Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Menenangkan Diri


__ADS_3

~Saat ini~


Zulfikar Saga Antasena


"Kamu tak boleh pergi, Mas!" Dewi memegang kuat tanganku.


"Dewi! Hanin diculik! Aku tidak mungkin diam saja! Kamu mengerti tidak 'sih?!" Aku menghentak tangannya. Sedang bersiap menuju lokasi.


"Mas! Kata kamu sudah ada polisi yang mengatasi! Kamu seharusnya tak perlu repot-repot lagi, 'kan?!" Sekarang memelukku yang saat ini tengah mengganti kemejaku dengan t-shirt.


"Wi! Aku sudah menemani kamu USG! Sudah menemani kamu makan, keliling taman, dan lain-lain! Ini bukan masalah sepele Wi! Hanin diculik! Diculik!" tegasku.


"Tapi kamu belum memenuhi kebutuhan biologisku, Mas!"


"Apa?! Sempat-sempatnya kamu memikirkan masalah itu di saat seperti ini! Apa kamu tak dengar nasihat dokter?! Rahim kamu itu lemah, Wi! Kehamilan kamupun berbeda dari kehamilan Hanin yang terjadi secara alamiah, maka dari itu kita dilarang berhubungan intim dulu sebelum usia kehamilan kamu empat bulan! Sudah ya!"


"Mas! Si Daini hamil alami karena sering berzina sama kamu! Sedangkan aku, aku jarang disentuh sama kamu, Mas!"


"Cukup Dewi! Ini terakhir kalinya kamu menuduh aku dan Hanin berzina! Jika kata-kata itu terucap lagi, kamu akan menyesal! Aku pergi!" Aku bergegas menuju pintu keluar.


"Mas! Aku bisa memiskinkan kamu kalau sampai kamu bertindak di luar batas! Dan ingat satu hal lagi! Vidio syur kamu dan si Daini masih ada di tanganku! Jangan pergi Mas!"


"Hanin diculik! Aku harus pergi! Oiya, jika penculikan ini terbukti ada hubungannya dengan kamu, maka aku tidak akan memaafkan kamu lagi!"


"Apa katamu?! Kamu menuduhku, Mas?! Berani sekali kamu memfitnahku, Mas!"


"Kalau kamu tak merasa, tak perlu panik!"


"Mas!" Dia mengejarku.


"Kamu pergi ke rumah mama sama bang Radit! Oiya, aku tidak akan pulang ke rumah sebelum menemukan Hanin!"


Bang Radit dan Inar yang ada di balik pintu kamar tampak kebingungan.


"Bang Radit, Inar, jaga dia ya! Jangan sampai dia melakukan sesuatu yang bisa membahayakan kandungannya! Kalau dia sudah tenang, langsung antar ke rumah mamaku saja," pintaku sambil berlari menuju garasi. Bang Radit mengejarku, Inar memantau pegerakan Dewi.


"Maaas!" teriakan Dewi masih terdengar.


"Pak, maaf kalau saya lancang, tapi saya tadi mendengar kalau bu Daini diculik. Apa saya tidak salah dengar? Pak, izinkan saya mengantar Anda. Saya juga ingin membantu Bapak menemukan bu Daini."


"Lokasi Hanin sudah ditemukan, Bang. Ada orang yang memberitahuku, dan saat ini polisi sedang berusaha menyelamatkannya. Bang Radit tak perlu ikut, cukup berdoa untuk keselamatan Hanin dan tetap di sini untuk menjaga Dewi."


Aku melajukan kemudi di saat Bang Radit masih melongo dan tampak khawatir.


Aku mengemudi dengan kecepatan tinggi sambil terus beristighfar. Tujuanku adalah meluncur ke lokasi. Ternyata si pengirim pesan tak berbohong. Hanin benar-benar ada di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Sayangnya, nomor yang mengirim pesan itu tidak bisa dihubungi.


...⚘️⚘️⚘️...


Memasuki kawasan itu membuat batinku tidak nyaman. Sampai sekarang masih tak percaya jika yang terjadi saat ini adalah kenyataan. Banyak faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Bisa jadi, mereka yang terlibat adalah orang yang pernah sakit hati olehku ataupun oleh papaku. Dulu, saat papa merintis karirnya, kata papa, ia memiliki banyak musuh.


Aku melihat ada tiga mobil polisi yang terparkir di tempat ini. Berarti mereka sudah sampai, syukurlah. Akupun memarkirkan mobilku di area ini. Lalu berjalan tak tentu arah sambil menyebut nama Hanin. Dia pasti shock. Maafkan aku sayang. Harusnya, aku tak mengizinkan kamu pergi tanpa ada aku. Mulai hari ini, kamu tidak boleh pergi ke kontrakan itu lagi.


'DOR.'


Aku mendengar suara tembakan. Berasal dari salah satu rumah terbengkalai di ujung sana. Aku berlari menuju ke sana, dan meyakini jika Haninpun berada di sana. Ingin rasanya menelepon pak Sabil atau Komandan, namun aku khawatir mengganggu operasi mereka.


Saat aku hampir mendekat, dari jendela rumah itu ada seseorang yang melompat keluar.


"KEJAAAR!"


Itu suara polisi. Aku terkejut karena secara tidak sengaja malah bersitatap dengan pria yang melompat tadi.


"Pak Zulfikar! Awaaas! Dia bersenjata api!"


Polisi yang melongok dari jendela memberiku peringatan sambil menodongkan pistol ke arah penjahat yang saat ini tengah menodongkan pistol ke arahku. Aku terkejut. Spontan mengangkat tanganku.


"Tembak aku kalau kamu berani! Maka pria itu akan mati!" teriak si penjahat.


"Pak Zulfikaarr!" Itu suara Hanin. Aku menoleh asal suara.


"Hanin?"


Syukurlah, Hanin selamat. Ia sedang dipeluk oleh Listi. Di samping mereka ada pak Sabil. Konsentrasiku buyar karena secara tiba-tiba penjahat itu menyerangku. Ia hendak memukul kepalaku dengan pistol.


"Pak!"

__ADS_1


Teriakan mereka menyadarkanku. Aku menghindar sebisaku. Jujur, aku tak bisa ilmu bela diri. Hanya menggunakan insting untuk mengelak dari serangan ini.


'DOR.'


Satu ledakan senjata api kembali terdengar. Nyaris bersamaan dengan pekikan kencang si penjahat yang beteriak kesakitan karena betisnya terkena timah panas.


"Rasakan itu!" Suara pak Sabil. Ternyata yang menembaknya adalah pak Sabil.


"Anda hebat Pak Sablon!" Suara Listi. Sablon? Apa aku salah dengar?


"Awwh ...."


Sambil meringis si penjahat masih berusaha menyerangku. Ia berusaha menarik pelatuk pistol untuk membidikku. Namun entah punya keberanian dari mana, aku segera menendang sikut si penjahat dengan sekuat tenaga hingga pistolnya terjatuh.


Dengan gerakan cepat pak Sabil mendekat dan segera mengambil pistol itu lalu menyerahkannya pada Komandan. Komandan baru saja datang dari arah belakang rumah tersebut bersama anak buahnya dan dua orang tawanan yang wajahnya sudah babak belur.


"Siapa yang menyuruh kamu, hahh?!"


Akupun tak bisa menahan emosi lagi. Mencengkram baju salah satu yang babak belur dan menatapnya tajam.


"A-ampun, Pak," jawabnya.


'Bugh.' Aku menonjok perut keduanya.


"Pak Zulfikar tenang dulu. Proses interogasi akan kita lakukan di kantor. Bapak tak boleh menyakiti mereka," kata Komandan.


"Baiklah." Aku mengalah. Lagi pula, mereka sudah babak belur oleh polisi.


Lalu aku mematung saat melihat Haninku dipapah oleh Listi untuk mendekat ke arahku. Air mata Hanin meleleh. Baju kurungnya tampak basah dan kotor di beberapa bagian. Jilbabnya kusut, pipi kirinya memerah.


"Sa-sayang. Maaf ya."


Aku memeluknya erat. Hanin menangis histeris di dadaku hingga semidu-midu. Dia pasti sangat ketakutan.


"A-aku mau pulang Pak. Aku mau pulang ke Bandung hari ini juga. Boleh ya?" Suaranya gemetar.


Komandan dan pak Sabil memberi isyarat pada anak buahnya agar menjauhi lokasi. Merekapun pergi sambil menyeret para pelaku.


"Psikis Bu Daini kurang stabil, Pak. Ada baiknya kalau Anda mengabulkan permintannya," ujar Komandan.


"Kalau Pak Direktur tak bisa mengantarnya, aku bersedia mengantar," sahut Listi.


"Tidak mau! Pak Direktur, kalaupun aku diizinkan mengantar Daini, aku tak sudi dikawal sama Pak Sabil. Aku ingin didampingi oleh polisi yang lain!" ketus Listi. Entah kenapa, Listi sepertinya tak senang pada pak Sabil.


"Baik, akan aku pertimbangkan," sahutku.


"Masalah pendampingan untuk keluarga Antasena, saya pribadi menyerahkan wewenang itu pada Pak Sabil," terang Komandan.


"Anda dengar 'kan Bu Listi? Aku yang akan mendampingi Anda," kata pak Sabil.


"Sudah, aku tak mengerti apa yang terjadi antara Pak Sabil dan Listi. Yang jelas, sebelum mengizinkan Hanin pulang ke Bandung, aku harus memastikan dulu kandungannya dalam keadaan sehat. Sayang, kita ke rumah sakit dulu ya. Kandungan kamu harus diperiksa." Hanin mengangguk patuh, airmatanya masih bederai.


...⚘️⚘️⚘️...


Berita penculikan istri siri keluarga Antasenapun akhirnya merebak ke permukaan setelah polisi berhasil membekuk salah satu kawanan penculik bernama Boy. Sementara pelaku lain yang bernama Ubay hingga saat ini masih dalam pengejaran.


Menurut Komandan, seluruh pelaku yang tertangkap dipastikan bukanlah otak dari penculikan itu. Satu-satunya titik terang untuk mengungkap otaknya adalah dengan mengungkap identitas pemilik nomor telepon yang memberiku informasi tentang keberadaan Hanin.


...⚘️⚘️⚘️...


"Mama senang kamu selamat, Nak." Mama memeluk Hanin sambil menangis.


Kami berada di rumah sakit. Seperti biasa, di depan rumah sakit diramaikan oleh kehadiran awak media. Namun situasinya tetap terkendali kerena keberadaan polisi dan petugas keamanan.


"Hanin ingin pulang ke Bandung. Bagaimana, Ma?" Aku mengadu pada Mama. Jujur, aku tak bisa melepasnya.


"Sebenarnya, Mama berat juga berat berpisah dari Daini. Tapi, jika itu sudah keputusan Daini, dan dampaknya baik untuk perkembangan bayinya, Mama setuju sama Daini, Zul."


"Tapi, Ma ---."


"Zul, Daini perlu menenangkan diri. Kalau kamu rindu, 'kan tinggal ke Bandung saja."


"Ma-maaf ya, Pak. Kalau hatiku sudah tenang, aku janji akan ke sini lagi," lirih Hanin.


"Ya, Pak Direktur, percayalah, kalaupun tinggal di Bandung, Daini tidak akan melepas tanggung jawabnya sebagi istri," bela Listi.

__ADS_1


"Sampai berapa lama kamu akan tinggal di Bandung sayang? Jangan lama-lama ya."


Aku menarik Hanin dari dekapan mama. Hanin membalas dekapanku. Aku menciumi puncak kepalanya. Listi menahan tangis. Pak Sabil sedari tadi kurasa sering menatap pada Listi.


"A-aku tidak bisa memastikan berapa lamanya, Pak. Tapi, karena kata dokter kandunganku baik-baik saja, aku ingin ke Bandung sore ini juga, Pak. Boleh ya?" Lagi, Hanin mengajukan permohonan yang sama.


"Ba-baiklah. Aku izinkan," dengan berat hati, aku terpaksa menyetujuinya.


"Terima kasih, Pak." Hanin mencium tanganku.


"A-aku juga sebenarnya tak mau berpisah, Pak. Tak mau jauh-jauh dari Bapak, tapi ... aku takut kejadian kemarin terulang lagi. Aku tak mau merepotkan dan membuat semua orang khawatir lagi."


"Sejauh ini, kandungannya sehat dan kuat, 'kok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter Rahmi kembali menjelaskan kondisi Hanin untuk yang kesekian kalinya.


"Dok, aku titip Hanin." Rencananya, dokter Rahmi akan turut serta ke Bandung dan memantau kandungan Hanin selama berada di sana.


"Ya, Pak. Bapak tenang saja."


...⚘️⚘️⚘️...


Akhirnya, setelah sebelumnya ditunda, hari ini, tepatnya pukul lima sore, aku harus merelakan Hanin menenangkan diri di Bandung. Pak Sabil mengawal, Listi mengantar. Sementara aku, aku tak bisa ikut karena jadwal di perusahaan begitu padat.


Pasca berita pernikahan siriku, kondisi perusahaanku memang tidak stabil. Jadi, aku harus bekerja keras untuk memulihkan keadaan agar saham perusahaan tidak turun secara signifikan.


Belum lagi berita penculikan itu, hal ini ternyata berdampak juga pada saham karena ada media tidak bertanggung jawab yang mengatakan jika penculikan pada Hanin adalah setingan dengan tujuan agar keluargaku mendapat simpati publik dan menaikkan saham perusahaan.


"Hati-hati ya sayang, kalau tidak sibuk dan lelah, akan kuusahakan pulang kerja langsung ke Bandung," kataku sebelum mobil yang dikemudikan Listi benar-benar pergi.


Di dalam mobil ini ada dokter Rahmi. Sementara mobil Patwal yang dikemudikan pak Sabil, ada di belakang mobil Listi.


"Bapak juga hati-hati ya. Mama, aku pergi, katakan salam rinduku sama papa. Nanti, aku akan sering VC sama papa," ucap Hanin.


Ia melambaikan tangan pada aku dan mama yang berada di sisi mobil Listi. Lalu klakson mobil Patwal berbunyi. Itu artinya, pak Sabil sudah siap melakukan pengawalan, dan Listi harus segera melajukan mobilnya. Listi menyalakan klakson, lalu menutup kaca mobil, dan ....


Pergi.


Aku menatap kepergian Hanin dengan hati yang terluka. Mataku berkaca-kaca. Airmataku akhirnya menetes jua saat mama memelukku.


"Huuu, Zul, Mama sedih. Mama kasihan sama neng Daini. Mama sayang sama dia, Zul. Huuu, tapi Mama belum berani mengatakan pada dia kalau Mama menyayanginya." Sambil memelukku.


"Terima kasih, Ma. Aku bahagia karena Mama dan Papa mau menerima Hanin."


"Tidak ada alasan bagi Mama dan papa untuk tidak menyukai Daini. Dia baik, santun, ramah, dan agamis. Kamu beruntung bertemu dengan dia, Zul."


"Ma, sekarang, di rumah Mama-papa ada Dewi, tolong perlakukan Dewi seperti Mama-papa memerlakukan Hanin. Jangan sampai kentara kalau Mama kurang menyukai Dewi."


"Maksud kamu apa, Zul? Kata siapa Mama tak menyukai Dewi?" elaknya.


"Maaf, Ma. Aku tak sengaja mendengar percakapan Mama dan papa. Saat itu, Mama mengatakan semenjak Dewi berusaha melakukan percobaan bunuh diri dengan cara meloncat dari jendela, Mama jadi tak suka sama Dewi."


"Apa?! Kamu menguping?" Mama terkejut.


"Ma, Dewi juga sedang hamil. Di dalam rahimnya, ada bakal calon anakku. Setidaknya, aku akan bertahan bersama Dewi sampai anak yang dikandungnya terlahir ke dunia. Setelah itu, aku akan menggugat Dewi dan seluruh keluarganya."


"Apa?! Maksud kamu apa, Zul?"


"Akan aku jelaskan di lain waktu. Sekarang, Mama pulang duluan ya, aku sudah pesankan taksi."


"Lho? Mama 'kok tak pulang sama kamu?"


"Aku mau susul Hanin, Ma."


"Apa?! Jangan bercanda Zul."


"Ma, malam ini aku menginap di Bandung. Besok, akan berangkat kerja dari Bandung."


"Ya ampun, Zul. Kenapa tak sekalian tadi saja?" Mama geleng-geleng kepala.


"Aku mau memberi kejutan pada Hanin, Ma. Selain itu, agar batinku tenang, aku juga harus bercinta dulu sama Hanin. Semalam, aku tak bisa melakukannya karena tak ada kesempatan."


'PETAK.'


Mama menyentil kuat keningku. Lalu Mama tertawa setelah melihat aku mengaduh.


"Kamu percis kayak papa kamu," katanya. Sambil tersenyum dan mengusap airmatanya.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2