
Daini Hanindiya Purtri Sadikin
Air mata ini terus mengalir dengan derasnya. Aku tak menyangka kalau bu Dewi berani semena-mena dan nekad seperti itu. Aku sebenarnya bisa saja melawannya, tapi perasaan bersalah itu membuatku lemah dan tak berani melakukan apapun.
Tadi, sebelum aku pingsan, bu Dewi bahkan mengatakan ingin menghancurkan inti tubuhku agar pak Zulfikar tidak bisa menikmati tubuhku lagi. Bu Dewi juga sempat menggigit bagian dadaku. Mengerikan sekali. Tubuhku merinding dan bekeringat saat mengingatnya lagi.
"Sayang, sabar ya, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit."
Pak Zulfikar menguatkanku. Dia memelukku erat. Tapi, dia juga membuatku malu pada kak Listi. Sebab, pak Zulfikar terus menciumi wajahku. Tadi malah sempat-sempatnya memagut bibirku. Dia beralasan sambil berbisik ....
"Agar kamu rileks, sayang."
Semoga kak Listi tak melihatnya.
Apakah rasa sakit ini balasan untukku?
Tapi, maaf Ya Rabb, entah kenapa, aku merasa jika sikap bu Dewi sangat keterlaluan. Sebenarnya, jikapun tubuh ini terluka, aku akan tetap memaafkan bu Dewi. Tapi, aku tak rela kalau sampai bu Dewi menyakiti calon bayiku.
Para kesayangan, tolong bertahanlah. Tetaplah tumbuh dan berkembang sehat hingga aku dan kalian bisa bertemu dan menapak tilas bersama-sama di dunia yang fana ini. Tolong hiduplah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini dan menjadi wasilah amal yang tak akan terputus untukku dan untuk ayahmu.
"Huuu huuu."
Aku terisak-isak. Tak bisa kubayangkan bagaimana terluka dan hancurnya perasaanku jika sampai aku kehilangan calon anakku. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku kembali berdzikir untuk memohon kepada-Nya agar kandunganku diselamatkan. Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh kak Listi berhenti di depan IGD sebuah rumah sakit.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai rumah sakit sayang," kata pak Zulfikar.
"Cepat tolong istriku!" kata pak Zulfikar saat petugas IGD datang.
"Eh, tunggu, aku mau suster yang mendorong berankarnya." Dia tak jadi membawaku turun.
"Petugas porter semuanya laki-laki, Pak," terang petugas tersebut.
"Pak Direktur, ya sudah, biar dipakai lagi saja jilbanya," bujuk kak Listi yang terlihat kesal.
"Tidak, jilbabnya basah!" Pak Zulfikar bersikukuh.
"Pasiennya gawat tidak, Pak?"
Petugaspun nada bicaranya terdengar sedikit meninggi. Aku hanya bisa bersembunyi di balik dada suamiku sambil menahan rasa sakit. Di dalam batinku, akupun meratap memanggil ummi dan abahku.
"Pasiennya sedang hamil muda, ini ada perdarahan!" jelas pak Zulfikar.
"Oh, hamil? Kalau begitu, langsung ke IGD Maternal saja, Pak. Dari sini ke depan lagi sedikit, itu ada tulisan besar di pintunya. Di sana petugasnya bidan semua."
"Baik."
Kak Listi sigap, memajukan posisi mobil sesuai dengan arahan petugas.
Di depan ruang IGD Maternal, aku langsung disambut oleh bidan-bidan.
"Hati-hati!" teriak pak Zulfikar.
"Yang boleh masuk hanya suaminya, yang lain tunggu di luar," jelas bu bidan.
"Neng, sabar ya." Sebelum aku dibawa masuk, kak Listi mencium keningku.
"Listi, kamu cepat ke apartemen! Bawa baju dan perlengkapan Hanin, kode apartemennya tanggal kelahiran Hanin."
"Ta-tapi, Pak. A-aku 'kan kerja." Kak Listi ragu-ragu.
"Listi, aku mengandalkanmu! Aku akan membayarmu mahal untuk melakukan ini. Akan kupastikan juga kalau tugas ini tidak akan merusak karir kamu. Aku jaminannya!" tegas pak Zulfikar sesaat sebelum pintu IGD Maternal tertutup.
"Benar ya Pak. Jangan bohong ya." Suara kak Listi di balik pintu masih terdengar.
"Berbaring ya, Bu. Aduh, ibunya masih muda dan cantik sekali," ujar bu bidan, ramah.
"Aku mau dokter kandungannya perempuan, ada 'kan?" sela pak Zulfikar.
"Kebetulan, dokter kandungan yang jaga hari ini laki-laki, Pak. Kalau dokter jaganya, perempuan," jelasnya.
Sambil tersenyum dan tetap fokus memeriksaku. Mereka membagi tugas. Ada yang membersihkan kakiku, ada yang melakukan pemeriksaan tensi darah, dan sebagian lagi memasang infus dan oksigen.
"Aku mau semuanya perempuan. Tolong, aku ingin mendapat pelayanan yang sesuai dengan keinginanku."
Pak Zulfikar masih bersikukuh. Di sini, kearoganannya muncul ke permukaan. Para bidan bersitatap. Lalu seorang wanita yang memakai snelli datang. Rupanya, beliau adalah dokter jaga.
"Hallo, saya dengan dokter Novi, ada pasien baru ya?" Beliau langsung mengambil formulir follow up khusus dokter.
"Dok, aku suaminya pasien. Mau pelayanan khusus bisa?"
"Pelayanan khusus? Semua pasien kita layani, Pak. Kami tidak membeda-bedakan pasien," jelas dokter Novi.
"Dok, aku tidak bodoh. Pasti ada perbedaan antara pasien kelas 3 dan pasien VVIP. Dari kamar perawatannya saja sudah berbeda, kan? Aku mau seluruh petugas medis yang menangani istriku perempuan," tegasnya.
Ya ampun, aku merasa kesal sendiri atas ulah pak Zulfikar. Tapi, aku malas bicara karena takut akan menambah masalah ini semakin runyam.
"Baik, bidan Laela, cepat panggilkan petugas administrasi ke sini. Biar petugas administrasi saja yang menjelaskan prosedur perawatan di rumah sakit ini. Kita fokus saja melayani pasiennya," terang dokter Novi.
"Baik, Dok," sahut bidan Laela, lalu ia bergegas.
Aku memeluk lengan pak Zulfikar yang duduk di kursi samping bed tindakan saat aku dipasang infus. Karena mungkin aku banyak gerak atau sebab alasan lain. Infusan pertama gagal.
__ADS_1
"Ahh ... sakit Bu," keluhku saat jarum infusan kedua menusuk ke sana ke mari mencari venaku.
"Bu, bisa tidak? Kalian bagaimana 'sih? Itu uratnya terlihat jelas! 'Kok bisa gagal 'sih?" protes pak Zulfikar.
"Walaupun kelihatan jelas, tangan istri Anda halus sekali, Pak. Venanya juga halus dan kecil-kecil. Jadi, kami sedikit kesulitan. Mohon bersabar, mohon maaf dan mohon maklum ya," jelas dokter Novi.
Sementara bidan yang menginfus diam saja. Aku tak bisa melihat ekspresi mereka karena seluruhnya memakai masker medis.
Lalu bidan Laela datang bersama petugas administrasi. Selagi aku masih berusaha untuk diinfus, pak Zulfikar berbincang dengan petugas administrasi dan mengutarakan keinginannya.
Alhamdulillah.
Di percobaan ketiga, aku akhirnya berhasil diinfus setelah menggunakan jarum yang lebih kecil dan diinfus oleh bidan yang lainnya.
"Kalau boleh tahu, Bapak jenis pembayarannya memakai apa ya? Umum, asuransi, apa BJPS Kesehatan?" tanya petugas adimistrasi.
"Sebenarnya istriku punya BPJS kesehatan dari perusahaan. Tapi aku mau pakai umum saja. Bagaimana? Bisa 'kan istriku dapat layanan khusus?"
"Oh, tentu saja bisa Pak. Di rumah sakit ini kebetulan ada layanan khusus. Namanya kelas eksekutif. Silahkan Bapak baca dulu peraturannya, dan kalau sudah faham, silahkan tanda tangan di sini, di sini, dan di sini."
"Aku malas baca, langsung tanda tangan saja."
"Pak, maaf. Ini peraturan, harus tetap dibaca."
"Oh, ya ampun," kata pak Zulfikar.
Aku jadi tersenyum mendengar percakapan pak Zulfikar dan petugas administrasi yang ternyata sangat tegas. Memang harus seperti itu. Sebagai keluarga pasien, pak Zulfikar harus mentaati peraturan yang ada di rumah sakit ini.
"Pasiennya akan didaftarkan ke kelas eksekutif. Boleh langsung di bawa ke ruangan VK esksekutif," jelas petugas administrasi pada bidan sebelum ia beranjak pergi.
"Baik," jawab bidan.
Setelah itu, aku kemudian dipindahkan ke brankar lain untuk dimasukkan ke ruang VK atau kamar bersalin. Pak Zulfikar ikut mendorong blankar.
Saat kami bersitatap, ia melemparkan senyum. Seakan-akan mengatakan padaku kalau aku dan kandunganku akan baik-baik saja.
"Pasiennya akan dilakukan USG di ruang VK eksekutif ya, Pak. Di sana ada dokter kandungan perempuan yang standby," jelas bidan IGD Maternal. Pak Zulfikar mengangguk.
...***...
Setibanya di ruang VK eksekutif, aku langsung dibawa ke ruang USG. Pak Zulfikar semakin cemas. Bibirnya berkomat-kamit. Mungkin sedang berdoa untuk kebaikanku dan kandunganku.
"Tinggal menunggu dokter kandungannya ya Bu, Pak. Saya permisi, tugas selanjutnya akan diambil alih oleh bidan dan dokter ruang VK eksekutif."
"Oke, terima kasih Bu Bidan, maaf kalau tadi aku sempat emosi," kata pak Zulfikar.
"Oh, tidak apa-apa, Pak. Kami mengerti, kok. Bapak bukannya emosi, hanya sedang panik saja karena sangat mengkhawatirkan istri Bapak. Kami pamit." Merekapun berlalu.
Lalu seorang bidan datang dan mengatakan akan melakukan pemeriksaan dalam. Aku panik dan ketakutan, pak Zulfikarpun sama paniknya.
"Harus ya Bu Bidan?" Dengan bodohnya dia mengatakan itu.
"Harus 'lah Pak. Ini prosedur, Ibu tenang saja, rileks dan jangan tegang ya. Tidak akan sakit, kok," jelasnya. Sambil memposisikan kakiku agar menekuk dan terbuka.
"Bu, a-aku malu," kakiku gemetar. Karena selama ini hanya suamiku yang mengetahui rahasia terdalamku.
"Sabar ya sayang, aku juga sebenarnya tak rela kamu tersentuh. Tapi mau bagaimana lagi. Kita 'kan sedang berikhtiar untuk kebaikan anak kita," ujarnya, berbisik.
Sambil memegang tanganku. Tangan pak Zulfikar yang lain sibuk mengelus kepalaku. Walaupun sedih, tapi aku merasa sedikit bahagia sebab dia berada di sisiku. Padahal, aku tahu kalau pria ini memiliki wanita lain selain aku.
"Siap ya Bu," kata bu bidan.
Aku ketakutan, aku memeluk lengan pak Zulfikar saat bu bidan melakukannya.
"A-aah ...," serius, ini menyakitkan sekali. Aku menangis sambil menutup bibirku.
"Pelan-pelan dong, Bu Bidan!"
Pak Zulfikar turut panik. Lalu mengecupi airmataku setelah pemeriksaannya selesai. Aku menghela napas lega saat bu bidan memposisikan kembali posisi kakiku ke posisi semula.
"Sudah selesai kok, Bu. Tadi itu ibunya tegang, ditambah kondisinya memang sangat sempit. Jadi maaf kalau tadi Ibu sempat kesakitan," jelas bidan sambil melepas sarung tangan medis, lalu mencuci tangan.
"Ya Bu Bidan, dia memang sangat sempit," katanya. Entah dia sadar atau tidak. Bisa-bisanya malah mengatakan hal memalukan seperti itu. Aku spontan mencubit bahunya.
"Awh, sayang. Kenapa? Sakit tahu," keluhnya. Pak Zulfikar rupanya tak sadar kalau ucapannya telah mempermalukanku.
"Hahaha, Bapak beruntung, istrinya cantik luar dalam," canda bu bidan sambil terkekeh.
Pak Zulfikar menatapku sambil senyum-senyum dan mengangkat satu alisnya.
"Hasil pemeriksaannya bagaimana Bu Bidan?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Belum ada pembukaan Bu, tapi memang masih ada flek darah. Ini mau saya laporkan hasil pemeriksaannya pada dokter kandungan. Sebentar lagi beliau datang. Jadi untuk hasil lebih pastinya harus menunggu hasil USG dulu dan diagnosa akhir dari dokter kandungan."
Aku dan pak Zulfikar mengangguk.
Setelah itu, bidan lain masuk dan melakukan anamesa secara keseluruhan. Mereka bertanya banyak hal termasuk sejak kapan aku perdarahan dan kapan aku terakhir kalinya haid.
"Aku perdarahan karena terpeleset di kamar mandi, Bu."
"Serius kamu terpeleset sayang?" Pak Zulfikar menautkan alisnya seolah tak percaya.
__ADS_1
"I-iya, Pak."
Selagi aku mampu, aku akan menyembunyikan perbuatan bu Dewi terhadapku. Jika aku jujur, aku takut bu Dewi semakin marah dan hubungannya dengan pak Zulfikar akan semakin memburuk.
Aku melakukan ini karena aku terus merasa bersalah pada bu Dewi. Semoga, apa yang kulakukan, bisa mengurangi kebenciannya terhadapku. Selebihnya, aku menyerahkan semuanya kepada-Nya.
"Aku sempat mengira kalau Dewi menganiaya kamu, sayang," ucap pak Zulfikar saat seluruh bidan pergi dari ruangan ini.
"Tidak Pak," kataku. Tapi ... aku tak bisa menahan deraian air mata.
"Walaupun kamu mengatakan tidak, tapi kamu jangan berpikir kalau aku tidak akan menyelidikinya," katanya. Aku diam saja, pura-pura tak menyimak.
Kemudian pintu ruang USG terbuka. Dokter kandungan dan staf bidan masuk. Aku akan segera diUSG. Mesin USG telah dinyalakan. Akupun sudah disiapkan. Perutku sudah diolesi gell USG. Pak Zulfikar menggenggam erat tanganku.
"Aku deg degan, sayang," bisiknya.
"Ini pertama kalinya aku melihat mesin USG secara langsung," bisiknya lagi.
"Hahh, serius baru pertama kalinya?" Aku tak percaya.
"Pak, lihat, ini janinnya," seru dokter. Pak Zulfikar segera memperhatikan mesin USG.
"I-itu janinnya?!" Ia histeris.
"Ya, Pak. Menurut perkiraan USG, saat ini kandungan Ibu sudah memasuki usia kehamilan 2 bulan atau 8 minggu. Janin di dalam rahimnya, emm ... berukuran sebesar kacang tanah. Panjangnya sekitar 1,6 cm dan beratnya sekitar 1 gram."
"Ja-janinnya sehat kan, Dok?" tanyanya.
"Emm, begini Pak, diagnosa dari saya, istri Bapak mengalami abortus imminens. Abortus imminens itu artinya kondisi yang menggambarkan tanda dan gejala peringatan awal terhadap keguguran."
"Abortus berarti keluarnya fetus secara tiba-tiba sebelum ia dapat bertahan hidup sendiri di luar kandungan. Sementara imminens berasal dari kata *imminen*s yang artinya sebentar lagi atau dalam waktu dekat."
"Gejalanya terkadang disertai nyeri di sekitar perut dan punggung bagian bawah akibat kontraksi rahim, padahal belum terjadi pelebaran leher rahim."
Pak Zulfikar dan aku menyimak.
"Dalam dunia medis, abortus imminens dikenal dengan sebutan threatened miscarriage atau ancaman keguguran. Ini adalah jenis keguguran yang masih bisa diselamatkan, Pak. Namun tetap disebut sebagai ancaman karena keluarnya flek darah pada trimester awal adalah salah satu tanda-tanda keguguran," jelas dokter panjang lebar.
"Jadi intinya bagaimana, Dok? Calon anak kembarku masih bisa diselamatkan atau tidak?!" teriaknya. Rupanya, penjelasan panjang-lebar dari dokter belum bisa membuat pak Zulfikar memahaminya.
"Masih bisa diselamatkan, Pak. Tapi kondisinya sangat rentan, istri Anda harus dipantau ketat dan bedrest total minimal satu bulan. Dalam satu bulan itu, Ibu tak boleh turun dari tempat tidur dan dilarang keras melakukan hubungan intim."
"A-apa?!" Ekspresinya benar-benar terlihat kaget.
"Benar Pak. Setelah melewati fase tirah baring selama satu bulan itu, Ibu harus dicek ulang kondisi rahim dan janinnya. Nanti baru dapat diputuskan apakah rahim dan kandungannya sudah kuat atau belum. Kalau sekiranya belum memungkinkan, maka tirah baring atau bedrest Ibu akan ditambah satu bulan lagi," jelas dokter.
"Ba-baik, a-aku mengerti, Dok," katanya sambil menghelas napas.
Aku dan pak Zulfikar saling berpandangan saat dokter dan bidan pergi. Kata dokter, setelah ini, aku akan dipindahkan ke ruangan rawat inap.
Pak Zulfikar melamun sambil mengelus lembut perutku.
"Kenapa, Pak?" tanyaku.
"Alhamdulillah, walaupun rentan, kandungan kamu masih bisa dipertahankan sayang," lirihnya.
"Aku akan menyediakan perawatan medis terbaik untuk kamu. Tapi ... aku sedikit bingung," keluhnya.
"Apa yang dibingungkan, Pak?"
"Aku tak bisa membayangkan bagaimana stresnya aku kalau sampai sebulan lamanya tak bisa menikmati tubuh kamu, sayang. Apalagi kalau misalnya ditambah sebulan lagi. Seminggu saja aku sudah pusing dan keleyengan sayang," keluhnya.
"Pak, harusnya Anda tak perlu khawatir pada masalah itu. Bukah 'kah masih ada bu Dewi? Anda masih bisa bercinta dengan bu Dewi, ya 'kan?" kataku dengan diiringi debaran dada yang sedikit terasa panas.
"Apa? Sayang, kenapa kamu mengatakan itu?" protesnya.
"Tapi ... apa yang kutakan masuk akal, 'kan?"
"Sayang ...." Dia memelukku. Lalu mengatakan ....
"Hanin ... aku memang tak bisa menjelaskan seperti apa kehidupan ranjangku saat bersama Dewi. Tapi ... kamu harus tahu kalau rasaku terhadapmu tidak hanya tercipta dari nafsu saja. Saat aku bersamu, selain merasakan kenikmatan, aku juga merasakan kebahagiaan sayang," jelasnya.
Aku menatapnya dalam-dalam. Tatapan matanya sendu.
"Sayang, apa kamu pikir kekayaan orang orangtuaku dan apa yang kumiliki sudah cukup membuatku bahagia? Tidak, Hanin. Sampai saat ini, aku merasa belum bahagia dengan kehidupanku. Tapi ... saat aku bersamamu, aku merasa bisa merasakan kebahagiaan itu, sayang."
Aku tak mengatakan apapun. Hanya mampu membelai rambutnya seraya melelehkan air mata.
Lalu ....
"I love you ...," gumamku.
Aku tiba-tiba saja mengatakan itu. Aku bahkan terkejut dengan ucapanku sendiri.
"A-apa? Apa aku tak salah dengar? Tolong ulangi lagi sayang! Cepat sayang! Cepat katakan lagi kalau kamu juga mencintaiku!" desaknya sambil mengguncang bahuku.
"Emm ...." Aku jadi salah tingkah.
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk! Karena banyak yang merasa jika episode sebelumnya kependekan, atas dasar cinta pada reader, nyaipun mengintai TBR lagi, dan up lagi. Maka dari itu, jika berkenan, nyai mau minta like dan komentar sebanyak-banyaknya ya. Oiya, nyai ngantuk, nih. Tidak kok, tidak minta kopi, nyai hanya curhat saja kalau nyai ngantuk berat. Hehehe, terima kasih....
__ADS_1