Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Ancaman Misterius


__ADS_3

Aku ada rapat sampai sore." Fikar bersiap.


"Apa yang harus kusiapkan, Pak?" Listipun bersiap.


"Tugas kamu hari ini menemani Pak Sabil. Tak perlu mendampingiku."


"A-apa? Tapi Pak."


Aku menutup bibirku. Sedang menyembunyikan senyuman yang otomatis tersungging begitu saja. Fikar benar-benar pengertian. Dia sepertinya sudah menduga sejak jauh-jauh hari kalau aku terpikat sama Listi.


"Aku pergi ya. Kalau kalian lapar, di pantry banyak makanan. Ambil saja."


Lalu Fikar pergi sambil mengedipkan mata ke arahku tanpa diketahi oleh Listi. Aku membulatkan jari dengan menyatukan telunjuk dan jempol yang berarti oke.


"Pak Direktur, aku ikut saja ya."


Listi hendak menyusul. Terlambat. Tangan Listi sudah terlanjur aku tarik. Fikar pergi sambil terkekeh.


'Bruk.'


Listi jatuh tepat di pangkuanku. Oh, tidak! Aku langsung mematung dan membisu. Namun tak melepas genggaman tanganku.


"Pak Sabil! Lepas!" Listi bangun dan menginjak kuat kakiku.


"Aww!" pekikku.


Serius, ini sakit sakit. Tapi aku tak berani bangun karena ada hal lain yang harus kusembunyikan dari pandangan Listi.


"Aku serius akan melaporkan Anda Pak Sablon!" ancamnya. Kata-kata 'sablon' keluar lagi. Tak masalah. Lagi pula, aku sudah rindu dipanggil 'Sablon.'


"Silahkan, apa kamu perlu barang bukti? Di dalam mobilku ada kameranya. Jadi, apa yang kulakukan kemarin sudah terekam. Di vidio itu, jelas sekali ada jeda yang lumayan lama sebelum kamu menggigit bibirku."


"Apa?! Maksudnya?!"


"Hahaha. Maksudku, kamu terlambat menggigit bibirku, Tia. Artinya, sebelum kamu menggigitku, kamu juga menikmati aktivitas itu. Ya, 'kan?"


"Apa?! Jangan mengada-ada ya, Pak Sablon!"


"Kamu juga awalnya diam saja, 'tuh. Malah memejamkan," ledekku.


"Apa?! Aku diam saja karena Anda mencekal tanganku! Paham?!" sanggahnya.


"Harusnya, kalau kamu tidak suka, saat bibirku menempel, kamu langsung menggigitku. Sudahlah Tia, kamu juga sebenarnya suka 'kan sama aku?"


Sambil mengibaskan rambut dan menyisir rambutku dengan jemari layaknya model iklan shampo. Intinya, aku sedang menunjukkan pesonaku.


"Pak Sabil! Aku tak langsung menggigit Anda karena saat itu aku panik! Enak saja menuduhku menikmati! Lagi pula, cara Anda terasa kaku! Sangat-sangat tidak berpengalaman!" ledeknya.


"Apa kamu bilang?! Memangnya si Akmal bisa apa?! Sehebat apa dia di matamu?!"


Aku bangkit dari dudukku. Ucapan Listi membuatku cemburu. Apakah Listi dan dia sering melakukan itu? Ataukah ...?


Pikiranku jadi ke mana-mana. Membayangkannya saja sudah cukup membuat emosiku meluap. Aku mendekat, Listi mundur. Aku kembali mencekal tangannya hingga ia meringis.


"Pak Sabil! Anda mau apa?! Lepas! Sakit, tahu!"


"Apa saja yang sudah kamu lakukan dengan laki-laki itu, hahh?!" Sungguh, aku tidak bisa menahan gejolak perasaan ini.


"Pak Sabil! Ahh, sa-sakit, Pak! Apa urusannya Anda tanya-tanya tentang itu?! Kita bukan siapa-siapa! Aku dan Anda tidak ada ikatan apapun!" Sambil memalingkan wajah.


"Tia, jawab jujur! Kamu yang memulai emosiku! Memangnya seperti apa cara dia menciummu, hahh?!" Aku memaksanya agar menoleh ke arahku. Aku mencengkram dagunya hingga memerah.


"A-Anda gila ya! Le-lepas!"


"Tidak akan kulepaskan sebelum kamu jujur!" Sekarang, aku nyaris menghimpit tubuhnya. Ya ampun, ada apa denganku?


"Apa pedulimu?! Anda terlalu ikut campur urusanku! Jangan mentang-mentang Anda berkuasa ya!" teriaknya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Cepat jawab pertanyaanku Listi Anggraeni! Apa kamu sering bermesum ria dengan dia?!" Dada ini rasanya panas. Cemburu itu seolah membakar sekujur tubuhku.


"Kalau ya memangnya kenapa?! Itu urusan pribadiku! Dan itu masa laluku?!"


"Apa katamu?! Seperti apa dia menciummu?!"

__ADS_1


Aku menengadahkan dagunya hingga sangat dekat dengan bibirku. Napasnya yang menderu menghangatkan wajahku. Dan ternyata, dia jauh lebih cantik saat aku melihatanya dari jarak yang sedekat ini.


"Pak Sabil! Lepas!"


"Jawab!" desakku. Sambil mendekatkan diri.


"Ahh! A-Anda gila! Lepas!"


"Ya aku memang gila! Dan Aku gila gara-gara kamu! Apa si Akmal menciummu dengan cara seperti ini." Aku merapatkan tubuhku, benar-benar menghimpitnya. Tolong JANGAN DITIRU! Apa yang kulakukan sangat tidak terpuji.


"Pak Sabil! Jang ---."


Aku mengulumnya dengan tergesa-gesa, sedikit kasar, dan bergairah. Emosi dan cemburu membuatku jadi bajingan.


"Mmh ...."


Dia memukulku dan menolak. Tapi aku tak peduli. Dia juga berusaha menggigitku lagi, tapi kali ini, aku sangat mahir dalam hal menghindar dan melakukan serangan balik yang membuatnya sulit bernapas hingga terbatuk-batuk. Aku tahu dia menangis, tapi ... aku tidak bisa menghentikannya. Rasa ini membuatku semakin menyukainya.


Aku baru berhenti saat telepon pararel di ruangan ini berbunyi. Telepon itu kubiarkan terus bedering seraya mengusap airmatanya. Lalu mengusap bibirnya yang memerah dan agak bengkak akibat ulahku.


"Aku membencimu Sabil Sabilulungan! Aku akan melaporkan kamu! Akan kupastikan kamu dipenjara karena telah melecehkanku! Lihat CCTV di sana! Itu barang bukti!" tandasnya. Ia menatap tajam dengan air mata yang tak henti berurai.


"Kalau saja kamu menjawab pertanyaanku, mungkin ... aku tidak akan melakukannya." Sembari merapikan anak rambutnya.


"Jangan pernah datang ke rumahku! Apa lagi sampai membawa ayah dan bunda Anda! Aku tidak sudi!" Ia berbalik badan dan mengabaikanku.


"Listi tunggu, apa kamu sangat membenciku?!"


"Kalau ya?!" sentaknya.


"Apa kamu masih mencintai pria itu?"


"Kalau ya memangnya kenapa?!" teriaknya.


"Apa kamu pernah tidur sama dia?" Kalimat itu terucap begitu saja.


"A-apa?!"


"Kalau aku mengatakan pernah, apa kamu akan tetap mencintaiku?! Atau justru akan berhenti mengejarku karena merasa jijik?!" Matanya memerah. Tangannya gemetar. Dia sangat marah.


"Ti-Tia, ma-maksudku ---."


"Kalaupun aku mengatakan masih suci, apa kamu akan percaya?! Anda sudah melukai perasaanku, Pak Sabil! Anda tak pantas jadi perwira!" selanya.


"Tia, tenang. Ma-maaf, aku minta. Aku cemburu, Tia."


"Cemburu?! Hei, Anda siapanya aku?! Dengar ya, Pak! Bertahan untuk tetap berteman dengan Daini saja sudah cukup membuatku digunjing dan difitnah! Lalu apa jadinya kalau aku dekat dengan Anda?! Aku pasti akan dituding sebagai wanita matre yang menumpang tenar dengan cara memanfaatkan sahabatnya sendiri!" tegasnya.


"Ja-jadi, apa itu alasan kamu tidak mau menerimaku?"


"Terserah Anda mau menganggapnya sebagai apa! Intinya, Anda sudah menyinggungku, melecehkan, menyudutkan, dan mendikteku! Permisi!"


Dia benar-benar pergi. Aku tak berani mencegahnya karena merasa bersalah. Aku menyesal telah menanyakan hal sensitif itu kepadanya. Harusnya, jika aku tulus mencintainya, aku tidak boleh menoleh pada masa lalunya.


...⚘️⚘️⚘️...


"Bagaimana? Berhasil membujuknya?"


Satu jam kemudian, Fikar datang. Ia agak kaget karena aku masih berada di ruangannya.


"Aku sedang sakit. Jadi, hari ini tidak ada jadwal jaga. Oiya, aku ambil kopi dari pantry."


"Sakit? Hahaha, 'kok kelihatannya baik-baik saja?" Sambil menepuk bahuku.


"Listi malah izin pulang lebih dulu. Kenapa itu anak ya? Tak biasanya kayak begitu."


"Itu pasti karena aku, Pak?"


"Karena Pak Sabil? Lha, 'kok bisa?"


Setelah mengumpulkan keberanian, aku akhirnya menceritakannya. Fikar langsung memukul bahuku berulang-ulang.


"Aku tak bisa kasih saran lagi. Pak Sabil sendiri yang cari masalah. Sangat enggak etis menanyakan hal itu pada Listi. Apa lagi status kalian masih sebatas teman biasa. Terlebih, Listi itu anak baik, Pak. Aku tahu banyak tentang dia dari Hanin."

__ADS_1


"Aku menyesal, Pak."


"Aku juga pernah tak sengaja mendengar dia menanyakan tentang malam pertama pada Hanin. Artinya, dia memang tidak tahu dan sepertinya masih suci. Listi anak rumahan, Pak. Walaupun dia tomboy dan pacaran lama sama Akmal, tapi bukan berarti mereka sudah tidur bersama, dan tak seharusnya juga Pak Sabil membahas masalah itu."


"Aku mengaku salah, Pak. Mohon sarannya lagi dari senior."


"Saranku, cepatlah minta maaf sampai dia benar-benar memaafkan. Jangan menyerah, Pak. Oiya, aku juga minta polisi penggantinya Pak Sabil. Aku maunya polisi yang bukan dari jalur perwira dan bukan polisi dari divisi Propam."


"Maksud Bapak?" Aku keheranan.


"Ada banyak masalah yang terjadi antara aku dan keluarganya Dewi. Sedangkan keluarga Dewi maupun keluargaku, sama-sama memiliki kerabat dekat yang menjabat sebagai petinggi negara khususnya penjabat di kepolisian. Saat ini, citra polisi khususnya Propam sedang viral gara-gara kasus itu. Pak Sabil pasti lebih tahu dari aku."


"Aku mengerti. Apa kinerjaku kurang baik?" tanyaku.


"Tolong Pak Sabil jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin melibatkan Anda ke dalam pusaran masalah dan kasusku lagi."


"Pak Zulfikar, aku memang Propam, tapi aku tidak ada hubungannya dengan kasus itu. Hubunganku dengan pimpinanpun baik-baik saja. Kurasa, sejauh ini tidak ada masalah."


"Ya, memang tidak ada masalah. Penilaianku, Pak Sabil sangat baik dan berdedikasi. Masalahnya adalah, pak Komjen baru saja meneleponku agar aku tidak melibatkan Pak Sabil di seluruh kasus gugatanku pada keluarga Dewi."


"Apa?! Ayah bilang begitu?!" Aku tak percaya.


"Anda adalah putra satu-satunya pak Komjen. Wajar kalau beliau khawatir. Aku tidak bisa berbuat banyak kecuali mengabulkan permintaanya."


"Ayah selalu begitu. Selalu khawatir dan memperlakukanku seperti anak kemarin sore. Padahal, aku ingin terlibat karena ingin belajar banyak dari kasus ini."


"Pak Sabil, dengarkan aku." Fikar memegang tanganku dan menatap serius.


"Pak Komjen mengambil keputusan ini karena sebuah alasan yang sangat kuat. Aku juga tidak mau gara-gara kasus ini ada nyawa yang terancam."


"Ma-maksud Bapak?"


"Pak Komjen mendapat ancaman pembunuhan," katanya dengan suara pelan tapi penuh dengan penekanan.


"Apa?! A-ayahku mendapat ancaman pembunuhan?!" Aku kaget luar biasa.


"Ya, dan bukan hanya pak Komjen. Papaku, paklik, dan papinya Dewipun sama-sama mendapat ancamam pembunuhan."


"A-apa?! 'Kok bisa?! Dan kenapa aku baru tahu dari Anda?"


"Pak Sabil sedang jatuh cinta. Yang dipegang Pak Sabil HP pribadi terus. Apa dugaanku benar?"


"Emm, benar juga 'sih. Ya ampun, jatuh cinta membuatku bodoh dan kurang waras. Aku harus segera melacak nomor si pengancam!"


"Pak Sabil, cukup! Jangan gegabah! Untuk saat ini, aku pribadi akan fokus pada kesemalatan papa dan seluruh keluargaku. Kita harus berhati-hati."


"Tapi, Pak. Ancaman itu meresahkan dan bisa dikategorikan sebagai terorisme."


"Pak Sabil, aku khawatir kasusku dan keluarga Dewi dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menekan pihak tertentu."


"Apa?!" Dugaan Fikar membuat alisku mengernyit.


"Atau, bisa jadi kasusku sengaja diramaikan dengan tujuan untuk pengalihan isu," duganya.


"Bisa jadi," gumamku.


"Jika sudah pusing begini, aku harus segera pulang dan bercinta dengan Hanin."


"Apa?!"


Aku sampai berdiri dan merinding setelah mendengar kalimat itu. 'Kok bisa sedang membahas hal segenting dan seserius ini dia malah kepikiran mau bercinta? Mau heran, tapi dia adalah Zulfikar Saga Antasena. Sang pemeran utama pria. Sementara aku, hanya figuran.


"Kalau sudah dilemaskan dan diterbangkan ke surga oleh Hanin, aku biasanya langsung punya ide cemerlang," ungkapnya sambil tersenyum.


"Ck ck ck." Aku geleng-geleng kepala.


"Pak Sabil cepat temui Listi dan minta maaf. Listi juga harus dicegah supaya tidak sampai melaporkan tindakan Anda ke Propam. Kalau dia benar-benar melapor, masalah kita akan semakin runyam. Dan satu hal lagi, citra polisi yang saat ini sedang jadi buah bibir, akan semakin jatuh gara-gara Anda. Kesalahan Anda bisa jadi akan dibesar-besarkan dan viral."


"Anda benar, Pak Zulfikar. Aku mengerti maksudnya." Akupun bersiap.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2