Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Malam yang Berkesan


__ADS_3

Aku berlari dan tidak memedulikan luka bekas jahitan yang belum dibungkus. Aku menunggunya di depan toilet wanita. Tapi Listi tak kunjung kutemukan. Sepertinya, dugaan pak Haikal salah. Listi tidak ke kamar mandi. Dia pasti ke tempat lain. Toilet di sini tidak ada penjaganya dan terlihat sepi.


Akhirnya memutuskan untuk mengeceknya ke dalam. Benar saja, dari empat bilik yang disediakan, semuanya tidak ada penghuninya. Baru kali ini aku melakukan hal gila. Bayangkan, seorang pria memasuki toilet wanita.


Di depan toilet aku merenung. Setelah dipikir-pikir, kenapa juga aku harus mengejarnya? Toh, Listi tidak akan pergi ke mana-mana. Aku dan Listi juga pasti akan bertemu lagi. 'Kan, aku mau menginap di rumahnya.


"Hahaha." Tertawa sendiri. Mentertawakan kebodohanku.


.


Benar saja, saat aku kembali dari toilet, Listi sudah ada di ruang tunggu bersama pak Haikal, bu Mentari, dan dua orang pengunjung lain.


"A Abil, Listinya ternyata ke depan beli minuman. Maaf ya, Bapak salah kasih petunjuk."


"Tidak apa-apa, Pak." Sambil meliriknya. Dia cuek. Sedang meminum sesuatu dan mengalihkan pandangan ke televisi yang terletak di atas etalase.


"Aa, tunggu. 'Kok lukanya kayak begini, 'sih? Kayak belum selesai dijahit. Belum dibungkus pula. Ini dokternya bagaimana 'sih?" Bu Mentari menyadari sesuatu.


"Eh iya, ya. Bapak juga baru sadar."


"Bu, Bapak, aku yang salah. Aku akan menemui dokter lagi." Tidak ingin mereka salah sangka pada dokter, akupun bergegas ke dalam klinik. Mereka saling menatap. Pasti kebingungan dengan sikapku. Sebab, aku tidak menjelaskan apapun.


Di dalam, aku meminta maaf pada dokter yang tadi menangani. Lalu memintanya untuk menyelesaikan seluruh prosedur medis yang sempat tertunda. Selesai disuntik anti tetanus, aku diperbolehkan pulang. Saat aku menanyakan administrasinya, mereka mengatakan telah diurus oleh pak Haikal. Lanjut, kembali ke ruang tunggu.


.


"Sudah selesai semua A?" Senangnya dipanggil Aa sama bu Mentari.


"Sudah, Bu."


"Ya sudah, sekarang kita pulang yuk," ajak pak Haikal.


"Aku yang nyetir ya, Pak," kata Listi sambil berjalan mendahului.


"Tidak ah. Suasana hati kamu lagi enggak bagus kayaknya. Dari tadi Bapak lihat kamu manyun terus kayak kerucut."


"Ya, kamu kenapa 'sih sayang?" keluh bu Mentari. Aku diam saja.


"Ya ya, aku di belakang!" ketusnya. Ia segera masuk ke mobil dengan tergesa-gesa.


"Ck ck, anak gadis kita 'kok begitu ya, Pak? Perasaan, enggak ada anggun-anggunnya."


"Biarkan saja, Bu. Kayak enggak tahu Listi saja, nanti juga dia baik lagi 'kok."


"Maafkan sikap Listi ya A Abil," ucap bu Mentari.


"Tidak apa-apa Bu." Lalu masuk ke dalam mobil. Duduk di sampingnya dan memberi jarak.


"Aku mau ganti mobil yang kursinya tiga baris," ucap Listi tiba-tiba. Dia bicara seperti itu pasti karena tidak berkenan duduk di sampingku.


"Syukuri yang ada sayang. Masih mending kita punya mobil. Orang lain ada yang enggak bisa jalan karena tidak punya kaki," sahut bu Mentari.


"Issh, Ibu," gumamnya.


"Sudah, sudah. Kalau dilanjutkan, nanti kalian bertengkar lagi. A Abil, maaf ya. Hehehe." Kali ini giliran pak Haikal yang minta maaf.


"Tidak apa-apa. Aku suka dengan kehangatan keluarga ini," jawabku.


"Eh, sebentar, A Abil besok ngantor jam berapa?"


"Jam delapan, Bu. Kenapa?"


"Emm, Ibu tiba-tiba mau nonton film tentang polisi yang sedang viral. Boleh enggak kalau Bapak temani Ibu nonton?"


"Nonton? Lha, terus Listi sama A Abil?"


"Sayang, kamu sama A Abil pulang naik taksi mau enggak?"


"Bu, masa aku di rumah cuma berdua sama Pak Sabil? Enggak ah! Nanti digerebek tetangga lagi. Lebih baik aku juga ikut nonton. Biar Pak Sabil pulang sendiri saja."


"Bagaimana kalau aku juga ikut nonton? Apa Ibu dan Bapak berkenan? Kebetulan, aku juga belum nonton filmnya."


"Tak masalah. Tapi, apa A Abil enggak bakal kesiangan? Terus, Aa juga 'kan itu baru selesai dijahit?"


"Ini hanya luka kecil, Bu. Tak masalah."


"Ya sudah, berarti kita akan nonton sama-sama. Hehehe, senangnya." Bu Mentari terlihat bahagia. Pak Haikal senyum-senyum, dan akupun bahagia. Listi? Entahlah, dia tanpa ekspresi.


...⚘️⚘️⚘️...


Sampai juga di mall terdekat. Rencanaya, kita akan nonton pukul 22.30 WIB. Saat ini, kita sedang menaiki eskalator. Jujur, malam ini, aku sangat bahagia. Setelah melewati berbagai ketegangan karena permasalahan yang terjadi antara keluarga Antasena dan mendiang pak Surawijaya, akhirnya bisa melewati momen baik ini.


Aku tidak memikirkan hari esok yang sebenarnya padat dengan jadwal. Dari mulai jadwal pertemuan dengan forensik untuk laporan autopsi pak Surawijaya, jejak pendapat, penelusuran kasus, laporan harian, laporan kasus terbaru, rapat khusus, rapat anggota, dan lain-lain.


Tiba juga di theater room. Di mall ini tidak tersedia velvet class. Yang tersedia hanya starium dan realID 3D. Jadi, kami hanya bisa menikmati realID 3D.


"Aku yang bayar, boleh? Ini sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Bapak-Ibu."


"Jangan Aa, A Abil tamu kami, tamu adalah raja," tolak bapak. Bu Mentari sedang sibuk foto-foto dengan latar cover film. Listi yang jadi kamerawatinya.


"Bu, sudah ih, kayak enggak pernah ke bioskop saja, deh," keluh Listi. Aku mau tertawa mendengarnya.


"Buat dibikin status sayang. Ibu 'kan ibu-ibu masa kini. Enggak apa-apa kali sesekali update. Yang penting tidak merugikan orang lain." Sambil berganti gaya.


"Ya ampun Ibu, ishh."


"Sekarang Ibu mau foto berdua sama kamu."


"Enggak mau, Bu."


"A Abil, maaf, apa mau fotoin?" Bu Mentari minta bantun. Dengan senang hati, aku langsung mendekat, pak Haikalpun menyusul.


"Senyuuum," seruku. Yang senyum hanya bu Mentari, Listi kayak foto KTP. Padahal, ia sudah dirangkul sama ibunya.


"Bapak juga ikut kita." Bu Mentari melambai pada pak Haikal.


"Apa? Ya ampun, tapi ... baiklah."


Biarpun tampak malas, pak Haikal tetap patuh. Definisi suami takut istri. Jadilah mereka foto keluarga. Aku kameramennya. Hasilnya memukau. Setiap mengecek, aku fokus pada Listi. Walau tanpa ekspresi, dia tetap cantik dan fotogenik.


"Tunggu, apa Aa mau foto bareng kami?" tanya bu Mentari.


"Emm," sedikit bingung, mau 'sih, tapi, Listi pasti tidak suka.


"Ibu, apa-apaan 'sih. Enggak perlu kali, Bu. Benar saja. Listi langsung menjauh. Ia pergi ke tempat popcorn. Aku menunduk, tiba-tiba merasa sangat tidak dipedulikan sama Listi.


"Aa, kalau Aa yakin suka sama Listi, kejar dia A. Bapak dan Ibu mau nonton di studio yang lain." Pak Haikal menepuk bahuku.


"Ya Aa, Ibu mengerti perasaan Aa. Maaf ya, Listi memang seperti itu. Semua tergantung A Abil. Kalau mau lanjut memperjuangkan anak Ibu ya silahkan, kalau mau menyerah juga tidak apa-apa."


"La-lanjut, Bu. Terima kasih atas dukungan Bapak dan Ibu."

__ADS_1


"Ya sudah, Bapak mau beli tiket dulu. Tiket untuk Ibu dan Bapak. A Abil silahkan kondisikan sendiri ya. Gunakan kesempatan ini untuk menaklukan anak gadis Bapak. Hehehe, semangat A Abil." Sambil mengangkat tangannya dan membuat gerakan seruan kemerdekaan.


"Baik, Pak."


Semangatku kembali menggebu. Masa ya aku patah semangat? Aku kemudian menatap mereka yang pergi dengan mesranya. Bergandengan tangan dan saling merangkul bak anak muda yang sedang dimabuk cinta.


.


"Pakai ini."


Aku menyodorkan kartuku pada kasir saat Listi hendak membayar minuman yang ia pesan. Listi hanya bisa mendelik. Ia tidak protes. Mungkin, karena di sini banyak orang.


"Tambah satu minuman lagi. Sama dua cup medium popcorn," lanjutku.


"Baik, Kak," jawab kasir.


"Sini, aku bantu!" kata Listi. Dia merebut satu cup popcorn yang kupegang.


"Itu memang untuk kamu. Jadi mau nonton? Ibu dan Bapak terpisah dari kita," jelasku.


"Apa?! Ishh, dasar! Mereka benar-benar ya!" tampak kesal.


"Ya sudah, mau kamu seperti apa? Tetap nonton, atau kita ngobrol di kafe?"


"Ya sudah, nonton saja. Tapi, aku enggak mau film itu. Aku lebih suka film Barat yang berbau action atau komedi. Paling suka sama science fiction," jelasnya.


"Hobi kita sama. Kamu yang pilih filmnya. Aku ikut."


"Anda saja yang pilih."


"Kamu saja."


"Pak Sabil saja."


"Baik, aku mau yang itu."


Menunjuk ke poster. Daripada berdebat, lebih baik mengalah. Ada baiknya menyuruhku memilih. Jadi, aku bisa memilih romantic action yang ratenya dua puluh satu plus.


"Yang itu?" Dia agak ragu.


"Makanya, kamu yang pilih atuh. Sok mangga, mau yang mana?" Sesekali menggunakan bahasa Sunda.


"Ya sudah, yang itu saja."


"Baik. Yuk!" Aku hendak memegang tangannya. Namun, ia menolak. Oke, tak masalah.


Yang tersisa hanya kursi paling depan dan belakang bagian tengah.


"Mau di mana? Sekarang kamu yang pilih," bisikku pelan.


"Emm, di sini saja." Dia memilih yang tengah paling belakang.


"Kalau terlalu depan, lehernya bisa agak pegal." Ia menjelaskan alasannya. Padahal, aku tidak bertanya.


Mayoritas penonton film ini ternyata adalah pasangan muda-mudi. Aku menyadari hal itu saat mengantri di pintu masuk studio.


...⚘️⚘️⚘️...


Akhirnya, aku dan Listi bisa duduk bersebelahan. Belum apa-apa, aku sudah tidak tenang. Jujur, ini pengalaman pertamaku nonton bersama seorang gadis yang aku sukai. Untuk mengurangi kegugupan, akupun makan popcorn. Sama denganku, Listi juga makan popcorn.


"Maaf. Aduh maaf ya, Mbak."


Seseorang yang melewati Listi tidak sengaja menyenggol cup popcorn milik Listi hingga jatuh dan berantakan. Listi melongo, belum berkomentar.


"Enggak apa-apa, tidak usah diganti," jawab Listi.


"Terima kasih, Mbak." Lanjut menuju kursi mereka.


"Kita bisa berbagi popocorn. Apa perlu aku beli lagi?" tanyaku. Dia menggeleng, lalu fokus ke layar karena lampu sudah dimatikan dan prolog film telah ditayangkan.


"Ehhm ...."


Belum apa-apa, film itu sudah menampilkan adegan deep kiss. Aku memalingkan wajah menatap Listi. Dia tetap menonton dengan cara mengintip di balik jemarinya.


"Tak perlu dihalangi, sudah kelihatan bukan?" Aku iseng menarik tangannya.


"Issh," keluhnya. Tapi ia tidak marah.


Adegan selanjutnya adalah konflik. Film ini menceritakan tentang kisah mantan seorang istri mafia yang berjuang mati-matian untuk mendapatkan hak asuh anak pasca perceraiannya dengan mafia tersebut.


'Grep.'


Saat hendak mengambil popcorn. Aku tak sengaja memegang tangan Listi yang juga hendak mengambil popcorn. Aku terkejut, namun segera menggunakan kesempatan ini untuk memegang tangannya.


"Lepas," bisiknya.


"Tidak bisa," bisikku.


"Jangan iseng ya, Pak."


"Baik, akan aku lepaskan, tapi ada syaratnya." Sambil menarik tangannya hingga bahunya menempel ke bahuku.


"Syarat apa?"


Dia menoleh. Bersamaan denganku yang juga menoleh ke arahnya. Sontak, kita saling menatap dengan jarak yang cukup dekat. Listi melongo, akupun demikian. Rasanya, bibirnya yang penuh itu sedang menggodaku untuk dimanjakan. Tidak, aku harus tahan.


"Jreng. Brak."


Musikalitas dari film itu mengagetkan dan membuyarankan semuanya. Akhirnya, aku dan Listi kembali fokus ke film. Saat ini, sedang adegan pertarungan antara mantan istri mafia dan para pengawal mantan suaminya. Si mafia menonton sepak terjang mantan istrinya melalui CCTV. Filmnya cukup seru.


"OMG," gumam Listi.


Ia terlihat bersedih saat pemeran utama wanita melihat kebersamaan anak yang tidak mengenalinya sedang bercengkrama dengan seorang wanita yang ia duga sebagai kekasih mantan suaminya. Puncaknya, Listi menangis saat pemeran utama wanita disiksa oleh anak buah mantan suaminya.


"Silahkan kalian membunuhku, tapi tolong izinkan aku bertemu dan memeluk anakku dulu." Itu yang dikatakan wanita itu.


"Huks."


Listi terisak. Ia menangis ketika melihat adegan si pemeran wanita berhasil ditangkap dan bersujud di kaki mantan suaminya demi mendapat izin bertemu dengan anaknya.


"Sshh, ini hanya film." Spontan membelai rambutnya.


"Baik, aku beri satu kesempatan kamu bisa bertemu anak kita. Tapi, tolong layani aku dulu. Aku merindukan k e j a l a n g a n mu saat di atas ranjang." Seperti itulah translate yang kubaca di layar.


"Jangan mau! Dia penjahat kelamin!" oceh Listi. Dia terlihat kesal.


"Tebak-tebakan yuk! Mau enggak ceweknya diajak begituan?" bisikku.


"Ya pasti enggak mau 'lah. Mereka 'kan bukan suami istri lagi."


"Hehehe, ini film Barat, sayang. Mereka bebas melakukan itu tanpa ikatan." Tak sadar memanggilnya sayang.

__ADS_1


"Pak Sabil bilang apa tadi?"


"Sayang," kuperjelas.


"Dasar pria, memang kayak begitu ya kalau polisi? Gampang memanggil sayang, gampang juga merayu wanita. Bagaimana, apa kalian sudah bertukar nomor HP?!" ketusnya. Wah, ternyata, Listi masih ingat dengan kejadian di klinik.


"Kamu cemburu?" Aku merangkul bahunya erat-erat. Lalu mencekal tangannya.


"Le-lepas, si-siapa yang cemburu?" A-apa hakku cemburu sama Anda!" Suaranya sedikit gemetaran.


"Kalau tidak cemburu, kenapa harus marah, hmm?"


"A-aku tidak marah!" sangkalnya.


"Baik, mari kita buktikan. Kalau kamu berkedip terlebih dahulu, itu artinya kamu berbohong." Aku menangkup pipinya, lalu menghadapkan wajahnya ka arahku. Kemudian menatapnya dalam-dalam.


Listi terkejut. Lucunya, ia termakan leluconku. Matanya spontan dibuka lebar. Segera kuladeni. Menatapnya, tersenyum semanis mungkin sambil memainkan alisku. Intinya, aku sedang tebar pesona.


"Pak Sabil curang, ma-masa alisnya begerak-gerak?" protesnya.


"Silahkan lakukan seperti yang kulakukan. Aku yakin kamu tidak akan bisa," tantangku. Ia mengatupkan bibirnya, sudut matanya mulai gemetar, sepertinya ... aku akan menang. Yes!


"Kamu hampir kalah, kamu juga kalah taruhan." Sambil menunjuk ke layar, mata tetap fokus pada Listi. Listi melirik ke layar.


"Sial," gumamnya. Pipinya merona. Sebab, si pemeran wanita menyepakati permintaan mantan suaminya.


"Matamu berair," aku mengusap pelan sudut matanya. Bersamaan dengan itu, Listi berkedip.


"Kamu kalah." Aku tersenyum puas.


"Pak Sabil curang! Kenapa mengusap mataku?!" Cemberut.


"Fix. Berarti, kamu cemburu. Maknanya, kamu telah menyukaiku," bisikku. Entah ada bisikan dari mana, aku tiba-tiba mengecup pipinya.


'Cup.'


"P-Pak ---."


"Maaf. I love you," bisikku. Dia menghela napas. Hatiku berbunga-bunga. Sebab, Listi tidak menolak saat aku menautkan jemariku pada jemarinya.


"I love you," bisikku lagi. Lalu mengecup punggung tangannya dengan sepenuh hati.


...⚘️⚘️⚘️...


Warning!!! Adult Area!!!


______________________


Daini Hanindiya Putri Sadikin


Aku telah meminta maaf dengan setulus-tulusnya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Tadi, aku sudah mencium tangannya sambil menangis.


"Jangan lakukan lagi ya sayang, aku bisa mati berdiri kalau sampai tidak menemukan kamu."


"Maaf, a-aku menyesal. A-aku hanya manusia biasa, Pak."


"Ya sayang, aku tahu. Oiya, jika kamu kurang nyaman tinggal bersama mama-papaku, setelah acara tujuh bulanan, kita pindah ke apartemen ya. Mau?"


"Ya, Pak. Ma-mau."


"Aku sudah membeli dua unit di lantai dasar. Jadi, kamu tidak perlu takut dengan ketinggian lagi. Aku juga sudah membeli lahan terbuka hijau yang bisa kamu gunakan untuk bercocok tanam."


"Terima kasih, Pak. Pasti mahal."


"Hanin, kamu adalah hartaku yang sesungguhnya. Jadi, wajar kalau aku rela melakukan apapun demi menjaga hartaku." Ia lalu bangkit dan memeriksa kolong ranjang.


"Ke-kenapa, Pak? Di di sini tidak ada kecoa, 'kok. Kostan ini bersih." Akupun bangun dan memperhatikan ulahnya. Sekarang, ia sedang mengecak kaki ranjang.


"Aku harus memastikan kekuatan ranjang ini."


"Hahh? Kekuatan ranjang? U-untuk apa, Pak?"


"Untuk menghukum kamu." Lalu berdiri dan membuka kemejanya.


"A-apa?!" Aku mengerjapkan mata. Apa dia serius?


"Pak, A-Anda hanya menggertakku, 'kan?"


"Menggertak? Hahaha, aku serius ingin menghukummu," sambil terbahak-bahak.


"Pak, di sebelah a-ada penghuni lain." Aku beringsut sambil menarik selimut.


"Ranjangnya sepertinya kuat, 'kok," gumamnya. Mendekat. Menarik selimutku.


"Pak ---."


"Ssst." Dia mengurungku, mengusap bibirku. Sementara tangan yang lainnya merayap untuk menarik sesuatu yang melekat di tubuhku.


"Me-memangnya ada hukuman seperti ini?"


"Ada, aku terinspirasi dari novel."


"Anda suka baca novel?"


"Tidak, aku juga katanya. Kak Gendis pernah cerita." Dia membantuku memiringkan tubuh.


"Hukuman akan segera dimulai," bisiknya.


Lantas, ia mengecupi area tengkuk, leher, dan punggunggku hingga ke bagian panggul. Aku memejamkan mata seraya membekap bibirku. Rasa panas dingin mulai menyerang. Napasku tidak beraturan, dan tangan ini perlahan meraihnya.


"Jangan beteriak ya sayang," bisiknya.


"A-Anda juga jangan gaduh, Pak."


"Aku tidak bisa janji sayang, tapi ... akan kuusahakan sesantai mungkin." Sambil memandangi sekujur tubuhku dengan tatapan yang dipenuhi kabut gairah. Aku mengatur napas guna mempersiapkan diri untuk melayaninya.


.


Pada praktiknya, aku terpaksa membekap bibirnya agar dia tidak bersuara dan menimbulkan kegaduhan. Sesekali, aku dan pak Zulfikarpun tertawa kecil. Kenapa demikian? Sebab, ranjang yang kami tempati mengeluarkan bunyi yang terdengar lucu.


"Sa-sayang, a-aku takut ranjangnya roboh."


"Bu-bukankah Anda sudah mengeceknya?"


"Aku tidak yakin."


"Sudahi saja," bisikku.


"Ti-tidak bisa, sayang .... Lebih baik aku mengganti ranjangnya daripada harus mengakhiri kenikmatan ini."


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2