
Zulfikar Saga Antasena
"Maaf Pak, tapi aku harus mengatakannya. Kalau Bapak tak bisa menangani masalah ini, bagaimana kalau Anda merahasiakan kehamilanku? Lalu katakan saja pada keluarga Anda kalau kita sudah becerai."
"Atau jika sudah terlanjur mengatakan aku hamil, katakan saja jika setelah aku melahirkan, Anda akan menceraikanku."
"Arggh! Kamu tega sekali sayang. Beraninya kamu mengatakan perpisahan lagi!" geramku. Gigiku sampai gemeretak saking kesalnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat Dewi dirawat, aku kesal sendiri. Pesan singkat dari Hanin membuatku meradang. Padahal aku sudah wanti-wanti agar dia jangan berbicara tentang perpisahan lagi.
"Huhh ...."
Berulang kali aku menghembuskan napas untuk menenangkan batinku. Tapi tak berhasil. Batin ini tetap saja tak tenang. Masalah-masalah itu berkumpul di kepala dan dadaku. Rasanya sangat memusingkan dan menyesakkan.
...🍒🍒🍒...
Karena jalanan lenggang. Akupun sampai di rumah sakit dalam waktu cepat.
"Di ruangan apa, Bang?"
Setibanya di parkiran, aku langsung menelepon bang Radit. Tak lupa merapikan dasi dan menyisir rambutku agar tak terlihat kusut.
Saat becermin dan melihat bibirku, bayangan saat mencium bibir Hanin kembali terlintas di kepala. Sampai sekarang, aku tak habis pikir, kenapa bibirnya sangat candu? Bibirnya manis dan lembut. Aromanya wangi.
"Halo? Halo, Pak."
Karena memikirkan Hanin, aku sampai lupa kalau sedang menelepon bang Radit.
"Ya, Bang."
"Bapak sudah ditunggu, langsung ke kamarnya saja."
"Baik. Eh tunggu, nama ruangannya apa, Bang?" Aku lupa lagi karena tak konsentrasi.
"Ya ampun, Pak. 'Kan tadi sudah saya sebutkan. Tenang saja, Pak. Bu Dewi sudah membaik, kok."
Bang Radit mengira kalau aku tak konsentrasi gara-gara memikirkan Dewi.
"Kamarnya di kelas president suite room nomor empat, Pak."
"Oke, terima kasih, Bang. Aku segera ke sana."
...***...
Semakin dekat ke kamar tempat Dewi dirawat, batinku semakin tak menentu. Itu dia ruangannya. Terlihat ada dua orang pria yang berjaga di depan kamar. Mereka sepertinya ajudan pribadi papi mertuaku.
"Pak Zulfikar? Selamat datang, Pak."
Mereka mengenalku. Padahal, akau merasa baru pertama kali melihat wajah mereka.
"Ada siapa saja di dalam?" tanyaku.
"Ada pak Rajasa, bu Cemara, dan pak Aryo," jawab salah satu dari mereka. Pak Rajasa dan bu Cemara adalah nama mertuaku.
"Apa?! Ada paklikku juga?"
"Ya, Pak," jelasnya sambil membukakan pintu untukku.
Akupun masuk dengan perasaan campur aduk. Jujur, ada rasa takut. Aku khawatir Dewi memang sakit sungguhan dan tak dibuat-buat.
"Assalamu'alaikuum," ucapku.
"Wa'alaikumussalaam," jawab mereka serempak.
Seluruh mata langsung tertuju padaku. Pandanganku fokus pada Dewi yang terbaring lemah. Posisinya membelakangiku. Dia tak menjawab salamku. Mungkin sedang tidur.
"Zul."
Paklik mendekat, langsung memelukku dan mengatakan ....
"Sabar, ya," katanya. Aku mengangguk sambil membalas pelukan paklik.
Kemudian menghampiri mertuaku yang sedari tadi menatapku dengan tatapan tak terbaca. Mata mami Mara terlihat sembab. Ia pasti menangis karena terlalu khawatir pada Dewi. Secara, Dewi adalah putri tunggal.
"Mami, Papi, maaf karena aku datang terlambat." Meraih tangan mami. Mami meraih tanganku, tapi tak mengatakan apapun.
"Papi," lanjut menyalami papi.
"Mas, kita harus bicara," kata papi setelah aku menyalaminya.
"Boleh, Pap," jawabku.
"Paklik juga mau bicara serius sama kamu," sahut paklik.
Aku mengerutkan dahi. Pikiranku sudah melanglang buana. Sedang menduga-duga, apa ya kira-kira yang akan mereka bicarakan denganku?
"Cepat temui Dewi, Mas. Dari tadi dia ingin bertemu kamu." Akhirnya mami Mara bicara juga.
Aku mendekati Dewi. Entah kenapa, aku jadi merasa canggung, padahal dia istriku. Mau memegang bahunyapun tangan ini rasanya kaku. Ada perasaan bersalah dalam hatiku karena tak adil memperlakukan Dewi, tapi ... aku seperti ini ya karena sikap Dewi sulit difahami. Sikapnya sering berubah-ubah dan juga kasar.
__ADS_1
"Cinta, ini Mas," kataku pelan.
Aku memegang bahunya, tapi Dewi enggan membalikan badan. Tetap membelakangiku.
"Huks." Malah menangis sambil menepis tanganku.
"Sayang, tadi 'kan kamu mau ketemu Zul," mami Mara mendekat. Duduk di sisi tempat tidur.
"I-itu tadi Mam, sekarang tidak lagi," kata Dewi.
Aku menghela napas. Sudah kuduga kalau Dewi akan menolakku. Tapi aku yakin kalau dia tak akan bisa menolakku lama-lama. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, selesai marah, Dewi selalu mengajak bercinta. Tapi saat ini dia sedang sakit. Ada kemungkinan tidak akan mengajak bercinta.
"Kamu marah? Maaf ya cinta, Mas terlambat karena ada hal penting yang harus diselesaikan," kataku sambil duduk di samping paklik.
"Sepenting apa 'sih?" celetuk paklik.
"Emm, aku sudah izin pada Dewi, Lik. Dewi sudah tahu masalahku. Malah Dewi yang menyuruhku pergi," jawabku.
"Jangan bohong, Mas! Aku tak merasa menyuruh kamu pergi!" sentak Dewi. Aku terkejut mendengar ucapannya.
"Wi, 'kok kamu begitu? Kamu lu ---." Aku spontan berdiri.
"Ssstt, Mas, anak Mami lagi sakit, istri kamu sakit lho, Mas. 'Kok bisa-bisanya Mas meninggalkan dia." Mami menyela ucapanku. Papi sibuk dengan ponselnya.
"Mam, saat aku pergi, Dewi baik-baik saja," jelasku. Lalu duduk kembali.
"Sekarang kamu jadi berubah ya Mas," tambah mami Mara.
"Sudahlah Mam, jangan ribut di sini. Tak elok rasanya kalau kamu adu mulut sama menantu sendiri. Namanya juga rumah tangga, kalau ada selisih faham atau cek-cok, ya wajar," bela papi. Tapi matanya tetap fokus pada ponselnya seolah tak ingin bersitatap denganku.
"Pak Raja benar, ya sudah begini saja, selagi menunggu Dewi tenang, Paklik mau bicara empat mata dulu sama kamu," ajak paklik sambil beranjak.
"Cinta, Mas pergi dulu ya."
Aku kebali menghampiri Dewi. Dewi membalikkan badan, lalu menangkup pipiku. Dia juga bangun sejenak dan berbisik di telingaku.
"Siap-siap ya Mas, mulai hari ini hidup si pelakor itu tak akan tenang lagi. Si Daini sudah mengambil kebahagiaanku, Mas. Sekarang tiba saatnya aku mengambil kebahagiaan dia," bisiknya.
Aku melongo, lalu mengusap dadaku dan beristighfar. Saat ini, tak mungkin juga aku meladeni Dewi.
"Jangan lama-lama perginya, Mas." Sekarang dengan suara lantang.
"Dewi itu anak baik, 'tuh sudah mau baikan lagi sama kamu, Zul," puji paklik.
"Mas, pergi."
Karena kesal Dewi mengancam Hanin lagi, aku cepat-cepat berlalu. Bahkan mendahului langkahnya paklik.
"Lik, bang Radit kemana?" tanyaku.
"Tadi disuruh membeli makanan sama bu Cemara."
"Oh," kataku.
Lalu mengikuti langkah paklik. Entah hendak dibawa kemana dan mau apa, aku malas bertanya.
Aku dan paklik masuk ke dalam lift. Di dalam lift, aku juga malas bicara. Ternyata aku dibawa ke area parkiran.
...***...
"Ayo, masuk ke mobil Paklik!" serunya.
Nada bicara paklik berubah jadi tegas. Aku diam saja, tapi patuh. Masuk ke dalam mobil paklik, dap perasaanku muali tak nyaman.
Saat kami sudah berada di dalam mobil, paklik melonggarkan dasinya. Lalu menyingsingkan lengan bajunya. Kemudian menghela napas sebanyak dua kali.
Tiba-tiba menghadap ke arahku dan mencengkram kerah bajuku.
"Dasar anak tak tahu balas budi!" teriaknya. Tangannya mencengkram erat, mungkin ingin memukulku tapi paklik menahan diri.
"Lakukan sesuka hati Paklik. Pukul saja aku kalau memang itu membuat Paklik senang." Aku santai, tak melawan. Aku menduga kalau mama sudah cerita permasalahanku pada paklik.
"Bisa ya kamu tenang-tenang saja, Zul?! Baru juga rehat papa dan mama kamu dari kasus peceraian Gendis. 'Kok bisa 'sih kamu ikut-ikutan cari masalah?! Masalah kamu bahkan lebih memalukan daripada kasusnya Gendis! Paklik tak habis pikir sama kamu, Zul!" Sambil menghentak dadaku hingga terdepak ke kaca mobil.
"Memangnya mama cerita apa sama Paklik?" Aku membetulkan dasiku yang berantakan.
"Mama kamu sudah tahu? Oh, ya ampun Zul, Paklik bukan tahu dari mama kamu. Tapi dari seseorang yang selama ini jadi mata-mata untuk mengawasi kamu," terangnya.
"Apa?! Jadi bukan mama yang cerita?! Dan Paklik memata-mataiku?!" Aku geleng-geleng kepala. Emosi berangsur naik.
"Paklik awalnya tak mau memata-matai kamu, tapi setelah Dewi memin ---."
Paklik tak jadi bicara, sepertinya ia salah bicara sampai keceplosan. Tapi aku sudah terlanjur mendengarnya.
"Tak perlu ditutup-tutupi, Lik. Aku tahu 'kok kalau aku dimata-matai sama Dewi. Dan aku juga tahu kalau Dewi meminta bantuan Paklik untuk mengawasiku. Aku bukan manusia bodoh, Lik," kataku sambil tersenyum licik.
"Kamu tak sadar dengan kesalahan kamu?!"
Paklik kembali mencengkram kerah bajuku. Aku diam, sedang berpikir untuk mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Apa kamu belum baca berita?!"
"Sudah," jawabku singkat.
"Kamu tak panik?!"
"Biasa saja," jawabku.
"Kurang ajar memang kamu, Zul!"
'PLAK.' Akhirnya paklik menamparku juga. Kuusap pipiku dan tak membalasnya.
"Dengar ya Zul, awalnya Paklik tak percaya kamu selingkuh! Tapi jadi percaya seratus persen setelah membaca berita itu! Paklik juga curiga karena di meja kerja Paklik tiba-tiba ada surat rekomendasi rawat inap, cuti, dan rekomendasi resign milik karyawan akhwat yang ditanda tangan sama kamu! Apa benar kalau wanita akhwat itu selingkuhan kamu?!"
"Bukan selingkuhan. Dia istriku. Namanya Daini Hanindiya Putri Sadikin," tegasku. Kali ini sambil menepis tangan paklik.
"Ck ck ck, kamu cari mati, Zul! Di keluarga kita tak ada yang poligami apa lagi selingkuh! Kamu memalukan, Zul! Apa kamu lupa istri kamu itu anak siapa?!"
"Lik, sedari awal aku memang tak peduli Dewi anak siapa! Aku menikah dengan Dewi murni karena ingin berbakti pada orang tua. Paklik jangan munafik! Bukankah Paklik juga dapat keuntungan dari pernikahanku? Yang protes itu harusnya aku, Lik! Kalian memanfaatkan aku untuk mencari keuntungan!" teriakku. Aku mau keluar dari mobil tapi paklik mengunci pintunya.
"Zul, kamu sudah menandatangani surat perjanjian pranikah! Itu artinya, kamu sudah setuju dengan seluruh poinnya. Kalaupun kamu mau protes, harusnya ya dengan cara yang manisiawi! Bukan dengan cara selingkuh dan menyakiti Dewi, faham?! Kamu menjijikkan, Zul! Paklik malu punya ikatan keluarga sama kamu!"
"Hahaha, harusnya Paklik bertanya padaku kenapa aku sampai memiliki wanita lain selain Dewi! Besok, aku akan menyuruh pak Ikhwan untuk membeberkan faktanya pada Paklik! Oiya, ada satu hal yang harus Paklik garis bawahi. Ingat ini baik-baik, Lik!"
Aku ada ide untuk membuat paklik menyesal karena telah menyalahkanku.
"Selingkuh dan menyakiti hati istri itu tidak dibenarkan, Zul! Kamu tak perlu mengelak! Siap-siap saja perusahaan kita sebentar lagi mungkin akan bangkrut. Papanya Dewi hanya perlu menjentikkan jari agar seluruh anak perusahaan miliknya mengakuisisi perusahaan kita!" katanya. Menggebu-gebu.
"Hahaha, ya aku tahu. Aku ulangi ya, Lik! Tolong diingat baik-baik! Paklik siap?" Aku membuat sedikit lelucon.
"Jangan kurang ajar kamu, Zul! Paklik itu sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Beraninya kamu menatap Paklik sesinis itu!" protesnya.
"Baik, akan aku jelaskan! Begini Lik, aku memiliki wanita lain gara-gara Paklik. Aku poligami gara-gara Paklik! Jadi, kalaupun perusahaan kita bangkrut, maka orang yang harus bertanggung jawab adalah PAK-LIK! Bukan aku!" tegasku.
"APA KATAMU?! Benar-benar tak berakhlak kamu, Zul!"
Tangan paklik sudah melayang di udara untuk meninju bagian wajahku. Tepatnya ke bagian bibirku. Namun kali ini, aku tak tinggal diam. Segera kutangkap tangan paklik, lalu kukekang dan kuputar kedua tangannya hingga paklik tak bisa berkutik.
"Awh awh awh, Zul! Sakit Zul!" keluhnya.
"Apa yang kulakukan ini sebenarnya tak sebanding dengan hal yang dilakukan oleh Paklik terhadapku!" Tanganku mengunci semakin kuat. Paklik meringis.
"Gara-gara akhwat itu, awh, ka-kamu jadi gila, Zul! Paklik belum lihat profilnya, ta-tapi Paklik yakin kalau wanita itu membawa dampak buruk pada kamu!"
"Diam kamu, Lik! Yang membawa dampak buruk itu kamu Aryo Antasena yang terhormat!" teriakku. Aku hilang kendali.
"Gila kamu, ya Zul!" Paklik menatap tajam.
"Yang gila itu kamu, Lik! Kalau Paklik tidak gila, harusnya malam itu Paklik tak mencekok minumanku dengan obat perangsang dosis tinggi!" Teriakanku semakin kuat.
"APA?!" Mata paklik membeliak.
"Gara-gara obat itu, aku mabuk berat sampai tak mengenali Dewi! Gara-gara minuman itu, aku menyerahkan keperjakannku pada gadis lain! Aku meniduri gadis tak berdosa yang sekarang jadi istriku!" tegasku seraya melepas cengkraman tanganku. Paklik mengatur napas, alisnya menyatu. Ia sepertinya sedang berpikir keras.
"Paklik memberi obat itu tujuannya baik, Zul! Paklik tahu kamu dan Dewi mau malam pertama. Kamu jangan beralibi! Tunggu, kenapa bisa kamu sampai salah orang? Maksud Paklik, kenapa kamu tak tidur sama Dewi?"
"Ceritanya panjang, Lik. Kalau Lik mau dengar, aku bisa menjelaskan. Kalau tak mau dengarpun, aku tak masalah. Nanti biar pak Ikhwan saja yang bicara. Cepat buka pintunya, Lik! Aku mau keluar!" pintaku.
"Zul, tunggu." Paklik memegang tanganku.
"Lepas!" sentakku.
"Zul, ayo ceritakan duduk perkaranya. Lik mau mendengar," katanya. Suaranya mulai tenang.
"Yakin mau dengar?" Aku ragu.
"Benar, Lik mau dengar dulu." Dari mimiknya terlihat serius mau mendengarkan.
"Baik, akan aku ceritakan. Setelah aku cerita, ya terserah Paklik. Mau percaya atau tidak pada penjelasanku, itu haknya Paklik. Yang jelas, aku punya bukti kuat untuk menyangkal seluruh tuduhan Paklik."
"Baik, Paklik akan memberi kesempatan untuk kamu bicara."
Sambil menyodorkan air kemasan. Aku mengambilnya, segera kubuka dan kuminum. Paklikpun minum. Ia sepertinya sudah siap mendengar penjelasanku.
Bismillahiromaniraahiim, semoga setelah dijelaskan, paklik ada di pihakku.
"Malam itu ...."
Aku mulai becerita. Paklik menyimak dengan seksama. Dia diam seribu bahasa dan tak menyela ucapanku. Menjelaskan tentang kejadian malam itu membuatku kembali terbayang saat-saat indah itu. Kejadian itu tak kuinginkan, tapi aku rindukan.
Aku bahkan berbicara sambil tersenyum saat ingat bagaimana bunga yang sangat indah itu aku nikmati dalam keadaan setengah mabuk dengan penuh suka cita. Masih lekat di ingatan saat darah sucinya menghangatkan dan mendesirkan sekujur tubuhku.
"Aku tak butuh pembelaan dari Paklik. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku mencintai Hanin dan tak akan melepasnya sampai kapanpun."
Aku menutup penuturanku dengan kalimat itu. Pada paklik, aku tak mengatakan jika aku menemukan kejanggalan pada sikap Dewi. Aku akan mengatakannya setelah mendapatkan bukti kongkrit baik fakta maupun medis. Aku juga tak mengatakan kalau Hanin sudah mengandung.
"Jika Paklik bertanya, apakah aku merasa bersalah? Aku jawab ya. Ya, aku merasa bersalah. Tapi, saat Paklik bertanya, apakah aku menyesali kejadian malam itu? Maka jawabanku adalah tidak."
"Tidak, aku tidak menyesalinya. Kenapa? Sebab akibat kesalahan pada malam itu, aku bisa belajar dan menemukan banyak hal yang sebelumnya tak pernah kupikirkan," pungkasku.
__ADS_1
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk!...