
Benarkah aku akan diperkenalkan? Apa aku bisa membaur dengan mereka? Apa mereka bisa menerimaku? Atau mungkin, mereka justru akan membenciku?
Serius, jantungku langsung berdegup. Keluarga besar pak Zulfikar bukan orang biasa. Ada selebritis, politisi, dan anggota dewan. Ada yang jadi Kepala Daerah juga. Namun, sebagian besarnya adalah pengusaha sukses.
"Aduh, bagaimana ini?"
"Dai, aku mau masuk ke kamar kamu, boleh enggak?" Suara kak Listi dari luar kamar.
"Boleh, Kak. Masuk saja, tak dikunci, 'kok," sahutku. Lalu, kak Listipun masuk. Langsung melihat-lihat kamarku.
"Ya ampun, Neng. Yakin suami kamu betah di kamar ini? Tak ada AC, kasurnya kecil lagi. Nomor berapa ini, Neng?" Bertanya sambil duduk di tempat tidurku. Matanya beredar.
"Nomor dua, Kak. Ukuran 180 × 200 cm."
"Kalau yang di apartemen kamu ukuran berapa? Besar banget soalnya. Jadi penasaran."
"Yang di apartemen, kata pak Zulfikar ukuran 200 x 240, Kak."
"Gila, hahaha, aku jadi membayangkan kamu lagi bercinta sama pak Direktur, Dai. Gimana rasanya melakukan itu sama orang tampan, Neng?"
"Hush, Kak Listi!" Aku spontan memukuli bahu kak Listi dengan guling.
"Dai, serius, hahaha. Aku mau tahu."
"Makanya, cepat suruh kak Akmal untuk menikahi Kakak."
"Hahaha, aku bercanda, Neng. Jangan marah ya. Oiya, yuk kita siap-siap."
"Siap-siap?"
"Ya Neng, barusan pak Direktur telepon aku. Katanya, jam setengah empat, kamu harus sudah ada di rumah pak Aksa."
"A-apa?"
Aku kembali terkejut. Tak percaya kalau pak Zulfikar menelepon kak Listi juga.
"Bu Daini, saya pak Agus."
Suara pak Agus. Ia memanggilku sambil mengetuk pintu.
"Ada apa, Pak? Katakan saja," sahutku.
"Maaf, Bu. Saya hanya menyampaikan pesan. Kata pak Zulfikar, jam setengah empat sore, Ibu harus sudah ada di rumah pak Aksa. Jadi, sekarang harus segera siap-siap," jelasnya.
Ya ampun, dia menelepon semua orang? Aku hampir tak percaya.
"Ya, Pak. Tunggu," jawabku.
"Baik Bu, saya permisi."
Aku menghela. Harus seprotektif itukah dia terhadapku? Apa aku boleh berbangga diri karena merasa sangat dipedulikan?
"Hey, jangan melamun, Neng! Cepat siap-siap!" Kak Listi menepuk bahuku.
"Tapi, Kak. Aku masih ingin di sini."
"Ya ampun, Neng. Jangan membantah napa, Neng? Kalau aku jadi kamu, aku rela 'tuh kalaupun harus di kamar terus."
"Ya sudah 'deh, hayu atuh (yuk mari)," ajakku.
Dengan berat hati, akupun beranjak. Sebelum pergi, aku mengecek tanamanku terlebih dahulu.
Kontrakan ini ada halamannya. Walaupun sangat kecil, tapi lumayan 'lah. Lahan kosongnya membuatku bisa menanam beberapa tatanam dan bunga kesukaanku.
Di bagian terasnya yang berukuran satu meter, aku juga sudah menempatkan beberapa pot bunga. Sebagiannya lagi, terdiri dari tanaman air.
"Bu, kami saja."
Saat hendak menggeser pot, pak Budi dan pak Agus mencegahku.
"Aku sudah biasa, 'kok, Pak."
"Jangan, Bu. Ini amanat pak Zulfikar," kata pak Agus.
"Suami kamu tak ikhlas kalau tangan kamu kotor, Neng," sela kak Listi.
Lagi, aku menghela napas. Ya, aku tak bisa mengelak, dia memang perhatian dan sedikit overprotektif.
"Ya sudah atuh, enggak perlu dibereskan, Pak. Biarkan saja," larangku.
"Baik, mari kita pergi, Bu."
Pak Budi dan pak Agus mempersilahkan aku dan kak Listi untuk berjalan di depan. Sebelum benar-benar pergi, aku berpamitan pada tetangga kontrakan. Aku mulai menjalin komunikasi agar ke depannya, hubungan aku dan mereka bisa lebih baik lagi.
...🍒🍒🍒...
"Neng, aku antar kamu sampai gerbang saja ya. Sungkan aku kalau masuk dulu," ucap kak Listi saat kami sudah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah pak Aksa Antasena.
"Ya, Kak. Tak masalah. Kakak sudah berkenan mengantar saja, aku sudah bahagia."
...🍒🍒🍒...
Alhamdulillah, setibanya di rumah pak Aksa, aku langsung disambut oleh kak Gendis. Kak Gendis seolah tahu jika aku tak begitu nyaman berada di rumah ini.
Sementara kak Listi langsung pulang, dia benar-benar hanya mengantarku sampai depan gerbang.
"Yuk Neng! Langsung ke kamar kamu saja," ajak kak Gendis.
Aku hanya mengangguk. Di rumah ini sudah ramai. Aku tak mengenali satupun orang-orang yang lalu lalang. Sepertinya, mereka adalah para pekerja yang akan mempersiapkan acara penyambutan pulangnya pak Aksa dari rumah sakit.
Saat aku melintas, aku sadar ada beberapa orang yang memperhatikanku. Atau sekadar melirik dan tak memedulikanku lagi. Aku menunduk, berharap tak ada menyadari jika aku adalah madunya bu Dewi.
"Jangan menunduk, santai saja, Neng. Kamu harus percaya diri." Kak Gendis menyemangatiku.
...🍒🍒🍒...
Di kamarku, aku menahan tangan kak Gendis kala ia hendak meninggalkanku.
"Kenapa, Neng? Ada apa?"
"Kak, apa Kakak ada waktu? Aku ingin ngobrol. Sebentar saja, Kak."
"Untuk kamu, apa 'sih yang tak bisa? Cepat, katakan saja, Neng. Ada apa?"
"Kak, begini, kata pak Zulfikar, besok, ia akan memperkenalkanku pada keluarga besarnya. Aku tak yakin bisa membaur, Kak. Aku belum siap. Sangat pesimis kalau keluarga besar Kakak bisa menerimaku."
"Apa?! Zul mau memperkenalkanmu?" Kak Gendis tampak kaget.
"Ya, Kak."
"Ini tidak boleh terjadi, Neng. Aku akan melarang Zul. Besok banyak wartawan, kalau kamu diperkenalkan, kamu akan diburu media. Kamu tahu sendiri 'kan wartawan zaman sekarang seperti apa? Mereka lebih suka mempublish kasus yang terjadi di keluarga orang terkenal daripada mempublish kasus kejahatan atau prestasi. Kadang, berita tak jelaspun diviralkan."
Aku tertunduk, tak tahu harus mengatakan. Ya, pasti akan ada wartawan. Tapi, saat acara itu berlangsung, apa yang harus kulakukan? Apa aku akan tetap di kamar ini dan tak melakukan apapun?
"Tapi Neng, kamu jangan merasa diri tak dianggap ya. Sebenarnya, aku dan mama sudah menyusun rencana untuk memperkenalkan kamu pada keluarga besar kami. Tapi tidak di acara ini. Aku dan mama akan melakukanya secara bertahap di pertemuan keluarga."
"Mama Yuze? Benarkah?"
Aku tak percaya. Sebab selama ini, sempat mengira jika bu Yuze tidak begitu menyukaiku. Ada yang hangat di lubuk hatiku, apa itu? Ternyata, aku bahagia.
"Benar, Neng. Mamaku menyukai kamu, tapi dia membatasi sikapnya karena harus menjaga perasaan Dewi. Mama suka tutur bahasa dan attitude kamu." Ada yang menetes di pipiku.
"Neng, kenapa?"
"K-Kak, aku senang mendengar kabar itu. Bahagia bu Yuze menyukaiku." Aku spontan memeluk kak Gendis.
"Papaku juga menyukai kamu, Neng. Saat sadar dari koma, beberapa jam kemudian, papa langsung menanyakan kabar kamu."
"Huuu, be-benarkah?"
"Ya Neng, dan aku baru tahu kalau rencana mama yang ingin adopsi anak kamu itu ternyata hanya akal-akalan mama saja agar tak terus ditekan oleh Dewi. Mamaku bukan wanita jahat, Neng. Tapi, sikapnya memang kurang ramah. Jangankan kamu, aku dan Zul juga sering dibentak. Dia tak pernah memanjakan aku dan Zul. Saat melakukan kesalahan, aku dan Zul sering tak diberi uang jajan. Nanti, papa akan diam-diam memberi kita uang jajan."
"Mbak Gendis," panggil seseorang dari luar.
"Neng, tunggu ya. Aku permisi dulu. Kamu cepat mandi dan shalat Asar, 'kan sebentar lagi Zul datang."
"Baik, Kak."
Kak Gendis pergi setelah mengusap airmataku.
...🍒🍒🍒...
Aku lantas bersiap. Selepas shalat Asar, aku menunggu pak Zulfikar sembari membaca Al-Qur'an.
Perutku mulai lapar, tapi ... belum ada yang mengajakku makan, dan pak Zulfikarpun belum kembali.
Aku mengelus perutku. Lalu beranjak ke kulkas untuk memakan apapun yang bisa mengganjal perutku. Wah, ternyata banyak sekali yang bisa kumakan. Aku mengambil jus cepat saji dan beberapa biskuit.
"Pelmici (permisi)," tiba-tiba ada suara anak kecil dari balik pintu. Dia juga mengetuk pintu kamarku.
Aku membukanya, dan terkejut dengan mata bulat jeli yang tengah menengadah menatapku. Ada seorang gadis kecil berusia sekitar tiga tahun. Cantik sekali, rambutanya dikuncir dua, kulitnya putih berseri.
"Boleh Cecil ngumpet di cini (sini)? Cecil cedang (sedang) main petak umpet cama (sama) Daddy," katanya. Belum juga aku menjawabnya, dia sudah berlari dan bersembunyi di dalam lemari.
__ADS_1
"Sesilia, Sesil," panggil seseorang saat aku belum sempat menutup pintu.
Aku terkejut karena tak sengaja melihat seorang pria tegap tengah berjalan ke arah kamarku. Kami bersisitap. Aku spontan menunduk. Dia sepertinya adalah ayah dari anak kecil yang baru saja bersembunyi di lemariku. Raut wajah dan warna kulit mereka mirip.
"Emm, ma-maaf, a-apa li-lihat anak kecil? Perempuan, rambutnya dikuncir dua."
Dia malah mendekat, bicaranya gugup. Mungkin kaget karena di rumah ini ada orang asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kakak, jangan bilang-bilang cama (sama) Daddy kalau Cecil belcembunyi (bersembunyi) di cini (sini)," teriak gadis itu.
Aku jadi bingung harus berkata apa. Mau menutup pintu kamarpun tak berani karena takut dianggap kurang sopan. Jadi, aku diam saja.
"Ma-maaf, kamu siapa ya? Apa temannya Gendis? Atau ... manajer barunya pak Aksa? Manajer barunya bu Yuze?" tanyanya.
"Emm, bu-bukan. Maaf, a-aku tak nyaman berbicara dengan Anda."
"A-apa? Tak nyaman? Baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang tak nyaman bicara denganku."
"Maaf, Anda mencari Sesilia, kan? Dia ada di lemari itu. Tapi, aku tak bisa mengizinkan Anda masuk ke kamar ini."
"Apa? Tak bisa? Hey, memangnya kamu siapa?" Dia sepertinya keheranan.
"Daddy, cali (cari) aku, Dad," teriak Sesilia.
"Daddy sudah tahu kamu ada di lemari itu. Cepat keluar sayang, Daddy tak boleh masuk ke kamar ini," katanya.
"Daddy, ayo kemali (kemari). Di cini (sini) adem, cepat temukan aku, Dad," ujarnya.
"Sesil! Cepat keluar! Jangan membantah Daddy!" teriaknya.
Aku terkejut, tak seharusnya anak kecil diteriaki sekeras itu. Aku jadi kesal.
"Pak, maaf ya. Sesil masih kecil, kenapa harus diteriaki? Bicara pelan bisa, 'kan?" protesku dalam keadaan tetap tertunduk.
"K-kamu? Kamu berani sekali membentakku. Sesilia putriku. Aku berhak atas putriku."
"Maaf, aku hanya tak senang pada orang yang tak lembut dengan anak kecil. Maaf jika ucapanku menyinggung Anda."
"Baik, aku memaafkan kamu. Jangan bahas itu dulu. Sekarang, jawab pertanyaanku, siapa nama kamu? Kenapa kamu ada di rumah omku?" tanyanya.
"Aku tak bisa menjawab. Maaf, apa Anda bisa pergi dari kamarku?"
"A-apa?! Hahaha, kamu sangat sombong. Seolah punya otoritas di rumah ini. Tunggu, seingatku, aku tak punya sanak-saudara yang wajahnya sejelek kamu. Penampilan kamu juga, emm ... kampungan," ledeknya.
"Anak Anda biar aku yang jaga!" sentakku. Segera menutup pintu kamar sebelum pria itu mengatakan apapun.
"Hey, kamu benar-benar ya! Buka pintunya!" teriaknya. Tapi aku tak memedulikannya.
Aku menghela napas lega. Pria itu ternyata kerabatnya pak Aksa.
"Daddy?"
Akhirnya, gadis itupun keluar dari persembunyiannya sambil cemberut.
"Hallo, Sesil," sapaku. Aku mendekat, memeluk dan mencium pipinya.
"Daddy mana, Kak? Tadi Cecil mendengal (mendengar) cuala (suara) Daddy."
"Daddy pergi, kamu main sama Kakak, mau?"
"Emm, mau 'deh. Kalena (karena) Kakak cantik," pujinya.
"Terima kasih, kamu juga cantik," kataku.
"Nama Kakak ciapa (siapa)?" tanyanya.
"Kak Daini."
"Apa Kakak caudala (saudara) Cecil?"
Aku mengangguk.
"Aku balu (baru) melihat Kakak."
"Sesil cantik sekali. Mulai hari ini, kita berteman ya," ajakku.
"Ya, Cecil memang cantik kalena (karena) daddyku tampan. Jadi, Cecil cantik cepelti (seperti) mommy," katanya.
"Kenapa tak main sama mommy?"
"Kata Daddy, mommy sudah ada di sulga (surga). Tak bica (bisa) main cama (sama) Cecil lagi."
Innalillahi. Apa maksudnya sudah meninggal dunia?
"Maksudnya?" Aku pura-pura tak faham.
"Kakak doakan semoga Cecil jadi anak sholehah."
"Cecil cebenalnya (sebenarnya) mau punya mommy balu (baru), apa Kakak mau jadi mommy balu Cecil?" Aku terhenyak mendengar pertanyaannya.
"Ma-maaf sayang, Kakak sudah punya suami."
"Cuami (suami) itu apa?"
"Emm, lihat ini," aku mengeratkan gamisku agar perut besarku bisa terlihat.
"Pelut (perut) Kakak kenapa?" Malah bertanya.
"Kakak hamil, Kakak seperti ini karena sudah punya suami. 'Nah, karena Kakak sudah punya suami, Kakak tak boleh punya suami lagi," jelasku. Semoga dia mengerti.
"Cecil tidak mengelti (mengerti)." Akun jadi tersenyum.
"Hmm, ya sudah. Tak apa-apa, sekarang Sesil mau makan apa? Kita lihat ke kulkas yuk! Sesil boleh ambil apapun. Asalkan, makanannya diperbolehkan dikonsumsi oleh anak seusia Sesil."
"Cecil mau es klim (es krim). Tapi, pasti tak boleh cama (sama) daddy. Jadi, Cecil tak mau makan apa-apa. Mau tidul di cini (sini) saja, boleh?"
"Boleh, 'dong." Aku menepuk bantal. Lalu dia merebahkan tubuh mungilnya.
"Kakak peluk Cecil mau? Cecil tak bisa tidul (tidur) tanpa dipeluk."
"Tak masalah, sini Kakak peluk."
Akupun memeluknya, lalu membelai rambutnya. Lantas melantunkan shalawat berulang-ulang, dan gadis kecil inipun terlelap. Eh, aku juga ikut tertidur.
...🍒🍒🍒...
Lalu aku terbangun saat merasakan ada seseorang yang memagut bibirku. Aku tahu bibir ini milik siapa. Aku pasrah saat ia memperdalam pagutan itu. Aku menikmatinya dalam keadaan masih terpejam, lalu merangkul tengkuknya karena mulai terbawa arus.
"Mmmh ...."
"Masa suami pulang tak disambut 'sih? gumamnya.
"Aku maafkan, setidaknya, bibir seksi ini sudah menyambut kedatanganku," tambahnya.
Aku segera membuka mata.
"P-Pak Zulfikar? Kapan datangnya? Tunggu, Sesil mana?" Pura-pura linglung.
"Sudah kuberikan pada Dhimas. 'Kok bisa Sesil masuk ke kamar kita?" Sambil mencubit kencang cuping hidungku.
"Awh, Pak. Sakit."
"Sesil tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar kita, Pak."
"Kamu tidak bertemu sama Dhimas, kan?"
"Apa Dhimas itu daddynya Sesil?"
"Benar, ayahnya Dhimas adiknya papaku. Aku dan Dhimas seumuran."
"Emm, a-aku sebenarnya sempat mengobrol, Pak. Ma-maaf ya."
"Apa?! Ngobrol? 'Kok bisa? Apa dia bertanya sesuatu?! Cepat jelaskan sayang." Nada bicaranya langsung meninggi.
"Pak, tenang dulu." Memegang tangannya.
"Begini ...."
Lantas kumenjelaskan kronologinya. Pak Zulfikar menyimak dengan tatapan tak ramah.
"Sepertinya, aku harus segera menjelaskan hubungan serta status kamu dan aku pada Dhimas," katanya. Seusai kubecerita.
"Apa tak masalah, Pak? Dia bukan orang yang bawel, kan?"
"Sayang, ini bukan masalah bawel atau tidaknya. Dia duda, aku khawatir dia tertarik sama kamu. Pantas saja saat aku menyerahkan Sesil, dia seperti ingin bicara denganku. Aku yakin dia akan menanyakan tentang kamu."
"Cemburu ya?" godaku.
"Cemburu? Tidak! Tidak salah lagi," jawabnya.
Lalu tiba-tiba saja menggigit bibirku. Tidak terlalu kuat 'sih, tapi ... sudah cukup membuatku merintih.
"Itu hukuman karena kamu sudah berani bicara sama pria lain," tegasnya. Aku mengusap bibirku yang terasa kebas.
__ADS_1
"Oiya sayang, aku sudah memesan gaun yang cocok untuk kamu. Besok kita ke butiknya ya."
"Gaun untuk apa, Pak?"
"Untuk acara besok sayang, 'kan mau ada acara syukuran menyambut kepulangan papa. Kamu tak lupa, 'kan?"
"Tidak, Pak. Tapi ...."
Apa aku harus menceritakan ucapan kak Gendis pada pak Zulfikar? Bingung.
"Tapi apa sayang?"
"Tolong Bapak pertimbangkan lagi. Apa yakin mau memperkenalkanku pada keluarga Bapak di acara besok?"
"Yakin," jawabnya mantap.
Aku menghela napas. Kupikir, nanti juga kak Gendis akan berunding lagi dengan pak Zulfikar.
"Oiya sayang, tetap di sini ya. Tadi, mama menyuruhku menemuinya. Mungkin ada hal yang akan dibicarakan. Jangan keluar kamar tanpa aku."
"Baik, jangan lama-lama ya, Pak."
"Aku usahakan tak lama. Lagi pula, di rumah ini tak ada Dewi. Dewi mau ditransfer embrio sayang, jadi harus bed rest."
"Oh, semoga lancar," harapku.
"Ya," sahut pak Zulfikar. Wajahnya langsung murung.
"Ya sudah, aku pergi ya sayang."
...🍒🍒🍒...
Baru juga pak Zulfikar mau berangkat, pintu kamar kembali ada yang mengetuk. Pak Zulfikar segera membukanya.
"Zul?!"
"Dhimas?!"
Keduanya serempak terkejut. Saling menatap dan melongo. Akupun demikian.
"Kenapa kamu ada di kamar wanita itu?! Siapa dia, Zul?!"
"Bukan urusan kamu!"
Pak Zulfikar memaksa menutup pintu. Namun kaki pria bernama Dhimas itu sudah terlebih dahulu menghadang pintu.
"Siapa dia? Kenapa kalian di kamar berduaan?!"
"Ini kamarku, Dhimas! Lagi pula, untuk apa kamu ke mari?!"
"Aku ke sini mau mencari ikat rambut Sesil!" jawabnya sambil menatapku. Aku langsung menunduk.
"Cepat pergi dari kamarku! Jangan membuatku marah, Dhimas!"
"Jelaskan dulu siapa dia, Zul?!"
"Akan kujelaskan! Tapi tidak sekarang!"
"Apa gosip itu benar? Apa jangan-jangan ...." Pria itu menatap tajam pada pak Zulfikar.
Tak kusangka, pak Zulfikar tiba-tiba menariknya ke dalam kamar. Lalu menutup pintu kamar.
"Gosip apa yang kamu dengar, hahh?!" Sambil memegang kerah baju pak Dhimas. Ya, aku panggill dia 'pak Dhimas' saja.
Aku ketakutan. Kenapa mereka harus bicara dengan otot ya? Segera mundur, berdiri di pojokan.
"Jadi benar kamu poligami?"
"Benar!" sentak pak Zulfikar sambil melepas cengkramannya. Pak Dhimas segera merapikan bajunya sembari menghela napas.
"Besok, aku baru akan memperkenalkannya."
"Apa keluarga Dewi sudah tahu?"
"Papi dan maminya sudah."
"Siapa nama istri muda kamu?" Pak Dhimas malah menanyakan namaku.
"Untuk apa kamu tahu?!" ketus pak Zulfikar.
"Zul, dia istri kamu. Otomatis, wanita cantik itu adalah bagian dari keluarga besar kita, ya 'kan?"
"Apa katamu?! Wanita cantik?!" Pak Zulfikar kembali emosi.
"Memangnya kenapa kalau kalau aku memujinya?"
"Tak sopan kamu Dhimas! Cepat pergi!"
"I-ini ikat rambutnya," aku memberikan ikat rambut milik Sesil pada pak Zulfikar.
"Nih," pak Zulfikar memberikannya pada pak Dhimas.
"Jaga baik-baik istri kamu. Ada baiknya, jangan dikenalkan besok. Ada Anggraita, dia wartawan. Aku tidak yakin dia tak akan menjual berita ini."
"Akan kupertimbangkan, cepat pergi!"
"Oiya, Sesil suka sama istri kamu. Hahaha, dia memintaku agar wanita kamu itu jadi mommy barunya."
"Apa?! Jangan bercanda kamu Dhimas!"
"Hahaha, aku serius. Jadi, kalau kamu tak memperlakukannya dengan layak, lebih baik untukku saja. Jangan serakah."
"Jaga ucapan kamu, Dhimas! Sejak kapan kamu tertarik dengan wanita lagi?! Kamu sendiri yang bilang tidak mau menikah lagi!"
"Sejak melihat wajah istri kamu, aku jadi berubah pikiran."
"Dhimas! Kurang ajar!"
'Bugh.'
Secara tiba-tiba, pak Zulfikar meninju pipi pak Dhimas. Aku spontan beteriak.
"Pak, jangan!"
"Kamu pikir aku tak bisa melawan kamu!" Pak Dhimas balik menyerang. Meninju perut pak Zulfikar.
"Pak Dhimas! Jangan! Suamiku baru pulih!"
Saat pak Dhimas hendak menyerang lagi, aku berlari menghalanginya. Hingga tinjuannya tak sengaja mengenai punggung atasku.
'Bugh.'
Sakit sekali, aku terkulai.
"Hanin!" Pak Zulfikar histeris. Dia sigap merangkulku.
"Hanin?! Maaf, Hanin! Aku minta maaf."
Pak Dhimas menyesalinya. Aku meremang, dan memejamkan mata.
"Kurang ajar kamu, Dhimas! Dia sedang hamil!"
"Ha-hamil? Maaf, Zul. Cepat! Kita bawa ke klinik saja!"
"Kita tak seharusnya bertengkar. Kamu yang lebih dahulu menyulut emosiku!" gerutu pak Zulfikar seraya membawaku keluar dari kamar.
"Maaf, Zul. Tapi kamu yang lebih dulu memukulku. Kalau ada apa-apa dengan istri kamu, aku siap tanggung jawab."
Saat kumembuka mata, kulihat Pak Dhimas menyusul dan tampak cemas. Aku sadar, tapi kepalaku pusing dan mual. Efek pukulan di atas punggungpun membuatku ingin muntah.
...🍒🍒🍒...
"Ada apa ini?!" Suara bu Yuze.
Lalu ada suara-suara lain yang tak kukenali. Samar-samar, aku juga mendengar suara Sesilia menangis dan memanggil daddynya.
"Itu siapa?" Suara wanita, entah siapa.
"Daini?!" Suara kak Gendis.
"Kita mau membawanya ke klinik! Semuanya minggir! Awas! Beri jalan!" Teriak pak Dhimas.
"Kenapa bisa jadi begini?!" Bu Yuze.
"Nanti kujelaskan, Ma. Cepat siapkan mobil!"
"Naik mobilku saja, Zul! Cepat! Sesil sayang, Daddy pergi sebentar ya. Mau antar kakak cantik dulu."
"Berhenti memuji istriku Dhimas! Setelah masalah ini selesai, aku akan membuat perhitungan lagi!" teriak pak Zulfikar.
"Apa?! Istri?! Istrinya Zul?!" Suara keterkejutan itu bersatu padu.
Aku yakin keluarga besar pak Zulfikar yang sudah hadir di rumah ini sedang kebingungan. Hal itu membuatku tambah pusing. Saat kuberusaha membuka mata, pandanganku kabur, perlahan menggelap dan aku ....
__ADS_1
Pingsan.
...~Tbc~...