
Aku dan pak Aksa berangkat lebih dahulu karena pak Aksa harus menemui seseorang di bandara. Di dalam mobil ini ada pak Reza sebagai sopir, pak Aksa di samping kemudi, dan aku di kursi tengah. Mobil si mesum ada di belakangku. Mobil yang akan membawa bu Yuze saat aku berangkat masih berada di pekarangan rumah Daini.
Sepanjang perjalanan, pak Aksa banyak bertanya tentang seperti apa awal mula pertemananku dengan Daini, sosok seperti apa Daini sebelum menikah? Prestasi Daini di kantor, sampai dengan bertanya tentang warna kesukaan dan makanan favorit Daini.
Selanjutnya, pak Aksa juga bertanya tentang persepsiku terhadap bu Dewi, sikap bu Dewi selama menjabat sebagai manajer, dan pendapatku mengenai cinta segi tiga antar pak Direktur, Daini dan bu Dewi.
Aku diinterogasi habis-habisan. Pantas saja semalam beliau seperti memaksa mengajakku untuk ikut dengannya. Ternyata, ada udang di balik bakwan. Dan di bagian bu Dewi, aku menjawab dengan tidak sebenarnya. Lalu disengajakan dengan suara terbata-bata. Aku melakukannya agar pak Aksa sadar kalau menantunya yang satu ini agak aneh bin ajaib.
Saat menjelaskan kebaikan Daini, tentu saja aku bicara dengan lancar. Karena faktanya, Daini memang baik dan sholehah.
"Bu Dewi juga emm, ba-baik 'kok, Pak. Bu Dewi dan pak Direktur, emm ... serasi 'kok. Bu Dewi juga emm ... ba-baik sama Daini."
"Kenapa nada bicara kamu seperti ragu?" duga pak Aksa.
"Memang, eh hahaha, maksudku aku tidak ragu 'kok, Pak. Hanya gugup saja karena yang bertanya adalah Bapak. Secara, Bapak 'kan Dewan Pengawas perusahaanku."
"Kamu aneh. Tadi, saat membahas tentang neng Daini, bicara kamu lancar dan lantang." Pak Aksa menatapku melalui spion sambil tersenyum.
"Masasih, Pak?" kilahku.
"Ya, 'kan pak Reza?" Melirik ke pak Reza.
"Sa-saya tidak begitu menyimak. Sa-saya fokus ke jalan, Pak. Maaf," jawab pak Reza, cari aman. Aku yakin dia juga tak berani condong ke satu pihak entah itu Daini ataupun bu Dewi.
"Terus, kalau pendapat Pak Reza bagaimana? Coba beri tanggapan?" Nah lho. Rasakan kamu pak Reza. Hahaha, aku tertawa di dalam hati.
"Emm, menurut saya, dua-duanya juga baik dan cantik. Saya tidak bisa memilih dan menilai salah satunya, Pak." Huh, pak Reza enggak asyik. Kenapa tidak jujur saja kalau Daini banyak lebihnya jika dibandingkan sama bu Dewi.
"Tapi, Pak Reza lebih suka sama bu Daini, kan?" celetukku.
"Benar. Eh, ma-maksud saya suka keduanya." Langsung kikuk. Hahaha, pak Reza teperangkap jebakanku.
"Ya ampun, kalian jujur saja 'sih. Kalian lebih suka sama neng Daini, 'kan?" tuduh pak Aksa. Aku dan pak Reza sepakat terdiam. Padahal, kami tidak janjian dulu.
"Hmm, ya sudahlah. Jujur, saya juga lebih menyukai neng Daini."
"Hahaha."
Aku dan pak Reza spontan tertawa bersama. Dih, padahal kami tidak janjian. Ya ampun, telinga Daini pasti berdenging. Kamu beruntung, Dai. Kamu disukai pak Aksa.
Lalu pak Aksa sibuk memainkan ponselnya. Dari ekspresinya jelas menunjukkan keterkejutan. Duh, ada apa ya kira-kira? Kemudian beliau menelepon seseorang.
"Bil, kamu pindah ke mobi saya ya, kita harus bicara," tegasnya.
Bil? Yang beliau maksud bukan Sabil, 'kan? Ya, pasti bukan. Tapi ---. Saat pak Reza menepikan mobil ke bahu jalan, perasaanku jadi tak enak, namun masih berharap jika dugaanku salah.
"Harus dibahas sekarang Uu, enggak bisa dinanti-nanti."
Hah? Uu? Siapa lagi 'tuh? Ya Tuhan. Misteri apa lagi ini?
"Pokoknya Uu harus pindah ke mobil saya, ditunggu di kilomoter 105," tegasnya dengan nada penuh penekanan, lalu mengakhiri panggilan.
__ADS_1
"Tumben 'tuh anak berani mengulur perintahku," gumam pak Aksa.
"Pak Sabilnya mungkin ada kepentingan pribadi, Pak. Tapi sungkan menolak secara langsung," sahut pak Reza.
Apa?! Jadi benar Bil yang dimaksud pak Aksa adalah Sabil Linglungan. Lalu Uu itu siapa?
Aku mulai gelisah. Bokongku tiba-tiba panas. Rasanya mau turun dari mobil dan naik bus saja. Tapi enggak enak sama pak Aksa. Kapan lagi coba aku bisa satu mobil dengan Dewan Pengawas.
"Saya suka kalau Bapak memanggilnya Uu. Panggilan itu ide dari mana 'sih?" tanya pak Reza.
"Uu itu panggilan kesayangan pak Komjen untuk Sabil sewaktu Sabil masih kecil. Jadi, saya suka ikut-ikutan memanggilnya Uu juga. Saya dan pak Komjen 'kan sohib dari kecil, Pak. Istilah masa kininya saya dan Komjen itu bestie. Uu itu katanya diambil dari kata Sabilulungan. Tadinya mau dipanggil Lulu, tapi Sabilnya marah karena kayak panggilan untuk anak cewek."
Oh, jadi begitu asal-muasalnya. Sip, bahan untuk membullynya bertambah lagi.
"Hahaha."
Pak Aksa dan pak Reza asyik tertawa. Mereka tak sadar telah tertawa di atas penderitaanku. Serius, aku tak mau semobil sama pria itu. Harapanku agar yang dimaksud pak Aksa adalah orang lain, pupuslah sudah.
Fix, Bil dan Uu yang dimaksud pak Aksa adalah pak Sabil. Mau tidak mau, aku harus mencari cara agar tak harus berinteraksi dengan manusia itu. Aku tidak mau ketahuan sama pak Aksa kalau sikapku tidak manis.
Karena di hadapan pak Sablon aku selalu tak bisa mengendalikan diri. Jangan sampai pak Aksa tahu kalau aku agak bar-bar. Biar bagaimanapun, aku harus menunjukkan kesan yang baik di hadapan atasanku.
Pelan namun pasti, aku menguap perlahan. Hanya ide ini yang bisa kulakukan untuk terbebas dari masalah ini. Ya benar, pura-pura tidur.
Kupejamkan mata rapat-rapat saat mobilnya tiba, dan dia turun dari mobil untuk berpindah ke mobil ini. Sial, jantungku berdebar saat menyadari dia masuk dan duduk di sampingku. Aroma parfumnya menyeruak. Helaan napasnya bahkan terdengar begitu jelas.
Tidaaak. Ibuuu, help me!
Tahan, tahan. Kamu harus sabar Listi. Ingat, di hadapan Bos Besar harus jaga image.
"Kenapa kamu dan Zul menyembunyikan masalah ini dari saya?! Pak Reza jalan!"
Kalimat pak Aksa membuatku semakin tak nyaman dan tentu saja merasa semakin tertekan. Sepertinya, mereka akan membahas hal yang sangat serius.
"Maaf, Pak. Aku merahasiakannya dari Anda atas perintah Zulfi. Maksudku, atas perintah pak Zulfikar."
"Apa anak itu sudah merasa keren?!" Mereka sedang membahas apa ya? Aku kepo.
"Maaf Pak. Mungkin pak Zulfikar melakukannya karena ia tidak mau merepotkan Anda. Apa lagi Anda 'kan masih harus kontrol dan belum pulih sepenuhnya," jelas pak Sabil.
Tapi, tidak sambil memegang tanganku juga keles! Dasar Sablon! Dia cari-cari kesempatan dalam kesempitan.
Aaargh!
Aku ingin beteriak. Tapi, lumayan hangat juga 'sih. Sial! Apa yang kupikiran?!
"Kamu dan Zul sama saja! Sama-sama tidak menghargai saya! Kalian pikir saya akan diam saja?! Saya juga sudah tahu dalangnya!"
Ya ampun, ini sangat serius. Aku jadi takut. Semoga tanganku tak sepontan memegang tangan pak Sablon.
"Pak Aksa. Kita harus bekerja cantik. Mereka bukan sembarang orang. Yang dilakukan pak Zulfikar menurut saya sudah tepat. Sebab, jika kita gegabah, taruhannya adalah perusahaan dan ribuan karyawan. Pak Zulfikar memikirkan nasib mereka." Dan tangannya masih menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Ternyata, dia jauh lebih berbahaya daripada Angel," gumam pak Aksa. Entah apa yang dibicarakan. Tapi aku tahu kalau Angel adalah mantannya pak Direktur.
"Ya, Pak. Maka dari itu saya menyarankan pada Zulfi agar menjalankan trik jitu. Pura-pura tidak tahu dan diam. Seperti halnya mereka, kita juga harus melibatkan orang ketiga. Aku dan pak Zulfikar sudah mendapatkan caranya."
"Maksud kamu? Caranya?"
"Ide orang ketiganya dari aku. Namun langkah-langkahnya berasal dari gagasan Zulfi. Zulfi akan melibatkan salah satu media ternama untuk membuat berita besar tentang dalang di balik tabrak lari itu. Lalu, media lain nantinya akan berasumsi. Nah asumsi yang muncul ke publik itulah yang nantinya akan berisi fakta-fakta keterlibatan mereka."
Wah, semakin serius. Seru, 'nih. Namun sayangnya, aku mulai ngantuk sungguhan.
"Andai dia belum hamil," gumam pak Aksa.
"Zulfi juga berpikir ke arah sana, Pak. Biar bagaimanapun, anak itu sama sekali tak ada hubungannya dengan permasalahan ini."
"Dan saya menduga mereka menggunakan kehamilan itu sebagai tameng."
"Aku juga berpikir begitu," sahut pak Sabil.
"Tunggu, apa bu Listi dapat dipercaya? Pak Sabil, Pak Aksa, yang kita bicarakan masalah serius," sela pak Reza sambil menghentikan laju kemudi.
Apa?! Aku jadi merinding.
"Aku jamin dia ada di pihak kita. Dia sahabat baiknya bu Daini. Aku rela jadi jaminannya. Jika dia melakukan hal-hal yang melenceng, aku akan bertanggung jawab dan siap menjadi orang pertama yang akan menghabisinya," tegas pak Sabil.
Aaa, dia lantas mencubit punggung tanganku. Sial! Manusia ini sepertinya tahu kalau aku sedang pura-pura tidur.
Tidaaak.
...⚘️⚘️⚘️...
Iptu Sabil Sabilulungan
Ini adalah ekspresiku saat menerima telepon dari pak Aksa untuk pindah ke mobilnya. Tadi, aku sedang berhenti di rest area. Tadinya mau makan dulu. Aku sebenarnya malas bertemu dia, tapi .... Tapi apa ya?
Dikiranya aku tidak kalau dia pura-pura tidur. Hahaha, maaf tidak semudah itu. Aku lantas mengerjainya dengan cara merebahkan kepalanya agar bersandar di bahuku. Pak Aksa dan pak Reza yang melihat dari spion tampak terkejut.
"Jangan salah sangka, aku polisi. Dalam hal apapun harus mengayomi," jelasku. Serius, aku tak kuasa ingin tertawa.
Auhh.
Aku menggigit bibir sebab dia mencubit kuat lenganku sebagai pembalasan.
"Ya sudah, Pak Reza, yuk jalan lagi," seru pak Aksa.
"Baik, Pak."
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1