Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Kesumat


__ADS_3

Daini Hanidiya Putri Sadikin


Aku menatap kepergiannya dari balik selimut yang mengurung tubuhku. Tak mengantarnya sampai ke depan karena terlalu lelah dan sedikit kesakitan.


Kalau diingat-ingat lagi, aku bahkan jadi malu sendiri. Sebab malam ini aku dan dia telah menghabiskan malam dengan becerita, bercumbu dan bercinta.


Aku memegang dadaku. Debaran dan desiran itu seolah masih terasa. Tadi, aku bahkan lupa kalau pak Zulfikar adalah suami bu Dewi. Tadi, aku merasa sangat serakah dan menganggap jika tubuh pak Zulfikar hanya milikku seorang.


Aku lantas mengusap airmataku untuk menguapkan segenap rasa kegundahan ini dan kesedihan ini. Sedih karena dia meninggalku, dan gundah karena jiwa dan raga ini semakin terikat dan tertarik terhadap seluruh pesona dan daya tariknya.


Keromantisannya, kelembutannya, kehangatannya, dan rayuannya telah membuatku meleleh. Aku sudah bertekuk-lutut dan takluk di bawah kuasanya. Di hadapannya tubuh ini seolah bukan milikku lagi. Aku bak manekin hidup yang berada di ujung telunjuk dan kendalinya.


"Huhh ...."


Aku menghembuskan napasku sambil menatap jam dinding. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum adzan subuh berkumandang. Setelah mengatur alarm, aku kembali memejamkan mata untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh lelahku.


Namun malam ini, setidaknya ada satu telur yang berhasil kupecahkan. Sebab pada akhirnya aku mengatakan juga kalau aku sedang mengandung. Aku bahagia karena pak Zulfikar menerima kehamilanku dengan antusias. Bahkan cenderung berlebihan hingga nyaris pingsan.


"Sayang-sayangku, apa kalian suka? Aku sudah memberitahu keberadaan kamu pada calon ayah kamu. Sehat-sehat ya para kesayangan," gumamku sambil mengelus perutku.


Setelah dipikir-pikir, daripada tidur lagi, kurasa lebih akan baik kalau aku mandi dan bersuci saja. Khawatir shalat Subuhku kesiangan kalau tidur lagi. Apalagi, hari ini aku ada agenda bertemu klien bersama dengan Direktur Eksekutif.


Aku bangun perlahan, tubuh ini rasanya remuk-redam. Dia adalah aktor tangguh dan handal saat beradegan ranjang. Selalu saja ada ide baru dan hal baru yang membuatku merasa dikuliti karena teramat malu. Hingga aku menduga kalau dia telah membaca dan memahami buku klasik Kama Sutra.


Saat aku mengguyur tubuhku, aku menggigil. Air di hotel ini dingin sekali. Kamarku memang tidak ada fasilitas air hangatnya. Ya ampun, rambutku masih basah tapi harus dikeramas lagi.


Selesai mandi dan berpakaian, sambil menunggu waktu Subuh, aku membaca Al-Qur'an. Sekarang, setiap hari, aku merutinkan membaca surat Yusuf dan Maryam di sela target baca Qur'an one day one juzku. Jika kemarin baca surat Yusuf, berarti hari ini giliran membaca surat Maryam.


Selepas shalat Subuh dan melafalkan dzikir harian, rasa kantuk itu datang. Akupun perlahan terpejam dalam keadaan masih terpekur di atas sajadah dan memakai mukena.


Malam ini, aku memang nyaris tak tidur karena harus melayani dan memuaskan suamiku. Selain itu, kami juga melakukannya sebanyak dua kali dengan durasi yang cukup lama. Jadi wajar saja kalaupun tubuhku lemas seperti ini. Mengingatnya lagi, aku jadi merinding si bulu roma.


Aku lanjut terkantuk-kantuk hingga melupakan apapun. Lalu tiba-tiba tersadar lagi dan kaget setengah mati.


"Astaghfirullahaladzim!" pekikku.


Saat membuka mata, aku sudah tergeletak di atas sajadah. Dan yang membuatku membelalak adalah ... waktu sudah menunjukkan pukul 08.27 WIB. Aku terlambat bangun. Otomatis akan terlambat tiba di kantor dan terlambat juga menemui pak Aryo.


Aku panik. Segera memakai pakaian kantor dengan tergesa-gesa. Memakai jibab yang simpel, tak memakai riasan apapun. Biasanya pakai pelembab yang mengandung SPF dan pelembab bibir. Sekarang mana sempat. Aku memasukkan ponselku yang masih dinonaktifkan sambil menggerutu. Aku menyesali keterlambatanku.


Lanjut keluar kamar sambil mengatur napasku. Baru sekarang aku begitu ceroboh hingga terlambat separah ini. Salah satu sumber keterlambatan ini tentu saja gara-gara pak Direktur.


"Kalau saja Anda tak menggoda tubuhku! Aku mungkin tak kesiangan dan terlambat seperti ini!" gerutuku saat aku berada di dalam lift seorang diri.


Keluar dari lobi aku segera berlari menuju jalan raya dan mencegat taksi yang melintas. Baru kali ini aku naik taksi. Biasanya, kalau tak naik ojek online hijaber, ya naik busway.


"Pak, maaf, cepatan sedikit ya, Pak. Aku telat," kataku.


"Ya, Mbak. Semoga saja tak macet," katanya.


Sudah jatuh tertimpa tangga. Jalur yang kulalui malah macet.


"Aduh, bagaimana ya, Pak? Aku jadi tambah telat," keluhku sambil menyalakan ponselku.


"Ya Mbaknya yang salah. 'Kan Mbaknya yang kesiangan," gumam pak supir sambil tersenyum. Dia malah menyalahkanku. Ya 'sih, aku memang salah.


"Telepon temannya saja, Mbak. Bilang saja kalau terjebak macet."


"Ya, Pak. Ini juga mau," kataku.


Saat ponselku aktif, langsung ada panggilan masuk dari kak Listi. Dari pemberitahuan, diketahui kalau kak Listi berulang kali menghubungiku. Ada pemberitahuan misscall dari pak Zulfikar juga.


"Dai, lu di mana 'sih? Semalam kenapa HP lu gak aktif? Lu tahu gak? Pak Direktur juga telepon gua malam-malam. Gua belum sempat ngobrol 'sih, tapi gua yakin kalau pak Direktur mau cari lu. Sekarang lu di mana?"


"Kak tenang dulu, Kak," selaku. Karena Kak Listi terus bicara tanpa jeda.


"Makanya cepat jawab, Dai!"


"Aku masih di jalan, Kak. Kejebak macet," jelasku.


"Apa?! Masih di jalan?! Astagfirullah, Dai! Kok bisa 'sih lu setelat ini?! Lu memangnya gak tahu kalau hari ini lu ditugaskan bertemu klien bersama pak Direktur eksekutif?!" teriak kak Listi.


"A-aku tahu, Kak. Tapi ... a-aku kesiangan, Kak."


"Lagipula kok bisa kamu kejebak macet?! Bukannya dari apartemen ke kantor jarang macet?!"


"Emm, a-aku tidak berangkat dari apartemen, Kak."


"Ya ampun, Dai. Ya sudah cepat pokoknya. Kalau bisa lu selap-selip saja naik ojek pengkolan. Bu Dewi sudah nunggui lu, Dai. Dia marah-marah, kita semua panik. Lu yang telat, imbasnya ke kita-kita tahu.'Kan stafnya pak Aryo tadi sekitar jam delapan kurang sepuluh datang ke devisi kita mau jemput kamu," terang kak Listi sebelum mengakhiri panggilan.


Aku mengusap dadaku, penjelasan kak Listi membuat jantungku berdebar-debar. Saat macet terurai dan taksi mulai melaju, debaran ini semakin parah. Aku takut menghadapi bu Dewi. Aku takut bu Dewi menyangkut pautkan masalah keterlambatanku ini dengan masalah pribadi.


Selain itu, dalam hal ini, aku memang sepenuhnya salah. Karena secara tidak langsung, aku keterlambatan ini, aku telah mempermalukan divisi mutu di hadapan mata pak Direktur Eksekutif.


Bagaimana ini? Ya Rabb ... mohon berikan ketenangan pada hatiku dan lisanku. Aamiin.


Aku memanjatkan doa di sepanjang perjalanan. Aku juga memohon agar bu Dewi dilembutkan hatinya.


Akhirnya, aku sampai juga. Saat turun dari taksi, kakiku gemetar. Tanganku dingin. Keringat halus mengalir di kedua pelipisku. Aku mengatur napas berulang kali untuk menghilangkan ketidaktenangan dan ketegangan ini.


...🍒🍒🍒...


Dewi Laksmi


"Apa katamu?! Dia kejebak macet?!" teriakku pada teman si Daini. Nama di nametagnya Listi Anggraeni.


"Ya, Bu," jawabnya sambil menunduk.


"Kurang ajar dia! Anak baru 'kok berani telat sesiang ini 'sih!" gerutuku.


"Dia biasanya tak pernah telat, Bu. Hari ini mungkin ada sesuatu dan lain hal yang menyebabkan dia terlambat," belanya.


"Diam kamu! Jangan berani-berani kamu membela dia hadapanku! Kalaupun kamu teman baiknya tak boleh membela yang salah!"


"Ma-maafkan saya, Bu," katanya.


"Sebagus apapun penilaian kamu terhadap si Daini, di mataku si Daini tetaplah tak ada nilainya!" tegasku.


Di kantor ini, aku belum mengatakan pada siapapun kalau si Daini adalah maduku. Aku juga belum menyebarkan rumor kalau dia pelakor munafik yang berkedok wanita sok alim dan sok suci. Aku sedang mencari waktu yang tepat sambil menunggu respon mas Zul sampai tiga hari ke depan.


"Ya sudah, kamu boleh pergi! Kalau si Daini datang, suruh dia langsung menghadapku!"


"Baik, Bu. Oiya, Bu. Maaf kalau saya lancang," katanya.


"Kenapa?!" sentakku.


"Maaf kalau saya salah mengira, saya hanya merasa kalau Ibu sangat tidak suka dengan teman saya," ucapnya seraya membungkukkan badan berulang-berulang.


Berani sekali dia mengatakan itu terhadapku! Apa mungkin dia belum tahu kalau si Daini jadi maduku? Ya, tak mungkin juga si munafik itu berani menyebarluakan kebusukkannya!


Si Daini pasti merahasiakan kasus ini dari siapapun termasuk dari teman dekatnya sendiri. Yang tahu busuknya dia hanya orangtuanya. Dan orang tua si Daini pasti juga sama busuk dan sama munafiknya seperti si Daini. Orang tua mana 'sih yang tak mau punya menantu seorang crazy rich?


"Nanti kamu juga bakal tahu sendiri kenapa aku sangat membenci teman kamu itu! Cepat sana!" titahku.

__ADS_1


"Baik, Bu." Listi pergi.


Setelah dia pergi, aku menghela napas. Aku jadi kepikiran, jangan-jangan Listi sebenarnya sudah tahu kalau si Daini adalah maduku. Bisa jadi dia hanya pura-pura tidak tahu alias sama munafiknya dengan si Daini.


Aku kemudian menelepon staf paklik Aryo agar bisa bicara langsung dengan paklik untuk meminta maaf atas ketidakprofesionalan stafku yang kebetulan adalah maduku sendiri.


"Gila, gara-gara dia, aku terpaksa harus minta maaf pada paklik. Kamu benar-benar menyebalkan, Daini!" umpatku saat panggilan ke ruangan paklik sedang terhubung.


"Halo," suara paklik


"Lik, ini aku, Dewi."


"Oh, hahaha. Kenapa, Wi?"


"Begini Paklik, aku mau minta maaf masalah janji bertemu klien itu. Kebetulan, staf yang Paklik mau hari ini datang terlambat, aku juga heran 'kok bisa dia sampai sekarang belum datang," keluhku.


"Oh, masalah itu, sudah berapa kali memangnya dia terlambat seperti ini? Kalau baru sekali, kamu beri toleransi saja. Lagipula, kebetulan kliennya juga merubah jadwal pertemuan. Tadinya mau jam sembilan pagi ini, tiba-tiba minta jadwal ulang menjadi setelah makan siang. Jadi, staf kamu masih bisa menjalankan tugasnya," jelas paklik.


Paklik juga malah membela si Daini. Aku jadi kesal. Aku mengepalkan tanganku. Aku tak suka ada orang yang membela dia, karena harapanku si Daini harus dibenci oleh semua orang.


"Baiklah kalau begitu. Tadinya aku khawatir kalau keterlambatan dia jadi menurunkan penilaian Paklik pada divisiku."


"Hahaha, kamu tenang saja. Paklik tak seangker itu. Lagipula penilaian perdivisi bukan wewenang Paklik. Paklik hanya tanda tangan saja."


"Ya sudah Paklik, terima kasih atas waktunya." Aku segera mengakhiri panggilan.


Beberapa saat kemudian, manusia sok cantik itu yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Assalamu'alaikuum, aku Daini, Bu." Suara si munafik.


"Masuk!" bentakku.


Pintu ruanganku terbuka. Si Daini masuk sambil tertunduk. Langsung mengulurkan tangan untuk menyalamiku. Aku menepisnya.


"Tak perlu salaman! Aku jijik bersentuhan dengan kulitmu! Duduk kamu!" teriakku.


"Baik Bu." Dia duduk pelan.


"Kamu tahu kesalahan kamu?!" teriakku sambil melempar berkas ke hadapannya.


"I-iya, a-aku tahu, Bu."


"Kenapa kamu terlambat?!"


"Emm, aku ketiduran, Bu."


"Kamu sudah mempermalukan divisi! Gara-gara keterlambatan kamu perusahaan hampir rugi!" teriakku.


"A-aku minta maaf, Bu."


"Kamu pikir cukup dengan minta maaf?!"


"A-apa yang harus kulakukan Bu? Apa aku harus minta maaf secara langsung pada pak Aryo?"


"Tak perlu! Aku sudah memintakan maaf untuk kamu!"


"Te-terima kasih, Bu."


"Sekarang aku mau tanya!"


Aku berdiri, mendekat sambil melipat tangan di dadaku. Si Daini terlihat ketakutan.


"Apa semalam suamiku ada bersama kamu?!"


"Jawab Daini! Oiya, sini kamu!"


Agar kemarahanku tak terdengar staf, aku menarik tangannya agar masuk ke kamar mandi.


"Bu, I-Ibu mau apa?" Matanya mulai berkaca-kaca.


"Masuk, kamu!"


Aku mendorong tubuhnya ke kamar mandi, lalu akupun masuk dan segera mengunci pintu. Dia berdiri di pojokan, sesekali menatapku. Air mata buayanya sudah menetes.


"Jawab! Apa suamiku semalam ada bersamamu?! Jawab! Cepaaat!" teriakku.


"Emm, i-iya Bu."


"A-apa?!" Sudah kuduga.


"Oiya, mas Zul mengatakan kalau semalam kamu sebenarnya kabur dari rumah mama Yuze, apa itu benar?!"


"Be-benar, Bu."


"Apa?! Tapi kamu bilang semalam kamu bersama dengan suamiku, kan?!"


"I-iya, Bu."


"Kamu kabur ke mana?! Hanya kabur dari rumah mama Yuze, atau kamu kabur dari apartemen juga?!" teriakku.


Aku penasaran. Sebab tadi pagi, mas Zul mengatakan kalau wanita ini tak lagi tinggal di apartemen.


"Dari apartemen juga, Bu," terangnya.


"Apa?! Jangan bohong kamu Daini! Kalau kamu kabur dari apartemen, kenapa tadi malam kamu bisa bersama suamiku?!" teriakku. Aku hilang kesabaran. Aku menarik jilbabnya hingga terlepas.


"Bu, ja-jangan Bu."


Dia berusaha menahan jilbabnya. Tapi aku lebih kuat. Aku melempar jilbabnya ke dalam ember penampungan yang tentu saja berisi air.


"Bu, huuu," dia menangis sambil menutupi wajahnya.


"Cepat jelaskan! Kenapa malam tadi kamu bisa bersama suamiku?!"


"Pak Zulfikar menemukanku, Bu. Pak Zulfikar juga mengatakan kalau ia sudah dapat izin dari Ibu untuk mencariku," jelasnya.


"Apa?! Sandiwara macam apa itu?! Apa kamu pikir aku bodoh bisa langsung percaya begitu saja?! Kalau benar kamu kabur, masa ya mas Zul bisa menemukan kamu secepat itu?!" Aku tak percaya.


"Be-benar, Bu. Aku juga bingung, tapi ... faktanya memang seperti itu," jelasnya lirih.


"Aku tak percaya Daini! Kamu pasti meneleponnya dan memberitahu tahu suamiku untuk datang ke tempat baru kamu!" tuduhku.


"Tidak, Bu. Tidak seperti itu, sungguh."


"Bohong kamu!"


Aku lantas menarik dalaman kerudungnya. Seketika itu, rambut panjangnga tegerai dan aku sadar kalau rambut dia masih basah.


"Bu, istighfar, Bu. Ja-jangan begini. Huuu, huuu, a-ampun, Bu .... Ampun ...."


Dia semakin ketakutan. Memeluk tubuhnya dan kian menunduk.


"Mau kamu nangis darahpun, kamu tetap tidak bisa mengobati sakit hatiku, Daini! Biarpun kamu becerai dengan suamiku, tetap saja aku tak bisa menghilangkan fakta bahwa kamu telah ditiduri oleh suamiku! Kamu sudah menikmati tubuh suamiku tanpa seizinku! Tanpa ridhoku, Daini!"

__ADS_1


"Kamu harus tahu Daini! Rasanya itu sakit sekali saat aku sadar bahwa milik suamiku telah keluar masuk di tubuh wanita lain selain aku! Jika ingat hal itu, aku selalu merasa jika di dalam hatiku ini ada ribuan sembilu yang terus kamu tikamkan setiap detiknya!"


"Ya, aku tahu, Bu. Aku mengerti perasaan Ibu. Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah bertemu dengan pak Zulfikar. Tapi ini sudah terjadi Bu, aku tak bisa menghindarinya lagi," sangkalnya.


"Dasar munafik kamu, Daini! Kenapa kamu tak jujur saja kalau kamu mau harta suamiku dan ketagihan dengan nikmatnya tubuh suamiku?! Ngaku kamu j a l a n g! Ngaku!"


Aku lepas kendali, aku menjambak rambutnya. Aku tengadahkan kepalanya kuat-kuat. Si Daini meringis, tapi tak melakukan perlawanan sedikitpun. Dia mungkin sadar akan kesalahannya.


"Bu ... istighfar." Hanya itu kalimat yang ia ucapkan.


"Apa ini?!" teriakku.


Tanganku gemetar. Saat leher si Daini menengadah, aku melihat banyak tanda cinta di lehernya. Aku kian hilang kendali. Aku tampar saja dia kuat-kuat hingga tersungkur ke lantai kamar mandi.


'PLAK.'


"Ahh, Bu ... ampun ... huuu ... Bu Dewi ...."


"Enak saja kamu bercinta dengan suamiku saat aku semalam demam dan sakit gara-gara mas Zul meninggalkanku di rumah orang tuanya dan lebih memilih mencari kamu! Kamu wanita i b l i s Daini!"


Aku menarik baju bagian depannya hingga kancingnya terlepas.


"Huuu ...."


Dia hanya menangis dan menangis. Aku inginnya dia melawanku. Hal ini membuatku sangat muak dan semakin emosi jiwa. Dia merapatkan baju di bagian dadanya, namun aku sudah terlanjur melihat jika di dadanya juga ada banyak tanda cinta.


Mas Zul rupanya sangat bernafsu saat bercinta dengan wanita i b l i s ini. Bagaimana aku tak sakit hati coba?


"Sekarang jawab Daini! Apa selama ini kamu pakai kontrasepsi?!" teriakku sambil mengguyur tubuhnya dengan dua gayung air hingga ia basah kuyup. Aku tak ingin kalau dia sampai hamil dan mendapat kasih sayang lebih dari mas Zul.


Si Daini diam saja.


"Jawab!" teriakku. Kembali mengguyurnya.


"Ti-tidak, Bu," katanya. Badannya terlihat mulai kedinginan. Puas kamu!


"Apa suamiku suka pakai pengaman?!"


"Bu, huuu ... rasanya tak patut jika Ibu bertanya tentang itu. Itu urusan pribadiku dan pak Zulfikar. Itu rahasia kami, Bu."


Dia mulai melawan. Baguslah, aku suka kalau dia melawan. Daripada dia yang diam saja dan pura-pura tertindas.


"Cepat katakan, Daini! Kalau memang suamiku tak pakai pengaman, apa dia suka di luar atau di dalam?!" teriakku sambil mengguyurnya lagi.


"Cukup Bu Dewi! Cukup! Aku tak mau jawab!" Dia mulai tegas.


"Berani kamu ya melawanku! Sekarang kamu jujur Daini! Apa yang kamu sukai dari suamiku, hahh?! Seberapa senang kamu saat dicelup suamiku, hahh?!" teriakku. Dan sekarang kaki ini hilang kendali aku menendang perutnya.


'Bugh.'


Satu kali tendangan sudah cukup membuat dia memekik histeris dan kesakitan.


"Ahh, sa-sakit, Bu ... a-ampun .... Ja-jangan lakukan lagi, ku-kumohon ...," ratapnya. Sambil melindungi perutnya.


Dia terlihat memucat dan panik saat aku menendang perutnya. Dia terus meringis-ringis, padahal aku hanya menendangnya sekali.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Daini!" teriakku.


"Bu ... apapun yang kurasakan terhadap pak Zulfikar, itu adalah hakku. Biar bagaimanapun, dia adalah suamiku. Pak Zulfikar bukan hanya milik Ibu, dia milikku juga."


"Kalaupun aku menyukainya, mencintainya, dan menikmati tubuhnya, aku tidak salah, Bu. Sebab dia adalah suamiku! Suamiku!" teriaknya. Setelah perutnya aku tendang. Dia mulai terpancing emosi.


"Hahaha." Aku tertawa sambil bertolak pinggang.


"Baik, kalau memang Ibu sangat ingin tahu, akan kujelaskan! Dengar ya Bu! Pak Zulfikar itu mencintaiku! Dia juga ---. Aduh, hesshh ...." Kalimatnya terpotong.


Si Daini malah meringis dan terus memegang perutnya. Aku menautkan alisku. Bibir si Daini juga memucat.


"Bu ... to-tolong, sa-sakit ...."


Dia malah mengulurkan tangan dan meminta tolong. Dasar wanita aneh!


"Aku tak sudi menolong kamu!" bentakku.


...🍒🍒🍒...


Listi Anggraeni


Aku tak tenang. Entah yang ke berapa kali aku menoleh ke ruangan bu Dewi. Tapi Daini tak ada tanda-tanda akan muncul dari ruangan itu. Ini sudah terlalu lama.


Masa sudah hampir dua puluh menit belum selesai juga? Memangnya membicarakan apa sampai selama itu? Tidak, ini tak bisa dibiarkan.


Akupun beranjak untuk mendekati ruangan bu Dewi. Aku mengetuk pintunya. Tapi tak ada sahutan. Karena khawatir dan penasaran. Aku buka saja pelan-pelan. Maksudnya akan aku intip.


Sial!


Pintunya terkunci. Mau aku telepon Dainipun tak mungkin. Sebab tadi kulihat tasnya disimpan di kubikel. Tak dibawa masuk ke ruangan bu Dewi.


Aku kembali lagi ke kubikelku. Hatiku resah-gelisah. Siapapun pasti akan gelisah kalau berada di posisiku.


Kenapa demikian?


Ya karena aku tahu kalau hubungan Daini dan bu Dewi bukan sebatas atasan dan bawahan. Melainkan madu dan racun. Eh, maksudku madu dan istri tua.


Ya ampun, bagaimana ini?


Ting, tiba-tiba aku ingat sesuatu.


Pak Direktur.


Ya, aku harus lapor masalah ini pada pak Direktur. Untung saja semalam beliau sempat meneleponku. Aku jadi tahu nomor pribadinya. Aku pura-pura pergi ke toilet. Padahal mau menelepon beliau.


Ya ampun Neng, lu bikin gua tegang tahu.


Baru kali ini aku menelepon pak Direktur, ke nomor pribadinya pula. Aku mengatur napas dulu sebelum memulai panggilan. Sudah empat kali deringan tapi tak juga diangkat.


"Angkat dong, Pak. Please," gumamku.


"Ada apa Listi?"


Akhirnya diterima juga, lega rasanya hatiku. Dia rupanya sudah menyimpan nomorku di ponselnya.


Gila, suaranya ngebass banget. Seksi tahu.


"Pak, Daini, Pak. Dia masuk ke ruangan bu Dewi dari tadi, tapi belum keluar-keluar," terangku to the point.


"APA KATAMU?!"


B u s y e t dah. Kencang sekali suaranya pak. Panik sih panik. Tapi apa kabar dengan telingaku?


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk!...

__ADS_1


...Duh, Neng Dai. Semoga kamu baik-baik saja. Pak Zul, cepat tolong Neng Daini. Please deh Pak, jangan lelet. Jangan hanya gercep pas di ranjang doang....


__ADS_2