
Baru kali ini aku memasuki kantor Propam. Saat dia berbincang dengan polisi yang bertugas menjaga di pintu masuk, aku sibuk memerhatikan sekeliling. Entah apa yang dia katakan tentang aku pada polisi yang berjaga. Lalu dua orang polisi wanita mendekat dan memeriksa tubuhku dengan metal detector.
"Apa mereka tidak mempermasalahkan aku?" tanyaku saat aku dan pak Sabil dipersilahkan masuk.
"Aku mengatakan jika kamu adalah perwakilan bu Daini."
"Apa? Kenapa bawa-bawa Daini?"
"Bu Daini sudah diundang untuk menghadiri pembacaan hasil autopsi, tapi pak Zulfikar tidak memperbolehkannya pergi. Dia khawatir bu Daini trauma lagi. Kata pak Zulfikar, bu Daini kabur karena merasa bersalah atas kematian pak Surawijaya."
"Ya ampun Neng, kasihan sekali. Apa tidak apa-apa kalau aku pura-pura mewakili Daini?"
"Kamu tidak pura-pura, 'kok. Aku sudah minta sama pak Zulfikar. Kita ke sana." Sambil menarik tanganku menuju tempat yang ia maksud.
"Pak, aku malu. Ada yang melihat kita. Bisa tidak kalau tak pegangan tangan."
"Tidak bisa, kalau kamu ada yang nyulik bagaimana? Bapak dan ibu bisa marah."
"Memangnya ada penculik di kantor polisi?"
"Diaada-adakan," jawabnya. Sekarang menarikku masuk ke lift yang di dalamnya sudah banyak orang. Ada yang beseragam polisi, dan seragam kantor.
"Pagi, Pak Abil." Ada yang menyapa.
"Ya aku tahu sekarang masih pagi," jawabnya. Dia melindungiku dengan menguringku. Ya ampun, posisinya tidak mengenakan. Aku dan dia berhimpitan. Rasanya ada yang sedikit aneh. Mungkin hanya perasaanku saja, dan parfumnya menusuk hidungku.
"Ma-masih lama? Ki-kita mau ke lantai berapa?" Jadi tidak tenang.
"Lantai paling tinggi," bisiknya.
Tidak, dia tidak berbisik. Di mencium telingaku. Ahh, kurang asem! Dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Spontan mencibit kulit perutnya. Responnya hanya mengulum senyum, padahal aku mencubitnya lumayan kuat. Berharapnya dia beteriak.
...⚘️⚘️⚘️...
Akhirnya sampai juga. Lega rasanya.
Aku agak kikuk. Di ruangan ini sudah ada polisi forensik, beberapa orang yang berseragam dokter, dan sekumpulan orang yang sepertinya adalah pengacara. Ada pak Direktur, pak Ikhwan, mbak Gendis, bu Yuze dan pak Dhimas. Yang lainnya tidak kukenali. Pasti adalah keluarga almarhum. Aku tidak melihat pak Aksa. Bu Dewi dan bu Silfapun tidak hadir di tempat ini.
"Kamu duduk di sini ya, aku akan bergabung dengan mereka." Sambil memberikan pulpen dan buku cacatan kecil.
"Ini untuk apa?"
"Takutnya ada yang ingin kamu tulis, atau ada yang ingin kamu kritisi mungkin?" Aku tahu dia menyindirkan.
"Baiklah, sekalian saja aku katakan pada mereka kalau Anda itu mesum."
"Jangan dong, 'kan kamu sudah berjanji tidak akan membuat laporan." Dia mengira aku serius.
"Ya sudah, Anda cepat ke sana."
"Baik, jangan kemana-mana ya sayang," katanya.
"Ish, aku kurang suka dipanggil sayang."
"Apa dong, baby? Ayang? Cinta, honey?"
__ADS_1
"Sudah ah, Anda mau kerja 'kan? Sana!" Mengusirnya.
"Baiklah, tunggu ya ayangku," semakin berani. Dia memanggilku 'ayangku.'
Dia bergegas, menghampiri pak Direktur dan berbincang. Lalu seorang polisi memberikan map kepadanya. Aku memantau dari kejauhan. Tunggu, kenapa aku terus memerhatikan dia?
Suasana berubah serius saat agenda laporan autopsi akan segera dimulai.
"Dalam masyarakat selalu saja terdapat perselisihan, penganiayaan, pembunuhan, pencurian, perkosaan, dan lain-lain perkara yang mengganggu ketentraman dan kepentingan pribadi maupun kepentingan umum."
Seorang berpakaian dokter mulai membacakan pembukaan. Pak Sabil sedang serius membaca materi yang ada di hadapannya.
"Untuk menyelesaikan perkara itu diperlukan suatu sistem atau cara yang dapat memberikan ganjaran dan hukuman yang setimpal kepada yang bersalah sehingga perbuatan yang serupa tidak terulang lagi. Sebaliknya, yang tidak bersalah, maka harus dibebaskan dari segala tuntutan dan hukuman," lanjutnya.
"Kami, tim forensik, pada hari ini izin melaporkan dan menceritakan tentang apa yang telah terjadi pada barang bukti berupa mayat, sidik jari, darah, semen, rambut, cairan lambung, organ vital, dan jaringan kulit almarhum PS." Aku serius, tapi mulai tidak tenang. Kira-kira, hasilnya apa ya? Lalu, dokter itu menyuruh dokter lain untuk melanjutkan membaca laporannya.
"Tempat melakukan autopsi adalah di kamar jenazah autopsi. Dilakukan karena adanya permintaan dari pihak keluarga. Kami segera melakukan autopsi setelah mendapatkan surat permintaan autopsi. Adapun hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian telah dikumpulkan terlebih dahulu sebelum memulai autopsi."
Tak sengaja, aku dan pak Sabil bertemu pandang. Dia tersenyum. Gegabah sekali. Bagaimana kalau ada yang sadar? Segera memalingkan wajah. Tiba-tiba ada pesan masuk. Dari siapa ya? Dih, ternyata dari dia. Dia menyembunyikan HP-nya di balik map. Ya ampun, bukankah dia sedang bekerja? Dasar polisi nakal!
"Padahal, jarak aku dan kamu cukup jauh. Tapi, aku bisa melihat dengan jelas kecantikan kamu." Pesannya tidak penting sekali.
"Kerja! Kerja! Kerja!" balasku.
"Ayang! Ayang! Ayang!" balasnya.
"Mesum! Mesum! Mesum!" balasku.
Tidak ada balasan lagi. Saat aku menatap ke sana. Bahunya sedang disikut sama pak Direktur. Pak Direktur pasti tahu kalau pak Sabil main HP. Syukurin. Gara-gara pak Sabil, aku jadi tak memerhatikan penuturan dokter forensik. Padahalkan lumayan, untuk menambah pengetahuan.
"Berdasarakan hasil identifikasi fisik, kami tidak menemukan tanda-tanda perlawanan dari korban yang berhubungan dengan kematiannya. Tidak ada perubahan posisi korban saat ditemukan, barang bukti yang ada bersama almarhum PS adalah ponsel." Pernyataan dokter forensik mulai mengerucut pada penyebab kematian.
"Kami telah melakukan prosedur pembedahan berupa insisi di garis prosesus xifoideus hingga ke simfisis. Untuk hasilnya, akan dibacakan oleh ketua tim dokter forensik." Lalu yang terlihat paling senior berdiri dan meminta izin memaparkan.
Sial! Hasilnya akan segera terungkap. Tapi aku malah ingin buang air kecil. Mana rasanya mendesak lagi. Sepertinya enggak bisa ditahan lagi. Terpaksa meninggalkan ruangan ini. Pak Sabil menatapku dan memicingkan matanya.
"Mau ke to-i-let," ucapku tanpa bersuara. Dia mengangguk pelan dan seperti mengatakan, 'hati-hati.'
...⚘️⚘️⚘️...
"Kami tidak puas dengan pernyataan dokter forensik! Bisa-bisanya kalian menyimpulkan kakak saya terkena serangan jantung! Dengar ya! Kakak saya sehat! Dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung!" teriak seseorang saat aku kembali ke ruangan tersebut.
Karena kebingungan mencari kamar mandi, dan mengantri, aku jadi tidak mendengarkan kesimpulannya. Tapi 'kan, kalau mau, aku bisa meminta bantuan pak Sabil untuk menjelaskannya. Sepertinya, yang marah-marah itu keluarganya bu Dewi.
"Tapi, kami menemukan ada penyempitan pembuluh darang pada jantung almarhum PS."
"Masa tiba-tiba menyempit, pasti ada penyebabnya, 'kan?!" Ya ampun, apa seluruh keluarga pak Surawijaya tipe emosian?
"Beberapa kasus memang menyebabkan kematian mendadak, Pak. Dan kematian akibat gagal jantung tidak mengenal usia. Bisa tua ataupun muda. Bahkan, pada beberapa kasus, bisa terjadi pada bayi," terang dokter forensik.
"Kami sepakat tidak puas! Menurut kami, dokter forensik terlalu cepat menyimpulkan!" Yang lainnya protes lagi.
"Maaf, izin bertanya." Tiba-tiba, pak Sabil mengangkat tangan.
"Silahkan Pak," jawab dokter forensik.
__ADS_1
"Apa stress dapat memicu serangan jantung?" tanyanya.
"Stres memang bisa menjadi pemicu yang berpotensi terhadap irama listrik jantung. Tapi, efek stres tidak dapat dilihat dari prosedur yang kemarin. Harus dilakukan autopsi lain di bagian kepala karena stres erat kaitannya dengan sistem saraf pusat," jelasnya.
"Kami ingin autopsi ulang!"
Keluarga pak Surawijaya benar-benar mengerikan. Tim pengacara merekapun tak banyak berkomentar. Artinya, makan almarhum akan dibongkar lagi? OMG, rumit sekali. Lalu pak Direktur mengangkat tangan. Semua mata segera tertuju kepadanya.
"Ehm, begini. Bukankah di TKP papi tergeletak bersama ponselnya? Hematku, jika stres dapat memicu serangan jantung, kenapa kita tidak menunggu hasil penyelidikan dari ponsel papi saja? Bisa jadi, papi stres setelah menerima panggilan ataupun pesan dari seseoang. Mohon dimaklumi jika analisaku salah," kata pak Direktur. Menurutku analisanya lumayan bagus.
"Aku setuju," sahut pak Sabil.
"Pak Direktur urusi saja istri muda dan perusahan Anda. Hemat saya, tidak perlu ikut campur!" seru seseorang.
"Papi adalah mertuaku! Polisi bahkan sudah memeriksaku! Beraninya kamu memintaku tidak ikut campur!" Pak Direktur marah. Ia hendak berdiri namun bahunya segera ditahan oleh pak Sabil. Yang lainnya terdiam.
"Setelah almarhum mati, kamu baru mengakuinya sebagai mertua! Kamu senang 'kan almarhum meninggal. Hahaha, miris kamu Pak Direktur! Jangan-jangan, kamu adalah pelaku yang menyebabkan almarhum stres dan mati mendadak!" tuduhnya.
"Apa?! Kurang ajar!" Pak Direktur menggebrak meja.
"Zul, tenang!" teriak bu Yuze. Terlihat khawatir. Langsung dipeluk sama mbak Gendis. Aku menyimak. Seperti apa kelanjutannya? Jadi penasaran.
"Mohon bersikap dewasa. Saya tidak ingin ada keributan di tempat ini," kata seorang polisi yang bajunya berbeda dari yang lain. Bajunya dipenuhi atribut. Sepertinya, dia adalah Komandan, Kompol, atau apalah jabatannya. Aku enggak mengerti.
"Keluarga almarhum sepakat untuk autopsi ulang. Selain itu, sebagai tim kuasa hukum almarhum, kami juga kurang puas dengan kinerja tim forensik. Kenapa kalian melakukan autopsi di malam hari? Bukankah autopsi harus dilakukan pada siang hari?"
"Izin menjawab Pak Pengacara, autopsi dilakukan pada malam hari karena keluarga telah menjadwalkan jam pemakaman. Selain itu, kualitas lampu di ruang autopsipun tidak akan berpengaruh pada hasilnya. Entah itu autopsinya siang, ataupun malam sekalipun, hasilnya akan tetap sama. Kenapa demikian? Karena ruang autopsi adalah ruangan tertutup yang terbebas dari paparan sinar matahari," jelas dokter forensik.
Sepertinya, perselisihan antara keluarga Antasena dan keluarga bu Dewi akan memasuki babak baru. Kehidupan orang-orang kaya ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Pak Direktur tampak dibujuk oleh pak Sabil untuk meninggalkan ruangan.
"Listi, iku aku!" ajaknya saat melewati kursiku.
"Pak Direktur, aku sedang cuti kerja," tolakku.
"Tia, patuh saja," kata pak Sabil. Terpaksa mengikuti mereka.
...⚘️⚘️⚘️...
Tenyata, kami akan ke ruangannya pak Sabil. Pak Direktur langsung duduk di kursi sambil melonggarkan dasinya.
"Bagaimana ayang? Kantorku bagus, 'kan?" Pak Sabil malah berkata demikian.
"Ayang? Hahaha, kalian sudah jadian?" tanya pak Direktur.
"Ya," pak Sabil.
"Ti-tidak Pak. Itu hanya asumsi Pak Sabil," bantahku.
"Percuma kamu membantah Listi, wong bapak kamu dan pak Komjen sudah sepakat untuk menikahkan kalian, 'kok."
"Apa?!" Keterangan pak Direktur membuatku dan pak Sabil terkejut dan saling berpandangan.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1