
"Baik, Mas bersedia. Tapi kamu harus menyetujui pernikahan aku dan Hanin diresmikan. Bagaimana?"
"Apa?! Ya tak bisalah Mas. Enak saja dia mau mengambil alih posisiku! Pokoknya, aku tak mau tahu! Besok, kita akan konseling untuk memulai prosedur itu."
Sungguh, semakin ke sini, aku semakin tak suka dengan sikapnya. Padahal, aku sudah berjanji pada papa dan mamaku untuk menyayanginya.
"Kalau Mas tetap menolak bagaimana?"
"Jangan salahkan aku kalau aku mengungkap identitas si Daini ke hadapan publik! Aku sudah lelah dengan semua ini, Mas! Aku tak bisa terus mengalah dan menyembunyikan si Daini selamanya. Orang-orang harus tahu kalau karyawan alim kamu ternyata wanita b i n a l."
"Dewi, cukup! Sampai kapan kamu terus memfitnah Hanin dan menuduhnya, hah?! Dengar ya Wi, aku akan mempertahankan Hanin. Sampai kapanpun, aku tidak akan menceraikannya," tegasku.
Emosiku kembali meningkat. Hanin memilih berlalu ke kamar tunggu. Ia sepertinya tak ingin mendengar pertengkaranku dan Dewi.
"Kalau kamu mempertahankan si Daini, berarti kamu juga harus mempertahankan aku, Mas. Kalau tidak jangan salahkan aku kalau ---."
"Cukup Wi! Kamu mau mengancam Hanin lagi, kan?!" selaku.
"Hahaha, 'nah itu kamu sudah tahu, Mas. Ya Mas, tepat sekali. Jika Mas ingin si Daini tetap aman dari pemberitaan publik, maka kamu kamu harus melakukan apapun yang aku inginkan, Mas. Salah satunya dengan prosedur bayi tabung itu."
"Tidak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan, Wi."
"Itu kata kamu, Mas. Kalau kataku ya bisa saja. Sudah berantemnya ya, Mas. Aku capek juga kalau banyak bicara. Oiya Mas aku kangen tahu Mas."
Sekarang, dia mendekat dan merangkulku. Aku mengehela napas. Jujur, aku juga lelah terus bertengkar dan berselisih faham dengan Dewi. Aku jadi ingat kata-kata Hanin yang mengatakan jika Dewi bisa saja berubah menjadi pribadi yang lebih baik saat ia menjadi seorang ibu.
Apa bayi tabung adalah jalan terbaik untuk merubah sikap Dewi? Lalu, bagaimana dengan dugaanku terhadap kesehatan Dewi? Aku merenung.
Setelah aku telaah, program bayi tabung ini justru akan mempermudahku untuk menemukan fakta-fakta tentang kesehatan Dewi. Akhirnya, akupun memutuskan untuk menyetujuinya.
"Baik, Mas setuju. Tapi, kamu harus janji jangan pernah berani mengusik dan mengganggu perasaan Hanin beserta keluarganya. Anggap saja yang aku lakukan ini sebagai ungkapan maaf karena aku telah melukai perasaan kamu. Walaupun Mas tahu kalau kamu tak pernah memaafkanku."
"Hahaha, akhirnya kamu sadar diri juga ya Mas. Aku senang sekali. Oiya, aku ingin menanam banyak sel telur Mas. Aku juga mau anak kembar seperti si Daini."
"Untuk masalah itu, kita harus konsultasikan dulu ke dokternya, Wi. Jangan semau kita."
"Oke, Mas. Terima kasih ya. Aku setuju." Lalu mengecup bibirku secara tiba-tiba.
"Wi ---."
Dewi memaksa menciumku saat ia menyadari Hanin kembali dari kamar tunggu. Aku berusaha menolak, namun Dewi sudah terlanjur melakukannya.
Dengan sudut mataku, aku melihat jika Hanin malah tersenyum. Alih-alih berpaling atau pergi, Hanin malah beranjak ke sofa dan merapikan bantal sofa.
"Kamu tak cemburu melihat kita bermesraan?" tanya Dewi. Pertanyaan yang seharusnya tak perlu diutarakan.
"Cemburu itu urusan hati, Bu. Emm, maksudku Kak. Jadi, kalaupun aku tak menjawab pertanyaan Kak Dewi, kurasa tak ada salahnya," jawab Hanin. Sekarang sibuk mengelap meja.
"Wah, sudah mulai berani kamu ya, Dai. Baguslah, aku jadi ada lawan," ejek Dewi sambil mengacak kembali bantal sofa yang tadi sudah dirapikan. Hanin menghela napas, ia kembali tersenyum dan merapikan kembali bantal sofa tersebut.
"Wi, sudah Mas bilang, kan? Kamu jangan mengusik Hanin lagi. Tolong bersikap dewasa, jangan sampai ulahmu membuatku berubah pikiran."
"Kalau kamu mau berubah pikiran ya silahkan saja, tapi kamu harus ingat ya Mas, hidup si Daini dan keluarganya akan kubuat jadi tak nyaman kalau sampai kamu menolakku mengikuti program bayi tabung itu," ancamnya.
Semua yang dikatakan oleh Dewi telah aku rekam secara diam-diam. Harapannya, ada fakta lain yang bisa kujadikan data penunjang dari dugaanku selama ini.
"Wi, program bayi tabung itu tak sebentar. Kalau tak salah ada lima tahapan. Dari mulai induksi ovulasi, pengambilan telur, pengambilan spesimen s p e r m a, pembuahan, dan transfer embrio. Prosesnya juga tidak selalu berhasil dalam satu kali saja. Jadi, kamu harus sabar dan tidak berekspektasi terlalu tinggi," jelasku.
"Tak perlu kamu jelaskan lagi, Mas. Aku mengerti, kok. Aku sudah konsultasi. Kata dokter, dalam satu siklus program bayi tabung, biasanya akan memakan waktu kurang lebih 3 minggu atau lebih lama," terangnya.
"Oiya, karena kamu sudah setuju, aku tak bisa berlama-lama. Aku mau ke kantor Mas, gara-gara kamu dan papamu kecelakaan, keluargaku jadi sibuk. Berimbas juga pada tanggung jawabku sebagai manajer. Aku sudah tiga hari tak bekerja. Oiya, tugas kamu dihandel dulu sama pak Dadan."
"Maaf kalau aku membuatmu dan keluargamu sibuk. Tapi kejadian ini di luar dugaan. Lagi pula untuk masalah kecelakaan papa, jika tak ingin disibukkan, keluarga kamu tak perlu terlibat. Pak Ikhwan bisa mengurusnya."
"Harusnya kamu beterimakasih, Mas. Apa kamu berharap bisa ditolong oleh keluarga istri kamu yang di Bandung? Hahaha, mustahil mereka bisa menolong, untuk menolong dirinya sendiri saja mereka kesusahan. Sampai-sampai rela menjadikan anak gadisnya sebagai tumbal agar bisa menikah dengan anak konglomerat."
"Dewi, cukup!"
Entah harus bagaimana lagi aku melarang Dewi dari berucap yang tak sopan. Ia selalu merundung Hanin dengan kalimat-kalimat menyakitkan. Mungkin, kalimat itulah yang menjadi salah satu alasan Hanin ingin becerai dariku.
"Kak Dewi, tidak menjaga Pak Zulfikar?"
Hanin malah menanyakan masalah itu. Ia seolah tak terpengaruh dengan ucapan Dewi. Padahal sejatinya, aku yakin kalau hatinya pasti terluka.
__ADS_1
"Enak saja kamu bilang tidak menjaga! Hey, Daini! Dengar ya! Perawatan Mas Zul selama di sini akan ditanggung papiku. Catat baik-baik ya, Dai!"
"Wi, untuk apa ditanggung papi kamu? Aku juga mampu bayar."
"Memangnya tak pakai BPJS?" tanya Hanin dengan polosnya.
"Hahaha, dasar bodoh! Ini kecelakaan yang kasusnya ditangani polisi. Mana bisa pakai BPJS. Bisanya pakai Jasa Raharja. Tapi kita tak memakainya karena ingin dirawat di kelas eksekutif. Sudahlah, Dai. Orang miskin seperti kamu mana tahu kelas eksekutif," ledek Dewi. Aku memalingkan wajah, rasanya malas berdebat lagi.
"Terus ada kamu juga 'kan yang bisa jaga Mas Zul. Setidaknya keberadaan di sini kamu ada gunanya. Jangan bilang kamu bisanya hanya ongkang-ongkang kaki dan modal ngangkang doang," tambahnya.
Ucapan Dewi membuatku sakit hati. Aku saja bisa merasa sesakit ini. Lalu, bagaimana dengan Hanin?
Aku jadi yakin ingin segera membayar denda agar bisa menceraikan Dewi tanpa harus menunggu kurun waktu sepuluh tahun dulu.
"Astaghfirullahaladzim," lirih Hanin.
Ia menunduk seraya memainkan ujung jilbabnya. Tapi kali ini, Hanin tidak menangis. Mungkin, airmatanya sudah mengering gara-gara terus menangisi takdir hidupnya.
Maafkan aku, sayang.
Karena terlalu mencintainya, aku tak bisa melepasnya dan membantunya untuk keluar dari zona tak nyaman ini. Kecuali perceraian, aku berjanji akan mengabulkan semua permintaannya. Jika memang Hanin lebih nyaman berada di sisiku dengan kehidupan yang sederhana, baik ... akan aku kabulkan.
"Ya sudah, aku kerja dulu Mas. Daini, kamu jaga baik-baik suamiku. Kalau ada masalah dengan Mas Zul, orang yang akan aku salahkan adalah kamu," kata Dewi sambil menyambar tas kerjanya.
Lalu menghampiriku untuk bersalaman. Seperti biasa, mengecup bibirku dulu, barulah pergi sambil tersenyum sinis pada Hanin dan melambaikan tangannya.
.
.
"Sayang," sapaku setelah Dewi pergi.
"Ya."
"Dewi tak berubah, lain kali, kamu jangan diam saja. Sesekali kamu juga harus tegas pada Dewi."
"Anda lucu sekali. Masa ya mengajariku untuk tegas pada bu Dewi? Pak Zulfikar, selama yang dilakukan bu Dewi bukan hal yang membahayakan bayiku dan keluargaku, aku tak masalah kalaupun dia selalu mengejek dan menyakiti perasaanku. Aku baru akan membela diri saat dia menyakiti fisikku atau menyakiti abah dan ummi secara langsung."
"Dengan selera Bapak? Pak, lebih baik aku mencarinya dengan kak Listi saja. Kalau kontrakannya disesuaikan dengan selera Bapak, aku tak yakin kontrakannya sederhana. Pak Zulfikar, aku sudah tak bekerja, jadi, aku juga ingin mencari kontrakan yang lokasinya strategis untukku membuka usaha kecil-kecilan."
"A-apa? Usaha kecil-kecilan? Untuk apa sayang? Aku bisa mencukupi kebutuhan hidup kamu."
"Aku tak mau terus bergantung pada Anda, Pak. Ya, uang bulanan dari Bapak memang lebih dari cukup, bahkan bisa dikatakan terlalu banyak. Tapi, aku tak pernah menggunakannya kecuali untuk kebutuhan susu hamil."
"Kenapa sayang? Kenapa?" Aku jadi tak mengerti jalan pikirannya.
"A-aku hanya ingin belajar dan membuktikan pada diriku sendiri kalau aku berpotensi. Aku juga tak ingin orang-orang mengira kalau aku hidup hanya dengan mengandalkan kekayaan Anda."
"Hmm, baiklah. Mau buka usaha apa? Nanti aku modali. Berarti, kita sewa ruko yang dekat mall saja. Bagaimana?"
"Ruko dekat mall? Aku tak mau, Pak. Biaya sewanya pasti mahal," keluhnya.
"Aku yang bayar," selaku.
"Pak, kalau Bapak yang bayar, judulnya bukan mandiri. Aku mau menggunakan uang tabungan dan pesangon dari perusahaan untuk modal usaha tanpa menggunakan uang dari Anda sepeserpun. Emm, kecuali terdesak," jelasnya.
"Oh, ya ampun, ternyata kamu keras kepala ya."
"Memang," jawabnya.
"Hahaha, baiklah, aku setuju kamu mencari kontrakan bersama Listi. Tapi, tetap harus didampingi pak Reza, dan dua orang pengawal. Bagaimana?"
"Cukup kak Listi saja, Pak."
"Sayang, kemari."
Aku melambaikan tangan. Hanin mendekat. Aku segera memegang tangannya.
"Sayang, kamu istriku. Di dalam perut kamu juga ada darah dagingku. Aku tak mungkin membiarkan kamu tanpa pemantauan orang-orangku. Sayang, menjaga kamu adalah kewajibannku. Tolong jangan mempersulitku untuk menjalankan perintah-Nya. Aku harus memastikan kamu dan bayi kita dalam keadaan sehat, sejahtera dan selamat," tegasku sambil mengusap perutnya yang baru bisa terlihat menonjol saat gamisnya disempitkan.
"Baiklah, tapi yang pilih kontrakannya harus aku, jangan pak Reza ataupun orang-orang Anda."
Dia menangkup punggung tanganku yang menelusuri perutnya. Oh ya ampun, melakukan hal sesederhana ini saja, ternyata ... sudah cukup membuatku bahagia saat aku melakukannya bersama Hanin.
__ADS_1
"Sip, aku mengaku kalah. Aku setuju sayang."
Akhirnya, aku terpaksa menyepakatinya. Kupikir, hanya dengan cara ini aku bisa membuatnya sedikit bebas dan nyaman berada di sisiku. Ya, selama ini, ia memang selalu aku kekang di apartemen.
Padahal, menurut bu Caca, Hanin adalah tipe wanita yang pendiam namun selalu aktif dalam berbagai kegiatan perusahaan. Ia memang tak banyak bicara, namun kontribusi dan idenya untuk divisi mutu, patut diacungi jempol. Menurut bu Caca, Hanin memiliki banyak potensi. Saat ia didapuk jadi pembicara, public speakingnya juga bagus.
"Dia juga pandai memasak, Pak. Bisa membuat berbagai jenis kue dan makanan khas daerah-daerah di Indonesia. Menu andalannya adalah seblak dan bakso sayur. Saya pernah memakan seblak buatannya. Wah, rasanya mantap."
Aku jadi ingat perkataan dari bu Caca saat ia dipanggil ke ruanganku untuk menjelaskan profil Hanin.
"Terima kasih, Pak," katanya. Ia langsung menepis tanganku yang baru saja lepas kendali dan menelusur ke sana.
"Eh, maaf sayang. Kalau dekat-dekat kamu, aku selalu hilaf."
"Anda kebiasaan," gerutunya.
"Kebiasaan yang baik," selaku.
"Baik dari mananya," dia protes lagi sambil memosisikan tempat tidurku menjadi setengah duduk.
"Dari segi kesehatan biologis," timpalku. Tak mau kalah.
"Alasan," katanya.
"Alasan yang masuk akal," godaku.
"Issh," dengusnya. Bibirnya mencucu. Lucu sekali.
"Hahaha, tapi pada dasarnya, kamu juga menyukainya, kan? Kamu tak pernah menolak saat tanganku ---."
"Cukup! Aku tak menolak karena Anda suamiku," tegasnya.
Untuk pertama kalinya dia berkacak pinggang. Pipinya memerah. Menatapku tajam. Mungkin sedang menunjukkan padaku kalau dia juga memiliki sisi yang galak.
"Yakin kamu tak pernah menikmatinya?" Sekalian saja aku menggodanya.
"Tidak!" sangkalnya.
"Sungguh?" tanyaku.
"Ya," tegasnya. Tapi sambil mengulum senyum. Pipi mulusnya kian merona.
"Aku tahu kalau kamu sedang berbohong," tuduhku.
"Pak Zulfikar keras kepala ya? Cukup, mari kita bicarakan tema yang lain saja."
"Kalau aku tak keras, di perut kamu tak akan ada bayi kembar. Hahaha." Menggodanya bisa mempercepat pemulihanku.
"Pak Zulfikar!"
"Apa sayang."
"Assalamu'alaikuum," adu mulut menyenangkan ini harus berakhir karena kedatangan bu Juju.
"Waalaikumussalaam."
Hanin sigap mendatangi bu Juju, menyalaminya, dan membantu membawa sebagian barang-barang yang dibawa oleh bu Juju.
"Tak usah, Neng. Sama saya saja," tolak bu Juju.
"Tak apa-apa, Bu. Tak berat, kok." Hanin tetap membantu bu Juju.
"Sayang, jangan terlalu aktif. Kamu sedang hamil." Aku khawatir.
"InsyaaAllah, aku dan kandunganku akan baik-baik saja," jawabnya.
"Papaku bagimana, Bu?"
"Alhamdulillah, kabar terbarunya sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Pak."
"Alhamdulillah," sahutku. Haninpun tampak gembira mendengar kabar itu.
...~Tbc~...
__ADS_1