
"Pak ... ja-jangan terlalu semangat, sa-sakit .... Pe-pelan-pelan sa-saja, a-aku tidak akan kabur," keluhnya. Dia mengingatkanku yang terlalu menggebu-gebu.
"A-apa? O-oke sa-sayang."
Aku jadi malu. Kupelankan geloraku dengan susah-payah. Sungguh, tubuhnya sangat luar biasa. Jadi wajar kalaupun aku tak bisa mengendalikan diri.
"Pak ... su-sudah kubilang, pelankan, please .... Perutku sakit." Hanin mencubit bahuku.
"Mmm, oh ... oh ... ya sayang, ma-maaf, a-aku hilang kendali. A-aku lupa caranya pelan-pelan," sanggahku.
"Lupa? A-aku sedang hamil muda, Pak. Hati-hati, santai saja," keluhnya lagi seraya meringis-ringis dan mengerat kuat pada pinggangku.
"Mmm, ma-maaf sayang ...."
Sepertinya, percakapan selanjutnya tak perlu dideskripsikan lagi. Sebab, ini terlalu manis dan sedikit vulgar.
Aku melakukan penyatuan ini dengan perasaan yang campur-aduk. Antara bahagia, nikmat, dan juga pilu. Berulang kali aku membersihkan airmatanya dengan bibirku. Berulang kali jua aku berbisik di telinganya jika aku dan dia bisa bahagia.
Sungguh, aku nyaris tak bisa membedakan apakah dia sedang m e n d e s a h karena nikmat? Atau justru sedang menangis karena amat terluka.
Kenapa harus ada kisah cinta yang semenyakitkan ini? Kenapa aku dan kamu harus dipertemukan dengan cara seperti itu? Kenapa aku terlambat menemukan kamu, sayang? Hanindiya ....
Aku mengecupi leher dan tubuhnya yang melemas dan dipenuhi peluh. Aku bertumpu pada kedua sikutku agar berat tubuhku tak menindih tubuhnya terutama di bagian perut. Dia menatap wajahku nanar, napasnya masih menderu-deru. Engahannya terdengar begitu seksi. Lalu ia menutup bibirnya karena menguap.
"Ngantuk ya sayang?" bisikku.
"Ya," jawabnya pelan sambil mengangguk. Setengah bola matanya mului menutup. Lalu ia berkata ....
"A-Anda tidak tidur?" tanyanya.
"Kamu duluan saja sayang, aku masih ingin menciumi tubuh kamu," jawabku.
"Hahh? A-apa? Anda berlebihan Pak," protesnya. Lalu matanya mulai terpejam.
"Aku mau melap tubuh kamu, lalu mau kupakaikan baju, kalau kamu tidur dalam keadaan seperti ini, sebentar lagi pasti ada yang vertikal lagi sayang," godaku.
"A-apa?" gumamnya.
Dalam keadaan mata terpejam, ia bangun perlahan, lalu meraba-raba tempat tidur untuk mencari pakaiannya.
"Sayang, kamu tidur saja. Biar aku yang pakaikan, oke?"
Lagipula, pakaiannya tak ada di tempat tidur. Ada nun jauh di sana karena aku melemparkannya. Hanin patuh, dia merebahkan tubuhnya kembali.
"Oiya sayang, terima kasih untuk yang tadi. Maaf kalau aku sedikit meyakiti kamu," kataku sebelum mengambil pakaiannya.
"Sama-sama," jawabnya sembari tersenyum.
"Apa kamu lapar? Mau makan sesuatu?" tanyaku.
Hanin tak menjawab. Matanya telah terutup rapat. Aku membaringkan tubuh di sisinya. Kutatap lagi keindahannya seraya bersyukur karena telah menemukan wanita seistimewa ini. Kemudian beranjak saat aku sadar kalau aku harus memakaikan baju untuknya.
Biasanya, setelah pelepasan, dia langsung membersihkan diri ke kamar mandi.
"Lelah ya sayang? Maaf ya," gumamku saat aku memakaikan baju ke tubuhnya.
Selain tubuhnya yang lelah, batinnya juga pasti merasa lelah.
Aku mengecup keningnya sebelum meninggalkannya untuk mandi. Hari ini, selain jadwal di kantor yang padat, aku juga harus melakukan konsultasi hukum pada pak Ikhwan untuk menghadapi ancaman dari Dewi.
Aku juga bermaksud menyelidiki rekam medis milik Dewi. Aku terpaksa melakukan ini karena merasa jika Dewi sering mengalami perubahan sikap yang drastis. Secara personal, aku memang belum lama mengenalnya. Setelah acara perjodohan itu, tiga bulan kemudian kami langsung menikah.
Seusai mandi, aku naik ke tempat tidur dan kembali memeluknya. Namun baru juga beberapa menit memeluknya, aku mendengar Hanin mengigau.
"Huuu ...." Dia menangis dalam igauannya.
"Sayang ...."
Aku mendekapnya. Saat kutatap wajahnya yang cantik itu, kulihat di sudut matanya ada genangan air mata. Dia benar-benar menangis.
"Ummi .... Abah ...," gumamnya. Hatiku berdesir saat mendengarnya.
"Bukan ... a-aku bukan pelakor," gumamnya lagi bersamaan dengan tetesan airmatanya.
"Ummi ... huuu .... Abah ...."
"Hanin, sayang? Hei, jangan seperti ini. Tolong kuatkan hati kamu, kumohon Hanindiya."
Aku menciumi kelopak matanya. Luka yang tertoreh di dalam kalbunya ternyata begitu mendalam hingga terbawa ke alam bawah sadarnya.
"Hanin," panggilku.
Dan dia baru membuka matanya saat aku mengecup lanjut mengulum bibirnya. Sejenak dia melamun, mungkin teringat kembali akan mimpi dukanya.
"Bapak belum tidur?"
__ADS_1
Malah bertanya demikian sambil tersenyum. Padahal, di pipinya masih ada lelehan air mata.
"Ini baru mau tidur sayang. Aku sudah mandi lho. Apa kamu tidak lihat?" Sambil mengibaskan rambut basahku ala-ala iklan shampo. Hanin memandangku dan seolah terpukau dengan pesonaku.
"Hmm ...." Dia mendekatkan kepalanya untuk menghidu leherku.
"Oiya, wangi," katanya. Lalu beranjak.
"Sayang tunggu." Aku menahan tangannya.
"Kenapa, Pak?"
"Aku tadi melihat kamu mengigau sambil menangis, aku jadi khawatir," terangku.
"Benarkah? Tak perlu dipikirkan Pak, aku baik-baik saja, kok," katanya.
Lalu ia pergi ke kamar mandi. Aku menunggunya. Setelah mandi dan memakai bajunya, Hanin shalat malam. Selesai Hanin shalat, aku juga akhirnya berwudhu dan shalat malam juga.
...***...
"Kamu rutin shalat malam?" tanyaku saat kami kembali ke tempat tidur. Hanin tak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Aku kadang-kadang," terangku, jujur. Dia juga hanya merespon ucapanku dengan senyuman.
"Sayang, rambut kamu masih basah, apa kamu bawa hairdryer? Biar aku keringkan," tawarku.
"Tidak bawa, Pak. Tak apa-apa, nanti juga kering sendiri," ucapnya santai.
"Sayang, kalau hari ini kamu ke kantor dan masih basah 'kan bisa pusing."
"Tidak, Pak. Aku sering kok langsung pakai jilbab saat rambutku masih basah."
"Baiklah, aku menyerah," kataku sambil menarik tubuhnya untuk kudekap. Saat tubuhnya sudah kudekap, tanganku kebiasaan hilang kontrol.
"Pak, ih! Awas, ah!" protesnya sambil menarik tanganku yang menelusup dan begerak pelan di balik bajunya.
"Sayang, tapi tadi itu terasa nyaman, lembut dan hangat," dalihku.
Hanin cemberut, lalu menempatkan guling di antara tubuh kami berdua sebagai pembatas. Aku jadi gemas, kucubit saja pipinya sampai dia mengaduh.
"Pak, sakit tahu!"
"Hahaha, makanya jangan coba-coba menyimpan ini di sini," kataku sambil melempar guling yang ia jadikan pembatas.
"Haish," dengusnya kesal.
"Mau dapat pahala, kan? Patuh ya sayang," godaku.
"Terserah Bapak, lakukan sesuka hati Anda," ketusnya. Padahal, aku tahu dia menggunakan majas ironi untuk menolakku. Tapi, aku memaknainya sebagai sebuah perintah.
"Baiklah, karena kamu sudah bersedia, aku tidak akan mengecewakan kamu sayang."
Tanganku lantas begerak bebas untuk meraih apapun yang kuinginkan. Semakin lama tangan ini kian tak terkendali.
Pada akhirnya, sampailah di keadaan ia harus mencengkram sprei sambil membekap bibirnya sendiri untuk menahan d e s a h a n dan erangan dari terjangan badai rasa luar biasa yang aku suguhkan untuk membuatnya rileks dan sejenak melupakan kesedihannya.
Puncaknya, karena aku tak tahan melihat yang menantang nan menggiurkan itu, akupun kembali memasukinya dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian.
Kami kembali menyatu dan berbagi rasa. Kembali melupakan keresahan, kesedihan dan kegundahan dari problematika itu dengan cara yang teramat melenakan. Seolah kami adalah pasangan yang sangat bahagia. Seolah dunia ini hanya milik kami berdua.
Setelah aku dan Hanin mencapai hal yang sangat dicandui itu secara bersamaan, aku dan dia terbaring lemah. Kami terlentang sambil menerawang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan sulit didefinisikan.
Saat kumelirik pada Hanin, kulihat dari sudut matanya mengalir pelan air mata hingga membasahi telinganya. Segera kugenggam tangannya.
"Sayang, apa kita kabur saja? Bagaimana kalau kita lari saja dari masalah ini? Kalau kamu bersedia, mari kita pergi ke luar negeri dan hidup bahagia di sana. Aku punya tabungan yang bisa aku gunakan untuk menghidupi kita, anak-anak kita dan modal usaha. Apa kamu mau?" tanyaku. Posisiku masih menerawang menatap langit-langit.
"Tidak Pak. Aku tidak mau. Masalah itu untuk dihadapi. Bukan untuk dihindari. Menghindari masalah bukanlah jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Justru malah akan membuat masalah baru yang lebih sulit diselesaikan," terangnya.
"Selama kita masih bernapas, selama kita masih hidup di dunia yang fana ini, aku yakin pasti akan menemukan masalah-masalah hidup, dan setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing yang berbeda-beda," tambahnya.
Aku diam, aku menyimak dan terus menggenggam tangannya.
"Terkadang, kita mungkin merasa jika masalah kita adalah yang paling berat. Namun saat kita memperhatikan sekeliling, kita akan sadar kalau di sekeliling kita ada yang memiliki masalah jauh lebih berat daripada masalah kita."
"Contoh, di saat kita harus bekerja siang dan malam demi mencukupi kebutuhan keluarga, ternyata ... di luar sana ada yang justru tidak memiliki keluarga. Di saat kita meratap karena tidak bisa makan apapun hari ini, ternyata ... di luar sana ada yang bahkan sudah tidak bisa makan selama berhari-hari."
"Di saat kita merasa hina dengan rumah yang kecil dan kumuh, namun ternyata ... di luar sana ada begitu banyak orang yang bahkan tidak memiliki rumah sama sekali."
"Hanin ...," lirihku.
"Pak, bukannya aku sok tegar, tapi aku selalu yakin bahwa setiap masalah yang menimpa tidak akan melebihi batas kemampuan kita untuk menghadapi masalah tersebut. Allah menimpakan masalah, karena Allah Maha Tahu jika hamba-Nya itu mampu menghadapinya."
"Aku juga yakin akan selalu ada hikmah dari masalah itu saat kita menghadapinya dengan sabar dan ikhlas. Ya, aku pribadi sering merasa jika masalahku sangat berat dan tak sanggup menghadapinya. Akupun pernah berpikir untuk menyerah dan lari untuk menghindarinya, Pak."
"Huks, aku sering berharap masalah tersebut akan hilang begitu saja tanpa kuhadapi. Namun setelah kupikir-pikir, saat kita lari darinya, masalah justru akan semakin mengejar kita, bahkan menjadi bertambah besar."
__ADS_1
"Sayang ...."
Aku menarik bahunya agar bisa memeluknya. Dia masih lanjut mengutarakan opininya. Dengan begini, aku jadi tahu tentang Hanin. Maksudnya, tidak sebatas tahu kalau wanita ini sangat seksi dan tubuhnya membuatku candu, tapi ... tahu lebih dari itu. Aku jadi tahu sejauh apa seorang Hanindiya dalam menyikapi sebuah masalah.
"Terkadang hal yang menakutkan ternyata hanya ada dalam kekhawatiran kita saja. Padahal, ketika dihadapi belum tentu seperti yang kita khawatirkan," lanjutnya.
"Di saat kita memberanikan diri untuk mencoba melawan semua ketakutan yang ada, mungkin kita baru akan menyadari bahwa ternyata selama ini ... ketakutan kita lebih besar dari masalah yang kita hadapi."
"Sayang, aku baru tahu kalau kamu bisa sebijak dan sedewasa ini." Aku mendekapnya kian erat.
"A-aku akan menghadapinya, Pak. Aku tidak akan lari. Sebab terkadang, bukan masalah kita yang terlalu besar, namun ketakutan kitalah yang membuat masalah tersebut terlihat sangat rumit."
"Ya sayang, mari kita hadapi masalah ini bersama-sama. Maka dari itu, jangan pernah berpikir untuk lari dariku, Hanindiya."
"I-iya Pak. Aku percaya ... semakin sulit masalah yang dihadapi, maka akan semakin besar pula hikmah yang akan didapatkan. Setiap ada masalah, pasti ada solusinya. Setiap ada kesulitan, pasti ada jalan keluarnya."
"Sayang ...." Aku mengecup ujung bibirnya.
"Sayang ... ayo pejamkan matamu, tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan," ajakku.
Hanin patuh, aku menghidu aroma dari bibirnya saat dia menghembuskan napas. Terasa wangi mentimun. Aroma ini berasal dari obat kumurnya.
"Baiklah, mulai sekarang, mari kita lawan segala ketakutan dari seluruh permasalahan kita itu bersama-sama. Saat aku dan kamu saling menguatkan, aku percaya kalau kita berdua akan kuat dan mampu menghadapinya."
"Ya, Pak," katanya sambil membalas dekapanku.
"Yakinlah kalau kita tidak sendirian, sayang. Allah Yang Maha Penyayang pasti akan selalu membantu hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa kepada-Nya," kataku.
"Huuu, huks ...." Hanin terisak, tersedu-sedu.
"Lalu ... suatu hari, entah itu cepat atau lambat, entah itu sangat sulit atau terlalu mudah, seperti katamu ... kita pasti akan melihat betapa indahnya hikmah di balik masalah kita ini. Semangat ya sayang, dan kamu juga harus menyemangatiku."
"I-ya Pak."
Dia menengadahkan kepalanya, menatapku. Bibir merah delimanya gemetar karena menahan isakan. Kita bertemu pandang dalam diam dan getaran rasa yang bergejolak.
Lalu, perlahan namun pasti, bibir kita kembali bertemu dan menyatu. Aku menyesapnya lembut, mengulumnya, dan memperdalamnya hingga Hanin mengerang-erang sambil meremas pelan otot perutku.
Kemudian memukuli dadaku saat tanganku kembali hilang kontrol.
"Ja-jangan lakukan lagi Pak ... please. Kumohon ...," pintanya.
"Ti-tidak akan sayang, a-aku janji."
"Ma-maaf ya Pak ... selain tak baik untuk kesehatan janin kita, a-aku juga merasa masih sakit dan sedikit perih. A-aku bahkan merasa jika milik Anda masih menempel dan bersarang di tubuhku," katanya.
Pipinya merona. Dia pasti merasa malu saat mengatakan kalimat itu.
"A-apa?! Kamu merasa seperti itu?" Ya ampun, sayang."
Mendengar ucapannya, akupun jadi malu sendiri. Aku malu karena ketahuan sangat menggilai tubuhnya. Hanin dan aku mengulum senyum seraya saling menatap. Dan kami terkejut saat ponselku menyala.
Aku segera mengambilnya. Anda panggilan dari bang Radit.
"Ya, halo. Ada apa, Bang?"
"Pak, cepat pulang, Pak. Bapak di mana?" Suara bang Radit terdengar panik dan ketakutan.
"Bang, ada apa?! Ada masalah apa?! Jangan membuatku panik!" teriakku.
Aku menyelipkan ponsel di antara bahu dan telinga sebab tanganku tengah sibuk memakai kembali celana panjang dan kemejaku. Hanin menatapku dan terlihat kebingungan.
"Saya belum bisa menjelaskannya. Pokoknya Anda cepat pulang ya, Pak."
Panggilan terputus.
"A-ada apa, Pak?" tanya Hanin.
"Aku harus pulang secepatnya sayang," kataku sambil bersiap. Memakai dasi dan kaus kaki dengan terburu-buru.
"Ti-tidak mandi dulu?" tanyanya.
"Nanti di rumah saja," jawabku. Memakai sabuk dan meraih tasku.
Hanin sepertinya akan bangun dan membantuku, namun ia tiba-tiba meringis dan terbaring kembali.
"Hati-hati ya, Pak," lirihnya.
"Ya, sayang."
Setelah mengecup tangannya, kening, pipi, dan bibirnya, akupun bergegas. Namun di ambang pintu, aku membalikan badan dan mendekat lagi untuk mencium perutnya. Hanin membelai rambutku saat aku menciumi perutnya.
"Aku pergi sayang, assalamu'alaikuum."
"Ya, Pak. Wa'alaikumussalaam," jawabnya seraya melambaikan tangan dan mengusap lelehan air mata di sudut matanya.
__ADS_1
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk! Kira-kira, ada apa ya? Aduh, jadi semakin penasaran dan kepo dengan kisah cinta mereka....