Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tragedi


__ADS_3

Ini adalah hari ke sepuluh aku dirawat di rumah sakit dan melewati berbagai macam proses dan terapi penyembuhan.


Aku juga telah menjalankan operasi timpanoplasti untuk memperbaiki gendang telingaku. Aku sudah lepas dari kursi roda. Sekarang bisa berjalan sendiri dengan menggunakan dua tongkat kruk penyangga.


Selama melewati proses itu, Hanin adalah orang yang paling setia menemaniku. Selain Hanin, ada juga bu Juju, Ipi, dan pengawal yang secara bergantian menjagaku. Namun, yang standby tetaplah Hanin.


Kak Gendis jarang menjengukku karena harus bekerja untuk menggantikan tugas papa. Mama juga tak menjenggukku karena harus menjaga papa. Namun, aku dan mama sering melakukan komunikasi melalui telepon dan VC.


Sementara Dewi, sejak seminggu yang lalu tak mengunjungiku karena ia sedang menjalani proses induksi ovulasi.


Induksi ovulasi adalah pemberian obat-obatan untuk merangsang ovulasi pada perempuan. Hal ini dilakukan sebagai terapi hormonal yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan dan pelepasan sel telur. 


Kata dokter, induksi ovulasi ini memerlukan waktu kurang lebih 1–2 minggu. Selama proses ini, Dewi harus mau menjalani USG transvaginal untuk memantau pertumbuhan sel telur dan tes darah untuk memastikan ketepatan kadar hormon estrogen dan progesteronnya. 


Sekitar 34–36 jam setelah suntikan hormon terakhir dan sebelum ovulasi, akan dilakukan proses pengambilan sel telur. Sebelum proses ini, dokter akan memberikan obat penenang dan anti nyeri pada Dewi untuk mengurangi rasa sakit yang muncul selama proses pengambilan sel telur tersebut.


Tahap selanjutnya barulah proses pengambilan spesimen s p e r m a, pembuahan, dan transfer embrio.


"Pak, mau ganti baju sekarang?"


Hanin menghampiriku sambil membawa pakaian baru. Saat ini, aku sedang berjemur sambil membuka jendela balkon rumah sakit setelah melakukan fisioterapi di tulang kaki dan punggungku.


"Mau, tapi mau digantinya sama kamu, apa boleh?"


"Boleh atuh, perasaan dari kemarin-kemarin juga da selalu aku yang ganti," katanya.


Semenjak berhasil mendadapatkan kontrakan yang sesuai dengan seleranya, Hanin jadi terlihat lebih bersemangat dari biasanya.


"Oiya sayang, sebelum ganti baju, aku mau mandi dulu. Antar aku ke kamar mandi ya," ajakku.


"Ya," jawabnya. Lalu membantu memegang tongkat krukku.


Sebenarnya, tanpa Haninpun, karena sudah tak diinfus, aku bisa ke kamar mandi sendiri, tapi karena ada Hanin, aku jadi sedikit manja.


"Bapak mau apa?"


Hanin kaget sebab saat ia membuka bajuku, tanganku juga usil membuka kancing baju miliknya.


"Rindu sayang, ini sudah lama sekali," gumamku.


"Pak, kaki Anda masih cidera. Jangan 'ah, beresiko," tolaknya.


"Ya ampun sayang. Lihat, aku sudah bisa berdiri tanpa tongkat kruk. Aku menghempas tongkatku. Lalu berdiri tegak tanpa tongkat.


"Pak, hati-hati!"


Hanin panik saat tubuhku mulai goyah. Ia spontan merangkul tubuhku.


"Maaf sayang."


"Kataku juga apa? Jangan macam-macam dulu," katanya. Ia lantas memapahku agar duduk di kursi khusus yang ada di kamar mandi.


"Rindu," gumamku lagi sambil menarik tubuhnya hingga terduduk di pangkuanku.


"Pak, jangan! Bahaya Pak." Ia meronta, tapi aku menahan pinggangnya.


"Ini tak membuat kaki atau punggungku sakit, aku merasa baik-baik saja sayang. Boleh ya?" bujukku seraya mengendusi tengkuknya.


"Ka-kata dokter juga tak boleh, Pak."


"Kata dokter yang mana? Aku tak ingat."


Karena terdorong oleh kerinduan yang menggebu, aku memeluknya erat-erat, lalu membuka jilbabnya.


"Pak ...."


Aku memaksanya agar menoleh ke wajahku. Setelah wajah kita berhadapan, aku lantas merenggut bibir manisnya. Jantungku bergemuruh, ini adalah adegan perdana setelah kita rujuk. Hangat dan wangi sekali, wanita ini benar-benar membuatku mabuk kepayang.


Haninpun mulai terpengaruh, lama terjalin, ia akhirnya membuka diri, pasrah dan tak menolak lagi. Bahkan mulai melenguh perlahan saat indra pengecapku bergerak nakal dan prontal. Tanganku juga tak tinggal diam. Menyibak dan meraihnya sesukaku.


"Pak Zulfikar, apa Anda di dalam kamar mandi?"


Sial. Itu suara suster. Beraninya dia mengganggu kesenanganku.


Hanin panik, ia cepat-cepat melepas tautan itu dan berlari menuju pintu.

__ADS_1


"Tu-tunggu, Sus. Aku sedang membantunya ganti baju," kata Hanin.


"Oh, ada Bu Daini? Kami kira Pak Zulfikar ke kamar mandi sendiri. Ya sudah, kami tinggal ya Bu," sahut suster.


"Ya Sus," sahut Hanin sambil menghelas napas. Dadanya naik turun karena gugup.


"Ayo lanjutkan sayang," ajakku.


"Ja-jangan sekarang, Pak. Aku tak tenang," tolaknya.


"Baik, tak apa-apa tidak sekarang. Tapi, saat spesimenku akan diambil untuk bayi tabung, kamu harus membantuku," candaku.


"Maksud Bapak?" Hanin jelas terkejut.


"Kata dokter, sampel spesimenku akan diambil setelah aku bermain secara mandiri. Jika aku tidak dapat melakukannya sendiri, maka spesimen itu akan diambil secara langsung menggunakan jarum suntik. Aku menolak prosedur itu. Aku takut disuntik sayang. Mau membantuku?" Padahal, aku hanya bercanda, tapi Hanin menanggapinya dengan serius.


"Kenapa harus aku, Pak? Kenapa tidak langsung dengan bu Dewi saja?"


"Sayang, Dewi sedang observasi, sebelum melewati proses inseminasi dan menerima transfer embrio, dia harus istirahat total. Jadi, aku ingin melakukannya bersama kamu."


"A-apa? Tidak bisa seperti itu, Pak. A-aku menolak!" tegasnya.


"Hahaha, aku bercanda sayang." Aku berdiri dan segera memeluknya agar marahnya tak berkelanjutan.


"Ish, aku kira Bapak serius," katanya. Lalu, tanpa aba-aba, ia bejinjit dan mengecup bibirku.


...⚘⚘⚘...


Tibalah hari ini di mana aku akan melewati proses pengambilan spesimen s p e r m a. Kondisku sudah pulih.


Lima hari yang lalu, aku telah diizinkan pulang dari rumah sakit. Tiga hari kemudian, aku bahkan sudah diizinkan bekerja lagi. Hanya saja, setiap bulan, aku harus kontrol ke poli klinik ortopedi dan THT.


Papaku juga rencananya akan pulang dari rumah besok lusa.


Hanin sudah sudah pindah ke kontarakan dua hari yang lalu. Namun aku belum mengizinkan dia tinggal di sana sebelum papa pulang. Jadi, yang pindahan baru barang-barangnya saja.


.


.


Aku malas berkomentar. Saat ini, aku sedang memikirkan tahap pengambilan spesimen. Kenapa aku memikirkannya? Karena aku takut tak berhasil melakukannya secara manual. Jika hal itu terjadi, otomatis dokter akan menyuntikku.


"Tidak Kak, sama sekali tidak," jawab Hanin.


"Aku malah yakin kalau kamu berdoa sepanjang malam agar program bayi tabungku gagal. Ya, kan?"


"Tidak Kak. Aku malah senang kalau bayi kembarku punya saudara. Aku selalu berdoa untuk kelancaran proses bayi tabung ini," kata Hanin.


"Halah, percuma aku bicara sama kamu! Pasti panda berkilah!" sentaknya.


"Wi, kita ada di rumah sakit. Jaga sikap dan emosi kamu. Kamu juga harusnya tak boleh stres dan marah-marah, kan?"


"Aku marah-marah karena muak meliahat wajah dia yang sok cantik dan sok suci!" sambil menunjuk pada Hanin.


Aku tak jadi memarahi Dewi karena dokter sudah datang.


"Pak Zulfikar, mari ke ruangan khusus. Oiya, Bu Daini juga harus ikut untuk membantu Pak Zulfikar," kata dokter sambil tersenyum.


"Bu Daini katamu?! Dok, kamu gila ya?! Aku Dewi! Bukan Daini! Aku istri sahnya!" teriak Dewi.


"Oh, ma-maaf Bu, maksud saya Bu Dewi," ralat dokter.


"Awas kalau kamu salah bicara lagi! Aku bisa melaporkan kamu dengan tuduhan lalai mengenali nama pasien!"


"Wi, sudah. Dokter tak sengaja. Jangan dipermalahkan ya."


Aku segera mendorong kursi rodanya untuk menuju ruangan pengambilan spesimen. Hanin melambaikan tangan sambil berkata ....


"Semoga berhasil," katanya.


...⚘⚘⚘...


Di ruang pengambilan spesimen. Aku dan Dewi kembali bertengkar. Dewi marah besar karena milikku malah tak mau diajak bekerja sama. Aku juga heran, padahal aku sudah memejamkan mata dan membayangkan sosok Hanin. Tapi tetap tak berhasil.


"Wi maaf, aku juga tak tahu kenapa jadi seperti ini. Mungkin, kita bisa melakukannya di lain waktu."

__ADS_1


"Tak bisa ditunda Mas! Ini gara-gara si Daini! Pasti dia memakai guna-guna agar program bayi tabung ini gagal! Dia pasti tak suka kalau aku hamil! Secara kalau aku hamil, anak dia akan terlantar!"


"Wi, Diam kamu! Jangan sembarangan menuduh dan asal bicara! Kamu juga harus tahu kalau aku akan memperlakukan anak-anakku baik itu anak dari kamu ataupun anak dari Hanin dengan cara yang seadil-adilnya," tegasku.


"Tapi buktinya kamu malah jadi lemah, Mas! Biasanya kamu tak seperti itu, kan?! Keperkasaan kamu hilang! Kamu sadar dong, Mas!" teriaknya.


"Aku yakin tidak akan lemah kalau Hanin yang melakukannya!" teriakku. Karena tersulut emosi, aku jadi salah bicara.


"Apa katamu?! Dasar gila kamu Mas!" Di luar dugaanku, Dewi berdiri dan langsung menamparku kuat.


'PLAK.'


"Wi, jangan kasar! Ayo kita coba lagi!" Berusaha tenang sambil memegang pipiku.


"Kamu gila, Mas! Kamu menyakiti perasaanku!"


Dengan gerakan cepat, Dewi mengambil jarum suntik yang ada di ruangan ini, membuka tutupnya dan mengarahkan ujung jarum yang cukup besar itu ke arahku.


"Wi, sadar! Sepertinya bukan aku yang gila, tapi kamu!" teriakku.


Aku benar-benar panik. Segera mencari celah untuk kabur atau menekan bel untuk meminta bantuan. Namun, karena ini bukan ruang perawatan, aku tak menemukan bel.


"Huuu ... tega sekali kamu menuduhku gila, Mas! Daripada dituduh gila ole suami sendiri, lebih baik aku mati!" teriaknya.


"Wi, jangan!"


Aku segera menanahan tangannya yang hendak menusukkan jarum ke dadanya sendiri sambil beteriak minta tolong.


"Tolooong! Tolooong! Dokter! Suster! Tolooong!" teriakku.


"Lepas, Mas!"


"Istighfar Wi! Istighfar!" Aku berusaha menenangkannya dan berharap agar bantuan segera datang.


"Aku mau mati, Mas! Aku cinta mati sama kamu, Mas!"


"Wi, Mas minta maaf, tolong jangan begini! Sadar, Wi! Sadar!" Aku kian panik karena jarum itu nyaris menyentuh dadanya.


"Huuu, apa kurangnya aku dari si Daini, Mas!?"


"Tidak, kamu tidak ada kekurangan, lepaskan jarumnya Wi. Kumohon."


Namun Dewi malah mengambil jarum lain dan menusuk lenganku. Entah jarum itu berisi obat apa. Aku jelas tak tahu. Karena kesakitan, akupun melepaskan Dewi dalam keadaan jarum suntik yang masih tertancap.


"Tolooong," sambil meringis, aku beteriak.


"Mas!"


Dewi memelukku, karena tanganku berdarah setelah jarum suntik yang menancap di lenganku tiba-tiba terjatuh ke lantai.


"Ada apa ini?" Syukurlah, bantuan tiba. Dokter dan suster terkejut.


"Kenapa jarum suntiknya berantakan?" Dokter keheranan. Namun aku tak bisa menjawab pertanyaan dokter karena tiba-tiba mengantuk.


"Cepat tolong suamiku, Dok!" teriakan Dewi masih bisa kudengar.


"Obat biusnya kenapa bisa ada di lantai? Isinya kosong, Dok. Saya yakin tadi masih ada isinya," ucap suster.


Lalu ... aku melupakan apapun.


...~Tbc~...


...|...


...|...


...|...


...|...


...|...


'Kalau komennya banyak, nyai mau mengintai dan up lagi. Kebetulan nyai lagi libur kerja.'


'Oiya, untuk muslimin muslimat, yuk setelah atau sebelum baca TBR baca surat Al-Kahfi atau yang biasa bacaYaasiin, Yaasiin-nan dulu. Atau baca surat apapun. Yang penting rutin, dan jangan melewatkan satu haripun tanpa membaca Al-Qur'an. Setuju apa setuju?'

__ADS_1


__ADS_2