
Zulfikar Saga Antasena
"Aku marah," protesnya. Tapi, nada bicaranya tidak seperti sedang marah.
"Maaf."
Setelah puas membuatnya megap-megap hingga bibirnya sedikit membengkak, aku lantas berusaha membuka sesuatu.
"Pak Zulfikar! Hentikan!"
"Tidak mau," jawabku.
"Ini di rumah sakit, Pak. Takut terdengar sama kak Listi dan pak Sabil."
"Kamunya jangan berisik 'dong sayang."
"Bapak kenapa, 'sih? Memangnya ada orang yang emosi mau yang aneh-aneh?"
"Ada 'dong, aku buktinya."
Aku mencekal kedua tangannya dengan satu tangan, tangan yang lain begerak aktif. Wajah Hanin merona, napasnya seperti baju masa kini, 'turun-naik.' Cantik dan seksi sekali.
"P-Pak, kata dokter, adik bayinya tak boleh sering dikunjungi."
"Hahaha, memangnya siapa yang ingin mengunjungi adik bayi? Aku hanya ingin bermain-main saja sayang. Bermain-main di sini." Seraya mengusap area yang ingin aku nikmati.
"A-apa?!" Ia kaget. Pipinya semakin merona.
"Sekarang siapa yang pikirannya mesum, hmm? Jawabannya ka-mu," bisikku.
"A-apa?! Aku seperti ini gara-gara Anda, Pak. Lagi pula, kalau aku berpikir yang macam-macam dengan suami sendiri, ya bukan termasuk kategori mesum, 'lah," kilahnya.
"Oya?"
"Ya, Pak. Dalam agama maupun ilmu kesehatan, fantasi s e k s u a l itu boleh atau sah-sah saja asalkan dilakukan dengan menghadirkan pasangan sendiri alias bukan orang lain. Bagusnya, pasangan suami istri itu harus mengkomunikasikan gairah s e k s u a l yang diinginkannya supaya dapat memahami satu sama lain. Tujuannya agar terjalin hubungan yang romantis dan juga menggairahkan," tambahnya. Namun sambil memalingkan wajah.
"Nggih (ya) sayang. Jangan marah, 'dong. Maaf kalau kalimatku ada yang salah. Ya sudah, mulai sekarang mari komunikasikan. Kamu mau dilayani seperti apa, hmm?"
Sebab setahuku, yang tak pernah komunikasi justru dirinya. Sementara aku, aku selalu mengatakan pada Hanin semua keinginanku. Ingin ini itu, mau begini begitu, selalu aku komunikasikan dan meminta persetujuannya. Sedangkan Hanin, dia selalu patuh. Dia tak pernah menolak apapun yang kulakukan pada tubuhnya. Pun tak pernah menolak apapun perintahku.
Sejauh ini, ia selalu melayani kebutuhan dan kemauanku dalam hal 'itu' dengan totalitas. Aku kesengsem dengan semua hal yang ia lakukan. Cara Hanin melayaniku membuat tubuh dan hatiku terjerat, tergila-gila, bahkan lupa diri.
"Pak, Anda membuatku malu." Malah menutupi wajahnya.
"Malu? Sayang, aku sudah melihat semua hal yang ada pada diri kamu. Dari hal yang paling luar, sampai yang paling dalam sekalipun. Hmm, ternyata selama ini istriku malu? Makanya kamu tak pernah meminta atau mensyaratkan hal apapun. Apa dugaanku benar?"
Jadi penasaran, seperti apa gerangan hal yang diinginkannya?
"Ya, aku memang malu, Pak. Tapi, selama ini, a-aku tak pernah meminta apapun karena emm ...." Malu-malu.
"Karena apa? Katakan sayang?" Sambil menciumi telinga dan leher indahnya.
"Karena Pak Zukfikar, sudah memenuhi semua hal yang aku inginkan."
"Benarkah?"
Dia mengangguk sembari tersenyum. Saat sepasang mata kami bertemu pandang, rasanya tak ada cara lain untuk merayakan kebahagiaan ini kecuali dengan cara saling membahagiakan dan memuaskan.
"Sayang, apa boleh kalau aku juga menikmati bagian yang ini?"
"A-apa? Pak, dokter 'kan bilang jangan dikunjungi dulu."
"Oiya ya, aku lupa." Tepuk jidat.
__ADS_1
"Sabar, hanya hari ini 'kok yang tak boleh. Besok-besok, boleh," jelasnya.
"Baiklah, berarti kembali ke rencana awal, aku mau ini saja." Aku memposisikan diri, Hanin pasrah dan perlahan memejamkan matanya kala aku menyentuhnya.
"Pak Direktur, Bu Dai, permisi. Pesanan makanannya sudah siap." Suara bu Juju.
Hanin terkejut, akupun demikian. Dengan terpakasa, aku menutup kembali sesuatu yang sebenarnya sudah terpampang nyata. Indah, menggiurkan dan begitu menggoda. Hanin menyambar jilbabnya.
"Ya Bu Juju," sahutnya. Ia sibuk merapikan busananya. Aku menjambak rambutku. Bu Juju pengganggu.
...⚘️⚘️⚘️...
"Lho, pak Sabil dan kak Listi pada ke mana?"
Hanin mengernyitkan alis saat mendapati ruang tamu kosong tanpa keberadaan mereka. Bantal sofa tampak tercecer dari tempat yang semestinya.
"Saat saya kembali, pak polisi dan bu mbak Listi memang sudah tak ada di sini, Bu," terang bu Juju sambil merapikan bantal sofa.
"Ya ampun, sayang sekali. Padahal, aku sengaja pesan menu nasi padang untuk kak Listi dan pak Sabil juga."
Hanin lantas mengambil ponselnya. Sepertinya akan menghubungi Listi. Pak Sabil juga aneh. Tak biasanya dia pulang begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu. Oiya, mungkin ada keperluan mendadak.
"Kak Listi, 'kok tak bilang dulu 'sih kalau Kakak mau pulang cepat," kata Hanin.
Aku mendekat, menempelkan telinga di ponsel Hanin supaya bisa mendengar percakapan mereka.
"Maaf, Neng. Tadi, aku buru-buru karena mulas, hehehe. Selain itu, aku juga 'kan harus segera ke kantor." Jawaban yang menurutku agak aneh.
"Mulas? 'Kan bisa buang air di rumah sakit, Kak."
"Enggak bisa Neng. Kalau di rumah sakit, aku merasa kurang bebas. Sudah dulu ya, Neng. Oiya, kamu pulang dari rumah sakitnya kapan? Terus, mau pulang ke mana? Apartemen, kontrakan, apa ke rumah mertua kamu?"
"InsyaaAllah sore ini pulang, Kak. Pulangnya ke rumah mertua dulu. 'Kan aku belum bertemu pak Aksa," jawab Hanin. Setelah berbalas salam, panggilan merekapun berakhir.
"Kelebihan nasi padangnya mau dikemanakan, Pak? Ini lebihnya ada tiga porsi," keluh bu Juju.
"Baik, Pak." Bu Juju beranjak.
"Sayang, siang ini, aku harus ke kantor, kamu tak apa-apakan sampai sore nanti ditemani bu Juju? Kalau kamu merasa perlu ditemani Listi, aku akan memintanya kerja lembur untuk menjaga kamu."
"Tak perlu, Pak. Kasihan kak Listi, dia juga 'kan punya pekerjaan."
"Baiklah, kamu perbanyak istirahat ya, sayang. Nanti sore, administrasi pulangnya akan diurus sama pak Reza. Kemungkinan, kita akan bertemu di rumah. Sebab, aku ada rapat ekstra jam tujuh malam. Karena sakit dan lamanya masa pemulihan itu, tugas-tugasku jadi menggunung."
"Aku yakin akan baik-baik saja, Pak. Doaku selalu menyertaimu, suamiku." Ia mencium tanganku. Lantas akupun mencium tangan dan perutnya.
Setelah menemaninya makan siang, aku segera menelepon Tania agar menjemputku di rumah sakit karena pak Reza harus mengurus administrasi.
"Hati-hati ya sayang, jaga istriku ya Bu Juju."
"Baik, Pak. Apa wartawan tak akan datang ke sini?" Bu Juju khawatir.
"InsyaaAllah tidak akan, Bu. Aku sudah menyuruh polisi dan petugas keamanan agar tak mengizinkan sipapun mengunjungi Hanin tanpa seizinku. Kalau ada yang mencurigakan, segara hubungi aku ya sayang. Bu Juju juga HP-nya harus standby."
"Ya, Pak."
...⚘️⚘️⚘️...
Walaupun teramat khawatir, aku terpaksa meninggalkannya. Roda kehidupan akan terus berputar. Setiap manusia termasuk aku pastinya memiliki masalahnya sendiri-sendiri dalam menjalani kehidupan ini.
Saat kenyataan ini tidak sesuai dengan harapkanku, jujur, terkadang membuatku kehilangan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Tapi, kehadiran Hanin mampu mengubah semuanya. Ia pernah mengatakan jika kemuliaan terbesar dalam hidup tidak terletak pada ketangguhan, tetapi terletak dalam kebangkitan acap kali diuji dengan berbagai musibah.
__ADS_1
Hanin juga mengatakan jika kemenangan akan selalu sejalan bersama dengan kesabaran, kelapangan bersama dengan kesempitan, dan kesulitan agar bersama dengan kemudahan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Di depan kantor banyak wartawan, Pak," terang Tania. Kami sudah berada di dalam mobil menuju kantorku.
"Biarkan saja, aku tak peduli kalaupun disebut sombong. Tadi pagi, aku sudah memberikan pernyataan, belum cukup apa?"
"Yang kasihan temannya bu Daini, Pak."
"Maksud kamu, Listi?"
"Ya, Pak. Setelah Bapak preskon dan mereka tahu kalau bu Daini sudah menikah dengan Bapak, mereka menjauhi Listi."
"Dasar aneh! Atas dasar apa mereka menjauhi Listi? Dia sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah yang terjadi antara aku dan Hanin."
"Ya, namanya juga manusia, Pak. Mayoritas karyawan masih percaya kalau bu Daini adalah pelakor. Desas-desus di kantor 'sih mengatakan kalau bu Daini sengaja menggunakan kecantikan dan penampilan akhwatnya untuk menggoda Bapak. Begitu, Pak."
"Kurang ajar mereka! Mereka seperti menjilat ludah sendiri! Mereka bekerja di perusahaanku, tapi seenaknya saja menjelekkan istriku. Kalau mereka aku pecat semua, baru tahu rasa!"
"Sa-sabar Pak. Maaf ya Pak. Bukan maksudku memanasi Bapak. A-aku hanya menyampaikan fakta yang sedang terjadi saat ini."
Tania terlihat gugup. Tangannya yang memegang setir sedikit gemetar.
"Tak terkecuali kamu, Tania. Jika kamu menyalahkan Hanin, aku juga tak segan memecatmu!" tandasku.
"Ja-jangan, 'dong, Pak. Aku percaya sama Bapak dan bu Daini. Aku tak akan termakan issue itu. Janji."
"Oke, aku pegang kata-katamu. Ingat, jangan bermuka dua ya, Tania. Jangan berkhianat," tegasku.
Ya, aku harus hati-hati pada Tania, kenapa demikian? Karena seseorang pernah melaporkan kepadaku jika ia sudah dua kali memergoki pertemuan Tania dan Dewi di sebuah kafetaria.
"Percaya padaku, Pak."
Dia semakin gugup. Aku jadi berpikir untuk mengganti posisi Tania dengan Listi. Tapi, aku harus mengecek dulu jenjang akademiknya Listi. Jika tidak sesuai dengan persyaratan, aku juga tak bisa memaksakan kehendak.
"Oiya, Pak. Kapan bu Dewi ngantor lagi?" Dia mengalihkan pembicaraan.
"Dewi sedang program bayi tabung, kamu pasti sudah tahu, kan? Dia akan bekerja setelah dokter mengizinkan. Untuk sementara, tugasnya akan diambil lagi oleh bu Caca."
"Oh, begitu. Kalau bu Daini, Pak? Apa tidak akan bekerja lagi?"
"Kamu kepo ya? Bekerja atau tidak bekerjanya Hanin, sepertinya bukan urusan kamu. Yang jelas, pekerjaan tetap Hanin adalah menjadi istriku. Istri yang selalu siap melayani lahir dan batinku." Sekalian saja aku tegaskan jika aku menikahi Hanin karena mencintainya.
"Bu Daini beruntung," gumamya sambil tersenyum.
"Tania, kurasa, manusia yang beruntung itu bukan yang punya segalanya, tapi yang bisa mensyukuri apa adanya. Saat menjalani hidup, kita jangan pernah bergantung pada keberuntungan. Sebab, kesuksesan hanya bisa diraih dengan perjuangan, kerja keras, dan usaha. Apa kamu tahu? Kalimat yang aku ucapkan barusan, adalah kalimat yang dikatakan Hanin saat dia menyemangatiku."
"Aku mencintai Hanin, sangat-sangat mencintainya. Aku bahkan bingung mendeskripsikan seberapa besar cintaku terhadapnya. Dia wanita langka yang kutemui, dia mutiara alami yang baru kusadari keindahannya, kecantikan dan kebaikan hatinya setelah aku mengenalnya lebih dekat lagi."
Sengaja kuperjelas pada Tania, agar dia sadar diri jika dia harus menghormati Hanin, sebagaimana dia menghormatiku.
"Dia sama sekali tak mengincar hartaku. Dia bahkan lebih memilih tinggal di kontrakan sederhana dan berencana membuka usaha kecil-kecilan daripada tinggal bermewah-mewahan di apartemen ataupun tinggal bersama papa dan mamaku. Jadi, jika saat ini kamu berpikir negatif tentang Hanin, tolong segera buang jauh-jauh pikiran itu."
Tania tak menjawab, dia tetap membisu hingga mobil yang ia kemudikan tiba di tempat tujuan.
Sebelum turun dari mobil, aku menyuruh Tania untuk membawakanku baju OB. Ini kulakukan untuk mengelabui wartawan. Aku malas berdebat lagi dengan mereka. Setelah berganti pakaian, aku berjalan santai menuju ruanganku tanpa kendala.
"Pak, apa hari ini pak Zulfikar masuk kerja?" tanya salah satu wartawan pada petugas keamanan.
"Maaf, kami juga tahu, Pak."
Bagus, jawaban mereka sudah sesuai dengan arahan. Tadi pagi, aku memang sudah meminta pada paklik Aryo agar melindungiku dari wartawan.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...