Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tak Bisa Memutuskan


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Sayang, a-apa yang harus kulakukan? Tolong berikan sarannya." Pertanyaan yang sangat membingungkan.


"Emm, a-aku .... Aku tak bisa memutuskan secepat ini. Aku perlu waktu dan banyak pertimbangan."


Aku tak mungkin mengatakan ya atau tidak begitu saja. Rujuk bukan sesuatu yang bisa diputuskan dengan cepat. Lagi pula, apakah tujuan pak Zulfikar rujuk hanya karena ingin mendapatkan status perkawinan legal denganku?


"Kamu dengar 'kan, Wi? Jangan memaksaku ataupun Hanin untuk mewujudkan keinginan kamu."


"Bilang saja ya, Daini. Apa susahnya? Kalau aku jadi kamu, aku akan setuju. Dengan kamu setuju, kamu akan jadi istri sah di mata hukum. Status anak-anak kamupun jadi jelas," timpal bu Dewi.


"Ini bukan masalah status, Kak. Aku punya alasan untuk memikirkannya terlebih dahulu. Aku harus shalat hajat agar diberi petunjuk."


"Issh, dasar sok suci! Ya sudah, terserah kamu! Sekarang lepaskan dulu ikatannya, Mas! Tanganku sakit. Aku juga mau menelepon mami dan papiku."


"Dari awal, aku memang tidak ingin menyakiti kamu. Tapi kamunya yang selalu cari masalah dan selalu membuatku emosi jiwa!"


"Pak Zulfikar, jangan bentak-bentak Bu Dewi, aku tidak suka. Oiya, aku mau jenguk ummi." Aku mengurai pelukannya. Lalu meninggalkan kamar.


"Sayang, tunggu." Pak Zulfikar malah menyusulku.


"Aaarrgh! Mas! Daini! Lepaskan aku! Huuwaa. Huuu .... Kalian b i a d a b! Kamu wanita serakah Daini!" teriak bu Dewi. Aku benar-benar tak tega mendengarnya.


"Sayang, yuk ke rumah sakit bersamaku," katanya saat kami tiba di kamar.


"Pak, lebih baik Anda selesaikan dulu urusan bu Dewi. Aku inginnya tidak diikat seperti itu. Kalau memang bu Dewi harus di bawa ke rumah sakit, cepat lakukan, Pak. Aku kasihan."


"Satu lagi, Bapak cepat urus masalah kak Listi dan pak Sabil. Tadi, aku tak sengaja mendengar percakapan polisi yang berjaga di depan. Kata mereka, pak Sabil diculik. Dan yang membuatku kaget, mereka mengatakan ada saksi yang melihat pak Sabil naik motor bersama wanita cantik berambut pendek."


"Apa?! Siapa yang mengatakan itu? 'Kok mereka tak melapor padaku, 'sih?!"


Ia terkejut. Lantas berlalu ke luar kamar dengan tergesa. Pasti untuk menemui polisi-polisi itu. Aku menyusul karena penasaran dengan kabar terbarunya.


.


"Pak Zulfikar, ada telepon dari pak Abil. Pak Abil sudah ditemukan."


Setibanya di ruang tamu, pak Zulfikar langsung disodori ponsel.


"Sudah ditemukan?! Alhamdulillah. Hallo, Pak Sabil."


Pak Zulfikar tampak bahagia. Emosinya tidak jadi meluap, dan ia terlihat serius. Pasti sedang mendengarkan laporan dari pak Sabil di ujung telepon sana.


"...."


Apa yang dikatakan pak Sabil ya? Aku mendekat ke sampingnya. Namun tak bisa mendengar apa-apa.


"Apa?! Serius?! Tapi luka-luka Anda tidak parah, 'kan? Maaf, HP-ku habis baterai."


"...."


"Apa?! Kurang ajar!"


Sepertinya, ada masalah yang sangat serius. Ia tampak geram.


"...."


"Listinya tidak terluka, 'kan? Dia baik-baik saja, 'kan?"


"Pak, Anda barusan bilang kak Listi? Apa maksudnya kak Listi temanku?"


"Ya sayang. Nanti aku ceritakan kronologisnya."


Sambil mengepalkan tangan kuat-kuat. Ada apa ya? Jelas sekali jika pak Zulfikar sedang menahan kemarahan. Dugaanku ternyata benar, pak Sabil memang pergi bersama kak Listi.


"...."


"Pak, aku mau bicara sama kak Listi."


"Sebentar ya sayang. Baik, aku paham. Kita harus membahas kasus ini dengan Propam. Apa perlu Pak Sabil meminta perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban alias LPSK? Hahaha, terdengar lucu."


Aku tak mengerti yang dia katakan. Sementara tiga orang polisi yang berada di hadapanku, tampak tertunduk dan bergeming.


"...."


"Baiklah. Sayang, ini Listi. Dia juga mau bicara sama kamu." Aku segera merebut ponselnya.


"Dai, huuu. A-aku takut, Neng."


"Kak Listi? Aku senang Kakak tidak apa-apa. Oiya, posisi Kak Listi ada di mana?"


Kak Listi jarang sekali menangis dengan suara gemetar seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada hubungannya denganku? Kupikir pasti ada.

__ADS_1


"Aku kembali lagi ke Jakarta, Dai. Masih berada di mobil polisi. Maaf ya Dai, karena penculik-penculik itu, aku jadi tak bisa menemui kamu. Aku sudah dengar semua ceritanya dari Pak Sabil. Huks, aku tak bisa membayangkan bagaimana kagetnya ummi saat melihat keributan itu." Kak Listi terisak.


"Kak Listi, aku yang minta maaf, Kak. Karena aku. Kakak hampir celaka. Maaf ...," lirihku. Lalu pak Zulfikar memelukku.


"Ini bukan salah kamu, sayang. Ini salahku. Yang terjadi pada Listi dan pak Sabil, murni kesalahanku."


"Aku yang salah Pak Zulfikar, Bu Daini. Kalau saja aku bisa lebih hati-hati, semua ini tidak akan terjadi," sela pak Sabil, di sana. Ia dan kak Listi pasti sedang duduk berdekatan.


"Pak Sabil! Aku dan Daini belum selesai bicara! Kembalikan HP-nya!" Ya ampun, mereka seperti kakak-beradik.


"Baik, tapi jangan lama-lama ya. Aku dan pak Zulfikar masih ada yang ingin dibicarakan."


"Hallo, Dai."


"Ya, Kak."


"Emm, begini Neng, untuk sementara waktu, aku tak bisa bertemu kamu dulu. Situasinya sangat membingungkan. Jadi, mau tidak mau, aku harus patuh sama keinginan tim kuasa hukum keluarga pak Direktur. Kata mereka, kedekatan kita beresiko dimanfaatkan oleh rivalnya keluarga Antasena."


"Aku mengerti, Kak. Aku ...."


Serius, jadi merasa bersalah pada kak Listi. Gara-gara berteman denganku, ia jadi terlibat ke dalam pusaran permasalahan ini.


"Ssstt, jangan terlalu dipikirkan. Sedari awal, aku memang sudah memeringati kamu. Namun, aku sendiri yang telah memutuskan untuk tetap berteman sama kamu, Neng."


"Cukup, Tia. Sekarang giliranku."


Sepertinya, pak Sabil merebut kembali ponsel yang dipegang kak Listi. Akupun segera memberikan HP ini pada pak Zulfikar. Lalu pak Zulfikar dan pak Sabil terlibat pembicaraan yang cukup panjang. Aku tak bisa mendengarnya karena pak Zulfikar menjauh.


...⚘️⚘️⚘️...


"Ummi ...."


Aku tak kuasa menahan haru. Memeluk ummi dan menangis. Pak Zulfikar dan abah duduk berhadapan tak jauh dari tempatku berada. Namun mereka tak saling bicara. Hanya bersalaman sesaat setelah aku dan pak Zulfikar tiba di ruangan ini.


"Ummi tos (sudah) baikan, 'kok. Jangan nangis." Ummi mengusap airmataku.


"Kata dokter, besok juga sudah boleh pulang," sela Abah.


"Alhamdulillah," sahutku.


"Besok, aku mau membawa Ummi ke Jakarta untuk mendapat pelayanan di rumah sakit khusus jantung. Aku akan membawanya ke poli eksekutif," kata pak Zulfikar.


"Tidak perlu," kata abah.


"Kenapa Abah?"


"Abah sendiri yang akan membawanya, Mas. Tak perlu ke poli eksekutif. Mau ke poli biasa saja."


"Abah, aku ingin bertanggung jawab. Apa salahnya? Aku sudah menganggap Ummi dan Abah sebagai orangtuaku."


"Mas, tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang. Maaf ya, Mas. Selagi Abah mampu, Abah sama sekali tak perlu bantuan dari Mas. Jujur, ruangan ini saja, bagi Abah mah sudah terlalu mewah."


Entah kenapa, sikap Abah pada pak Zulfikar terkesan kaku. Aku dan ummi saling menatap.


"Maaf Abah, aku sama sekali tak bermaksud menyepelekan Abah. Aku melakukan semua ini karena teramat sayang dan peduli. Aku mencintai Hanin, sangat wajar jika aku juga mencintai Abah dan Ummi."


Abah terdiam. Malah mengalihkan pandangan sambil menghela napas panjang.


"Ada apa sebenarnya, Abah? Apa Abah belum memaafkanku?"


Pak Zulfikar bicara sambil menunduk dan merematkan kedua tangannya. Aku yakin ia tengah gugup.


"Abah sudah memaafkan kejadian tadi pagi. Terima kasih telah memberikan pelayanan terbaik untuk Ummi sampai-sampai Ummi mendapat perawatan di kelas president suite."


"Lantas, apa gerangan yang membuat Abah ingin menolak bantuanku? Abah, emm ... aku menantu Abah. Komohon, jangan membuatku takut dan merasa terus bersalah." Kepala pak Zulfikar kian menduduk.


"Mas, Abah sudah bilang telah memaafkan. Namun, Mas sudah membuat Abah kecewa. Sangat kecewa."


"Ma-maksud Abah?" Pak Zulfikar mengangkat kepalanya sejenak untuk menatap abah.


"Abah baru dengar ceritanya hari ini dari pak Ihsan. Apa benar Mas pernah mentalak Daini?"


Aku dan pak Zulfikar terkejut. Ummipun langsung menatapku. Aku spontan menunduk. Faktanya, aku memang menyembunyikan hal itu dari abah dan ummi.


"Emm, be-benar Abah, tapi langsung rujuk lagi. Saat itu, aku melakukannya karena berada di posisi yang sangat membingungkan."


"Lalu hari ini, apa benar Mas sudah mentalak bu Dewi? Abah dapat infonya dari kang Hendra."


"Be-benar Abah," jawabnya pelan.


"Bu Dewi diceraikan?" Ummi kembali menatapku dengan tatapan menelisik.


"Ummi, tenang ya." Aku memeluk ummi.

__ADS_1


"Abah, Ummi, aku menceraikannya karena dia pantas mendapatkannya. Dia selalu menghina Hanin dan melukai perasaanku. Selain itu, keluarga Dewi juga ----."


"Cukup Mas, tak perlu dijelaskan," sela abah.


"Abah, Ummi, ada banyak hal yang ----." Pak Zulfikar berusaha menjelaskan.


"Abah tak memerlukan penjelasan." Namun disela lagi.


"Sayang, tolong bantu aku untuk menjelaskannya pada Abah dan Ummi. Jelaskan bagaimana jahatnya Dewi sama kamu." Pak Zulfikar melirikku. Aku tak bisa menjawabnya.


"Abah tahu Mas punya hak untuk memutuskan. Namun, Abah merasa jika Mas terlalu tergesa-gesa dan kurang pertimbangan. Abah kurang srek dengan sikap Mas yang seperti itu," tegas abah.


"Maaf, Abah."


"Tolong buktikan sama Abah kalau Mas adalah pria yang bertanggung jawab."


"Baik, Abah. Apa yang harus kulakukan?"


"Tolong cepat selesaikan masalah Mas sama bu Dewi. Jika memang sudah diceraikan, segera kembalikan ke rumah orang tuanya dan bicaralah dengan mereka secara baik-baik."


"Aku dan Dewi menjalin hubungan yang tak biasa, Abah. Abah juga pernah membaca surat perjanjian pranikah aku dan Dewi, 'kan?"


"Ya, Abah tahu. Tapi tolong Mas pahami kondisi Abah, Ummi, dan juga Putra. Saat ini, kasus yang terjadi di rumah Abah sudah menyebar ke Pondok. Pak Kyai, teman-teman Abah, dan juga para tetangga tak henti-hentinya bertanya pada Abah untuk meminta klarifikasi."


Pak Zulfikar merenung. Jika aku berada di posisinya, aku juga akan kebingungan.


"Abah, mohon beri kesempatan agar pak Zulfikar bisa menjelaskannya," pintaku.


"Abah sudah tahu semuanya," gumam abah. Hal itu membuat aku dan pak Zulfikar saling menatap.


"Dan keputusan Abah tidak berubah. Mas Zul dan orang tua bu Dewi harus segera melakukan mediasi. Abah juga berharap agar kondisi rumah Abah kembali kondusif seperti semula. Bebas dari penjagaan polisi dan tontonan para tetangga."


"Baik Abah. Maaf karena telah membuat keonaran."


Pak Zulfikar beranjak. Ia meraih dan segera mencium tangan Abah.


"Buktikan juga kalau Daini aman berada di sampingnya Mas. Besok, Abah izinkan Mas membawa Daini ke Jakarta."


"Abah, aku belum siap kembali ke Jakarta," selaku.


"Neng, kamu tahu 'kan kalau istri harus ikut dengan suaminya? Neng, Abah tak nyaman didesak terus sama besan agar menyuruh kamu kembali tinggal di Jakarta."


"Tapi Abah, aku ----."


"Ummi sepakat dengan Abah, Neng. Dengan kamu berada di Jakarta, Mas Zulfikar bisa fokus melakukan mediasi dengan keluarga bu Dewi tanpa harus pulang-pergi ke Bandung untuk menemui kamu," sela ummi.


"Sayang, aku juga setuju."


Wajahnya yang tadi murung berubah jadi berbinar. Ia bahkan mendekat untuk memelukku. Ya ampun, aku jadi malu sama abah dan ummi.


"Neng, Ummi dan Abah tak mau dituduh telah menahan kamu untuk berada di sini. Tapi itu bukan berarti Abah tak peduli sama kamu. Abah ingin kamu di Jakarta justru demi kebaikan kamu dan keluarga kita. Jujur, semenjak kamu ada di sini, banyak telepon yang masuk ke Abah, kang Hendra dan juga Ummi. Mereka mengaku sebagai wartawan dan selalu menanyakan tentang status kamu dan Mas Zulfikar," terang abah. Hal itu membuatku kian bersalah saja.


"Kenapa Abah baru mengatakan sekarang?" tanya pak Zulfikar.


"Abah dan Ummi awalnya sepakat untuk merahasiakan masalah ini. Namun, kejadian tadi pagi membuat Abah dan Ummi sadar jika masalah ini sangat serius. Dengan kamu berada di Jakarta, mungkin ... bisa sedikit mengurai perkara ini. Setidaknya, wartawan tak akan mengganggu lagi," jelas abah.


"Abah, aku mengizinkan Hanin tinggal sementara di sini awalnya agar Hanin lebih nyaman, aman, dan tenang. Aku tak menyangka jika keberadaannya malah membuat Abah dan Ummi diteror."


"Tak masalah, Mas. Tapi, tolong segera lakukan mediasi. Sampai kapan keluarga Mas dan keluarga bu Dewi akan beseteru? Abah tidak mau ikut campur. Namun faktanya keluarga Abah tetap terlibat." Sambil menatap ke luar jendela.


"Neng, kamu harus memahami keputusan Abah dan Ummi ya. Andai mengikuti nafsu, Ummi pribadi tak ingin terlibat dengan kerumitan ini. Tapi, Ummi tidak mau memutus jalinan cinta kalian."


Ummi mengatakan tentang jalinan cinta. Padahal, aku tak pernah berkata mencintai pak Zulfikar. Alasan utamaku menerimanya adalah karena di dalam tubuhku ada keturunannya. Hingga saat ini, aku kadang ragu jika yang kurasakan saat ini adalah cinta.


Sebab, cinta yang kuinginkan adalah ... cinta yang sejatinya ikhlas karena-Nya. Termasuk, ikhlas berbagi ranjang dengan bu Dewi. Aku mendamba bisa akur dan rukun bersama bu Dewi. Tapi ... dia begitu sulit dipahami.


"Abah hanya memberi saran. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Mas. Emm, apa Abah boleh mengatakan suatu hal?"


"Sangat boleh," jawabnya.


"Mas, setiap jalinan hubungan suami istri pasti ada saja permasalahannya. Bahkan, masalah tersebut bisa membuat salah satu pihak memutuskan untuk bercerai. Ketika bercerai, banyak hal yang harus dipikirkan, Mas. Salah satunya adalah anak-anak dan pengalaman indah bersama pasangan di masa lalu."


"Tapi Abah, aku tak memiliki pengamalan menarik bersama Dewi. Dewi itu kejam, Abah. Dia sering melakukan KDRT. Hanin saksinya. Hanin juga sering disakiti," sangkalnya.


"Apa benar begitu?" Abah melirikku.


"Abah, bu Dewi menyakitiku karena ia masih menyimpan dendam dan sakit hati. Aku selalu memaafkan apapun yang dia lakukan karena sampai detik ini ... aku selalu merasa bersalah. Be-begitu, Abah," jelasku.


"Huufhh .... Abah memahami perasaan kamu. Juga memahami perasaannya bu Dewi. Semua keputusan Abah kembalikan pada Mas Zulfikar. Jika ingin tetap bersama Daini, tolong perbaiki semuanya. Maksud Abah, tolong perbaiki lagi hubungan Mas dan bu Dewi beserta keluarganya. Jikapun perpisahan itu adalah jalan terbaik, Abah berharap agar hal itu tak menimbulkan konflik baru," pungkas abah.


"Aku akan berusaha , Abah. Tolong dukung aku ya sayang," pintanya. Selalu saja menjadikanku seolah teramat berharga bagi kehidupan dan setiap keputusannya.


"InsyaaAllah," sahutku.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2