Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tragedi [Bagian 2]


__ADS_3

Tiba juga di kontrakan. Aku dan pak Reza memarkirkan mobil. Daini langsung masuk dan nengecek tanamannya. Dua pengawal mengikuti Daini dari jarak kurang lebih lima meter. Mereka sepertinya sudah tahu jika majikannya anti dekat dengan laki-laki yang bukan mahromnya.


"Wah, kalian berbuah?"


Daini tampak bahagia. Ia mengelus buah tomat yang sudah siap panen. Pak Rezapun berdecak kagum.


"Bu Daini bertangan dingin. 'Kok bisa tanamannya bisa sesubur dan sebagus ini?" ucap pak Reza.


"Alhamdulillah," sahut Daini.


"Mau dipanen kapan, Neng?" tanyaku.


"Kita makan es cendol dulu ya. Setelah itu baru dipanen. Yuk kita masuk!" ajak Daini.


"Kami di sini saja," kata pak Reza.


"Masuk saja, Pak. Bagaimana kalau kita makan es cendolnya di halaman belakang? Kontrakan ini ada halaman belakangnya. Di sana, aku juga menanam tomat dan cabai," jelas Daini.


"Baiklah, Budi, Agus, kita masuk yuk!" ajak pak Reza. Oh, tenyata mereka bernama Budi dan Agus. Mereka memakai jaket, jadi aku tak melihat papan namanya.


"Baik, Pak."


Kamipun masuk. Langsung menuju ke halaman belakang. Daini dan aku menyiapkan mangkuk dan gelas untuk menikmati es cendol. Lalu kita menikmati es cendol sembari menikmati sepoian angin.


"Punten (maaf), aku ke kamar dulu sebentar ya, mohon maklum." Daini beranjak, sepertinya mau BAK. Kami mengangguk.


"Bu Daini berbakat ya. Padahal, menanam tomatnya hanya di pot. Tapi bisa selebat dan sesubur ini buahnya," puji pak Reza.


"Pak Reza pernah ke Bandung?"


"Belum pernah."


"Rumah orang tua Daini kayak perkebunan Pak," terangku.


Karena akupun tiba-tiba mau BAK, setelah menghabiskan es cendol, aku pamit pergi ke toilet yang ada di kamar tamu.


Namun, apa yang kudapati di ruang tamu, membuat tanganku gemetar.


"Pak Rezaaa!" teriakku. Segera berlari ke halaman belakang.


"Kenapa?! Ada apa?!"


Pak Reza dan yang lainnya berdiri. Aku tak mengatakan apapun. Aku berlari lagi menuju ruang tamu. Mereka mengejar.


"Apa?!"


Mata pak Reza melotot sempurna, pun dengan Budi dan Agus. Aku lemas. Langsung duduk dan terpuruk sambil menatap keranjang yang berubah posisi dan berantak, pintu keluar yang terbuka lebar, serta isi tas tangan Daini yang tececer di lantai.


"Agus! Budi! Cepat!" teriak pak Reza sambil berlari keluar tanpa memedulikanku. Mereka pergi begitu saja.


"Neng, huuu. Neng Dainiii!" teriakku sambil berlari mencarinya ke setiap sudut ruangan. Lalu teringat akan sesuatu.


"Jangan-jangan ...." Aku curiga dengan kejadian yang kualami saat hendak menyiram tanaman Daini.


"Tidak mungkin!"


Dengan tangan gemetar, aku memberanikan diri menelepon pak Direktur sambil berurai air mata. Langsung terhubung dan diangkat.


"Kamu tetap di tempat! Sebentar lagi polisi akan datang ke tempat itu!" sentak pak Direktur sebelum aku mengatakan apapun.


"Y-ya Pak. Ma ---."


Panggilan terputus. Rupanya pak Direktur sudah diberitahu oleh pak Reza.


"Neng, huuu .... gue bilang juga apa?! Kamu harusnya nurut sama aku dan meninggalkan keluarga Antasena. Huuu, huks."


Aku meratapinya. Baru saja hendak merapikan isi tas Daini yang bececeran, namun ponselku tiba-tiba bedering. Ada panggilan dari nomor tak dikenal. Entahlah siapa. Aku tak peduli. Segera mengangkatnya.


"Jangan sentuh apapun! Jangan merubah benda apapun! Jangan bernapas! Mmm, maksudku, jangan panik!" titahnya.


Tidaaak!


Pak Direktur sepertinya memberikan nomorku pada dia. Aku mematung dan membisu.


"Hallo, Listi! Aku dan tim akan ke sana! Sebagian lagi akan mengepung jalur pelarian!" Lalu ia mengakhiri panggilan.


"Aaarrgh! Kenapa di saat seperti ini harus berhubungan dengan dia lagi 'sih?! Huaaa."


Aku beteriak putus asa. Apa aku harus memberitahu abah atau ummi? Tidak! Jangan! Jangan membuat mereka panik!


Lalu aku keluar dari kontrakan untuk mendapatkan informasi dari tetangga sekitar.


"Bu, apa Ibu melihat wanita berjilbab lebar keluar dari kontrakan itu? Ciri-cirinya, cantik, lagi hamil, kulitnya putih banget," tanyaku pada ibu warung yang berada di seberang kontrakan.


"Enggak lihat, Mbak."


"Apa sempat lihat mobil atau motor masuk ke kontrakan itu?"


"Enggak juga, Mbak. Maksudnya enggak terlalu memerhatikan." Jawaban ibu-ibu ini sangat tak memuaskan.


"Kira-kira aku harus tanya siapa ya, Bu?"


"Masih pada kerja kalau jam segini 'tuh. Jadi sepi Mbak. 'Nih, warung saya juga ramainya pas sore-sore atau malam doang," ungkapnya.


"Oh, ya juga ya. Kira-kira, rumah siapa ya ada CCTV-nya, Bu? Maksudku, CCTV yang kira-kira menghadap ke kontrakan itu."


"Ihh, untuk apa 'sih, Mbak? Ya saya enggak tahu, 'lah!" ketusnya.

__ADS_1


"Ya ampun, Bu! Sombong benar! Aku doain dagangan Ibu enggak laku! Kalau Ibu tidak tahu, ya bilang saja tidak tahu! Enggak perlu ketus dan jutek begitu wajahnya!" teriakku. Lalu pergi dan menoleh lagi.


"Hey, Mbak! Berani ya kamu bentak-bentak saya! Jangan sok cantik kamu!" Gila, ibu-ibu itu sepertinya agak stres. Dia mengejarku sambil membawa sapu.


Lalu terdengar sirine mobil polisi. Dan aku baru kali ini merasa senang dengan suara itu. Ibu warung berhenti mengejar, dia kembali ke rumahnya. Akupun masuk ke kontrakan dan kembali menangis.


"Mau menangis di dadaku?" tawar seseorang yang baru saja datang.


"Ogah!" sentakku.


"Cepat foto semuanya! Identifikasi adanya kemungkinan jejak sidik jari! Tapi jangan memfoto dia!" sambil menunjuk ke arahku.


"Baik, Pak."


"Huuu." Aku lanjut menangis.


"Tak pantas wanita tomboy menangis." Dia mendekat sambil memerhatikan anggota yang sedang melakukan identifikasi.


"Kenapa Anda ke sini?! Kenapa tak mengejar penjahatnya?!" teriakku.


"Komandan yang menyuruhku ke sini. Ini bukan kemauanku. Yang bertugas mengejar sudah ada, 'kok. Sudah ya, jangan menangis terus."


"Ini mataku! Aku punya hak menangis kapan saja!"


"Bagaimana dengan telingaku? Telingaku juga berhak mendapat perlindungan dari polusi suara." Lalu ponselnya berbunyi.


"Ya, Dan? Oke! Siap, Dan!" teriaknya.


"Lanjutkan identifikasi! Aku disuruh komandan meluncur ke lokasi baru pernyergapan. Kamu ikut denganku," tegasnya sambil menarik tanganku.


"Tunggu, apa itu artinya Daini akan segera ditemukan?"


"Semoga," jawabnya. Kembali menarik tanganku.


...⚘️⚘️⚘️...


"Pakai ini!" Ia memakaikan jaket anti peluru saat aku sudah berada di dalam mobilnya.


Dag dig dug.


Jantungku berdegup. Jujur, aku takut. Kenapa dia harus membawaku dalam misi ini?


Tidaaak!


Aku tidak yakin ikut dengannya. Tapi, aku penasaran dan tentu saja ingin terlibat. Biar bagaimanapun, aku harus bertanggung jawab atas insiden janggal ini. Bu Yuze dan pak Aksa sudah menitipkan Daini padaku.


"Kita akan pergi, berdoa ya. Kalau kamu takut, sebut saja namaku," katanya. Lalu melajukan kemudi.


"Tidak lucu!" sentakku.


"Ya, aku memang tidak lucu, tapi tampan, kan? Aku dan Zulfi, maksudku pak Zulfikar, pernah menjadi duta SMA se-Jakarta. Sebelum masuk Akpol, aku bahkan terpilih jadi perwakilan Mojang Jajaka Bandung. Tapi aku tolak."


Aku tak meladeninya. Aku diam saja. Mojang Jajaka Bandung? Apa dia sama kayak Daini? Orang Bandung juga? Tapi, 'kok duta SMA se-Jakarta, 'sih? Halah, aku tak peduli!


"Hmm, enggak enak juga ya kalau kamunya diam terus," keluhnya.


"Hey! Dengar ya Pak Sablon! Aku lagi sedih! Daini hilang! Jadi wajar kalau aku diam saja! Tak selamanya aku cerewet! Kadang-kadang, aku juga bisa anggun dan pemalu!" bentakku.


"Apa?! Pemalu? Ha ---."


Dia malah menahan tawa. Sialan! Di kondisi segenting ini, bisa-bisanya dia tertawa.


"Maaf," ucapnya. Lalu diapun terdiam. Fokus ke jalanan, dan melirikku sesekali.


...⚘️⚘️⚘️...


Aku mulai ketakutan saat mobil ini memasuki kawasan hunian mewah yang dibiarkan terbengkalai. Hunian ini berlokasi di Jakarta Selatan. Mitosnya, kawasan ini memang angker dan tak bisa dihuni. Rumah kosong di daerah ini, konon telah dihuni oleh berbagai jenis makhluk tak kasat mata.


"Kita akan menyelinap. Mobil ini akan kubiarkan parkir di sini."


Dia membawaku mengendap-endap. Lumayan jauh kami berjalan. Jaraknya sekitar 250 meter. Lantas, kami menyelinap ke belakang sebuah rumah yang dipenuhi semak belukar.


"Tunggu, dari mana Anda tahu kalau Daini berada di sini?! Mana polisi yang lain?! Anda tidak sedang menipuku, kan?!" tanyaku dengan suara pelan namun penuh penekanan, seraya berjongkok di balik semak.


"Kata Komandan, ada pesan misterius yang mengatakan kalau bu Daini dibawa ke tempat ini. Pesan itu dikirim ke nomornya pak Zulfikar. Maka dari itu, Komandan menyuruhku mengecek lokasinya. Aku bukan polisi gadungan. Percayalah."


"Apa?! Jadi, Daini belum tentu ada di sini? Kalau pesan itu hanya tipuan bagaimana?!"


"Ssstt, jangan kencang-kencang bicaranya. 'Kan aku sudah bilang, Komandan memintaku mengeceknya. Jika benar bu Daini ada di sini, maka bala bantuan akan segera datang. Jadi, ada dua kubu petugas yang diterjunkan. Ada yang mengejar mobil yang dicurigai, dan ada yang ke sini. Tapi, yang ke sini akan menunggu signal dariku dulu. Begitu."


"A-apa?! Jadi, saat ini Anda hanya sendiri?! Bagaimana kalau Daini benar-benar ada di sini dan Anda kalah jumlah?" Tak sadar, aku memegang tangannya.


"Tenang, aku punya banyak strategi. Salah satunya dengan menggunakan kamu sebagai umpan. Makanya aku mengajak kamu."


"Apa katamu?! Umpan?!"


"Ssstt." Dia membekap mulutku.


"Maaf, di lantai dua ada pegerakan. Kita tak boleh bersuara," bisiknya. Ia menengadah menatap ke lantai dua si rumah angker.


"Yuk mengendap lagi, kita akan mendekati lokasi," bisiknya lagi. Lalu menggenggam tanganku dan kami kembali mengendap.


"Usahakan jangan menginjak ranting atau daun kering, jangan menginjak botol plastik, apalagi menendang kaleng kosong. Kamu harus berjinjit untuk mengurangi efek suara."


Dia memberi intruksi. Aku patuh, bernapaspun aku usahakan sepelan mungkin.


Jantung ini kian berdegup manakala kakiku harus menapaki tangga belakang rumah yang dipenuhi semak menjalar. Pak Sabil berjalan di depanku.

__ADS_1


"Ikuti langkah kakiku ya. Telapak kaki kamu harus menginjak bekas pijakanku," katanya.


Aku dan dia mematung ketika samar-samar mendengar suara tangisan. Aku hafal benar suara itu. Tidak!


"Da ---."


"Ssst." Lagi, dia membekapku sambil menyeretku ke balik pintu untuk bersembunyi.


"Huuks, itu suara Daini, Pak." Airmataku berjatuhan.


"Tenang, oke? Aku akan mengirim signal ke pos. Kamu jangan panik. Lagi pula, itu belum pasti suara bu Daini. Bisa jadi hanya rekamannya." Lalu ia mengetik pesan di ponselnya. Kemudian menelepon seseorang dan berkata pelan ....


"Lokasi Jakarta Selatan ada suara tangisan yang identik dengan suara korban. Aku belum menemukan asal suara. Anggota kubu dua siapkan saja. Langsung ke titik lokasiku," katanya. Lantas mengakhiri panggilan dan kembali menarik tanganku untuk mencari asal suara.


"Dia cantik dan mulus sekali bos. Bagaimana kalau kita p e r k o s a dulu sebelum dibunuh? Hahaha." Suara itu membuatku dan pak Sabil saling menatap. Bibirku gemetar menahan emosi dan tangis.


"Tenang, jangan sampai operasi ini gagal gara-gara kelalaian kamu," katanya.


Sial! Dia mengusap airmataku. Aku segera menepis tangannya.


"To-tolong ... kasihanilah aku, Pak. Aku sedang hamil. Apa yang kalian inginkan? Apapun agama kalian, tolong sadarlah kalau yang kalian lakukan ini adalah perbuatan dosa." Ya ampun, masih sempat ya Neng kamu menceramahi penjahat.


Itu asli suara Daini. Pak Sabilpun sepertinya yakin kalau suara itu bukan tipuan. Ia kemudian mengirim signal lagi.


"Semuanya merapat ke lokasiku! Cepat!" titahnya.


"Kamu mau ceramah ya? Hahaha. Persetan dengan dosa!" Suara teriakan penjahat.


"Mereka ada di sana," pak Sabil membidikkan pistolnya ke sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat.


'Klak.' Pintu tersebut tiba-tiba terbuka. Aku dan dia spontan bersembunyi di balik puing-puing.


"Aku mau buang air kecil dulu," kata pria itu.


Saat pintu terbuka, benar saja, Daini berada di sana. Ia diikat di sebuah kursi. Syukurlah, mereka belum melakukan apapun. Baju Daini masih rapi. Jilbabnyapun masih terpasang. Di dalam ruangan itu ada dua orang pria lagi. Salah satubya sedang sibuk memainkan ponsel, dan satunya lagi tengah merokok sambil menatap nafsu pada Daini.


Ternyata, penjahat itu malah mendekat ke arah persembunyianku dan pak Sabil. Untungnya, posisi dia BAK membelakangi. Aku berdebar-debar. Keringat dingin mulai becucuran. Aku bahkan membekap bibirku sendiri. Pak Sabil bersiap mengokang senjatanya.


Lalu ....


"A ---."


Aku ingin beteriak karena di belakang penjahat yang sedang BAK itu ada kalajengking yang lumayan besar. Mataku membulat, pak Sabil kembali membekap bibirku.


"Sssttt," bisiknya. Menyebalkan! Bibir dia menempel di daun telingaku. Geli gila! Serius, aku ingin menamparnya.


"Tunggu, 'kok aku mendengar ada suara ya?" Penjahat itu membalikan badan.


Deg deg deg. Jantungku menari. Si kalajengking pergi entah ke mana.


'Srak, srak, srak.' Sepatu si penjahat semakin dekat.


"Ba-bagaimana ini? Ki-kita akan ketahuan," lirihku dengan suara gemetar.


"Tenang," katanya sambil meletakan senjata dan membuka baju anti peluru yang dipakainya. Lalu cepat-cepat membuka baju anti peluru yang kupakai dan dilemparkannya cepat ke belakang tubuhku.


"Siapa kalian?!" Tidaaak! Kami terciduk.


"Maaf, tak ada cara lain. Mohon kerjasamanya." Aku tak mengerti maksudnya.


"Hey! Kalian ---." Penjahat melongo karena pak Sabil tiba-tiba ....


APA?! Gila!! Dia ... dia mencium bibirku. Tidaak!


Aku berusaha menolak. Namun tengkukku ditahannya dan dia menyesapku semakin kuat. Kemudian berkata sambil mengelus bibirku di saat jiwaku seolah masih berada di angkasa akibat kaget yang luar biasa ini.


"Enak 'kan sayang mesum di tempat angker seperti ini?" katanya sembari mengedipkan satu mata. Lalu dengan perlahan kembali memagut bibirku. Dia benar-benar GILA! Tidaak!


"Haish, dasar tak bermodal! Sialan kalian! Bikin kaget saja! Lanjutkan!" sentak si penjahat sambil berlalu. Penjahat ini sepertinya agak bodoh!


"Mmm, emmh ---."


Aku memukuli bahunya. Penjahatnya sudah pergi, gila! Kenapa kamu masih mencium bibirku?! Dasar mesum! Aku membencimu Sablon Linglung! Setelah Daini berhasil diselamatkan, aku akan membunuhmu Linglung!


"Maaf, aku terpaksa."


Dia akhirnya membebaskan bibirku saat aku berhasil mengambil pistolnya dan menondongkan moncong pistol tersebut ke pelipisnya.


"Huuu, Anda sudah melecehkanku!"


"Ssstt, ini darurat. Sungguh, aku juga tak sudi melakukannya. Aku terpakasa. Maaf ya. Kembalikan pistolnya oke? Ini pistol sungguhan bukan senjata mainan. Kamu tak boleh memegangnya, berbahaya." Dia merebut pistol dari tanganku.


"Lu sudah kurang ajar sama gue!" Aku memalingkan wajah sambil mengelap bibirku berulang-ulang dengan punggung tangan.


"Bukan saatnya membahas masalah itu. Kita bahas di lain waktu ya. Sekarang, cepat pakai lagi baju anti pelurunya! Bantuan akan segera tiba."


'PLAK.'


Setelah memakai baju anti peluru, aku menampar pipi kiri dan kanannya kuat-kuat.


"Rasakan!" Matanya mengerjap. Mengusap pipinya dan malah tersenyum.


"Tamparan kamu lumayan juga," katanya.


Menyebalkan!


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2