Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Milikku!


__ADS_3

"Maaf ya Kak Listi, aku enggak bisa hadir."


Daini dan aku sedang VC. Daini terlihat sedang duduk di sisi tempat tidurnya menghadap si kembar. Ada juga pak Direktur yang sedang berbaring di pangkuan Daini.Ya ampun, pak Direktur selalu saja begitu. Padahal, Daini baru saja melahirkan, tapi beliau manja sama Daini.


"Enggak apa-apa, Neng."


Aku sedang berdadan alakadarnya. Berdandan seorang diri. Karena ini hanyalah pernikahan gantung dan dirahasiakan, aku tidak meminta bantuan siapapun untuk meriasku. Aku memakai kebaya putih pemberian Daini saat aku ulang tahun.


"Sudah shalat Subuh 'kan, Kak?"


"Sudah dong, Neng. Aduh, deg-degan tahu, Neng."


"Hehehe, tenang saja, Kak."


"Aku tadinya mau datang, tapi dilarang sama pak Komjen. Katanya, kalau aku datang khawatir jadi pusat perhatian," sela pak Direktur.


"Ya Pak, tidak apa-apa. Aduh sudah setengah enam. Bagaimana ini?" Aku mulai panik. Mana semalaman enggak bisa tidur lagi.


"Tarik napas dari hidung, lalu hembuskan dari mulut perlahan-lahan," seru Daini.


"Sayang," ibuku datang.


"Sudah dulu ya, Dai. Pak Direktur, aku pamit duku. Mohon doanya." Aku buru-buru mengakhiri panggilan. Bahkan sampai lupa mengucap salam saking paniknya.


"Kamu teleponan sama neng Daini?"


"Iya, Bu. Ibu kenapa ke kamarku?"


"Ibu mau bantu kamu dandan. Lihat Ibu sudah cantik, lho. Masa kamunya belum siap. Bu Killa, kemari!"


Ibu memanggil seseorang ke kamarku, lalu seorang wanita tiba. Entah dari mana ibu mengenalnya. Aku hanya bisa melongo.


"Oh, ini calonnya, pak Iptu? Cantik sekali. Badannya kayak model ya," ungkap wanita itu. Aku segera menoleh pada Ibu sambil mengangkat bahu. Maksudku, bertanya pada ibu tentang bu Killa.


"Bu Killa diutus pak Komjen untuk dandani kamu, sayang."


"A-apa?" Penjelasan ibu membuatku terkejut. Ibuku hanya tersenyum. Sementara bu Killa segera menghampiriku.


"Enggak perlu kaget. Dandannya akan Ibu buat sederhana 'kok. Kamu sudah cantik, tanpa dandanpun jelas-jelas sudah cantik," puji bu Killa. Aku diam saja. Lalu menghela napas dan membiarkan bu Killa meriasku.


"Biasa saja ya, Bu. Jangan berlebihan. Ini 'kan ---." Tidak bisa melanjutkan kalimatku karena bingung. Apa tidak apa-apa kalau bu Killa mengetahui pernikahan gantung ini?


"Kamu tenang saja, Ibu ini masih saudara dekatnya pak Komjen. Pak Komjen sudah menjelaskan semuanya sama Ibu."


"Oh," aku mengangguk lemah. Serius, semakin dag dig dug. Jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 6 lewat 2 menit. Tidaaak! Aku mendengar suara mobil.


"Itu pasti pak Komjen dan A Abil," kata ibu sambil berlalu.


"Huufth ...."

__ADS_1


Berulang kali aku mengatur napas. Tapi tetap saja tidak bisa tenang. Tanganku rasanya berair karena bekeringat. Gugup, malu, dan bingung dengan perasaan ini.


"Lho, 'kok tangannya dingin?" protes bu Killa.


Aku diam saja. Jujur, perasaan ini semakin tidak karuan apa lagi saat mendengar ada sedikit kebisingan di dalam rumahku. Tiba-tiba, ada perasaan takut. Takut bertemu sama pak Sabil.


"Sudah cukup. Silahkan becermin."


Bu Killa menagajakku becermin. Aku ternganga. Riasannya sederhanan, tapi sudah cukup membuatku pangling dengan wajahku sendiri. Bu Killa sibuk memotretku menggunakan kamera bagus yang harganya pasti mahal. Lalu ia meninggalkanku sambil melihat-lihat hasil bidikkannya.


Aku duduk sendirian. Setelah kurenungi, kenapa aku dan pak Sabil harus menikah gantung? Kenapa tidak menikah sungguhan saja?


Kepalaku menggeleng. Hal-hal menyakitkan yang terjadi pada Daini kembali melintas di kepalaku. Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku dan juga mengecewakan keluarga besar pak Komjen. Jadi, langkah yang kulakukan sudah tepat. Dengan pernikan gantung, jika aku merasa tidak nyaman, atau sebaliknya pak Sabil tidak nyaman dengan pernikahan ini, aku dan dia bisa berpisah kapan saja.


"Trial marrieage," gumamku.


Deg, jantungku berdetak kuat. Aliran darahku seolah mengalir lebih cepat dari biasanya. Ya, aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.53 WIB. Lalu .... Bapakku tiba.


"Yuk sayang. Ijab kabulnya akan segera dimulai." Sambil mengulurkan tangan ke arahku.


Aku menatap wajah bapak dan terkejut. Baru kali ini aku melihat mata bapak berkaca-kaca.


"Ba-Bapk ...," lirihku.


"Sayang," bapak merangkulku.


"Pak ...." Aku membalas rangkulannya.


"Ya, Bapak."


"Sekali lagi Bapak mau tanya sama kamu? Apa kamu yakin mau nikah gantung sama a Abil?"


"Pak, aku menyetujui pernikahan ini karena perasaan takutku pada sebuah pernikahan. Aku takut menyakiti a Abil. Aku juga takut tidak bisa menjadi istri dan menantu yang baik. Maka dari itu, aku harus memantapkan diri dulu dengan nikah gantung ini. Maaf jika keputusanku membuat bapak khawatir."


"Bapak tidak khawatir, Nak. Bapak justru senang karena sebentar lagi ... akan ada yang membantu Bapak mengawasi kamu. Kamu anak satu-satunya yang Bapak dan ibu miliki. Begitupun dengan a Abil. Dia anak tunggal harapan keluarga satu-satunya."


"Pak, cepat!" Ibu datang lagi ke kamarku dan terlihat panik.


"Yuk sayang." Ayah menuntunku.


...💘👮‍♂️🧑‍🎤💍...


Iptu Sabil Sabilulungan


Hari ini, aku merasa bak tidak menapaki bumi. Ini adalah hari yang kunantikan. Ini adalah hari terlama yang kutunggu-tunggu. Dua hari telah berlalu dari penantianku menunggu acara ijab kabul ini. Namun, yang kurasakan bukan dua hari, melainkan berbulan-bulan namanya. Aku seperti tersesat di mesin dan terkurung untuk waktu yang lama.


"Aa, lihat. Itu Tia," bisik bunda.


Aku yang sedang menunduk bersila sambil memainkan ujung kemeja langsung merespon. Aku menoleh ke arah bunda menoleh. Begitupun dengan ayah dan pamanku. Mereka menoleh bersamaan ke sana. Tanganku seponta meremat kemeja. Listi cantik sekali. Dia manglingi, dan terlihat seperti boneka hidup.

__ADS_1


"Aa, biasa saja kali lihat Listinya," bunda mencubit bahuku.


"Tunjukkan wibawa kamu," bisik ayah.


"Hehehe."


Pamanku malah terkekeh. Namanya paman Tohir. Namun, aku memanggilnya 'Amang.' Aku segera menunduk. Berusaha bersikap biasa saja. Padahal, rasanya ingin segera mencium Listi. Eh, maaf. Dalam keadaan seserius ini. Pikiranku malah kacau.


Paman Tohir segera membuka acara setelah Listi duduk di tempat yang disediakan untuknya. Listi terus menunduk. Sikapnya berbanding terbalik dari biasanya. Kemudian, pak ustadz yang tadi izin ke kamar mandi sudah kembali. Beliau langsung duduk dan siap menjalankan tugasnya. Aku melirik jam di tangan kananku. Lima menit lagi tepat jam tujuh pagi.


Bismillahirohmanirrohiim.


Listi Anggraeni Mutiara, sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku. Hanya milikku. MILIKKU! TITIK!


...⚘️⚘️⚘️...


Bu Silfa


"Huuu."


Airmataku nyaris habis. Anak itu benar-benar membuatku malu. Ia sudah menguliti kulit wajahku hingga tidak bersisa. Tapi ... dia seperti itu karena ulahku juga. Aku menangis tersedu di pusara suamiku. Rasanya ingin membenamkan tubuhku ke dalam tanah ini. Tapi, aku belum siap menghadap-Nya.


"Bu, waktunya pulang." Asistenku mengajakku pulang. Namun, aku enggan beranjak.


Untuk saat ini, Zulfikar masih diam-diam saja. Kedepannya, apa dia akan tetap menjaga rahasia ini? Apa dia akan menutupi aib putriku demi anak yang dikandung Dewi?


"Huuks." Kembali meratap.


Ternyata, kekayaan yang kumiliki ... tidak bisa kugunakan untuk membeli sedikit saja ramuan kebahagian. Bagiku, kebahagiaan itu sangat sulit dipahami.


"Seseorang yang sulit merasa bahagia bisa jadi karena pernah trauma, punya kecemasan, depresi, dan gangguan kesehatan mental lainnya yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengakses kebahagiaan."


Jadi ingat dengan penjelasan psikiater yang pernah menangani Dewi. Berarti, anakku benar-bebar pernah berada di posisi terpuruk dan aku tidak mengetahuinya. Tapi, siapapun yang selalu membandingkan hidupnya dengan orang lain, pasti tidak akan pernah merasa bahagia.


"Bu."


Aku malah melamun sambil mengelus pusara suamiku saat asistenku kembali memanggilku.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


______


Assalamu'alaikuum.


Apa kabar semuanya? nyai berdoa semoga semuanya selalu berada di dalam rahmat dan hidayah-Nya. Aamiin.


Maaf yang sebesar-besarnya karena nyai tidak bisa mengintai dunia TBR secara maksimal. Sungguh, nyai juga maunya mengintai setiap hari. Tapi, nyai benar-benar lagi sibuk. Ada tiga agenda bersamaan yang harus nyai selesaikan. Dari mulai studi nyai dengan berbagai tugasnya, akreditasi RS, dan program jafung. Yang kerja di rumah sakit pasti faham dan bisa memakluminya.

__ADS_1


Sekali lagi, nyai mohon maaf. 🙏🙏


Wassalamu'alaikuum.


__ADS_2