Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sebuah Keputusan [Bagian 2]


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Ini aku, direktur kamu. Aku setuju, ayo kita menikah. Tapi nikah siri saja ya. Kapan kamu siapnya?"


Aku kaget saat membaca pesan itu. Sampai tersedak nasi.


"Uhhuk, uhhuk."


"Dai, lu pelan-pelan napa? Kesambet ya lu, gak biasanya kesedak," umpat Kak Listi yang saat ini sedang asyik menikmati seblak buatanku.


"Nasinya terlalu ke-keras, Kak," keluhku.


Duh Gusti, maaf. Aku membohongi Kak Listi gara-gara ada pesan dari pak Zulfikar. Aku belum yakin sih kalau itu pesan dari dia.


"Gua bilang juga apa! Lu kudu makan bubur, Dai. Lah, malah masak nasi sendiri. Dasar ngirit bin pelit lu, huuh hahh huuhh. Pedas banget sumpah! Lu sengaja mau bikin lambung gua ancur ya, Dai!" tambah Kak Listi.


Dia mengeluh kepedasan tapi tak mau berhenti. Aku tersenyum melihat ulah lucu Kak Listi.


"Kan Kakak sendiri yang mintanya super pedas." Aku pura-pura tenang, meletakan ponselku dengan tangan sedikit gemetar.


"Ya sih memang gua yang minta, tapi gak nyangka aja jadinya sepedas ini. Bibir gua serasa jontor Dai. Tapi sumpah, hah hah huuh haah! Ini enak banget Dai, gua gak bisa berhenti," ocehnya.


Hidung Kak Listi berair, bibirnya memerah, airmatanya berurai.


"Minum dulu, Kak. Makannya jangan cepat-cepat," kataku sambil memberikan air dingin pada Kak Listi.


'Sluruup.'


"Ahh, terima kasih Dai, enak banget sumpah. Kepala gua jadi 'nyes.' Oiya Dai, sebenarnya tadi di kantor ada sedikit masalah."


"Masalah? Masalah apa, Kak? Jangan bikin aku jantungan."


"Yey, semua orang punya jantung kali. Kalau lu gak jantungan, lu artinya gak bernyawa."


"Hehehe, benar juga sih," aku nyengir kuda.


"Jadi, tadi Direktur ba ---."


"Uhhuuk, uhhuk," aku kaget mendengar kata 'Direktur.'


"Dai, minum air hangat dulu coba. Khawatir gua lihat lu, Dai."


"Aku tidak apa-apa kok, Kak. Lanjut," timpalku dengan jantung berdegup.


"Intinya, Pak Direktur kurang suka ada karyawan yang gak mau makan di kantin. Lu tahu kan yang gak suka makan di kantin siapa?"


"Memangnya selain aku, ada?" selaku.


"Ya gak ada, cuma lu aja yang beda dari yang lain."


"Hahh?! Te-terus bagaimana dong, Kak?"


"Gua sampai dipanggil ke ruang Direktur Dai, gara-gara pak Zul mau tahu alasan kenapa lu gak suka makan di kantin. Pokoknya hari ini gua jadi artis di divisi mutu, bu Caca sampai menghadap langsung ke pak Zul untuk meminta maaf atas nama kamu," jelas Kak Listi.


"Ya ampun, serunyam itu?" Aku menelan saliva.


"Ya Dai, dan ternyata Direktur kita yang baru itu galak banget. Ganteng sih iya, pokoknya amit-amit, deh. Pas acara malam perkenalan yang lu pulang duluan, gua kira dia ramah. Eh, ternyata ramahnya palsu," sungut Kak Listi.

__ADS_1


"Terus dia bilang apa, Kak? Apa aku dikasih surat peringatan?"


"Ya nggak lah, Dai. Kamu punya alasan kuat kenapa gak bisa makan di kantin. Jadi sejauh ini, ya so far so good."


"Alhamdulillah," kataku.


"Pokoknya lu tenang aja. Gua juga maunya kaya lu, tapi belum datang hidayah, hehehe."


"Hidayah itu kita yang mencarinya, Kak. Bukan ditunggu."


"Ya, bu ustadzah. Lu doakan gua dong, Dai. Minimal gak gatel gitu kalau pakai jilbab, hahaha," seloroh Kak Listi. Diakhiri tawa, hingga kamipun tertawa bersama.


"Ya sudah, berhubung perut ini sudah kenyang, dan lu juga sepertinya baik-baik saja, gua pamit ya cantik," sambil mencubit pipiku.


"Awwh, sakit Kak."


"Hahaha, sory. Habisnya lu itu ngegemesin tahu, Dai. Lihat badan kamu. Body goal banget anjay. Lu ngerasa cantik dan seksi gak sih?"


"Hahaha, nggak Kak. Aku sih merasanya biasa saja, kok. Kak Listi saja yang berlebihan."


"Gua serius, Dai. Untung lu hijaber, kalau nggak, gua yakin lu bakal jadi primadona kantor dan jadi incaran petinggi perusahaan. Bisa jadi pelakor, lu Dai."


"Astaghfirullahaladzim, Kak Listi! Jangan sembarangan bicara, Kak!" Aku cemberut.


"Hahaha, maafkan gua, Dai. Tuh kan? Lu marah aja cantik. Gua aja yang cewek demen sama lu. Gimana kalau cowok? Ck ck ck. Kapan-kapan gua ke Bandung lah. Penasaran kecantikan kamu diturunkan dari siapa sih?"


"Cukup Kak Dai." Pipiku merona, aku malu dipuji berlebihan seperti itu.


"Ya sudah, besok gua jemput ya. Awas lu kalau naik ojek duluan," ancamnya.


"Oke, tapi Kak Listinya jangan kesiangan dong jemputnya."


"Begini saja, nanti aku telepon Kak Listi. Terima kasih perhatiannya, Kak. Kakak baik banget."


"Ih, apaan sih lu? Baik apanya coba? Yang ada gua yang bersyukur karena bisa sahabatan sama lu," kata Kak Listi sambil berjalan meninggalkan kostanku.


"Dadah." Aku melambaikan tangan saat Kak Listi melajukan kemudinya.


"Dah, kesayangan. Muuaach," sahut Kak Listi. Dia memberikan flying kiss, aku menangkap flying kiss itu, lalu dimasukan ke dalam saku. Ku lihat Kak Listi tertawa.


.


.


Malam harinya, aku kembali melamun, bingung harus membalas apa pada pak Zulfikar.


Apa abah dan ummi setuju kalau aku menikah siri? Bagaimana kalau abah menanyakan status pak Zul. Bagaimana kalau abah dan ummi tahu aku jadi istri kedua?


Kalaupun abah dan ummi marah, sebenarnya ... aku tak apa-apa. Tapi, yang kutakutkan adalah ... aku takut melukai hati abah dan ummi.


Bagaimana kalau mereka tahu aku menikah dengan pria beristri? Aku tidak mau membuat abah dan ummi bersedih apalagi sampai meneteskan air mata.


"Huuu, abah ... ummi aku harus bagaimana?" Di tempat tidur aku kembali meratapi nasib diri.


"Abah, ummi, aku sudah tidak suci lagi, aku ingin lapor polisi, tapi ... aku juga salah, akulah yang pertama kali memasuki kamar itu. Abah ... ummi ... pria yang meniduriku orang berada dan berkuasa."


"Aku takuuut, aku takut disalahkan, aku takut dihujat, aku takut tidak bisa menyikapi takdir ini dengan keikhlasan. Jadi, untuk menyelamatkan semuanya ... tidak ada cara lain, kecuali ... dia harus menikah denganku."

__ADS_1


Aku berbicara sendiri bak orang gila. Lalu aku memberanikan menelepon hotel tempat kejadian itu untuk menanyakan sesuatu.


Kupikir, aku harus mulai menyelidiki kejadian malam itu.


Siapa yang iseng mencampuri obat ke minumanku?


Hati ini sangat penasaran. Aku berpikir keras, mencoba mengingat-ingat orang yang mungkin saja membenciku.


"Halo, dengan hotel ..., ada yang bisa kami bantu?"


"Mohon maaf, Kak. Kalau aku ingin menanyakan sesuatu selain reservasi, apa boleh?" tanyaku.


"Oh, mohon maaf Kak. Kalau untuk layanan itu kami tidak bisa. Silahkan Kakak datang saja besok ke hotel kami di jam kerja, dan langsung menemui bagian Humas," terangnya.


"Baik, Kak. Terima kasih." Aku mengakhiri panggilan.


Lalu menatap langit-langit kamar dengan mata menerawang. Bingung, aku bingung dengan semua ini. Kemudian ponselku menyala, dadaku seolah tersentak. Aku ingat benar nomornya. Ya, yang menelepon saat ini adalah dia.


Pak Zulfikar?


Aku bingung.


Apa tidak apa-apa kalau aku berbicara dengannya? *Aku tidak mau menumpuk dosa. Tidak aku tidak boleh mengangkatnya. Tidak aku angka*t.


Aku diamkan saja. Lantas ada pesan masuk.


"Hei, wanita sok suci! Apa yang sebenarnya kamu mau, hah?! Seharian ini aku menunggu balasan dari kamu! Kalau tidak mau, ya katakan saja tidak mau! Tapi ingat, jangan pernah meminta pertanggungjawaban padaku lagi!"


Pesan dari pak Zukfikar membuatku kembali meneteskan air mata. Dengan tangan gemetar aku terpaksa membalas pesannya.


"Pak, aku kebingungan. Aku takut menyakiti kedua orang tuaku. Suatu saat, aku takut disalahkan dan tertuduh. Anda dan keluarga Anda sangat berkuasa. Aku tidak percaya diri."


"Pak Zul, aku butuh waktu untuk memutuskan. Jika Anda di posisiku, apa yang akan Anda lakukan?"


"Aku hanya wanita lemah yang mencoba ikhlas menerima takdir ini. Tapi, aku bukan wanita lemah yang menyerah pada keadaan. Aku hanya ingin menjaga kehormatanku tanpa menyakiti siapun. Tanpa menyakiti orang lain khususnya istri Bapak."


Pesan terkirim. Beberapa saat kemudian, Pak Zulfikar kembali meneleponku. Lagi, aku tidak mengangkatnya. Eh, ada pesan lagi.


"Hanindiya! Angkat dong! Aku mau bicara!"


"Aku takut berdosa kalau teleponan sama Bapak." Balasku.


"Ya ampun Hanin! Aku sekarang jadi bertanduk dan bertaring gara-gara kamu!"


Aku tak membalasnya.


"Aku akan pecat kamu! Atau aku akan menyebarkan gosip kalau kamu menggodaku!" Pesan bernada ancaman. Aku segera membalasnya dengan ancaman juga.


"Silahkan kalau Anda mau memfitnahku. Lumayan, dosaku bisa berkurang, dan dosa Anda juga lumayan bisa bertambah, karena fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," balasku.


"Baik, aku mengaku kalah. Oiya, aku ingin menikahimu besok. Camkan! BE-SOK. Mau tidak mau kamu harus setuju. Setelah itu, kita langsung becerai lagi."


"Oke, aku setuju. Tapi aku ingin menikah di Bandung. Di rumah orang tuaku."


Aku sebenarnya ragu mengatakan hal itu, tapi roda kehidupan terus berputar. Mau tidak mau, aku memang harus turut berputar dan siap berada di posisi terbawah.


Setelah pesan itu terkirim, aku mematikan ponselku agar pak Zulfikar tidak menggangguku lagi.

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2