Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Kakak Beradik


__ADS_3

"Sa-sayang, kamu cantik sekali," puji bu Silfa sambil merapikan anak rambut bu Dewi yang menyembul dari balik jilbabnya. Sementara aku, aku terus melantunkan ayat suci di telinganya.


"Apa perutku sudah dibelah?" tanyanya saat dokter tengah memasang transfusi darah CITO ke venanya. Sementara dokter anastesi dan penata anastesi tampak sibuk memantau monitor dan memberi obat-obatan pada bu Dewi. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun dari obrolan mereka, menyiratkan jika kondisi bu Dewi kurang baik.


Airmataku kembali menetes. Aku lekas mengusapnya agar tidak ketahuan bu Dewi.


"Tensi darah dan nadinya melemah! Tolong siapkan ICU untuk observasi post SC!" seru seorang dokter. Lalu seorang petugas berlari ke luar dari ruang operasi disusul oleh dua orang yang lainnya.


"Cepat! Prosedurnya harus dipercepat!" Itu yang dikatakan dokter kandungan.


"Epinephrine! Cepat!" teriak dokter anastesi. Aku dan bu Silfa saling menatap. Jantungku berdegup kuat.


"Dok," bu silfa lantas berdiri dan panik. Aku belum sempat mengatakan apapun karena bingung.


"Mami, i'm okey," lirih bu Dewi.


"K-Kak Dewi." Mata bu Dewi terpejam tapi ia masih bisa menguatkan bu Silfa. Aku melanjutkan kembali bacaanku dengan bibir yang mulai gemetar.


"Alhamdulillaah, bayinya lahir," seru seorang dokter.


"Bayiku? Aku mau lihat Dok," lirihnya lagi.


"Maaf Bu, bayinya tidak menangis, kita harus tangani dulu." Mereka membawa bayi bu Dewi sambil berlari. Aku pribadi tidak sempat melihatnya karena bayinya terbungkus kain operasi berwarna hijau.


"Perdarahan! Cepat amprah darah CITO!"


Lampu emergency menyala. Aku panik, pun dengan bu Silfa. Monitor yang terpasangpun berbunyi. Saat melihat bu Dewi memejamkan mata, bu silfa terkulai lemas. Lalu dua orang petugas membawa bu Silfa keluar dari ruang operasi.


"K-Kak Dewi, Kak," panggilku saat dokter sibuk wara-wiri memberikan obat dan melakukan beberapa prosedur.


"Daini ... a-aku melihat papi, papi mengajakku pergi ke suatu tempat yang indah," gumamnya. Namun matanya tetap terpejam.


"Kak Dewi, tetap dengarkan aku, Kak. Abaikan ajakkannya, itu bukan papi bu Dewi. Itu iblis laknatullah yang ingin menyesatkan Kakak. Kak, cepat katakan la ilaha illallah, la ilaha illallah, la ilaha illallah," aku mengajaknya melafalkan tahlil. Aku mendekatkan bibirku di telinganya.


"Obatnya tidak merespon, Dok." Itu yang dikatakan seseorang. Jantungku kian berdegup. Pikiran buruk menyelimuti kalbuku.


"Setan akan hadir saat manusia sedang menghadapi kematian (syakaratul maut) sehingga seseorang dapat mati dalam keadaan kafir padahal sepanjang hidupnya dia melakukan amal ahli surga." Kalimat menakutkan yang dikatakan guru ngajiku tiba-tiba terngiang di telinga.


Tidak! Ya Rabb, tolong jauhkan seluruh perasangka buruk dari pikiranku.


"Daini ... ada wanita cantik yang ingin memberiku makanan, dia berkata makanan itu akan membuatku bahagia," bu Dewi mulai meracau. Saat ditanya oleh dokter, jawaban yang ia katakan tidak sesuai dengan pertanyaan.


"Kak Dewi, abaikan wanita itu. Siapun yang datang pada Kakak, abaikan. Kecuali dia datang dan mengajak Kakak untuk mengatakan la ilaha illallah, la ilaha illallah, la ilaha illallah," bujukku.


"Daini ... a-aku takut ...." Tubuh bu Dewi gemetar dan tampak gelisah.


"Pasien menggigil, Dok!" seru penata anastesi.


"Pasien mulai halusinasi, Dok!"


"Pasien gelisah!"


Kalimat-kalimat itu membuat perasaanku semakin tidak menentu. Namun aku berusaha keras untuk memengaruhi alam bawah sadarnya agar bu Dewi mau mengikuti ajakanku.


"Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati mereka. Dan Engkau tidak akan mendapat kebanyakan mereka bersyukur (taat) (QS. Al-A’raf: 16-17)."


Maknanya adalah, iblis akan mendatangi manusia dari semua cara yang haq dan batil. Karena misi iblis adalah untuk menghalangi manusia dari kebenaran. Setan akan berusaha memanfaatkan titik-titik kelemahan, jika musibah berat menimpa, atau saat petaka hadir, maka datanglah iblis melalui berbagai cara untuk merusak keimanan manusia agar manusia menjadi ahli neraka. Naudzubillah min dzaalik.

__ADS_1


Aku terus mengingatkan bu Dewi dengan kalimat tahlil seraya bederai air mata. Aku juga mendengar dokter penanggung jawab menyuruh asistennya untuk menjelaskan kondisi bu Dewi pada keluarganya. Bibirku terus bertahlil, sementara batinku menjerit dan memohon kepada-Nya untuk keselataman bu Dewi dan bayinya.


Kondisinya saat ini benar-benar kritis. Ia harus masuk ke ruang ICU dan dilakukan intubasi. Itu yang dikatakan dokter pada bu Silfa yang kembali lagi ke kamar operasi setelah kondisinya lebih tenang. Mata bu Dewi setengah terpejam, dan tetesan air mata terus meleleh dari sudut matanya.


"Selamatkan anak saya, Dok. Lakukan yang terbaik," kata bu Silfa.


Bang Raditpun diberi kesempatan untuk menemui bu Dewi dan masuk ke kamar operasi. Aku menjadi saksi bisu bagaimana bang Radit sangat terpukul dan terlihat pilu.


"Dewi, kenapa jadi seperti ini? Kenapa kamu tidak mengajakku masuk ke kamar operasi? Apa karena ini alasannya? Dua hari yang lalu kamu mengatakan aku tidak boleh mendampingi kamu. Lalu saat aku tanya alasannya, kamu mengatakan karena tidak ingin membuat aku bersedih."


"Dewi, bukankah setelah selesai masa nifas kita akan umroh bersama? Huuks." Bang Radit menangis.


"Bang Radit, tenang ya, mari berdoa untuk kebaikannya," ajakku.


"Ya, Pak. Bapak harus tenang."


Lalu dokter dan tim medis lainnya memberi tahu bahwa bu Dewi akan segera dipindahkan ke ruang ICU. Ada hal yang janggal saat ia hendak dipindahkan ke ICU, tangan bu Dewi terus memegangku. Karena hal itu, aku segera meminta izin pada dokter untuk mendampinginya hingga ke ruang ICU. Dokter menyetujui permintaanku.


...⚘️⚘️⚘️...


Di ruang ICU, bu Dewi segera dilakukan intubasi lanjutan. Ada banyak sekali peralatan medis terpasang di tubuhnya. Hingga detik ini, bu Dewi masih memegang tanganku. Aku lanjut melantunkan tahlil di telinganya. Kondisi bu Dewi saat ini ... 'tidak sadar.'


"Tolong cepat bangun ya Wi. Oiya Wi, a-aku minta maaf karena belum sempat menjawab pertanyan kamu. Padahal, kamu sudah bertanya sejak sebulan yang lalu. Kamu bertanya, 'Apakah aku mencinta kamu.' Tapi hingga saat ini, aku belum menjawabnya. Wi, cepat bangun, aku ingin menjawabnya," lirih bang Radit sambil menciumi tangan bu Dewi. Dadaku terasa sesak, turut merasakan kepiluan bang Radit. Lalu perlahan tangan bu Dewi lepas dari menggenggamku.


"Sayang," tiba-tiba bu Silfa datang dan memeluk tangannya. Aku tertunduk dan tanpa henti memanjatkan doa untuknya.


"Maafkan Mami sayang, Mami salah, maafkan Mami yang tidak pernah mau mendengar cerita kamu. Maafkan Mami yang tidak pernah meluangkan banyak waktu untuk bersama kamu. Huuu, sayang ... tolong bangun."


"Bu, sa-sabar," aku memeluk bu Silfa.


"Daini, huuu. Bayinya juga kritis, sampai sekarang belum menangis. Ta-tapi, tadi Zul sudah mengadzaninya. Bagaimana ini Daini? Saya takut Tuhan mengambil Dewi dan cucu saya. Huuu."


"Huuu, tapi Dai, kenapa jadi seperti ini? Di saat Dewi sudah sembuh, kenapa kondisi dia malah begini? Padahal, sa-saya sudah janji kalau besok malam saya akan mengeloninya. Huuu."


"Me-mengeloni? Maksud Ibu?"


"Beberapa hari yang lalu, dia meminta tidur bareng saya dan katanya mau dikeloni. De-Dewi bahkan sudah tidur di kamar saya, tapi karena ada janji dengan klien dan permintaannya mendadak, sa-saya belum sempat memenuhi permintaannya." Bu Silfa bicara seraya memegang dadanya. Aku mematung. Penjelasan bu Silfa terasa menyesakkan dada.


"Bu Dewi ...."


Aku bersimpuh di lantai, memegang dadaku yang terasa sakit. Kisah itupun terlintas kembali. Muncul lagi perasaan bersalah yang selama ini selalu menjadi bayang-bayang di balik kebahagianku.


"Bu Silfa, a-aku minta maaf. Karena aku ---."


"Daini, kamu tidak salah. Tolong jangan mengungkit kejadian yang bisa membuat perasaan kamu tersakiti lagi. Ini sudah takdir, bukankah kamu yang selalu mengingatkan saya kalau semua ini adalah takdir?" Bu Silfa meraih bahuku. Ia kemudian mencium keningku.


"Ta-tapi Bu ---."


"Ssstt, tolong dampingi anak saya. Saya tidak bisa apa-apa." Aku mengangguk lemah. Kembali mendekati bu Dewi dan membisikkan tahlil di telinganya.


Bu Dewi, andai kita bisa terlahir kembali, aku juga ingin menjadi adikmu. Pasti bahagia kalau kita bisa bermain boneka bersama. Ya, kan? Batinku meracau.


Karena harus melaksanakan shalat Isya dan pompa ASI, aku izin pergi sejenak pada bu Silfa untuk meninggalkan ruang ICU.


...⚘️⚘️⚘️...


Di lorong mushola rumah sakit, secara tidak sengaja, aku malah bertemu dengan pak Zulfikar.

__ADS_1


"Sa-sayang?"


"Mas?"


"Hanin." Dia tiba-tiba merangkulku. Akupun memeluknya erat dan menangis di dadanya.


"Ha-Hanin, ba-bayinya perempuan, dia sangat ca-cantik. Ta-tapi belum bisa menangis," jelasnya dengan terbata-bata.


"Kita berdoa semoga bu Dewi dan anak kita baik-baik saja." Ya, aku menyebutnya sebagai "anak kita."


"Dia sangat cantik Hanin, cantik sekali."


"Anda tampan, bu Dewi juga cantik. Dia cantik pasti karena mewarisi parasnya dari kedua orang tuanya."


"Ti-tidak sayang, dia tidak mirip Dewi. Bayi itu justru sangat mirip dengan kamu."


"A-apa?" Aku terkejut.


"Ya sayang, aku juga kaget. Tingkat kemiripannya sampai 80 persen."


"Huuu, aku ingin melihatnya Mas."


"Ya, nanti kita ke NICU. Sekarang kita shalat dulu ya," ajaknya. Menuntun tanganku.


...⚘️⚘️⚘️...


"Daini, Dai, banguuun."


Seseorang menusuk pipiku. Aku membuka mata dan segera menghalangi mataku karena silau. Sinar matahari sedang menelusup ke kamarku.


"Kak, aku masih ngantuk tahu. Kenapa tirainya dibuka?"


"Kakak mau menunjukkan sesuatu sama kamu. Setelah melihatnya, kamu pasti suka. Cepat bangun," paksanya. Kali ini sambil memelukku.


"Ya ampun, malas, Kak. Aku masih ngantuk."


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau lihat, Kakak pergi duluan ya, dan jangan salahkan Kakak. Ia tersenyum, mencium keningku, dan berlalu. Aku menautkan alis karena penampilan kakak sangat berbeda, ia memakai gaun putih yang sangat cantik, berkilau dan bertaburkan swarovski. Jilbab kakakpun sangat indah.


"Kak Dewi, tunggu." Aku mengejarnya. Namun saat aku membuka pintu kamar, sosoknya sudah menghilang.


"Hanin, Hanin, sayang, bangun." Seseorang mengecup keningku.


Aku membuka mata dan segera menyadari sesuatu. Tadi, setelah shalat Isya dan pompa ASI, aku menyandarkan kepala pada dinding mushola sambil mengulang hafalanku. Aku bahkan masih menggunakan mukena.


"Kak Dewi!" teriakku.


Tanpa memedulikan pak Zulfikar, aku segera berlari menuju ruang ICU.


"Sayang, tunggu! Sayang jangan lari-lari! Sayang mukenanya buka dulu!"


Pak Zulfikar mengejar sambil mengingatkanku. Orang-orang yang berpapasan denganku memberi jalan sambil menatap keheranan. Ya, mereka pasti heran karena aku berlari-lari dan masih memakai mukena.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


Jangan lupa untuk berkunjung ke sini dan jika berkenan mohon dukungannya. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2