
"Kenapa, Pak?" Ia kembali bertanya. Tapi, aku malah bingung harus memulainya dari mana.
"Aku ... emm ... aku minta maaf karena sudah membuatmu jadi seperti ini." Akhirnya, niatan itu kuurungkan. Kupikir, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Bukankah Anda sudah meminta maaf berkali-kali?"
"Ya, aku tahu. Tapi, tidak ada salahnya 'kan kalau aku minta maaf lagi? Oiya, sepeda kamu akan diantar ke rumah kamu besok. Baiklah, aku pergi dulu." Aku beranjak.
"Pak, tunggu." Tak kusangka, dia malah memegang tanganku.
"Kenapa?"
"Katanya, mau interogasi aku, 'kan? 'Kok enggak ditanya-tanya 'sih?" protesnya.
"Oh, sebenarnya, itu hanya alasan saja. Tujuan utamanya, aku ingin menjenguk kamu." Sambil membalikan badan dan akupun memegang tangannya.
"Apa?!" Dia terkejut.
"Ya benar. Jujur, aku sangat khawatir. Rasanya, hati ini tak tenang jika melewatkan hari tanpa melihat kamu." Kalimat dari bibirku mengalir begitu saja."
"A-apa?!
Dia kembali terkejut. Bibirnya sampai terbuka saking kagetnya. Dan mata ini, seketika tak bisa berpaling dari bibir itu. Gilanya, badan tak tahu diri ini tiba-tiba condong ke depan begitu saja. Aku mendekatkan wajah demi melihatnya lebih dekat lagi.
"P-Pak ---." Listi memundurkan tubuhnya, wajah kagetnya masih terlihat jelas.
'Cup.'
Satu kecupan mendarat dengan cepat. Aku sendiri terkejut dengan apa yang kulakukan.
"Pak Sabil!" Matanya mengerjap. Aku mematung bingung. Listi menatapku heran campur kaget.
Aku menyembunyikan rasa malu dengan tertawa. Untungnya, aku masih bisa menahan diri. Jadi, yang kukecup tadi bukan bibirnya. Melainkan ... keningnya.
"Hahaha." Aku terbahak.
"Apa maksudnya mencium keningku? Anda kenapa 'sih?" Sambil mengusap-usap keningnya.
"Silahkan artikan sendiri apa maksudnya," jawabku. Lalu bersiap untuk pergi.
"Pak Sabil," panggilnya. Namun, aku mengindahkannya karena gugup.
"Sudah selesai?" tanya ayahnya Listi saat pintu kamar perawatan terbuka.
"Sudah Pak," jawabku.
"Pak Abil mau pulang sekarang?" tanya kawanku.
"Ya, kita langsung pulang. Bapak, Ibu, kami permisi."
Aku cepat-cepat menyalami orang tua Listi. Ingin rasanya menengok kembali ke sana. Namun tak kulakukannya karena malu.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya Pak. Sekali lagi terima kasih karena sudah menyelematkan Listi."
Ayahnya kembali beterimakasih. Listipun tak kudengar lagi suaranya. Ia pasti tengah memikirkan sikap anehku terhadapnya.
.
Tiba di dalam mobil, aku kembali melamun. Semua hal tentangnya menari-nari dalam ingatan hingga membuatku gundah. Bibir itu, punggung itu ... memenuhi kepalaku.
"Pak Abil tidak-apa, 'kan?"
"Tidak," jawabku.
"Listi cantik ya, Pak. Sudah punya pacar belum ya? Kalau belum, aku ---."
"Sudah. Dia sudah punya pacar," selaku.
"Oh, sayang sekali. Tadinya ka ---."
"Diam! Kamu sedang nyetir, 'kan? Jangan bicara lagi," sentakku.
"Maaf Pak," katanya.
.
Aku memejamkan mata. Ingin menenangkan diri tapi tidak bisa. Hingga mobil yang ditumpangi tiba di depan rumahku, aku tetap murung.
"Terima kasih. Sampai jumpa besok," ucapku ketika kawanku pergi.
Mereka hanya menganggukkan kepala. Pasti menyadari jika keadaan batinku sedang tidak baik-baik saja.
.
"Aa kenapa?"
Bunda mendekat sambil mengelus pundakku yang tengah melamun menatap akuarium di ruang keluarga.
"Ayah belum pulang?" Aku mengalihkan pertanyaan bunda.
"Belum. Aa kenapa? Cerita dong sama Bunda."
"Emm, Aa menyukai seseorang Bunda." Curhat pada bunda memang paling tepat.
"Hahaha. Akhirnya. Aa bukan anak kecil lagi. Ya bagus atuh kalau sudah ada yang Aa sukaimah."
"Tapi, wanita itu bukan dari kalangan yang diinginkan ayah. Dulu, ayah pernah bilang kalau Aa harus mencari jodoh yang berasal dari keluarga polisi atau militer," keluhku. Pesan itu selalu aku ingat.
"Apa?! Hahaha, apa Aa menganggap candaan itu serius? Ya ampun A Abil. Ayah bilang kayak begitu tidak serius tahu. Kata ayah, kalau polisi atau berasal dari keluarga polisi, tujuannya agar istri kamu dan keluarganya memahami pekerjaan kamu. Pada dasarnya siapapun boleh. Asal jelas saja bibit bebet bobotnya."
"Haish, Aa kira serius. Makanya Aa enggak pernah pacaran ya karena alasan itu, Bun. Sedangkan, usia Aa 'kan sudah tidak muda lagi. Tahun ini, usia Aa genap 30 tahun. Teman-teman Aa sudah pada punya anak."
"Hahaha, laki-laki 30 tahun mah atuh masih muda A. Ya wajar kamu telat nikah. 'Kan kamunya pendidikan dulu. Lulus Akpol, kamu juga harus fokus pada pengabdian. Ya sudah, ceritanya kita lanjutkan besok ya. Aa harus cepat istirahat." Bunda beranjak sambil senyum-senyum.
.
Tiba di kamar, akupun masih gelisah. Tak bisa memejamkan mata. Padahal, sudah mandi, minum susu hangat, dan berselimut.
Kuberanikan mengambil ponsel baruku. Ponsel lamaku masih disita untuk proses penyidikan. Sementara dia, katanya sudah dibelikan HP baru oleh pak Zulfikar. Dan aku sudah mendapat nomor barunya dari bu Daini.
"Tia, ini aku. Abil." Mulai mengetik.
"Sudah tidur belum?" Lanjut mengetik.
"Oiya Tia, apa boleh kalau aku mengenalmu lebih dekat lagi? Kalau aku mengagumimu, apa boleh juga?"
Jariku terhenti. Kirim jangan ya? Ini masih konsep. Serius, dadaku berdebar. Aku takut dia mentertawakanku, menganggap ini lelucon, atau ... malah menolakku. Konsep berlanjut.
__ADS_1
"Tia, maaf karena aku sering membuat kamu marah. Jujur, aku senang melihat ekspresi marah kamu. Tapi, saat kamu sedih, aku juga suka ikut sedih. Saat kamu terluka, aku khawatir dan tak bisa tenang sebelum melihat kamu dalam keadaan baik-baik saja."
Tidak, kalimat itu kurasa agak berlebihan. Aku seperti bukan pria gagah kalau kalimatnya seperti itu. Hapus! Semuanya kuhapus. Segera memikirkan kalimat tepat yang sekiranya cocok untuk wanita tipikal Listi. Wanita tomboy biasanya simpel, menyukai hal-hal yang tidak berbelit-belit, dan cara berpikirnya out of the box.
Oke, aku ada ide. Semoga berhasil. Bismillah.
"Tia, aku lajang. Kamu juga sama. Bagaimana kalau kita jadi pasangan saja? Apa kamu setuju?"
Bagus enggak ya? Jujur, lebih mudah menembak kaki penjahat daripada nembak cewek. Kirim jangan ya? Jadi ragu lagi. Hapus!
"Aaarggh!" Akhirnya beteriak karena tak ada ide.
Namun, mata ini membulat karena ada pesan masuk. Pesan dari wanita yang telah membuatku gundah-gulana. Jedug, jantungku seolah meronta.Tak biasanya ia mengirim pesan di jam semalam ini.
"Aku yakin ada hal yang ingin Anda katakan. Ada apa? Katakan sekarang ya. You know? Aku enggak bisa tidur karena kepikiran terus Anda mau ngomong apa."
Aku tercengang. Tapi aku akui kalau dia jauh lebih berani daripada aku. Ini kesempatan. Segera kubalas.
"Bisakah kamu memaknai kecupanku di keningmu?" Berbasa-basi dulu.
"Aku sempat berpikir kalau Anda menyukaiku. Tapi itu tidak mungkin. Anda sudah berulang kali menghinaku dan mengatakan kalau aku bukan tipe Anda," balasnya.
"Aku sering mencacimu karena kamu juga sering mengejekku."
"Maaf," balasnya singkat.
"Aku juga sudah memaafkan kamu. Bagainama kalau kita saling memaafkan dengan cara saling mengenal lebih jauh lagi. Maukah?"
"Maksud Anda?"
"Kamu sudah besar. Aku yakin kalau kamu faham maksudku."
"Aku tidak paham, Pak."
"Aku tertarik sama kamu."
Kirim jangan ya? Oh tidaaak! Karena gugup, aku malah menekan tombol enter yang berada tepat di bawah tombol hapus. Jantungku jedag-jedug lagi. Pesan terkirim dan sudah dibacanya.
"Anda becanda, kan?"
"Tidak." Sudah terlanjur. Aku harus menuntaskanya.
"Serius? Hahaha."
"Aku serius. Aku ingin mendapat tempat di hati kamu. Aku menyukai kamu, Tia. Apa ada kesempatan?"
Dua menit berlalu. Namun tak ada balasan. Tidak, bagaimana ini? Aku menunggunya. Hingga satu jampun berlalu. Dan dia tetap tak membalas pesanku.
Aku gelisah. Mau menelepon tapi tak berani. Akhirnya, hanya mampu menunggu sambil mengacak tempat tidur.
"Balas dong, Tia. Please." Kucoba memejamkan mata, tapi sulit. Rupanya, wanita itu akan menggangguku sepanjang malam.
"Aaarrggh."
Kuberanikan menelepon. Tapi tidak diangkat. Hancur sudah harapanku. Aku memukuli bantal hingga pecah.
...⚘️⚘️⚘️...
[Warning!!! Adult Area!!!]
_______________________
Demi cintaku pada Hanin, aku rela melakukannya. Rujuk dengan Dewi. Wanita yang tak pernah aku pahami jalan pikirannya. Aku melakukannya demi pembuktian pada Hanin.
Selain itu, aku juga melakukannya demi anakku. Namun aku telah meyakinkan pada Dewi dan Hanin jika ini adalah kesempatan terakhir. Bila Dewi kembali berbuat di luar batas, aku tidak akan mentolelir lagi.
"Setidaknya, demi calon anak Anda, Pak. Anak yang dilahirkan oleh bu Dewi, adalah anakku juga."
"Mas, ada baiknya jika kita menjadi manusia yang bisa membawa kedamaian dan ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya. Dengan Mas rujuk, Abah yakin bisa meredam kemarahan keluarga bu Dewi. Terlepas dari kesalahan mereka, kondisi bu Dewi saat ini memang butuh dukungan. Mohon dipertimbangkan."
Atas dasar itu, akupun rela mengalah. Aku ambil sisi positifnya. Mungkin, ini jalan terbaik yang diberikan oleh-Nya untuk meresmikan pernikahanku dengan Hanin. Besok, buku nikah aku dan Hanin akan dicetak.
Malam ini, setelah rujuk, aku memilih tidur sendiri di kamar tamu untuk menenangkan diri. Tidak di kamar Hanin, tidak pula di kamar Dewi. Aku benar-benar ingin menyendiri.
Tadi, aku juga mendapat pesan dari papinya Dewi. Intinya, ia mengatakan akan memperlakukanku dengan baik selama aku baik terhadap Dewi. Aku tak membalas pesannya karena sudah muak dengan sikapnya.
Ya, aku setuju rujuk. Tapi, kejahatan tetaplah kejahatan. Mereka tetap harus diproses secara hukum. Tidak ada kompromi untuk tindak kriminal. Di belahan bumi manapun, pelaku kejatan harus tetap diadili.
"Proses hukum akan berlanjut." Itu yang dikatakan pak Ikhwan, dan aku menyetujuinya.
'Tok. Tok.' Pintu kamar diketuk.
"Siapa?"
"Assalamu'alaikuum."
"Wa'alaikumussalaam."
Aku segera membuka pintu dan berusaha bersikap biasa saja.
"Susu hangatnya, Pak." Hanin meletakan gelas berisi susu yang masih mengepul di atas meja.
"Anda yakin mau tidur di sini?"
"Ya," jawabku.
"Apa perlu aku temani?" Pertanyaan itu membuatku meliriknya.
"Tidak perlu."
"Tadi, aku juga membawakan susu ke kamarnya bu Dewi. Tapi, bu Dewinya sudah tidur."
"Terima kasih," sahutku.
"Apa aku boleh memijat Anda dulu sebelum aku pergi?"
"Tidak perlu."
"Anda kenapa? Marah?" Malah mendekati dan memegang tanganku.
"Tidak sayang. Aku hanya ingin sendiri."
"Aku ingin menemani Anda. Boleh ya?" Sambil merebahkan kepalanya di lenganku. Ia juga membuka jilbabnya.
"Emm, aku ingin sendiri dulu sayang."
"Aku ingin menemani Anda selama lima menit. Boleh, 'kan?"
__ADS_1
"Lima menit? Baiklah." Aku menyetujuinya.
"Sebenarnya, si kembar yang ingin tidur bersama Bapak. Bukan aku," sangkalnya.
Ia bahkan menyingkap piyamanya untuk menunjukkan bagian perutnya. Melihat kebeningan itu, aku tak bisa membiarkannya. Kutatap lekat-lekat.
"Pak, bayi kita begerak." Ia sumringah. Aku spontan menyentuhnya. Kulit halusnya membuatku berdebar.
"Be-benar sayang. Tanganku terasa seperti ditendang." Jadi terharu.
"Pak, yang satu lagi begerak juga."
Ia menuntun tanganku untuk menyentuhnya. Yang ini, gerakannya lumayan kuat. Hingga membuat Hanin sedikit meringis.
"Apa mereka menyakiti kamu?"
"Tidak, Pak. Hanya saja, akunya jadi geli. Terus, jadi mau buang air kecil." Sambil tersenyum.
"Ya ampun Hanindiya, apa kamu sengaja menggodaku?"
Aku kalah. Aku tak bisa mengendalikan diri saat melihat kemolekannya. Dia malah merangkulku, dan berkata ....
"Bagaimana kalau pindah ke kamar kita, Pak? 'Kan di kamar inimah enggak ada peredam suaranya," bisiknya. Wanita ini pandai merayu.
"Baik, tapi ... ada syaratnya sayang."
"Syarat apa, Pak?"
"Katakan kalau kamu benar-benar mencintaiku, Hanindiya."
"Pak, aku sudah memberikan semuanya. Apa itu tidak cukup?"
"Tidak. Aku belum pernah benar-benar mendengar dari bibirmu langsung kalau kamu mencintaiku." Sambil menyusuri bibirnya dengan jemariku.
"Ba-baik, a-aku akan mengatakannya." Ia mendekat. Bibirnya menempel di daun telingaku.
"I love you forever and ever," bisiknya.
"Really?" Aku bahagia. Hanin mengangguk seraya memelukku.
"Sayang ... terima kasih. Aku membalas dekapannya."
"Aku mencintai Anda karena Allah. Aku menikah dengan Anda tujuannya adalah untuk mengharap ridha-Nya. Niatku semata-mata untuk merasakan halawatul iman yang bisa diartikan sebagai kelezatan dan manisnya iman," terangnya.
"Hanindiya ... ada wanita lain di antara kita. Jika suatu saat tumbuh benih-benih cinta di hatiku untuk Dewi, bagaimana? Apa kamu tidak cemburu? Ingat sayang, kamu dipoligami. Apa kamu rela dipoligami karena tergiur surga?" Aku menyatukan keningku dengan keningnya. Napasnya yang hangat menyibak wajahku.
"Sepengetahuanku, tidak ada hadits yang menyebutkan jika 'perempuan yang dipoligami dan bersabar jaminannya adalah surga.' Yang aku tahu begini Pak, meskipun hanya melakukan ibadah fardhu dan meninggalkan sunnah selama hidupnya, Allah SWT akan tetap meridhoi istri yang hormat dan taat kepada suaminya. Jadi, kriteria perempuan yang bisa disebut sholehah ialah istri yang menghormati dan taat terhadap suaminya." Ia berkata sambil mengelus dadaku.
"Pak, cemburu itu fitrahnya manusia yang bisa datang kapan saja. Dalam sebuah rumah tangga, rasa cemburu terhadap pasangan bisa dikatakan wajar. Jika rasa cemburu itu tidak ada, justru akan menjadi hal yang sangat dikhawatirkan. Sebab, bisa jadi pasangan kita ternyata tidak memiliki rasa kasih dan sayang."
"Kamu benar sayang."
"Rasa cemburu akan muncul karena adanya rasa cinta. Se-semakin kuat rasa cinta seorang istri kepada suaminya, maka semakin kuat pula rasa cemburunya." Suara Hanin gemetar karena tanganku mulai aktif.
"Aku tahu sayang. Cemburu di dalam Islam jelas diperbolehkan. Asalkan, rasa cemburu yang timbul tidak memiliki sifat yang berlebihan hingga menyebabkan pertengkaran di antara kita."
"Ya Pak. Cemburu itu 'kan banyak macamnya. Ada yang terpuji, dan ada pula cemburu yang tercela."
"Seperti apa contohnya cemburu yang terpuji itu sayang? Bisa beri contoh?"
Aku bertanya seraya melepas segenap hal yang melekat di tubuhnya. Aku tak peduli walaupun kamar ini tidak kedap suara.
"Emmh .... Salah satu cemburu yang terpuji adalah cemburu terhadap waktu. Karena waktu merupakan sesuatu yang paling berharga bagi ahli ibadah. Ahli ibadah tentu akan cemburu jika ia kehilangan waktu. Sebab, sekali saja kehilangan waktu, dia tidak akan mendapatkannya kembali," jelasnya. Tubuhnya lantas menggelinjang. Rupanya, ia mulai merespon tindakanku.
"Bercinta juga ibadah bukan?" bisikku.
"Hmmh .... Ya, Pak ...." Ia mengangguk lemah. Mata beningnya mengobarkan hasrat. Jelas, ia sedang menginginkanku.
"Maka dari itu, kita jangan menyia-nyiakan kesempatan ini sayang," bujukku.
Lalu aku melahapnya dengan sepenuh hati. Tangannya mengerat ke pundakku. Sesekali, ia meremat sprei sambil menghentakkan kakinya.
"Sayang ...."
Asalkan terus bersamanya, aku yakin bisa melewati panggung sandiwara ini dengan percaya diri. Kalaupun ranjang kita terbagi, yang aku cintai hanya satu. Daini Hanindiya Putri Sadikin.
Ya, ini mungkin tidak adil untuk Dewi. Tapi ... aku tak bisa memaksakan perasaanku. Karena hati memang tak pernah bisa dibohongi. Hati adalah tempat berkumpulnya rasa. Sumber dari semua reaksi bermula. Hatiku tentu saja memengaruhi tindakanku terhadap Hanin dan Dewi.
Aku sering bersikap reaktif pada Dewi karena hatiku sering diusiknya. Merasa tidak dihargai, tersinggung, kecewa, bahkan direndahkan dan tak dipercayainya lagi.
Sebaliknya, untuk Hanin, aku rela melakukan apa saja karena hatiku telah terbeli. Itu terjadi karena Hanin senantiasa memberikan yang terbaik untukku. Hanin membuatku merasa nyaman dan dihargai. Sekeping hati yang katanya menggantung di bagian rongga dada ini, ternyata sangat berperan penting bagi kehidupanku.
"I love you ...."
Untuk pertama kalinya, dia mengatakan kalimat itu saat raga kita tengah menyatu dan berbagi rasa.
"I love you too."
Malam ini begitu indah. Aku menghidu setiap deruan napas yang keluar dari bibir manisnya.
Waktu berputar. Detikpun berubah menit.
Akhirnya, alunan rintihan syahdunya terdengar jua. Dia seolah sangat memuja dan mendambaku. Aku memejamkan mata. Sedang menghayati peranku dan menikmatinya. Sungguh, desirannya begitu terasa hingga aku nyaris kehilangan kendali dan berbuat sesuka hati.
...⚘️⚘️⚘️...
"Pak Zulfikar, hari ini, pamannya bu Dewi akan ditangkap polisi. Aku tahu kabar itu dari seseorang. Kita harus bersiap, Pak. Jam berapa kira-kira Anda tiba di Jakart**a?"
Pesan itu dikirim oleh pak Sabil pada pukul dua pagi. Saat ini baru pukul tiga. Aku bangun karena baru saja pindah kamar. Nomor baru pak Sabil sedang online.
"Pak Sabil belum tidur?"
"Sudah Pak. Tapi tidak bisa lelap." Dia langsung membalasnya.
"Pak Sabil, untuk masalah pamannya Dewi, aku serahkan sepenuhnya pada pihak kepolisian. Jika dia sudah ditangkap, semoga papinya Dewipun bisa secepatnya."
"Ada apa, Pak?" Hanin terbangun.
"Tidak ada apa-apa sayang. Tidur lagi ya. Masih malam sayang."
"Pak, maaf kalau aku lancang. Apa Anda tidak pindah ke kamarnya bu Dewi?"
"Sayang, cukup! Jangan mengaturku lagi untuk urusan itu. Aku tidak suka. Aku tahu apa yang harus kulakukan pada Dewi," tandasku.
"Ma-maaf." Bibirnya gemetar. Wajahnya tampak ketakutan. Aku segera memeluknya.
"Maaf sayang. Aku tak bermaksud mengagetkan kamu. Aku tidak marah, 'kok. Ssshh ...." Segera kupagut bibirnya agar ia tidak merasa dimarahi dan tidak bicara sembarangan lagi.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...