
"Baiklah, kalau kamu tidak mau keluar, aku pergi dulu ya, Hanin."
Aku tahu Pak Zulfikar beranjak. Ujung kemejanya tidak terlihat lagi.
Apa aku berdosa karena tidak bersalaman dengannya? Apa aku bersalah karena tidak mengantarnya sampai depan pintu?
Sebagai istri, aku hendaknya mencium tangannya, mengantarnya sampai masuk ke dalam mobil, berdoa untuknya, lalu melambaikan tangan dan mengatakan jika aku menunggunya.
Aku ingin melakukan hal itu. Bahkan ingin melakukan lebih banyak hal lagi sebagai bukti bakti dan pengabdianku kepadanya. Saat aku melihat bagaimana ummi memperlakukan abah, aku juga ingin melakukannya pada suamiku. Namun posisiku saat ini benar-benar membingungkan.
Jika aku tidak mempedulikan pak Zulfikar, aku takut berdosa, tapi di saat aku mempedulikannya, aku khawatir akan terjatuh kian dalam dan benar-benar ingin memilikinya.
Aku sadar diri akan posisiku. Tapi apa yang terjadi saat ini, sungguh membuat batinku tersiksa dan merana.
"Assalamu'alaikuum, Hanin, aku pergi ya," sayup terdengar suaranya.
"Wa'alaikumussalaam," aku menjawabnya lirih.
'Klak.'
Saat terdengar bunyi pintu kamar tertutup, aku segera beranjak, aku keluar dari kamar mandi dan mengintip kepergiannya dari balik tirai jendela.
Saat punggungnya tak terlihat lagi, aku keluar dari kamar dan mengendap-endap. Aku mengintip dan mengantar kepergiannya dari sebuah tempat yang tidak dia ketahui.
Terlihat jua Abah dan Ummi, mereka ternyata mengantar Pak Zulfikar. Ummi terlihat biasa saja. Sementara Abah tampak begitu hangat, ramah dan ceria. Abah bahkan memeluknya sambil mengatakan sesuatu. Namun tak bisa aku dengar karena jarakku cukup jauh.
Bagaikan orang gila, aku melambaikan tangan saat dia memasuki mobilnya dan tersenyum manis pada Abah dan Ummi. Pak Zulfikar mengedarkan pandangan sebelum benar-benar pergi.
Apakah dia mencariku? Tidak, itu tidak mungkin.
Dia akan pergi ke proyek, lalu setelah itu akan bertemu dengan istri sahnya dan berbulan madu. Tadi malam, dia begitu memuja dan mendamba tubuhku, namun nanti malam dia akan ---.
Aku tak sanggup memikirkannya. Aku berlari ke kamar seraya menangis.
Kenapa aku jadi begini? Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Kenapa begitu menyesakkan dada saat aku membayangkan pak Zulfikar dan bu Dewi tidur bersama? Harusnya aku tidak seperti ini, kan?
"Huuu ... huuu ....."
Aku terisak, aku membenamkan kepalaku pada bantal. Lalu kulempar bantal itu sebab aroma rambut pal Zulfikar masih menempel di bantal tersebut. Aku terus menangis hingga tak sadar jika Ummi telah memasuki kamarku.
Tanpa basa-basi, Ummi lantas meraihku ke dalam dekapannya, lalu membelai rambut basahku sambil mengelus punggungku.
"Sabarnya geulis, pami tiasamah ... Daini teu kenging bogoh ka manehna (sabar ya cantik, kalau bisa ... Daini jangan sampai jatuh cinta kepadanya)."
"Daini kedah sadar diri. Daini teh madu. Kedah **** ka istri sahna. Anjeuna pasti nyeri hate pami terang carogena nikah deui (Daini harus sadar diri. Daini itu madu. Harus ingat sama istri sahnya. Dia pasti sakit hati kalau tahu suaminya menikah lagi)."
"Huuks, muhun Ummi (ya Ummi)."
Lalu Ummi menengadahkan kepalaku, ia mengusap air mata dan menatapku dalam-dalam.
"Sekarang jujur pada Ummi, apa di hati kamu ada debaran-debaran saat dekat dengannya?" Ummi mengulitiku dengan pertanyaan itu.
"Ti-tidak Ummi, tidak ada," elakku.
"Terus kenapa kamu nangis?"
"Aku menangis karena sedih, kan hari ini harus ke Jakarta lagi," jelasku. Ummi tersenyum mendengar penjelasanku, lalu kembali memelukku dan malah ikut menangis.
"Ummi, maafin Daini, huuu."
"Huuuks, ngapain kamu minta maaf? Ummi itu nangis karena sedih mau pisah lagi sama kamu," terangnya.
Aku mengusap air mata Ummi sambil tersenyum. Kemudian memeluk erat tubuh Ummi, dekapan hangat Ummi membuat hatiku lebih tenang.
Abah ... Ummi ... semoga kalian sehat selalu dan panjang umur, aamiin.
...***...
Zulfikar Saga Antasena
"Pak Zulfikar? Kami tidak menyangka Bapak bisa datang sepagi ini." Mandor proyek dan anak buahnya menyambutku.
Aku hanya tersenyum sembari menatap sekitaran. Tak ada niat sedikitpun untuk menjelaskan pada mereka kenapa aku bisa datang sepagi ini.
"Antar aku berkeliling," ajakku.
Mereka pasti mengira aku tidak ramah. Biarkan sajalah. Aku tak peduli. Sikap Haninlah yang membuatku seperti ini. Dia marah padaku tanpa sebab yang jelas.
Apa memang ada yang salah dengan ucapanku? Aku merenung.
"Pak, mari."
Untung saja Pak Mandor segera mengajakku, kalau tidak, mungkin aku akan mematung di tempat ini sepanjang hari.
Aku harus melupakan dia, setidaknya saat aku bekerja.
Aku memotivasi diriku sendiri. Semua hal tentang dia benar-benar menggangguku. Kehangatannya, jeratannya, kelembutnya, ranumnya dan manisnya itu kembali kuingat hingga mendesirkan tubuhku.
"Kenapa, Pak? Apa mau minum dulu?" Mandor proyek mungkin keheranan karena aku banyak melamun.
"Tidur perlu Pak. Oiya, pastikan air yang mengaliri mushola ada dari dua sumber. Dari PDAM dan air tanah. Supaya ada alternatif kalau salah satunya tidak bisa digunakan," jelasku.
"Baik, Pak."
Setelah agenda di proyek selesai, aku lanjut ke kantor pemasaran. Di tempat ini tak banyak yang aku lakukan. Hanya mengecek presentasi jumlah pemesan dan unit yang sedang dibangun. Sejauh ini tidak ada kendala yang berarti. Tinggal digencarkan promosinya saja.
"Mas, aku sudah di depan proyek."
Ada pesan dari Dewi. Aku sedikit kaget. Kukira, Dewi akan tiba sore hari. Ternyata, Dewi datang lebih cepat. Aku beranjak, berjalan cepat untuk menjemputnya.
"Mas."
Dia turun dari mobil sambil melambaikan tangan. Memakai celana jeans dan baju lengan panjang berwarna putih, memakai kaca mata hitam dan topi.
"Halo cinta," sambutku. Dia langsung berhambur ke pelukanku.
"Taksinya sudah dibayar, kan?" tanyaku.
"Sudah Mas," jawabnya tanpa melepas pelukannya.
"Cinta, jangan cium-cium di sini, Mas malu," aku sedikit risih karena Dewi memeluk sambil menciumi leherku.
"Mas, kita suami-istri. Biarin saja mereka melihat keharmonisan kita," malah disengajakan. Dewi bahkan mengecup bibirku.
"Cinta, ayo kita ke hotel saja, Mas sudah pesan, kok."
"Mas, memang pekerjaan di proyeknya sudah selesai?"
"Sudah Wi, tunggu di sini ya. Mas mau ambil kunci mobil dulu."
"Ikuuut," ucapnya dengan nada manja.
Aku menghela napas, sedikit aneh dengan sikap Dewi yang seolah melupakan informasi dari Reni tentang akhwat yang aku tarik ke dalam mobilku.
Di dalam mobil, Dewi semakin manja. Tangannya tak lepas dari memeluk bahuku. Padahal aku sedang menyetir.
"Cinta, Mas sedang nyetir," kataku saat tangan Dewi menyentuh ke bagian lain.
"Kangen," keluhnya. Aku tersenyum, lalu mengecup tangannya.
"Hotelnya sebentar lagi kok," terangku.
"Mas kita jangan makan siang dulu ya."
"Kenapa?" tanyaku.
"Emm, soalnya aku mau makan kamu dulu."
"Oh, hahaha," aku tergelak.
__ADS_1
"Mas, aku serius."
"Oke, siapa takut," tantangku.
...***...
Setibanya di kamar hotel, Dewi ternyata tidak main-main dengan ucapannya. Dengan bergairah, dia mendorong tubuhku dan menindihku.
"Mas," dia menelusuri bibirku.
"Kenapa, cinta?"
"Emm, ini bibir kamu kenapa? Ujungnya kok lecet?"
"Apa? Oh, ke-kegigit cinta."
Jantungku mulai berdegup. Ya, semalam kegigit Hanin. Lebih tepatnya digigit. Dia menggigitku karena aku dia mau melepaskannya.
Dewi mengernyitkan alis, namun itu tak lama, karena dia lantas membuka bajuku, lalu menyematkan banyak tanda cinta di leher dan dadaku.
"Awh, sa-sakit Wi," dia mengecup dadaku terlalu kuat. Serius, ini menyakitkan, terasa perih.
Namun Dewi tak menggubris, ia melanjutkan aksinya hingga ....
Dia dan aku bersama-sama mencapai titik puncak itu. Dewi langsung tertidur setelahnya. Sementara aku ... aku menatap langit-langit dengan perasaan sakit.
Aku baru saja bercinta dengan istriku sendiri.
Tapi kenapa?
Kenapa aku menyesalinya dan merasa berdosa setelah melakukannya? Apakah ini karma karena aku telah membohongi Dewi? Ataukah karena yang aku inginkan adalah Hanin?
Astaghfirullah ....
Kenapa kehidupan cintaku jadi sepilu ini?
Aku sebenarnya bisa mengakhiri ini dengan menceraikan Hanin. Tapi jiwa dan ragaku sudah terpaut pada wanita itu. Aku tidak ingin pisah darinya. Aku bahkan tidak rela jika Hanin dimiliki oleh orang lain selain aku.
Hanin ....
Aku menyebut namanya di dalam hati saat tanganku sedang mendekap Dewi.
"Mas," Dewi membuka mata.
"Ya cinta."
"Siapa akhwat yang kamu tarik tangannya ke dalam mobil kamu? Tolong jelaskan," katanya. Aku teperanjat.
"Aku sebenarnya mau menanyakannya dari tadi, Mas. Tapi akunya gak bisa nahan nafsu saat melihat kamu," tambah Dewi. Ia membalikan badan, menghadapku.
Aku harus jawab apa? Aku berpikir.
"Wi, dia karyawan kita."
"Karyawan?"
"Ya, Wi. Mas memaksanya ke dalam mobil karena ada masalah di perusahaan yang ada hubungannya dengan dia." Semoga siasat ini berhasil.
"Masalah apa, Mas? Aku perlu tahu! Sebab setahuku kamu biasanya gak pernah tuh bawa-bawa wanita lain selain aku." Nada bicaranya mulai meninggi.
"Ini situasinya beda cinta," jelasku.
"Mas, kamu tidak bohongin aku, kan? Wanita itu bukan simpananan kamu, kan? Kenapa harus kamu yang menyelesaikan masalahnya?"
"Wi, tenanglah. Kalau Mas bicara langsung sama kamu, Mas khawatir kamu salah faham. Begini saja, silahkan kamu telepon bu Caca agar kamu tahu permasalahannya."
Aku pecundang. Aku cuci tangan. Aku malah melimpahkan semuanya pada bu Caca. Ya, Hanin memang sempat bermasalah dengan kantin perusahaan.
"Mas, aku tidak mau tahu dari siapapun. Aku mau mendengar penjelasan langsung dari kamu," tegasnya.
"Begini, saat Mas sidak ke kantin ...."
"Oh, begitu ya? Masih ada ya Mas wanita seperti itu?" Aku diam saja, kurasa penjelasanku sudah cukup.
"Mas mau mandi dulu cinta, nanti sore kamu mau jalan-jalan kemana?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak mau kemana-mana, Mas. Mau di hotel saja."
"Yakin gak mau keliling kota Bandung?" Aku memastikan lagi.
"Tidak Mas, cukup di kamar saja, asalkan sama kamu," katanya.
"Kalau kamu gak mau jalan-jalan, bagaimana kalau kita pulang saja?"
"Pulang? Ya sudah terserah Mas saja deh. Oiya, kalau gak ada jadwal ngajar, aku mau ikut ke kantor ya, Mas. Aku penasaran sama karyawan yang bermasalah itu."
Deg, aku yang hendak masuk ke kamar mandi tak jadi melangkah.
"Kamu pernah bertemu dengannya, Wi."
"Pernah? Kapan, Mas?"
"Kamu pernah mengatakan, 'Kenapa gak sekalian pakai cadar saja, Mbak?' Apa kamu masih ingat? Nah, itu orangnya."
Saat kumelirik, alis Dewi mengernyit. Dia sepertinya sedang mengingat-ingat.
"Oh, yang itu? Dia kan nunduk terus Mas, aku gak lihat mukanya."
Aku segera masuk ke kamar mandi. Membahas tentang Hanin, membuatku merindukannya.
...***...
Seperti biasa, setiap pagi, di perusahaan kami selalu diadakan apel pagi.
Pelaksanaan apel pagi merupakan kewajiban bagi setiap pegawai. Selain untuk mendengar arahan dari pimpinan, apel pagi juga bermanfaat untuk melatih kedisiplinan dan tanggung jawab bagi setiap pegawai.
Pagi ini, arahan disampaikan langsung oleh Paklik Aryo. Aku tak bisa fokus. Pandanganku selalu bergulir ke barisan divisi mutu. Aku mencari keberadaan Hanin.
Kenapa dia tidak ikut apel pagi?
Aku khawatir dia sakit. Sementara temannya yang bernama Listi, kulihat berada di barisan paling belakang.
"Disiplin dalam bekerja sangatlah penting. Dengan kedisiplinan, diharapkan sebagian besar peraturan perusahaan dapat ditaati oleh pegawai. Saya berharap seluruh pegawai dapat bekerja sesuai prosedur agar pekerjaan dapat terselesaikan secara efektif dan efisien," kata Paklik.
"Bila pegawai tidak melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan oleh perusahaan, maka tindakan pendisiplinan adalah langkah terakhir yang bisa diambil terhadap seorang pegawai yang performa kerjanya di bawah standar," tambah Paklik.
Ingin rasanya aku mangkir dari apel ini dan mencari Hanin.
Sabar ... bujukku dalam hati.
Akhirnya apel yang membosankan ini selesai juga. Aku bergegas ke ruanganku. Tania menyusul dengan langkah cepat.
"Pak, agenda Bapak hari ini ---."
"Aku sudah membacanya. Tak perlu dijelaskan lagi." Aku menyela kalimat Tania.
"Maaf, Pak." Sambil menekan pintu lift.
"Tania, kamu cek perkembangan kantin khusus akhwat, apa sudah ada yang menggunakan?" Aku ingin tahu, apakah pagi ini Hanin sarapan di sana?
"Baik, Pak," jawabnya.
"Sekarang Nia! Kamu cek sekarang!" titahku.
"Oh, emm, ba-baiklah, Pak." Tania keluar dari lift, kulihat dia garuk-garuk kepala. Mungkin merasa heran dengan ulahku.
.
Setibanya di ruang kerjaku, aku mengirim banyak pesan untuk Hanin. Akan kuhapus pesan ini nanti setelah pulang kerja.
__ADS_1
"Kenapa tidak ikut apel?"
"Kamu sudah sarapan belum?"
"Kenapa dari kemarin gak ngabarin aku kalau kamu sudah sampai di Jakarta?"
"Hanin, pulang kerja kita harus bertemu. Mahar yang tiga gram itu, kamu mau aku buatkan apa? Cincin apa anting?"
"Hanin, tolong balas pesanku. Hanin, kamu istriku. Kamu tahu 'kan apa yang harus kamu lakukan pada suami kamu?"
Tapi dia sama sekali tak merespon. Jangankan dibalas. Dibacapun tidak. Aku memberanikan diri meneleponnya selagi jadwal rapat masih tiga puluh menit lagi. Tapi, tak diangkat.
"Ya ampun, Daini Hanindiya Putri Sadikin!" geramku.
Aku coba menelepon lagi. Huh, malah dimatikan. Dia benar-benar menguji kesabaranku. Saking kesalnya, aku sampai tak sadar meremas berkas bahan presentasi untuk rapat hari ini.
Deg, aku mengingat sesuatu.
Bukankah rapat kali ini akan dilakukan bersama divisi mutu? Aku jadi bodoh dan linglung gara-gara dia.
Berarti, sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Hatiku mulai tenang. Segera mempersiapkan dokumen, lanjut becermin. Aku harus terlihat tampan dan gagah di hadapan Hanin. Lalu aku membaca materi berulang-ulang agar wibawaku di rapat ini tak terbantahkan. Di hadapan Hanin, aku harus tampil sempurna.
...***...
Aku memasuki ruang rapat dengan percaya diri. Setelah duduk di kursiku, mataku menyisir ruangan.
Jedug. Aku mengatur napas.
Hanin.
Dia benar-benar ada di hadapanku. Penampilannya tentu saja paling mencolok. Busana syar'inya benar-benar menutupi segenap keseksian dan keindahannya. Aku jadi kikuk, sampai-sampai aku diingatkan oleh Tania untuk segera menyapa peserta rapat.
"Baiklah."
Aku meliriknya, tapi Hanin benar-benar tak peduli. Ya, kita memang sudah sepakat untuk tidak saling mengenal jika bertemu di depan umum.
Rapatpun dimulai.
Kini giliran Bu Caca sebagai manajer divisi mutu yang akan melakukan presentasi. Hanin menyimak sambil sibuk mengetik di laptopnya. Lalu tiba-tiba dia berbisik pada Listi.
Dari gerakan bibirnya, aku bisa menduga kalau dia mengatakan pada Listi, "Kak, aku mau pipis dulu." Kira-kira seperti itu. Dia lantas keluar ruangan sambil membungkukkan badannya.
"Nia, aku mau ke kamar kecil, kamu catat saja poin-poinnya," kataku.
"Baik, Pak."
Aku keluar ruangan. Sebenarnya sama sekali tidak ingin ke kamar kecil. Hanya ingin bicara sedikit pada istriku. Aku melangkah cepat, berharap bisa menyusulnya, tapi gagal.
.
Syukurlah, suasana saat ini sedang sepi. Aku menunggunya di pintu keluar toilet. Aku mulai gelisah, takut ada yang memergoki dan curiga dengan sikapku.
'Srak.'
Aku mendengar derap langkah mendekat. Aku yakin itu pasti Hanin. Benar saja, dia melintas, tapi tidak melihat keberadaanku.
'Grep.'
Aku memegang tangannya.
"Sssst," kataku saat dia hendak beteriak karena kaget.
"Lepas! Bapak mau apa?!"
"Hanin, aku mau bicara."
"Pak, tolong berpikir jernih, ini bukan saat yang tepat! Aku harus pergi," tolaknya.
"Hahaha, lu serius?"
"Serius dong."
Sayup kudengar tawa dan percakapan. Mereka sepertinya akan ke toilet.
Sontak aku dan Hanin terkejut. Hanin berusaha melepaskan diri. Namun aku yang panik malah menarik tangan Hanin dan membawanya masuk ke toilet pria yang letaknya berada di belakangku.
Hanin menggelengkan kepala, wajahnya memucat. Toilet yang sempit, membuat tubuhku dan tubuh Hanin bersentuhan.
"A-Anda keterlaluan," lirihnya.
"Sssst," aku meletakan jari telunjuk di bibirnya. Tak sadar, lanjut menelusuri bibirnya dengan jemariku.
"To-tolong jangan seperti ini, Pak. Ini berisiko," ratapnya. Tapi dia tak menolak saat jemariku mengusap lembut bibirnya.
"Ini gara-gara kamu, siapa suruh tak memberi kabar, siapa suruh tak membalas pesan dan tak mengangkat panggilanku," bisikku. Aku menundukkan kepala demi mendekat ke telinganya.
'Bruk.'
Terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup. Di sampingku rupanya ada pengguna toilet juga. Jantungku kian berdegup. Hanin bergeming, ia lantas duduk di toilet.
"Hanin, kenapa duduk?" tanyaku.
"A-aku takut kakiku terlihat dari luar."
Ya, desain pintu kamar mandi ini memang dibuat menggantung beberapa centi dari lantai. Aku jadi kesal dengan desain interiornya.
"Hanin, kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kamu mengabaikanku?"
"Pak, di luar sudah sepi, aku mau pergi." Dia memaksa menggeser tubuhku untuk membuka kunci.
"Hanin, tunggu. Jangan pergi dulu."
Entah kenapa aku jadi semesum ini. Aku mengekang tubuhnya, aku menghimpit tubuh Hanin dan memaksa mencium bibirnya. Aku tak tahan, aku teramat merindukannya.
"Uhm ... mmm ...."
Hanin awalnya menolak, namun setelah aku berhasil memperdalamnya, dia akhirnya pasrah. Sensasi ini benar-benar candu. Aku tak bisa berhenti, aku bahkan menginginkan hal yang lebih dari ini. Tanganku perlahan menjalar.
"Haniiin," dari luar terdengar seseorang memanggil Hanin.
Hanin teperangah, tapi aku tak peduli.
"Emh ... su-sudah yahh ...," lenguh Hanin.
Bibirnya yang kian memerah karena ulahku terlihat gemetar. Wajahnya merona. Namun yang membuat hatiku berdesir adalah ... dari sudut matanya yang cantik itu menetes butiran bening. Hanin menangis.
"Hanin," aku mengusap airmatanya.
"Pak ... to-tolong jangan membuatku tersiksa dan terluka lebih lama lagi. Sampai kapan Anda akan memperlakukanku seperti ini? Huuks."
"Hanin ...." Aku mendekapnya.
"Aku ingin becerai," katanya.
"Tidak Hanin!" tegasku.
"Kenapa? Tolong katakan alasannya, Pak ...."
"Hanin," aku mendekapnya kian erat.
A-aku ..., a-aku sebenarnya mencintai kamu, Hanin. Apa aku salah jika mencintai kamu? Sungguh, aku tidak punya kuasa untuk menolak perasaan ini.
Aku ingin jujur mengungkap perasaan itu, tapi aku takut melukainya. Kalaupun aku jujur, dia juga belum tentu percaya padaku.
Bagaimana mungkin dia percaya padaku, sedangkan di sisiku jelas-jelas ada Dewi.
"Hanin ... maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu."
Hanya kalimat itu yang mampu kuucapkan. Setelahnya, aku kembali memagut bibirnya. Aku tak peduli kalaupun dia menangis dan berusaha menolak.
__ADS_1
...~Tbc~...