Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tiga Sisi


__ADS_3

Tak kusangka, di ruangan sudah ada wanita itu. Dia datang bersama bang Radit. Yang lainnya berada di ruang lain. Mungkin sedang memberi kesempatan pada dia untuk bicara dengan Hanin.


"Mas, selamat ya. Kamu sudah jadi daddy. Sugar daddy." Ia hendak merangkulku.


"Jangan menyentuhku!" Segera menepisnya dan mendekati Hanin.


"Bu Dewi bawa kado, Pak." Ia tersenyum, namun di pelupuk matanya ada linangan air mata.


"Sayang? Kamu nangis? Kenapa?"


"Ti-tidak apa-apa, Pak."


"Bang Radit, jujur! Apa yang sudah dilakukan wanita ini sama istriku?! Tadi, saat kutinggalkan Hanin baik-baik saja!" geramku. Memelankan suara kerena khawatir terdengar oleh mama atau yang lainnya. Namun bang Radit diam saja. Malah menunduk.


"Mas, kamu berlebihan. Lihat, Daini saja baik-baik saja. 'Kok kamu yang ribut 'sih?"


"Itu karena aku yakin kamu baru saja menyakiti istriku! Lihat saja Dewi Laksmi, setelah anakku yang ada di rahimmu terlahir ke dunia, aku akan menguliti kebusukanmu!"


"Pak."


Hanin menahan tanganku sambil menggelengkan kepalanya. Bibirnya gemetar menahan tangisan. Ia pasti kecewa atas sikapku pada wanita jadi-jadian ini.


"Kalau tidak ada urusan lagi, kamu boleh pergi," usirku.


"Baik, aku memang tidak akan lama-lama ada di sini, Mas. Oiya, aku sudah lihat anak kamu. Selamat ya, mereka ganteng dan cantik. Sayangnya, mereka berasal dari benih perzinaan," ledeknya. Dia kembali memfitnah serta menyakiti perasaanku dan Hanin. Sepertinya, kesabaranku sudah habis.


"Sebenarnya, aku berharap jika ini adalah pembicaraan terakhirku sama kamu, wahai wanita iblis!"


Ucapanku membuat Hanin dan bang Radit membeliak. Aku tidak peduli. Segera menarik tangan wanita itu untuk mendekat ke arahku. Lalu aku membisikkan sesuatu yang akan membuat telinganya bak disambar petir.


"Dengar ya! Yang pezina itu kamu! Berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk mendapat kepuasan dari pria-pria itu, hahh?Atau, berapa banyak uang yang kamu dapatkan dari lima orang pria itu, hahh?" bisikku. Lalu menjauh dari tubuhnya dan memberinya senyuman sinis.


"A-apa?"


Dia mematung. Kedua tangannya meremat pada sisi gaunnya. Wajanya memerah, dan rahangnya mengeras. Andai di dalam rahimnya tidak ada darah dagingku, rasanya ingin mengatakan kalimat tadi dengan cara beteriak.


"Bang Radit, bawa dia pulang!"


"Mas, kita harus bicara. Kamu pasti termakan fitnah," tuduhnya. Wanita ini rupanya masih bisa mengelak.


"Itu hanya pemanasan, kamu tidak perlu panik." Melihat wajah paniknya, aku jadi bahagia.


"Bu, mari kita pulang," ajak bang Radit.


"Mas, nanti aku telepon kamu."


Dewi masih penasaran. Aku pura-pura tidak mendengarnya, lebih memilih memegang tangan Hanin dan menciumnya.


"Apa yang dia katakan sebelum aku datang, hmm?"


"Ti-tidak ada, Pak."


"Jangan bohong. Terus kenapa kamu menangis?"


"Tidak apa-apa."


"Sayang, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Tapi ya sudah, tidak perlu menjawab sekarang." Karena wajahnya menunjukkan kesedihan, aku tidak bisa memaksanya.


"Pak, aku tidak ada ASI-nya." Malah mengalihkan pembicaraan.


"Bukan tidak ada sayang, tapi belum ada."


"Tadi sudah dicoba dikeluarkan, tapi sama sekali tidak ada yang menetes. Aku takut tidak bisa memberi ASI untuk bayi kembar kita."


"Sayang, kamu masih ingat 'kan pelajaran tentang ASI dan menyusui yang sudah dijelaskan sama bidan? Untuk memperlancar produksinya, selain dari makanan, kamu juga harus sering menyusui bayi kita. Kamu juga harus bahagia supaya hormon prolaktinnya meningkat. Apa perlu aku yang stimulasi supaya ASI-nya lancar?"


"A-apa? Anda tidak lucu," pipinya langsung merona.


"Memang harus ada peran suami 'kan sayang?"


"I-iya, aku tahu! Tapi bukan sekarang!" ketusnya sambil cemberut. Lucu sekali.


"Apa salahnya kalau sekarang? Hahaha. Yang penting ASI-nya tidak disengajakan ditelan, 'kan?"


"Pak Zulfikar! Cukup!" Ia merajuk.


"Hahaha. Maaf sayang." Walaupun aku sering melakukan stimulasi, tapi 'kan tidak pernah bosan.


"Assalamu'alaikuum. Bayi ganteng datang."


Tiba-tiba, dua orang suster datang membawa bayi boyku. Mama dan ummi mendampingi. Alhamdulillah, infusnya sudah dilepas.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalaam," sahutku dan Hanin.


"Bayinya akan bergantian diberi ASI. Pak Zulfikar bantu memegang bayinya ya. Nanti akan kami ajari caranya."


"Baik, Sus."


Aku antusias. Ummi dan mama sibuk membantu memosisikan Hanin. Aku memangku bayiku dengan perasaan yang berbunga-bunga. Tatapannya tajam sekali. Bibirnya mirip denganku, tipis, dan ada belahannya. Saat ia menggerakkan bibirnya, tampaklah lesung pipi di kedua pipinya.


"MasyaaAllah, tampan sekali." Lagi dan lagi, aku sangat bersyukur atas karunia-Nya.


Setelah dibantu miring, Hanin mulai memberinya ASI. Posisi Hanin masih terbaring. Ada tumpukkan bantal di punggungnya. Aku membantu menahan kepala bayi. Hanin meringis-ringis, keringatnya kembali bercucuran.


"Sakit?" tanyaku.


"Ya sakit 'lah Zul!" sentak mama.


Ummi hanya tersenyum. Hanin diam saja. Ia sedang mengurangi rasa sakit dengan cara mengatur napasnya.


"Haish, aku tidak bertanya sama Mama. Sayang, serius rasanya sakit? Bukankah aku juga sering melakukannya? Tapi kamu tidak pernah mengeluh kesakitan, 'kan?"


'TAK.' Remot TV menyambar keningku. Pelakunya mama.


"Mama! Ahh, sakit Ma!"


"Sudah punya anak dua lha 'kok enggak difilter bicara kamu, Zul! Bayi sungguhan dan bayi jadi-jadian kayak kamu ya beda 'lah rasanya!" sentak mama. Sekarang sambil menjewer telingaku.


"Aduh! Sakit tahu, Ma!


"Hihihi."


Ummi terkikik sembari menutup wajahnya. Hanin mendelikkan mata ke arahku dengan wajah yang memedarkan rona. Hanin pasti merasa kesal sekaligus malu.


...⚘️⚘️⚘️...


Gendis Jamilah Antasena


Pintunya terbuka. Jadi, aku langsung masuk ke ruang kerjanya dengan tergesa. Pengacara sombong itu rupanya sedang merapikan berkasnya. Posisinya membelakangiku.


"Jangan pulang dulu!" sentakku tiba-tiba.


"Astaghfirullah!" Dia terkejut sampai menjatuhkan berkasnya. Lalu membalikkan badan.


"Bu-Bu Gendis?" Melongok. Lalu memunguti berkas yang jatuh dengan tangan gemetaran.


"Bu-bukan begitu Bu. Sa-saya hanya kaget saja. Ibu 'kan datang tiba-tiba." Ia berdiri tegak, memeluk berkas dan menundukkan kepalanya.


"Ini kantorku! Untuk apa bilang-bilang?! Terus, aku mau kamu biarkan berdiri saja?! Pegel tahu! Enggak lihat apa aku pakai sepatu hak tinggi?!"


"Oiya, maaf Bu. I-ini kursinya. Silahkan." Ia menyodorkan kursi goyang yang biasa ia duduki.


"Aku ke sini sebagai tamu. Aku enggak mau kursi yang itu! Mau kursi yang biasa saja!"


"Baik." Ia mengambil kursi yang lain. Aku segera duduk bertopang kaki.


"A-ada yang bisa saya bantu Bu?" Ia sudah duduk di kursinya.


"Kamu yakin bertanya seperti itu?! Bukankah jam kerja Anda sudah selesai?! Apa semua klien yang datang di saat jam kerja selesai selalu Anda layani?!"


"Maaf Bu, Ibu adalah satu-satunya klien yang datang di luar jam kerja." Dia selalu bicara denganku sambil menunduk. Menyebalkan!


"Terus, aku salah karena sudah datang di luar jam kerja?! Anda mau mengusirku?!"


"Emm ---." Ia menghela napas. Lalu melonggarkan dasinya. Tapi terus menunduk.


"I-Ibu tidak salah. Karena Ibu adalah pemilik firma ini, saya bersedia melayani Ibu kapanpun." Dia menatapku sejenak. Lalu dengan cepat memalingkan wajah lagi.


"Ya sudah! Langsung saja 'deh. Ada yang ingin aku tanyakan! Ini tentang Zul dan Dewi."


"Ma-maaf Bu, sepertinya, Ibu melanggar ketentuan kalau bertanya tentang pak Zulfikar dan bu Dewi. Saya juga dipastikan tidak akan mau menjawab pertanyaan Ibu."


"Pak Ikhwan!"


Aku kesal. Spontan menarik dasinya. Kuhentakkan dasinya itu ke atas hingga kepalanya menengadah. Ia terkejut. Tapi tidak berani melawanku.


"Mmm, Bu ---."


"Jawab sekarang! Apa yang dirahasiakan sama Zul dari semua orang?! Kenapa dia tidak pernah berkunjung ke rumah Dewi?! Kenapa bisa paklik yang jadi Komisaris?! Ada rahasia dan perjanjian apa antara Dewi dan adikku, hahh?!" Aku masih memegang dasinya.


"Ma-maaf, Bu. Sa-saya belum bisa menjelaskannya."


"Pak Ikhwan! Baiklah! Kalau Anda tidak mau memberi tahu, aku akan cari sendiri!"

__ADS_1


Aku menghentak dasinya, lalu berjalan cepat menuju etalase yang diberi label Zulfikar Saga Antasena.


"Bu tunggu." Ia menyusul.


"Apa?!" Aku membalikkan badan.


"A-apa Ibu bisa dipercaya?"


"Apa kamu sedang mengatakan kalau aku wanita yang tidak bisa dipercaya?!"


"Bu-bukan Bu. Saya hanya bertanya."


"Intinya, Pak Ikhwan percaya tidak sama aku?!"


"Pe-percaya, Bu."


"Halah, bicara Pak Ikhwan saja ragu-ragu begitu! Artinya, Anda memang tidak memercayaiku!"


"Saya percaya," tegasnya.


"Ya sudah! Cepat jelaskan duduk perkaranya! Aku mau tahu!"


"Baik, tapi kita tidak bisa bicara di sini. Harus di tempat lain."


"Ribet 'deh! Ya sudah, mari kita bicara di kafe. Kafenya aku yang menentukan ya! Aku yang traktir juga! Setelahnya, karena kamu sudah aku traktir, kamu harus menemaniku mencarikan hadiah untuk Daini dan bayi kembarnya. Mengerti?!"


"Emm, sa-saya mengerti, Bu. Kebetulan, saya juga belum membeli hadiah untuk bu Daini dan bayinya."


"Bawa mobilku!" Aku melempar kunci mobil ke arahnya.


"Tapi Bu, saya juga bawa mobil."


"Anda menolak satu mobil denganku?!"


"Ti-tidak. Baiklah, mobil punya saya akan ditinggalkan di firma."


Akhirnya patuh juga. Namun dia tetap saja sombong. Selalu menghindari bertemu pandang denganku. Kenapa coba? Apa di matanya aku sangat jelek dan tidak pantas dilirik? Aneh sekali! Dia adalah pria satu-satunya yang selalu menghindar dari tatapanku.


...⚘️⚘️⚘️...


Listi Anggreni Mutiara


"Aa yakin mau membeli ini untuk mas kawin nikah gantung kita?"


"Yakin 'lah ayang."


"Ini kemahalan, A. Masa harganya satu milyar? Enggah ah."


"Tia, aku ingin memberikan yang terbaik untuk kamu."


"A, ini hanya pernikahan percobaan."


"Ya, aku tahu. Tapi, aku ingin kamu terkesan dengan hadiahku. Lagi pula, cincin berliannya sudah aku pesan. Aku sudah DP 500 juta."


"A-apa?! Kenapa A Abil enggak bilang dulu?"


Lalu ponselnya, berbunyi.


"Ya, Bunda. Baik, Aa ke sana."


"Ayah dan bunda sudah mau pulang. Jadi, Aa juga harus pulang. Kita mau pamitan dulu sama bu Daini dan pak Zulfikar. Ayang ...." Ia memelukku. Untungnya, kondisi di koridor ini sedang sepi.


"A Abil selalu melanggar. Katanya enggak akan peluk-peluk aku lagi, 'kan?"


"Kita 'kan mau dipingit ayang, wajar atuh kalau kita pelukan dulu. Maunya 'sih ciuman dulu. Hehehe."


"Alasan! Kata ibu dan bapakku juga enggak ada pingit-pingitan."


Aku mendorong bahunya. Ia menghela napas. Lalu menuntun tanganku menuju ruang perawatan milik Daini.


"Sabaaar ...," gumamnya pada diri sendiri.


Lalu aku merangkul bahunya, sambil disengajakan menciumi lengannya.


"Ayang, jangan iseng. Aa itu lemah iman tahu."


"Hehehe, sama," sahutku.


"Hahaha." Jadi tertawa bersama.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2