Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Dendam Kesumat


__ADS_3

Dewi Laksmi


"Sabar Non Dewi, tolong kendalikan emosi Anda," kata dokter Edward.


"Diam, Dok! Aku tahu apa yang harus kulakukan!" teriakku.


"Sayang, sabar 'dong. Kalau kamu tak bisa sabar, usaha kita akan gagal, dan wanita itu akan memegang takhta tertinggi di keluarga Antesna," sela mami.


Mami, dokter Edward, dan dokter Andi sedang berada di kamarku. Dokter Edward adalah dokter kandungan. Sementara dokter Andi adalah dokter yang telah selesai menjalani pendidikan spesialisasi di bidang psikiatri. Dia psikiater pribadiku. Dia juga bekerja di rumah sakit ternama sebagai dokter spesialis kesehatan jiwa.


Mereka berdua adalah kerabatku. Ayahnya dokter Edward kakak beradik dengan mamiku. Sedangkan dokter Andi adalah pamanku. Dia adik papiku. Jadi, mereka berdua sudah mengetahui rahasiaku. Dari seluruh keluarga besar, papi dan mamiku adalah yang paling kaya-raya.


"Aku tak bisa tiduran terus, Mami! Aku mau healing! Ke taman belakang rumah pakai kursi roda, masa tak boleh, 'sih?!"


"Non Dewi, selama periode embrio berkembang di rahim Anda, memang harus istirahat total. Hal ini dilakukan agar embrio yang sudah ditanam tidak luluh," kata dokter Edward.


"Dok, enggak ada cara lain apa?! Dengar ya, aku juga sudah hampir sebulan tak bercinta dengan mas Zul. Kangen tahu! Aku mau mas Zul, Mami!" Dokter Edward geleng-geleng kepala mendengar ocehanku.


"Dokter Andi, apa tidak cara untuk menenangkan Dewi agar bisa tenang? Kalau seperti ini terus, sebagai maminya, aku tak tega melihatnya, Dok."


"Sabar ya bu Silfa, saya dan dokter Edward sepakat melakukan karantina seperti ini agar program bayi tabungnya berhasil. Saya tak berani memberinya obat anti depresan karena khawatir akan mengganggu perkembangan embrionya."


"Jika diberikan secara rutin pada ibu hamil, efek jangka panjang anti depresan sangat bersiko. Bisa menghambat perkembangan dan pertumbuhan janin," jelas dokter Andi. Dia benar-benar tak bisa diandalkan!


"Dok, tolong carikan saja obat yang mujarab untuk Dewi. Maksudku, obat anti depresan yang tak memiliki efek samping untuk janinnya. Kalau dia teriak-teriak dan meronta seperti ini, pekerja di rumah ini bisa heran dan curiga," keluh mami.


Mami selalu saja khawatir. Dia selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Padahal, aku merasa baik-baik saja.


"Hemat saya, lebih baik kalau Non Dewi dirawat rumah Bu Silfa saja. Bagaimana?" Dokter Edward memberi saran.


"Tidak mau, Dok! Jarak dari kantor mas Zul ke rumah mamiku terlalu jauh! Aku tak mau berjauhan dari suamiku!"


"Sayang, saat ini kondisinya berbeda. Apa kamu mau penyakit kamu terbongkar? Kalau media tahu kamu memiliki penyakit kelainan ganda, publik pasti geger. Tolong ikuti saran dokter Edward ya, please. Mami mohon sama kamu, sayang. Semua ini demi kebaikan kamu, Wi. Mau ditaruh di mana wajah Mami dan keluarga besar kita kalau sampai ketahuan kita memalsukan penyakit kamu dari mereka."


"Tapi Mi. Kalau aku rindu sama mas Zul bagaimana?"


"Kan kamu bisa telepon Zul. Zul bisa ke rumah kita kapan saja."


"Tapi, jaraknya jauh sekali Mi. Dari kantor mas Zul ke Karawang kalau macet bisa sampai dua jam. Aku tidak mau! Bagaimana kalau kita suap saja si Inar dan bang Raditnya supaya mereka tutup mulut?"


"Terlalu berisiko sayang. Bang Radit dan Inar direkrut bekerja di rumah ini sama pak Reza, dan pak Reza itu adalah orang kepercayaannya pak Aksa. Mami tak setuju."

__ADS_1


"Aaargghh! Aku benci dengan penyakit ini! Semua ini gara-gara si j a l a n g itu! Padahal, setelah menikah dengan mas Zul, penyakitku hampir sembuh. Tapi gara-gara dia, penyakitku kambu lagi! Aku benci sama kamu, Daini!"


"Ssstt, sayang sudah 'dong. Oiya, dokter Edward, dokter Andi, apa kalian bisa keluar dulu?"


Mami menyuruh mereka keluar. Artinya, ada sesuatu yang ingin dibicarakan mami tapi harus dirahasiakan dari mereka. Setelah mereka keluar, mami mendekat.


"Sayang, kamu harus sembuh. Sebentar lagi, wanita yang mengambil kebahagiaan kamu akan menghilang dari dunia ini. Kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja."


"Halah, jangan bullshit, Mi. Buktinya, sampai di detik ini, dia masih hidup!"


"Sayang, kalau kita membunuhnya dengan cepat, Mami khawatir ada pihak yang curiga dengan kita. Jadi, Mami dan papi sengaja mengulur waktu."


"Terus, yang mati di depan unit apartemennya mas Zul siapa, Ma? Apa ada hubungannya dengan kita?"


"Nah, untuk masalah itu, Mami juga belum tahu. Mami harus menanyakannya pada papi. Tapi kamu tenang saja, walaupun faktanya mereka memiliki hubungan dengan kita. Nama kita akan tetap aman dan bersih. Keluarga kita kebal hukum sayang."


"Baguslah, Mi. Ada baiknya kita tinggal di negara yang oknumnya masih tumbuh subur. Rencana selanjutnya akan seperti apa, Mi? Aku tidak sabar untuk datang ke pemakamannya si Daini."


"Rencananya, pembunuh bayaran akan mengeksekusi Daini setelah dia pindah ke kontrakan. Kebetulan, mereka sudah tahu lokasi kontrakannya. Jadi, sebelum dia pindah, kamu sabar dulu ya sayang. Modusnya, nanti akan diseting seperti perampokan. Bagaimana? Kamu suka?"


"Hahaha, bagus, Mi. Aku suka. Mami dan papi memang top."


"Kamu juga harus berjuang untuk mendapatkan kembali hatinya Zul, sayang. Mami perhatikan, kamu 'tuh bawaannya marah-marah terus sama Zul. Dalam hal ini, kamu justru harus mencontoh Daini. Dia sangat lemah-lembut. Walaupun Mami tak menyukainya, tapi Mami tak bisa memungkiri kalau sikap dia memang baik."


"Maksud kamu?"


"Aku mengancam dia, Mi."


"Mengancam? Ya jangan 'dong sayang, makin saja nantinya Zul tak suka sama kamu."


"Mi, kalau dia tak diancam, dia benar-benar tak tahu diri. Aku melakukan ini karena dia tak adil. Bayangkan Mi, saat dia sedang bercinta denganku, yang dia sebut adalah nama si Daini!"


"Saat di rumah sakit untuk memulai program bayi tabung itu, miliknya bahkan hanya berfungsi saat dia bercinta dengan si Daini. Mas Zul telah melukai jiwa dan ragaku Mi. Aku sakit hati, Mi! Sakiiit! Huuu." Aku memukuli dadaku.


Ujung-ujungnya, aku tak bisa menahan tangis. Terlalu menyakitkan jika kuceritakan semuanya. Mami langsung memelukku. Andai saja rasa cintaku pada dia bisa dihapuskan, ingin rasanya aku juga membunuh mas Zul. Tapi setidaknya, dengan si Daini mati, luka di hatiku akan sedikit terobati.


"Dengan apa kamu mengancam dia, sayang?"


"Aku memasang mini kamera di kamar apartemen mas Zul, Mami. Apartemen itu sekarang sudah atas nama si Daini. Sistem kameranya seperti CCTV. Jadi, bisa terkoneksi langsung ke HP-ku."


"Apa?! Kamu serius sayang? Mana hasil vidionya? Mami mau lihat."

__ADS_1


"Mi, dengarkan dulu penjelasan lengkapnya. Begini, di hari aku memasang kamera itu, si Daini malah menyimpan sebuah kotak ke atas nakas. Jadi, lensa kameranya terhalang oleh kota itu, Mi."


"Ya ampun, Mami pikir kamu benar-benar punya vidio perzinaan mereka." Mami menghela napas. Raut wajah yang awalnya senang, tampak layu kembali.


"Aku juga maunya begitu, Mi. Tapi, sampai saat ini, kameranya masih terhalang kotak. Hanya bisa menangkap suara mereka. Karena tidak ada visualnya ya percuma saja. Kalaupun aku mengupload suara e r o t i s perzinaan mereka, publik tidak akan terlalu menanggapi, Mi. Pasti banyak yang mengira kalau itu suara rekayasa."


"Hmm, sayang sekali." Mami kembali menghela napas.


"Mami tenang saja. Mas Zul tahunya aku benar-benar memiliki vidio itu. Ini rahasia kita berdua ya, Mi. Aku bahkan belum menceritakannya pada papi."


"Wah, kamu hebat sayang, kalaupun papi tahu, dia pasti acung dua jempol untuk kamu. Oiya, kamu mau ya ikut sama Mami ke Karawang," bujuknya.


"Enggak, Mi. Maaf ya. Aku baik-baik saja, 'kok."


"Tapi sayang, kalau tetap di sini, dokter Andi tak bisa mendampingi kamu. Kalau penyakit kamu kambuh bagaimana?"


"Kan ada dokter Edward, Mi. Dia bisa melaporkan keadaanku pada dokter Andi setiap saat. Aku tak bisa jauh-jauh dari mas Zul. Mami tidak tahu 'sih Zul itu seperti apa. Dia suami yang sangat luar biasa, Mi." Aku tersenyum.


Aku membayangkan kembali masa-masa indah dan bahagia saat bersamanya. Ternyata, semua itu hanyalah sebuah kesemuan. Karena di hatinya mas Zul, hanya ada si b i n a l.


Wanita murahan yang tak tahu malu! Munafik! Dan sok suci!


Cuih!


Rasanya aku ingin meludahi wajahnya. Tidak! Air liur saja tidaklah cukup untuk membuatnya terhina-dina. Aku ingin melumuri wajahnya dan menyumpal mulutnya dengan kotoran manusia. Lalu merusak organ intimnya hingga dia sekarat, tersiksa, dan mati.


"DAINI AKU TERAMAT SANGAT MEMBENCIMU!! Huuu."


"Sa-sabar sayang." Mami memelukku, mengusap airmataku.


"Sayang, jika memang kamu yakin bisa menangani semuanya, Mami tak bisa memaksa kamu untuk tinggal di Karawang. Tapi, Mami juga tak bisa terus-menerus berada di rumah kamu. Mami dan papi 'kan sibuk, sayang. Bagaimana?"


"Pokoknya, Mami dan papi tak perlu khawatir, jika kandunganku sudah dinyatakan melewati masa kritis, aku akan pindah ke rumah papa Aksa, Mi. Akan kubuat mereka hanya memedulikan kehamilanku, dan tak memedulikan lagi kehamilannya si Daini."


"Baik, Mami setuju."


Yes.


Kalau mami pulang, aku bisa bebas minum obat anti depresan yang sengaja aku sembunyikan di tempat khusus. Aku yakin obat itu tidak akan memengaruhi kehamilanku. Sebab selama ini, aku selalu mengkonsumsi multivitamin dan makanan seimbang yang bergizi tinggi.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2