
"Apa mereka staf divisi mutu?!" teriak Fikar. Amarahnya kembali meledak.
"Dua dari divisi mutu, dua lagi bukan, Pak." Bu Caca menunduk lesu. Ia pasti kaget melihat vidio itu.
"Cepat panggilkan ke empat orang itu kemari! Aku harus memberi mereka pelajaran! Apa Bu Caca tahu kenapa Tania dipecat dengan tidak hormat?!" sentaknya lagi.
"Ti-tidak, Pak." Bu Caca masih menunduk.
"Itu karena Tania ikut campur masalah pribadiku! Kenapa aku menyuruh Listi menggantikan tugas Tania? Sebab, dia mampu. Selain itu, kualifikasi pendidikannyapun tidak melenceng jauh. Basik Listi adalah perbankan dan keuangan. Jadi wajar kalau aku memilih dia untuk mengisi kekosongan sebelum ada seleksi untuk rekrutmen sekretaris."
"Sa-saya paham, Pak. Saya tak pernah mempermasalahkan keputusan Bapak."
Dan aku sendiri baru tahu kalau Listi didapuk Fikar untuk menggantikan tugas Tania. Mungkin, itu menjadi salah satu alasan kenapa teman-teman Listi menuding Fikar ada main dengan Listi.
"Bu Caca, maaf." Listi menghampiri bu Caca dan memeluknya.
"Kamu tidak salah. Ibu yang salah karena tidak tahu apa-apa. Ibu lalai sampai-sampai tidak tahu kalau kamu mendapat perlakuan sekasar itu. Kenapa Listi tak cerita sama Ibu?"
"Bu, aku diam saja karena tak ingin masalah ini jadi tambah runyam dan melebar ke mana-mana. Aku sudah kebal dengan gunjingan mereka," jelasnya sambil tersenyum.
"Sejak kapan kamu diperlakukan seperti itu?" tanya Fikar.
"Ehm, sejak Pak Direktur menikah sama Daini."
"Kurang ajar! Berarti sudah lama. 'Kok bisa mereka memfitnah atasannya! Padahal, mereka masih menikmati dan membutuhkan gaji dari perusahaanku! Cepat panggil mereka Bu Caca! Cepat!" desaknya sambil melonggarkan dasinya.
"Ba-baik, Pak." Bu Caca berlalu dengan wajah memucat.
"Lain kali, kalau kamu mendapati ada teman kamu atau siapapun yang menjelekkan kamu, aku, dan Hanin, tolong cerita! Jangan diam saja Listi Anggraeni!" Sekarang sambil membuka jas dan menyingsingkan lengan kemejanya.
"Ma-maaf, Pak."
"Maaf-maaf! Telat!"
Haish, aku jadi agak kesal sama Fikar. Beraninya dia membentak pujaan hatiku.
"Pak, tenang dong. Bisa 'kan tak harus bentak-bentak?" protesku.
"Enggak bisa!" jawabnya. Lalu mengambil ponselnya.
"Kalau lagi emosi begini, aku harus VC atau menelepon Hanin dulu," katanya.
"Kenapa enggak telepon bu Dewi?" tanyaku.
Maksudnya hanya berguyon. Namun penerimaan Fikar di luar ekspektasiku. Dia langsung mendengus kesal sambil meninju bahuku.
"Aku bertahan dengan Dewi karena di dalam perutnya ada separuh jiwaku. Jika tidak, aku sudah mengirim dia ke rumah sakit jiwa." Aku terkejut. Listipun demikian.
"Lihat yang dia lakukan semalam." Ia menunjukkan lehernya yang memerah di kedua sisi.
"Semalam, Dewi mencekikku. Aku sangat kesal. Tapi tak bisa berbuat banyak karena dia sedang hamil. Hufth, jadinya ... Hanin ----." Dia tak melanjutkan kalimatnya. Malah memasygul rambutnya. Seolah tengah menyesali sesuatu.
"Daini kenapa?" Listi langsung panik.
"Lupakan, Hanin baik-baik saja, 'kok." Sambil menghela napas. Aku yakin Fikar menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
"Pak Direktur, benar Daini tidak apa-apa? Jangan bilang kalau Anda melampiaskan kekesalan Anda pada Daini," tuduh Listi.
"Sok tahu kamu, salah kamu juga 'sih. Kenapa tidak menemani Hanin?" Mereka malah saling menuduh.
"Aku tak jadi menemani Daini gara-gara manusia itu, Pak." Jelas Listi sambil melirikku.
"Apa?!" Sontak, fikar menatapku.
"Eh eh, lha 'kok seperti menyalahkan aku 'sih? Apa yang terjadi pada bu Daini dan Pak Zulfikar jelas-jelas tidak ada hubungannya denganku."
"Ada!" sela mereka serempak.
"Aku tak mengerti pemikiran kalian," protesku.
"Kalau saja Hanin bersama Listi, mungkin ---. Ya sudahlah! Jangan dibahas lagi. Aku mau telepon Hanin dulu. Panggil aku kalau bu Caca dan wanita-wanita berandal itu sudah datang." Fikar berlalu.
"Pasti Daini dirudapaksa," gumam Listi setelah Zulfi pergi.
"Ssstt. Tia, jaga bicara kamu! Apa kamu tahu artinya rudapaksa?"
"Ya tahu 'lah."
"Jangan sembarangan bicara. Mana mungkin pak Direktur melakukan rudapaksa pada istrinya. Jangan mengada-ada."
"Iya, iya, bela terus!" ketusnya.
"Oiya, aku serius lho mau datang ke rumah kamu," godaku.
"Seterah!" sentaknya.
"Kata Daini juga memutus hubungan silaturahmi itu tidak baik. Jadi, kalau Anda mau silaturahmi ke rumahku, ya silahkan saja."
"Baik, kalau aku membawa bunda dan ayahku, apa boleh?" Seperti ada harapan baru. Batinku seperti ada hangat-hangatnya.
"Emm ...."
"Permisi."
Belum juga Listi menjawab, bu Caca dan wanita-wanita songong itu tiba di ruangan Fikar. Keempat wanita itu tampak murung. Aku jadi puas melihatnya.
"Maaf telah membuat kalian terlibat masalah." Listi tetap menghormati mereka.
"Tia, harusnya mereka yang meminta maaf. Bukan kamu."
"Aku belajar dari Daini. Katanya, memaafkan itu lebih baik," jelasnya.
"Lis, kenapa kamu ngadu sama pak Direktur?"
Salah satu dari mereka, rupanya masih tak tahu diri. Seolah belum menyadari kesalahannya. Aku segera memanggil Fikar.
...⚘️⚘️⚘️...
Di ruangan lain, Fikar masih melakukan panggilan.
"Maaf ya sayang, semalam ... aku sadar telah menyakiti kamu. Bunga-bunga itu adalah salah satu bentuk permintaan maafku. Aku menyuruh para pekerja menyiapkan bunga-bunga dari jam dua pagi. Sekarang, apa masih sakit? Perlukah kita periksa ke rumah sakit?" Entah Fikar sedang membahas apa. Aku tak mengerti.
__ADS_1
"...."
"Sudah baikan? Syukurlah. Aku sangat khawatir. Maaf ya sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi, aku ragu sayang. Apa yakin aku tidak akan mengulanginya?"
"...." Lalu Fikar berbalik badan tepat ke arahku.
"Ada Pak Sabil, sayang. Sudah dulu ya. Nanti aku telepon lagi." Ia menutup panggilannya.
"Mereka sudah datang Pak," terangku.
"Baik, mari kita ke sana."
.
Mereka tampak ketakutan. Tak satupun berani menatap Fikar. Dasar para pecundang!
"Pak, ka-kami minta maaf." Salah satunya langsung bersimpuh. Diikuti yang lainnya.
"Kalian keterlaluan! Beraninya memfitnahku!"
"Ma-maaf, Pak. Ja-jangan pecat kami. Huuu." Air mata jadi tameng. Dasar wanita-wanita tak tahu diri!
"Cepat minta maaf sama Listi!" teriak Fikar.
"Huuu, Listi ... kami minta maaf."
"Aku sudah memaafkan. Sudah kubilang, aku tak pernah dendam. Dari awal, tak ada niat sedikitpun untuk mengadukan perbuatan kalian pada Pak Direktur."
"Terima kasih Listi." Mereka memeluk Listi.
"Listi sudah memaafkan. Aku juga memaafkan. Namun bukan berarti proses hukum tidak akan berlanjut. Aku akan melaporkan kalian ke polisi. Pak Sabil, urus semuanya!"
"Baik, Pak." Sambil melakukan gerakan hormat.
"Ja-jangan, Pak. Jangan melaporkan kami. Huuu." Mereka kembali bersimpuh.
"Ini untuk efek jera! Aku sudah berulang kali melakukan preskon tentang hubunganku dan Hanin, namun kalian tak pernah percaya! Polisi bahkan telah melakukan gelar perkara dan membuktikan kalau dalam hubunganku dan Hanin pada malam itu tidak ada unsur zina karena kami berdua sama-sama dijebak! Itu berarti, tidak ada toleransi lagi untuk kalian!" Sambil berkacak pinggang.
"Pak, huuu. Kami mohon kebijakannya. Bu Caca, Listi, tolong kami." Pengecut! Masih bisa memelas juga rupanya. Aku tersenyum kecut sebagai sindiran untuk mereka.
"Maaf, Ibu tidak bisa membantu. Bukankah Ibu telah mewanti-wanti pada kalian untuk tidak ikut campur masalah pribadi orang lain?"
"Pak Direktur, bisakah masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja?" tanya Listi.
"Keputusanku sudah final. Kamu bawahanku Listi, sudah seharusnya kamu mendukung keputusanku."
Listi menunduk, ia pasti dilema. Di satu sisi, ia peduli sama teman kerjanya, namun di sisi lain, sebagai pimpinan, Fikar memang memiliki hak untuk mengambil tindakan dan keputusan.
"Baiklah, pembicaraan ini selesai. Kalian boleh pergi kecuali Listi dan Pak Sabil. Oiya, silahkan kalian siapkan pengacara untuk menghadapi kasus ini."
Merekapun pergi dengan langkah lunglai. Seolah tidak ada semangat lagi. Tangisan menyertai langkah mereka, dan terus terisak hingga pintu ruangan ditutup kembali oleh petugas keamanan.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1