
^^^Catatan:^^^
^^^Untuk muslimin dan muslimat, nyai menyarankan agar kegiatan membaca novel dilakukan setelah berbuka puasa atau dalam keadaan sedang tidak berpuasa. Alasannya karena nyai khawatir jika bab pada novel tersebut mengandung unsur-unsur yang bisa mengurangi keutamaan puasa, atau bahkan bisa membatalkan puasa. Termasuk saat membaca novel nyai ya. Terkecuali bila reader yakin seratus persen kalau novel yang hendak dibaca tidak mengandung unsur dua puluh satu plus atau sejenisnya. Tapi, kembali lagi ke pribadi masing-masing ya, karena setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih dan menentukan.^^^
^^^-------------------------------------^^^
*Zulfikar Saga Antasen**a*
Hari ini, atas izin-Nya, aku merasakan jika semua hal yang kulakukan berjalan dengan lancar. Tadi, saat aku pulang, mama dan papanya Dewi tak ada di rumahku. Jadi, aku bisa leluasa berbicara panjang-lebar dengan Dewi.
Dewi bersikap baik. Dia baik bisa jadi karena merasa bersalah sebab telah mengambil keputusan sebelah pihak pada saat preskon. Akupun tak ambil pusing. Pada Dewi, aku mengatakan tak peduli kalaupun dia mengatakan pada publik jika aku dan Hanin sudah becerai.
"Yang penting faktanya adalah aku dan Hanin tidak becerai," kataku kala itu.
"Aku membohongi publik demi menyelamatkan kamu, Mas. Harusnya kamu bersyukur dan berterimakasih."
"Wi, Mas tak pernah meminta kamu menyelamatkanku dengan cara seperti itu. Sekarang kamu jujur pada Mas, kapan kamu cerita sama papi dan mami?"
"Kamu tak perlu tahu, Mas. Yang penting posisi kamu sudah aman. Sebenarnya, mami dan papiku marah besar. Hampir saja papiku mengakuisisi perusahaan kamu, tapi aku melarangnnya," jelas Dewi pada saat itu.
"Apa kamu yakin papi dan mami kamu tidak melakukan akuisisi karena usaha kamu? Mas merasa tak yakin, Wi."
"Maksud kamu apa Mas?"
"Mas merasa papi dan mami kamu memiliki alasan lain hingga tak berani mengakuisisi perusahaanku."
Ya, hingga saat ini, aku tetap curiga jika mereka memalsukan rekam medis milik Dewi pada surat perjanjian pranikah.
"Jangan sok tahu ya Mas."
"Ya sudah, kita jangan bahas masalah itu dulu, aku mau ke Bandung bersama kak Gendis. Apa boleh?" tanyaku. Saat itu, aku bertanya seraya memeluknya.
"Ke rumah orang tua si Daini?"
Aku mengangguk, mengiyakan.
"Boleh, tapi ada syaratnya, Mas," katanya.
"Apa syaratnya? Mau bercinta?" Aku langsung menduga sekaligus menawarkan diri.
"Hahaha, kok kamu bisa tahu 'sih Mas? Sebenarnya aku sangat mau Mas. Tapi, pulang dari rumah sakit, aku langsung datang bulan Mas."
Pada saat itu, aku tak kuasa menahan tawa. Aku bersyukur Dewi haid. Sebab jika tidak, maka mau tidak mau aku harus kembali menyiksa batinku dengan cara berpura-pura menikmati tubuh Dewi.
"Lantas, syarat apa yang kamu minta?"
"Begini Mas, tolong kamu lupakan dan jangan membahas lagi kasus aku menggigit Hanin, anggap saja kalau kejadian itu tak pernah terjadi. Setuju?"
"Apa?"
Aku jelas terkejut, dengan entengnya Dewi mengatakan kalimat itu. Ini benar-benar tak beres. Aku jadi ingin mengetes kembali daya ingatnya.
"Emm, Mas pikir-pikir lagi. Oiya, kenapa kamu sampai menggigit Hanin?"
"Aku menggigitnya karena cemburu, Mas."
Fakta baru ditemukan. Keterangan Dewi berbeda dari keterangan sebelumnya. Padahal sebelumnya, Dewi mengatakan jika ia menggigit Hanin karena Hanin meludahinya.
"Ini luka apa?"
Saat itu, aku lanjut mengetes Dewi dengan cara pura-pura lupa. Padahal, aku ingat benar kalau Dewi mengatakan luka di lengannya akibat digigit oleh Hanin.
"Luka ini? Tunggu, ini luka apa ya?"
Dewi malah kebingungan. Aku mengernyiktkan alisku dan ikut bingung dengan sikap Dewi. Benar-benar harus diselidiki.
"Oh, aku baru ingat, luka ini dicakar si Daini, Mas."
Padahal, di keterangan sebelumnya, Dewi mengatakan kalau itu luka gigitan. Keterangan Dewi benar-benar tak bisa dipercaya. Aku tak menyangka telah menikahi wanita plin-plan.
"Kalau lagi haid, aku jadi makin sebal sama si Daini, Mas. Gara-gara haid di hari resepsi, bulan madu kita diundur. Karena bulan madu diundur kamu jadi tidur sama si Daini. Ihh, sebal!" gerutunya.
"Bisa tidak kalau tak membahas masalah itu lagi?" protesku. Dewi lantas mengalihkan pembicaraan.
"Apa aku minum obat saja Mas supaya haidnya cepat selesai? Terlalu lama tak menikmati tubuh kamu itu gak asyik tahu, Mas."
"Astaghfirullah, Wi. Semua ada saatnya. Keseringan bercinta juga tak baik untuk kesehatan kamu, dan jangan coba-coba minum obat untuk menghentikan darah haid."
"Haid itu darah kotor Wi, sudah ditetapkan untuk dikeluarkan tiap bulannya pasti demi kebaikan dan bermanfat untuk wanita. Kecuali kalau haid kamu lebih dari lima belas hari, atau siklus haidnya tidak normal, barulah kamu boleh konsultasi dengan dokter."
"Ish, kamu bawel deh, Mas." Saat itu, wajah Dewi tampak kesal.
Tadi, ketika aku dan Dewi bicara, kak Gendis berada di lantai satu. Jadi, aku yakin kalau kak Gendis tidak mendengar percakapan antara aku dan Dewi.
Perjalanan menuju Bandungpun terpantau lancar. Aku bahkan mendapat antrian nomor satu saat mengantri bahan bakar. Saat melintasi tol Cipularang, aku dan kak Gendis sempat mengerjai Hanin. Aku bahagia karena Hanin cemburu.
Sesampainya di Bandung, semua orang menyambutku kecuali Hanin. Kata Listi, setelah mandi, Hanin malah ketiduran. Karena teramat merindukannya, setelah bersalaman, aku langsung masuk ke kamar Hanin.
"Hahaha."
Sambil menggosok gigi, aku terbahak karena teringat kembali ulah mesumku pada Hanin. Aku memanfaatkan tidur pulasnya untuk menyalurkan kerinduanku. Walaupum hanya di sekitar daerah itu, tapi lumayan 'lah.
Tadi, aku baru berhenti menjahili Hanin setelah ceu Jani memanggilku dan mengatakan kalau abah sudah datang membawa durian.
Oiya, luka bekas gigitan di dadanya Hanin sudah membaik.
Aku gosok gigi dua kali, lalu kumur-kumur dua kali selama dua puluh detik. Ternyata, aku dan Hanin memiliki sedikit kesamaan, kita sama-sama tak suka buah durian. Kalau 'belah duren' aku suka, aku ahlinya.
"Hahaha," aku tertawa lagi.
'Tok tok tok.'
"Pak, sedang apa? Tak boleh tertawa di kamar mandi. Kalau abah tahu, Anda bisa diusir dari rumah ini." Terdengar suara Hanin dari luar kamar.
Akupun segera keluar.
__ADS_1
...***...
"Maaf sayang, tadi teringat dengan hal-hal lucu, jadi tertawa 'deh, maaf ya," kataku.
"Jangan diulangi lagi, Pak. Nanti kalau terdengar oleh anak-anak kita bagaimana? Masa tertawa sendirian? Kan aneh."
"Kalau tertawa di kamar mandinya berdua? Atau suami-istri beteriak bahagia di kamar mandi karena mandi bersama? Boleh, tidak?" godaku.
"A-apa? Sudah ah, jangan banyak mengkhayal Pak," ketusnya. Sikapnya berubah sedikit jutek, mungkin akibat efek hormon kehamilan.
"Maaf sayang." Lagi, aku kembali meminta maaf.
"Apa sudah boleh cium kamu?"
Aku memegang bahunya. Serius, aku sudah tak sabar. Hanin lantas meraba daguku dan area di sekitar bibirku.
"Bapak belum cukuran?" tanyanya.
"Cu-cukuran? Belum, tapi 'kan ini masih bersih sayang."
"Belum bersih, Pak. Ini sudah terlihat dan teraba ada yang tumbuh-tumbuhnya. Ma-maaf ya, Pak. Aku kurang suka," protesnya sambil menunduk.
"Perasaan biasanya juga lebih panjang dari ini tapi kamu tak pernah protes."
"Aku juga tak tahu, Pak. Pokoknya sekarangmah tak suka, titik." Tegasnya.
"Ya sudah, nanti aku beli cukuran dulu ke minimarket."
Aku menelan salivaku sendiri. Hanin yang sekarang sedikit rumit. Sabar ... sabar, Zul. Aku mengusap dadaku.
"Tunggu, apa aku pinjam pisau cukuran janggut punya abah saja?" Aku ada ide.
"Ih, jangan Pak. Akunya malu. Lagi pula masa ya pakau pisau cukur bareng-bareng? Tak boleh, kan?" Sambil mengulum senyum. Mungkin dia juga merasa lucu dengan sikapnya.
"Oke, jadi serius 'nih aku tak boleh cium kamu?" Aku memastikan lagi. Siapa tahu ada kebijaksanaan.
"Tak boleh, Pak. Geli, ihh," sambil bergidik.
"Ya ampun sayang." Lagi, aku menghela napas.
"Aku kumal ya sayang?"
Aku jadi tak percaya diri. Jadi penasaran, seberapa jelek dan lebatnya hutan di wajahku sampai Hanin menolak? Sambil cemberut akupun bercermin.
"Hahaha."
Aku tergelak. Istriku benar, wajahku memang tampak tak terawat. Bahkan janggutkupun mulai bersemi.
"Maaf ya sayang, karena terlalu sibuk memikirkan kamu, aku sampai melupakan penampilanku."
Hanin tersenyum.
"Bapak tetap tampan, kok. Aku seperti ini mungkin karena bawaan orok. Aku suka kok pria berjanggut, tapi kurang suka sama yang berkumis. Kalau Bapak mau, Bapak boleh 'kok memelihara janggut."
"Tania lupa memberi tahu kalau di janggutku ada nasi. Dari situ aku trauma sayang. Bayangkan, saat aku presentasi di forum rapat internasional, sebutir nasi di janggutku terbidik kamera dan jadi bahan tontonan."
"Hahaha," Hanin terkekeh sambil menutup bibirnya.
"Apa itu cerita asli?" Dia sampai tak percaya kalau kejadian itu benar-benar aku alami.
"Aku serius sayang, miris bukan? Jadi, mulai hari itu aku tak pernah memanjangkan janggut lagi."
"Lucu juga ya, Pak."
"Neng, Dai, Pak Zul, punten (maaf) disuruh makan bersama, yang lain sudah pada kumpul," terdengar suara ceu Jani dari luar kamar.
"Muhun Ceu, kin bade ka dinya, sakedap deui (ya Ceu, nanti mau ke sana, sebentar lagi)," jawab Hanin.
"Hmm, aku sebenarnya masih kenyang sayang."
"Tak boleh menolak, Pak. Kita ke sana saja, gak apa-apa makannya sedikit juga. Oiya, Bapak belum mandi?"
"Belum 'lah sayang, kan baru datang. Tadi hanya ganti baju dari kemeja jadi kaus ini."
"Ya sudah, kita makan berjamaah dulu, nanti setelah makan, Bapak mandi ya," katanya. Setelah ia mengenakan jilbab, Hanin meraih tanganku, kami bergandengan tangan menuju dapur.
"Setuju," kataku.
...***...
Aku tercengang saat melihat kondisi di meja makan. Menunya banyak sekali. Semuanya menatap ke arahku dan Hanin. Kami jadi pusat perhatian. Oh my God.
"Silahkan, duduk di sana, Mas," kata abah ramah. Aku ke sana. Hanin mematung, melepaskan tanganku.
"Neng, Masnya dampingi atuh," suruh ummi.
"Muhum Ummi (ya Ummi)," sahut Hanin malu-malu. Lalu ia mendekat dan duduk di sampingku.
"Sadayana tos kumpul (semuanya sudah kumpul) kecuali Putra. Sok (silahkan) Mas, pimpin doa," kata abah.
"Emm, Bapak saja, em ... ma-maksudku sama Abah saja." Jujur, aku tak punya keberanian.
"Ya sudah, sore ini sama Abah, makan malam sama Mas ya." Syukurlah, abah memahami kegugupanku.
Lalu Abahpun berdoa setelah kami semua mencuci tangan.
Suasana dapur ini sangat asri. Kak Gendispun rupanya mengagumi suasana ini. Angin sore berhembus melalui jendela, selain itu, aku juga bisa menyantap makanan sambil menikmati indahnya suara gemericik air kolam dan kicauan burung-burung dari kebun milik abah yang berada di belakang rumah.
"Punten (maaf) aku mau ke kamar dulu, silahkan dilanjutkan saja," kata Hanin. Wajah cantiknya memerah.
"Kenapa sayang?" Aku memegang tangannya.
"Neng Daini biar aku yang tangani, Pak Zulfikar selesaikan saja makannya," sela dokter Rahmi. Ia sigap cuci tangan, lalu memapah Hanin.
__ADS_1
"Dokter Rahmi bagaimana?" Mungkin Hanin tak tega melihat sisa nasi di piring dokter Rahmi.
"Saya dan Listi dari tadi siang sudah banyak makan 'kok, Neng."
"Ya Dai," sahut Listi.
Semuanya menatap khawatir pada Hanin, termasuk kak Gendis yang sedari tadi saat kuperhatikan lebih banyak menunduk, pendiam, dan sering curi pandang pada Hanin. Aku yakin kalau kak Gendis mengagumi Hanin.
"Ayo lanjutkan makannya, Mas. Nanti malam, baru kita undang pak Ihsan ya," kata abah.
"Ya Abah," kataku. Tapi, aku tak bisa menikmati makanan secara maksimal karena khawatir pada Hanin.
Selesai makan, aku bergegas ke kamar Hanin, disusul kak Gendis, Listi, dan ummi.
...***...
"Sekarang sudah tak apa-apa, kok. Tadi katanya tiba-tiba mual setelah makan sambal terasi," jelas dokter Rahmi yang saat ini tengah memijat tangan Hanin. Kita semua sudah berada di kamar Hanin.
"Maaf, jadi membuat semuanya khawatir, padahal biasanya aku tak apa-apa makan sambal terasi. Oiya, Kak Gendis, salam kenal aku Daini, maaf baru menyapa," Hanin melirik pada kak Gendis sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Tak apa-apa, Zul sudah cerita banyak tentang kamu," kata kak Gendis.
"Dai, ini ada wedang jahe, diminum ya Neng." Ummi memberikan minuman dari ceu Jani pada Hanin.
"Calon bayi kamu tahu kali kalau ayahnya konglomerat, jadi alergi sama terasi," kata Listi.
"Zul memang alergi sama terasi dan sejenis udang-udangan," terang kak Gendis.
"Ya sudah, kalau lagi hamil mudamah mual-mual itu sudah biasa, dan biasanya memang suka rada manja kalau ada suami. Jadi kita biarkan Daini manja-manjaan dulu sama suaminya ya. Yuk kita keluar," ajak ummi sambil tersenyum. Dalam hal ini, ummi memang yang paling berpengalaman.
"Dadah Dai, awas jangan macam-macam ya Pak Direktur, ingat pesan dokter," kata Listi.
Setelah semua orang pergi, aku dan Hanin saling menatap.
"Sayang, minta nomor teleponnya mang Hendra boleh gak?"
"Untuk apa, Pak?"
"Mau beli cukuran 'lah sayang."
"Emm, tak perlu, Pak. Tidak apa-apa kalaupuan tak dicukur. Tapi, jangan ganggu ya, Pak. Aku ngantuk."
"Ngantuk? Sayang, bukannya tadi baru saja bangun tidur? Lagi pula, tidur sore-sore itu tak baik, sayang."
Aku mendekat, duduk bersandar di tempat tidur, lalu meletakan kepala Hanin di pangkuanku.
"Ya sudah, agar aku tak ngantuk, Bapak cerita dong tentang kabar bahagia itu." Sambil memainkan jemariku.
"Oke, begini sayang ...."
Aku antusias. Segera mengatakan pada Hanin kalau papa dan mamaku ingin bertemu serta mau membawa Hanin ke rumah karena ingin mengurus dan memantau perkembangan kehamilan Hanin.
"A-apa? Ba-Bapak tidak bercanda, kan?" Menatap tak percaya padaku. Matanya berkaca-kaca.
"Aku serius sayang. Aku juga tak menyangka."
"Alhamdulillah ... a-aku terharu Pak." Mata Hanin berkaca-kaca, lalu ia merangkulku.
"Besok kita pulang ya sayang, jadi kamu tak tinggal di apartemen lagi. Kamu akan tinggal bersama mama, papa, dan kak Gendis."
"A-apa aku mimpi? Tapi ... aku khawatir Pak."
"Apa yang kamu khawatirkan?"
"Aku takut tak bisa beradaptasi dan mengecewakan bu Yuze dan pak Aksa."
"Sayang, mulai hari ini kamu panggil mama dan papa, oke? Terus, kapan kamu mau memanggilku 'Mas'? Jujur sayang, aku tak nyaman dipanggil 'Bapak' terus."
"Emm, nanti akan aku coba, tadinya setelah dapat restu dari bu Dewi, aku baru mau mengganti panggilan."
"Sayang, Dewi 'kan memang sudah merestui pernikahan kita. Tapi hanya saja sebatas pernikahan siri."
Lalu Hanin menatapku, kali ini sambil tersenyum.
"Aku akan berusaha agar bisa diterima oleh emm ... papa Aksa dan mama Yuze. Aku sebenarnya tak masalah kalaupun seumur hidupku tetap menjadi istri siri Anda. Bagiku, asalkan bisa berbakti pada suami, aku merasa sudah cukup. Tapi, karena aku hamil, ceritanya jadi berbeda. Anak ini membutuhkan Anda sebagai ayahnya."
"Aku akan bertanggung jawab sayang. Aku berjanji akan meresmikan pernikahan kita."
"Pak, aku mau minta bantuan Anda, boleh?"
"Bantuan apa sayang?"
"Tolong larang abah ikut campur masalah peresmian pernikahan kita. Aku tak mau abah berurusan dengan keluarga bu Dewi. Jika Bapak sendiri bisa menyelesaikannya. Kurasa, abah tak perlu terlibat."
"Baik sayang, aku setuju. Awalnya, aku memang berencana bekerja sama dengan abah jika tak dapat dukungan dari papa. Tapi saat papa tahu kamu hamil, kurasa papa juga mendukungku."
"Kenapa papa dan mama Anda bisa berubah secepat itu?"
"Itu karena mereka sangat menginginkan cucu sayang. Keluarga Antasena butuh penerus."
"Pak ... bila suatu saat bu Dewi juga hamil, apa papa dan mama Anda masih mau menerimaku? Aku takut mereka menerimaku hanya karena aku hamil. Setelah aku melahirkan cucunya, takutnya mereka mengambil anakku dan memisahkanku dari anak-anakku."
"Ssstt, sayang, aku tak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Jikapun Dewi hamil, posisimu di hatiku tidak akan berubah. Kamu tetaplah ibu dari anak-anakku. Aku juga mencintai kamu. Mustahil jika aku memisahkan kamu dari anak-anak kita."
Aku meyakinkan Hanin. Ya, aku memahami perasaannya. Hanin pasti takut jika penerimaan mama dan papaku hanya karena kehamilannya.
"Maaf Pak. Tak seharusnya aku berburuk sangka. Tapi ... aku khawatir."
"Ada aku sayang. Kamu percaya padaku?" Hanin mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kita bilang sama abah dan ummi, sayang," ajakku.
"Ya Pak, semoga abah dan ummi mengizinkan."
"Aamiin," jawabku.
__ADS_1
...~Tbc~...
...Selamat menjalankan ibadah puasa dari nyai dan keluarga. Mohon maaf lahir batin. Salam sayang untuk semuanya....