Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Kabar Tak Sedap


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Aamiin."


Aku mengaminkan doa-doanya. Aku dan suamiku baru saja menjalankan ibadah shalat Isya berjamaah. Memandangi pundak kokohnya saat dia menengadahkan tangan mengetuk pintu langit, membuat batinku merasa tentram.


Apa lagi saat tangan hangatnya menggenggam tanganku. Lalu kukecup dan kuhidu punggung tangannya. Pak Zulfikar mengusap puncak kepalaku, kemudian mengecupnya.


Terlepas dari seberapa banyak masalah yang tengah kami hadapi, saat ini faktanya dia sedang bersamaku. Dia melipat sajadah berulang-ulang. Entah bentuk seperti apa yang ia inginkan. Padahal sudah rapi, tapi dibuka lagi dan dan dilipat lagi. Jelas sekali kalau suamiku tak pandai melipat.


"Biar aku yang rapikan, Pak."


"Jangan sayang, aku saja," tolaknya. Malah mengambil sajadah dan mukenaku.


"Aku yang rapikan, kamu cepat berbaring lagi ya," bujuknya.


Aku patuh, segera naik ke tempat tidur. Dari sini, aku memandangnya. Sekarang ia sedang sibuk melipat mukena.


"Apa seperti ini rapi?" Melirikku.


"Rapi Pak." Aku mengangkat jempol sambil tersenyum.


"Serius?" tanyanya lagi. Aku mengangguk untuk meyakinkannya.


Setelah menyimpannya, Pak Zulfikar sibuk membuka tas kerjanya. Mengambil laptop dan menyalakannya.


"Ada pekerjaan?" tanyaku.


"Emm, sedikit sayang, kamu istirahat saja."


"Apa ada yang bisa kubantu?"


"Hanin, kamu sedang sakit, lupakan pekerjaan kantor. Fokus pada kesehatanmu," tegasnya. Aku menghela napas. Nada tegasnya membuatku segan.


"Permisi." Seorang bidan masuk.


Ruangan yang kutempati adalah ruangan maternal yang dikhususkan untuk ibu hamil yang bermasalah dengan kandungannya. Jadi, di ruangan ini tidak ada perawat ataupun suster. Adanya bidan, dokter umum dan dokter kandungan. Aku mendapat informasi itu saat memutuskan untuk pindah kamar dari kelas eksekutif ke kelas VIP.


"Masih ada perdarahan?" tanya bidan sambil memeriksa tekanan darahku.


"Perasaan 'sih tidak ada yang keluar, Bu," jawabku.


"Tekanan darahnya normal. Tadi saat ibu ke toilet apa di pembalutnya ada flek darah?"


"A-aku tidak tahu, Bu. Tadi hanya berwudhu, tak sampai dicek," jawabku. Mana berani aku mengecek pembalut saat pak Zulfikar ada di sisiku.


"Baik, mohon izin untuk saya cek sekarang ya, Bu," katanya.


"Se-sekarang?"


Ya ampun, aku malu. Mendengar bu bidan mengatakan mau mengecek, pak Zulfikar langsung mendekat.


"Ya Bu Bidan, silahkan cek saja," katanya.


Ish, dasar laki-laki. Dia pasti bahagia kalau aku tak perdarahan. Aku juga bahagia 'sih. Sebab saat tak perdarahan, itu artinya janinku sehat dan bisa dipertahankan.


"Saya buka ya Bu," kata bu bidan. Ia bersiap menggunakan sarung tangan medis.


"Pak, Anda jangan dekat-dekat, sana!" usirku. Bu bidan menatap aneh padaku dan pak Zulfikar, mungkin merasa heran karena aku memanggilnya 'bapak.'


"Sayang, aku juga mau lihat."


"Pak, ibunya tak nyaman, bapak menjauh dulu ya. Nanti hasil pemeriksaannya akan saya sampaikan pada Bapak."


"Aku suaminya, Bu." Dia bersikukuh. Aku jadi malu dan juga kesal. Spontan cemberut.


"Kamu tak suka? Maaf sayang, oke, aku menunggu, tak akan melihat," katanya.


Dia kembali ke kursi tunggu. Fokus lagi pada laptopnya. Ekspresinya lucu sekali. Melirik dan terlihat khawatir saat bidan memeriksaku.


"Tidak diperiksa dalam lagi, kan?" tanyanya. Sekarang berdiri. Menatap dari kejauhan dan gelisah.


"Tidak, Pak. Hanya dilihat," jelas bidan. Dari ujung matanya yang menyipit, bidan ini sepertinya sedang tersenyum.


"Di pembalutnya bersih, alhamdulillah sudah tidak ada flek darah," jelasnya.


"Alhamdulillah," sahut pak Zulfikar dan akupun mengucap hamdalah. Bahagia tiada terkira karena perdarahannya tidak berlanjut. Itu berarti kandunganku sehat dan baik-baik saja.


"Kamu hebat sayang, aku tahu kalau kamu wanita kuat." Tanpa sepengetahuanku, pak Zulfikar sudah ada di sisiku, mengecup keningnya. Raut wajahnya berbinar.


"Aku kuat karena Bapak ada di sampingku dan mendukungku." Kalimat yang terucap dari bibirku membuatku kaget sendiri.


"Aku suamimu sayang, ini anak kita, untuk masalah dukungan, harusnya kamu tak perlu mempertanyakannya lagi," katanya.


"Duh, romantis sekali," gumam bu bidan.


"Bu Bidan, kalau tidak ada perdarahan, tak perlu menunggu satu bulan kali ya puasanya? Maksudku puasa emm ... Bu Bidan faham, kan?"


Pak Zulfikar membahas hal itu, aku jadi menanggung malu. Segera memalingkan wajahku yang terasa panas. Aku tak mau bersitatap dengan bidan yang saat ini tengah terkekeh.


"Hahaha, Bapak tak sabaran ya, mentang-mentang istrinya cantik. Untuk masalah itu, seperti yang telah dijelaskan oleh dokter, Bapak tetap harus menunggu pemantauan selama satu bulan."


"Dalam priode itu, Bapak juga tak boleh melakukan hal-hal yang dapat merangsang atau meningkatkan libidonya. Sebab, jika libido Ibu meningkat, maka otot panggulnya akan berkontraksi dan menekan dinding rahim. Kalau rahimnya kuat 'sih tak masalah, tapi karena dinding rahim Ibu pernah mengalami trauma, jadi tak diperkenankan melakukan hal-hal yang bisa memicu hasratnya Bu Daini," jelas bidan panjang lebar.


"Oh ya ampun," keluhnya. Sedangkan aku masih di posisi semula. Memalingkan wajah karena teramat malu.


"Ya sudah, Bu Daini cepat istirahat ya. Jangan lupa diminum vitamin adan asam folatnya."


"Ya Bu," sahutku.


"Ada pemeriksaan apa lagi Bu, di jam berapa?" tanya pak Zulfikar.


"Nanti jam 6 dicek lagi perdarahannya sama ada injeksi vitamin K jam 7 pagi."

__ADS_1


"Bu, bisa tidak kalau injeksi vitamin K-nya dipercepat? Malam ini, setelah shalat Subuh, aku rencananya mau membawa istriku pulang paksa."


"Apa? Pulang paksa? Kenapa harus pulang paksa, Pak? 'Kan Ibu masih butuh pemantauan."


Bidan terlihat kaget, akupun demikian. Kukira, saat pak Zukfikar mengatakan akan membawaku pulang ke Bandung, ia hanya bercanda.


"Aku punya alasan pribadi, Bu," jawabnya sambil menggenggam tanganku.


"Kalau memang sudah diputuskan, kami dari pihak rumah sakit ya teserah keluarga saja. Tapi untuk pulang paksa, BPJS-nya biasanya tidak diklem, Pak."


"Aku tak masalah, tidak apa-apa, pakai administrasi umum saja," tambahnya.


Bidan itu mengiyakan, lalu pamitan dan beranjak. Setelah bidan pergi, pak Zulfikar segera mengunci pintu, kemudian kembali berkutat dengan laptopnya. Entah sedang mengerjakan apa, yang jelas dia tampak sibuk. Aku memiringkan badan agar bisa melihat sosoknya.


"Cepat tidur sayang," suruhnya. Melirik sejenak ke arahku.


"Belum ngantuk, Pak," jawabku.


Tiba-tiba muncul perasaan ingin tidur sambil memeluknya. Tapi aku tak berani mengatakannya. Biar kupendam saja keinginan itu sampai kantuk itu datang.


Faktanya, kantuk tak kunjung datang. Akhirnya, aku mencoba memejamkan mata. Perlahan, sosok pria tampan yang tubuhnya selalu wangi itu menghilang dari pelupuk mataku.


Lalu ....


"Apa?!"


Suara pak Zulfikar bisa kudengar karena aku belum tidur. Dia sepertinya sedang menelepon. Aku tetap memejamkan mata dan berharap agar dia tak menyadari kalau aku pura-pura tidur.


"Bagaimana kondisinya, Bang? Tapi tadi dia baik-baik saja, kok," serunya. Terdengar panik.


"Apa?! Ada papi dan mami juga? Kapan mereka datang?" Suaranya semakin pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Tapi Bang, aku tak bisa pulang, aku sedang bersama seseorang yang sangat penting dan dia juga sedang sakit," katanya.


Mendengar kalimat itu, aku jadi penasaran. Aku membuka mataku perlahan. Tapi tidak terbuka seluruhnya. Pak Zulfikar pasti mengira kalau aku masih tidur. Dia tampak gelisah. Mondar-mandir ke sana ke mari sambil menatap layar ponselnya. Dia juga memasygul rambutnya beberapa kali.


"Astaghfirullahaladzim," gumamnya.


Sebagai istri, aku tentu saja tak biasa membiarkan ia gelisah seorang diri. Namun saat aku hendak menyapanya. Pak Zulfikar menelepon seseorang.


"Halo, Listi," katanya.


Aku jadi tak tenang. Kenapa dia menelepon kak Listi?


"Listi, please ... aku mohon, cepat ke rumah sakit! Sekarang ya, dan jangan pakai lama!" titahnya. Aku menautkan alis.


"Jangan tanya dulu alasannya, pokoknya kamu cepat ke sini. Nanti akan kujelaskan. Anggap saja tugas ini sebagai lembur ekstra dariku. Aku janji akan membayar kamu tiga kali lipat dari gaji lemburmu, cepat ya. Aku tunggu." Lalu ia mengakhiri panggilan dan kembali gelisah.


"Pak," panggilku lirih.


"Ha-Hanin?"


Ia terkejut. Langsung mendekat dan menebar senyuman. Padahal, kuyakin jika itu hanyalah sebuah senyuman yang dipaksakan.


"Aku tidak apa-apa sayang," sangkalnya sambil naik ke tempat tidur dan memelukku.


"Jangan berbohong, Pak. Aku belum tidur, aku mendengar semuanya."


"Apa? Kamu menguping? Nakal ya," masih bisa bercanda. Malah menyatukan keningnya dengan keningku.


"Pak, katakan, ada apa?" Suaraku gemetar karena tak kuasa menahan desakan rasa yang menghentak kalbuku.


"Sayang ...."


Setelah menatapku, Pak Zulfikar memelukku. Napasnya terdengar memburu. Ia mungkin sedang menahan gejolak rasa yang mengganggu ketenangannya.


"Walaupun aku tak memiliki kekuasaan seperti Anda, walaupun Anda tahu aku tak bisa melakukan apa-apa, tapi ... tolong izinkan aku mengetahui permasalahan Bapak. Boleh ya ...," ratapku.


Aku menatap matanya, dan dia juga menatapku. Airmataku menetes. Aku tahu pak Zulfikarpun sebenarnya ingin menangis. Namun ia berusaha menahannya. Bibir merahnya gemetar dan berkata ....


"Sa-sayang, aku baru saja dapat kabar kalau Dewi pingsan, dia sudah dibawa ke rumah sakit oleh papi dan maminya."


"A-apa?! Innalillahi, sakit apa, Pak?" Aku sampai bangun saking kagetnya. Namun pak Zulfikar menahan bahuku.


"Aku belum tahu dia sakit apa. Semoga saja tak parah."


"Pak, Anda harus cepat pulang," bujukku.


"Tidak sayang. Aku tak mungkin meninggalkan kamu sendirian. Aku akan pergi setelah Listi datang."


"Pak, aku tak apa-apa sendirian. Aku sudah besar 'kok. Cepat, Pak!" desakku. Serius, aku sangat mengkhawatirkan kondisi bu Dewi.


"Sayang, Dewi sudah bersama mama dan papanya. Sedangkan kamu? Kamu sendirian sayang." Dia memegang tanganku. Saat ini, posisi kami duduk berhadapan.


"Huks, a-aku tak suka Anda seperti ini. Aku ridho Anda pergi. Harusnya Anda segera pergi, Pak." Akhirnya tangisku pecah juga.


"Baik, aku janji akan melakukan keinginanmu, sayang. Tapi, apa kamu juga mau melakukan keinginanku?" tanyanya.


"Keinginan? Keinginan apa, Pak?"


"Setelah Listi tiba, kamu harus segera pergi dari rumah sakit ini ya sa-sayang. Pergi ke Bandung."


Pak Zulfikar mengatakan kalimat itu dengan mata berkaca-kaca. Aku terhenyak, batinku berkecamuk dan bergemuruh. Kalimat ini terasa menyesakkan dadaku. Aku merasa seolah terusir dan diusir dari sisinya.


"Sayang." Dia mendekapku. Aku terisak di dadanya.


"Huuu."


Aku berharap Anda tak mengatakan kalimat itu, aku sebenarnya tak bisa jauh-jauh dari Anda, Pak Zulfikar. Ratapku dalam hati.


"Jangan salah faham ya sayang, aku mengatakan itu demi kebaikan kamu dan calon kembar bayi kita. Tolong jangan salah mengira, apa lagi menuduhku ingin menghindar dari kamu. Wallahi Hanindiya, aku juga tak ingin melakukan ini, tapi keadaan saat ini telah memaksa dan mendesakku," jelasnya seraya mengecupi air mata yang mengalir di pipiku.


"Huuu, Pak ... jika keadaan ini diakibatkan karena kehadiranku, kenapa Anda tidak melepaskan aku saja? Aku ikhlas ridho jikapun harus mengurus calon bayi kita seorang diri."

__ADS_1


"Tidak sayang, kenapa kamu tega sekali mengatakan itu? Bukankah kamu pernah mengatakan kalau aku tak boleh pergi ataupun menghindari suratan takdir ini?"


Dia mempererat dekapannya.


"Hanin, tolong jangan pernah memintaku untuk melepasmu. Sebab saat kamu mengatakan itu, maka luka di hatiku kian menganga saja. Tolong dukung aku sayang. Aku ingin memperjuangkan cintaku. Aku ingin bahagia bersama kamu, Hanindiya."


Tatapannya terlihat memelas. Kalau aku tak salah lihat, matanya tampak tulus menyiratkan jika dia benar-benar mencintaiku.


"Pak, kenapa Anda hanya ingin bahagia bersamaku? Kenapa Anda tidak mengajak bu Dewi untuk bahagia juga?" Sambil menengadahkan kepala, menatapnya.


"Hanin, ini bukan hal yang mudah sayang, ini sangat rumit. Kalaupun aku jujur, aku tak yakin kamu akan mempercayaiku. Intinya, aku menduga jika aku dan keluargaku telah ditipu oleh keluarganya Dewi. Mereka melakukannya tentu saja demi keuntungan, masa depan perusahaan, dan jejaring bisnis mereka."


"Aku tak mengerti, Pak."


"Aku sudah menduga kalau kamu pasti tidak akan mengerti. Garis besarnya ... a-aku ... aku ingin pisah dari Dewi, sayang."


"A-apa? Ti-tidak boleh, Pak! Anda jangan menceraikan bu Dewi! Aku tak mengizinkan!" tegasku.


"Sayang, aku akan membuktikan kepadamu kalau Dewi tak pantas kupertahankan. Awalnya, aku sempat berniat untuk bertahan dan belajar menjadi suami yang adil untuk kamu dan untuk Dewi. Tapi, Dewi berbeda sayang. Bayangkan, Dewi tak segan menyakiti kamu. Kalau aku boleh jujur, maaf, Dewi juga sering menyakitiku."


Pak Zulfikar tertunduk lesu. Aku membisu, bingung mau mengatakan apa untuk mengomentarinya. Kugenggam telapak tangannya. Semoga bisa sedikit menguatkan.


"Sayang, lihat ini." Dia membuka bajunya.


"Terakhir kali aku bercinta dengan Dewi, dia mencakar dan menggigitku, sayang. Alasannya selalu karena gemas dan sangat menyukai tubuhku. Jujur, ini bukan kali pertamanya. Saat bercinta denganku, kamu sering menutup wajah, jadi kamu tak sadar kalau di tubuhku ada luka."


Aku teperangah, ya di dadanya memang ada semacam memar-memar dan bekas cakaran. Aku mengusapnya pelan. Kemudian merapikan kembali pakaiannya.


"Tolong jangan dibahas lagi, Pak. Bukankah Anda sudah komitmen tidak akan membahas urusan ranjang?"


"Ini bukan tentang ranjang sayang. Ini tentang prilaku kasar yang sering dilakukan oleh Dewi. Sebenarnya, prilaku Dewi saat di tempat tidur masih bisa kumaafkan, tapi di luar masalah itu, ada hal lain yang juga janggal. Aku sedang menyelidikinya. Aku juga tak terima Dewi menyakiti kamu, Hanin."


Apa yang dikatakan pak Zulfikar membuatku bingung. 'Kok bisa ia menyelidiki istrinya sendiri?


"Nanti kamu ke Bandung bersama Listi ya sayang, karena Dewi dirawat, maaf jadi tak bisa mengantar kamu." Sambil membuka jilbabku, lalu membelai rambutku.


"Ti-tidak apa-apa, Pak." Aku memeluk lengannya.


"Hanin, aku juga mohon doanya, besok aku mau bertemu papa untuk menjelaskan semuanya. Jalan yang harus kutempuh sangat panjang dan beresiko sayang." Dia memelukku lagi. Sesekali mencium tengkukku.


"Walaupun Bapak tidak memintanya, aku pasti berdoa demi kebaikan dan keselamatan Anda. Setelah kondisiku stabil, aku janji akan memberanikan diri untuk bertemu dengan bu Yuze dan pak Aksa." Pak Zulfikar mengangguk. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Oiya Pak, tolong jangan memaksakan diri untuk mempertahankan aku. Jika masalah ini semakin berlarut-larut, dan perpisahan denganku adalah jalan terbaiknya maka ---."


"Mmm ...."


Aku terbungkam. Pak Zulfikar menyambar bibirku dengan sedikit kasar sebelum aku menuntaskan kalimatku. Dia menahan belakang kepala dan daguku. Aku tak berdaya dan spontan memejamkan mata sambil memeluk tubuhnya. Dia menyesapku, menari-nari dan bersilat dengan mahirnya.


Perasaan ini ... sangat memalukan. Tubuhku jadi berdesir-desir dan berdebar. Rongga mulutku menghangat dan nyaman. Ini sangat melenakan, ini menenangkan. Aku menyukainya, sampai akhirnya aku merintih pelan dan tersenggal-senggal.


"Uhm ... ohm ...."


Dia baru melepaskanku setelah napasnya berubah cepat.


"Jangan pernah berani mengatakan tentang perpisahan lagi! Faham?! Camkan!" tandasnya sambil mengusap bibirku. Nada bicaranya penuh penekanan.


"Apa kamu tahu? Setiap kata perpisahan yang kamu ucapkan, terasa menikam ulu hati dan jantungku Hanindiya!" tegasnya. Saat mengusap kembali bibirku, tangannya gemetar.


"Ma-maaf ...," ucapku.


Lalu pak Zulfikar berdiri dan merutuki dirinya sendiri.


"Sial!" gumamnya. Ia sadar jika akitivitas kissing tadi membuat tubuhnya bereaksi.


Akupun menelan saliva kasar saat tak sengaja melihatnya. Pak Zulfikar membalikan badan, lalu melakukan gerakan pendinginan. Di tengah kesedihan ini, terselip jua kejadian lucu. Akupun mengulum senyum. Padahal, air mata masih membasahi pipiku.


Setelah tenang, ia duduk di sofa.


"Assalamu'alaikuum," Listi, kamu di mana? Cepat ya," katanya.


Ia menelepon kak Listi lagi. Lantas sibuk memainkan ponsel, dari gerakannya, aku tahu kalau dia sedang berbagi pesan.


"Pak," panggilku.


"Maaf sayang, aku tak bisa peluk kamu dulu, masih risih dengan tubuhku, celanaku masih terasa sempit," katanya.


"A-apa?" Mataku mengerjap. Bagiku, apa yang dia katakan terdengar sangat frontal.


Beberapa saat kemudian kak Listipun datang. Dia cepat-cepat menghampiri dan memelukku.


"Neng, yang sabar ya," katanya dengan suara pelan. Matanya memerah.


"Kak, kenapa? 'Kok nangis?" tanyaku.


"Neng, gua tadi tak sengaja lihat berita online."


"Berita?" Aku keheranan.


"Dai begini, aku ---."


"Listi!" sela pak Zulfikar.


"Aku mau bicara sama kamu. Ini sangat penting," tambahnya. Lalu keluar ruangan.


"Neng, tunggu ya," kak Listi menyusul pak Zulfikar.


"Ada apa ya?" gumamku.


Karena penasaran, akupun mengambil ponselku.


Kak Listi mengatakan berita online, tapi kenapa mengatakan 'sabar ya' kepadaku? Aneh sekali, bukan?


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2