang harus saya katakan."


Aku lantas menjauh pelan, pak Zulfikar menatapku sambil menautkan alisnya.


.


.


"Ada apa, Pak? Jangan membuatku khawatir." Aku bertanya dengan jantung berdegup cepat.


"Bu Daini tarik napas panjang ya. Masalahnya sangat pelik. Pak Zulfikar jangan sampai tahu dulu masalah ini. Saya percayakan pada Anda untuk menemani pak Zulfikar selama di rumah sakit." Pak Ikhwan berbicara cepat dengan suara napas tak beraturan. Aku jadi tegang.


"Pak, a-ada apa? Kenapa?" Belum apa-apa, lututku sudah lemas. Aku duduk di sofa agar bisa lebih tenang.


"Pak Aksa kecelakaan. Mobilnya ditabrak orang tak dikenal."


"A-apa?! Innalillahi." Mulutku menganga. Aku hampir menjatuhkan ponsel dari genggamanku.


"Kronologisnya bagaimana, Pak? Ke-kenapa bisa? Kondisinya sekarang bagaimana? Baik-baik saja, kan?" Airmataku jatuh seketika.


"Maaf Bu Daini, untuk saat ini, saya belum bisa menjelaskannya. Kasusnya sedang ditangani pihak kepolisian. Pak Aksanya koma. Sedang dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga. Keluarga besar sudah berkumpul. Wartawan juga sudah berkumpul, namun dari pihak keluarga belum ada yang melakukan preskon."


"Itu saja Bu Daini, maaf tak bisa bicara banyak. Saya dan tim pengacara sedang sibuk melarang wartawan agar tak mempublikasikan kecelakaan ini sebelum ada persetujuan dari pihak keluarga."


Lalu panggilan berakhir di saat tubuhku melemas dan kepalaku masih dipenuhi sejuta tanya.


Astaghfirullahaladzim, ada apa ini? Kenapa ujian di keluarga pak Aksa begitu bertubi-tubi.


Aku beristighfar berkali-kali dan berharap jika yang kudengar barusan hanyalah sebuah mimpi.


.


.


"Ada apa? Apa yang dikatakan pak Ikhwan?" Saat aku kembali, pak Zulfikar langsung bertanya.


"Pak Ikhwan mengatakan ... di rumah pak Aksa banyak tamu, semua orang sibuk. Jadi, aku ditugaskan menjaga Anda."


"Benarkah? Tapikan, kamu sedang hamil sayang. Kamu tak boleh kelelahan."


"Kan ada suster, Pak. Suster bisa membantuku." Aku berusaha keras menyembunyikan kekalutan ini dengan cara menebar senyum.


Lalu, kalimat ejekan dari bu Dewi beberapa waktu yang lalu kembali terngiang. Bu Dewi pernah mengatakan jika kehadiranku adalah pembawa sial. Astaghfirullah. Aku menepis perasaan itu dan meyakinkan diriku jika semua ini adalah takdir. Bu Dewi hanya asal bicara.


"Sayang, kenapa melamun?"


"Tidak apa-apa, Pak."


"Oiya Hanin, kok aku merasa tidak tenang ya? Ambilkan HP-ku lagi sayang, aku mau menelepon papaku," katanya.


"Silahkan, Pak."


"Tadi tak diangkat, sekarang HP papa tak aktif. Mama juga tak aktif." Ia terlihat kesal.


"Ya sudah, Bapak istirahat saja ya. Aku akan shalat dan membaca Al-Qur'an di dekat Anda."


"Baik," katanya sambil menghela napas.


Selesai shalat, aku terpekur dan tak kuasa menahan tangis. Aku terisak-isak sambil menutup wajahku dengan mukena. Aku tahu pak Zulfikar tengah menatapku. Aku sudah berusaha agar tidak menangis. Tapi ... aku tak mampu menahannya.


Selesai berdoa, aku berdiri untuk menyalaminya. Aku mencium tangannya. Rasa bersalah ini kian mendalam saja setelah mendengar kabar itu.


"Pak, aku minta maaf ...."


"Kamu tak punya salah, tak perlu minta maaf." Dia mengusap punggung tanganku.


"Huuu ...." Aku tak bisa berkata-kata lagi. Kembali menangis.


"Hanin ... aku begitu sering melihat kamu menangis dan bersedih. Kamu benar-benar tak bahagia saat berada di sisiku. Jika dengan perpisahan airmatamu akan berhenti bederai, maka ... dengan berat hati ... aku akan mengabulkannya ... ma-malam ini juga." Suara pak Zulfikar terdengar gemetar. Aku tertunduk, apa itu berarti ---.


"Pak ---." Kalimatku tercekat. Aku mematung dan tertunduk, jantungku berdebar-debar.


"Da-Daini Hanindiya Putri Sadikin ---."


"Ya, Pak."


"A-aku mentalak kamu, talak satu," katanya.


Aku melongo, memegang dadaku, dan menahan berat tubuhku dengan cara memegang pinggiran bed pasien.


"Mu-mulai saat ini ka-kamu bukan istriku lagi." Sambil memalingkan wajah dan mengusap airmatanya yang jatuh bederai saat mengatakan kalimat itu.


Tubuhku melemas hingga bersimpuh di lantai dan tak berdaya.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2