
"Tapi becandanya tidak lucu, Pak." Protes lagi.
"Maaf, jangan marah."
Aku duduk di sisi tempat tidurnya. Menatap bagian itu. Ingin rasanya aku buka saat ini juga. Tapi seperti kata Listi, aku harus menunggu kondisi Hanin pulih dulu.
"Dai, aku suapin ya. Wah, masakan rumah sakitnya enak 'nih," seru Listi. Sibuk mendekatkan baki makanan ke hadapan Hanin.
"Kak Listi, aku mau makan bakso ikan. Apa boleh?"
"Bakso ikan?" Listi melirikku. Mungkin memintaku untuk memberinya saran.
"Sayang, sekarang kamu makan dulu yang ini. Menu ini lebih sehat daripada bakso ikan. Lihat, menunya empat sehat lima sempurna," jelasku.
Bukannya aku tak mau membelikannya bakso ikan, namun setahuku, kalau dia makan bakso ikan, jeruk nipisnya suka berlebihan. Aku pernah mencoba bakso ikan yang dimakan Hanin. Serius, sangat kecut. Aku khawatir pada lambungnya.
"Baik, aku makan ini saja," katanya. Mengambil baki sambil tertunduk lesu.
"Bapak bagaimana 'sih? Sudah tahu Daini maunya bakso ikan. Issh, tunggu ya, Dai. Gua keluar dulu. Mau cari bakso ikan," tegas Listi.
"Tak perlu, Kak." Tanpa menolehku.
"Gak bisa, Dai. Pokoknya gua harus dapat 'tuh si bakso ikan. Kalau anak lu hokcay, bagaimana?"
"Listi, biar aku saja yang beli. Kamu yang jaga Hanin ya. Sayang, aku mau belikan asal kamu makannya tanpa sambal dan jeruk nipis, oke?" selaku sambil mengelus perutnya.
"Muhun atuh," katanya. Intinya, dia mengiyakan apa yang kuinginkan.
Hanin mengangguk pelan. Sekarang menatapku sambil tersenyum. Sikap lembut dan patuhnya yang seperti inilah yang membuatku semakin jatuh hati setiap harinya.
"Ya sudah, sekarang kamu makan ya. Aku pergi dulu." Seraya mengecup puncak kepalanya.
"Aku bisa makan sendiri, Kak." Hanin menolak disuapi Listi.
Sebenarnya, ada misi lain di balik bakso ikan itu. Ya, sekalian keluar, aku ingin pulang dulu dan menemui Dewi untuk mengklarifikasi perkara gigitan itu.
Setelah mengucapkan dan mencium perutnya, akupun pergi. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, aku terus memikirkannya.
Di dalam mobil, saat kemudi sudah kulajukan, aku menelepon seseorang yang kutugaskan untuk menyelidiki Dewi. Di dering pertama langsung diangkat.
"Ya, Pak."
"Bagaimana hasilnya?" tanyaku.
"Waduh Pak, tugas ini sulit. Bu Dewi bukan sembarang orang. Saya kesulitan menggali informasi pada teman dekatnya. Seluruh teman dekat bu Dewi sangat solid dan mengatakan tak tahu apa-apa."
"Apa bayaranku kurang banyak?"
"Cukup, Pak. Saya tidak mempermasalahkan bayarannya. Tapi untuk mengetahui riwayat kesehatan bu Dewi memang harus bertanya pada orang-orang terdekatnya. Selain itu, bu Dewi juga kuliah S2-nya 'kan di luar negeri, Pak. Jadi, menurut saya, kita juga harus menyelidiki siapa teman dekat bu Dewi selama kuliah di luar negeri."
"Baik, lanjutkan penyelidikannya. Kalau perlu, kamu tambah lagi personilnya. Sebenarnya, hasil pemeriksaan kesehatan pranikah milik Dewi semuanya baik-baik saja. Aku terpaksa melakukan ini karena sering menemukan sesuatu yang menurutku janggal."
"Aku percayakan padamu. Ingat, aku ingin mengetahuinya karena kupeduli pada istriku. Kamu harus menjaga rahasia ini dan tak berpikir macam-macam terhadapku."
"Baik, Pak. Saya faham."
Aku mengakhiri panggilan. Tiba-tiba terbesit keinginan menggeledah lemari pribadi Dewi secara diam-diam untuk mencari riwayat data rekam medis miliknya.
Saat melewati penjual bakso ikan, aku mepikan mobilku. Lantas memesan 6 porsi bakso ikan. Untukku, Hanin, dan Listi, sebagian lagi untuk Dewi, Inar dan bang Radit.
...🍒🍒🍒...
"Bapak pulang? Ibu bilang Bapak mau ke luar kota."
Saat membuka gerbang, Inar keheranan. Ya, aku memang izin pada Dewi mau menemani Hanin di rumah sakit. Tapi aku tidak tahu jika Dewi akan mengatakan pada Inar kalau aku ke luar kota.
"Ambil ini."
Aku menyerahkan bakso ikan karena tak ingin berbasa-basi dengan Inar. Kulihat bang Radit sedang mencuci mobil milik Dewi. Dia tak menyadari kedatanganku. Aku tak peduli. Lanjut ke lantai dua menuju kamar utama untuk menemui Dewi.
"Mas?"
Dewi sedang berselonjor sambil membaca majalah. Dia kaget melihat kedatanganku. Langsung berdiri dan memelukku. Seperti biasa, ia berjinjit dan menghujani wajahku dengan kecupan di sana-sani.
"Mas ada perlu sama kamu."
Aku menahan bahunya. Lalu mengurai tangannya yang melingkar di pinggangku.
"Kukira kamu pulang karena kangen sama aku. Oiya, si Daini bagaimana kabarnya, Mas?" tanyanya. Lalu meraih majalah dan kembali membaca.
"Alhamdulillah, baik. Sekarang sedang divisum." Aku sengaja memancing respon Dewi. Padahal, Hanin tidak sedang divisum.
"Divisum? 'Kok divisum 'sih?" Meletakkan majalahnya dan menatapku.
"Ada luka di tubuh Hanin, lukanya seperti bekas gigitan manusia," jelasku sambil bertolak pinggang. Dadaku sebenarnya sudah panas karena sedari tadi menahan emosi.
"Oh."
Hanya seperti itu responnya. Seolah tak merasa bersalah dan tak mau tahu.
"Wi, jujur sama Mas, apa yang terjadi pada Hanin saat berada di ruangan kamu?"
"Si Daini tak mengatakan apapun?" Malah balik bertanya.
"Dia hanya mengatakan kalau dia jatuh di kamar mandi. Hanya itu. Sekarang Mas mau tanya, apa kamu melukai Hanin?"
"Apa? Hahaha, pertanyaan macam apa itu, Mas? Lucu sekali. Yang ada juga si Daini yang melukai perasaanku, Mas," jawabnya tanpa menoleh. Dewi tetap fokus membaca majalah. Dadaku naik-turun. Emosi ini rasanya hampir meledak.
"Apa kamu melukai Hanin?! Apa kamu yang menggigit dadanya Hanin?!" tanyaku.
Tak tahan lagi. Aku langsung menuduhnya. Dan anehnya, ekspresi Dewi tetap stabil. Dia biasa saja, tak meluap-luap sedikitpun.
"Masih mending aku hanya menggigitnya, Mas."
"Apa?! Jadi benar kamu menggigit Hanin?!"
Emosiku meledak sudah. Tangan ini mengepal kuat. Ingin rasanya meninju cermin yang ada di sampingku. Wajahku rasanya panas karena terbakar amarah.
"Daripada kamu menuduhku, lebih baik Mas tanyakan dulu sama si Daininya. Bisa saja 'kan, selain main sama kamu, si Daini juga main sama pria lain, Mas," ucapnya, santai.
"Dewi Laksmi! Jangan asal tuduh! Sekarang kamu jujur saja sama Mas, kenapa kamu menggigit Hanin, hahh?!" teriakku sambil menunjuknya.
"Mas, sebelum kamu marah-marah, ada baiknya kalau kamu intropeksi diri dulu. Apa ada laki-laki baik yang menduakan istrinya? Apa ada wanita baik yang rela ditiduri pria beristri?"
"Wi, masalah itu sudah kita bahas, kan?! Salah alamat kalau kamu membahasnya lagi. Harus berapa ratus ribu juta kali lagi Mas katakan kalau Hanin dan aku adalah pasangan suami-istri. Aku dan Hanin tak pernah berzina. Yang terjadi di malam itu di luar kendaliku dan Hanin!" teriakku.
"Halah, jangan munafik, Mas. Kalau saja si Daininya jelek, tidak seksi dan rasanya tidak enak. Aku yakin kamu tak akan menspesialkan wanita itu dan menikahinya."
Nada bicara Dewi masih saja santai. Bahkan sambil membuka lembaran baru halaman majalah tersebut. Aku tak bisa menahan diri lagi.
"Hanin cantik dan seksi itu takdir! Tidak ada yang salah 'kan? Kalaupun benar aku menggilai tubuhnya, tidak ada yang salah juga, kan? Toh, sama seperti kamu, dia juga istriku!" tegasku.
"Hahaha, serakah kamu, Mas. Enak ya burung kamu bisa bersarang di sana sini," ejeknya.
__ADS_1
"Dewi, tolong jangan membahas itu lagi! Dari awal, kamulah yang melarangku menceraikan Hanin! Dan saat ini, kalaupun kamu memintaku untuk menceraikan Hanin sampai nangis darah, jangan harap aku akan mengabulkan permintaan kamu! Cepat katakan! Kenapa kamu tega melukai tubuh Hanin?! Apa kamu sudah siap dengan segala konsekuensinya?!"
"Hahaha, baik, sekarang kamu tenang dulu, Mas. Tarik napas dalam-dalam, kalau perlu kamu minum dulu." Dewi tetap tenang.
Aku duduk di sofa sambil membuka dasiku dan melemparnya ke sembarang. Dewi mendekat. Lalu membuka bajunya. Aku melotot, kaget.
"Awalnya, aku akan merahasiakan ini, tapi karena kamu sangat ingin tahu. Terpaksa aku tunjukkan ini ke kamu."
Dewi membuka auternya, lalu menyodorkan lengan kirinya ke hadapanku. Aku terkejut, lengan Dewi membiru, ada bekas gigitan juga.
"Huuu." Saat aku masih terpaku, Dewi sudah menangis.
"Huks, se-sebenarnya, si Daini 'lah yang terlebih dahulu menggigitku, Mas. Huuu, selain menggigitku, di-dia juga meludahiku, Mas. Seumur-umur, baru kali ini aku diludahi. A-aku merasa sangat dihinakan, Mas."
"A-apa?!"
Aku melongo tak percaya. Maksudnya tak percaya kalau Hanin berani melakukan itu. Tapi, kalau bukan Hanin, lalu siapakah yang menggigit lengan Dewi?
Aku memasygul kepalaku. Masalah ini tak bisa kuselesaikan sendiri. Mau tidak mau, harus melibatkan pak Ikhwan, pengacaraku.
"Jadi wajar 'kan Mas kalau aku membalas perbuatan si Daini? Aku emosi setelah si Daini meludahi dan menggigitku, Mas. Jadi, aku menarik baju dia. Aku tambah emosi saat melihat bekas kecupan di tubuhnya. Dia meludahiku lagi, ya sudah, aku gigit saja dadanya," jelasnya.
"Huuu."
Di sofa, Dewi terisak-isak sambil memeluk lututnya. Aku diam seribu bahasa. Jadi bingung mau mengatakan apa. Di satu sisi, aku yakin Hanin tak mungkin melakukannya. Tapi di sisi lain, aku tak punya kalimat pembelaan untuk menyangkal Dewi dan membuktikan kalau Hanin tak bersalah.
Pada akhirnya, aku hanya bisa memasygul kembali rambutku kuat-kuat. Amarah dan rasa kepenasaranan terkumpul di dadaku dan terasa menyesakkan. Berulang kali aku menghembuskan napas, namum kegundahgulanaan ini tak menguap jua.
Hanindiya ....
Di saat seperti ini, aku benar-benar membutuhkan Hanin untuk mencurahkan isi hatiku. Tapi, apa boleh aku meninggalkan Dewi dalam keadaan seperti ini?
Sebelum mendapatkan kebenarannya, aku juga tak bisa menyalahkan Dewi dan menghakiminya.
"Wi, bagaimana kalau kamu juga ke rumah sakit? Luka di tangan kamu harus diobati." Aku menghampirinya dan melihat luka gigitan itu dari jarak dekat.
"Ti-tidak, Mas. Ini luka kecil. Diobati di rumahpun tak apa-apa." Mengusap airmatanya lalu memelukku.
"Tolong jangan bahas lagi tentang konsekuensi itu ya, Mas. Semarah apapun kamu sama aku, kamu jangan nekad menceraikan aku ya," pintanya. Aku diam saja. Sedang mencerna arah pembicaraan Dewi.
"Mas, kalau kamu menceraikan aku karena lebih memilih si Daini, maka akan kupastikan kamu menyesal seumur hidup kamu."
"Wi, maksud kamu apa?" Aku melepas dekapannya.
"Jika kamu menceraikan aku, selain kamu akan dipidana dan rugi besar karena melanggar perjanjian pranikah, kamu juga akan kehilangan aku, Mas. Mas tidak akan melihat aku lagi," katanya.
"Astaghfirullahaladzim," seruku.
Aku baru faham arah pembicarannya. Aku geleng-geleng kepala. Tak salah lagi, memang ada yang tidak benar dengan cara berpikirnya Dewi. Tapi aku perlu bukti untuk memvalidkan kecurigaanku.
"Sekarang kamu boleh pergi, Mas. Aku 'kan sudah mengizinkan kamu menemani si Daini. Asal 'kan, kamu harus janji atas nama Tuhan kalau kamu tak akan bercinta dengan wanita itu," katanya.
Aku masih melongo, merasa tak percaya dengan apa yang terucap dari bibir Dewi.
Apa aku menikahi wanita yang sakit psikologisnya? Tidak mungkin!
"Ayo janji kalau Mas tak akan meniduri si Daini," bujuknya.
Airmatanya sudah hilang. Wajahnya kembali sumringah. Apa lagi saat aku mengatakan ....
"Tanpa kamu suruhpun, untuk sekarang, aku memang tidak akan bercinta dengan Hanin," jelasku. Ya benar, sebab dokter melarangku.
"K-kamu serius, Mas? Hahaha, aku bahagia sekali, Mas. Apa dia sudah mulai tak nikmat, Mas?" tanyanya. Sungguh, pertanyaan itu membuatku kian curiga saja.
"Tapi, Mas ---."
"Wi, sekarang Mas mau pergi. Oiya, Mas beli bakso ikan. Tadi sudah diberikan ke Inar. Kamu makan, ya."
Setelah mengatakan kalimat itu, akupun bergegas. Di ambang pintu kamar, Dewi mencium bibirku, dan aku menolaknya saat dia ingin memperdalam aktivitas ini.
"Kamu juga jangan mencium bibir si Daini," ucapnya.
Aku tak menjawab agar urusan dengan Dewi cepat selesai. Setelah mencium keningnya, akupun pergi.
"Bapak pergi sekarang?"
Bang Radit sudah siap di samping mobilku. Mungkin diberitahu oleh Inar kalau aku pulang.
"Bang, sebentar lagi Maghrib, aku mau nyetir sendiri. Aku bergegas masuk ke dalam mobilku.
Bang Radit mengangguk, dan ia pasti menyadari kalau suasana hatiku sedang tidak baik. Kulajukan kemudi saat pintu garasi terbuka.
Sambil mengemudi, aku kembali berpikir. Siapakah kira-kira dokter pribadi yang bisa kuajak kerja sama?
Keluargaku punya banyak dokter pribadi. Tapi, mereka pasti segan pada papa dan mamaku. Lebih baik aku meminta bantuan pada pak Ikhwan untuk mencari dokter pribadi yang bisa kupekerjakan untuk memeriksa Hanin. Akupun menelepon pak Ikhwan.
"Pak Ikhwan, aku ingin bertemu. Ada banyak hal yang perlu aku bahas. Jangan lupa bawa salinan surat perjanjian pranikah aku dan Dewi."
"Salinan surat pranikah?"
"Ya, Pak. Aku menduga keluarga Dewi menyembunyikan sesuatu. Kalau dugaanku benar, berarti mereka telah menipuku."
"Apa?! Bapak jangan sembarangan bicara, kalau sampai dugaan Bapak meleset, Bapak dan keluarga pasti akan menghadapi masalah besar."
"Pak Ikhwan, aku baru menduga. Anda jangan jadi penakut. Dari sekian banyak pengacara yang dipekerjakan oleh papaku, Anda adalah satu-satunya pengacara yang paling aku andalkan."
"Ya, Pak. Terima kasih atas kepercayaannya. Saya hanya mengingatkan diri sendiri agar lebih berhati-hati," sangkalnya.
"Baik, aku juga ingin minta bantuan Bapak untuk masalah lain. Tolong carikan dokter umum yang izin klinik dan registrasinya masih aktif. Aku butuh dokter pribadi untuk Hanin. Harus perempuan ya, Pak. Kalau sudah dapat, Bapak langsung bawa ke rumah sakit saja."
"Rumah sakit?"
"Bapak lakukan saja perintahku. Malam ini, saat kita bertemu, aku akan menjelaskan duduk perkaranya."
"Baik, Pak."
...🍒🍒🍒...
Aku berjalan cepat menapaki selasar rumah sakit sambil membawa bakso ikan untuk Hanin. Karena terlalu lama, baksonya sudah dingin. Tapi tak apa-apa, semoga Hanin masih suka.
Dan aku terkejut bukan kepalang saat tiba di kamar kelas eksekutif yang ditempati Hanin. Aku ingat benar kamarnya nomor A1. Tapi saat tiba di depan pintunya, lampu kamar ini sudah dimatikan.
"Hanin ...," lirihku.
Plastik yang berisi bakso ikan terjatuh ke lantai. Dari kaca pembatas aku melihat dengan jelas kalau kamar ini tidak berpenghuni.
"Tidak, sa-sayang ...."
Aku menyandarkan tubuhku ke dinding karena merasa jika badanku melemah. Aku beranggapan kalau Hanin pergi meninggalkanku.
"Tidak sayang, kamu tak boleh meninggalkanku."
Segera kuraih plastik berisi bakso yang tadi sempat terjatuh dan berlari menuju nurse station. Aku harus bertanya pada petugas tentang keberadaan Hanin. Aku tak boleh kehilangan dia.
__ADS_1
Kenapa kamu pergi Hanindiya? Apa kamu tahu? Aku merasa tak sanggup hidup tanpa kamu.
Ini terdengar berlebihan. Tapi, aku memang benar-benar takut kehilangan dia. Langkah kaki ini seolah tak berpijak saat aku berpikir bahwa Hanin benar-benar pergi. Sebelum aku mencapai ruang nurse station, seseorang memanggilku.
"Pak Direktur," panggilnya. Sontak aku menoleh ke arah suara.
"Listi? Kamu bawa ke mana Hanin, hahh?! Jangan main-main denganku, Listi!" teriakku. Tanpa berpikir panjang, langsung menuduh Listi sebagai dalangnya.
"Hahaha, duh Pak, susah ya kalau sudah terpikat." Listi malah tertawa. Sungguh menyebalkan! Tak lihat apa dia kalau aku sedang panik?
"Listi! Aku serius! Di mana istriku?!"
"Istri yang mana dulu 'nih? Hahaha, kembali tertawa sambil membalikan badan dan meninggalkanku. Aku mengejarnya.
"Listi! Kamu kupecat!" sentakku. Listi acuh-tak acuh, dia masuk ke sebuah kamar VIP non eksekutif.
"Listi!"
Aku masih meneriaki Listi saat dia membuka pintu kamar VIP tersebut, dan aku terhenyak ketika melihat sosok yang sedang terbaring di kamar itu.
"Hanin? Ya Allah sayang, kupikir kamu kabur." Aku berlari masuk ke kamar itu sambil melempar plastik berisi bakso ke pangkuan Listi.
"Haish, ya ampun, Pak Direktur!" Listi mendengus kesal.
Aku segera memeluk Hanin yang terlihat keheranan saat melihatku. Aku merangkulnya erat, menciumi wajahnya, lalu mengecup bibirnya.
"Pak, a-ada Kak Listi, malu," protesnya. Mendorong bahuku.
"Sekalian saja kalian ciuman, anggap saja aku batu," kata Listi sambil membuka plastik bakso.
"Kenapa pindah kamar, hmm? Ya ampun sayang, aku bahagia kamu masih ada di sisiku. Kamu baru saja membuat jantungku loncat-loncat." Hanin hanya seyum-senyum seraya mengelus pipiku.
"Daini maksa mau pindah kelas, Pak. Katanya tak nyaman ada di kelas eksekutif. Tadi aku sudah daftar ulang pakai BPJS. Hanin 'kan jatahnya kelas satu, tapi biar lebih nyaman, aku naikan kelas perawatannya ke VIP. Awalnya dia kukuh mau tetap di kelas satu," jelas Listi.
"Sayang, aku suami kamu, aku yang bertanggung jawab. Kenapa harus pindah, sih?" sesalku.
"Pak, di sini juga nyaman 'kok. Aku tadi sudah menghitung perkiraan selisih pembayarannya. InsyaaAllah, tak perlu pakai uang Bapakpun, tabunganku masih cukup," sanggahnya.
"Ya sudah, tak apa-apa. Kali ini aku mengalah," kataku. Lalu memberi isyarat pada Listi untuk keluar sebentar. Syukurlah, dia faham maksudku.
"Dai, gua ke kantin dulu ya. Mau minta tolong ngangetin baksonya, sama sekalian mau beli camilan."
Yes, yes. Batinku bersorak-sorai.
"Jangan lama-lama ya. Oiya Kak, aku mau yoghurt," kata Hanin. Sementara aku terus menatap wajah cantiknya.
"Listi, tunggu," panggilku.
"Ya Pak."
"Ini uangnya, jangan pakai uang kamu." Aku mengambil sepuluh lembar 100 ribuan dari dompetku dan memberikannya pada Listi.
"Hahaha, ini kebanyakan Pak Direktur," protes Listi. Namun matanya berbinar-binar.
"Ambil sisanya untuk kamu," kataku.
"Siap g'rak!" seru Listi sambil melakukan gerakan hormat bendera. Hanin tersenyum melihat ulah Listi. Akupun demikian.
Setelah Listi pergi, aku cepat-cepat mengunci pintu.
"Anda mau apa?" tanya Hanin saat aku mendekat.
"Mau menghisap madu yang ada di bibir kamu," godaku.
"Ish, Anda tak pantas merayu, Pak. Ja ---."
Hanin tak bisa melanjutkan kalimatnya. Sebab sang kumbang sudah datang menyesapnya. Hanin melemas, kusandarkan pelan kepalanya pada bantal. Dan saat tangan ini spontan merayap ....
"Ahh ... awhh ... ja-jangan," katanya.
Aku terkejut, baru ingat kalau dada Hanin sedang terluka.
"Sayang ...."
Aku pura-pura tak peduli. Padahal, aku sengaja menggunakan kesempatan ini untuk melihat lukanya. Hanin menolak, tapi aku tak bisa tinggal diam. Kucekal tangannya. Tanganku yang lain membuka kancingnya. Dan ....
"Astaghfirullahaladzim! Sayang ...."
Aku mematung, kulit halusnya, bagian tubuhnya yang indah itu benar-benar terluka. Apa yang dikatakan Listi benar adanya. Luka Hanin cukup parah.
"Huuu," Hanin menangis sambil merapikan bajunya.
"Sayang, kurasa Dewi wanita tidak normal! Aku telah ditipu!" kataku sambil mengatur napas.
"Jangan asal menuduh, Pak." Hanin masih membelanya.
"Oke, sekarang aku mau tanya. Apa benar kamu menggigit lengan Dewi?"
"A-apa?" Hanin melongo. Ya, aku yakin Hanin tak melakukan itu.
"Apa kamu juga meludahi wajah Dewi?"
"Hahh? Wallahi, aku tak pernah meludahi siapapun, Pak," sangkalnya.
"Oke, aku percaya padamu. Tapi kenapa kamu tak jujur sayang? Kenapa kamu berbohong dengan mengatakan jatuh dari kamar mandi?"
"A-aku selalu berharap bu Dewi mau menerimaku dan memaafkanku, Pak," lirihnya.
"Sayang, Dewi menggigit dirinya sendiri untuk memfitnah kamu. Kamu masih berharap dia akan memaafkanmu?"
"Huuu. Pak ..., a-aku selalu dibayang-bayangi rasa bersalah. Aku selalu merasa bahwa aku adalah wanita yang merebut Anda dari bu Dewi. Aku akan tenang setelah bu Dewi memaafkanku," jelasnya.
"Sayang, sampai kapan kamu akan menyalahkan dirimu sendiri? Apa kamu masih ragu kalau aku adalah jodohmu?" Aku menangkup pipinya. Menatapnya dalam-dalam.
Saat aku akan mencium kembali bibirnya. Adzan Maghrib berkumandang. Bersamaan dengan itu, pintu ruanganpun diketuk dari luar.
"Neng." Suara Listi.
Lalu ponselkupun berbunyi. Aku menerima panggilan sambil membuka pintu.
"Pak Zulfikar, saya sudah ada di depan ruang eksekutif. Saya juga sudah membawa dokter umum yang sesuai dengan kriteria Bapak."
Ternyata, pak Ikhwan sudah datang.
"Kita shalat Magrib dulu. Aku ke sana," kataku. Kemudian mengakhiri panggilan.
"Sayang, aku shalat berjamaah dulu ya. Oiya, nanti akan ada tamu yang datang ke sini. Jangan kaget ya sayang," jelasku.
Hanin mengangguk sambil terseyum.
"Jangan lama-lama Pak Direktur, kita 'kan mau makan bakso ikan," sela Listi.
...~Tbc~...
__ADS_1