
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Maaf sayang. Aku tak bermaksud mengagetkan kamu. Aku tidak marah, 'kok. Ssshh ...."
Lalu menyambar bibirku begitu saja. Padahal, tadi sudah berlama-lama melakukan adegan ini dengan berbagai macam gaya hingga bibirku kebas. Aku mencubit lehernya karena ia seolah tak ingin berhenti.
"Hahaha. Maaf sayang. Salah kamu. Kenapa rasanya bisa semanis dan selembut itu? Tapi, andaipun rasanya pahit, asalkan bibir milik kamu, aku tetap menyukainya," ocehnya setelah jalinan itu terlepas.
"Gombal," sahutku.
"Hanindiya, aku serius." Dia menggigit pelan telingaku.
"Auhh ... sakit," keluhku. Pura-pura.
"Sakit? Aduh kasihannya, biar kutiupi."
"Tidak perlu, Pak." Aku menutupi bibirnya dengan jemari tanganku.
"Baiklah. Sekarang, kita tidur lagi yuk sayang."
"Anda saja. Aku mau mandi, Pak. Mau shalat." Aku bergegas sambil mengurung tubuhku dengan selimut."
"Buka saja sayang. Tak perlu ditutupi."
"Tidak, Pak. Ada saatnya ditutup, ada saatnya dibuka."
"Hanindiya, ini perintah. Perintah suamimu." Ya ampun ada-ada saja.
"Enggak mau, Pak. Dingin."
"Ya sudah. Aku antar kamu ya. Buka selimutnya. Aku akan memelukmu sampai ke kamar mandi." Dia benar-benar ingin aku melakukan titahnya.
"A-Anda mau mandi juga?" tanyaku saat tubuhku sudah berada di dalam kungkungannya.
"Mau, aku juga mau shalat malam bareng kamu."
"Alhamdulillaah," pujiku. Lalu membalikan badan, dan berjinjit untuk mencium keningnya.
"Bimbing aku ya sayang. Jujur, aku jarang shalat malam."
"Aku juga masih perlu bimbingan, Pak."
"Ya sudah, mari kita sama-sama belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi," ajaknya.
Kemudian, kami masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, sepertinya tak perlu kudefinisikan lagi. Intinya, pak Zulfikar benar-benar nakal dan jahil, tapi ... dia sangat romantis. Selalu punya ide untuk membuatku pasrah.
.
Saat ini, kami sedang sarapan bersama. Persiapanku untuk ke Jakarta sudah selesai. Dokter Rahmi tidak bersamaku karena disuruh pak Zulfikar untuk membantu kepulangan ummi dari rumah sakit. Dokter Rahmi akan ke Jakarta besok. Tujuannya, agar bisa mendampingi ummi selama mendapat pelayanan di poliklinik rumah sakit jantung.
"Mas, aku mau disuapi." Bu Dewi bergelayut di bahu pak Zulfikar sambil membuka mulutnya.
"Boleh," jawabnya singkat. Raut wajahnya sedingin es di Antartika.
"A ...."
Bu Dewi begitu manja. Tapi, aku tak mengapa. Semalam, aku sudah menghabiskan malam bersama pak Zulfikar. Jadi, wajar kalau hari ini pak Zulfikar menemani bu Dewi.
Aku dan ceu Jani asyik menikmati makanan di piring kita masing-masing.
"Ihh, ini sambal apa, 'sih? Baunya enggak enak tahu, Mas. Aku tidak suka." Sambil menjauhkan sambal terasi dari hadapannya.
"Itu sambal terasi, Bu. Maaf ya. Ceu Jani tidak tahu kalau Bu Dewi tidak suka sambal terasi." Ceu Jani mengambil sambal tersebut.
"Ceu, aku suka, 'kok. Jangan dijauhkan." Aku segera mengambilnya.
"Hahaha, cantik-cantik suka yang bau," gumam bu Dewi. Maksudnya, mungkin untuk berguyon.
"Wi, tidak ada yang salah dengan sambal terasi," kata pak Zulfikar.
"Tapi, kamu juga tak suka makan sambal terasi 'kan, Mas?"
"Itu karena aku alergi udang. Sudahlah, kita sedang makan. Jangan cari masalah. Makan yang kamu suka, dan jangan makan yang kamu tidak suka," tambahnya.
Lalu tangan kirinya mengelus pinggangku yang memang duduk di samping kirinya. Mataku mengerling. Bisa-bisanya ia melalukan kekonyolan di saat seperti ini.
"Ya, Kak. Adab kita terhadap makanan adalah dengan tidak mencela atau menghina makanan."
"Dai, aku tidak mencela. Hanya protes. Lagi pula, pada dasarnya sambal terasi itu memang bau, 'kan? Aku bicara fakta."
"Kak, makanan itu pada hakikatnya merupakan ciptaan Allah. Jadi, tidak boleh dicela. Ada sisi penjelasan lain terkait larangan ini. Sebab, celaan terhadap makanan akan menyebabkan adanya rasa sedih dan menyesal di dalam hati orang yang telah membuat dan menyiapkan makanan tersebut."
"Baiklah, silahkan lanjutkan makannya. Aku sudah kenyang." Bu Dewi beranjak.
"Kak, bukankah baru sedikit?" Hendak menyusulnya. Namun, pak Zulfikar mencegahku.
"Biarkan saja," ucapnya.
"Tapi, Pak."
__ADS_1
"Sayang, sudah aku katakan. Ini kesempatan terakhirku memaafkan Dewi. Tolong pahami perasaanku. Bisa?" Aku mengangguk. Tak bisa berbuat apa-apa lagi.
.
Sekitar pukul 9 pagi, mobil jemputan tiba. Mereka adalah orang-orangnya pak Aksa. Pak Aksa bahkan menyertakan satu mobil Patwal. Ini berlebihan, tapi aku tak berkomentar apapun tentang ini.
Pak Zulfikar duduk di tengah. Diapit olehku dan bu Dewi. Sepanjang perjalanan, tak banyak yang kita bicaraka. Bu Dewi lebih banyak tidur sambil menyandarkan kepalanya ke bahu pak Zulfikar. Aku juga tidur sambil mendengarkan murotal.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di Jakarta, aku dan bu Dewi disambut hangat oleh pak Aksa, bu Yuze dan para pegawainya. Kondisi di rumah ini tak banyak berubah. Namun, sebagian pekerja ada yang tengah sibuk membuat souvenir. Setelah kuselidiki, ternyata souvenir itu untuk dibagikan pada acara tujuh bulananku. Isinya Al-Qur'an berukuran kecil, tasbih dan madu alami.
"Kamu beruntung, Daini. Kamu sangat disayang mama dan papa," ucap bu Dewi saat kami berdua akan menuju kamar masing-masing.
"Alhamdulillah."
Hanya itu jawabanku. Tak ingin berbasa-basi banyak dengan bu Dewi karena takut salah bicara dan membuatnya marah.
"Oiya besok, kita USG bareng yuk," ajaknya. Bahkan sambil memegang tanganku.
"Bo-boleh, Kak."
"Kamu sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Belum, Kak. Saat USG terakhir, dua-duanya masih memunggungi," jelasku.
"Ya sudah, kita bareng ya. Di dokter langgananku saja."
"Apa maksudnya dokter keluarga Kak Dewi?"
"Bukan, dia dokter di sebuah klinik bersalin. Dokter kandungannya kakak kelasku waktu SMP."
"Oh, insyaaAllah ya, Kak." Aku harus izin dulu sama pak Zulfikar. Jadi, belum bisa memastikan.
"Neng Dai," tiba-tiba bu Yuze memanggilku.
"Ya, Ma." Aku dan bu Dewi menghentikan langkah.
"Sore ini, kamu ikut Mama ke butik ya. Kamu juga ikut ya Wi."
"Siap, Ma," sahut bu Dewi.
"Ke butik? Untuk apa Ma?" tanyaku.
"Sayang, acara tujuh bulanan kamu dua minggu lagi lho. Ke butik ya untuk fitting baju, Neng."
"Oh," aku tersenyum sambil mengangguk, ingin menolak namun tak enak hati.
"Ya, Ma."
"Nah begitu dong, Neng."
Mama mengelus perutku. Bu Dewi menunduk. Mungkin, aku salah lihat. Kulihat bu Dewi menyembunyikan tangannya yang mengepal ke belakang tubuhnya.
...⚘️⚘️⚘️...
Sore ini, aku dan bu Dewi sedang berada di klinik bersalin pilihan bu Dewi. Kami datang terlambat karena menunggu pak Zulfikar dulu. Aku duduk di kursi tunggu sambil merenung. Sedang mengingat kembali kejadian semalam yang membuatku bahagia dan terharu.
Semalam, pak Zulfikar menyerahkan surat nikah. Jelas, ini membuatku bahagia. Pak Zulfikarpun bahagia. Bahkan nyaris menangis. Uniknya, aku dan ia merayakan kebahagian itu dengan memadu kasih.
"Nyonya Daini, Nyonya Dewi, silahkan masuk." Panggilan itu mengagetkanku.
"Giliran kita." Pak Zulfikar memegang tanganku dan tangan bu Dewi.
Tatapan pengunjung lain tertuju pada kami. Aku yakin mereka tengah berasumsi. Sebagian dari pengunjung pasti paham kalau kami adalah pasangan poligami. Aku menebar senyum saat melewati mereka. Biarkan saja mereka menilai sesuka hati. Yang penting, pilihanku ini tidak melanggar norma-norma.
"Dewi?"
Dokter kandungan itu tampak histeris saat melihat bu Dewi. Namanya dokter Milawati. Mereka langsung berpelukan. Aku dan pak Zulfikar diam saja.
"Apa kabar Mil? Oiya, kenalkan, ini madu gue, yang kemarin sempat menghebohkan media itu, lho. Hahaha," gelaknya.
"Kabarku baik, Wi."
Sambil melirikku dan tersenyum. Awalnya aku khawatir, tapi sepertinya, dokter Mila tak ada masalah dengan statusku.
"Dia bukan istri siriku lagi. Di sudah menjadi istri sahku. Hanya saja, media belum tahu," jelas pak Zulfikar.
Padahal, dokter Mila tak membahas tentang itu. Seorang dokter, pastinya harus bersikap profesional pada siapapun. Dokter Mila menyikapi dengan tersenyum. Lalu mengusap perutku.
"Hahaha, poligami itu pilihan Anda. Tidak ada hubungannya dengan saya. Pak Zulfikar beruntung bisa mendapatkan dua wanita cantik sekaligus. Ya sudah, mau siapa dulu yang di-USG-nya?"
"Gue dulu, Dok. Gue yang izinin pernikahan mereka, Mil. Hebat 'kan gue?" jelas bu Dewi sambil naik ke bed periksa.
"Hebat banget. Hahaha, kalau saya 'sih tak sanggup, Wi."
Lalu dokter Mila melakukan USG pada bu Dewi. Aku dan pak Zulfikar memerhatikan monitor USG.
"Dari hasil USG usia kehamilannya 14 minggu. Untuk saat ini, saya kira baik-baik saja. Namun tetap memerlukan pemantauan. Minimal setiap bulan sampai dengan usia kehamilam 8 bulan. Memasuki usia kehamilan 9 bulan, kontrol dua minggu sekali," terangnya.
__ADS_1
"Berarti, gue sudah masuk trimester dua ya, Dok? Oiya, Dok. Kira-kira, untuk berhubungan badan aman enggak kira-kira?"
"Emm, sepertinya sudah boleh. Tapi, karena riwayatnya bayi tabung, saya saranka untuk hati-hati dan perlahan. Satu lagi, jangan ditumpahkan di dalam."
"Kamu dengar 'kan, Mas?" Bu Dewi melirik pak Zulfikar.
"Aku dengar. Aku tidak tuli."
"Malam ini ya Mas. Kita coba, hehehe." Bu Dewi begitu riang. Wajahnya berbinar senang.
"Bisa 'kan kamu enggak bahas itu terus?" Pak Zulfikar tampak tidak senang.
"Aku kangen kamu, Mas. Wajar 'lah kalau aku bahas terus. Ya 'kan, Dok?"
"Saya tak bisa jawab, Wi." Dokter Mila hanya senyum-senyum.
'Duk duk duk.'
"Nah itu denyut jantungnya. Untuk jenis kelamin belum terlihat jelas. Biasanya usia kehamilam 16 minggu baru terlihat."
Setelah bu Dewi selesai, aku bersiap. Pak Zulfikar membantuku menaiki bed periksa. Ia bahkan membuka gaunku dan meminta asisten dokter agar ia sendiri yang mengolesi jelly USG di perutku. Aku berdebar. Takut terjadi sesuatu pada calon bayi-bayiku. Bu Dewi menatap tajam, namun tetap bersikap sewajarnya.
"Mulus sekali perutnya, Bu. Sama sekali tidak ada garis kehamilan," puji dokter Mila.
"Mungkin, kulitku elastis, Dok."
"Wah, kembar ya? Tadi, saya kira sudah delapan bulan."
"Sekarang usia kehamilannya 26 minggu 5 hari Dok," jelas pak Zulfikar. Di benar-benar hafal.
"Berdasarkan USG, usia kehamilannya sudah 28 minggu. Janinnya sehat. Sebentar, saya cek jenis kelaminnya ya."
Pak Zulfikar memegang tanganku sembari menatap layar. Senyum tersungging dari bibirnya.
"Yang kiri insyaaAllah perempuan. Yang kanan posisinya masih belum pas. Coba bu Daininya miring ke kiri, saya mau intip lagi." Akupun segera miring. Pak Zulfikar konsentrasi pada layar.
"Aku mau punya gadis?" gumamnya.
"Wah, alhamdulillah. InsyaaAllah sepasang. Yang ini laki-laki. Selamat ya, Pak Zul, Bu Dai."
"A-apa? Be-benarkah?"
Pak Zulfikar terbata-bata. Aku tak bisa bicara saking terharunya. Bu Dewi terdiam. Ia fokus memainkan ponselnya.
"Selamat ya sayangku. Kamu memang wanita luar biasa."
Pak Zulfikar memelukku. Tak hanya memeluk, ia juga mencium pipi dan mengecup bibirku.
"Kak Dewi juga luar biasa, Pak. Bayangkan, Kak Dewi rela tak melanjutkan karirnya, serta berani melewati proses panjang program bayi tabung demi memiliki keturunan dari Anda."
Aku mencubit pak Zulfikar. Sikapnya yang seperti ini membuatku sedikit kesal. Jikapun aku berada di posisi bu Dewi, pastinya akan sedih dan sakit hati. Sebab, pak Zulfikar terlalu kentara menunjukkan jika aku adalah istri yang lebih dicintainya.
"Tak masalah 'kok. Aku tidak butuh pujian. Selamat ya, Dai. Semoga kandungan kamu sehat dan selamat sampai bayi kembar kamu keluar."
"Aamiin. Terima kasih doanya, 'Kak. Aku juga berdoa untuk kandungan Kakak. Semoga sehat ibu dan bayinya," sahutku.
"Ya kamu juga hebat, Wi."
Mungkin, pak Zulfikar baru menyadari kesalahannya. Ia berdiri sejenak untuk mengelus perut bu Dewi dan mengecup keningnya.
"Kamu anakku. Aku menyayangi kamu. Aku akan menyayangi anak-anakku dengan seadil-adilnya," gumam pak Zulfikar seraya menatap perut bu Dewi.
"Oiya, Dok. Apa aku bisa melahirkan secara normal? Sebab, dokter sebelumnya menyarankan aku operasi. Aku menolak karena ingin merasakan 'nikmat' nya sakit saat melahirkan normal. Paling tidak, aku ingin merasakannya sekali dalam seumur hidup."
"Sayang, jangan memaksakan. Kalau kata dokter diharuskan caesar ya tak masalah."
"Untuk persiapan persalinannya, kita lihat nanti saat kehamilannya sudah cukup bulan. Untuk sekarang, saya belum bisa memastikan. Sebab, posisi dan kondisi janin masih bisa berubah-ubah, dan keadaan itu sangat memengaruhi proses persalinan," terang dokter Milawati.
"Kalau aku mau langsung caesar saja," sela bu Dewi.
"Tak masalah. Setiap ibu berhak menentukan pilihan. Lalu, suami dan keluarga harus mendukung keputusan ibu."
"Wi, kalau masih bisa normal, kenapa harus dicaesar?" protes pak Zulfikar.
"Mas, itu pilihanku. Aku khawatir organ intimku berubah gara-gara melahirkan normal. Aku tidak mau."
Aku dan pak Zulfikar saling menatap mendengar alasan bu Dewi. Sementara dokter Milawati spontan tertawa.
"Hahaha. Begini, sebagai dokter, saya perlu meluruskannya." Sebelum menjelaskan, dokter Milawati mengambil alat peraga.
"Saat persalinan normal, organ intim wanita memang akan melebar agar bayi bisa melewatinya. Tapi, ukuran tersebut akan kembali mengecil dengan sendirinya setelah proses persalinan."
"Karena perkembangan teknologi di dunia medis sudah modern, organ intim wanita bahkan bisa dipulihkan kembali menjadi perawan. Di zaman sekarang, asal punya uang, punya anak belasanpun bisa dimodifikasi menjadi perawan kembali melalui prosedur pembedahan," terangnya panjang lebar.
"Nanti aku pikir-pikir lagi, 'deh." Bu Dewi sepertinya berubah pikiran.
"Baik, saya kira sudah cukup. Ini, saya buatkan resep. Vitaminnya diminum teratur ya."
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...