Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Dua Sisi


__ADS_3

Dewi Laksmi


"Papi, aku tak sanggup bersandiwara lagi. Si Daini selalu beruntung. Tadi, hasil USG-nya anak dia sepasang dan sehat-sehat. Padahal, aku inginnya bayi dia cacat!"


Aku menelepon papi setelah memastikan pintu kamar terkunci dan tidak ada seorangpun yang bisa mendengar pembicaraanku.


"Sabar. Kalau Papi bertindak gegabah, kejahatan Papi bisa terbongkar. Itulah mengapa Papi membayar mahal paman kamu untuk memberikan keterangan palsu pada polisi."


"Oh, jadi paman ditangkap gara-gara ulah Papi?"


"Bukan ulah Papi, sayang. Ini kerja sama. Paman kamu sedang butuh uang karena terlilit utang. Jadi, Papi menggunakan kesempatan itu untuk membebaskan Papi dari semua tuduhan yang pernah dipublikasikan oleh media yang saham terbesarnya dikuasai oleh pak Aksa dan bu Yuze."


"Apa Papi yakin paman dapat dipercaya?"


"Kita lihat saja. Jika dia berkhianat, Papi tidak segan menindaknya. Papi tak peduli walaupun dia adalah adik kesayangan mami kamu."


"Bagus, lalu kapan Papi akan membunuh si Daini?"


"Untuk saat ini belum bisa sayang. Kamu sabar ya. Kondisinya belum memungkinkan. Media, publik, dan polisi sedang memantau keluarga kita. Jadi, rencana membunuh madu kamu akan Papi tunda dulu. Oiya, Papi kecewa sama keputusan kamu merestui pernikahan mereka. Kenapa kamu tak konsultasi sama Papi dulu, 'sih?"


"Aku melakukannya karena terpaksa, Pi. Lagi pula, Papi juga tak konsultasi dulu sama aku 'kok."


"Konsultasi apa? Apa yang perlu Papi konsultasikan sama kamu?"


"Dengarkan aku, Pi. Begini, Papi seenaknya saja menyuruh orang untuk menembak mas Zulfikar. Itu pasti perintah Papi, 'kan? Padahal, aku sudah bilang sama Papi kalau mas Zul tak boleh terluka sedikitpun. Pi, mas Zul itu segalanya. Dia sumber kebahagiaanku."


"Nah, alasan itulah yang membuat Papi muak sama Zul dan heran sama kamu. Papi nekad karena ingin menyadarkan kamu kalau di dunia ini ada banyak laki-laki yang baik dan ketampanannya melebihi Zul. Papi sempat berpikir tak apa-apa perusahaan kita merugi asalkan kamu bisa bahagia tanpa bayang-bayangnya si Zul. Jadi, Papi gelap mata dan ingin membunuh pria kurang ajar itu."


"Pi, aku tak bisa kehilangan mas Zul. Dia adalah satu-satunya pria yang mampu membuatku terpuaskan. Dia gagah perkasa, Pi."


"Apa katamu? Maksud kamu apa? Satu-satunya pria? Apa Papi tidak salah dengar?"


Aku nyaris keceplosan bicara. Mataku mengerjap. Sedang memikirkan cara untuk menjelaskan pada Papi. Intinya, jangan sampai membuat papi curiga, salah paham, dan murka.


"Hahaha, aku tak salah bicara, 'kan Pi? Mas Zul suamiku satu-satunya. Jadi, jelas kalau dia adalah pria satu-satunya untukku." Semoga papi tidak curiga. Jantungku berdegup cepat karena panik.


"Oh, begitu? Maaf ya, Papi tadi kaget. Bisa-bisanya Papi berpikir kalau kamu sudah sering berkelana dengan banyak pria. Lalu, hanya Zul yang bisa membuat kamu puas. Maafkan Papi ya sayang. Sudah jelas-jelas kamu masih perawan. Eh, Papi malah berpikir yang bukan-bukan."


"Tidak apa-apa, Pi. Terima kasih karena Papi sudah percaya sama aku."


Lega rasanya. Maafkan Dewi ya, mi, pi. Aku bukan anak baik. Aku bahkan pernah tidur dengan rekan bisnis papi. Tapi, pria itu tidak tahu kalau yang dia tiduri adalah aku.


"Sayang, halo?"


"Ya, Pi."


"Ya sudah, ini sudah hampir jam sepuluh malam. Kamu cepat tidur ya."


"Dah, Papi." Aku mengakhiri panggilan.


Lalu menunggu mas Zul yang sudah berjanji akan menemaniku. Malam ini, aku harus melampiaskan hasratku. Aku telah baju super seksi, wewangian, dan lain-lain.


...⚘️⚘️⚘️...


Listi Anggraeni


Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.


Ini adalah malam kedua aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Semenjak dia menyatakan perasaannya, aku jadi resah. Nafsu makanpun berkurang. Aku gelisah galau merana, dan tak yakin jika dia benar-benar menyukaiku.


Daini.


Ya aku jadi teringat sama dia. Daripada pusing, lebih baik aku curhat sama dia saja. Tapi, ini sudah malam. Apa tak mengapa aku mengganggunya?


'Tring.' Ada pesan. Panjang umur. Ternyata dari Daini.


"Kak, apa Kakak sudah tidur? Kalau belum, apa bisa menemaniku? Aku mendadak mau pakai henna. Kebetulan, pak Zulfikar sedang bersama bu Dewi."


Wah, kesempatan emas. Langsung kubalas.

__ADS_1


"Aku meluncur, Neng."


Aku bersiap, lalu meminta izin pada ibu dan bapak kalau aku akan menemani Daini. Karena takut aku jadi korban hipnotis lagi, bapak membolehkan dengan syarat diantar oleh Tedi. Tedi adalah ponakanku.


.


Pukul 22.20 WIB, aku tiba di kediaman pak Aksa. Gerbangnya terbuka. Mungkin, Daini sudah mengabari penjaga jika aku akan datang.


"Kalau mau dijemput, kabari saja," kata Tedi saat ia meninggalkanku di depan gerbang.


Deg, aku terkejut luar biasa. Ternyata, gerbang besar dan megah itu terbuka karena akan ada mobil yang hendak keluar. Kenapa aku terkejut? Sebab, yang mau keluar itu mobilnya pak Sabil.


Tidak!


Semoga dia tak melihatku. Aku segera bersembunyi di balik tanaman bunga. Tepatnya di samping lampu taman. Aku berjongkok.


Sial!


Lampu mobilnya malah mengarah ke punggungku.


"Huufhh ...."


Lega rasanya. Mobilnya berlalu. Dia pasti tak melihatku. Akupun segera berdiri dan bersiap masuk.


"A-apa?!" Aku membelalakan mata


Mobilnya tiba-tiba mundur. Aku berjongkok lagi. Jantungku rasanya mau lepas. Telapak tangan dan kakiku terasa dingin.


"Ada apa Pak Abil? Apa ada yang tertinggal?" tanya penjaga saat pak Sabil membuka kaca mobilnya.


"Aku merasa ada orang di sekitar sini. Coba cek di sana, Pak. Aku melihatnya sekelebatan. 'Tuh, di sana. Coba cek, Pak."


Aku panik. Ini tak bisa dibiarkan. Aku takut jadi sasaran salah tembak. Pak Sabil menunjuk ke tempatku bersembunyi. Insting polisinya ternyata masih berfungsi.


"Ini aku, Pak!" teriakku sambil angkat tangan dan memejamkan mata.


"Aaaa!" teriak penjaga yang terkejut karena kemunculanku yang tiba-tiba.


"Aku ke sini karena disuruh neng Daini," jelasku.


"Kebetulan kamu ada di sini. Yuk, mari ikut aku!" Pak Sabil menarik tanganku.


"Pak Sabil! Lepas!"


"Kita harus bicara, Tia!" tegasnya. Ia membawaku ke mobilnya.


"Pak tolong!"


Aku meminta bantuan pada penjaga. Tapi, mereka malah menutup gerbang dan tak memedulikanku.


"Masuk!" paksanya.


"Pak Sabil! Anda kenapa 'sih?!" teriakku setelah berada di dalam mobilnya. Dia belum menjawab. Malah melajukan kemudi.


"Pak Sabil! Ini bisa dikategorikan penculikan!"


"Aku tak peduli!" jawabnya.


"Pak Sabil!"


"Maaf Tia, aku minta waktunya. Setelah itu, aku akan antar kamu menemui bu Daini." Lalu ia menepikan mobil di sisi jalan.


"Ada apa, Pak?" Sambil memalingkan wajah.


"Jangan pura-pura, Tia. Kamu tidak amnesia, ',kan?"


"Lupa? Maksud Anda apa, 'sih?" Masih pura-pura tidak tahu.


"Kenapa kamu tak membalas pesanku? Setidaknya, kalaupun kamu menolakku, kamu harus membalasnya. Atau, jikapun kamu belum bisa menjawabnya, aku bisa memberimu waktu."

__ADS_1


Aku terdiam karena bingung. Akhirnya menunduk sambil memainkan jemariku.


"Tia, cepat katakan. Ya? Tidak? Atau kamu belum bisa menjawabnya?" desaknya.


"Tia." Dia memegang tanganku. Anehnya, aku tak menepis tangannya.


"Kamu tahu? Dua hari ini aku gelisah. Berat badanku sampai turun 1 kilo. Aku seperti orang gila. Hampir tiap detik menatap HP dan berharap ada pesan dari kamu."


"Anda, berlebihan," gumamku.


"Listia, aku serius. Aku sudah dewasa. Bukan saatnya aku main-main di usia sekarang ini. Dengar, sebelumnya, aku tak pernah merasa tergila-gila seperti ini. Ya, aku pernah suka sama seseorang, tapi rasanya tidak sedalam ini."


"Anda masih muda, 'kok."


"Ya ampun Listia. Baiklah, anggap saja ini adalah pertemuan terakhir kita. Jadi, cepat, katakan sesuatu. Maksudnya, aku ingin kamu menjawabnya saat ini juga."


"A-aku tidak bisa," ungkapku spontan. Dia langsung menghela napas.


Alasannya, aku tidak mau dianggap aji mumpung oleh pihak tertentu. Berteman dengan Daini saja sudah membuatku digunjing. Apa jadinya jika publik tahu aku dekat dengan sahabatnya pak Direktur?


"Sudah kuduga," ucapnya pelan. Namun tak melepas genggamannya.


"Tia, lihat aku." Akupun menatapnya. Entah kenapa, ada rasa tak enak hati saat ia mengatakan ini pertemuan terakhir.


"Terima kasih atas jawabannya. Walaupun tidak sesuai dengan harapanku, setidaknya ... aku telah mendapat jawaban dan tidak akan penasaran lagi. Oiya, setelah ini, kupastikan jika kita tidak akan bertemu lagi. Untuk mencegah pertemuan dengan kamu, aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai penasihat hukum pak Direktur. Ada pak Ihkwan. Kurasa, tak masalah kalaupun aku mengundurkan diri."


Aku tak berkata-kata. Lanjut menunduk lagi.


"Tia ...," panggilnya pelan.


"Ya."


"A-aku malu, tapi ... aku tak bisa menahan diri."


"Ma-maksud Anda?"


"Bo-bolehkan aku menciummu?" Dia bicara itu dan menunjukkan bahasa tubuh yang dipenuhi kegelisahan.


"A-apa?!" Aku terkejut.


"Ya, ini memang terdengar gila. Kamu juga pasti menganggapku sebagai pria aneh. Tapi aku tak peduli. A-aku ... aku hanya ingin mengenangmu sebelum kita berpisah. Bisakah?"


"Ci-cium a-apa dulu?" Aku gugup. Kupikir, kalau hanya cium kening atau tangan tak jadi masalah.


"Mencium ini." Sambil mengusap pelan bibirku.


"A-apa?! Anda gila, Pak Sabil!" teriakku. Jantungku langsung berdebar kencang.


"Ya, aku memang gila!" Sekarang ia menengadahkan daguku. Tangan lainnya memegang kedua tanganku kuat-kuat.


"Pak Sabil! Anda jangan macam-macam ya!"


"Ma-maaf Tia. Tolong jangan menjelekkan institusi Polri karena hal ini. Aku oknum. Tidak semua polisi seperti aku. Ini urusan pribadiku. Sama sekali tak ada kaitannya dengan jabatanku." Dia mendekatkan wajahnya perlahan.


"Pak Sabil! Aku tidak mau! Mana ada kenang-kenangan yang seperti ini! Pak Sa ---."


Di-dia ....


"Mmm ...."


A-aku ... meremang, lemas, dan nyaris tidak ada daya dan upaya.


"Hhh ...."


Hembusan napasnya terasa hangat dan ... wangi.


Tidaaak!


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2