Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Membebaskan Diri dari Tipu Muslihat


__ADS_3

Aku berjalan gontai keluar dari ruang kerjaku meninggalkan bang Radit yang terisak seorang diri. Aku kehabisan kata untuk menasihati bang Radit. Perasaanku pada bang Raditpun sulit kuungkap.


Apa aku marah sama wanita itu? Tentu saja. Apa aku kecewa sama bang Radit? Aku tidak tahu. Bang Radit ganteng, wanita itu juga tidak jelek. Pada banyak kesempatan, mereka mungkin saja saling menikmati.


Pantas saja dia tidak pernah mengemis untuk kupuaskan lagi. Ternyata, dia melampiaskannya pada bang Radit. Aku duduk di kursi sambil menatap hampa ke kamarnya. Pak Reza tampak tidur lelap di sofa. Sekeras apapun aku berusaha melawannya, akan sia-sia saja karena wanita itu sudah kehilangan akal sehatnya.


"Pak, maaf ya. Saya ketiduran." Pak Reza terbangun.


"Tidak apa-apa, Pak. Lanjutkan saja tidurnya. Aku mau pulang."


"Pulang? Tidak menunggu dokter dulu?"


"Tidak, Pak. Aku mau pulang saja."


Awalnya, aku mau menceraikan wanita itu. Namun, saat ini aku sedang emosi. Aku tidak ingin bermain-main dengan kata cerai lagi.


"Mau saya antar, Pak?" Pak Reza bersiap.


"Tidak perlu, Pak. Aku mau naik taksi. Bapak temani mama saja. Lalu laporkan padaku hasil pemeriksaannya kalau dokter pribadinya sudah datang." Aku berlalu.


"Bapak tidak izin sama bu Yuze dan bu Dewi dulu?" Pak Reza keheranan.


"Tidak, Pak. Kalau mereka bertanya, katakan saja kalau aku ada urusan mendadak sama klien."


"Baik, Pak."


...⚘️⚘️⚘️...


Di dalam taksi, aku merenung. Harusnya, aku tidak melakukan program bayi tabung dengan wanita itu. Andai di rahimnya tidak ada nyawa yang harus kujaga, aku pasti sudah melepas wanita itu dan menyerahkan dia pada orang tuanya. Namun, perbuatannya pada bang Radit, benar-benar tidak bisa ditolerir lagi.


Tapi, jika aku mengungkap semuanya sekarang-sekarang, apa tindakanku tidak akan membahayakan calon anakku? Wanita itu nekad. Dia pasti berani melakukan apapun demi ambisinya. Aku takut dia mengancam calon anakku. Apa aku harus melanjutkan kesabaranku sampai dia melahirkan?


Tapi, aku tidak bisa. Aku ingin segera membuang wanita itu dari hidupku. Aku ingin hidup bersama Hanin secara utuh tanpa bayang-bayang wanita gila itu lagi. Bismillah, semoga langkahku kali ini adalah jalan yang terbaik. Langsung menelepon pak Ikhwan.


"Ya, Pak." Suara pak Ikhwan terdengar parau. Pastinya baru bangun tidur.


"Tolong Bapak kumpulkan semua bukti yang kita punya tentang kejahatan Dewi dan hasil rekam medisnya dalam satu file."


"Anda mau gugat cerai?" tanyanya.


"Ya, tapi sebelum gugatan itu, aku ingin menyerahkan bukti-bukti tersebut pada keluarganya. Jika mereka bersikukuh membela wanita itu, aku akan mengancam mereka dengan caraku. Maksudku, aku tidak segan menyebarkan aib wanita itu ke publik."


"Baik, tapi bagaimana dengan calon anak Anda?"


"Mereka juga menginginkan anak itu. Jadi, untuk menjaga keselamatannya, aku yakin mereka bisa diandalkan. Namun, tugas penjagaan mereka terhadap calon anakku hanya sampai dia melahirkan saja. Setelahnya, anak itu akan aku ambil alih. Hak asuh anak itu harus jatuh ke tanganku."


"Baik, Pak. Kapan Anda memerlukan file bukti-bukti itu?"


"Secepatnya. Sebab, aku akan menceraikan dia di hadapan keluargnya hari ini," tegasku.


"Siap," sahutnya.


Karena adzan Subuh telah berkumandang, aku meminta pak sopir agar menepi di sebuah masjid.


...⚘️⚘️⚘️...


Tiba di kamar perawatan, aku mendapati Hanin sedang terlelap. Ummi ada di ruangan lain. Sedangkan papa, abah, dan Putra, kata bu Juju belum pulang dari masjid.


"Bayinya sedang dimandikan, Pak," jelas bu Juju.


"Ya sudah, bu Juju keluar dulu ya. Aku mau bersama Hanin. Oiya, pintunya mau aku kunci. Kalau kembar nangis, kabari ya, Bu."


"Baik, Pak. Tadi, sebelum mandi sudah pada mimi dulu, 'kok, Pak."


Bu Juju tersenyum, lantas berlalu. Aku segera mengunci pintu. Biasanya, kalau sedang gelisah seperti ini, aku akan meminta bantuan Hanin untuk menenangkan keadaanku dengan bercinta.


"Hufth."


Aku menghela napas sambil merebahkan tubuh di sampingnya. Lalu memeluk dan menciumi pipinya.


"Pak?" Kasihan sekali. Dia jadi terbangun gara-gara aku.


"Maaf sayang, aku hanya ingin peluk kamu selagi kembar tidak ada. Boleh, 'kan?"


"Boleh. Oiya, bagaimana kondisi bu Dewi? Baik-baik saja, 'kan? Apa tidak perlu dirawat di rumah sakit?"


"Sedang diperiksa. Sepertinya baik-baik saja, 'kok."


"Kenapa Anda buru-buru pulang?"


"Sudah ada pak Reza dan mamaku yang menemaninya. Tolong jangan memaksaku untuk selalu berbuat baik pada wanita itu. Aku muak! Aku membencinya!"


"A-apa?!" Hanin terkejut. Namun ia tidak protes. Malah menepuk dadaku.


"Memaafkan kesalahan seseorang, menurut penelitian dapat mengurangi efek negatif dari amarah dan emosi yang berlebihan. Proses memaafkan dapat menjadi sarana relaksasi yang mengurangi tingkat stres."


"Memaafkan? Hahaha. Kamu tidak tahu seberapa banyak kesalahan dia terhadapku!" Karena kesal, aku membelakangi Hanin.

__ADS_1


"Ketika seseorang yang pernah disayangi dan dicintai benar-benar menyakiti, Anda pasti merasa bahwa kesalahannya sulit dimaafkan atau bahkan tidak mungkin untuk dimaafkan. Tetapi, ada banyak alasan mengapa memaafkan dan melupakan itu lebih baik daripada terus menyimpan dendam yang pada akhirnya menyiksa diri."


Dia bicara sambil memeluk punggungku. Rupanya, bekas luka operasinya sudah tidak sakit lagi.


"Aku tidak pernah mencintai dan menyanginya. Apa yang kulakukan untuknya di masa lalu, hanya semata-mata demi menghormati mama-papaku."


"Pak, kemampuan untuk memaafkan seseorang, terkadang tidak ada hubungannya dengan orang menyakiti kita. Sebab, satu-satunya orang yang mengendalikan pikiran, perasaan, tindakan, serta membuat perubahan adalah diri kita sendiri."


"Kalaupun aku tidak memaafkan dia, itu hakku!"


"Hehehe." Aku marah, Hanin malah terkekeh.


"Kamu puas melihat suamimu kesal?!"


"Untuk memaafkan memang dibutuhkan kekuatan untuk melebur rasa sakit. Jika Bapak mampu memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, artinya Bapak adalah orang yang kuat secara psikologis dan mental," tambahnya. Lalu dengan perlahan tangannya memasuki kemejaku.


"Aku bukan orang yang kuat dari sisi mental dan psikologis!" sangkalku.


"Anda kuat 'kok. Sangkat kuat."


Tangannya semakin menelusup. Ya ampun Hanindiya! Kamu baru saja membangunkan king kobra.


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?" Aku menahan tangannya.


"Sadar," jawabnya.


Malah disengajakan menggangguku. Lalu membisikan sesuatu yang membuat sekujur tubuhku merinding. Ia sepertinya tahu apa yang kuuinginkan. Apa semua pria sepertiku? Jika sedang berhasrat, suka agak emosi dan pusing kepala. Akhirnya berbalik badan dengan cepat. Lantas memagutnya tanpa basa-basi. Kuharap kembar tidak datang mengganggu.


"Apa kamu yakin kembar tidak akan menangis?" tanyaku setelah puas membuat bibirnya memerah dan sedikit membengkak.


"Ti-tidak yakin."


"Harusnya, kamu tidak menggoda tubuhku," sesalku, dan ia malah tersenyum.


"Berdoa saja semoga waktunya cukup," harapnya.


Aku mengangguk seraya menatap wajah cantiknya yang memedarkan rona. Ia selalu punya cara untuk meredam emosiku. Dia pandai memosisikan dirinya. Di hadapan orang lain, ia bak mutiara tersembunyi yang sulit disentuh. Hanya terlihat kemilaunya saja dan tidak bisa diraih.


Namun di hadapanku, ia adalah perhiasanku yang sesungguhnya. Perhiasan indah yang bisa kugunakan kapan saja. Dia selalu membuatku senang. Di matanya, aku bagaikan sesuatu yang sangat berharga. Hanin memperlakukanku laksana seorang raja. Tak heran, jika akupun memperlakukannya bak seorang ratu.


...⚘️⚘️⚘️...


Syukurlah, kembar baru kembali ke kamar perawatan setelah aku mandi. Mereka diantar suster dan didampingi oleh ummi.


"Tumben Bapak mau mandi di rumah sakit," celoteh bu Juju.


"Memang enggak apa-apa, Pak. Ibu hanya heran saja. Oiya, baju kantor Bapak sudah diambil sama Agus, sebentar lagi sampai. Maaf ya, bajunya belum Ibu siapkan. Soalnya, Ibu kira Bapak mau berangkat ke kantor dari apartemen."


"Tidak apa-apa, Bu."


"Oiya, Mas. Setelah preskon, Ummi dan abah mau pulang ya. Enggak bisa lama-lama di sini soalnya Putra banyak kegiatan di Pondok," jelas ummi.


"Baik, Ummi. Nanti, pak Agus atau pak Budi yang mengantar."


"Ummimah di sini saja atuh Ummi. Setidaknya, sampai aqiqahnya kembar," pinta Hanin.


"Neng, di sini sudah banyak yang mengurus kamu. Kalau kembar mau aqiqah, Ummi dan abah insyaaAllah akan ke sini lagi." Umi mendekati Hanin dan memeluknya.


"Ya sayang, tidak apa-apa ya Ummi pulang." Aku khawatir kepergian ummi memengaruhi kondisi kesehatannya.


"Ya," jawabnya singkat.


...⚘️⚘️⚘️...


"Setelah melewati proses panjang selama 12 jam pemantauan dan lebih dari satu jam menunggu kelahirannya, salah satu bayi kembar kami mengalami gawat janin. Jadi, dokter memutuskan untuk melakukan operasi CITO," terangku pada media. Mereka sangat antusias. Suasana di lantai rumah sakit yang aku sewa benar-benar ramai.


Yang menghadiri preskon aku, papa, kak Gendis, Listi, dan pak Ikhwan sebagai tim kuasa hukum. Hanin tidak kuikutsertakan karena khawatir dengan kondisi kesehatannya. Aku telah menyuruh Irma untuk menayangkan beberapa rekaman terkait kelahiran anakku. Namun, aku juga tidak menunjukkan wajah bayiku.


"Namanya siapa, Pak?" tanya salah seorang wartawati.


"Namanya sudah aku siapkan sejak jauh-jauh hari, nanum bukan untuk dipublikasikan saat ini," terangku.


"Pasti cantik dan tampan ya, Pak. Bapak sangat beruntung," puji mereka.


"Alhamdulillah," jawabku.


"Bapak juga akan mendapatkan bayi dari bu Dewi, apa bu Dewi juga akan melahirkan di rumah sakit ini?"


"Aku sedang preskon tentang istriku. Tentang Hanindiya. Mohon tidak menanyakan hal lain," jawabku. Langsung badmood saat salah satu dari mereka menanyakan wanita itu.


"Maaf, Pak." Mereka saling menatap satu sama lain.


"Jika masih ada yang ingin ditanyakan lagi, silahkan bertanya pada juru bicara keluargaku. Pak Ikhwan." Aku menunjuknya sebelum memutuskan untuk undur diri.


"Ya, saya pengacara sekaligus juru bicara keluarga Antasena," pak Ikwan berdiri memperkenalkan diri. Aku berlalu, lalu Listi menyusulku. Preskon masih berlanjut, pak Ikhwan dan kak Gendis menjawab secara bergantian.


"Mohon doanya agar ponakanku menjadi anak yang tumbuh sehat dan sholeh-sholehah," itu yang dikatakan kak Gendis. Aku masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


Aku, pak Sabil, dan pak Ikhwan sedang berjalan mantap menuju tower megah milik papi Surawijaya. Di tower tersebut, akan diadakan pertemuan penting antara aku dan mami Silfa beserta perwakilan keluarga papi Surawijaya yang memiliki kendali lebih atas perusahaan Surawijaya setelah papi meninggal dunia.


Pertemuan ini sudah lama aku impikan. Hari ini, aku akan menguliti kebohongan mereka. Dengan bukti yang kumiliki, mereka tidak akan bisa berkutik. Atau jangan-jangan, keluarga Surawijayapun ada yang belum tahu jika salah satu anggota keluarga kesayangan mereka adalah seorang yang melampaui batas. Selain berkepribadian ganda, wanita itu juga ternyata memiliki kelainan s e k s u a l.


"Apa Pak Sabil bawa pistol untuk jaga-jaga?" tanyaku.


"Bawa, Pak."


"Bagus. Aku merasa cukup dengan keberadaan kalian. Pak Ikhwan si sabuk hitam dan Pak Sabil si penakluk senjata," ocehku sambil memandangi keduanya.


"Pak Zulfkar juga ahli. Ahli melepaskan sabuk," ledek pak Sabil.


"Hahaha," pak Ikhwan tergelak.


"Kalian ini! Selalu tidak menghormatiku sebagai bos," sahutku sambil senyum-senyum karena membayangkan sesuatu.


"Wah, ada yang senyum-senyum, kayaknya tadi pagi ada yang baru saja diservis, hahaha." Mulut pak Ikhwan terkadang memang menyebalkan. Akupun memelototi pak Ikwan sambil menahan tawa.


"Bu Daininya 'kan baru saja melahirkan, Pak. Pastinya belum bisa melakukan servis." Pak Sabil sok tahu.


"Hahaha. Nanti Pak Sabil juga akan tahu sendiri. Servis itu 'kan banyak macam dan jenisnya. Ya, 'kan Pak Direktur?"


"Issh, sudah ah! Kalian ngomong apa 'sih?" Aku pura-pura tidak menanggapi. Padahal, apa yang dilakukan Hanin masih terbayang-bayang di kepalaku.


"Baiklah, saya akan diam." Pak Ikhwan mengulum senyum.


"Semoga tidak sampai terjadi keributan ya. Aku 'kan besok mau menikah," keluh pak Sabil.


"Hahaha." Giliran aku dan pak Ikhwan yang terbahak.


"Tenang, jika terjadi sesuatu, pengawalku tidak akan tinggal diam." Aku menenangkan pak Sabil.


"Ini ujian untuk calon pengantin," timpal pak Ikhwan.


...⚘️⚘️⚘️...


"Silahkan, bu Silfa dan jajarannya sudah menunggu," sambut petugas keamanan.


Kami telah berada di tower yang dimaksud. Petugas tersebut lantas membukakan pintu.


"Mas," mami Silfa menyambutku. Ia memeluk dan mengecup pipiku.


"Mami sehat?" tanyaku.


"Sehat, selamat ya atas kelahiran si kembar, maaf Mami belum sempat jenguk karena sibuk. Tapi, Dewi sudah jenguk, 'kan?"


"Ya, Mi. Sudah."


"Tak biasanya kamu ada perlu sama Mami sampai menemui Mami di tower segala. Kamu juga mengumpulkan paman-pamannya Dewi. Ada apa? Mami agak kaget."


"Nanti akan kami jelaskan semuanya. Silahkan Ibu duduk kembali," ucap pak Sabil.


Ia menengahi setelah aku memberi kode agar segera menangani mami Silfa. Aku yakin mami Silfa mengetahui kelainan yang terjadi pada anaknya. Itu berarti, dia juga terlibat dalam penipuan.


"Terima kasih atas waktunya. Perkenalkan, saya Ikhwan. Saya adalah pengara sekaligus juru bicara keluarga Antasena. Datang ke sini karena itikad baik dari pak Zulfiar. Beliau ingin masalah ini diselesaikan secara baik-baik, tidak melibatkan media, maupun pihak lain yang bisa memperkeruh suasana kecuali polisi. Karena ke depannya, Pak Zulfikar akan melibatkan polisi dalam masalah ini," jelas pak Ikhwan.


Mereka saling berpandangan. Belum apa-apa sudah terlihat kaget. Apa lagi nanti setelah aku perlihatkan kebusukan wanita itu.


"Pak Ikhwan, langsung saja," titahku.


Lalu pak Sabil menyerahkan copy data yang merangkum seluruh kejanggalan pada wanita tersebut. Termasuk data dari mata-mata luar negeri.


"Zul! Maksud kamu, apa?!" Mami langsung emosi. Padahal, data itu belum dibuka.


"Aku ingin melepaskan diri semua kebohongan dan penipuan yang selama ini dilakukan mami dan almarhum papi terhadapku. Dengarkan baik-baik, sebelum data itu dibuka, aku ingin mengatakan sesuatu."


"Zul!" sentak mami. Namun aku tidak peduli.


"Mulai detik ini, aku Zulfikar Saga Antasena, telah mentalak putrimu yang bernama Dewi Laksmi dengan talak tiga," tegasku.


"APA?! Zul! Kamu gila ya?!" teriak mami. Ia memegangi ujung meja. Tangannya gemetar.


"Pak Zulfikar, tolong jangan seperti ini. Mari kita bicara baik-baik," bujuk pak Danang, dia adalah adik kandung mami. Sementara, adik-adik dari papi Surawijaya, belum ada yang berkomentar. Mereka masih menyimak.


"Aku seperti ini justru karena aku baik! Jika tidak, aku mungkin sudah menyebarkan aib ini sedari dulu! Namun aku tidak melakukannya karena selain menghormati keluarga Surawijaya, aku juga memikirkan masa depan calon anakku yang dikandungnya!" tegasku sambil melonggarkan dasi karena emosi yang mulai memuncak.


"Perceraian ini tidak sah, Zul! Kamu melakukannya secara sepihak! Kamu juga dalam keadaan emosi!" sangkal mama.


"Bu Silfa, mohon tenang dulu. Bagaimana kalau kita lihat dulu data yang mereka miliki?" sela adiknya papi. Kalau tidak salah, namanya pak Subhan Surawijaya.


"Baik, mohon disimak," seru pak Ikhwan.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2