
"Keadaan umum Bu Daini dalam batas normal. Pembukaannya sudah 4 cm. Kondisi janin dan denyut jantungnya juga baik. Tapi air ketubannya mulai berkurang," jelas dokter kandungan.
Aku sudah berada di ruang eksekutif khusus maternal dan neonatal. Penanganan saat tiba di rumah sakit ini super cepat. Lantai tempat aku dirawat sangat sepi. Jangan bilang kalau pak Zulfikar sudah menyewa satu lantai rumah sakit. Semoga saja tidak.
"Terus, bagaimana baiknya, Dok? Aku tidak tega melihat istriku kesakitan."
Dokter yang menanganiku sangat banyak. Bahkan, ada tim yang khusus melakukan dokumentasi. Sejak keluar dari ambulance, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang membawa kamera dan merekamku. Ia juga sering mengobrol dengan pak Zulfikar. Artinya, wanita muda itu pasti karyawannya pak Zulfikar.
"Baiknya, Bu Daini segera dilakukan operasi caesar. Sebab, selain belum cukup bulan, kehamilan Bu Daini juga kembar. Kehamilan kembar adalah salah satu indikasi dilakukannya tindakan operasi caesar."
"Dok, aku tidak mau dioperasi. Aku mau melahirkan normal. Bisa tidak Dokter mengusahakan agar aku bisa melahirkan normal?"
"Sayang, demi bayi kita, enggak apa-apa ya di-SC saja?" bujuk pak Zulfikar. Tim dokter saling menatap.
"Baik, jika pilihan Ibu seperti itu, kami akan konsultasikan sama Prof Dahlan dulu. Ya, untuk kehamilan kembar dua, memang punya peluang untuk bisa melahirkan normal. Jika lebih dari dua, baru tidak boleh lahir normal."
"Dok, selama masih bisa diusahakan lahir normal, aku mau lahir normal saja. Tapi ... kalau memang tidak memungkinkan, aku juga tidak bisa memaksa," lirihku sambil meringis saat serangan gelombang cinta itu menerjang rahimku.
Subhanallah .... Nikmat sekali.
"Segera ya, Dok. Pokoknya, lakukan yang terbaik untuk istri dan anak-anakku."
Pak Zulfikar begitu gusar. Sedari tadi, ia sibuk mengusap punggungku. Padahal, sudah ada bidan pendamping.
"Baik, mohon untuk menunggu sekitar setengah jam lagi ya, Pak. Prof Dahlan sudah kami hubungi dan berjanji akan ke sini dan melakukan pemeriksaan langsung pada Bu Daini."
"Apa tidak ada profesor perempuan?" tanyanya.
"Mohon maaf, Pak. Untuk saat ini belum ada."
"Ya sudah. Mau bagaimana lagi." Pak Zulfikar terlihat sedikit kecewa. Lalu tim dokter meninggalkan ruangan.
"Bu Bidan, aku mau didampingi sama suamiku saja. Kalau ada apa-apa, nanti aku akan memanggil Bu Bidan," pintaku.
"Baik, Bu." Merekapun berlalu.
Sekarang, di kamar ini hanya ada aku, pak Zulfikar dan kamerawati. Sebenarnya, di ruangan lain yang masih menjadi bagian dari kamarku ada pak Budi, bu Juju dan Ipi yang baru saja datang.
Kata Ipi, mama Yuze dan kak Gendis akan segera datang. Tadi, pak Rezapun menelepon kalau papa Aksa sengaja membatalkan beberapa pertemuan demi segera pulang ke Jakarta dan menemuiku. Lalu info terbaru dari bu Juju, ummi dan abah sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Bahkan Putrapun ikut-serta. MasyaaAllah, hari ini, semua orang sangat mengkhawatirkanku.
"Irma, kamu juga keluar dulu ya. Aku mau berdua sama istriku."
"Oke, Mas," sahutnya. Dia memanggil suamiku 'Mas.' Akrab sekali? Siapa wanita muda itu?
"Irma itu sepupuku, dia masih kuliah. Kalau tidak salah sedang nyusun skripsi. Dia satu-satunya keluarga Antasena yang sekolah di jurusan seni. Dia enggak mau jadi pengusaha, maunya jadi fotografer. Dia mengagumi kamu sayang. Katanya, kamu itu indah."
"Oh sepupu? Hmm ... a-ku kira karyawan Anda."
"Sakit ya sayang? Pegang tanganku." Ia mendekat dan menciumi keningku.
"Ini bukan sakit, ini kenikmatan, Pak."
"Apa aku harus mencium bibirmu supaya rasa sakitnya berkurang?"
"Ti-tidak perlu, Pak. Malu ih, takut ada dokter."
__ADS_1
"Apa kamu yakin mau menunggu Profesor? Jangan dipaksakan sayang. Ternyata, mau lahir normal itu menunggu prosesnya lama ya sayang. Kata dokter kandungan, kamu akan diperiksa pembukaan lagi empat jam kemudian. Ya ampun, boy ... girl ... bantu Mommy ya, jangan menyulitkan Mommy, oke?" Sekarang menciumi perutku.
"A-ahhh ...." Nikmat sekali. Aku merintih.
"Sayang? Sakit ya? Apa tidak ada obat yang bisa menghentikan mulasnya? Aku akan memanggil dokter."
"Pak, jangan," aku memegang tangannya.
"Mulas mau melahirkan itu bukan penyakit, Pak. Justru kalau mau lahiran tapi tidak ada mulas harus dipertanyakan. Kata dokter Rahmi, ada yang sampai diberi obat perangsang agar bisa mulas," jelasku. Jadi terbalik. Aku yang menenangkannya.
"Hahh, obat apa? Obat perangsang?"
"Maksudnya dirangsang agar mulas, Pak. Istilah kebidanannya diinduksi. Ahh .... Hmm ...." Tanganku mengerat pada lengannya. Mulasnya semakin sering.
"Dokter! Bu Bidan!"
Ia malah panik. Langsung menekan bel emergency. Lalu dokter dan bidanpun berdatangan.
"Di mana Profesor Dahlannya?! Kenapa lama sekali?! Istriku kesakitan! Harus segera ditindak!" teriaknya. Arogan sekali. Tapi, aku tidak memiliki banyak energi untuk mencegahnya.
"Prof Dahlan akan segera tiba, Pak. Beliau sudah ada di parkiran rumah sakit," jelas salah satu dokter.
"Baiklah."
Ia menghela napas. Lalu kembali memelukku. Padahal, di sini masih banyak orang. Ya ampun, malu sekali. Aku jadi tersipu. Lalu mereka memutuskan akan memeriksa kemajuan persalinan setelah Profesor Dahlan tiba.
...⚘️⚘️⚘️...
"Alhamdulillah, berdasarkan analisa saya, Bu Daini bisa mencoba lahir normal. Namun, saya akan memberikan batas waktu maksimal sampai dengan 12 jam pasca pemberian obat pematangan paru. Harapannya, dalam tenggang waktu 12 jam itu, pembukaan maju dan plasentanya memiliki kesempatan untuk menyerap obat pematangan paru," jelas Prof Dahlan. Ia sangat bersahaja. Selalu menebar senyum.
"Wah, Bu Daini bersemangat sekali ya. Saya jarang menemukan wanita yang semangatnya seperti Bu Daini. Biasanya, kalau anaknya kembar, pada mau langsung operasi. Untuk kasus bu Daini, maaf ya Bu. Prosedur induksi tidak bisa dilakukan. Alasannya karena kandungan Ibu belum cukup bulan, dan ketubannya mulai berkurang," tuturnya.
"Namun, jika sebelum 12 jam ada perburukan. Misal denyut jantung janin kurang baik, ketuban berubah jadi hijau, atau ada kondisi lain yang beresiko membahayakan ibu atau bayi, maka mau tidak mau harus segera dioperasi," tambahnya.
"Baik, aku setuju," sahut pak Zulfikar.
Setelah pak Zulfikar menandatangani informed consent, Profesor Dahlan, dokter, dan bidan meninggalkan ruangan. Lalu mama Yuze dan kak Gendis tiba.
"Sayang, huuu."
Mama Yuze langsung memelukku dan menangis. Kak Gendis mengelus kakiku. Matanya berkaca-kaca. Irmapun datang dan kembali merekam.
"Neng, wajah kamu merah begitu, ini perutnya keras banget. Lagi mulas ya? Neng, kenapa enggak operasi saja? Aku tidak tega lihatnya," keluh kak Gendis.
"Kak Gendis, ketika seorang wanita merasa sakit karena melahirkan, maka [Allah SWT] akan menetapkan baginya pahala para pejuang yang berjuang di jalan [Allah SWT]," kataku sambil tersenyum.
Sungguh, rasa ini benar-benar menyakitkan, namun ... aku bahagia karena memiliki kesempatan untuk merasakannya.
"Sayang, tangan kamu dingin! Bibir kamu pucat! Zul, cepat panggil dokter!" Sekarang giliran mama Yuze yang panik.
"Ya, Ma."
"Jangan, Pak. Aku baik-baik saja. Lihat angka-angka di monitor itu. Semuanya masih dalam batas normal, 'kan?" Aku mencegah pak Zulfikar.
"Baiklah," pak Zulfikar patuh. Ia kembali duduk dan mengelus punggungku.
__ADS_1
"Ummi ..., abah ...."
Bibir ini spontan memanggil mereka. Mulasnya terus bertambah. Sepertinya, pembukaannyapun sudah bertambah.
"Ada Mama, sayang." Mama Yuze memegang tanganku.
"Ada aku juga, Neng," timpal kak Gendis.
"Sayang, aku bersamamu. Lihat aku, Hanindiya," pak Zulfikar mempererat rangkulannya.
Lalu aku spontan merintih-rintih karena merasa ada mendesak dan itu sangat-sangat sakit. Tidak, ini bukan sakit. Ini nikmat.
"Sayang, itu ada darahnya! Cepat panggil dokter, Ma! Hanin berdarah!"
Pak Zulfikar kembali panik saat ia melihat ketuban yang bercampur dengan darah membasahi kakiku.
"Nabi SAW bersabda pada putrinya, Fatimah RA. Wahai Fatimah, jika wanita mengandung anak di perutnya, maka para malaikat akan memohonkan ampunan baginya, dan [Allah SWT] menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, dan menghapuskan seribu kejelekannya."
"Ketika wanita itu merasa sakit karena melahirkan, maka [Allah SWT] akan menetapkan baginya pahala para pejuang di jalan [Allah]. Jika ia melahirkan bayinya, maka keluarlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya, dan akan keluar dari dunia dengan tidak membawa dosa apapun. Di kuburnya akan ditempatkan di taman-taman surga. [Allah] akan memberinya pahala seribu ibadah haji dan umrah, serta seribu malaikat akan memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat."
Kalimat yang diucapkan guruku kembali terngiang. Kalimat itu membuatku tersenyum dan bersemangat.
...⚘️⚘️⚘️...
Peluhku bercucuran, gelombang cinta datang bertubi-tubi, dan empat jam pertamapun telah berlalu dengan lambatnya. Rasanya, sulit didefinisikan.
Ummi, abah, dan putrapun sudah tiba dari Bandung. Ummi dan mama Yuze mendampingiku, sementara abah, Putra dan yang lainnya ada di ruang tunggu.
Aku memeluk lengan pak Zulfikar saat dokter kandungan memeriksaku.
"Pelan-pelan ya Dok."
Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Subhanallah. Seperti ini ternyata rasanya. Sakit sekali. Sakiiit .... Tes, airmataku menetes.
"Sabarnya geulis (sabar ya cantik)," ummi mengusap airmataku.
"Ummi ... Daini nyuhunkeun dihapunten (Daini minta maaf), huks."
"Ummi teu aya gantar kakaitan, Neng. Kalaupun ada, Ummi sudah memaafkan kamu," bisik ummi.
"Pak Zulfikar ..., Mama ..., aku minta maaf." Aku juga meminta maaf pada mereka.
"Sayang, kamu tidak ada salah. Mama yang minta maaf sama kamu."
"Hanin, sayang, SC saja ya. Kumohon," pintanya. Matanya memerah. Tangis pak Zulfikar memang sudah pecah sedari tadi.
"Bukaannya maju, sudah bukaan 6. Empat jam kedua, akan dicek lagi," terang dokter.
Lalu seorang bidan memeriksa denyut jantung janin, dan yang lainnya memotivasiku agar tetap bersemangat.
"Untuk Pak Zulfikar, biarkan Bu Daini menjalankan pilihannya. Bapak harus tenang ya. Alhamdulillah, denyut jantung janinya masih dalam batas normal. Semoga, empat jam selanjutnya ada kemajuan lagi."
"Aamiin." Menjawab serempak.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...