Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Luluh dan Menyangkal


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


"Mas, kenapa telah 'sih datangnya?"


Dewi langsung memelukku, menciumi pipi, kening, dan terakhir mengecup bibirku.


"Aku sebenarnya sudah pulang dari jam empat sore, tapi ada janji temu dulu sama Direktur Eksekutif sampai jam lima."


"Kan dari jam lima bisa langsung pulang, Mas."


"Wi, Mas juga langsung pulang. Tapi kena macet sampai setengah enam. Ya sudah, Mas berhenti di masjid sekalian nunggu shalat Maghrib. Setelah shalat Maghrib, aku tidak ke mana-mana lagi, langsung ke sini," terangku.


Aku membalas pelukannya. Biar bagaimanapun, dia istriku. Aku akan berusaha memperbaiki sikapku padanya. Di dalam rahimnya ada calon anak-anakku. Selain itu, jika sikapku tak baik, aku khawatir dia bertindak nekad dan menyebarkan vidio itu.


"Mas, kita makan dulu ya. Inar sudah masak masakan kesukaan kamu." Dia menuntunku menuju meja makan. Aku patuh, mengikutinya sampai meja makan.


"Mas, aku mau disupi ya."


Dia sudah duduk terlebih dahulu. Aku bergeming sejenak. Kejadian di meja makan ini, berbanding terbalik dengan yang biasa dilakukan oleh Hanin. Hanin selalu memersilahkanku duduk terlebih dahulu, mengambilkan nasi dan lauk-pauk yang kuinginkan, menyiapkan air minum, lalu bertanya ....


"Bapak mau disuapi atau makan sendiri?"


"Mas, cepat duduk! 'Kok kamu bengong, 'sih?"


"Baik, Inar dan bang Radit pada ke mana?"


"Tadi, aku sengaja menyuruh mereka nonton film baru, Mas. Maksudnya supaya kita berdua tak terganggu. Aku rindu kamu, Mas."


"Ya sudah, kamu mau makan sama apa?" Aku sudah bersiap untuk menyuapinya.


"Sama ikan itu saja, Mas. Sayur sopnya dipisah di mangkuk lain saja."


"Wi, maaf. Kamu 'kan tahu kalau Mas enggak begitu bisa membuang tulang ikan, jangan sama ikan ya."


Tuh, 'kan. Jadi ingat lagi sama Hanin. Dia selalu membuangi tulang ikan yang akan kumakan. Tanganku bahkan di tahannya agar tak coba-coba memegang ikan sebelum ia buangi tulang dan duri-durinya.


"Tapi aku maunya ikan itu, Mas."


"Ya sudah, aku coba buangi dulu." Kubuangi perlahan. Karena sejak kecil tak terbiasa, aku benar-benar kesulitan.


"Ih, kamu lama 'deh, Mas. Ya sudah, aku mau disuapi sayur sop sama prekedel kornet saja."


Dewi terlihat kesal. Sabar, aku harus membayangkan jika wanita di hadapanku saat ini adalah Hanin yang sedang manja dan rewel.


.


Setelah makan, dan menyuapinya. Aku bergegas ke kamar utama. Langsung mandi dan memakai piyama setelahnya. Lantas rebahan sembari menunggu adzan Isya. Kamar ini terasa asing. Padahal, ini rumahku juga. Tiba-tiba teringat lagi pada Hanin, di jam ini, biasanya, Hanin sedang mengaji.


Sayang, kamu sedang apa?


Sejenak memejamkan mata untuk menghadirkan visualnya di dalam imajinasiku.


Lalu Dewi datang. Dia memakai baju yang sangat terbuka. Naik ke tempat tidur dan menyentuh daerah sensitifku dengan gaya erotisisme.


"MM-Mas. Aku kangen tahu." Aku tersentak, kaget.


"Wi, ingat kata dokter, kita tak boleh berhubungan dulu sampai usia kehamilan kamu melewati trimester pertama."


"Tapi, Mas. Itu lama sekali, masa aku harus menunggu sampai usia kandunganku empat bulan dulu?"


Dia malah naik ke atas tubuhku, tangannya masih beraksi. Pinggulnya bahkan menari-nari.


"Wi, sabar, 'dong. Bayi tabung ini kemauan kamu. Harusnya, kamu bisa menjaganya dengan segenap hati. Termasuk menjaganya dalam hal ini." Aku menarik tubuhnya agar berbaring.


"Mas, 'kan bisa pelan-pelan. Kamu juga mau 'kan? Punya kamu bereaksi tahu, Mas."


"Aku pria normal, Wi. Aku sehat. Sudah ya, malam ini kita pelukan saja. Aku akan memelukmu sampai pagi."


"Ih, kamu enggak asyik, Mas! Ini pasti gara-gara si Dai ---."


"Cukup! Jangan menyebut namanya," selaku.


"Kenapa aku tak boleh menyebut nama dia, Mas?!"


"Karena saat kamu menyebut namanya, aku jadi semakin merindukan Hanin." Sekalian saja aku jujur.


"Apa?! Kamu menyebalkan, Mas!" Dia memukuli dadaku. Aku diam saja.


"Baik, kalau kamu tidak mau, itu berarti kamu harus memuaskanku dengan cara lain, Mas." Sambil membuka kancing piyamaku.


"Aku setuju, tapi tidak sekarang, setelah shalat Isya, ya."


"Tidak bisa, Mas! A-aku maunya sekarang! Please Mas ...."


Dia merangkum wajahku. Lalu menyerang bibirku dengan rakusnya. Aku terpaksa mengimbanginya. Bayangan Hanin, secara otomatis muncul di anganku sesaat setelah aku memejamkan mata.

__ADS_1


Alisku sedikit mengernyit, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku, tiba-tiba panas dan jantungku berdebar-debar. Tubuh polos Hanin seakan tersaji di depan mata.


"De-Dewi, tunggu. Kamu tidak memberiku minuman yang aneh-aneh, 'kan?" Aku mengatur napas sambil menahan bahunya.


"Kalau ya memangnya kenapa, Mas?" Dia tersenyum seraya memainkan indra pengecapnya.


"A-apa?! Wi, jadi benar kamu mencampuri minumanku?"


"Hehehe, ya suamiku. Tapi kamu tenang saja, Mas. Tidak ada alkoholnya, 'kok. Kamu tidak akan mabuk."


"Wi! Kamu tak memikirkan kandungan kamu?!"


Aku tak habis pikir. Segera menjauhkan tubuhku darinya. Serius, keinginan 'itu' tiba-tiba meningkat berkali lipat. Melihat Dewi, rasanya seperti melihat Hanin.


"Aku yakin kandunganku kuat, Mas."


Malah melakukan gerakan yang menantang. Kembali mendekat dan meraihku. Aku mematung. Tanpa kusadari, sejenak menikmati sentuhan Dewi. Bibirku bahkan melenguh pelan.


Hanin sedang melayaniku. Tidak! Ini bukan Hanin!


"Dewi! Hentikan! Cukup! Kamu tak boleh seperti ini. Embrio yang ada di rahim kamu bisa luluh semua."


"Pakai pengaman 'lah Mas. Aku sudah siapkan." Dia tersenyum. Mungkin merasa bangga karena telah berhasil menjebakku.


"Bukan masalah pengamannya, Wi. Dokter bilang tidak boleh. Itu artinya tidak boleh. Ingat! Kamu menanam empat embrio! Aku tidak mau membunuh calon anakku dengan cara seperti ini! Mari kita lakukan, tapi tanpa penyatuan!"


"Apa katamu?! Mas! Aku istri kamu! Aku tidak mau! Pokoknya harus ada penyatuan!"


"Dewi! Yang ada di pikiran kamu apa, 'sih?! Baik, mana pengamannya! Tapi ingat, jika terjadi sesuatu pada kandungan kamu, jangan salahkan aku!"


"Apa?! Mas, kalau terjadi sesuatu ya kamu juga harus tanggung jawab, Mas! Masa aku doang yang kamu salahkan?! 'Kan kamu juga menikmatinya, Mas! Kita sama-sama enak Mas! Enak saja kamu tak mau disalahkan!" teriaknya sambil mengambil pengaman dari nakas.


"Astaghfirullah, maka dari itu, lebih baiknya jangan dilakukan, Wi! Kenapa kamu selalu membuatku emosi, 'sih?! Padahal, aku ingin memperbaikinya. Tapi, apa yang kamu lakukan saat ini, benar-benar tak masuk akal!"


Akupun beteriak. Keringatku mulai bercucuran. Aku yakin pengaruh obatnya sudah menjalar ke sekujur tubuhku. Rasanya ingin segera dilampiaskan secepatnya.


"Aaarrghh!"


Aku beteriak sekuat tenaga. Bersama Dewi, kupikir, bisa tertular stresnya juga. Tidak! Aku tidak mau tertular penyakit kepribadian ganda. Aku harus mencegahnya. Aku harus melakukan sesuatu.


"Aku pergi!" Berlari keluar kamar.


"Mas! Kamu mau ke mana?! Tunggu!"


"Aku tak mau membunuh secara tidak langsung calon anak-anakku! Jangan paksa aku, Wi!" Aku menepis tangannya. Segera menyambar tasku dan pergi dalam keadaan tubuhku yang semakin memanas.


Langkahku terhenti sejenak. Aku sedikit ragu. Namun entah ada dorongan dari mana, aku spontan berkata ....


"Silahkan! Aku tidak takut!" tandasku. Kembali melanjutkan langkah.


"Apa?! Mas! Zulfikar Saga Antasenaaa! Kamu bajingan!" teriaknya.


Namun aku tak memedulikannya. Pikiranku hampir buntu. Yang ada di benakku saat ini hanya ada Hanin dan Hanin. Aku harus segera menetralisir obat ini dengan cara melampiaskannya pada Hanindiya.


"Mas!" Dewi mengejar sampai ke garasi. Aku segera masuk ke mobilku dan mengunci pintunya.


"Apa kamu yakin tak apa-apa kalau vidio itu kusebarkan?!"


Lagi, aku berkata ....


"Silahkan!"


Sambil injak gas dan meninggalkannya. Bersamaan dengan itu, kulihat mobilku yang biasa dipakai bang Radit memasuki gerbang. Baguslah, mereka sudah pulang. Itu artinya Dewi ada yang mengawasi.


Untungnya, jarak ke rumah papa-mama hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Ditambah kondisinya malam hari. Jadi, tak ada kendala.


...⚘️⚘️⚘️...


"Hanin, buka pintunya sayang!"


Aku menggedor pintu kamar. Tak terpikirkan mengambil kunci duplilat karena kondisinya tak memungkinkan.


'Klak.'


Pintu terbuka. Hampir saja aku memeluk si pembuka pintu, untungnya langsung sadar kalau dia bukan Haninku.


"Pak Direktur?"


"Listi?! Cepat pergi dari kamarku!"


Aku menarik dan mendorong bahu Listi agar keluar dari kamarku. Lantas menutup dan mengunci pintu saat Listi masih melongo kebingungan.


Langsung naik ke tempat tidur dan menanggalkan seluruhnya. Tak bisa lama-lama, aku menarik selimut Hanin dan mulai beraksi dengan terburu-buru.


"P-Pak, kena ---."

__ADS_1


Dia pasti kebingungan. Aku membungkam bibirnya.


"Ahh, emmh, Pak, sa-sakit, A-Anda kena ---." Kubungkam lagi seraya merabai tubuhnya sesuka hati.


"Pak, a-apa tidak wudhu dan berdoa dulu? Ke-kenapa tergesa-gesa sekali? Pak, jang ---." Kubungkam lagi untuk kesekian kalinya.


"Ma-maaf sayang, a-aku dijebak Dewi. Aku di bawah pengaruh obat kuat. Ma-maukah kamu menolongku?" Aku mengiba. Menatap wajahnya nanar sembari menggigit bibirku.


"A-apa?" Hanin bengong di saat hasratku kian memuncak.


'Srak.' Aku bahkan merobek gaun tidurnya.


"Pak, aku ---."


Aku tak bisa membiarkan dia protes lagi. Aku mencekalnya. Aku bahkan tak menghiraukan bahasa penolakannya. Hanin meronta, di matanya ada sedikit semburat ketakutan.


"Sa-sayang ... ma-maaf jika aku sedikit menyakiti kamu."


Aku meraihnya, menyesapnya, menghidunya, mempermainkannya, menikmatinya hingga si pemilik kulit sehalus sutra ini perlahan pasrah dan tak berkutik lagi. Ia mengatur napasnya. Di sudut mata indahnya, kulihat ada genangan air mata.


"Maaf."


Aku beranjak sejenak untuk membersihkan airmatanya dengan bibirku. Lalu kembali memaksa tubuhnya untuk meredakan gelora cintaku yang menggebu. Semakin Hanin meronta, aku semakin bersemangat, semakin keras teriakan Hanin, aku semakin menggila.


Keengganannya, teriakannya, dan isakannya yang bersatu padu dengan alunan lenguhannya, ternyata membuatku semakin tak terkendali. Sungguh, rasanya ... sangat luar biasa.


Lalu ....


Aku dan Hanin spontan memekik syahdu bersama-sama saat kenikmatan surgawi itu datang bersamaan, menerjang kuat nan hebat hingga memporak-porandakan seluruhnya, termasuk pertahananku. Dia memelukku erat, akupun demikian. Aku baru saja mengahangatkan rahimnya dengan ratusan juta sel-sel cinta.


Hanin terkulai lelah, matanya tetap terpejam kala aku membersihkan peluhnya, menciumi perutnya, dan menyelimuti tubuhnya. Namun, kepalanya mengganguk saat aku kembali meminta maaf darinya. Itu artinya, dia telah memaafkan tindakanku. Syukurlah, aku merasa lega.


Setelah Hanin terlelap, aku bergegas untuk membersihkan diri dan shalat Isya. Lalu mengirim pesan singkat untuknya.


"Terima kasih sayang, kamu sangat luar biasa. Aku izin menemani Dewi lagi ya sayang. Dewi juga 'kan besok mulai tinggal di sini. I love you."


...⚘️⚘️⚘️...


"Apa?! Dokter pasti salah diagnosa! Jelas-jelas yang kutanam empat embrio! 'Kok bisa 'sih yang berkembang hanya satu?!" teriak Dewi. Ia tak terima dengan hasil USG.


"Wi, sabar." Aku berusaha menenangkannya.


"Penyebabnya banyak, Bu. Nanti saya jelaskan," kata dokter.


"Aku akan menuntut kamu, Dok! Anda tak becus ya?! Padahal, aku sudah mengikuti semua anjuranmu! Aku bahkan rela ditinggalkan suamiku sendiri demi menjaga janinku!"


"Wi ---."


"Diam kamu, Mas! Kamu suka 'kan kalau anak di rahimku tak berkembang semua?!"


"Dok, maaf, boleh tinggalkan kami dulu?" kataku. Aku tak bisa membiarkan dokter ini mengetahui urusan pribadiku lebih banyak lagi."


"Baik," dokterpun keluar.


"Wi, apa salahnya kalau yang berkembang hanya satu? Kita harusnya bersyukur karena masih disisakan satu."


"Mas! Aku maunya empat! Atau minimal sama dengan si Daini! Kembar!"


"Wi, dengar, aku sudah mengikuti semua keinginan kamu. Sekarang, aku memohon, bisakah kamu bersikap seperti dulu? Wi, penyakit kamu bisa diobati."


"Maksud kamu apa, Mas?!"Dia terkejut.


"Aku dan Hanin sudah tahu kalau kamu mengidap kepribadian ganda."


"A-apa?!" Matanya terbelalak.


"Hanin memintaku agar aku tak menuntut kamu. Dia bahkan memintaku agar tetap mendampingi kamu sampai penyakit kamu pulih. Aku janji tak akan menuntut kamu dan keluargamu asalkan kamu bisa memperbaiki sikapmu dan merestui pernikahan aku dan Hanin diresmikan."


"Jangan mengada-ada, Mas! Kamu dapat informasi itu dari mana, hahh?!"


"Tak penting siapa yang memberitahuku."


"Itu fitnah, Mas! Mungkin si Daini yang sengaja merekayasanya!" elaknya.


"Dewi, baik, tarulah kalau itu hanya rekayasa. Jika benar kamu normal, mari kita bersama-sama melakukan psikotes. Oiya, satu hal lagi, di mana vidio yang kata kamu berisi adegan syur aku dan Hanin?"


"Mas! Kamu?!"


"Semalam, aku sadar benar telah mempersilahkan kamu menyebarkan vidio itu. Tapi, mana buktinya? Apa jangan-jangan vidio itu hanya bualan kamu saja? Kamu sengaja mengancamku dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ya, kan?"


"A-apa?! Setan apa yang sudah merasuki kamu, Mas?! Aku tidak menyebar vidio itu karena tak mau tubuh indah kamu dinikmati orang lain! Jadi, aku pikir-pikir lagi!" sentaknya.


"Oya?" Aku menatapnya dalam-dalam.


"Ya!" teriaknya sambil memalingkan wajah.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2