Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Terucap Jua


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


Aku baru saja datang dari rumah sakit untuk menjenguk ummi. Kondisi ummi membaik. Namun masih perlu perawatan lanjutan. Dokter yang menangani menyarankan agar ummi melakukan kontrol tahap lanjutan ke rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah.


Aku kembali bersama Putra. Sementara abah dan dokter Rahmi tetap di rumah sakit untuk menemani ummi.


Sepanjang perjalanan, Putra lebih banyak diam. Hanya menjawab pertanyaan saat aku tanya saja. Hal ini dikarenakan Putra tak setuju dengan keberadaan polisi yang menjaga ummi selama di rumah sakit.


"Mas terlalu berlebihan! Untuk apa ada polisi segala? Mas, ummi bukan buronan! Keluargaku juga bukan penjabat yang memerlukan perlakuan khusus!" protes Putra saat itu.


Sementara abah, sama sekali tak berkomentar. Beliau memilih fokus pada ummi daripada memperdebatkan keberadaan polisi.


"A Putra belum tahu banyak tentang keluarganya Mas. Mas melakukan semua ini karena Mas ingin bertanggung jawab sepenuhnya atas keamanan dan kenyamanan abah, ummi dan juga kamu. Mas juga sudah menitipkan kamu pada kepala keamanan pondok agar tak sembarangan menerima orang asing yang mungkin saja tiba-tiba ingin bertemu sama kamu," jelasku.


"Apa?!"


Hanya satu kata protes itu yang dilontarkan oleh Putra. Ia tak berkomentar lagi hingga mobil yang kukemudikan berhenti di depan pondoknya. Namun, saat turun dari mobil, ia tak melupakan menyalamiku dan memberi salam.


"Hati-hati ya, A. Kabari Mas kalau ada yang mencurigakan."


"Pokoknya, Mas jangan sampai membuat pondokku bermasalah gara-gara aku adalah adik iparnya Mas. Zaman sekarang, kasus-kasus yang terjadi di pondok sering dipolitisasi dan dilebih-lebihkan. Tujuannya tentu saja untuk melemahkan keberadaan pondok di mata masyarakat serta menumbuhkan Islamofobia oleh kaum liberal dan anti Islam," katanya. Ia tak jadi pergi. Malah menyandarkan tubuhnya ke badan mobil.


Aku lantas turun dari mobil dan berdiri di sampingnya.


"Aa benar. Akhir-akhir ini, Islamofobia sengaja digaungkan untuk menciptakan suatu ketakutan, kebencian atau prasangka terhadap Islam atau muslim secara umum. Sudah bukan rahasia lagi jika agama kita sering dicap sebagai te ro ris. Padahal, yang sering diambil haknya, bahkan diban tai dan dibu nuh justru adalah kaum muslimin."


"Ya, benar," katanya sambil menatap langit yang hari ini tampak cerah.


"Konsep Islamofobia adalah usaha untuk membungkam dan mengkritisasi Islam. Mereka membuat konsep absurd yang mencampur-adukkan kritik terhadap Islam sebagai agama dengan stigmatisasi buruk terhadap para penganutnya," tambahnya.


"Mas bangga sama Aa. Jarang lho anak muda yang berpikir seperti Aa."


"Mas salah. Anak muda sepertiku sebenarnya banyak yang tahu tentang masalah ini. Namun mereka tidak memiliki wadah untuk menyuarakan pendapatnya. Jangankan aku yang notabene masih pelajar, ulama besar saja, saat membahas tentang te ro ris me dalam ceramah atau kajiannya, di zaman sekarang bisa tertuduh sebagai ulama garis keras, intoleran, dan anti Pancasila."


"Malahan ada oknum yang sengaja membenturkan agama dan Pancasila untuk membuat kekacauan dan kericuhan. Aku yakin di negara ini ada sekelompok pengkhianat bangsa yang sedang memperkaya dirinya sendiri dan kroni-kroninya. Lalu di salah satu pihak, ada juga kelompok misterius yang tidak ingin melihat negara Indonesia bersatu dan makmur."


"Indonesia adalah negara pusaka yang sangat kaya-raya. Baik dari segi budaya, bahasa, adat-istiadat, daerah kepulauan, maupun hasil alamnya. Jadi wajar kalau negara kita banyak yang merongrong." Putra bicara panjang lebar.


"Wah, apa Aa mau jadi politisi? Di masa depan, Mas yakin Aa bisa menjadi pemimpin yang amanah. Mas akan mendukung Aa." Obrolan ini rupanya membuat suasana hati Putra sedikit membaik.


"Tidak mau. Aku takut tidak amanah. Ya, secara narasi dan teori, boleh jadi aku berada di pihak yang baik-baik saja. Namun secara praktik, bisa jadi aku justru menjadi bagian dari pemimpin yang tidak kuat dengan godaan duniawi dan tejerumus ke lembah dosa," katanya seraya berlalu sambil melambaikan tangan. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya.


...⚘️⚘️⚘️...


Setibanya di rumah abah, aku disambut dua orang polisi yang berjaga. Ada tiga orang, satunya lagi sedang sibuk menelepon.


"Mana pak Sabil?" tanyaku. Mengedarkan pandangan. Harusnya, dia sudah datang.


"Pak Sabil? Kami kira pak Sabil langsung ke rumah sakit," jawab pak Septa. Aku menautkan alis. Ada apa gerangan?


"Apa di antara kalian sudah ada yang menghubunginya?"


"Sudah, Pak. Tapi nomornya tidak aktif."


"Apa?!"


Cepat-cepat kuambil ponsel yang ada di tasku. Ponselku sempat kusilent saat berada di rumah sakit karena khawatir mengganggu ummi.


"Apa ini?!"


Ada tiga panggilan dari pak Nataprawira Sabilulungan. Tak biasanya pak Komjen meneleponku. Ada apa ya? Langsung kuhubungi. Namun tak diangkat. Lanjut menelepon pak Sabil. Benar kata pak Septa, nomornya tak aktif. Aku mulai gelisah. Segera menelepon Wakil Komandan.


"Ya, Pak. Saya sudah berada di kantor. Apa ada masalah dengan anggota saya?"


"Maaf Pak Wakil, pak Sabil belum datang ke Bandung. Apa ada agenda lain? Anggota yang di sini dan aku pribadi sudah menghubunginya. Tapi nomornya tidak aktif."


"Apa?!" Pak Wakil malah terkejut. Aku terdiam.


"Tunggu, saya akan menelepon kantor Propam dulu. Mungkin saja pak Sabil ada tugas khusus dari kesatuannya."


Pak Wakil Komandan tergesa-gesa mengakhiri panggilan. Perasaanku jadi tak enak.


Pak Sabil terakhir menghubungi sekitar jam lima pagi. Tidak mengatakan ada agenda lain. Hanya mengabari kalau ia akan datang terlambat karena ada sedikit kendala. Namun dia tidak menjelaskan mengenai kendalanya.


"Bagaimana Pak?" Pak Septa dan temannya tampak khawatir.


"Pak Wakil mau menghubungi kantor Propam dulu."


Keteranganku membuat mereka saling menatap. Pasti merasa tak puas dengan jawabanku.


"Aku ke dalam dulu ya." Mereka mengangguk.


Aku bergegas untuk menemui Hanin. Dia pasti ingin tahu kondisi ummi. Apa dia masih marah? Kuharap tidak. Sebelum pergi ke rumah sakit, aku juga sudah menyuruh ceu Jani dan kang Hendra untuk mengamankan dan menjaga Dewi agar tidak sampai memegang HP.


Namun, ada hal mencengangkan yang kudapati dari keterangan dokter Rahmi.


"Bu Dewi tidak mempan sama obat tidur dosis rendah, Pak. Makanya aku terpaksa mengikat dan membekap mulutnya."


Itu yang dikatakan dokter Rahmi saat kami berada di rumah sakit. Hal itu, menurut dokter Rahmi bisa terjadi pada seseorang yang sebelumnya pernah menggunakan obat tidur yang dosisnya lebih tinggi. Ini menjadi bukti tambahan jika selama ini Dewi telah menggunakan obat tidur atau sejenisnya.


.


"Mas!" Dewi keluar dari kamar. Disusul oleh ceu Jani.

__ADS_1


"Wi, kamu harus banyak istirahat."


"Mas! Mana si Rahmi?! Aku harus bicara sama dokter berhati busuk itu! Dia membekap dan mengikat aku, Mas! Untungnya tadi Ceu Jani masuk ke kamar dan menyelematkanku. Oiya, apa benar si Rahmi dapat perintah dari kamu, Mas?!"


"Tidak, aku tidak menyuruhnya seperti itu. Aku hanya memintanya untuk menjaga kamu."


"Jangan bohong kamu, Mas!"


"Pak, Ceu Jani permisi dulu ya. Mau lanjut masak."


Ceu Jani berpamitan. Pasti tak nyaman melihat percekcokkan antara aku dan Dewi.


"Ya Ceu, silahkan," jawabku.


"Mas! Jujur sama aku, Mas! Ini sebenarnya ada apa, 'sih?! Aku tadi melihat ada tiga orang polisi di ruang tamu. Kenapa mereka kemari?! Aku juga mendengar suara tembakan. Terus, kemana orang tuanya si Daini? 'Kok aku enggak lihat mereka, 'sih?!"


"Wi, Mas lelah. Mas malas menjelaskannya. Lebih baik kamu istirahat lagi."


Aku mengabaikannya. Kembali melanjutkan langkahku menuju kamar Hanin. Dewi mengejar. Memeluk punggungku dan menangis.


"Huuu, Mas ... demi kamu aku rela tinggal di rumah kumuh ini. Demi kamu aku rela tak membeli HP lagi. Aku bahkan rela tak menghubungi papi dan mamiku kalau aku ada di rumah maduku. Huuu, Mas ... aku tahu kamu sengaja membawaku kesini karena sebuah rencana, 'kan? Aku tidak bodoh Mas."


Aku menghela napas. Lalu membalikan badan untuk membalas dekapannya. Lagi, anak yang ada di dalam rahimnya menjadi alasanku untuk bertahan sampai dia melahirkan.


Aku melakukannya karena khawatir Dewi akan membahayakan calon anakku jika dia tanpa pengawasanku. Penyakit kepribadian ganda yang dimilikinya, memungkinkan ia menyakiti dirinya sendiri. Ya, itu yang dikatakan psikiater saat aku melakukan konsultasi.


"Yang kamu lakukan sudah benar, Wi. Jika kamu masih mencintaiku, masih ingin menikmati tubuhku, tetaplah bersamaku dan patuhlah," bisikku. Namun dengan nada bicara yang cukup tegas.


"A-apa?! K-kamu tega, Mas! Bisa-bisanya kamu memerlakukan istrimu sekeji ini!" Dia melepaskan diri dari pelukanku.


"Tega kamu bilang?! Keji kamu bilang?! Wi, dengar ya! Lebih keji siapa?! Aku yang berusaha tetap menyayangi kamu?! Atau kamu dan keluargamu yang justru ingin membunuh papaku?! Kamu bahkan berencana membunuh wanita yang sangat kucintai!" teriakku.


Aku tak bisa bicara lembut lagi karena di dada ini telah dipenuhi kebencian, kekecewaan dan amarah pada Dewi, dan papinya. Miris, harusnya aku tak beteriak di hadapan wanita hamil, tapi ... aku terpaksa.


Wahai kamu yang berada di dalam perut wanita jahat ini, aku minta maaf. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. Entah apa jadinya jika papa dan Hanin tak selamat dari upaya pembunuhan itu. Mungkin, aku bisa gila.


"Apa?! Mas! Kamu jangan memfitnah ya! Fitnah itu lebih kejam daripada membunuh! Kamu tahu hal itu, 'kan?! Papiku enggak mungkin mempunyai niatan jahat sampai sejauh itu! Papiku mustahil melukai orang-orang yang kusayangi! Aku mencintai kamu, Mas! Aku juga menyayangi papa dan mamamu!" sangkalnya.


"Kalau kamu mau menyangkal, silahkan! Yang jelas, aku sudah punya banyak bukti! Aku hanya perlu menunggu momen yang tepat untuk mengungkap semuanya! Mungkin, sampai perusahaanku melewati masa kritis!" teriakku.


Karena terlalu emosi, aku jadi mengungkap fakta-fakta pada Dewi. Padahal, penyidik melarangku mengatakan fakta-fakta itu sebelum agenda persidangan.


"Apa?! Jadi, kamu memanfaatkan sahamku, Mas?!"


"Kalau ya memangnya kenapa?! Toh, keluargamu juga sudah menipuku dan keluargaku demi kerja sama perusahaan! Ya, 'kan?"


"Mas!"


"Kamu?!"


Aku mencengkram kuat tangannya. Nyaris kubalas tamparannya andai suara itu tak mengagetkanku.


"Pak, jangan!" Suara Hanin.


Batinku seketika melemah. Suara khasnya meruntuhkan segenap emosi di dadaku. Aku mematung, menatap Hanin yang mendekat ke arahku dan Dewi. Matanya sembab. Ia bahkan masih memakai piyama yang semalam.


"Jangan ikut campur kamu j a l a n g!"


Dewi kembali melontarkan kata-kata menyakitkan. Gigiku gemeretak. Tangan ini sudah melayang untuk membekap bibir Dewi. Namun Hanin kembali melarangku. Ia meraih tanganku dan berkata ....


"Pak, tolong ...," lirihnya.


Lalu airmatanya tiba-tiba menetes. Aku terkejut luar biasa. Tadinya, kupikir dia masih marah.


"A-ada apa sayang?" tanyaku.


"Mas! Kamu jangan berat sebelah ya! Kenapa kamu bisa selembut itu sama si Daini!? Apa di matamu aku sudah tidak ada gunanya lagi?!"


"Dewi."


Aku menatap Dewi seraya memegang tangan Hanin.


"Wi, dengar baik-baik! Justru akulah yang sudah tidak ada gunanya lagi di hadapan keluarga kamu."


Hanin yang sepertinya akan mengatakan sesuatu terdiam sejenak.


"Maksud kamu?! Mas, semenjak kamu kenal dengan wanita itu, kamu jadi pandai bersilat lidah!" tuduhnya sambil memandang sinis pada Hanin.


"Wi, aku nyaris mati ditembak preman bayaran suruhan papi kamu! Puas?!" bentakku.


"A-apa?! I-itu tidak mungkin, Mas!"


Dewi melongo. Ia mundur beberapa langkah. Seolah tercengang dan tak tahu-menahu dengan apa yang kukatakan. Entahlah dia pura-pura kaget atau memang kaget sungguhan.


"Jika bukan karena kuasa-Nya, aku harusnya sudah mati saat Hanin diculik. Sebab pada saat itu, penjahat yang menculik Hanin berusaha menembakku. Tapi aku berhasil menghindar. Lalu upaya penembakan itu terulang lagi tadi pagi. Preman suruhan papi kamu dengan sengaja mengarahkan pistolnya ke dadaku. Untungnya polisi berhasil menyelamatkanku," jelasku panjang lebar. Sejenak, Dewi terdiam.


"Aku tidak percaya! Kamu pasti mengarang cerita, Mas! Kamu sengaja merekayasa semua ini agar kamu bisa bebas dari surat perjanjian pranikah kita, 'kan?! Ngaku saja, Mas! Aku percaya sama papiku! Papiku tidak mungkin sekejam itu!"


"Pak Zulfikar, a-aku mau bicara," sela Hanin.


"Baik sayang, sebentar ya. Wi, aku tegaskan lagi, silahkan kamu berasumsi sesukamu. Intinya, jika kamu masih ingin menjadi istriku, syaratnya mudah, 'kok. Yaitu, kamu harus patuh," tandasku.


"Mas! Apa itu berarti kamu sudah siap jadi artis panas?! Kamu yakin tak apa-apa kalau vidio perzinaan kamu dan si Daini kusebarluaskan?!"

__ADS_1


"Apa?!"


Hanin sontak terkejut. Akupun bingung harus menjelaskan apa pada Hanin.


"Kaget ya kamu, j a l a n g?! Biar kupertegas, aku sebenarnya menyimpan kamera pengintai di kamar apartemen kamu! Aku punya rekaman kegiatan menjijikkan kamu bersama suamiku! Aku sudah melihatnya! Bukan hanya aku, ada anak buahku yang sudah melihatnya juga! Hahaha."


Hanin kemudian menatapku. Tubuhnya seketika goyah. Aku memeluknya karena ia hampir terpuruk ke lantai.


"Jangan percaya sayang. Dia sedang mengarang cerita." Hanya kalimat itu yang bisa kukatakan untuk menenangkannya.


"Anak buahku yang pria sampai mandi besar setelah melihat vidio ke bi nalan dan ke sun dalan kamu. Katanya, tubuh kamu sangat bagus untuk dijadikan objek fantasi mereka. Hahaha."


"DEWI! CUKUP! KAMU KETERLALUAN! AKU MENTALAK KAMU DEWI LAKSMI!" teriakku.


"Mas!" "Pak!"


Hanin dan Dewi berucap bersamaan. Namun aku tak bisa menahan diri lagi. Kesabaranku sudah mencapai ambang batas.


"Mulai detik ini kamu bukan istriku lagi, Dewi Laksmi! Silahkan kamu menikah lagi dengan pria lain! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!" tambahku sembari memeluk Hanin.


"Mas! Kamu?! Aaarrggh! Tidak mungkin!" teriak Dewi.


Ia lantas berlari ke arah dapur. Aku tak peduli. Aku membiarkannya. Haninpun diam seribu bahasa.


Namun, tiba-tiba, dari arah dapur terdengar teriakan kang Hendra.


"Bu Dewi!"


Aku dan Hanin berpandangan. Spontan berlari menyusul ke dapur.


"Sayang, kamu jangan lari." Aku memeringati Hanin.


...⚘️⚘️⚘️...


Aku dan Hanin tiba di dapur.


"Dewi! Istighfar!" teriakku.


Sementara Hanin langsung bersimpuh dengan tubuh gemetaran. Kang Hendra melongo, ceu Jani yang baru datang dari ruang tamupun turut terbengong-bengong.


"Kang Hendra! Cepat suruh polisi ke sini!" teriakku.


"Baik!" Kang Hendra berlari.


"Hahaha, daripada hidup menjanda, lebih baik aku mati bersama anak kamu, Mas!" Dewi sedang menghunus g o l o k yang diarahkan ke bagian perutnya.


"K-Kak Dewi, kita bisa bicara baik-baik. Please ...." Hanin meratap. Ia terlihat begitu terpuruk.


"Kamu senang, 'kan kalau aku mati, Daini?! Kamu suka, 'kan Mas Zul menceraikan aku?! Sekarang kamu hampir menang Daini! Camkan! Setelah aku mati, aku akan gentayangan dan menghantui kamu!" ocehnya.


"Pak Septa cepat lakukan sesuatu!" teriakku saat polisi datang.


Awalnya, merekapun tercengang. Namun saat Dewi hendak menikamkan g o l o k milik abah yang berkilau itu ke perutnya, mereka tersadar dan akhirnya melompat bersamaan untuk mencegah Dewi. Berhasil.


"Lepas!"


Dewi berontak. G o l o k terlepas, polisi mencekal tangannya.


"Bawa ke kamar!" titahku.


"Baik, Pak."


"Mas! Kamu tak boleh menceraikan aku! Perceraian tadi tidak sah!"


Polisi sigap membawa Hanin ke kamarnya.


.


Di kamar, saat Dewi dilepas. Ia kembali ingin melukai dirinya sendiri.


"Ikat saja, Pak."


Aku terpaksa melakukannya demi kebaikan Dewi. Hanin menangis di pojok kamar.


"Pak, kasihan. Jangan diikat," pinta Hanin.


"Kalau tidak diikat, dia bisa nekad. Jangan khawatir, aku akan membawanya ke rumah sakit khusus yang bisa menangani kondisinya. Untuk sementara waktu, aku meminta izin agar Dewi tinggal di sini dulu."


"Mas! Huuu, lepaskan! Mas! Aku tidak akan melupakan penghinaan ini! Mas, kamu benar-benar tidak punya hati!"


"Jangan memutarbalikan fakta! Papi kamulah yang tak punya hati! Sudah jelas-jelas papi kamu berencana membunuhku! Itu artinya, keberadaan aku di sisi kamu sudah tidak diinginkan lagi! Aku di hadapan papi kamu sudah tidak berharga lagi!"


"Mas! Semua ini gara-gara kamu, Daini!"


"Ingat! Kita bukan suami istri lagi! Secara agama, aku dan kamu sudah sah BECERAI! Tapi aku akan tetap mengurus kamu demi calon anakku!"


"Tidak, Mas! Aku tetap istri kamu!"


"Pak Zulfikar, sudah. Jangan diladeni terus. Aku ada yang ingin disampaikan." Hanin bicara sambil keluar dari kamar yang ditempati Dewi.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2