
Sebelumnya ....
Zulfikar Saga Antasena
Kebanyakan pria melakukan poligami dengan alasan bahwa wanita yang berusia lebih muda cenderung lebih cantik dan menarik. Keunggulan fisik inilah yang menjadi alasan paling mendasar bagi seseorang yang memilih berpoligami. Teori itu tidak berlaku di kamusku. Kenapa demikian? Sebab, aku mendapatkan Hanin dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Namun, pada akhirnya, lambat-laun aku menyadari jika Hanin memiliki posisi yang istimewa. Ya, dia adalah wanita idamanku. Hari ini, Hanin telah berhasil membuatku terpuruk. Dia pergi tanpa kabar berita. Bahkan, Haninpun tidak memberi kabar pada abah dan umminya. Apa yang dia lakukan benar-benar keluar dari sifat aslinya. Aku heran atas sikapnya. Kenapa? Ada apa?
"Wanita pujaanmu terbukti ka-bur, Mas. Hahaha, terbukti 'kan? Dia tidak sebaik yang kamu bayangkan, Mas." Dewi mengolok-olokku dengan kalimat seperti itu.
"Aku bahagia si Daini kabur. Setidaknya, belangnya dia sudah terendus dan ketahuan sama semua orang. Mana istri kebanggaan kamu yang katanya penyabar itu, Mas? Mana?! Hahaha."
Dewi terus meledekku. Saat itu, aku mendiamkannya. Tidak meladeni karena malas bertengkar. Setelah acara pemakaman, aku memilih bergabung dengan polisi untuk mencari Hanin. Hari ini, untuk pertama kalinya, Hanin berhasil membuat keluarga Antasena panik dan pusing tujuh keliling.
Aku sudah mengatakan pada mereka agar jangan terlalu mengkhawatirkannya. Maksudku, biar aku saja yang sibuk mencari. Tapi, keluargaku sudah terlanjur jatuh hati pada Hanin. Mereka bahkan berani mengancamku jika sampai sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi pada Hanin atau kandungannya.
Mereka menyalahkan aku atas kaburnya Hanin. Semuanya berpikir kalau Hanin tertekan. Bagi mereka, kaburnya Hanin adalah puncak dari usaha Hanin untuk pergi dari sisiku. Yang membuatku marah adalah, mereka menuduh jika Hanin sebenarnya tidak mencintaiku.
Yang paling parah si Dhimas! Dia menuduhku hiper dalam tanda kutif.
"Bisa jadi, Hanin kabur karena tidak sanggup melayani kamu yang h i p e r s e k s. Atau, kalau memang kamu tidak bisa adil pada Hanin, lebih baik kamu berikan saja untukku."
"Gila lu Dhim! Kurang ajar!"
Tadi, aku nyaris berduel dengan Dhimas gara-gara hal itu. Dia memang sumber onar. Untungnya, paklik Aryo dan pak Sabil berhasil melerai kami. Anehnya, papa malah melakukan hal yang diluar dugaanku. Papa justru menyuruhku berduel dengan Dhimas.
"Sudah, kalian adu jotos saja! Pak Sabil, bila perlu, kasih mereka pistol!" teriak papa kala itu.
.
Padahal, aku tidak ingin poligami. Namun keadaan memaksaku. Apa benar Hanin kabur karena tidak mencintaiku? Berarti, aku gagal menjaganya. Ya, aku tahu jika aku diwajibkan melindungi agama serta kehormatan para istri-istriku. Tapi pada praktiknya, aku sadar belum bisa adil.
Shalihahnya istri seharusnya menjadi tanggung jawabku sebagai suami. Sebab, peran suami sangat berpengaruh dalam kehidupan berumah tangga. Seharusnya, aku juga bisa memperhatikan kebutuhan biologis istri-istriku dengan seadil-adilnya. Namun faktanya, aku lebih menyukai bercinta dengan Hanin. Entah kenapa, saat aku melakukannya dengan Dewi, debaran itu tidak pernah muncul.
.
Pada pukul delapan malam, pencarian Hanin dihentikan. Pak Sabil dan timnya kembali ke rumah masing-masing. Sementara pak Ikhwan dan tim kuasa hukum tetap bekerja di firma untuk mempersiapkan risiko dikambinghitamkan oleh keluarga Dewi. Kenapa kami waspada? Sebab, hingga saat ini, tim forensik belum mengumumkan hasil autopsi.
.
Malam ini, aku sengaja menginap di rumah orang tua Dewi. Hingga saat ini, mami Silfa belum bisa diajak komunikasi. Saat kutemui di kamarnya, mami Silfa diam saja dan terkesan mengacuhkanku. Terakhir, ketika aku menemuinya lagi, mami Silfa sedang diinfus oleh dokter pribadinya.
.
Aku tidak bisa tidur. Selain kamarnya yang terasa asing, aku juga khawatir pada Hanin.
"Mas, daripada kamu gelisah, bagaimana kalau kita bercinta saja?"
"Jangan macam-macam ya, Wi. Lama-lama, aku jadi heran, kenapa yang ada di pikiran kamu hanya tentang itu dan itu saja? Jangan memanfaatkan situasi ya," tolakku.
"Ya wajar 'lah kalau aku meminta hakku. Kamu sudah lama enggak pernah menjamah aku, Mas. Setiap malam, kamu hanya memakai si Daini. Mikir dong, Mas. Aku juga butuh kepuasan biologis dari kamu."
"Aku tahu, Wi. Jujur, aku mengakui kesalahanku. Aku sadar sering tidak adil terhadapmu dalam urusan ranjang. Tapi lihat sikon dong, Wi. Kita sedang berkabung."
"Mas, tidak ada hubungannya kematian papi dengan urusan ranjang kita." Dewi mendekat sambil melucuti busananya. Wanita ini benar-benar kurang se-ons.
Untungnya, seseorang mengetuk pintu kamar dan mengatakan ada tamu yang ingin bertemu dengan Dewi.
.
Pada pukul sembilan malam, aku pergi ke minimarket untuk membeli vitamin. Tiba di sana, kerinduanku pada Hanin kian menjadi. Jadi teringat pertemuan ke dua kami. Kejadian itu terjadi di minimarket dekat kostannya Hanin.
__ADS_1
Kostan?
Tiba-tiba, muncul firasat jika Hanin ada di sana. Kata Listi, hubungan Hanin dan pemilik kost sangat dekat. Tanpa pikir panjang, akupun langsung ke sana.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di kostan tersebut, aku langsung kaget. Sebab, aku melihat pak Sabil.
...⚘️⚘️⚘️...
Saat Ini ....
"Pak, neng Daininya sudah tidur. Kasihan, Pak."
Kalau tidak salah, namanya bu Ratih. Beraninya dia melarangku untuk menemui istriku sendiri. Pak Sabil juga menyebalkan! Dia dan bu Ratih telah melakukan persekongkolan untuk menyembunyikan Hanin.
"Dia istriku, Bu! Aku berhak atas istriku!" teriakku.
"Pak, tolong dipikirkan lagi," bujuk pak Sabil.
"Tidak!"
"Sayang, buka pintunya!" Aku tidak sabaran. Tiba di pintu kamar kost Hanin, langsung mengetuk pintunya dan beteriak.
"Pak, jangan sampai mengganggu yang lain," kata bu Ratih. Dari dalam belum ada sahutan apapun.
"Baik, aku akan tenang. Tapi, Pak Sabil dan Bu Ratih harus pergi. Tidak perlu menemaniku. Ingat, masalah ini murni urusanku dan Hanin. Siapapun dilarang ikut campur tanpa seizinku."
"Tapi, Pak," sela bu Ratih.
"Bu, kita pergi saja." Pak Sabil menarik tangan bu Ratih. Bagus, mereka pergi juga.
"Assalamu'alaikuum. Sayang, ini aku. Cepat buka pintunya." Tetap tidak ada jawaban.
"Pak Zulfikar, ini." Pak Sabil datang dan membawa kunci duplikat.
"Kenapa tidak dari tadi? Ya sudah, karena membantuku mendapatkan kunci, Pak Sabil aku maafkan," bisikku.
"Sip, mainkan Pak," katanya.
"Doakan ya," pintaku.
"Pasti." Sambil berlalu dan mengangkat jempol.
Cepat-cepat membuka kunci karena sudah tidak sabar lagi. Jantungku berdegup. Dia menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.
"Sa-sayang." Belum berani mendekat. Hanya mematung.
"Jangan mendekat," katanya. Tapi, suaranya sangat pelan.
"Sayang, kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?"
"Kalau bilang, namanya bukan kabur," katanya. Sungguh, ia tidak seperti Hanin yang kukenal.
"Sayang, marah itu tidak baik untuk kesehatan. Bisa menyebabkan penuaan dini."
"Kata siapa?" Malah bertanya dan masih mengurung diri.
"Sayang."
Lama-lama, aku tidak sabar juga. Akhirnya menarik selimutnya. Lucunya, dia langsung bangun dan menyalamiku. Setelahnya, lanjut tiduran lagi.
__ADS_1
"Sayang, apa seperti ini caranya menyambut suami?" Aku naik ke tempat tidur dan memaksa memeluknya.
"Aku bahagia karena bisa menemukan kamu secepat ini. Terima kasih karena kamu tidak pergi terlalu jauh. Sayang, semua orang sangat khawatir. Kamu kenapa sayang?" Tidak menjawab. Malah menangis. Untuk saat ini, tidak ada hal lain yang ingin kulakukan kecuali memeluknya.
"Sayang, marah adalah hal yang normal dan bisa dialami oleh siapa saja termasuk oleh kamu ataupun aku. Jika alasan kamu marah karena aku berbuat kesalahan, memang sudah seharusnya kamu mengingatkan aku. Tapi, harus dilakukan dengan cara baik. Tutur katanya lemah lembut, tidak membentak atau menggunakan suara yang keras, tidak menyinggung perasaan suami, dan juga tidak dengan cara kabur dari rumah."
"Huuks." Terisak-isak.
"Sayang, cerita dong, apa kamu pergi karena sudah tidak mencintaiku lagi? Jawab Hanindiya." Sambil menangkup wajahnya. Rasanya, ingin kusesap bibir merahnya saat ini juga. Tapi, waktunya belum tepat.
"Sayang, membangun keluarga yang sakinah mawaddah warohmah itu menjadi tugas kita berdua. Aku tidak bisa berbuat banyak tanpa bantuan kamu. Begitupun sebaliknya." Lalu mengusap airmatanya dengan jemariku.
"Sayang, pria manapun pasti mendambakan sosok istri yang sempurna. Sebaliknya, seorang perempuanpun pasti memimpikan sosok suami yang sempurna. Tapi, kembali lagi pada fitrahnya manusia, kita harus menyadari jika kita membangun mahligai rumah tangga tujuannya adalah untuk saling menyempurnakan ketidak sempurnaan. Ya, 'kan?"
"A-aku tidak marah sama Bapak. Su-sungguh." Akhirnya, bicara juga.
"Lantas, kenapa kamu pergi tanpa seizinku, hmm? Aku yakin kamu pasti sudah tahu hukum seorang istri yang keluar rumah tanpa izin dari suaminya. Banyak yang menyatakan kalau hal itu termasuk ke dalam bentuk pembangkangan seorang istri terhadap sang suami. Apa kamu sudah berani jadi pembangkang?" Sambil menyatukan keningku dengan keningnya.
"Huuu."
"Jawab sayang. Jangan menangis terus. Aku butuh jawaban kamu, bukan tangisan kamu."
"Ma-maaf," lirihnya.
"Baik, aku maafkan. Sekarang, jawab lagi pertanyaanku. Jika kamu tidak marah, untuk apa kamu kabur? Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu dan calon bayi kita bagaimana?"
"Huuu, apa aku tidak boleh menangis? Apa aku harus tetap kuat dan sabar di setiap saat dan kesempatan? Apa di mata Anda aku adalah wanita sholehah yang sangat penyabar dan baik hati? Saat aku berbuat di luar kebiasaanku, apa Anda sangat kecewa?"
"Sayang, bukan seperti itu maksudnya." Aku mendekapnya erat.
"A-aku pergi karena ingin menyendiri sebentaaar saja, Pak. A-aku seperti ini karena merasa sangat bersalah. Aku berpikir jika aku adalah biang kerok dari semua masalah yang terjadi di keluarga Anda. Kematian pak Pratama Surawijaya membuatku semakin merasa bersalah. Belum lagi media yang tiada henti memfitnah dan menyudutkan aku. A-aku ---."
"Ssst," selaku. Menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan dilanjutkan sayang, aku tak sanggup mendengarnya. Aku mengerti apa yang kamu rasakan."
"Pak, sebenarnya ... perasaan bersalah ini telah menimbulkan trauma yang mendalam di dalam batinku. Perasaan ini seolah-olah telah menguasai hidupku."
"Sayang, kamu tidak salah."
"Rasa bersalah yang aku rasakan tidak kunjung hilang, Pak. A-aku harus bagaimana, Pak?"
"Sa-sayang." Akhirnya, aku membiarkan Hanin mengutarakan unek-uneknya.
"Ke-kenapa aku terus merasa terkurung dalam rasa bersalah ini? Sekarang, a-aku sudah tahu jawabannya, Pak."
"Kenapa sayang? Apa alasannya?"
"Karena, hingga detik ini ... bu Dewi tidak pernah benar-benar memaafkanku."
"Sayang, apa perasaan itu sangat menyiksa kamu? Apa bisa jika aku meminta sebagian rasa itu dari kamu? Dengan begitu, kamu tidak akan terlalu tersiksa."
"Pak Zulfikar, aku minta maaf." Malah minta maaf.
"Kamu tidak salah sayang. Untuk apa minta maaf?"
"Ma-maaf karena aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk Anda."
"Sayang ...."
Aku menciumi puncak kepalanya. Tanpa kusadari, kelopak mataku ternyata sudah basah. Segera kuusap. Jangan sampai Hanin tahu kalau aku baru saja menangis.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...