Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Hati yang Sulit Difahami


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


"P-Pak, tolong pikirkan lagi, haruskah kita mengulanginya?" Aku yang ketakutan memberanikan diri menatap wajahnya. Aku mengiba, memohon agar dia mengurungkan niatnya.


Tapi dia seolah tak mendengar ucapanku, malah mengelus lembut bibirku dengan jemarinya. Dia mengurungku, tubuhnya mengekangku hingga sulit begerak.


"Hanin, aku yakin kamu tahu tentang ini, jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi istrinya tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka istrinya akan mendapatkan laknat para Malaikat sampai Subuh. Kamu tahu itu, kan?" bisiknya seraya menciumi telinga dan leherku. Aku tak mengira jika dia akan selancang ini.


Aku ingin beteriak dan meminta pertolongan abah atau ummi, tapi ... itu mustahil kulakukan.


"Ja-jawab Hanin," katanya.


"I-iya Pak ... a-aku tahu itu," aku mengiyakan dengan air mata yang terus bederai.


Memang banyak sekali hal yang dapat dilakukan pasangan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah meskipun mewujudkannya tidak semudah mengedipkan mata. Salah satu caranya yaitu dengan saling membahagiakan satu sama lain, termasuk memenuhi kebutuhan secara lahir dan batin.


Memenuhi kebutuhan secara lahir dan batin di sini salah satunya adalah memuaskan hasrat suami ataupun istri. Aku tahu ini merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, juga akan bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat yang baik. Tapi, bisakah itu dilakukan oleh pasangan yang tidak saling mencintai?


Sungguh, aku dilema. Antara menerima atau harus menolaknya. Aku juga bingung dengan sikapnya. Dia memperlakukanku seperti ini, apakah karena cinta? Ataukah karena na*su semata?


Aku yakin ini bukan cinta. Apasih yang bisa diharapkan dari seorang Daini? Aku hanya wanita serba kekurangan yang bahkan sulit bergaul dan memiliki teman. Sedangkan bu Dewi, selain cantik dan berpendidikan tinggi, dia juga putri seorang konglomerat.


Aku terperanjat, Pak Zul, membersihkan airmataku dengan bibirnya. Bibirnya menyapu kelopak mataku.


"Hanin, apa aku tidak pantas, jika ingin menjadi imammu?" tanyanya.


Sebuah pertanyaan yang membuat batinku seolah tersayat sembilu. Jika dia mengatakan itu, apakah Pak Zul menyimpan sedikit rasa cinta untukku?


Jujur, saat aku menatap wajahnya, selalu ada debaran rasa yang aku sendiri tidak bisa memahaminya. Tidak, aku tidak bisa mengatakan jika aku mencintainya. Sebab sedari awal, aku telah sadar diri jika pria ini bukanlah milikku.


"Bukan Anda yang tidak pantas, tapi aku Pak .... Aku tidak pantas menjadi istri Anda, huuks," lirihku sembari terisak.


"Ke-kenapa, hmm?" tanyanya. Sedangkan kepalanya terus menelusup di tulang selangkaku. Aku sungguh malu, tubuhku gemetar, pipiku panas.


"Hanin ...."


Dia tiba-tiba mendekapku. Sekarang kepalaku yang menelusup di dada polosnya. Bibirku bahkan menyentuh kulit dadanya. Aku bergeming karena terkesima. Aku bisa mendengar degup jantungnya, aku mencium aroma tubuhnya.


Tidaaak, batinku menjerit.


Apa aku pelakor?


Dada bidang ini pasti sering disentuh oleh bu Dewi. Bibirnya yang manis itu, pasti sering dirasakan juga oleh bu Dewi. Beraninya pria ini membagi tubuhnya untuk dua orang wanita tanpa merasa bersalah. Aku jadi salut pada wanita di luaran sana yang ikhlas berbagi suami dengan beberapa orang wanita.


"Pak, jangan seperti ini, a-aku tidak mau," tolakku. Lalu memalingkan wajah dari dadanya.


"Ta-tapi aku mau kamu, Hanin," katanya. Tangan pria ini benar-benar menelusup ke dalam piyamaku. Aku menggelinjang, ingin melawannya, tapi ... dia suamiku.


Mengutif dari sebuah hadits, abah pernah berkata, "Siapa saja perempuan yang meninggal dunia sedang suaminya ridha terhadapnya, maka pastilah ia masuk Surga."


Merujuk hadits yang dijelaskan itu, jadi pada dasarnya seorang istri harus menuruti ajakan suami untuk tidur bersama, apalagi bila tidak ada uzur syar'i yang dialami sang istri.


Berarti, sendainya aku meninggal dunia di malam ini, mungkin ... Yang Maha Kuasa akan mengampuniku.


Maafkan aku bu Dewi, aku tidak bermaksud merebut suamimu. Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku, rintihku dalam hati saat aku memenjamkan dan tak menolak kala Pak Zulfikar memagut kembali bibirku.

__ADS_1


Pria ini membuaiku, dia seolah begitu memujaku. Padahal, dia pasti melakukan ini hanya karena n a f s u. Aku yakin dia sedang merindukan bu Dewi, namun melampiaskannya kepadaku.


"MasyaaAllah, kamu cantik, kamu indah sekali Hanindiya," gumamnya.


Dia menatap nanar sekujur tubuhku. Aku diam saja. Aku menangis tanpa henti, tapi aku patuh saat dia merayu, mengajak dan membimbingku melakukan banyak hal untuk memuaskan hasratnya. Malam ini ... aku laksana budaknya.


Lalu tanpa bisa kutolak, dia juga memanjakan tubuhku dengan segenap hal yang membuatku malu hingga ubun-ubun. Dia begitu handal, sedangkan aku ... aku amatiran. Aku menahan terjangan rasa aneh yang luar biasa itu di sela isak dan tangisku. Aku terus menutup wajahku karena teramat malu dan merasa bersalah.


"Ha-Hanin, ja-jangan menangis lagi, kita tidak berdosa, kita halal melakukan ini," bisiknya. Lalu ia membungkam bibirku saat aku hendak menjerit karena sakit.


"Sa-sakit?" tanyanya, berbisik. Aku mengangguk.


"Sa-sabar ya," lirihnya. Sambil membelai pipiku, dan menatapku dalam keheningan sesaat. Sepintas kulihat matanya berkaca-kaca.


"Ha-Hanin, jika apa yang kita lakukan termasuk perbuatan dosa, kamu tidak perlu takut, biarlah a-aku sendiri yang akan menanggung dosa ini."


"Ha-Hanin ...."


"Hanin ...."


"Hanin ...."


Saat ini, ia berulang kali menyebut namaku, aku membekap mulutku sendiri agar tidak bersuara. Sungguh, aku tidak ingin dia mengira jika aku menikmatinya. Tidak, aku tidak boleh bersuara. Kalau perlu, akan kugigit bibir hingga terluka.


Sementara dia, dia benar-benar buaya. Dia seakan lupa jika aku adalah madu yang tak pernah diharapkannya. Hatiku sakit saat aku sadar kalau aku hanyalah istri siri yang dimanfaatkan untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya.


Dia melenguh dan mengerang tanpa ragu, urat malunya mungkin sudah putus. Suara Pak Zulfikar membuat bulu romaku merinding. Sempat terbesit di benakku, apa suara dia terdengar keluar?


Spontan tangan ini membekap bibirnya. Maksudnya agar dia tak terlalu berisik. Tapi dia malah mengecupi, menciumi, dan mencumbui jemari dan telapak tanganku.


"Pe-pelan-pelan," lirihku.


"I-ini sudah pe-pelan Hanin, nanti juga akan cepat pada waktunya," katanya seraya mengulum senyum. Berani sekali dia tersenyum di saat seperti ini. Entah apa yang dia maksud. Aku sungguh tak mengerti.


"Ma-maksudku ... pe-pelankan su-suara Anda," cicitku.


"O-oke," dia mengangguk dan tersenyum lagi. Wajahnya merona. Mungkin baru sadar kalau kamarku tidak kedap suara.


Di luaran sana mungkin pabalatak (bececeran) pria yang seperti dia. Pura-pura baik di depan istri atau anaknya, namun di luar rumah berubah menjadi pria hidung belang. Mereka menyewa PSK, berkedok nikah siri seperti ini, atau ada juga yang bernaung di balik kata nikah kontrak yang sengaja dilakukan demi uang untuk pihak wanita dan demi syahwat untuk pihak si pria. Naudzubillahimindzalik.


Lalu dengan bodohnya aku tiba-tiba berharap agar pria yang tengah menikmati tubuhku ini bukan termasuk pria yang seperti itu. Tak sadar, tangan ini membelai rambutnya. Bibirku bahkan tak sengaja men de sah. Maaf, aku tidak bisa mengendalikannya. Tubuhku ini seolah bukan milikku lagi. Aku kalah, aku lemah, aku wanita munafik yang tak tahu malu.


Bu Dewi ..., aku berjanji, di setiap sujudku, aku akan mendoakan kebaikan untukmu dan keluargamu. Maafkan aku bu Dewi ... maaf ... maaf ... maaf.


...***...


Pagi harinya, setelah sarapan, dia berpamitan padaku, pada ummi dan juga abah untuk pergi ke proyek dan langsung pulang ke Jakarta setelah urusannya selesai.


Aku memberanikan diri memakaikan dasi untuknya. Aku berjinjit.


Makan apa dia ya? Kenapa tinggi sekali?


"Susah ya?" Di luar dugaan, dia tiba-tiba berlutut. Aku juga spontan berlutut tanpa menatapnya.


"Hanin, rambut kamu masih basah, buka ya." Dia membuka jilbabku. Aku diam saja, tidak menolak ataupun mengiyakan.

__ADS_1


"Maaf, kita tidak bisa pulang bersama. Tadi, Dewi kirim pesan mau menyusulku ke proyek. Kamu tidak apa-apakan?" Aku mengangguk.


"Emm, ingat, kamu jangan naik bus, naik taksi saja ya. Aku sudah menyimpan uang tunai di laci itu untuk semua keperluanmu hari ini." Pantas saja, tadi Subuh dia meminta bantuan mang Hendra untuk mengantarnya ke ATM.


"Hanin."


"Ya," sahutku.


"Kamu jangan kost di situ lagi, kamu harus pindah ke apartemen, nanti akan kusiapkan semuanya."


"Pak, aku mau ngekost saja. Tolong jangan terlalu mengaturku hanya karena kita sudah tidur bersama," tolakku.


"Hanin, ini tidak ada hubungannya dengan kehidupan ranjang kita, aku melakukan ini karena kamu adalah istriku," tegasnya.


"Istri Anda itu bu Dewi, aku hanya pelampisan Anda saja, kan?" tuduhku.


"Astaghfirullah, Hanin!" Dia memegang bahuku. Tangannya gemetar, aku menitikkan air mata.


"Mau dibawa kemana pernikahan ini, Pak? Huuks," tanyaku.


Dia tidak menjawab, malah memeluk dan mencium puncak kepalaku.


"Hati-hati ya. Kalau sudah tiba di Jakarta, kamu cepat kasih kabar. Aku pulang ke Jakarta lusa. Emm, rencananya mau menginap lagi."


"Menginap lagi?"


"Iya Hanin, apa kamu ada rekomendasi hotel yang paling bagus?"


"A-apa?"


Aku menatapnya. Mendengar ucapan Pak Zulfikar hatiku tiba-tiba berdebar dan berdesir. Apa yang salah dengan ucapannya? Tidak ada, kan?


"I-iya, a-aku tahu," jawabku. Dia pasti akan menginap di hotel itu bersama bu Dewi.


"Maaf ya, Hanin. Sebenarnya, aku dan Dewi belum berbulan madu."


"Cukup, Pak. Tidak perlu menjelaskan masalah itu padaku. Aku tidak mau tahu," tegasku sembari meninggalkannya.


"Hanin, tunggu." Dia menahan tanganku.


"Lepas!" teriakku.


"Hanin, kalau kamu melarangku menginap bersama Dewi, aku tidak akan melakukannya," katanya.


"Apa?! Pak Zulfikar, dengar ya! Apa aku ada hak untuk melarang Anda?! Tidak ada, kan?! Apapun yang akan Anda lakukan dengan bu Dewi bukan urusanku! Aku hanya benalu, Pak. Sedangkan bu Dewi, bu Dewi adalah inangnya. Bu Dewi adalah istri sah Anda. Aku hanya istri siri yang siap ditendang kapanpun Anda mau!" tegasku seraya menepis tangannya, berlari ke kamar mandi, dan mengunci pintunya dari dalam.


"Hanin, tunggu Hanin, dengarkan aku dulu! Buka pintunya Hanin!"


Dia menggedor pintu kamar mandi. Aku bersimpuh di balik pintu itu, memeluk lututku dan menangis.


Kenapa aku jadi selemah ini?


"Ha-Hanin, maafkan aku .... Aku juga tidak ingin seperti ini, tolong jadilah teman yang bisa mengerti perasaanku."


Sama denganku, Pak Zulfikar juga sepertinya bersimpuh dan bersandar pada pintu kamar mandi. Aku bisa melihat ujung kemejanya yang belum dimasukkan di bagian bawah pintu.

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2