
"Tenang sayang, tak perlu takut."
Aku memegang tangannya. Telapak tangan Hanin yang lembut terasa dingin. Info dari mama yang mengatakan Dewi akan datang lumayan membuatku ketar-ketir. Tidak, aku tidak takut pada Dewi, yang aku takutkan adalah ... aku takut Dewi menyakiti Hanin dan membuatnya stres.
"Mas ... apa yang harus kulakukan?" tanyanya. Hanin memeluk erat lenganku, wajah cantiknya bahkan terlihat memucat.
"Sshhh, sayang ... semua akan baik-baik saja. Aku tahu kalau kamu kuat. Aku yakin jika kamu adalah wanita tangguh yang bisa menghadapi semua ini. Jangan sampai kekhawatiran kamu mempengaruhi tumbuh kembang calon bayi kita."
Aku memeluknya, lantas menciumi kening dan pipinya berulang-ulang. Bibirnya yang menggoda sengaja aku lewatkan. Sebab jika bibirnya kucium juga, urusannya bisa jadi tambah panjang.
"Apa tidak apa-apa kalau bu Dewi mengetahui kehamilanku? Apa Bapak tidak menyuruh pak Aksa dan bu Yuze untuk merahasiakan dulu kehamilanku dari bu Dewi? A-aku takut, Pak."
Hanin menatapku, karena ia terlihat ketakutan, bibirnya gemetar. Serius, ini membuatku tak fokus pada ucapannya. Aku malah fokus pada bibirnya. Kenapa wanita ini selalu terlihat memikat?
"Pak Zulfikar," panggilnya.
Karena aku melongo, Hanin menggoyang bahuku. Aku gelapan, kembali menciumi pipinya. Setelah memakai pelembab wajah, Hanin terbiasa memakai bedak tabur bayi. Jadi wajar kalau aku ketagihan menciumi pipinya.
"Ka-kamu bilang apa tadi sayang? Boleh diulangi lagi?" pintaku.
"Ya ampun, Pak." Hanin keheranan.
"Oh, yang masalah kehamilan kamu?" Aku jadi ingat. Hanin mengangguk.
"Aku rasa tak perlu disembunyikan lagi sayang. Lagi pula, mama dan papa juga harus memberi alasan pada Dewi. Mama dan papa pasti beralasan kalau mereka membawa kamu ke sini karena kamu hamil. Tidak apa-apa ya?"
"Ta-tapi aku takut, Pak."
"Aku janji akan menjaga kamu sayang, dirumah ini ada puluhan CCTV. Dewi pasti pikir-pikir lagi kalaupun mau menyakiti kamu. Oiya, kenapa kamu panggil 'bapak' lagi, sih?"
"Aku gugup, Pak. Mau ada bu Dewi juga. Tak apa-apa ya kalau untuk sementara waktu aku memanggil 'pak' lagi?"
"Ya sudah, boleh sayang. Kalau memang panggilan itu membuat kamu lebih nyaman dan tenang, aku izinkan."
"Terima kasih, Pak," katanya.
Ya ampun kaku sekali, Hanin masih memperlakukanku layaknya atasannya. Tapi tak apa, yang terpenting dia nyaman.
"Sekarang kamu mau mandi dulu atau langsung ganti baju?"
"Langsung mandi saja, Pak. Lagi pula sebentar lagi Asar, kan?"
Dia berdiri dan memeriksa kamar mandi. Di ambang pintu kamar mandi, Hanin kembali melongo.
"MasyaAllah, bagus sekali. Aku seperti berada di hotel bintang lima."
"Kamu suka?"
Aku memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalaku di tengkuknya sambil menatap ke dalam kamar mandi, pkiranku langsung traveling. Astaghfirullah.
"Koperku masih di dalam mobil, Pak," keluhnya seraya menggedikkan bahu.
"Kamu gunakan yang ada dulu sayang, biar aku yang ambil kopernya. Aku mau sekalian mengucapkan terima kasih sama mama karena sudah menyiapkan semua ini. Jadi, kamu aku tinggal dulu ya. Tak apa-apa 'kan sayang?"
Hanin menggangguk sambil tersenyum. Senyumannya manis sekali. Serius, senyuman itu membuatku ingin segera bersilaturahmi dengan bayi-bayiku. Benar kata mama, besok Hanin memang harus kontrol. Aku harus menanyakan pada dokter apakah kandungan Hanin sudah aman atau belum. Rindu berat ....
"Ya Pak silahkan, tapi jangan lama-lama ya. Setelah mandi, aku juga masih mau berkumpul sama ummi dan abah. Oiya Pak, rumahnya terlalu besar, kayaknya aku harus home touring dulu 'deh biar tak tersesat."
"Siap sayang, nanti akua jadi pemandnya. Aku pergi ya. Assalamu'alaikuum."
"Wa'alaikumussalaam, jangan lama-lama, Pak."
"Tidak akan, sayang," jawabku.
...🍒🍒🍒...
Di ruang tamu, abah dan papa beserta pak Ihsan masih asyik mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mereka tampak akrab. Tapi aku tak melihat ummi, mungkin sudah berada di kamar tamu.
"Mas," sapa abah saat ia melihatku melintas.
"Permisi, mau ambil koper punya Hanin," jelasku.
"Tadi sudah dibawa ke dalam sama pak Reza, Zul," kata papa.
"Oh ---." Kalimatku tercekal. Sebab mama tiba-tiba datang menuju ruang tamu dengan tergesa-gesa.
"Zul, Papa, Dewi sudah ada di garasi. Bagaimana ini? Mama agak bingung," seru mama.
"Dewi?" Papa mengerutkan dahinya. Abah dan pak Ihsan saling berpandangan.
"Tenang, biar nanti Papa yang menjelaskan pelan-pelan pada Dewi. Mama dan Zul sambut Dewinya ya. Semua ini sudah terlanjur terjadi. Kita memang harus menghadapi kenyataan ini."
"Tapi, Pa. Aku mau antar koper punya Hanin dulu," tolakku.
"Zul, jangan seperti itu, Dewi istri kamu," tegas papa.
"Ya Mas, tak baik seperti itu," sela abah.
"Ya, Zul! Kamu bagaimana 'sih?!" sentak mama. Kali ini sambil menjewer telingaku.
"Awh, sa-sakit, Ma. Baik, aku akan menyambutnya. Maaf," kataku. Lantas bergegas menyusul mama.
Di depan garasi, aku dan mama saling menatap. Mama sampai menutup mulutnya karena tercengang bercampur kaget. Akupun demikian, melongo, terheran-heran dan terkejut.
"Mas? Kamu di sini?" Dewi berlari mendekat dan memelukku. Seperti biasanya ia langsung mengecup bibirku, padahal di antara kita masih ada mama.
"Sa-sayang, kk-kamu ---." Mama masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Akupun kembali melongo.
"Hallo, Mama. Hehehe, bagaimana? Menantu Mama cantik, kan? Memangnya hanya si Daini doang yang bisa berjilbab? Aku juga bisa Ma," katanya sambil bersalaman dan memeluk mama.
"Alhamdulillah, Mama tidak sedang bermimpi 'kan sayang? Kamu semakin cantik dengan hijab kamu. Mama salut." Mama kembali memeluk Dewi. Sedangkan aku masih mematung.
"Mas, beri penilaian 'dong. Jangan diam saja." Mata Dewi mengerling ke arahku.
"Alhamdulillah, Mas senang kamu berhijab. Semoga istiqomah," kataku pelan.
Aku menghela napas dan berharap agar berhijabnya Dewi menjadi pertanda baik untuk hubungan kami dan sikap Dewi ke depannya. Ada satu hal yang kini aku rasakan. Walaupun Dewi berhijab, perasaanku pada Dewi ternyata tak berubah, tetap sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Ya sudah, kita ke dalam yuk sayang. Emm, di rumah Mama sedang ramai. Kamu jangan kaget ya, nanti akan Mama jelaskan."
Mama menuntun tangan Dewi. Aku menguntit dengan perasaan galau. Aku tak bisa membayangkan seperti apa respon Dewi saat ia tahu kalau Hanin dan keluarganya ada di rumah ini.
__ADS_1
"De-Dewi? Kamu memakai jilbab? Sejak kapan?" tanya Papa.
Di ruang tamu, papa teperangah. Semua mata kini tertuju pada sosok Dewi. Abah dan pak Ihsanpun menatap Dewi.
"Sejak hari ini, Pa. Aku berhijab karena terinspirasi dari pelakor. Hahaha," katanya. Papa menghela napas. Abah hanya tersenyum simpul saat mendengar ucapan Dewi.
"Karena kamu sudah di sini, yuk duduk dulu sayang, Mama dan Papa ada hal penting yang harus dibicarakan sama kamu," kata papa.
"Zul, kamu juga duduk," timpal mama.
"Baik." Akupun duduk di samping Dewi. Dewi langsung memeluk lenganku, kepalanya disandarkan di bahuku.
"Wi, jangan terlalu nempel, Mas gak nyaman," bisikku.
"I dont care. Oiya Mas, aku sudah selesai haid. Jadi, nanti malam kamu harus siap melayaniku tiga ronde," bisik Dewi.
"Apa?!" teriakku spontan. Hal ini membuat semuanya menatapku.
"Kamu kenapa, Zul? Heran 'deh." Mama terlihat kesal. Dewi malah terkikik.
"Ya sudah, sekarang kita langsung saja. Untuk Dewi silahkan minum dulu," kata papa. Setelah Dewi minum, papa bersiap melanjutkan penuturannya.
"Sayang, sebelumnya, Mama dan Papa minta maaf karena sudah mengambil keputusan ini tanpa sepengetahuan kamu." Papa menjeda kalimatanya. Mungkin sedang memilah kalimat yang tepat agar Dewi tak merasa tersinggung.
"Ada apa 'sih, Pa? Kok aku jadi berdebar-debar ya?" kata Dewi.
"Tenang saja, sayang." Mama memeluk Dewi. Aku terdiam. Bingung mau berkata apa.
"Jadi begini, itu yang ada di hadapan kamu, emm ... mereka adalah orang tuanya Daini," jelas papa dengan diakhiri helaan napas. Dewi terbengong-bengong.
"Yang memakai pakaian formal, itu pengacara keluarga Daini. Namanya pak Ihsan. Kebetulan, Pak Ihsan juga ingin berbicara sama kamu," tambah papa. Abah dan pak Ihsan hanya tersenyum dan menganggukan kepala saat mereka diperkenalkan oleh papa.
"A-apa? Ke-kenapa mereka ke sini?"
Dewi memalingkan wajah, napasnya naik-turun. Abah langsung menunduk saat melihat sikap Dewi. Sementara aku masih membisu.
"Daini hamil, Wi. Jadi Mama dan papa memutuskan untuk membawa Daini ke rumah ini," sela mama.
"Apa?!" Dewi terkejut.
"Mama dan Papa ingin memantau kehamilannya Daini. Kamu juga pastinya sudah tahu kalau Mama dan Papa telah menunggu kehadiran cucu selama delapan tahun lebih," tambah mama.
Cara bicara mama pada Dewi lebih lancar daripada papa. Mama seperti tak ada beban apapun saat mengutarakan kalimat itu.
"Ja-jadi perempuan itu ha-hamil?"
Dewi terlihat murung, napasnya berubah cepat. Ia lantas memegang dadanya dan berlari meninggalkan ruang tamu.
"Wi, sayang, tunggu." Mama menyusul. Papapun ikut menyusul dengan langkah cepat.
"Abah, Pak Ihsan, maaf ya, aku tinggal dulu." Mau tidak mau, aku memang harus menyusul Dewi.
"Ya Mas, silahkan, Abah doakan semoga semuanya baik-baik saja," kata abah.
"Terima kasih, Abah."
Akupun bergegas. Dewi berlari menuju kamar yang biasa aku gunakan bersamanya saat menginap di rumah ini. Kamarnya ada di lantai tiga. Sementara kamar yang disiapkan mama untuk aku dan Hanin ada di lantai satu. Dewi dan mama naik lift. Aku dan papa menyusul mereka menggunakan tangga darurat.
...🍒🍒🍒...
Kita sudah berada di dalam kamar. Aku mematung di sisi tempat tidur. Dewi menangis memeluk guling. Papa berdiri di sampingku. Mama ikut naik ke tempat tidur. Saat ini, mama sedang mengelus punggung Dewi.
"Sayang, maafkan Mama dan Papa ya. Mama dan Papa merasa jika ini adalah keputusan terbaik. Lagi pula, Zul juga tak mungkin menceraikan Daini, kan Daininya sedang hamil," kata mama.
"Ma, Pa, anak yang dikandung si Daini itu anak haram! Memangnya Mama dan Papa tak malu memiliki cucu di luar pernikahan?!"
"Wi! Kamu tak pantas bicara seperti itu! Aku dan Hanin sudah menikah! Anak Hanin bukan anak haram!" teriakku. Aku tak bisa diam saja. Menurutku, itu kalimat penghinaan.
"Mas mikir dong! Saat kamu tidur pertama kalinya sama dia, apa kalian sudah menikah?! Belum, kan?! Jadi, anak yang dikandung si Daini itu ANAK HARAM! Titik," teriaknya.
"Sayang, dengarkan dulu ya. Begini, Papa dan Mama sudah menelaah rekaman CCTVnya bersama pihak penyidik dan polisi. Mereka menyimpulkan kalau kejadian malam itu murni kelalaian. Dalam hal ini, disimpulkan tidak ada yang bisa disalahkan. Ini takdir," kata papa.
"Apa?! Papa bilang apa?! Takdir?! Hahaha, Papa dan Mama benar-benar sudah terpengaruh sama tipu-dayanya si Daini!" teriak Dewi sambil mengacak-acak bantal dan guling. Mama segera memeluk Dewi.
"Maaf sayang, kalaupun kamu berpendapat Daini mengandung anak haram, tapi Mama dan Papa tetaplah kakek dan neneknya anak tersebut. Mereka terlahir dalam keadaan suci. Mama dan Papa tetap akan menerima mereka," sela Mama. Papa memijat keningnya.
"Bisa-bisanya para polisi dan penyidik jadi bodoh gara-gara si Daini! Kenapa mereka menyimpulkan tidak ada yang bisa disalahkan?! Kenapa tak ada yang bisa menyelidiki mabuknya si Daini gara-gara apa?! Bisa saja 'kan dia pura-pura mabuk?!"
"Penyebab Daini mabuk sudah terbongkar," kata papa.
"Apa?!"
Aku dan Dewi terkejut. Ya, aku memang belum mengetahui hasil penyelidikan terbarunya. Pak Ikhwanpun belum memberi kabar apapun terkait perkembangan kasus itu.
"Begini Zul, Wi, ternyata ... saat meja makan berputar, gelas Daini dan salah satu karyawan tetukar. Pada malam itu, seorang staf dari divisi lain ternyata sengaja menaruh obat perangsang yang dicampur alkohol untuk suaminya."
"Suami si pelaku kebetulan adalah staf divisi mutu yang malam itu satu meja dengan Daini. Si istri sengaja menggunakan obat itu setelah ia tahu jika divisi mutu akan mendapat bonus menginap selama semalam," jelas papa.
"Apa? Ini tak masuk akal!" bantah Dewi.
Mendengar penjelasan papa, aku tersenyum lega. Alhamdulillah, ada titik terang.
"Apanya yang tidak akal masuk sayang?" tanya mama yang masih mencoba menenangkan Dewi.
"Aku akan meminta bantuan papiku agar melakukan penyelidikan ulang pada kasus ini! Dan perlu Mama dan Papa ketahui ya, sampai kapanpun, aku tidak akan merestui pernikahan Mas Zul dan si Daini menjadi pernikahan resmi!" tegasnya.
"Kalau itu keputusan kamu, Papa dan Mama tak akan memaksa. Itu hak kamu sayang. Tapi, Papa berencana akan merevisi salah satu poin di surat perjanjian pranikah kamu dan Zul."
"Maksud Papa apa?! Memangnya ada poin yang harus diperbaiki?! Bukannya itu sudah disepakati?!" Dewi bicara sambil mengatur napasnya.
Dewi sedang berusaha menenangkan dirinya. Aku jadi bersimpati, biar bagaimanapun, Dewi tetaplah istriku. Akupun mendekat, lalu memeluk Dewi agar dia lebih tenang.
"Poin yang perkara wanita lain dan poin tentang kontrak nikah sepuluh tahun. Itu yang ingin Papa revisi," jelas papa.
"Huuu," Dewi menangis di dadaku.
"Intinya, Papa keberatan kalau apa yang dilakukan oleh Zul dikategorikan sebagai tindak perselingkuhan ataupun penipuan. Di sini, kasusnya jelas kalau Zul menikahi Daini karena ingin bertanggung jawab," jelas papa. Mama diam saja.
"Jadi, Papa tidak ingin kasus Zul berubah menjadi kasus pidana. Kenapa demikian? Maaf, bukannya Papa membela Zul, tapi menurut Papa, dalam hal ini, Zul memang tidak bersalah," tambah papa.
"Huks, cukup Pa! Jangan dibahas lagi. Aku mengerti arah pembicaraan Papa. Intinya, Papa tidak mau dituntut oleh keluargaku, kan? Aku faham, Pa. Huks, kamu pecundang Mas! Kamu menggunakan papa kamu sebagai tameng. Mas pikir aku akan diam saja?! Aku juga bisa menggunakan kekuasaan papiku untuk membelaku," kata Dewi sambil mengusap airmatanya.
__ADS_1
"Wi, nanti Papa yang akan bicara sama papi kamu. Biarkan kami sesama para orang tua dan tim kuasa hukum yang bicara. Hemat Papa, kamu tak perlu ikut campur. Papa inginnya masalah ini tidak menimbulkan konflik antara papa dan papi kamu. Jika kita berkonflik, ada banyak hal yang harus kita korbankan."
"Papa pasti tak ingin perusahaan papa rugi, kan? Ya, aku sadar kalau pernikahan aku dan Mas Zul adalah pernikahan bisnis. Tapi tak seharusnya Papa dan Mama bersikap seperti itu terhadapku. Membawa si Daini ke rumah ini, itu berarti Mama dan Papa tak menghargai perasaanku lagi. Padahal, aku jelas-jelas merupakan pihak yang sangat tertindas."
"Hanya karena si Daini hamil, Mama dan Papa jadi memenantu emaskan si Daini, ini tidak adil! Aku tak terima!" ketusnya. Lalu melepaskan diri dari dekapannku dan berjalan menuju balkon kamar.
Awalnya, aku, Mama, dan Papa bisa saja. Kami hanya menghela napas dan saling berpandangan. Untungnya, aku segera menyadari sesuatu.
"Dewi! Jangan!" teriakku.
Aku berlari mengejarnya saat Dewi tiba-tiba membuka jendela kamar dan hendak menaiki pagar pembatas balkon. Mama dan papa terkejut.
"Dewi!" teriak mama.
"Tahan badannya Zul!" teriak papa yang berlari membantuku.
Aku memeluk Dewi kuat-kuat. Dewi meronta, satu kakinya sudah berada di atas pagar pembatas. Papa mengatur napas sambil membelalakan mata. Ya, papa pasti baru tahu kalau Dewi berani bertingkah senekad ini.
"Lepaskan aku Mas! Tak ada gunanya aku hidup kalau Papa dan Mama tak mendukungku! Huuu, silahkan Papa dan Mama menuduhku sebagai ratu drama! Aku tak peduli!" katanya sambil meronta.
"Astaghfirullah, Wi. Nyebut sayang," ratap mama sambil bersimpuh di lantai.
Dengan bantuan papa, aku akhirnya bisa menggagalkan Dewi. Papa terlihat shock. Setelah membantuku, papa duduk di sofa dan mengatur napasnya. Aku merebahkan Dewi di tempat tidur.
"Wi, maaf jika yang dilakukan mama dan papaku membuatmu terluka. Tapi yang kamu lakukan barusan sangat berbahaya. Seperti kata Papa, Papa akan membicarakan masalah ini dengan papi dan mami kamu secara baik-baik. Jadi, aku memohon agar kamu bisa menahan diri," lirihku.
"Huuu, a-aku tak sudi si Daini ada di rumah ini, Mas."
"Mama, ayo kita pergi," ajak papa.
Papa menarik tangan mama agar keluar dari kamar ini. Sebelum pergi, papa juga menutup dan mengunci jendela balkon.
"Terus kamu maunya seperti apa?" tanyaku saat mama dan papa sudah pergi.
Perlahan, aku juga meraih ponsel di sakuku untuk merekam pembicaraan Dewi. Ya benar, aku sedang mengumpulkan bukti-bukti.
"Huuks, aku bingung, Mas. Kalaupun aku meminta kamu menceraikan si Daini, kamunya pasti tidak mau, kan?"
"Ya, Wi. Aku tidak akan menceraikan Hanin, aku mencintainya."
"Sudah kuduga, kamu pasti akan mengatakan kalimat itu." Dewi membelakangiku.
"Lantas?" tanyaku.
"Aku belum bisa mengambil keputusan, Mas. Aku ingin tahu pendapat mami dan papiku dulu," katanya. Di mana si Daini? Aku mau bertemu." Dewi beranjak.
"Ada di kamar lantai satu. Kalau kamu ingin menyakitinya, lebih baik tak perlu menemuinya," cegahku.
"Jangan sembarangan menuduh, Mas. Aku hanya ingin bertemu," tegasnya sambil berlalu. Aku menyusulnya.
...🍒🍒🍒...
"Assalamu'alaikuum, sayang," panggilku sambil mengetuk pintu kamar.
"Kamu memanggilnya 'sayang?' Haish," katanya. Wajah kesalnya tampak jelas.
Pintu dibuka oleh Hanin, Dewi masuk ke kamar mendahuluiku. Hanin rupanya sudah selesai mandi. Ia mematung di sisi pintu kamar.
"Bu Dewi?" Wajah Hanin tiba-tiba sumringah saat menyadari kalau Dewi menggunakan hijab.
"Kenapa?" tanya Dewi.
"Alhamdulillaah, I-Ibu sudah hijrah? Aku turut bahagia," kata Hanin.
"Memangnya hanya kamu yang bisa berjilbab? Oiya, selamat ya atas kehamilannya. Aku juga turut bahagia atas kehamilan kamu," kata Dewi sambil merangkul Hanin. Aku terkejut atas sikap Dewi. Haninpun menatapku bingung saat Dewi memeluknya.
"Alhamdulillaah, qodarullah, Bu," jawab Hanin, pelan.
"Mulai hari ini, kamu jangan memanggilku 'ibu' lagi, panggil aku 'kakak.' Oke?"
"A-apa? Kakak?" Hanin kembali terpaku.
"Gak apa-apa, kan Mas kalau Daini memanggilku kakak?" Sekarang Dewi merangkulku.
"Ya, tidak apa-apa, kok. Aku setuju," jawabku.
Selesai aku bicara, Dewi tiba-tiba saja berjinjit dan memagut bibirku dengan gerakan cukup liar. Sejenak aku terkejut. Hanin langsung menunduk.
"Wi, ini di kamar Hanin! Kamu tak sopan melakukan ini di hadapan Hanin!" protesku.
"Hahaha, kamu tidak apa-apa 'kan kalau aku mencium suamiku sendiri?" tanyanya pada Hanin.
"I-iya, ti-tidak apa-apa Bu Dewi, ma-maksudku tidak apa-apa, Kak Dewi," jawab Hanin dalam keadaan masih menunduk.
"Oiya, kamar kamu lumayan bagus, boleh aku mencoba kasurnya?"
"Silahkan," jawab Hanin.
Setelah rebahan sejenak di tempat tidur, Dewi kemudian melihat-lihat isi lemari, kulkas, dan kamar mandi."
"Wi, kita sudah punya kamar masing-masing. Cepat pergi ke kamar kamu." Aku menarik tangannya.
"Oke, mari ke kamar kita. Hahaha, kamu sudah tak sabar ya mau e n a k - e n a k tiga ronde?" katanya.
"Dewi, kamu tak pantas membahas masalah itu di tempat ini, cepat keluar!" usirku.
"Oke, aku akan keluar kalau kamu juga keluar. Mas, dengar ya, bercinta denganku akan lebih nikmat daripada bercinta dengan ibu hamil yang ruang geraknya terbatas," ledeknya.
"Dewi! Diam!" teriakku. Segera menyeret Dewi keluar dari kamar. Dewi tertawa puas.
"Hanin, aku pergi dulu," kataku.
Hanin tak mengatakan apapun, dia hanya mengangguk. Sekilas, saat dia mengangkat kepalanya, aku melihat mata Hanin berkaca-kaca.
Maafkan aku sayang, lirihku dalam hati.
Lalu meninggalkannya dan tak menoleh lagi. Sikap Dewi benar-benar membuatku bingung. Tapi hari ini, setidaknya, mama dan papaku telah melihat langsung dengan mata mereka jika Dewi bersikap nekad dan tak bisa berpikir jernih.
Orang yang berpikir jernih tak mungkin mau bunuh diri, kan? Dewi Laksmi, sebenarnya ... ada denganmu? Kenapa kamu seperti itu?
Jikapun tindakannya hanya sebuah gertakan, perilaku tersebut tetaplah tak pantas dilakukan dan menurutku sudah termasuk ke dalam kategori perilaku menyimpang. Titik terang semakin bertambah.
__ADS_1
...~Tbc~...
...Jika berkenan, nyai tunggu komen dan votenya ya, terima kasih....