Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sebuah Fakta VS Sebuah Ide


__ADS_3

"Cepat telepon mas Zul, Dai! Andai saja keluargaku tidak berkabung dan menunggu hasil autopsi kedua, aku pasti sudah protes sejak lama. Aku sudah menahan kemarahan ini, Dai. Ditambah, mami juga melarangku," jelasnya. Setelah kami berada di kamar.


"Sebentar ya, Kak. Aku telepon pak Zulfikar dulu." Aku lantas meneleponnya. Langsung diangkat.


"Pak, bisa ke kamar sekarang?" tanyaku.


"Ke kamar? Apa kamu sudah tidak sabar? Sesuai permintaanmu, aku akan mengajukan syarat-syarat," katanya. Malah membahas hal itu.


"Pak, ada yang harus kubicarakan."


"Baik sayang. Tunggu sebentar ya, sekitar lima menit lagi. Aku masih ada tamu yang harus ditemui."


"Ya sudah. Jangan lama-lama ya, Pak." Akupun mengakhiri panggilan.


"Kak Dewi, mohon menunggu lima menit lagi," bujukku.


"Baiklah."


Ia duduk di sofa. Matanya mengitari kamar yang sudah lama tidak kutempati karena aku dan pak Zulfikar tinggal di apartemen.


"Assalamu'alaikuum." Pak Zulfikar tiba.


"Wa'alaikumussalaam."


Aku menyambutnya. Posisi bu Dewi yang duduk di sofa membuatnya belum terlihat oleh pak Zulfikar.


"Dasar tidak sabaran," ungkap pak Zulfikar seraya menciumi pipiku.


"Pak, tu-tunggu dulu," protesku.


"Cepat kamu minta tante Lilly membersihkan makeupnya. Aku lebih suka mencium bibir dan wajahmu yang alami." Sambil membersihkan lipstik di bibirku dengan jemarinya.


"Mas!" teriak bu Dewi. Sontak membuat pak Zulfikar terperangah.


"Kamu?! Sedang apa kamu di sini?! Hanindiya! Kenapa kamu memasukkan wanita itu ke kamar ini?! Siapa yang mengizinkan kamu membawanya ke kamarku?!" teriaknya.


Nyaliku langsung menciut. Pak Zulfikar benar-benar marah. Ia segera melepas pelukannya dan beranjak hendak meninggalkan kamar.


"Mas tunggu! Kita harus bicara." Bu Dewi menghadangnya.


"Minggir kamu!" sentaknya.


"Pak Zulfikar kumohon jangan marah dulu. Aku bisa jelaskan." Segera memegang tangannya.


"Aku sedang tidak ingin bicara! Selesaikan saja masalah kalian!" Dia melepas pelan tanganku.


"Mas! Kamu jangan egois!"


Bu Dewi berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Lalu menyembunyikan kunci kamar di balik bajunya.


"Aku malas melihat kamu! Cepat pergi dari kamarku!"


"Mas!"


"Pak Zulfikar, tolong beri kesempatan pada Bu Dewi untuk bicara. Asal Bapak tahu, aku juga butuh penjelasan."


"Penjelasan apa?! Sudah ah! Kalian membuatku kesal! Ada banyak cara untuk bisa keluar dari kamar ini." Malah berjalan ke nakas untuk mencari kunci cadangan.


"Mas! Tolong jelaskan! Kenapa selama seminggu ini kamu tidak mengunjungiku?! Kamu pikir aku apa?! Aku istri sah kamu, Mas! Kamu juga harus melihat perutku! Aku mengandung anak kamu, Mas!"


"Pak, bicara jujur. Apa yang dikatakan Bu Dewi benar?" Aku menatapnya lekat.


"Ya, aku memang tidak menemui dia!" teriaknya sambil bertolak pinggang.


"Apa?!" Mataku membelalak.


"Tuh 'kan Daini? Apa kubilang, Mas Zul memang tidak pernah mengunjungiku!"


"Pak, kalau Anda tidak bersama Bu Dewi, lantas Anda pergi ke mana? Sedangkan setahuku, Anda selalu meminta izin untuk bertemu dengan Bu Dewi."


"Aku menginap di hotel. Kadang menginap di kantor. Maaf sudah membohongi kamu. Aku melakukannya karena tidak ingin membuatmu merasa bersalah. Jangan bertanya kenapa? Sebab, aku punya alasan yang kuat. Namun tidak untuk dijelaskan saat ini," terangnya sambil mendekat dan memelukku.


"Mas! Lihat aku, Mas! Aku yang kamu sakiti! Aku yang tidak mendapatkan keadilan dari kamu! Tapi kenapa malah Daini yang kamu peluk?! Aku yang kamu bohongi! Tapi kamu malah meminta maaf pada Daini! Kamu tidak adil, Mas! Kamu suami yang jahat!" teriak bu Dewi sambil berurai air mata. Aku mengurai tangan pak Zulfikar agar tidak memelukku.


"Bu Dewi benar. Anda tidak adil, Pak. Anda juga sudah membohongiku dengan pura-pura mengatakan menemui dan menginap di rumah Bu Dewi."


Akupun terisak. Pantas saja di tubuh pak Zulfikar tidak pernah ditemukan ada jejak cinta dari bu Dewi. Ternyata, faktanya seperti ini.


"Huuu, huuu." Tangisan bu Dewi kian menjadi.


"Huks."

__ADS_1


Akupun demikian. Terisak-isak. Pernikahan ini benar-benar menimbulkan luka dan dilema. Pak Zulfikar menghela napas, lalu duduk di sofa dan menatapku yang terduduk di sisi tempat tidur. Sementara bu Dewi bersimpuh di lantai yang dialasi oleh karpet permadani.


"Maaf Hanin, aku belum bisa menjelaskan kenapa aku terpaksa membohongi kamu dan tidak mengunjungi wanita itu. Sungguh, aku melakukannya demi kebaikan kita semua, termasuk demi kebaikan dan nama baik wanita itu beserta keluarganya. Setelah penyidik membeberkan bukti baru dan menganalisa penyebab kematian papi dari hasil autopsi kedua, aku pasti akan memberi tahu semuanya."


"Mas ..., kenapa hanya Daini yang kamu ajak bicara? Aku juga ingin diperhatikan dan diajak bicara sama kamu, Mas." Kalimat bu Dewi membuatku semakin sedih.


"Sebentar lagi, kamu akan mengetahui apa alasanku bersikap seperti ini. Setelah kamu mengetahuinya, aku yakin justru kamulah yang akan malu bertemu denganku," tegas pak Zulfikar.


"Mas, huks. Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Aku merindukan kamu, Mas. Bayi ini juga merindukan kamu. Apa kamu tahu Mas? Bayi kita sudah bisa begerak. Apa kamu tidak mau menyentuh perutku dan merasakan gerakan bayi kita?" ratap bu Dewi.


"Kak Dewi."


Aku tak sanggup lagi mendengar ratapannya. Aku segera mendekat untuk memeluknya. Kami akhirnya menangis sambil berpelukan. Namun pak Zulfikar sama sekali tak menghiraukan kondisi ini. Menyebalkan! Ia malah mengambil kunci cadangan dan pergi begitu saja.


"Maas! Aaarrggh!!" teriak bu Dewi saat pak Zulfikar sudah keluar dari kamar.


"Kak Dewi, maafkan aku. Semua ini gara-gara aku." Kembali menyalahkan diri sendiri.


"Ya, sedari awal kamu memang salah Daini. Sebanyak apapun alibi yang kamu punya. Kamu tetaplah salah. Andai mas Zul malam itu tidak melepas keperjakaannya pada orang yang salah, saat ini, aku pasti akan hidup bahagia. Huuu." Lalu melepas rangkulannya.


"Kak Dewi, a-aku minta ma ---."


"Cukup Neng! Untuk apa kamu minta maaf?!" sela seseorang dari arah pintu kamar. Entah sejak kapan kak Listi berdiri di situ.


"Kak Listi?"


"Listi?"


Aku dan bu Dewi menatapnya. Listi mendekat. Lalu duduk di sofa dan memijat kepalanya.


"Kamu selalu membela Daini. Kapan kamu membelaku, Listi?"


"Aku hanya akan membela kebenaran," sahut kak Listi.


"Kamu!"


"Kak Dewi, tenang ya, jangan berselisih dengan Kak Listi. Percuma saja," cegahku.


"Hahaha."


Di saat mataku dan bu Dewi masih basah karena air mata, kak Listi malah tertawa.


"Maaf ya Bu Dewi, aku masuk ke kamar ini bukan untuk bicara dengan Ibu. Tapi disuruh oleh pak Direktur untuk menemani dan menenangkan Bu Daini."


"Apa?! Mas Zul benar-benar kurang ajar!" rutuk bu Dewi.


'Tok tok tok.'


Suara ketukan pintu. Kak Listi membukanya. Yang mengetuk pintu kamar ternyata asistennya bu Dewi.


"Non Dewi, sudah waktunya pulang," ucapnya. Dia adalah seorang wanita berusia sekitar 40 tahun.


"Kenapa harus pulang sekarang?" protes bu Dewi sambil mengusap airmatanya.


"Bu Silfa sudah menelepon, Non. Katanya, Non Dewi harus pulang sekarang dan jangan menginap di sini."


"Issh, mami! Kenapa 'sih?! Ya sudah, aku pulang ya Daini," ketusnya. Lantas berlalu.


"Silahkan," sahut kak Listi.


.


Setelah bu Dewi pergi, kak Listi langsung membantu membersihkan makeupku. Aku diam saja. Masih kepikiran kenapa pak Zulfikar bersikap seperti itu.


"Tante Lillynya lagi sibuk benah-benah dekorasi," jelas kak Listi.


"Apa Kak Listi tahu kalau pak Zulfikar pernah menginap di kantor?"


"Ya tahu 'lah, Neng. Setiap mau lembur, pak Direktur selalu bilang. Kalau pak Direktur mau nginap, tugasku 'kan nyuruh OB bersih-bersih kamar," jelasnya. Ternyata, pada kak Listi, ia beralasan akan lembur.


"Setahu Kak Listi, minggu kemarin, berapa kali pak Zulfikar menginap di kantor?" selidikku.


"Kayaknya dua kali, Neng. Minggu kemarin, pak Direktur juga pernah menyuruhku pesan kamar hotel. Kupikir untuk siapa ya? Aku enggak berani bertanya langsung sama beliau. Awalnya, aku mengira kamar itu untuk insvestor. Karena penasaran, aku bertanya sama pak Reza, dan ternyata, kata pak Reza, kamar itu untuk pak Direktur. Agak aneh 'kan, Neng? Tapi kamu tenang saja. Pak Reza sudah memastikan kalau pak Direktur menginap di hotel sendirian," jelasnya. Berarti, pak Zulfikar tidak berbohong.


"Kenapa kamu tanya-tanya? Memangnya pak Direktur enggak bilang kalau mau menginap di hotel?"


"Emm, bilang 'kok, Kak. Aku hanya memastikan."


"Oh, begitu."


"Kak."

__ADS_1


"Ya, Neng"


"Emm ...."


Ingin rasanya bertanya sesuatu pada kak Listi. Karena kak Listi adalah kekasihnya pak Sabil, kak Listi mungkin saja mengetahui masalah yang sedang dihadapi oleh pak Zulfikar dari pak Sabil. Tapi, jika aku bertanya, itu artinya, sama saja dengan aku tidak memercayai suamiku.


"Kenapa? Jangan bikin aku penasaran, Neng."


"Tidak ada apa-apa, Kak. Kak Listi, tunggu. Apa ini?!"


Aku terkejut. Ketika kak Listi menunduk dan menoleh saat membantuku membuka tali kebaya, aku tidak sengaja melihat tanda kemerahan di lehernya. Sebagai wanita dewasa, aku tahu dari mana asal tanda tersebut.


"Neng, kamu lihat apa?" Ia menutupinya. Pipinya langsung merona.


"Kak Listi, jujur sama aku." Sambil memegang tangannya.


"Jujur? Jujur untuk masalah apa?"


"Apa pak Sabil yang melakukannya?" tuduhku.


"A-apa? Bu-bukan, Neng. Ini mah alergi gigitan nyamuk," kilahnya.


"Aku bukan anak kecil, Kak. Kak Listi, dengar ya, bersentuhan tangan saja tidak boleh, apa lagi sampai main kecup-kecupan."


"Aku tahu, Neng. Tapi a Abilnya yang suka cari-cari kesempatan. Bukan aku." Berkilah lagi.


"Kak Listi 'kan bisa menolak. Kenapa membiarkannya menyentuh tubuh Kakak? Sadar Kak, Kakak dan pak Sabil belum menikah. Bagaimana kalau sampai Kak Listi dan pak Sabil lepas kendali? Ck, ck, ck. Astaghfirullah."


"Ya, aku salah, Neng. Aku tahu kalau itu adalah dosa. Tapi, aku dan dia hanya sebatas lips kiss and neck kiss sama pelukan 'kok, Neng. Itupun sangat jarang. Tenang saja, mahkotaku masih tersegel rapat. Aku perawan," jelasnya sambil menunduk dan tersipu-sipu.


"Apa?! Kakak bilang 'hanya sebatas?' Ya ampun, Kak. 'Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.' Kakak masih ingat, 'kan?"


"Ya, Neng. Aku ingat. Tapi ... aku lemah iman, Neng. Aku tidak sebaik kamu." Semakin menunduk.


"Kak, aku bicara demikian bukan berarti aku sudah menjadi orang baik. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim yang dianjurkan untuk saling tolong-menolong dan mengingatkan dalam hal kebaikan. Jika Kak Listi menyukai perlakuan pak Sabil, kenapa tidak lekas menerima ajakannya untuk segera menikah?"


"A-aku masih ragu, Neng. Aku belum yakin. Aku takut gagal," jelasnya.


"Begini saja, ini hanya saran ya, Kak. Bagaimana kalau Kakak dan pak Sabil kawin gantung saja?"


"A-apa?! Kawin gantung? 'Kok kayak judul sinetron, 'sih?"


"Aku serius, Kak. Nikah gatung atau kawin gantung adalah istilah dalam pernikahan yang merujuk pada pernikahan seorang pria dengan seorang wanita. Lalu setelah pernikahan tersebut, pasangan tidak tinggal di satu rumah. Nikah gantung biasanya dilakukan ketika pasangan itu masih remaja atau anak-anak yang belum mengerti betul tentang kehidupan berumah tangga," jelasku.


"Aku dan a Abil bukan anak-anak, Neng."


"Kak, istilah nikah gantung juga diberikan kepada pasangan yang sudah menikah namun belum sanggup untuk menjalankan rumah tangga bersama karena belum memiliki kemampuan finansial dan materiil maupun moril yang cukup."


"Finansial a Abil cukup, Neng."


"Makanya, cepat menikah saja, Kak."


"Tapi aku belum yakin, Neng."


"Dalam Islam, sebenarnya tidak ada istilah nikah gantung. Namun, pernikahan yang dilaksanakan dengan istilah nikah gantung tersebut sah hukumnya menurut Islam jika semua syarat dan rukun nikah terpenuhi sesuai dengan ketentuan dan syariat yang berlaku."


"Kesimpulannya, daripada Kak Listi dan pak Sabil menumpuk dosa, lebih baik nikah gantung dulu saja, Kak. Coba Kakak rundingkan ideku ini sama bapak dan ibu. Aku yakin mereka akan setuju. Pak Sabil apa lagi. Aku yakin dia pasti sangat-sangat setuju."


Entahlah ide ini sudah tepat apa belum? Intinya, aku tidak mau sahabatku menumpuk dosa. Setelah nikah gantung sesuai syariat Islam, kalaupun mereka bersentuhan, hukumnya 'kan jadi tidak haram lagi. Aku mengulum senyum. Ide nikah gantung ini adalah alasan untuk menghalalkan kebersamaan kak Listi dan pak Sabil.


Sstt ....


Ide ini sebenarnya bermula dari pak Komjen. Pak Komjen meminta bantuan dariku melalui pak Zulfikar untuk membujuk kak Listi dengan dalih nikah gantung.


Kata pak Zulfikar, pak Komjen bahkan telah membicarakan ide nikah gantung ini dengan bapaknya kak Listi. Kenapa pak Komjen mengajukan ide itu? Sebab, kata pak Zulfikar, pak Komjen sudah tidak tahan lagi dengan rengekan dan kebucinan pak Sabil pada kak Listi.


"Bagaimana? Apa Kakak setuju?"


"Emm, setuju jangan ya?" Masih bingung juga.


"Kakak pilih saja. Apa mau terus-menerus menumpuk dosa? Kak, kalau sudah nikah gantung mah enak, lho. Dalam hal ini, Kakak dan pak Sabil belum sepenuhnya harus menjalankan kewajiban sebagai suami istri. Tapi, saat Kakak dan pak Sabil sewaktu-waktu ingin lips kiss ataupun neck kiss, hukumnya tidak jadi dosa. Seperti itu, Kak? Bagaimana? Mau?"


"Emm ...." Menautkan alisnya.


"Kalau Kakak mau, aku akan memberikan tiket umrah dan tiket wisata keliling Asia Tenggara untuk dua orang. Maksudnya untuk Kakak dan pak Sabil. Setuju?"


"Wah," decaknya. Sepertinya, kak Listi akan menyetujui. Semoga.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2