
"Zul," kak Gendis menyusul.
"Ada apa, Kak?" Padahal, aku baru saja hendak membuka pintu kamar.
"Apa maksud dari ucapan kamu yang tadi?"
"Kakak sudah mendengarnya, 'kan? Kenapa harus bertanya lagi?"
"Zul, kenapa kamu harus mengatakan pernyataan itu pada wartawan? Kenapa kamu gegabah sekali? Tidak 'kah kamu berpikir pernyataan itu akan mengundang masalah baru?"
"Kak, aku telah siap dengan segala risikonya. Aku janji tidak akan menyeret Kakak ataupun mama-papa ke dalam masalahku. Aku lelah seperti ini terus, Kak. Setelah kupikir-pikir, aku mengakui kalau papa dan mama sangat menyayangi Hanin. Tapi, mereka tidak pernah benar-benar siap melepas kerja sama dengan keluarga Surawijaya."
"Zul, mama dan papa seperti itu demi karir kamu. Juga demi masa depan perusahaan kita."
"Aku punya saham dan aset pribadi yang bisa kugunakan untuk jaga-jaga bila wanita itu nekad."
"Wanitu itu nekad? Maksud kamu apa, Zul?"
"Dewi mengancamku akan mengakuisisi perusahaan kita. Dia jadi lebih berani setelah kematian papi karena merasa memiliki kuasa yang lebih tinggi dari sebelumnya."
"Kok bisa Dewi mengancam kamu? Pasti punya alasan 'kan? Enggak mungkin kalau tiba-tiba mengancam."
"Ya, memang ada alasannya, Kak. Tapi aku belum menjelaskannya. Kakak akan mengetahuinya setelah penyidik membeberkan fakta baru dari barang bukti kematian papi."
"Fakta baru? 'Kok kamu bisa tahu fakta itu?"
"Aku main belakang. Tapi Kakak tenang saja, aku bisa jaga rahasia. Maka dari itu, Kakak jangan memaksaku untuk mengatakannya. Sudah ya, aku harus istirahat Kak Gendis, lelah."
"Baiklah, tapi lain kali kita harus mengobrol lagi untuk membahas masalah ini. Saran Kakak, tolong jangan gegabah. Kamu harus bersikap profesional. Baiknya, jangan menyangkutpautkan masalah rumah tangga kamu dengan perusahaan. Ingat Zul, masalah perusahaan itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Ribuan karyawan perusahaan kita menggantungkan nasib hidupnya pada kebijakan kamu."
"Aku mengerti, terima kasih sarannya, Kak. Oiya, Kak Gendis juga harus segera menata diri lagi. Sampai kapan Kakak mau melajang terus? Kata papa, banyak kolega bisnis yang ingin melamar Kakak. Kenapa Kakak tidak mencoba mengenal salah satu dari mereka?"
"Kamu bicara apa 'sih Zul? Rata-rata yang ingin melamarku pasti memiliki tujuan tertentu. Kupikir, pasti ada udang di balik batu. Aku tidak mau gagal lagi, Zul. Kamu tahu 'kan jumlah kerugian perusahaan kita saat aku memutuskan menggugat cerai?"
"Ya, aku tahu. Tapi bukan berarti Kakak menutup diri dari semua laki-laki."
"Aku tidak menutup diri, Zul. Aku hanya ingin menemukan pria tulus yang mencintaiku apa adanya. Kalau bisa, aku ingin menikah lagi tapi dengan orang biasa saja."
"Aku doakan semoga Kakak segera mendapatkan jodoh dunia akhirat," harapku. Aku memeluknya. Karena terlalu sibuk dengan masalah pribadiku, aku nyaris melupakan permasalahan yang dihadapi kak Gendis.
"Aamiin. Kakak juga selalu berdoa agar kamu bahagia."
...⚘️⚘️⚘️...
Aku menutup pintu perlahan. Khawatir mengganggu Hanin.
"Ya ampun." Mengela napas sambil geleng-geleng kepala.
Hanin ternyata masih terlelap. Posisinya bahkan belum berubah dari pertama kali aku meninggalkannya. Hanya tertutup handuk, dan itu sangat seksi. Tak ayal jika hal ini malah memantik birahiku. Sepertinya akan mengasyikkan dan melegakan jika aku menikmati tubuhnya kala hati ini tengah gundah-gulana. Lagi pula, wanita seksi, molek nan elok itu adalah milikku. Dia istriku.
Aku merangkak seraya menanggalkan kemejaku dan yang lainnya. Padahal, tadi aku merasa begitu lelah dan penat. Namun, melihat hidangan semacam ini. Mana tahan? Aku tersenyum sembari memandangi sekujur tubuhnya. Lantas menelusuri keindahan itu penuh kelembutan. Semakin membesar perutnya, dia semakin cantik dan seksi. Aura kehamilannya terpancar dengan sempurna.
Lalu perlahan memosisikan tubuhnya. Sesekali, boleh 'kan ya kalau aku menyerangnya secara tiba-tiba?
"Ini salahmu sayang," gumamku. Suruh siapa tidur dalam keadaan seperti ini.
Setelah berdoa, aku mulai menjamahnya dengan hati-hati dan perlahan agar ia tidak terbangun. Tapi, aku tidak yakin ia tidak akan terbangun. Saat sensasinya mulai terasa, tubuhkupun memanas. Detik selanjutnya, aku lepas kendali hingga Hanin mulai terbangun dan tersentak kaget. Matanya membulat, dan tentu saja akan mengatakan suatu.
Namun, sebelum bibirnya mengeluarkan kata-kata protes, aku segera mencegahnya dengan cara memagutnya. Di lain sisi, aku lanjut menaklukan tubuhnya hingga kedua tangannya mengerat pada sprei.
"Maaf ya sayang, boleh kulanjut?" bisikku saat tubuhnya mulai rileks dan pasrah.
Ia menatapku dan menganggukkan kepalanya. Tangannya perlahan membelai rambutku. Setelah beberapa saat, Hanin kemudian merangkul lenganku. Lalu ia mengalunkan rintihan cinta yang terdengar syahdu di telingaku.
Selanjutya, aku dan Hanin terombang-ambing di atas gelombang cinta yang kian menggelora dan melenakan. Gelombang cinta yang membuatku ingin terus terseret lebih jauh dan lebih dalam lagi. Sungguh, dahsyatnya gelombang cinta ini membuat jiwa dan ragaku tak ingin berlabuh.
...⚘️⚘️⚘️...
Iptu Sabil Sabilulungan
"Seperti halnya anggota Avengers, seorang polisi mengemban tugas utama untuk bertindak tegas dalam menghadapi kejahatan dan pelanggaran demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di muka bumi. Sebagai aparat penegak hukum, polisi memiliki peranan penting di setiap negara berdaulat."
Sedang berlangsung apel malam pasca operasi. Komandan masih lantang berorasi. Hari ini, kami baru saja melakukan evaluasi dan penyelidikan atas dugaan kasus pelanggaran yang dilakukan oleh oknum anggota Polri. Kasus pelanggaran ini menyulut kemarahan publik, duka serta trauma mendalam, dan tentu saja menjadi perhatian dunia karena memakan korban jiwa yang sangat banyak.
"Di Indonesia, profesi kita memang berada dalam sebuah lembaga keren bernama Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ya, tugas-tugas kita memang pasti akan membuat kalian bangga karena dapat melakukan tindakan pencegahan kriminal, melakukan penyelidikan terhadap pelanggaran hukum, memberikan perlindungan, mengawal orang-orang penting, dan sebagainya. Tapi INGAT!!!" teriak Komandan.
Ia kembali emosi. Seperti halnya anggota lain, aku tetap tegak berdiri dalam posisi siaga dengan pandangan lurus ke depan. Seperti inilah pekerjaanku. Kegiatan baris-berbaris adalah makanan pokok kami.
"Tapi INGAT! Jangan melupakan akal sehat kalian saat bertugas! Saya kecewa! Terus terang, tragedi itu membuat saya malu dan sedih! Rasanya ingin mengundurkan diri dari keanggotaan Polri detik ini juga!" Sambil mengepalkan tangan.
Sejatinya, tragedi itu tidak ada kaitannya dengan kesatuan di sektorku. Sebab, letaknya jelas berbeda dan kami yang berada di sini tidak ada yang terlibat. Namun, karena aku bekerja di sektor kesatuan pusat, kesatuanku menjadi bagian yang akan mengalami perombakan akibat kasus tersebut. Akan ada beberapa pejabat dan anggota yang nantinya akan dimutasi untuk mengisi kekosongan akibat tragedi luar biasa itu.
Sebab, gara-gara kasus itu, banyak perwira tinggi dan menengah yang dimutasi. Bahkan, desas-desusnya ada beberapa nama yang kemungkinan akan dipidana sampai dengan pemecatan secara tidak hormat.
Kenapa saat ini aku merasa khawatir? Sebab, aku takut menjadi salah satu nama yang akan dimutasi. Jika aku dimutasi, bagaimana dengan kekasihku? Aku tidak mau berjauhan dengan Listi. Sehari tidak bertemu saja aku tidak sanggup, apa lagi berjauhan?
"Maaf, saya tidak bisa menahan emosi! Karena sudah malam, langsung saja ya. Saya akan menyebutkan nama-nama yang akan diajukan pada pimpinan untuk mengisi kekosongan, alih tugas, rangkap tugas sementara, dan mutasi tetap," lanjutnya.
Lalu ajudan Komandan memberikan berkas yang akan dibaca oleh Komandan. Di dalam berkas itu tentu saja sudah terdapat nama-nama yang akan diusulkan. Serius, aku jadi deg degan. Tak kusangka, akibat jatuh cinta, aku jadi lemah seperti ini. Please jangan ada namaku.
"Nama-nama yang diajukan diantaranya, Iptu Sabil Sabilulungan, SH, Iptu ...."
Deg, aku berharapnya salah dengar. Oh tidak! Namamku bahkan disebutkan di nomor yang pertama. Tenang Abil, tenang. Tarik napas, buang napas perlahan, fokus, dan bayangkan saja sedang menatap wajah Listi.
Ada sepuluh nama yang diajukan. Setelah menyebutkan nama-nama itu, Komandan mengakhiri apel malam. Setelah baris-berbaris dibubarkan, aku masih masih mematung di tempat. Masih tidak percaya jika namaku menjadi salah satu yang akan dimutasi.
"Enggak pulang? Mau berdiri sampai besok?" tanya temanku sambil meninju perutku.
"Ya mau pulang 'lah," ketusku. Lantas berlalu.
"Sombong benar, kayak lagi PMS saja," ledeknya sambil menguntit.
"Ya, aku memang lagi PMS!" sentakku.
__ADS_1
"Hahaha, 'kok kamu malah murung 'sih? Orang-orang 'tuh pada senang mau dimutasi. Sebab, besar kemungkinan akan naik jabatan. Selamat ya kawan," ucapnya.
"Kalau kamu mau, silahkan bicara sama Komandan untuk menggantikan posisiku. Atau, kamu mengajukan diri saja!"
"Hahaha, aku tidak mau dimutasi. Kasihan istriku, Pak Abil. Mana baru melahirkan. Komandan juga pastinya enggak sembarangan mengajukan nama-nama. Pak Sabil itu masih lajang dan berprestasi, jadi wajar kalau terpilih. Bye, sampai bertemu besok," katanya. Kami berpisah, dan akupun bergegas ke parkiran.
...⚘️⚘️⚘️...
Sambil mengemudi, aku merenung. Malam ini, aku harus bertemu Listi dan membicarakan rencana mutasi itu. Dia sudah pulang belum ya? Segera menyalakan ponsel yang sedari tadi kumatikan. Aku harus menelepon Listi. Sudah dering ke empat tapi belum diangkat.
"Ayang, angkat dong. Kamu lagi apa sih?" rutukku.
Kembali meneleponnya. Ini adalah panggilan ketiga. Bibirku spontan tersenyum saat menyadari jika Listi menerima panggilanku.
"Ayang kemana saja 'sih? Lama benar angkat teleponnya." Langsung protes.
"Siapa yang HP-nya enggak aktif seharian?" Balik protes.
"Kan Aa sudah bilang ada tugas penting."
"Kan aku juga sudah bilang sibuk dengan acara tujuh bulanannya Daini." Ia tidak mau kalah.
"Ya sudah, maaf. Aa salah. Aa tidak bisa hadir karena tugasnya memang sangat penting dan mendesak."
"Ya A, aku sadar diri 'kok kalau tugas Aa itu jauh lebih penting daripada aku."
"Lho, lho. 'Kok bilangnya gitu 'sih, ayang? Aku hanya menjalankan tugas dan pekerjaanku. Jangan salah persepsi."
"Oke. Ya sudah, 'deh. Ada apa, A?"
"Ayang jawab dulu, sekarang ada di mana? Sudah makan apa belum? Terus, kenapa mengangkat teleponnya lambat?" Listi langsung menghela napas, aku bisa mendengar suaranya.
"Aku ada di rumah. Di kamarku. Aku sudah makan tiga kali. Telat angkat telepon karena baru datang dari acaranya Daini dan baru saja selesai mandi. Puas? Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Ayang barus selesai mandi? Hahaha, apa sudah pakai baju?"
"Belum! Masih pakai handuk! Puas?!" Listi mulai emosi.
"Hahaha, maaf ya ayang. Aku jadi ngebayangin kamu yang lagi pakai handuk."
"A Abil! Issh, sudah ah! Ada apa?!"
"Jangan marah-marah dong ayang. Begini, Aa mau ketemu. Ketemunya malam ini ya. Aa sudah menuju ke rumah kamu. Enggak apa-apa, 'kan?"
"Malam ini? Ini sudah jam sebelas malam, A."
"Ayang, apa salah kalau kita bertemu? Lagi pula, seharian ini kita belum bertemu, 'kan? Aa akan membicarakan hal penting ayang. Mau ya bertemu sama Aa. Dua menit lagi, Aa sampai di depan rumah kamu."
"A-apa?! Dua menit lagi?! Serius?!"
"Serius ayang. Hahaha. Maaf, sekarang mah sudah ada di depan rumah kamu."
"Apa?! Ya ampun A Abil. Kalau aku enggak mau bertemu Aa bagaimana?"
"Ishh, ya sudah 'deh. Tunggu ya. Aku mau pakai baju dulu."
"Baik, jangan lama-lama ya ayang." Lalu mengakhiri panggilan.
...⚘️⚘️⚘️...
Aku memarkirkan mobil tepat di depan rumahnya. Belum sampai semenit, gerbang rumahnya sudah terbuka. Listi muncul dengan tergesa-gesa. Ia bahkan masih mengancingkan piyamanya.
Aku segera membuka pintu mobil. Listi masuk. Aroma sabun langsung menguar. Ya ampun, cantik sekali. Rambutnya masih basah. Jadi terlihat seksi. Aku menatapnya tanpa berkedip.
"A Abil!"
"Ya ayang. Maaf, kamunya cantik banget 'sih. Jadi tidak bisa konsentari tahu Aanya pas lihat kamu teh. Mana ayangnya wangi lagi." Sambil melepas sabuk pengaman.
"Lebay ih. Cepat A, mau ngobrol apa?"
"Bisa enggak kalau Aa minta kiss dulu?"
"Apa?! Enggak mau. Dosa tahu, A. Aku tadi sudah berjanji enggak bakal bersentuhan fisik sama Aa lagi terkecuali bersamalan." Yakin, pasti sudah diceramahi lagi sama bu Daini.
"Ayang, kita pindah ke bangku belakang yuk!" ajakku. Sambil berpindah.
"Kenapa enggak bicara di sini saja, A?"
Ia protes namun tetap mengikuti keinginanku. Setelah kami berada di kursi belakang, aku lantas menarik tangannya dan memeluknya. Jujur, di dekat Listi, aku selalu berubah jadi pria bajingan.
"A-Abil."
"Biarkan aku memeluk kamu. Sebentar saja ayang. Boleh, ya? Aku kangen kamu, rindu kamu. Ohh ..., hmm ..., kamu wangi sekali." Aku menghidu aroma di tengkuknya.
"A Abil. Cu-cukup A, takut berkelanjutan. Le-lepas." Listi berusaha mengelak. Namun, aku tidak bisa melepasnya begitu saja.
"Harusnya, kamu menemuiku dengan memakai mukena. Kenapa malah memakai piyama, hmm? Kamu seksi dengan piyama ini. Aku tidak kuat ayang. Melihat kamu, rasanya jadi ingin memakan kamu." Memeluknya semakin erat. Lalu mengecup pelan daun telinganya.
"A Abil, emmh ...," ia melenguh pelan.
Pasti merasakan sesuatu saat aku mengecupnya. Lanjut merangkum wajahnya, mataku fokus pada bibir ranumnya yang berwarna merah alami.
"A, sabar." Ia menutup bibirku dengan jarinya.
"Hanya menempel ayang, masa enggak boleh?"
"Bullshit, sebelumnya juga Aa suka bilang begitu, 'kan? Tapi apa faktanya? Bibirku pernah sampai bengkak dan sedikit lecet. Sampai-sampai harus pakai masker seharian."
"Apa? Masa 'sih? Aku tidak ingat ayang." Pura-pura lupa. Tak putus asa, kembali mendekatkan wajah untuk mencapainya.
"A Abil! Kalau Aa maksa, aku mau putus!" ancamnya. Wah, nasihat bu Daini sepertinya sudah berhasil.
"Jangan dong, ayang."
__ADS_1
Aku takut dia serius mau putus. Akhirnya, terpaksa menahan keinginan itu sambil menelan saliva. Lalu mengatur napas untuk menenangkan diri.
"Aa mau cerita apa? Aku beri waktu lima menit." Sambil menjauhkan diri dari tubuhku.
"Aa mau dimutasi ayang, ada kemungkinan ditempatkan di daerah yang jauh dari Jakarta."
"Mutasi? Atuh tidak apa-apa, A. Sudah biasa 'kan polisi dimutasi?"
"Ayang, kenapa kamu tidak paham maksudku? Ayang, kalau aku dimutasi, bagaimana dengan hubungan kita? Aku tidak bisa LDR. Aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu." Lalu meraih tangannya. Kuletakan tangan itu di dadaku, kutatap matanya lekat-lekat.
"Apa mutasi itu sudah pasti? Artinya, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?"
"Emm, bisa dilobi 'sih. Tapi, itu sama saja dengan Aa tidak profesional."
"Ya sudah, Aa terima saja. Kalau mau ketemu aku 'kan bisa tinggal pulang."
"Tapi, Aa tidak bisa ayang. Intinya, Aa dilema dengan keputusan ini."
"Ya ampun, aku jadi bingung sama jalan pikiran Aa. Lagi pula, kalau memang Aa enggak mau dimutasi, bisa 'kan melobi sama pak Komjen? Bukankah ayah Anda adalah seorang Komjen? Atau, bisa meminta bantuan pak Direktur, 'kan? Bukankah suami kakaknya pak Aksa adalah petinggi polisi?"
"Tunggu," aku merenung sejenak.
"Hahaha." Lalu tertawa. Listi melongo keheranan.
"A Abil! Hei, Anda tidak salah minum obat, 'kan?"
"Hahaha, karena sedang dimabuk cinta, aku jadi bodoh ayang. Bisa-bisanya aku lupa kalau ayahku adalah Komjen. Kamu benar ayang, selain dari ayah, aku juga masih punya tameng lain, ada pak Zulfikar dan pak Aksa."
"Berarti, masalah mutasi sudah selesai ya, A. Sebenarnya, aku juga ada yang ingin dibicarakan."
"Kamu mau bicara sesuatu? Apa itu?"
"Apa Aa tahu tentang nikah gantung?"
"A-apa?!"
Aku terkejut seketika. Apakah Listi sudah terpapar masalah nikah gantung dari bu Daini? Kemarin, ayah sudah menjelaskan masalah nikah gantung itu kepadaku. Jantungku berdebar. Mungkinkah dia menerima atau justru menolak rencana pernikahan gantung itu?
"Ayang, apa yang kamu katakan? Nikah gantung? Maksudnya?" Pura-pura tidak paham.
"Kata Daini, untuk mencegah kita dari perbuatan dosa, aku dan Aa bisa melakukan nikah gantung. Selama nikah gantung itu, aku dan Aa harus belajar dan mempersiapkan diri untuk jadi pasangan suami istri yang sesungguhnya."
"Apa kamu ingin kita nikah gantung?" Faktanya, aku tidak sabaran dan ingin segera mendengar jawabannya.
"Kita coba saja yuk, A," jawabnya. Ia terlihat ragu, tapi aku sudah teramat bahagia.
"Hayu (yuk) ayang, aku setuju." Sangat setuju, batinku.
"Aa obrolin sama ayahnya Aa ya. Awalnya, aku ingin membahas masalah nikah nikah gantung itu sama bapak dan ibuku, tapi akunya tidak berani. Masa cewek bahas masalah pernikahan? Aneh enggak 'sih?"
"Aneh 'sih enggak ayang. Siap, aku akan menyampaikan tentang ini pada ayah dan bundaku."
"Tapi, Aa jangan mengatakan kalau ide nikah gantung itu dari aku ya. Aku mau nikah gantung karena tidak mau menumpuk dosa. Di sisi lain, aku juga memang belum siap nikah sungguhan. Dengan nikah gantung, aku tidak harus jadi istri sungguhan, tapi di saat Aa menyentuhku, jatuhnya tidak jadi dosa. Kurang lebih kata Daini begitu, A," jelasnya.
"Ayang," aku kembali memeluknya. Biarpun pemahamannya sedikit keliru, aku tetap bahagia.
"Tia, sama seperti kamu, aku juga tidak ingin menumpuk dosa."
Ya, bibirku memang berkata demikian, tapi tanganku tidak tinggal diam.
"A Abil? A-Anda mau apa?"
"Mau kamu," bisikku.
"A-Abil! Ja ---."
"Ahmm ...."
Akhirnya, berhasil juga mendapatknya. Listi menolak. Ia memukuli bahuku. Namun lambat-laun, pukulan itu melemah dan berubah menjadi rangkulan mesra. Segera aku resapi, aku sesapi, aku tautkan, aku jalinkan, aku taklukan, aku mainkan. Aku ... sedang menumpuk dosa.
"A-aku janji ini adalah dosa terakhir kita," kataku saat memberinya sedikit jeda untuk bisa bernapas lega.
"Ja-janji?" lirihnya. Bibirnya gemetar dan semakin memerah.
"Ya ayang, aku janji." Sembari mendekatkan bibir ke lehernya. Aku ingin menyematkan tanda cinta untuknya.
"Boleh?" bisikku. Meminta izin sebelum melakukannya.
"Bo-boleh, tapi ... i-ini yang terakhir kalinya ya." Sambil bergidik-gidik.
"Ya aku janji." Perlahan menyematkannya. Kulitnya terasa lembut, napas kami terdengar bersahutan.
"A Abil!" Ia mendorongku saat tanganku nyaris melakukan kelancangan.
"Ma-maaf ayang, maaf." Aku menyesalinya.
"A-aku pergi," katanya.
"Ya, 'dah ayang."
Aku jadi kikuk. Listipun demikian. Pipinya merona, ia juga terlihat gugup hingga melakukan kesalahan saat hendak membuka pintu mobil.
"Yes!"
Aku bersuka cita. Sebentar lagi, Listi akan menjadi milikku seutuhnya. Biarkan saja Listi menganggap itu sebagai pernikahan gantung. Karena bagiku, ini adalah pernikahan sungguhan.
"Terima kasih pak Zulfikar, terima kasih bu Daini." Aku mengirim pesan pada keduanya.
"Terima kasih orang-orang baik," gumamku. Maksudku, untuk bu Daini dan pak Zulfikar.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1