Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Menghadirkan Sosokmu di Dalam Imajinasiku


__ADS_3

"Maaf Wi, Mas rasa, mutasi staf mutu sama sekali tak relevan dengan aturan perusahaan. Kemarin kan bu Caca sudah dimutasi, untuk apa ada mutasi lagi?" sanggahku.


Paklik menyimak, tapi mata paklik beralih ke kotak bekal dan tumbler yang ada di mejaku.


"Mas, aku berhak mengajukan mutasi untuk stafku, ya 'kan Paklik?"


"Ya boleh-boleh saja, asalkan sesuai aturan. Eh Zul, kamu bawa bekal?"


Aku belum menjawab apapun, tapi Dewi sudah menimpaliku.


"Itu buatan si Inar Paklik. Paklik mau? Ambil saja." Dewi mengambilnya dan disodorkan pada paklik.


"Wi, itu punyaku." Aku menahannya.


"Zul, jangan pelit kamu. Paklik malas makan siang menu kantin. Sekali-kali bolehlah makan bekal." Paklik berkiras mempertahankan kotak makanan milikku.


"Ya sudah, silahkan untuk Paklik saja." Aku mengalah.


"Hahaha, lumayan. Paklik mau makan sekarang ah." Paklik segera cuci tangan dan beralih ke sofa untuk memakan bekalku.


"Wah wah wah, pintar juga si Inar membuat menu seperti ini. Ini gizi seimbang, Zul. Ditambah apa ini?" Paklik memperhatikan isi tumbler.


"Itu susu kedelai, Paklik," jawabku.


"Ada pepes ikan, ada sayurnya, nasinya juga rendah kalori karena menggunakan nasi merah. Serius, salut sama si Inar. Di tambah dengan susu kedelai, maka jatuhnya jadi makanan gizi sempurna. Paklik makan ya." Dengan lahapnya paklik memakan bekalku. Aku dan Dewi melongo.


"Nyam, enak sekali. Semuanya pas. Sayurnya tidak kematangan. Pepes ikannya juga empuk sampai ke tulang-tulangnya," puji paklik.


"Beneran enak, Paklik?" Dewi mendekat.


"Serius," sahut paklik.


"Aku mau coba."


Dewi mengambil sendok yang kebetulan ada di meja kerjaku dan mencicipinya. Aku menghela napas.


Kok jadi begini?


Tapi syukurlah, suasananya jadi tidak terlalu tegang. Dan saat kuperhatikan, Dewi juga sepertinya menyukai masakan Hanin. Serius, bekal tersebut habis tak bersisa.


"Ya sudah, karena Paklik dan aku sudah makan, mari bahas kita lagi yang rencana mutasi tadi, apa Paklik setuju?" tanya Dewi. Kukira, setelah makan masakan Hanin, dia akan melupakan masalah itu.


"Masalah mutasi perdivisi, jika itu diajukannya sama kamu, ya harus ada persetujuan dari suami kamu, Wi."


Syukurlah, paklik jelas pasti tahu tupoksinya.


"Memang tidak bisa kalau langsung diajukan ke Paklik?"


"Ya tidak bisalah, Wi. Birokrasinya 'kan harus ke suami kamu dulu. Kalau suami kamu acc, Paklik baru acc."


Mendengar jawaban paklik, bibirku langsung tersenyum. Aku menghalangi senyumanku dengan berkas. Pura-puranya sedang membaca berkas. Tak bisa kubayangkan kalau sampai Haninku dimutasi. Aku tidak bisa melewati hari tanpa melihat wajah teduhnya, tubuh seksinya, dan semua daya pikatnya.


"Paklik ke sini karena tertarik dengan konsep kantin akhwat. Katanya, itu ide kamu ya, Zul?"


"Apa?"


Aku segera meletakan berkas di tanganku. Dewi mendelik kesal.


"Memangnya kenapa Palik?" Aku menautkan alis.


"Ada investor yang tertarik dengan konsep kantin akhwat milik kita. Paklik jadi penasaran, kamu ide konsepnya dapat dari mana?"


"Paklik memanganya tidak tahu? Kan di divisiku ada seorang akhwat. Nah, si akhwat itu tidak suka makan bareng laki-laki. Jadilah sama Mas Zul dispesialkan dan dibuatkan kantin khusus untuk dia," sela Dewi.


"Wi, bukan khusus untuk dia. Itu khusus akhwat. Akhwat itu memilikiΒ arti saudara perempuan, teman perempuan, atau perempuan muslim. Bisa juga diartikan sebagai saudara-saudara perempuan dan ditujukkan kepada sekelompok perempuan muslim, kamu juga termasuk di dalamya," jelasku.


Paklik manggut-manggut, dia sepertinya sependapat denganku.


"Zul benar, Wi. Oiya, kamu bilang tadi akhwatnya ada di divisi kamu? Nah, besok Paklik mau bertemu dengan dia. Jadwal pertemuannya nanti kamu konfirmasi lagi ke staf Paklik ya. Hoaaam, habis makan jadi ngantuk, Paklik mau pamit ya." Sambil menggeliat dan menguap, paklik berpamitan.


"Untuk apa Paklik mau bertemu akhwat itu?" tanya Dewi.


"Ada klien yang ingin bertemu. Setiap kebijakan perusahaan pasti ada alasannya. Nah, staf di divisi kamu 'kan yang jadi alasan Zul menyediakan kantin akhwat itu. Jadi Paklik otomatis memilih dia."


"Baik, tapi Paklik jangan menyesal ya melibatkan dia. Hahaha."


Dewi terbahak. Paklik tak begitu peduli. Mungkin hanya menganggap tawanya Dewi sebagai tawa biasa.


Aku merenung.


Siapakah klien yang akan bertemu dengan istriku? Laki-laki atau perempuan ya?


Aku jadi kepikiran. Tapi aku tidak mungkin menanyakannya pada paklik. Biar nanti aku cari tahu sendiri saja.


"Paklik, pergi ya. Awas, kalian jangan mesum di kantor. Hahaha, jangan mentang-mentang suami-istri," kata paklik sebelum benar-benar pergi.


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Setelah paklik pergi ....


"Enak juga ya Mas masakan si Daini, pantas saja kamu betah. Cocoklah kalau dia menggantikan tugasnya Inar," ocehnya.


Aku sebenarnya sudah malas berdebat lagi. Tapi Dewi selalu memancing emosiku.


"Hanin itu istriku, Wi! Bukan pembantuku!" tegasku.


"Hebat, terus saja puji dia, Mas! Hahaha. Oiya Mas, bagaimana rasanya diabaikan sama mama? Apa enak?" ledeknya.


"Mama hanya belum tahu kebenarannya. Kamu jangan sombong dulu, Wi. Tapi, mama bilang kamu ikhlas dipoligami. Ya ampun, terima kasih ya cinta. Aku bahagia kamu rela berbagi ranjang dengan Hanin."


Aku tersenyum sinis. Semoga Dewi sadar jika keputusannya bersandiwara di depan mama jadi menguntungkanku.


"Hahaha, tenang saja Mas. Aku tak mungkin memberitahu kamu senjata apa yang akan aku gunakan untuk menyerang si Daini." Sambil meminum susu kedelai.


"Oke, dan kamu juga tidak akan tahu tameng apa saja yang akan aku gunakan untuk melindungi Hanin."


"Ya sudah, aku malas membicarakan wanita itu lagi. Sekarang aku mau tanya, Mas mau menginap di mana malam ini?"


"Tadinya aku mau menginap di rumah mama. Tapi karena tadi sudah bertemu Mama, ya kemungkinan menginap lagi di apartemen Hanin."


"Apa?! Ke si Daini lagi, Mas?! Kamu tidak pulang?! Kamu tidak kangen sama aku, Mas?!" teriaknya.


"Wi, Mas baru akan pulang setelah kamu minta maaf sama Mas dan Hanin."


"Maksud kamu?! Minta maaf untuk apa?! Bukankah kalian berdua yang seharusnya minta maaf sama aku?!"


"Wi, dari awal Mas sudah minta maaf sama kamu untuk masalah ini. Mas juga sudah sempat mau menceraikan Hanin dan memulai hubungan lebih baik dengan kamu. Tapi, kamu malah menolaknya. Jadi, jangan salahkan Mas kalau sekarang Mas akan mempertahankan Hanin."


"Ditambah kamu juga sudah mengatakan ikhlas dipoligami. Jadi, kebersamaanku bersama Hanin pada dasarnya karena diberikan peluang oleh kamu sendiri," tegasku.


Terlalu banyak kalimat menyakitkan yang diucapkan Dewi untuk Hanin, membuatku kian berani.


"Hahaha, sekarang Mas boleh saja mengatakan itu, tapi itu tidak akan lama Mas. Sebab, saat semua orang tahu belangnya kamu, maka kamu akan memohon di kakiku untuk meminta pertolonganku. Lihat saja nanti!" ancamnya sambil merapikan berkas.


"Wi, tunggu dulu." Aku memegang tangannya.


"Sebenarnya, Mas sudah mau memaafkan kamu karena diberi saran oleh Hanin. Tapi, melihat bagaimana sikap mama terhadapku, Mas jadi pikir-pikir lagi untuk memaafkan kamu. Alasannya, karena Mas yakin kamu sudah mempengaruhi mama dengan cerita-cerita palsu yang didramatisir. Ya 'ka?" tuduhku.


"Mas memfitnah aku?! Huuu."


Di luar dugaanku, Dewi langsung menundukkan kepala di meja dan menangis.


"Wi, ssshhh, hei ... jangan nangis di sini. Mas hanya mengira."

__ADS_1


Aku mendekat ke sofa, lalu mengelus bahunya.


"Mas, huuks."


Tak kusangka juga, Dewi malah merangkulku. Aku juga sepontan memeluknya. Karena biar bagaimanapun, Dewi tetaplah istriku.


"Apa yang kamu katakan pada mamaku, hmm?"


Dengan dipeluk begini, semoga saja Dewi bisa berkata jujur dan hatinya bisa sedikit luluh.


"Mas ..., ya benar. A-aku memang mengatakan pada mama kalau aku siap dipoligami. Dan apa yang aku katakan pada mama, sungguh-sungguh dari lubuk hatiku, Mas. A-aku serius mau menerima si Daini, Mas. Huuu, tapi ... posisi dia tetap istri siri ya, tak boleh sejajar dengan posisiku."


"A-apa?"


Aku kaget. Begitu cepat Dewi berubah sikap. Ini terdengar aneh dan janggal.


"Mas, tadi Mas sempat mengatakan jika Mas bahagia kalau aku rela berbagi ranjang dengan Hanin. Mas, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaanku juga. Karena aku mencintai kamu, jadi ... aku ... a-aku memutuskan untuk menerima si Daini."


Serius, mataku membelalak. Aku jadi lebih takut dengan sikap Dewi yang berubah drastis dan jadi lembut seperti ini. Perubahan sikapnya yang signifikan, jelas membuatku semakin bingung.


"A-apa kamu tidak akan menyakiti Hanin lagi?" Sekalian saja aku bertanya tentang itu.


Jawaban Dewi kira-kira apa ya? Aku sangat penasaran.


"Akan aku usahakan, Mas. Semoga saja aku tidak berubah pikiran, dan tidak menyakiti si Daini lagi. Mas, aku kangen kamu. Kamu makin tampan tahu, Mas."


Dewi melingkarkan tangan di leherku, lalu menekannya dan mencium bibirku dengan tergesa-gesa. Gerakannya dipenuhi nafsu.


"Mmm, Wi, i-ini di kantor, jangan lagi ya."


Aku menahan bahunya saat dia kembali mencondongkan tubuh untuk menyerang kembali bibirku.


"Mas, a-aku mau kamu sekarang Mas."


Napas Dewi memburu, tatapannya nanar. Sambil menggigit bibir bawahnya, Dewi tiba-tiba saja meraba bagian sensitifku, seraya mendorong dadaku hingga terlentang di sofa.


"Cinta, hei, ini di kantor. Ini jam kerja. Jangan, Wi! Kalau kamu mau, nanti saja lakukannya pas jam istirahat. Dan itupun tak di sini, Wi!" tolakku saat Dewi memaksa membuka risletingku.


"Mas, aku istri kamu. Please, jangan menolakku."


Dewi bersikukuh, dia juga membuka ikat pinggangku.


"Wi, oke, Mas mau. Tapi tidak sekarang. Nanti jam istirahat ya. Dan kita lakukan di kamar, bukan di sini," tegasku.


"Mas, tapi aku sudah tidak tahan lagi. Tubuhku tak nyaman, Mas."


Dewi hendak melepas dan menurunkan sesuatu dari balik roknya.


"Wi! Ada CCTV! Jangan!" Aku menahan tangannya.


"Mas, serius ... a-aku ... aku ... emmh ... i-ini rasanya ga-gatal sekali Mas," wajahnya memerah. Aku jadi risih dan ada perasan takut.


"Wi, tenangkan diri kamu! Lihat, CCTVnya ada banyak!" Terpaksa memakai kekuatanku agar dia mengurungkan keinginannya.


"Mas, kamu jahat! Kamu tega!" Dia duduk di ujung sofa dan jemberut


"Permisi." Suara dari luar.


"Masuk," sahutku.


.


Syukurlah, Tania datang di waktu yang tepat.


Aku segera berlari ke meja kerjaku. Di tempat ini, kekacuan yang ditimbulkan Dewi bisa kusembunyikan. Aku cepat-cepat merapikan kembali sabuk dan risletingku.


"Bu Dewi masih ada di sini? Ma-maaf, apa kedatangan saya mengganggu?" Tania menunduk.


"Ma-maaf Bu. Ta-tapi, ma-masalahya ada hal penting, Bu." Tania kaget sampai terbata-bata.


"Cinta, ssstt. Ini kantor, kita berdua sedang bekerja," selaku. Mencoba menenangkan Dewi.


"Aku tahu, Mas. Tapi kamu tetap saja sudah mengganggu kesenanganku, Tania! Sepenting apasih?" tanyanya sambil mendelik pada Tania.


"Sekali lagi, saya mohon maaf, Bu. Saya membawa klien yang sudah ada janji temu hari ini dengan Bapak," jelas Tania.


"Issh, ya sudah! Aku pergi!" dengusnya kesal.


Lalu bergegas sambil merapikan posisi roknya. Hmm, aku jadi lega.


Kalau saja yang tadi itu adalah Hanin. Aku yakin tak bisa menolak. Bisa-bisa aku melupakan CCTV. Karena saat di apartemenpun, aku sampai lupa kalau di dapur ada CCTV. Untungnya, aku tak lupa menghapusnya. Tuh kan, jadi terbayang-bayang lagi.


"Pak Zulfikar?" Tania memanggilku.


Dan aku terkejut karena di sofa tamu sudah ada klien yang menunggu. Mereka menatap ke arahku sambil tersenyum.


"Ma-maaf, tadi aku melamun." Pura-pura merapikan dasi.


"Hehe, maaf ya Bapak-bapak, yang tadi keluar itu istrinya Pak Direktur, bu Dewi Laksmi," jelas Tania.


"Wah, kami jadi tak enak hati. Maaf ya Pak, kalau kedatangan kami mengganggu kebersamaan Anda dan bu Dewi," ucap salah satu klien.


"Tidak apa-apa. Sama sekali tak mengganggu, kok," elakku.


"Hehehe, saat melamun tadi Bapak senyum-senyum, lho." Tania terkekeh.


Oh ya ampun. Tak kusangka, apa yang dilakukan Hanin tadi pagi, ternyata membuatku seperti orang gila.


"Saya baru lihat Bapak sebahagia itu. Sepertinya, semenjak bu Dewi bekerja di sini, hari-hari Bapak jadi lebih berwarna," tambah Tania.


"Emm, bisa jadi. Ya sudah, sekarang mari kita bahas masalah pekerjaan saja."


Aku mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum.


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Saat jam istirahat tiba, Dewi benar-benar datang ke ruanganku.


"Aku tunggu di kamar ya Mas, jangan lama-lama," katanya saat melewatiku yang masih berada di ruang kerja.


"Hmm," jawabku singkat.


Lalu akupun menyusulnya ke kamar. Di ambang pintu, Dewi sudah menungguku. Dia cepat-cepat menarik dasiku. Tangannya aktif, langsung membuka kancing kemejaku.


"Cinta, Mas mau shalat Dzuhur dulu, kamu sudah shalat?"


"Sudah, Mas. Kamu shalatnya nanti saja, sih."


"Tidak cinta. Mas mau shalat dulu." Aku menepisnya pelan lalu bergegas ke kamar mandi.


.


Selesai shalat Dzuhur, kegiatan itupun tak bisa dielakan. Aku tak bisa menolaknya karena Dewi memang istriku. Aku pasrah dan membiarkan Dewi menggunakan tubuhku sesuka hatinya.


Awalnya, tubuhku hampir saja tidak berfungsi dan membuat Dewi kesal. Andai saja aku tak membayangkan sosok Hanin dalam imajinasiku, Dewi mungkin akan murka.


Masalah ini teratasi setelah aku menghadirkan sosok Hanin di dalam pikiranku.


Aku memejamkan mata, sedang membayangkan jika sosok yang saat ini tengah menari lincah di atas tubuhku adalah Daini Hanindiya Putri Sadikin.


Kupikir, membayangkan tubuh molek Hanin saat bersama Dewi, bukanlah sesuatu yang diharamkan. Sebab, Hanin adalah istri sahku, dan Hanin halal bagiku.


Kegiatan berimajinasi ini, jatuhnya bisa jadi dosa jika aku membayangkan sesuatu yang tidak halal bagiku. Dalam artian, aku membayangkan wanita lain selain istriku.

__ADS_1


Wallahu a'lam bishawab.


Sungguh, ini sangat sulit dan teramat menyiksaku. Di satu sisi, aku harus berkonsentrasi penuh agar aku tak menyebut nama Hanin lagi. Namun di sisi lain, aku harus mengingat Hanin dalam imajinasiku agar bisa menikmati aktivitas ini.


Mungkin, ini adalah hukuman untuk pria lemah sepertiku.


Sayangku, Hanindiya ... maafkan aku ya ....


Aku memeluk tubuh Dewi. Tapi yang kurindukan adalah Hanin. Tubuhku bersama Dewi, tapi jiwaku bersama Hanin.


Entah sampai kapan aku teperangkap dalam derita dan belenggu ini. Mungkin sampai tiba saatnya aku rela melepaskan salah satu dari mereka.


Tapi, aku tak ingin melepaskan Hanin. Namun saat aku melepaskan Dewi, maka proses yang kulewati akan sangat panjang nan rumit.


Di surat peranjian pranikah itu, tertulis dengan jelas jika dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun aku menceraikan Dewi karena alasan wanita, maka aku akan dijerat oleh pasal perselingkuhan dan penipuan.


Kenapa demikian? Kenapa ada kata penipuan? Itu karena kami menikah dengan perjanjian kerja sama bisnis dan jual beli saham.


Hanindiya, bisakah aku bersamamu saja?


Andai boleh meminta, aku ingin dilahirkan dari keluarga biasa saja, lalu dipertemukan dengan Hanin dan membina rumah tangga seperti pasangan lainnya.


Saat aku terlahir dari keluarga Antasena, maka di saat itulah, ruang gerakku akan sangat terbatas. Termasuk dalam hal cinta, di keluarga Antasena, semuanya telah diatur demi keuntungan bisnis serta masa depan keluarga dan perusahaan.


.


"Mas ...?" sapa Dewi sambil mengelus dadaku.


"Ya," sahutku.


"Malam ini, kamu pulang ke rumah 'kan?"


"Cinta, hari ini 'kan aku sudah sama kamu. Artinya, nanti malam adalah haknya Hanin."


"Apa?! Tidak bisa begitulah Mas! Pokoknya, mulai sekarang, yang mengatur jadwal kamu dan si Daini harus aku!" tegasnya sembari memakai kembali pakaiannya.


"Wi, astaghfirullah! Harus ya kita berantem lagi setelah aku memuaskan kamu?!" Aku kembali emosi.


"Bu-bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin terlibat mengatur jadwal pertemuan kamu dan si Daini, itu saja." Nada bicaranya merendah kembali.


"Wi, di sini aku adalah suaminya! Jadi akulah pemimpinnya! Bukan kamu ataupun Hanin! Faham?!" tandasku. Sambil memakai kembali pakaianku, dan beranjak pergi.


"Mas, mau kemana kamu?! Kok bawa tas?!"


"Aku mau ada janji dengan seseorang!"


"Sama siapa, Mas?! Laki-laki atau perempuan?! Pertemuan bisnis, kan?! Mas, he, Mas!" teriaknya. Dan aku memilih bungkam.


Aku mempercepat langkah kaki panjangku. Aku akan menemui Listi. Sahabatnya Hanin.


Sesuai dengan janjiku pada Hanin, aku akan menjelaskan semuanya pada Listi. Kuharap, Listi mau mendengarkan penjelasanku.


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Listi Anggraeni


Selepas pulang kerja, aku melajukan kemudi bak orang gila.


Tadi, di akhir jam istirahat, aku bertemu dengan pak Direktur. Pak Direktur menjelaskan duduk perkara dan misteri hubungannya dengan Daini.


Setelahnya, aku langsung menangis. Aku menyesal karena tidak mau mendengar penjelasan dari Daini. Daini pasti merasa sedih dan kesepian. Dia juga pasti kecewa padaku.


Entah dia memaafkan aku atau tidak, aku tetap harus segera menemuinya dan meminta maaf.


"Aku tidak berharap kamu percaya padaku. Setelah aku menjelaskannya, semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu mau berada di pihak Dewipun silahkan. Tapi tolong, tolong tetaplah jadi teman untuk Hanin."


"Tolong jaga dia untuk aku. Apa perlu aku membayar kamu?"


Aku mengingat kembali kalimat pak Direktur di akhir pertemuan kami.


Dari caranya menceritakan tentang Daini, aku yakin kalau pak Direktur menyukai Daini. Dan setelah pertemuan tadi, aku jadi membenci pak Direktur.


Kenapa?


Karena dia egois! Mentang-mentang kaya-raya, seenaknya saja dia menggunakan Daini sebagai pelampiasannya!


Tapi, siapa sih yang bisa melepas wanita secantik dan selembut Daini?


Apalagi pak Direktur adalah orang pertama yang membuka segel Daini dan tentu saja sudah menikmati dan merasakan kegadisan Daini.


Hmm, wajar juga sih kalau dia tak mau melepas Daini.


"Ya ampun Neng, kisah cinta kamu kok kaya di novel-novel ya? Malang benar nasibmu, Neng," gumamku.


Dan yang paling membelenggu sanubariku adalah keberadaan bu Dewi. Pantas saja bu Dewi memperlakukan Daini seenak jidatnya. Ternyata eh ternyata, bu Dewi sudah tahu kalau Daini adalah madunya.


Tadi, pak Zulfikar juga menjelaskan kalau bu Dewi sudah mengetahui semuanya dan telah menerima Daini sebagai madunya. Ya ampun, aku tak menyangka kalau bu Dewi bisa selapang dada itu menerima Daini sebagai madunya.


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Akhirnya, sampai juga aku di apartemen mewah milik Daini. Setibanya di parkiran, aku berbicara seorang sendiri.


"Serius nih gua berteman sama istri mudanya sultan? Ya Tuhan," gumamku sambil melepas sabuk pengaman. Aku geleng-geleng kepala karena masih tak percaya dengan kenyataan ini.


"Tunggu, apa hidup gua tidak akan terancam? Secara, gua 'kan ada di pihak istri muda. Mana istri tuanya juga sultan. Ya Tuhan, tolong selamatkan hamba-Mu ini," ratapku. Menengadahkan kedua tangan ke udara.


Berada di posiku memang cukup sulit.


Pertama, aku iba sama Daini. Kedua, aku benci sama pak Direktur. Ketiga, aku takut sama bu Dewi. Ke empat, aku tidak tahu seperti apa perasaan mereka masing-masing.


"Apa Daini diam-diam suka juga sama pak Direktur? Atau, terpaksa tetap bersamanya karena takut?"


"Apa pak Direktur tulus sama Daini? Atau, hanya butuh tubuh Daini untuk merasakan sensasi yang berbeda?"


"Apa bu Dewi sungguhan menerima Daini jadi madunya? Atau, hanya pura-pura? Bisa saja 'kan bu Dewi pura-pura menerima, padahal untuk balas dendam sama Daini?"


"Kalau sampai skandal ini terbongkar ke media? Waduh, Indonesia bisa gunjang-ganjing, nih."


"Pokoknya, jangan sampai masalah ini menyebabkan perusahaan bangkrut dan aku diPHK. Amit-amit dah."


"Gua gak nyangka lu bakal jadi wanita simpanan pak Direktur, Dai. Ya ampun Neeeng, ngeri amat hidup lu, Neng." Aku sampai bergidik ngeri.


Aku jadi pusing sendiri memikirikan masalah orang lain. Aku belum berani turun dari mobilku sebelum hati ini benar-benar tenang.


Setelah buang angin sebanyak tiga kali, barulah ketenangan itu muncul.


Untung saja tidak bau. Hanya saja, suaranya yang lumayan kencang, telah berhasil mengagetkanku. Kebiasaan burukku memang begini. Stres sedikit, larinya ke makanan pedas dan sering kentut.


Mau sok-sokan jadi horang kayah, ah. Aku memakai kaca mata hitam. Lalu turun dari mobil dengan gaya elegan dan so cool.


Awas! Sabahat baik istri mudanya sultan mau lewat.


Di dalam lift, aku ngakak sendiri dengan khayalanku. Lalu tiba-tiba bingung.


Mau ngomong apa ya sama Daini? Bagaimana kalau Daini tidak mau berteman denganku lagi?


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk!...


...Bagaimana ya respon neng Daini pada kak Listi? Terus, bu Dewi sebenarnya ikhlas tidak sih berbagi ranjang sama neng Daini? Apa bu Dewi punya rencana lain?...


...BTW, ini 3000 kata lho, yang tidak like, komen, super tega nian.😊😊😊...

__ADS_1


__ADS_2