Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


Ingin rasanya aku menjerit sekeras mungkin guna mengurangi kegundahan dan keresahan hati ini. Pertengkaran dengan Dewi membuatku pusing. Lalu berita tentang sakitnya Hanin membuatku kian pusing tujuh keliling.


Lagi, Hanin tidak mengabariku kalau dia tidak masuk gara-gara sakit. Aku benar-benar mengkhawatirkannya. Aku melangkah gontai menuju ruang rapat. Kaki ini terasa hampa, seolah tak bertulang. Bagaimana lirih sedihnya suara Hanin, lalu kerasnya suara Dewi yang terus membentak dan meneriakiku memenuhi kepalaku.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" Nia yang mengekor berulang kali bertanya.


"Aku baik-baik saja Nia. Oiya, yang presentasi kamu saja ya, aku sedang malas bicara. Kalau ada pertanyaan baru aku yang jawab."


"Baik Pak."


.


"Dalam pengembangan perusahaan, kami tidak pernah melupakan aspek saran dan masukan dari para karyawan terutama karyawan yang berada di lapangan."


"Kami selalu berkonsultasi dengan tim advokasi untuk menganalisa setiap kebijakan perusahaan. Kami juga membuat divisi khusus untuk membuat strategi di bidang properti," terangku.


Rapat sedang berlangsung. Serius, aku ingin segera mengakhirinya.


"Kami mengagendakan komunikasi dan negosiasi dengan klien yang dilaksanakan secara rutin setiap sebulan sekali. Selain itu, kamipun merangcang pembangunan properti dengan mempertimbangkan aspek tata ruang dan tata kota, serta memberikan rancangan strategi marketing kepada klien," tambahku.


Kegiatan selanjutnya adalah melihat laporan dari para eksekutif profesional yang bertugas memasarkan properti atau biasa disebut sebagai agen properti. Kegiatan ini sangat memakan waktu.


"Nia, aku sudah pergi boleh, kan?" tanyaku.


Dari tadi menyimak membuatku jenuh dan lelah. Sebenarnya, faktor utamanya ya akibat masalah pribadi, bukan karena rapat ini.


"Boleh, Pak. Lagipula sebentar lagi jam istirahat," terang Nia.


Akupun undur diri.


.


Setibanya di ruanganku, aku lantas ke kamar.


"Wi," panggilku.


Tidak ada sahutan. Saat aku cek, dia memang tidak berada di kamar. Aku lalu bertanya pada petugas keamanan yang berjaga di depan ruanganku.


"Bapak melihat istriku keluar?"


"Ya Pak. Tadi saya lihat, katanya mau ke divisi mutu. Tapi saya tidak melihat ibu kesini lagi."


"Oh, baik, terima kasih Pak."


Aku kembali ke ruangan dan meneleponnya. Tapi tak diangkat. Dia pasti merajuk. Lalu menelepon bu Caca.


"Bu Dewi sudah pergi dari tadi Pak, bahkan kuisionernya juga ditinggal di sini. Katanya kalau sudah selesai diisi minta diantar ke ruangan Bapak."


Kemudian menelepon bang Radit.


"Apa ibu sama kamu? Maksudku ibu minta dijemput kamu, gak?"


"Nggak Pak. Justru saya lagi nunggu istruksi dari Bapak."


Keterangan bang Radit membuat pikiranku kacau-balau.


"Oh ya sudah, Bang Radit gak perlu ke kantor. Tunggu mobil tangki air yang mau isi kolam saja ya."


"Baik, Pak."


"Dewi, kamu di manasih?" gumamku seraya memasygul rambut.


Tak mungkin aku bertanya pada mami dan papinya. Bisa jadi dia ada di ruangan paklik. Saat kutelepon, kata staf paklik, Dewi memang sempat menemui paklik, tapi hanya sebentar.


"Cinta, kamu di mana? Jangan membuat Mas khawatir. Ya, kita memang sedang berselisih faham. Tapi jangan sampai masalah ini membuatmu marah berlarut-larut. Mas mengaku salah Wi. Tapi Mas tidak bisa menghindari kejadian ini. Angkat teleponnya ya cinta."


Pesan terkirim tapi ceklis satu. Saat kutelepon, nomor Dewi di luar jangkauan.


"Aaargh," teriakku sambil melonggarkan dasi yang tiba-tiba serasa mencekikku.


Hanin.


Aku mengingatnya. Aku lantas meneleponnya untuk memberi informasi kalau pada malam ini, jika tidak ada kendala, kami akan mengadakan pertemuan.


Aku harus mengatur pertemuan ini di suatu tempat. Aku tidak mau ada orang yang mengetahui tempat tinggal Hanin.


"Nomor yang ada tuju di luar jangkauan."

__ADS_1


"Aaargh, Haniiin, kenapa ponselmu tidak aktif juga?"


Dua istriku ternyata telah mengabaikanku. Aku duduk di kursi, menjabak rambutku kuat-kuat.


Berpikir Zul! Berpikir Zul! Ayo berpikir, brengsek!


Aku merutuki diri sendiri. Kalau aku mencari Dewi, pasti memerlukan waktu lama karena aku tidak tahu lokasinya. Jadi, aku memutuskan untuk menemui Hanin. Aku akan kembali ke kantor saat jam istirahat usai. Inilah salah satu alasan kenapa apartemen untuk Hanin aku pilihkan yang dekat dengan kantor. Aku lantas memesan motor online.


"Pak, aku keluar sebentar," kataku pada petugas keamanan.


"Baik, Pak."


"Pak, tunggu. Anda mau kemana?"


Nia tiba-tiba datang ke hadapanku.


"Aku mau istirahat di luar. Emm, mau cari angin," jawabku sambil berlalu.


...***...


Tiba jua aku di unitnya. Selalu berdegup cepat jantung ini saat hendak menemuinya. Aku segera memasukan kodenya tanpa menekan bel. Maksudnya agar dia tidak terganggu.


Aku mematung sejenak karena mencium aroma pewangi lantai. Artinya, Hanin telah mengepel lantai.


Mengepel lantai? Bukankah kamu sakit?


"Assalamu'alaikuum," sapaku saat sudah berada tepat di depan kamarnya. Tidak ada jawaban.


Apa mungkin dia sedang tidur?


Untungnya, aku memegang kunci duplikat kamar ini.


'Klak.' Pintu terbuka.


"Hanin?"


Aku berlari. Dia tidak berada di tempat tidur, tapi selimutnya berantakan. Di nakas ada obat dan air putih. Aku panik, segera menuju kamar mandi. Ternyata terkunci dari dalam. Jadi Hanin berada di kamar mandi.


"Haniiin, kamu tidak apa-apa, kan?" tanyaku sambil mengetuk pintu.


Tapi tidak ada jawaban. Aku menajamkan telinga. Terdengar suara air mengalir dan isak tangis Hanin. Batinku berdesir. Aku sadar telah menyakiti dua wanita.


Aku gelisah. Mondar-mandir bak setrikaan.


"Hanin, kumohon .... Aku sangat membutuhkanmu. Aku juga ingin membicarakan hal penting."


Aku lantas teringat sesuatu.


"Maaf atas ucapan kurang baik yang dikatakan Dewi. Tolong jangan diambil hati ya. Dia sebenarnya baik, hanya saja, Dewi belum tahu kebenarannya. Ayo Hanin buka pintunya. Kalau kamu tidak mau buka, aku dobrak ya," ancamku.


Akhirnya, Hanin mau juga membuka pintu. Aku terhenyak saat melihat kondisinya.


"Pak ...," lirihnya.


Ia memegang handle pintu dengan tangan gemetar. Matanya sembab. Bibir yang biasanya terlihat merah alami itu tampak memucat. Ada titik-titik keringat di pelipisnya.


"Astaghfirullah, Hanin."


Aku segera meraih tubuh lemasnya. Hanin memeluk lengangku. Tangannya terasa dingin.


"Jangan menolak, aku pangku kamu ya."


Aku membawanya ke tempat tidur, membaringkannya pelan dengan perasaan khawatir yang luar biasa.


"Maafkan aku Hanin, aku salah. Harusnya kamu juga mengabariku. Sekarang kita ke rumah sakit ya."


Aku beranjak. Maksudnya mau menelepon ambulance.


"Pak, ti-tidak perlu, a-aku baik-saja kok." Sambil memegang tanganku.


"Hanin, lihat dirimu ke cermin! Kamu perlu dirawat!" tegasku.


Aku tipe panikan kalau melihat orang sakit, apalagi Hanin adalah wanita spesialku.


"Pak ... ta-tadi aku sudah berobat ke klinik. Dari gejalanya, kata dokter ... aku maag."


Dia berbicara sambil menggenggam erat tanganku seolah-olah keberadaanku sangat dibutuhkan.


"Apa sebelumnya memang punya penyakit maag?" tanyaku.

__ADS_1


Aku menangkup tangannya agar dia lebih hangat.


"Punya sih, tapi ... sudah lama tidak kambuh. Baru kambuh tadi pagi, awalnya aku sempat baikan, tapi ... setelah mengepel tiba-tiba pusing dan muntah lagi."


"Aku mengira kamu sakit gara-gara aktivitas kita tadi malam. Tapi kalau dipikir-pikir memang bisa jadi gara-gara aku juga, maaf ya."


Aku mendekat. Lantas mengecup keningnya. Bersamaan dengan itu air mata Hanin menetes.


"Hanin, kamu juga pasti terluka dan sedih gara-gara ucapan Dewi, kan?"


Sambil mengusap airmatanya. Hanin menggelengkan kepala.


"Tidak Pak, aku tidak merasa tersakiti oleh bu Dewi. Justru akulah yang telah menyakiti perasaannya. Yang benalu itu aku, Pak. Bu-bukan bu Dewi. Aku menangis seperti ini karena merasa kasihan pada diriku sendiri. Aku merasa sedih atas ketidaksabaranku dalam menghadapi cobaan ini. Aku menangisi kelemahanku dan kekuranganku, Pak."


"Hanin ...."


Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan wanita sesholehah dan seindah ini?


Ucapan Hanin benar-benar di luar dugaanku.


Tapi ... sampai kapan aku tega menyakitinya? Bukankah mencintai berarti tidak menyakitinya?


"Hanin, apa kamu benar-benar ingin berpisah dariku? Apa di hatimu tidak ada celah untuk sedikit saja melihatku? Apa aku benar-benar tidak boleh menjadi imammu?"


Mata Hanin menyiratkan keterkejutan saat mendengar pertanyaanku.


"Pak Zulfikar, sebelum aku menjawab pertanyaan Bapak, Bapak jawab dulu pertanyaanku, maukah?"


Dia malah balik bertanya.


"Bo-boleh, kamu boleh bertanya. Silahkan."


Dan aku tiba-tiba tegang. Takut tidak bisa menjawab pertanyaannya. Hanin menghela napas seakan-akan tengah mengumpulkan keberanian.


"A-apa Anda sedikit menyukaiku? A-apa Bapak mempertahankanku karena ingin memonopoli tubuhku? Atau ... apa Anda ingin balas dendam dengan cara seperti itu? To-tolong jawab dengan jujur," pintanya.


Deg, jantungku laksana dipukul gada. Aku bingung dan terkesima.


"Jawab Pak," desaknya.


"Hanin, ka-kalau aku mengatakan aku menyukaimu, apa kamu akan percaya?"


Dia tidak menjawab, malah menatapku. Aku membalas tatapannya. Mataku mulai berkaca-kaca hingga tak kusadari air mata ini menetes begitu saja. Lalu dengan terbata-bata aku mengatakan ....


"Hanin ... le-lebih dari sekedar suka, aku se-sebenarnya me-mencintai kk-kamu. Sungguh Hanin. Tapi ... kalaupun kamu menduga aku berbohong, silahkan. I-itu hakmu."


"A-apa?" Hanin terkejut.


"A-apa aku boleh membawa nama Tuhan agar kamu percaya?"


Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya.


"Huks, huks. Tidak Pak, tidak perlu membawa-bawa nama-Nya demi wanita serendah aku. A-aku tidak tahu apakah Anda jujur atau tidak. Ta-tapi ... jika yang Anda ucapkan adalah sebuah kebenaran, to-tolong buktikan kejujuran Anda itu dengan cara yang aku inginkan."


"Apa yang kamu inginkan, sa-sayang?" Sambil mengelus pipinya.


Mulutku spontan mengatakan 'sayang.'


"A-aku ingin pisah Pak," katanya.


Lalu memalingkan wajah dan terisak-isak.


"Hanin." Aku merangkul tubuhnya dan dia tak menolak.


"A-aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu. Ba-baiklah, ji-jika itu maumu, aku akan melakukannya. Ta-tapi aku akan melakukannya di Bandung, di hadapan ummi dan abah kamu," jelasku.


"Tapi Hanin, apa dengan aku melepasmu kamu akan benar-benar bahagia? Apa tidak ada pilihan lain selain perpisahan? Sungguh Hanin, aku tidak mau pisah dari kamu. Aku menyukai semua hal yang ada pada dirimu."


"Terus, bagaimana dengan bu Dewi? Apa Anda mencintai dua wanita secara bersamaan? Apa di hati Anda ada dua wanita?" tanyanya dengan suara kian parau.


"Hanin."


Alih-alih menjawab, aku malah memagut bibirnya. Terasa lembut, manis, hangat dan wangi obat maag. Hanin pasti terkejut. Dia berusaha menolak dengan mendorong dadaku. Tapi tak berhasil.


"Mmph ... mmph ...."


...~Tbc~...


...nyai juga terkejut, Pak. Yuk, komen yuk!...

__ADS_1


__ADS_2