
Zulfikar Saga Antasena
Aku melamun di atas sofa yang berada di ruang TV. Tepatnya di lantai tiga rumahku sambil menonton acara tak jelas. Kualitas acara TV saat ini lebih banyak mengghibahnya daripada edukasinya.
"Belum tidur, Pak?" tanya Inar.
Inar adalah asisten rumah tangga. Sebenarnya ada banyak pekerja di rumah ini, namun yang menginap hanya Inar dan bang Radit.
Jam 10 malam, Inar memang biasa mengepel. Alasannya agar paginya tidak perlu mengepel lagi. Tidak mesti jam 10, pernah juga jam 11 atau jam 12 malam. Bahkan pernah mengepel jam 1 malam. Aneh sih, tapi ya sudahlah, yang penting rumah ini bersih dan Inar bekerja tanpa paksaan.
Lagipula yang dipelpun tidak semua ruangan. Hanya ruangan tertentu saja dan itupun menggunakan mesin pel.
"Belum ngantuk," jawabku. Padahal, aku di ruang tamu karena masih bertengkar dengan Dewi.
Dewi marah besar saat tahu aku pergi menjenguk Hanin tanpa mengabarinya. Saat ini, Dewi benar-benar sulit dikendalikan. Dia berubah drastis. Dan aku sadar jika perubahannya itu disebabkan olehku.
"Memangnya apa lebihnya dia, Mas?! Apa karena dia berpakaian tertutup?! Aku juga bisa kok berpenampilan seperti Daini!"
"Apa keistimewaan dia sampai-sampai kamu berani membela dia dan mempermalukanku di hadapan karyawan lain?!"
"Wi, sekarang aku jadi serba salah! Kenapa kamu terus menyalahkan aku dan Hanin? Sementara kamu sendiri yang melarangku menceraikan Hanin. Aku jadi bingung maumu apa sih?!"
Aku melamun sambil mengingat kembali pertengkaran yang tadi terjadi di kantor.
"Wi, mari kita berdamai, Mas lelah terus seperti ini, Mas juga tak tega terus menyakiti Hanin. Mas ingin melepaskan dia, lalu kita memulainya lagi dari awal. Mas akan memperbaiki semua kesalahan Mas terhadap kamu."
Dengan berat hati aku mengatakan itu. Padahal sejujurnya, aku tidak ingin melepaskan Hanin sampai kapanpun.
"Oke! Silahkan Mas ceraikan dia! Tapi Mas harus siap-siap dengan apa yang akan kulakukan pada keluarga Hanin!" ancamnya.
"Maksudmu apa, Wi? Tolong jangan bercanda, keluarga Hanin tidak ada hubungannya dengan permasalahan ini."
"Tidak ada hubungannya katamu?! Mas, apa kamu lupa kalau kamu anak konglomerat?! Orang tua mana sih yang tidak ingin anaknya dinikahi oleh pria kaya-raya seperti kamu?! Kamu jangan mudah ditipu Mas!"
"Kenapa mereka tidak melarang pernikahanmu dengan Daini walaupun tahu kamu sudah beristri?! Ya karena mereka ingin mengambil harta kamu, Mas! Mereka ingin numpang tenar dan numpang kaya!"
"Wi cukup! Kamu tidak tahu kehidupan mereka seperti apa. Kamu harus kenal dulu sama orang tua Hanin sebelum memberikan penilaian!"
Saati itu kami bertengkar hebat sampai-sampai Taniapun tidak jadi masuk ke ruanganku. Aku tidak tahu apakah Tania mendengar pertengkaran ini atau tidak. Semoga saja tidak mendengarnya.
"Apa tubuh wanita itu lebih seksi dari aku?! Apa dia rasanya lebih nikmat daripada aku Mas?!"
Pertanyaan Dewi pada saat itu benar-benar di luar batas dan membuatku marah besar.
"Wi! Istighfar Wi! Masalah itu tak patut dibanding-bandingkan! Hubungan ranjangku dan Hanin adalah rahasiaku, privasiku! Begitupun dengan kehidupan ranjangku dengan kamu! Semuanya akan aku rahasiakan dari siapapun, kecuali dari kamu sendiri!" teriakku.
"Huuu, tak perlu banyak alasan Mas! Tolong kamu jujur saja! Apa yang kurang dari aku?! Jika memang ada, aku bisa memperbaikinya! Kalau perlu, aku akan operasi estetika demi memuaskan kamu!"
"Astaghfirullah, Wi! Ucapan kamu sangat melampaui batas! Tidak ada satu halpun yang kurang dari kamu! Kamu cantik, Wi. Aku mengakui itu!"
"Lantas kenapa kamu meniduri wanita itu lagi padahal awalnya kamu hanya ingin menikahinya untuk memberinya gelar janda?! Jangan munafik kamu, Mas! Sekarang katakan, apa kamu mencintai dia?! Jika kamu tidak diguna-guna, itu artinya kamu sungguhan menyukai dia, kan?!"
Aku menghela napas. Saat itu, wajahku merah padam karena menahan amarah.
"Kalau kamu tidak ikhlas berbagi ranjang, kenapa kamu melarangku menceraikan Hanin? Mas bingung dengan jalan pikiran kamu!"
"Mas tak perlu bingung! Aku tidak ingin kamu menceraikan dia ya karena aku ingin semua orang tahu kalau wanita itu adalah rubah nakal yang berkamuflase jadi wanita sok suci!"
"Enak saja kalian mau becerai setelah enak-enakan di belakangku! Apa Mas pikir aku akan membiarkan Mas lepas tanggung jawab setelah menikmati tubuh dia?! Setelah mengkhianatiku?!"
"Tidak Mas! Aku tidak akan membiarkan kalian berdua terbebas begitu saja setelah menorehkan luka dan menanam duri di jantung dan hatiku!"
"Aku tidak akan melepaskan kamu dan wanita itu sampai Mas dan wanita itu merasakan rasa sakit yang sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan!"
"Oh, jadi benar kamu ingin balas dendam?!" tuduhku pada saat itu.
"Kalau aku mengatakan ya, memangnya kenapa?! Mas bisa apa?!"
"Wi, jangan seperti ini."
Saat itu, aku sudah berusaha untuk bicara lembut. Namun Dewi tetap meninggi.
"Mas, apa kamu lupa dengan siapa kamu menikah? Apa kamu tak sadar telah melukai seorang putri tunggal yang terlahir dari sendok emas?!"
"Wi, jangan membawa-bawa keluarga. Apa kamu juga lupa kalau akupun terlahir dari sendok emas?!"
Sungguh, aku tidak ingin menyombongkan kekayaan keluargaku, namun dalam hal ini, Dewilah yang memulainya.
"Nah, maka dari itu harusnya Mas mikir-mikir dulu sebelum menyakiti aku dan mengambil keputusan meniduri wanita lain selain aku!" teriaknya. Lalu dia pergi dan membanting pintu kantor.
__ADS_1
...🍒🍒🍒...
Seperti itulah pertengkaran sengit yang terjadi antara aku dan Dewi saat kami berada di kantor. Pertengkaran itu berlanjut hingga saat ini. Sampai-sampai aku tak berani masuk ke kamar utama. Tadi hanya ke kamar itu untuk mandi dan ganti baju saja. Aku dan Dewipun tak saling bicara.
Tiba-tiba Kebby menghampiriku. Kucing berwarna putih ini menelusupkan kepalanya ke leherku. Bulunya lembut dan tebal. Aku kembali teringat pada Hanin. Seperti kucing ini, saat kupeluk, Hanin juga terasa hangat dan lembut.
Aku sebenarnya ingin menelepon Hanin, tapi aku urungkan agar istirahatnya tidak terganggu. Aku memejamkan mata karena kantuk mulai datang.
Lalu entah di jam berapa Dewi membangunkanku.
"Mas, aku tidak bisa tidur," katanya.
Dia naik ke sofa dan memelukku. Aku diam saja dan tetap pura-pura tidur karena di dalam batin ini masih tersimpan kekesalan.
"Mas ...." Dia menciumi leherku.
Kok bisa Dewi berubah drastis? Bukankah tadi dia marah dan tak mau bicara denganku?
"Mas, huuu ..., aku tadinya ingin terus marah sama kamu, tapi aku tidak bisa. Ya, aku memang masih kesal. Tapi aku merindukan tubuh kamu, Mas." Aku tak bergeming. Jadi mau tahu akan seperti apa dia memperlakukanku.
"Huuks, Mas ... kalaupun dulu kamu menolak perjodohan kita, kamu akan tetap jadi milikku. Karena selama ini, yang aku inginkan selalu dapat kumiliki. Aku tidak pernah gagal mendapatkan apapun yang kumau," katanya. Dia menangis, tapi sambil mengecup kuat-kuat leherku.
Argh, batinku menjerit.
Dewi, kamu menyakitku. Aku ingin protes tapi malas terbangun.
"Mas, bagun dong Mas." Dewi memaksa membuka mataku.
"Ya, Mas bangun."
Terpaksa membuka mata karena tubuh Dewi menindihku. Saat kumembuka mata, aku sudah disuguhkan oleh wajah yang disolek sempurna. Dewi juga memakai lingerie berwarna merah yang kontras dengan warna kulitnya. Aku sontak terkejut.
"Wi, kenapa kamu memakai baju ini keluar kamar?!" Aku spontan bangun dan menarik taplak meja untuk menutupi tubuhnya.
"Mas, ya wajar aku kaya gini! Kan untuk kamu juga!" Dia menepis, melempar taplak meja.
"Cepat ke kamar!" Aku menariknya, membawa Dewi ke kamar utama.
"Mas! Lepas Mas! Kamu kasar ya sekarang! Mau aku laporkan perselingkuhan kamu?!" ancamnya.
.
.
"Huuuks, kamu jahat Mas! Padahal aku seperti ini demi menyenangkan kamu! Aku tak terpikirkan ke arah sana karena yang ada di hati aku hanya kamu, kamu, dan kamu!"
"Andai aku bisa, aku juga sebenarnya tidak ingin mencintai kamu! Tapi sulit Mas! Suliiit! Aku tetap mendamba dan mencintaiku kamu padahal aku sudah tahu kamu sudah membohongi dan mengkhianatiku! Huuuks."
Isak-tangis Dewi terdengar begitu memilukan. Aku mendekat dan segera memeluknya. Aku tahu Dewi terluka, aku tahu dia sangat mencintaiku, dan aku juga sadar benar jika aku adalah seorang pecundang. Tapi ... rasa dan hati ini tidak bisa dipaksakan.
"Maafkan Mas ya, Wi ...." Aku membawanya ke tempat tidur dan kembali memeluknya.
"Huuu ... aku sulit memaafkanmu, Mas. Sulit," jawabnya sambil memukuli dadaku. Pukulan Dewi terasa kuat. Berbeda dengan pukulan yang dilakukan Hanin.
"Aku benci sama Daini, Mas! Kalau mengikuti nafsu, rasanya aku ingin menumpahkan cabai bubuk level 30 di sekujur tubuhnya. Aku ingin wanita itu menderita, Mas."
"Wi, Hanin itu baik, kamu hanya belum mengenalnya."
"Apa Mas bilang?! Dia baik?! Terus aku apa?! Jahat?!" teriaknya sambil menjambak rambutku.
"Wi, jangan kasar cinta, lepas. Sakit cinta," aku mengurai tangannya dari rambutku.
"Huuu," ia beringsut ke ujung tempat tidur.
"Wi, sekarang katakan apa yang harus aku lakukan? Jika Hanin tidak boleh kuceraikan, lantas apa yang harus kulakukan agar kamu berhenti membenci Hanin?" tanyaku.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, Mas! Kamu cukup mengikuti keinginanku."
"Wi, Mas mohon, mari kita damai ya, ada banyak hal yang harus Mas urus selain kamu dan Hanin, Mas harus mengurus perusahaan, Wi."
"Begini Mas, kamu jangan menceraikan dia, tapi tetap beri dia nafkah bulanan berupa uang atau apapun yang dia mau, lalu kamu jangan pernah menemuinya kecuali bertemu secara tak sengaja. Kamu harus mencuekkanya dan tidak boleh memberinya nafkah batin. Apa kamu sanggup, Mas?!"
"Apa?! Wi, kalau Mas melakukan itu, artinya Mas suami dzolim. Mas tidak bisa," tolakku.
"Kenapa tidak bisa, Mas?! Kenapaaa?! Apa itu karena kamu mencintai dia?!"
"Begini Wi, Mas ---."
"Diam, Mas! Diam! Aku tak mau mendengar penjelasanmu!" Dia lantas merebahkan tubuh dan menarik selimut menutupi tubuhnya hingga batas leher.
__ADS_1
"Wi," aku mendekat. Membelai rambutnya.
"Kalau Mas mau aku memaafkan kamu, mau hidup Daini dan keluarganya tenang, mau keluarga kita tidak berselisih, mau perusahaan kamu tidak diakuisisi oleh perusahaan papiku, maka kamu harus mengikuti keinginanku!" tandasnya.
"Astagfirullahaladzim, Wi. Mas tidak menyangka kamu akan melangkah sejauh itu." Aku mengepalkan tangan menahan emosiku yang meluap-luap.
"Karena hanya dengan cara itu aku bisa mengurangi rasa sakit di hati ini, Mas. Aku ingin membuat Daini menyesal karena telah meminta kamu untuk menikahinya." tegasnya.
"Wi, kalau kamu benar-benar mencintai Mas, harusnya kamu tidak melakukan hal sejauh ini. Apa kamu tidak sadar telah melukai perasaanku?"
"Cukup Mas! Terdengar lucu kalau kamu membahas perasaan kamu sendiri! Sebab sejak kamu melakukan hubungan badan dengan wanita itu dalam keadaan sadar, tanpa paksaan dan tanpa pengaruh obat apapun, aku sudah menganggap jika perasaan kamu sudah mati!"
"Wi, kamu sudah bertindak diluar batas! Apa kamu tidak takut akibatnya?!" sentakku. Aku berdiri dan berkacak pinggang di samping tempat tidur.
"Hahaha, akibat?! Akibat apa Mas?! Lebih baik kamu baca lagi surat perjanjian pranikah kita sebelum kamu mengancamku!" teriaknya seraya menendang selimut dan melempar bantal ke tubuhku.
"Mas harusnya berpikir seribu milyar kali sebelum memutuskan untuk menikahi wanita munafik itu! Sebab saat aku melaporkan perselingkuhan kamu, maka perusahaan kamu akan hancur karena secara otomatis keluargaku akan menarik seluruh saham yang ada di perusahaan kamu!"
"Dewi Laksmi!" teriakku.
"Apa?! Silahkan katakan pembelaanmu, Mas!" Dewi beteriak lebih keras dari teriakanku.
"Wi, kamu tidak bisa sewenang-wenang karena aku tidak merasa selingkuh! Pasal selingkuh berbeda dengan kasus yang dialami oleh aku dan Hanin!" tegasku.
"Apa?! Kamu tidak merasa apa?! Tidak merasa selingkuh?! Hahaha, dengar ya Mas! Kamu merasa tidak selingkuh ya itu dari sudut pandang kamu, Mas! Dari sudut pandangku, Mas tetap SE-LING-KUH! Titik!"
"Dewi! Kamu ---." Aku mengepalkan tangan.
"Ingat ya Mas! Kalau kamu menyakiti aku, itu artinya kamu juga telah menyakiti papa dan mama kamu, Mas!"
"Ingat, Mas sudah pernah membuat papa dan mama Mas kecewa! Jangan sampai keputusan Mas membuat papa dan mama kecewa untuk kedua kalinya! Camkan itu Mas!" teriaknya. Lalu ia bersiap. Melapisi lingerienya dengan auter panjang.
"Dewi, mau ke mana kamu?! Ini sudah malam!" Aku menahan tangannya.
"Aku mau cari angin, Mas!" Menepis tanganku.
"Baik, silahkan kamu cari angin! Aku mau mencari Hanin!" timpalku. Akupun bersiap.
Mendengar ucapanku, Dewi mematung, ia menatapku sinis sambil mengeratkan gigi.
"Kamu yakin mau menemui wanita itu?!"
"Ya, aku yakin!" tandasku.
"Oke! Fine! Ayo kita sekalian saja sama-sama cari Hanin!"
"Maksudmu?!" Aku menatapnya dalam-dalam.
"Aku mau ikut bersamamu menemui wanita itu! Aku mau bertemu maduku!" tegasnya.
"Apa?!" Aku melongo.
"Ayo Mas, tunggu apalagi?!" Dia bergegas.
"Dewi, tunggu! Kamu tidak serius, kan?" Aku menyusulnya.
"Aku serius Mas! Dan Mas jangan mengira kalau aku tidak tahu di mana kamu menyembunyikan wanita itu! Aku ingatkan sekali lagi ya Mas! Aku bukan wanita bodoh! Aku punya banyak mata untuk memantau semua aktivitas kamu!"
.
Dewi berjalan cepat menuju garasi. Dia bahkan mengambil alih kemudi. Aku terpaksa masuk ke dalam mobilnya. Dan dia benar-benar melajukan kemudinya menuju apartemen yang kubelikan untuk Hanin.
"Wi, ini sudah lewat tengah malam, apa pantas kita bertamu di jam semalam ini? Ayo kita pulang saja," ajakku.
"Tidak Mas! Aku tidak mau! Lagipula aku juga sangat penasaran seperti apa rupa dia saat tidak memakai jilbab!"
"Wi, bagaimana kalau kita ke apartemennya besok saja?" harapku.
"Tidak Mas, aku maunya sekarang! Karena besok adalah saatnya kamu harus menentukan pilihan. Mau mengikuti keinginanku atau akan tetap bertahan bersama dengan keegoisan kamu!" tandasnya.
Aku menghela napas. Terpaksa mengikuti keinginan Dewi untuk menemui Hanin.
Aku tiba-tiba merasa terkurung dalam kebingungan yang tak berujung. Tapi setidaknya, malam ini ... aku bisa melihat wajahnya secara langsung.
Daini Hanindiya Putri Sadikin. Kita akan segera bertemu sayang ....
Pertemuan yang mungkin tidak pernah kamu harapkan.
...~Tbc~...
__ADS_1
...Yuk, komen yuk!...